Connect with us

News

Review Redmi 5 Plus Indonesia – Layar 18:9 Paling Affordable?

Published

on

GwiGwi.com – Xiaomi merilis Redmi 5 dan Redmi 5 Plus sebagai penantang di dunia smarpthone 18:9 atau yang banyak dikenal sebagai FullViewInfinity Display, dan lain-lainnya bulan lalu di Indonesia. Perangkat

Full screen display for everyone

Tagline Xiaomi untuk Redmi 5 dan Redmi 5 Plus.

Redmi 5 dan Redmi 5 Plus diharapkan Xiaomi bisa jadi penantang kuat terutama melawan Vivo dan Oppo di pasar Indonesia dimana kedua brand itu sebelumnya sudah pernah merilis perangkat dengan model layar serupa.

Sebelum melanjutkan reviewnya, perlu diketahui bahwa Redmi 5 dan Redmi 5 Plus dikenal juga sebagai Redmi Note 5 di India, sehingga akan sangat mungkin terdapat kerancuan dalam penamaannya. Dalam hal lain, Xiaomi juga memiliki Redmi Note 5 Pro, yang saat ini hanya dirilis di india (dan kemungkinan segera di China) yang merupakan versi paling atas dari lini atau seri Xiaomi ke-5 ini.

Perangkat Redmi 5 dan Redmi 5 Plus ini serupa dengan perangkat yang diluncurkan Xiaomi pada tahun lalu yaitu Redmi Note 4. Namun, apakah berarti Xiaomi hanya meng-copas hardware mereka tahun lalu dan hanya menggantikan layarnya saja supaya “kekinian”? Lalu, worth-it ga yah Redmi 5 atau Redmi 5 Plus ini? Silahkan baca Review Redmi 5 Plus (4GB/64GB) veri GwiGwi dibawah ini yah Gwiples!

Spesifikasi Redmi 5 dan Redmi 5 Plus

Secara garis besar, internal hardware dari Redmi 5 dan Redmi 5 Plus sangat mirip dengan pendahulunya. Sebelumnya, mari kita lihat spesifikasi lengkapnya.

Operating System MIUI 9.2 based on Android 7.1.1 Nougat
Display 5.99-inch 18:9 FHD+ (2160×1080) IPS LCD panel
403ppi pixel density
450nits maximum brightness
SoC Octa-core Qualcomm Snapdragon 625 (Redmi 5 Plus) / Snapdragon 450 (Redmi 5)
Eight Cortex A53 cores at 2.0GHz
14nm
GPU Adreno 506 with Vulkan API, OpenCL 2.0, and OpenGL ES 3.1
650MHz
RAM 2GB (Redmi 5)/3GB/4GB
Memori Penyimpanan 32GB/64GB
microSD slot up to 128GB
Kamera Belakang 12MP with 1.25um pixel size and f/2.2 lens
PDAF, LED flash
1080p video recording
Kamera Depan 5MP with LED light
1080p video recording
Beautify 3.0
Konektivitas LTE with VoLTE
Wi-Fi 802.11 a/b/g/n, Bluetooth 4.1, GPS, GLONASS
Micro-USB, 3.5mm audio jack, IR blaster
Jaringan LTE: 1/3/5/40/41
GSM: 2/3/5/8
WCDMA: 1/2/5/8
Baterai 4000mAh battery (Redmi 5 Plus) / 3300mAh battery (Redmi 5)
Fast charging (5V/2A)
Fingerprint Rear fingerprint sensor
Dimensi 158.5×75.45×8.05mm
Berat 180g
Pilihan Warna Gold, Rose Gold, Blue, Black

Redmi 5 Plus – Hardware | Hardware tahun lalu tapi …

Secara jelas, Redmi 5 Plus memiliki hardware yang masih 11/12 dengan yang telah dimiliki oleh Redmi Note 4 yang sudah menjadi hits pada tahun sebelumnya. Namun demikian, Redmi 5 Plus ini (paling tidak untuk saat ini) bukanlah Redmi Note 5 yang sudah banyak menjadi rumor, atau mungkin ini adalah “rebranding” dari Redmi Note 5 karena seperti yang kita lihat di India, Redmi 5 Plus ini dinamakan Redmi Note 5, dan versi paling canggih sebagai Redmi Note 5 Pro.

Melihat dari jajaran spesifikasinya, tentunya akan lebih baik jika opsi yang dipilih adalah opsi tertinggi yang tersedia di Indonesia yaitu Redmi 5 Plus. Hal ini masih justifiable, paling tidak jika kita bahas soal Processor-nya dimana prosesor yang digunakan oleh Redmi 5 Plus terbukti sudah paling maknyus dari Xiaomi karena selama beberapa perangkat terakhir, Xiaomi selalu menggunakan Snapdragon 625 seperti yang bisa dilihat dari Redmi Note 4 (Redmi Note 4X) dan juga Xiaomi MiA1 (lihat review kita disini).

Opsi memori yang dibawa kedua varian ini pun berbeda. Redmi 5 memiliki opsi 2GB/16GB dan 3GB/32GB sedangkan Redmi 5 Plus memiliki opsi 3GB/32GB dan 4GB/64GB. Unit yang kita miliki untuk direview merupakan tipe teratas yaitu Redmi 5 Plus 4GB/64GB. Namun demikian, dampak RAM dan ROM yang dimiliki oleh Redmi 5 Plus sebenarnya tidak membuat perbedaan jauh, kecuali untuk Redmi 5 2GB/16GB yang tentunya akan sedikit “sesak” bagi kalian yang suka multitasking.

Secara garis besar, intinya smartphone ini mampu menelan banyak aplikasi yang ringan sekali hingga yang sedikit berat. Dalam uji coba ini, saya mencoba untuk memainkan salah satu game “berat” yang cukup populer seperti World of Warships. Game ini bisa berjalan dengan cukup baik dan tidak begitu mengejutkan. Snapdragon 625 sebenarnya sudah cukup menjadi barometer yang baik untuk menjadikan smartphone sebagai semi-flagship class. Walau disandingkan dengan kakaknya seperti Snapdragon 8xx Series, seri 6 dari Snapdragon mungkin bisa kalah, tapi itu kalau kita sebagai user jeli yang sangat mementingkan angka.

Multitasking-pun dapat ditelan dengan cukup baik oleh Redmi 5 Plus dan Multi-Window pun telah diikutsertakan oleh MIUI 9 untuk memberikan multitasking yang sangat menarik dimana 2 aplikasi bisa dijalankan bersamaan. Namun demikian, MIUI memiliki suatu kelemahan yang cukup fatal menurut saya yang nantinya akan dibahas pada bagian software.

Redmi 5 Plus – Software | Android Nougat dan MIUI 9 menjadi tombaknya.

Android Nougat 7.0 dan MIUI 9 menjadi tombak Redmi 5 Plus sebagai sistem operasinya. Duo Kombinasi ini sebenernya tidak terlalu baru karena Xiaomi Redmi Note 4, Note 5A, dan 5A, dan beberapa perangkat Xiaomi sebelumnya sudah mendapatkan kombinasi ini kecuali Mi A1 yang memang dikhususkan sebagai perangkat Android One yang berarti perangkat itu berbasis Android murni layaknya yang dimiliki Google Pixel.

MIUI 9 adalah salah satu update yang cukup signifikan untuk lini Xiaomi yang mendapatkannya karena salah satu fitur yang paling dinanti-nanti, yaitu multi-window akhirnya bisa dirasakan bagi pemilik perangkat Xiaomi. Namun demikian, MIUI 9 yang disuguhkan untuk Redmi 5 Plus ini pun tidak terlalu berbeda dengan apa yang sudah ada.

Hal yang paling menonjol di Redmi 5 Plus untuk MIUI 9 menurut pengamatan saya adalah pada sektor “visual”. MIUI 9 memperlihatkan tampilan yang lebih segar dan membuat turunan dari Android ini menjadi lebih unik dan menarik untuk dilihat tidak seperti smartphone yang dibuat dari China pada umumnya. Hal itu didukung juga dengan tampilan dari Redmi 5 Plus yang mengusung layar Full HD + sehingga tampilan pada layar Redmi 5 Plus ini terlihat lebih tajam dibandingkan Redmi Note 4 atau yang sederajat.

Selain itu, hal yang sangat terlihat adalah berpindahnya capacitive-navigation button dari “dagu” smartphone besutan Xiaomi pada umumnya kedalam layar. Ini tentunya sangat menarik dan disaat yang bersamaan aga annoying karena akhirnya tombol navigasi ini memakan layar yang digadang sebagai full screen display. Walau kecil, ini sedikit mengganggu. Pada perangkat besutan Samsung, Home Button walau bersifat on-screen navigation button, memiliki sebuah sistem haptic feedback dan force touch a la Apple dimana dengan memberikan sedikit tekanan, tombol kembali ke halaman utama bisa terasa tertekan tanpa perlu memunculkan navigation button. Dikarenakan Redmi 5 Plus tidak memiliki hal ini, maka tombol navigasi harus selalu ada. Yasudahlah yah, namanya juga smartphone on budget. Masa mau minta lebih harga murah. Ya ga Gwiples?

Redmi 5 Plus – Display | Full Screen Display … for everyone?

Layar yang diusung oleh Redmi 5 Plus berada di resolusi FHD+. Gampangnya, layar Redmi 5 Plus itu 5.99inci (tanggung banget yah), dan memiliki resolusi layar sebesar 2160×1080 yang berasio 18:9 dimana umumnya smartphone sebelum era 18:9 (coba jadi tahun gitu 1899 *ganyambung*), memiliki rasio 16:9 dan resolusi FHD atau Full HD pada 1920×1080 saja.

Full Screen Display ini terlihat apik apalagi dengan musimnya cinematic video yang mulai bertebaran di Youtube membuat konsumsi media video sekarang pun mulai berubah menjadi dalam rasio 18:9, dan bukan lagi 16:9 yang mulai terlihat lebih kotak.

Namun demikian, seperti yang sudah disebutkan pada bagian sebelumnya, tombol navigasi yang dipindahkan ke layar akhirnya malah memotong “halus” layar yang luas ini dalam posisi portrait. Tombol navigasi tentunya akan hilang secara otomatis saat kita bermain pada posisi landscape atau sedang nonton video di Youtube.

Redmi 5 Plus – Camera | Oke oke aja sih. Andai bisa lebih lagi …

Hal lainnya yang di push oleh Xiaomi untuk Redmi 5 dan Redmi 5 Plus adalah bagaimana kamera yang disematkan oleh Xiaomi ini bisa sekelas flagship kamera. Tentunya ini bukan cuman sekedar pernyataan, akan tetapi memang kualitas foto yang dihasilkan …. oke oke aja. Ohiya, kameranya cuman satu yah. Bukan 2 seperti MiA1.

Kenapa oke-oke aja? Karena sebenarnya untuk segi kamera sepertinya Xiaomi memang kurang bisa bersaing dengan beberapa pemangsa pasar kamera. Sebagai contoh, S8 tentunya bisa melibas Redmi 5 Plus dari segi ketajaman. Akan tetapi, tentu saja tidak apple to apple. Jadi kalau dibandingkan dengan yang sekelas, yah kamera Redmi 5 Plus tentu oke-oke saja. Not too bad, tapi tidak impresive seperti ikan yang ada di kasta atas.

Baca Juga:  Redmi 6 dirilis Xiaomi dengan dapur pacu MediaTek Helio P22

Sebagai catatan, Xiaomi ternyata sedikit merubah design kameranya. Yang awalnya flushed alias masuk atau sejajar dengan bodinya untuk kamera Xiaomi seperti contohnya di Redmi Note 4, Redmi 5 Plus dan mungkin juga Redmi 5 memiliki kamera yang menonjol keluar. Artinya apa loh? Artinya kalian harus extra hati-hati apabila meletakan smartphone ini ke permukaan dengan bodi belakang yang menyentuh surface-nya. Kasar sedikit dan lensa kameranya bisa menjadi baret yang berarti bisa saja merusak hasil foto nantinya.

Perihal kamera depan, yah memang tidak ada yang terlalu wow banget. Sensornya masih sama dengan seri sebelumnya, namun ada 1 penambahan, yaitu Selfie Flashlight yang berada disebelah proximity sensorFlash-nya cukup terang, jadi buat kalian yang demen selfie selagi mungkin, nonton konser Anisong(?), ini bisa jadi selfie kamera yang cukup oke.

Redmi 5 Plus – Design | Layar kekinian … ada lagi?

Dan … kita sampai ke point terakhir untuk di review. Setelah melihat keseluruhan luar dalam dari Redmi 5 Plus, bagaimanakah design dari Redmi 5 Plus ini? Jawabannya adalah, yah tetep gitu aja. Selain dari bagian depan yang sudah dirombak untuk menjadi rumah baru dari layar fullscreen yang memang lagi trending, bagian belakangnya memang terkesan Xiaomi banget. Ini bukannya hal yang buruk. Justru bisa dibilang “better” bahkan dibandingkan smartphone lain yang salah menempatkan fingerprint sensor atau bahkan menghilangkannya. Akan tetapi, setelah dari Redmi Note 3, Note 4, dan juga seri Redmi lainnya, sepertinya dengan adanya perombakan layar depan, bagian belakang juga bisa dibuat lebih fresh.

This slideshow requires JavaScript.

Selain itu dari segi desing, menurut saya bagian bawah juga sudah perlu sedikit perombakan. Speaker Grill-nya memang terlihat ada 2, namun demikian, sayangnya yang berfungsi hanya sebelah kanan saja. Sepertinya yang kiri hanya dummy sama seperti yang ada di Redmi Note 4. Bagian bawah sepertinya akan lebih fungsional jika dibuat seperti Mi A1 dimana bagian tengah micro USB diganti dengan USB Type-C, dan juga adanya lubang earphone jack disebelah kiri.

Secara overall, design dari Redmi 5 Plus sudah sedikit berubah paling tidak dibagian depan agar bisa terlihat lebih apik untuk layar fullscreen-nya. Namun, beberapa bagian masih Xiaomi banget, dan walau tidak buruk, ada baiknya untuk diupgrade. Selain itu, walau layar depan yang fullscreen, sayangnya dagu dan jidat dari Redmi 5 Plus ini masih terlalu “jenong” sehingga masih terkesan bagaikan smartphone biasa dan terkadang membuat saya salah pencet kirain navigation button masih di bodi dan bukan di layar.

Redmi 5 Plus – Kesimpulan 

Jadi, intinya apa?

Redmi 5 Plus adalah salah satu smartphone budget yang lebih on-point dan worth secara harga. Dibandingkan dengan kompetitornya, Redmi 5 Plus atau Redmi 5 menjadi kandidat yang sangat lezat untuk dicaplok bagi yang sedang ingin upgrade ke “yang baru” tapi tidak mau merogoh kocek yang dalam. Jeroan yang mirip dengan Redmi Note 4 tentunya membuat Redmi 5 Plus akan memiliki reputasi yang sangat baik mengingat kemampuan Redmi Note 4 yang sudah cukup mumpuni, dan hanya berkisar di harga 2jt-an pada saat secara resmi diumumkan di Indonesia.

Namun demikian, Redmi 5 Plus dan Redmi 5 bisa saja menjadi “biasa saja” karena walau memiliki “layar kekinian”, sisahnya masih biasa saja. Sensor kamera yang dipakai sama seperti Mi A1, jeroan yang secara garis besar mirip Redmi Note 4, tidak adanya Fast Charging (mungkin untuk saat ini?), dan juga salah satu yang sangat disayangkan adalah walau Mi A1 sudah memakai port USB-C, lini Redmi masih sangat bergantung dengan micro-USB yang sudah mulai sedikit ketinggalan jaman (mungkin karena Mi A1 itu berada di seri Mi yang harusnya menjadi flagship, maka Redmi tetap mendapat versi budet). Selain itu salah satu komplain yang saya miliki adalah betapa rapatnya tombol navigasi yang membuat jempol besar saya kurang “lihai” untuk manuver diatas tombol navigasi.

Tapi tentunya Redmi 5 Plus tidak semuanya negatif. Dengan harga mulai dari 1.6 Juta untuk versi paling dasar yaitu Redmi 5 2GB/16GB, dan harga 2.699 Juta, kita akan mendapatkan otak Snapdragon 450 (Redmi 5) atau Snapdragon 625 (Redmi 5 Plus), kamera yang cukup oke dicahaya terang, body yang cukup kokoh, layar kekinian rasio 18:9 yang cukup menawan, dan juga opsi hybrid Dual-Sim | microSD-SIM yang juga sudah mendukung 4G di Indonesia.

Redmi 5 Plus – Jadi, Apakah Layak Dibeli? | Punya yah oke, kalau tidak …

Salah satu value yang saya temukan dari Redmi 5 Plus adalah kalau bisa punya yah oke, kalau tidak … yasudahlah mungkin emang belom cocok. Kenapa demikian? Secara spesifikasi, Redmi 5 Plus belum bisa dibilang sebagia “major bump” dari pendahulunya. Redmi Note 4 sudah memiliki hampir keseluruhan dari apa yang Redmi 5 Plus bisa berikan. Namun demikian, dengan logika “dagang” elektronik sesuai engko-engko Roxy, Redmi Note 4 tentunya perlahan akan mulai di phase-out atau bahasa jawanya “dipensiunkan”, membuat Redmi 5 Plus menjadi opsi terdekat (atau Redmi 5 kalau mau yang lebih affordable).

Lalu kenapa bisa dibilang belum cocok? Ada beberapa kemungkinan untuk mengapa upgrade ke Redmi 5 atau Redmi 5 Plus bisa dilewatkan. Salah satunya adalah, jika kalian pengguna Redmi Note 4, alasannya sudah seringkali disebutkan diatas yaitu upgrade-nya ga jauh-jauh amat. Selain itu, ada juga flash sale yang cukup menyulitkan untuk Gwiples agar dapat hands-on dengan perangkat ini. Selain itu, untuk mengantri di Xiaomi Official Store seperti yang saya temukan di Summarecon Mall Serpong, ada batas penjualan perangkat ini setiap harinya, dan cuman bisa didapatkan apabila kita mengantri pagi-pagi buta bahkan sebelum mall buka.

Yang terakhir, adalah kemungkinan Redmi Note 5 Pro (mungkin disebut Redmi 5 Pro kali yah kalau masuk Indonesia) untuk masuk ke Indonesia dalam waktu yang singkat nanti. Mengingat kejadian dimana Mi A1 dirilis tidak lama setelah Mi 5X dijual di pasar China sebagai perangkat MIUI sedangkan Mi A1 dirilis di Indonesia dan India dalam waktu dekat sebagai perangkat Android One. Hal ini tentunya membuat Redmi Note 5 Pro sebagai jawara dari seri Redmi 5 Xiaomi pada tahun 2018 dikarenakan adanya beberapa upgrade yang lebih signifikan.

Jadi intinya Gwiples, kalau kalian mungkin masih memegang Redmi Note 3, atau mungkin Redmi 1S kali yah biar paling jadul, Redmi 5 dan Redmi 5 Plus bakalan bikin hidup “ngelag” kalian akan menjadi lebih baik dan lebih “mewah” dengan fitur-fitur elegan yang diberikan Xiaomi di Redmi 5 Plus. Akan tetapi, bagi kalian yang memakai Redmi Note 4, mugkin ada baiknya untuk menunggu Redmi Note 5 Pro karena ini lebih disebut “beast” sedangkan adik-adiknya di seri Redmi 5 adalah trainee.

Sekian Review Redmi 5 Plus ini. Jangan sampai ketinggalan informasi, review, dan berita menarik seputar Anime, Manga, Pop Culture, Events, Teknologi, dan juga Games dengan cara subscribe ke mail-list dari GwiGwi.com.

Sampai jumpa di review berikuta, FSPlus signing out!

Mengenai Review Redmi 5 Plus

Perangkat yang direview merupakan Redmi 5 Plus 4GB/64GB yang merupakan versi teratas dari seri Redmi 5 dan dijual resmi oleh Mi Indonesia melalui PT.Erajaya dan TAM. Perangkat ini telah diuji coba untuk review ini selama kurang lebih sebulan dan yang tertulis adalah pengalaman menggunakan perangkat ini melalui point-of-view pengguna awam atau penggunaan pada umumnya.

Redmi 5 Plus ini menjalankan sistem operasi Android Nougat 7.0 dan berada dalam lingkup ROM MIUI 9 versi Indonesia yang memiliki akses untuk Google Play Store. Perangkat ini dipasangkan dengan Operator XL untuk uji cobanya dan tidak dipasangkan dengan memori penyimpanan external.

Gallery

Entertainment

Japan Adult Expo ditiadakan pada tahun ini, ada event baru?

Published

on

By

GwiGwi.com – Melalui akun Twitter resmi Japan Adult Expo, event tahunan bagi pecinta industri porno Jepang ini akan ditiadakan untuk tahun 2018 ini.

Tidak ada alasan pasti yang diutarakan melalui kicauan tersebut. Namun dikabarkan bakal ada event pengganti yang tidak kalah serunya untuk tahun depan.

Walau begitu AVOPEN, ajang penghargaan film dewasa Jepang tetap akan diselenggarakan tahun ini. Biasanya malam penganugerahan pemenang AVOPEN diumumkan di acara JAE, tapi sepertinya akan ada event tersendiri untuk hal tersebut.

Dalam kicaun tersebut juga disampaikan permintaan maaf kepada para penggemar yang telah menantikan event yang biasanya digelar di bulan November ini.

Baca Juga:  RADWIMPS gelar tur Asia, mampir di Indonesia?

Continue Reading

Box Office

Review Film Jurassic World Fallen Kingdom, Panggilan Hati Nurani yang menjadi Bencana

Published

on

By

GwiGwi.com – Ada banyak franchise film yang menggunakan monster sebagai daya tarik utamanya dan salah satunya adalah franchise Jurassic Park (yang sekarang menjadi Jurassic World) yang terkenal dengan memunculkan Dinosaurus dan dipertemukan dengan manusia di kehidupan modern. Jurassic World 2 atau Jurassic World Fallen Kingdom adalah sekuel dari Jurassic World (2015) dan merupakan film kelima dari franchise Jurassic ini.

Jurassic World Fallen Kingdom mengambil jalan cerita setelah tragedi yangterjadi di film sebelumnya yang dimana seekor dinosaurus hasil rekayasa genetika yang bernama Indominus Rex yang lepas dan membuat kekacauan di taman Jurassic World yang berlokasi du Isla Nublar, hal tersebut memberikan efek berupa ditinggalnya taman tersebut dan membuat pulau tersebut menjadi benar benar pulau dinosaurus.Seakan menceritakan bagaimana dinosaurus punah pada akhir zaman Kretasius  sekitar 65 juta tahun lalu, film ini menggunakan suatu bencana alam berupa gunung berapi dna bisa meletus kapan saja dan berakibat menghapus eksistensi dinosaurus di pulau Isla Nublar tersebut, namun disinilah kembalinya para karakter yang pernah tampil di film sbeleumnya yaitu Owen Grady (Chris Pratt) dan Claire Dearing (Bryche Dallas Howard) yang diberikan tugas untuk menyelamatkan para dinosaurus tersebut tapi misi penyelamatan tersebut tidak semudah yang mereka bayangkan.

Jurassic World Fallen Kingdom akan memberikan beragam kejutan selain dari sisi jalan cerita yang akan memunculkan sisi hati nurani sebagai sesama makhluk hidup yang ada di bumi serta film ini disertai dengan plot twist yang mudah ditebak.alur cerita yang mudah dipahami karena memang hampir menyerupai seperti salah satu film sebelumnya namun kali adalah sautu misi penyelamatan dari bencana alam yang besar serta penambahan beberapa konsep baru tentang efek keberadaan para dinosaurus ini di kehidupan manusia.di film ini memang pada awalnya akan memainkan hati nurani yang akan menghasilkan rasa empati dan tidak tega terhadap nasib para dinosaurus ini namun sisi tersbeut seakan berubah menjadi sisi horror karena kehadiran dinoasurus baru yang lagi lagi hasil rekayasa genetika namun kali ini memiliki bentuk yang kecil dari Indominus Rex tapi memiliki tingkat kecerdasan yang luar biasa serta keganasan yang sulit dihentikan, hal ini menjadikan suatu pertunjukan yang berhasil menaikkan andrenalin saat makhluk tersebut muncul dan bertemu dengan para karakter film ini.

Baca Juga:  Xiaomi Redmi S2 resmi dirilis di Indonesia, ini harganya

Selain itu film ini mengurangi beberapa ciri khas yang digunakan seperti film film Jurassic yang dulu yaitu ciri khas dengna menggunakan lokasi taman sebgai tempat dimana para dinosaurus dan manusia saling bertemu, tapi di film ini ciri khas tersebut dikurangi dan diganti dengan bagaimana para dinosaurus menuju dunia manusia dan memberikan pengertian dari arti ” Jurassic World ” itu sendiri.Jurassic World Fallen Kingdom menyajikan visual yang tidak jauh berbeda dari film sebelumnya namun dari sisi keindahan alam di pulau tersebut adalah hal yang menakjubkan namun hal tersebut berubah menjadi suatu kehancuran yang besar karena efek dari bencana alam.Film ini juga memiliki scoring yang menggelegar dan keras serta masih menggunakan kesa scoring dari film sebelumnya.

Karakter di film ini memang masih menghadirkan dua karakter dair film sebelumnya namun penambahan banyak karakter baru seperti Franklin Webb (Justice Smith) yang menjadi seoran karakter yang akan memberikan hiburan komedi tersendiri karena tingkahnya di film ini lalu ada Zia Rodriguez (Baniella Pineda) yang memiliki daya tarik tersendiri tersendiri di film ini dan beberpaa karakter lainnya dan juga adanya antagonis di film ini, namun kehadiran seorang Dr Iam Malcolm (Jeff Goldblum) adalah yang menarik karena merupakan salah satu karakter sentral di salah satu film Jurassic sebelumnya namun kehadirannya hanya sebatas cameo yang berbicara panjang lebar.

Jurassic World Fallen Kingdom bisa dikatakan sebagai sekuel yang berbeda karena menciptakan suatu tren baru yaitu berupa para dinosaurus yang menuju dunia manusia tapi tren lama yang berupa menampilkan taman safari dikurangi bahkan dihilangkan karena memang efek kehancuran yang disebabkan bencana alam.Didukung jalan cerita yang menarik serta membuat perasaan campur aduk dari rasa empati menjadi sesuatu yang horror dirasa pas untuk film ini. terlebih didukung dengan akhir cerita yang menarik dan memberikan indikasi akan kehadiran sekuel selanjutnya dari Jurassic World namun film ini memiliki plot twist yang mudah ditebak. Pada akhirnya Jurassic World Fallen Kingdom adalah tontonan yang menghibur dengan memainkan perasaan serta andrenalin yang akan menimbulkan kesan tersendiri saat menontonnya.

Continue Reading

News

ASUS rilis VivoWatch BP, health tracker bagi orang tekanan darah tinggi

Published

on

By

GwiGwi.com – Ingin membantu orang yang mempunyai masalah dengan darah tinggi, ASUS mengenalkan VivoWatch BP. Satu urusan yang unik dari perlengkapan wearable ini ialah karena ia bisa menghitung tekanan darah pemakai.

ASUS Global PC and Phone Marketing Senior Director, Marcel Campos melafalkan bahwa VivoWatch BP bukanlah smartwatch atau fitness tracker. “Perangkat ini lebih dari itu, ia ialah sebuah health tracker,” katanya.

ASUS melengkapi VivoWatch BP dengan dua sensor, yakni sensor elektrokardiogram (EKG) dan sensor photoplethysmography (PPG). Kedua sensor ini bermanfaat memonitor kegiatan jantung. Hanya saja, dua-duanya memiliki teknik yang berbeda.

Sementara sensor ECG memonitor kegiatan jantung melewati sinyal listrik yang diantarkan oleh jantung, sensor PPG adalahteknologi berbasis cahaya guna mendeteksi aliran darah yang dipompa dari jantung ke titik dimana sensor berada, dalam permasalahan ini, pergelangan tangan.

ASUS menjelaskan, dalil mereka memasang dua sensor pada VivoWatch BP ialah untuk menambah akurasi data yang dipungut oleh perlengkapan tersebut.

Campos menjelaskan, bila dikomparasikan dengan monitor desakan darah yang terdapat sekarang, VivoWatch BP 70 persen lebih kecil dan 50 persen lebih ringan. Di samping itu, perlengkapan ini juga dapat menghitung desakan darah pemakai melulu dalam masa-masa 15 detik.

Baca Juga:  miwa bawakan lagu untuk drama Signal: Choki Mikaiketsu Jiken Sosahan

“VivoWatch BP bertolak belakang dengan monitor desakan darah yang memaksa Anda guna duduk dan mengusung tangan Anda,” kata Campos. “VivoWatch BP jauh lebih gampang untuk dipakai untuk menghitung desakan darah pemakai.”

VivoWatch BP memakai layar LCD warna yang dilapisi dengan Gorilla Glass. Menariknya, Campos menyatakan bahwa perlengkapan wearable ini mempunyai baterai yang dapat bertahan sampai 28 hari.

Selain dari sisi hardware, hal beda yang Campos tonjolkan dari VivoWatch BP ialah software. Perangkat ini telah dilenngkapi dengan ASUS HealthAI Algorithm.

“Dengan HealthAI, kami dapat membantu pemakai untuk mengejar hubungan antara informasi kesehatan dan desakan darah,” kata Campos. Data kesehatan yang dia maksud misalnya durasi istirahat dan detak jantung.

HealthAI pun akan melacak seluruh informasi kesehatan kita — seperti detak jantung dan pekerjaan Anda — untuk menciptakan sebuah database lengkap, ungkap Campos. HealthAI pun akan mengoleksi informasi individu Anda sampai-sampai Anda bakal mempunyai data kesehatan menyeluruh yang dapat Anda berikan pada dokter saat dibutuhkan.

“HealthAI pun akan dapat memberitahu kita apa yang mesti kita lakukan supaya tekanan darah kita normal,” katanya.

Continue Reading

Trending