Connect with us

News

Review : Xiaomi Mi A1, Android One, Dual Camera, 3jt-an. Kurang Apa Lagi?

Published

on

GwiGwi.com – Setelah Samsung mengeluarkan penerus dan penghilang rasa sakit hati fans yaitu Galaxy Note 8 dengan fitur kamera dua lensa yang waw, dan juga Motorola dengan G5S Plus yang resmi masuk di Indonesia dengan fitur kamera dua lensa color+monochrome juga yang dijanjikan bisa menghasilkan kualitas yang oke, Xiaomi memboyong smartphone budget-nya yang juga mengsung Dual-Lens Camera yaitu Xiaomi Mi A1.

Xiaomi terkenal dengan budget smartphones-nya yang bisa dibilang gahar dibandingkan pesaingnya di kelas yang sama seperti Lenovo K-series, dan juga Samsung J Series. Tahun 2017 awal pun Xiaomi cukup handal dalam hal penjualan melalui Redmi Note 4 yang memang resmi masuk ke Indonesia melalui Erajaya dan juga Lazada Indonesia. Pada 5 September lalu, Xiaomi resmi meluncurkan Mi A1 sebagai petarung di kelas budget dengan fitur dua buah kamera, sebuah fitur yang mulai menjadi trending setelah iPhone memperkenalkan portrait mode yang membuat kamera smartphone bagaikan kamera DSLR dan akhirnya juga ditekankan oleh manufaktur lainnya yang juga memboyong 2 buah mata untuk smartphone mereka seperti LG G6One Plus 5, dan juga Samsung Galaxy Note 8. Xiaomi kemudian mengumumkan kehadiran Mi A1 di beberapa negara lain, seperti Malaysia, Singapura, dan tentunya Indonesia dimana launchingnya sendiri di tanah air adalah pada 22 September 2017, dan penjualan perdana pada 2 Oktober 2017 melalui Mi Store di Summarecon Serpong, dan juga Summarecon Bekasi.

Namun, tentunya dengan konsep budget tidak akan bisa membawa Mi A1 ke panggung yang sangat besar. Akan tetapi ada satu langkah menarik yang diambil oleh Xiaomi untuk Mi A1 ini. Mi A1 terlahir dari kerjasama Google, sebagai perusahaan pemilik Android OS dan juga Xiaomi. Ini membuat Mi A1 masuk dalam projek Android One yang sudah lama terpendam dan bisa dibilang “gagal” pada masanya. Inilah sepertinya yang dapat menjadi taring terkuat Mi A1 dibandingkan para kompetitor.

Silahkan simak artikel dibawah untuk Review lebih dalam mengenai Mi A1 dan juga kenapa Mi A1 bisa menjadi pilihan tepat untuk yang sedang ingin upgrade ke Budget Smartphone, atau ingin mencicipi teknologi yang tergolong cukup baru tapi tidak ingin merogoh kocek hingga belasan juta rupiah.

Spesifikasi Xiaomi Mi A1

Operating System Android 7.1.2 Nougat
Layar Display 5.5-inch IPS LCD 1920 x 1080 (403ppi)
Gorilla Glass, 2.5D curved glass
Prosesor Qualcomm Snapdragon 625
2.0GHz octa-core Cortex A53
14nm FinFET
GPU Adreno 506
RAM 4GB
Penyimpanan 64GB
Penyimpanan Eksternal Ya, sampai dengan 128GB
Baterai 3080mAh
Charger USB-Type C
Kamera Belakang Wide : 12MP wide-angle (OmniVision OV12A10) f/2.2, 1.25-micron pixels
Dual tone flash, PDAF
4K@30FPSTele : 12MP telephoto (OmniVision OV13880) f/2.6, 1.1-micron pixels
Kamera Depan 5MP
1080p video
Koneksi Wi-Fi 802.11 ac, Bluetooth 4.2
IR blaster, 3.5mm jack
GPS/AGPS, GLONASS, BeiDou
Audio 3.5mm colokan Headphone
Amplifier tersendiri
Fitur Keamanan Sensor sidik jari pada bagian belakang.
SIM Dual SIM slot (hybrid slot)
Dimensi 155.4 x 75.8 x 7.3mm
165g
Opsi Warna Black, Gold, Rose Gold

Xiaomi Mi A1 – Design | 8/10

Design dari Mi A1 tidak terlalu mencengangkan. Tidak ada fullview display ataupun infinity display yang sekarang mulai menjajal menjadi trend seperti yang dapat ditemukan pada smartphone kelas atas seperti Galaxy S8/S8+/Note 8iPhone X, dan juga LG G6. Namun demikian, design yang diusung Mi A1 tidaklah murahan. Badannya terbalut oleh desain yang premium dan juga full metal chasis yang berarti di keseluruhan tubuhnya kecuali layar depan, terbuat dari aluminium kualitas premium, mirip dengan yang dimiliki oleh iPhone.

Selain itu, antena yang dimiliki Mi A1 tertutup rapih, melengkung dibagian atas dan dibawah atau gampangnya disebut u-shaped jadi tidak kentara terlihat seperti yang ditemukan pada lini Redmi Note dari Xiaomi. Lengkungan yang dimiliki oleh Xiaomi juga nyaman dipegang, walaupun memang hingga saat ini, saya masih sangat merasa nyaman dengan bentuk dari Galaxy S8 yang melekung. Namun demikian, Mi A1 tetap terlihat tipis dan oke banget mengingat, kembali lagi, Mi A1 jatuh di segmentasi budget.

This slideshow requires JavaScript.

Ketipisan yang dimiliki Mi A1 tadi memang memiliki kekurangan. Walau nyaman dipegang dan beratnya yang cukup pas di 165 gram saja, kamera yang menjadi pionir dari Mi A1 ini terlihat timbul dan memberi rasa was-was apabila bagian belakang bersentuhan langsung dengan permukaan, tanpa adanya case yang memberikan perlindungan. Namun demikian, selain rasa was-was, tonjolan kameranya tidak membuat design Mi A1 menjadi jelek.

Perlu diketahui, bahwa sebenernya Mi A1 sudah dirilis sebelumnya di China dengan nama Mi 5X dan tetap mengusung OS Android hasil racikan Xiaomi, MIUI.

Xiaomi Mi A1 – Display | 7/10

Layar yang selalu menjadi jendela antara pengguna dan juga smartphone menjadi concern utama beberapa manufaktor smartphone. Layar Mi A1 cukup baik, tapi cukup sampai disitu saja. Hasil reproduksi layar Mi A1 dalam balutan Kaca 2.5D dan juga Corning Gorilla Glass 3 sebagai perlindungannya, dalam resolusi Full HD sebesar 5.5 inci mampu menghasilkan display yang cukup baik, namun tidak memukau seperti yang dimiliki oleh AMOLED Display.

Dibawah cahaya matahari, layarnya cukup terang untungnya, dan area penglihatan dari Mi A1 pun cukup oke jadi bisa dimaklumi kenapa layar yang dipakai tidak menggunakan panel yang memang top-end seperti AMOLED.

Xiaomi Mi A1 – Hardware | 7/10

Prosesor yang diusung oleh Mi A1 adalah Qualcomm Snapdragon 625. Xiaomi sepertinya sudah sangat nyaman dengan prosesor ini karena sejak Redmi Note 4, Xiaomi selalu mengusung prosesor ini untuk kelas bawah, sedangkan untuk Mi 6 memakai SD 835, sama seperti yang digunakan oleh flagship kebanyakan. Secara spesifikasi di kertas, 625 memang cukup fleksibel dikarenakan oleh teknologi yang diusungnya yaitu 14nm FinFET yang digadang oleh Qualcomm dan juga Xiaomi sebagai proses yang kuat, namun hemat energi, seperti mana yang merupakan impian Xiaomi untuk merilis smartphone seharga 3jt-an namun mampu melewati sehari-dua hari saat lupa di charge.

RAM yang diusungnya sebesar 4GB, dan juga ROM 64GB, tanpa ada konfigurasi lain seperti 6+128, ataupun 3/32. Ini membuat Mi A1 kurang lebih setara atau sedikit lebih baik dibandingkan Redmi Note 4 dengan konfigurasi 4+64. Apakah bisa dibilang cukup? Menurut saya cukup banget. Benchmark untuk smartphone beberapa tahun terakhir terpaku pada konfiguras 4GB untuk RAM dan 64GB atau 32GB untuk ROM, dan ini sudah cukup bertahan selama 2 tahun terakhir bahkan untuk smartphone kelas atas yang memiliki konfigurasi serupa seperti Galaxy Note 5, S8, dan juga G6. Apabila kapasitas penyimpanannya kurang, slot SIM Card yang kedua dapat digunakan juga sebagai slot microSD, namun dengan mengorbankan ketersediaan SIM ke-2.

Sensor-sensor yang dimilikinya bisa dibilang cukup standard. Wi-Fi 802.11 ac, Bluetooth 4.2, IR blaster, 3.5mm jack, GPS/AGPS, GLONASS, BeiDou telah disematkan dalam bodi ramping dari Mi A1. Namun sangat disayangkan, sesuatu NFC atau Near Field Communication tidak diikutsertakan kedalam Mi A1. Padahal, Indonesia sedang memasuki era cashless dan NFC sepertinya sangat bisa dipercaya untuk meng-handle perubahan yang sedang dialami di Indonesia.

Xiaomi juga menyematkan capacitive buttons untuk urusan navigasi Home, Recent Apps, dan juga Back. Ini merupakan ciri khas Xiaomi sejak dulu, dan sepertinya akan menetap. Menurut saya, inilah kekurangan dari Xiaomi. Capacitive Buttons dengan backlit seperti ini adalah tombol navigasi yang umum ditemukan di smartphone china, dan kebanyakan kurang menunjukan kesan premium. Seandainya Xiaomi menyematkan Home Button sebagai physical button ataupun menggunakan model navigasi yang dimiliki oleh iPhone 7 Plus yaitu Force Touch, ataupun embedded seperti yang dimiliki oleh S8 dan juga Note 8, atau opsi lainnya, On-Screen Navigation yang memang a la Google banget. Namun demikian, yang pasti navigation button ini berfungsi dengan cukup baik.

Untuk hal security, Xiaomi bergantung dengan One-Touch Fingerprint Sensor yang diletakan dibelakang ditengah atas yang menurut banyak orang “Inilah lokasi Fingerprint yang pas” *ehem Samsung*. Waktu membuka kunci menggunakan Fingerprint ini pun cukup cepat dan dari 15 kali mencoba dengan cepat, hanya 2 atau 3 kali sensor ini meleset dan tidak pernah gagal apabila menggunakan jari yang salah.

Baterai yang diusung Mi A1  adalah sebesar 3080mAh. Baterai ini 1020mAh lebih kecil dibandingkan saudaranya, Redmi Note 4 yang memiliki baterai 4100mAh. Namun demikian, karena menggunakan SD 625, saat digunakan sehari-hari untuk browsingmessaging ringan, dan juga menggunakan kameranya beserta koneksi hanya melalui WiFi, Mi A1 berhasil melewati hari hingga jam 10 malam, sejak menyala dari jam 8 pagi. Ini bukanlah hal yang buruk mengingat bahkan sekelas flagship Galaxy Note 5 pun hanya bertahan dari jam 7 pagi hingga 3 sore saat butuh mengisi baterai kembali. Namun sayang, fast charging tidak diikutsertakan, padahal mengingat penggunaan SD 625 sebagai SoC berarti Quick Charge dari Qualcomm sebenarnya bisa ikut menaikan daya guna Mi A1 dan mampu mengisi baterai dengan cepat bila dibutuhkan. Mungkin saja, saat ini masih dinonaktifkan oleh Xiaomi untuk suatu alasan. Selain itu, interface koneksi yang dipakainya menggunakan USB-C sehingga kedepannya akan lebih mudah untuk hal aksesoris mengingat sekarang banyak sekali elektronik yang sudah mengupdate menjadi USB-C.

Untuk soal body-nya, bisa dibilang cukup mirip dengan iPhone 7 atau 7 Plus, dan itu bukanlah hal yang buruk. Mi A1 nyaman digenggam, dan cukup ringan untuk dibawa-bawa. Namun, pastikan untuk menggunakan case agar tidak ada rasa takut-takut karena Aluminium milik Xiaomi terkenal cukup rentan.

Baca Juga:  World of Warships Memperkenalkan Event Halloween ke Indonesia dengan Lebih Banyak Partner!

Xiaomi Mi A1 – Software | 9/10

Created by Xiaomi, Powered by Google

Inilah yang menurut saya menjadi nilai jual terbesar dari Mi A1. Google Pixel 2 baru saja di announce belum lama ini, dan menyuguhkan pengalaman terbaik dari Google melalui stock android. Namun, Pixel 2 bisa diprediksi memiliki harga yang cukup tinggi. Disinilah Mi A1 bisa menunjukan taringnya. Mi A1 merupakan smartphone pertama dari Xiaomi yang tidak disematkan MIUI. Xiaomi bekerjasama dengan Google untuk menaruh Mi A1 kedalam projek Android One, yang dulu pernah diciptakan oleh Google dengan tujuan untuk memperkenalkan jutaan orang dengan Android sebagai smartphone mereka. Dengan demikian, Mi A1 memiliki pengalaman Vanilla Android yang hampir serupa dengan yang kita rasakan denga lini Nexus, ataupun Pixel. Simple-nya, kalian tidak akan menemukan bloatwarere-skin Android bagaikan iPhone KW, dan yang paling saya sukai adalah, janji Google dan Xiaomi untuk memberikan update lebih cepat dibandingkan vendor lain karena memang masih Pure Android tanpa ada campur tangan terlalu banyak dari manufaktor.

Xiaomi dan Google menjanjikan update Android 8.0 – Oreo sebelum tahun 2017 berakhir, dan juga Google sendiri menyatakan pada waktu launch di India September lalu, bahwa Mi A1 bakal jadi salah satu smartphone pertama yang akan mendapatkan update Android P bersamaan dengan Google Pixel.

Xiaomi Mi A1 – Camera | 7.5/10

Inilah juga yang diunggulkan oleh Xiami dan diagadang sebagai Flagship dual kamera. Kamera yang dimiliki Xiaomi memiliki setup Wide(Color) + Tele(Color) dan memiliki sensor 12MP untuk kedua kamera dan sensornya dibuat oleh OmniVision. Kameranya juga ditemani oleh dual-tone flash yang berfungsi untuk menghasilkan warna natural karena bukan hanya memiliki flash berwarna putih saja, tapi ada juga berwarna orange-kuning untuk menaturalisasikan warna yang dikeluarkan.

Setup inilah yang nantinya mampu membawa Mi A1 untuk memiliki kemampuan Portrait Mode dan menghasilkan foto ber-bokeh dan membuat kualitas fotonya seolah berasal dari kamera DSLR. Kedua kamera akan menangkap foto secara bersamaan, dan memprosesnya menjadi satu dimana subyek dari foto akan terlihat tajam, dan latar belakangnya menjadi blur. Ini memang bukan fitur baru di ranah smartphone. Beberapa smartphone sebelumnya sudah menjual fitur ini bersamaan dengan dual kameranya, namun kocek yang perlu dikeluarkan bisa dibilang cukup dalam dan Mi A1 mengatasinya dengan mengeluarkan smartphone dengan fitur yang sama di sekitar 1/3 atau 1/4 harga dari smartphone kelas atas itu.

Tapi, apakah hasilnya muantap? Fotonya … okedeh lumayan bagus. Dalam kondisi cahaya yang cukup baik, foto yang dihasilkan bisa sangat jerning, dan kadang mata saya sendiri tidak begitu percaya bahwa smartphone ini hanya 1/4 dari harga Galaxy Note 8 dan 1/5 dari iPhone 7 Plus. Gambar yang dihasilkan apabila dilihat dari layar Mi A1 cukup oke, dan saat dipindahkan atau diupload masih cukup joss. Memang bokeh yang dihasilkan tidak se-refine hasil dari iPhone 7 Plus, but it’s okay.

This slideshow requires JavaScript.

Namun, kamera ini akan mulai kesulitan jika kita memasukin keadaan lowlight. Salah satu kekurangan yang saya selalu temui dari smartphone Xiaomi adalah kameranya akan cukup bergumul saat kekurangan cahaya. Flash yang dimilikinya memang sangat membantu, namun, portrait mode yang dijual oleh Xiaomi ternyata tidak bisa digunakan bersamaan dengan flash tersebut. Hasil foto akan terlihat sangat noisy dalam lowlight walaupun detail yang ditangkap masih cukup oke. Mungkin beberapa orang akan menyukai noise yang muncul sebagai filter artistik, namun, untuk fotografer, ini akan cukup mengganggu. Selain itu, kamera Mi A1 juga tidak memiliki OIS atau Optical Image Stabilization ataupun EIS atau Electronic Image Stabilization sehingga tidak jarang kita melihat foto yang sedikit blur karena pergerakan smartphone.

This slideshow requires JavaScript.

Selain dual kamera dan flashnya, Xiaomi juga menyematkan kamera depan yang … harusnya bisa lebih baik. Hasil foto kamera depan sangat biasa menuju kurang, dan fiturnya pun tidak begitu banyak. Namun demikian, memang Xiaomi tidak pernah mengusung AMAZING SELFIES tapi yang ditonjolkan adalah kamera belakang, dan juga smartphone yang cukup powerful dengan harga yang bersahabat untuk dompet.

Hasil HDR - Mi A1

Hasil HDR – Mi A1

Hal lain yang bisa ditemukan di Mi A1 adalah HDR. Hasil foto HDR-nya pun cukup oke, bisa memperlihatkan kontras yang cukup baik untuk foto lanskap, dan juga detail yang dikeluarkan cukup oke. Sayangnya HDR ini tidak langsung menyala pada saat membuka aplikasi kamera, jadi kalau kalian ingin menggunakannya, jangan lupa untuk menekan opsi HDR terlebih dahulu. Oh ya, selain itu HDR juga tidak bisa digunakan untuk portrait mode.

Overall, kameranya cukup oke, namun masih ada beberapa tweaks yang harus diimplementasikan oleh Xiaomi untuk membuat kamera ini menjadi lebih baik lagi. Mungkin ini bisa dilakukan melalui software update karena sepertinya bukan batasan dari hardware Mi A1.

Xiaomi Mi A1 – Kesimpulan

Mi A1 memiliki desain yang cukup baik, namun tidak waw seperti S8/S8+/Note 8 ataupun iPhone X. Penggunaannya sehari-hari cukup oke, dan dibawa sedikit berat, tenaganya bersama dengan Qualcomm Snapdragon 625 cukup mumpuni dibantu dengan RAM sebesar 4GB DDR3. Baterainya juga lumayan mampu untuk bertahan seharian walau hanya sebesar 3080mAh. Selain itu, USB-C membuat Mi A1 memiliki masa depan yang cukup baik mengingat sekarang banyak elektronik yang merubah interfacenya yang dari beragam  menjadi USB3.0-Type C yang multifungsi. Displaynya yang cukup oke mampu memperlihatkan multimedia dengan baik dalam resolui Full HD dan dibawah terik matahari, masih cukup terang dan dapat digunakan dengan baik. Fingerprintnya cukup akurat, dan sensor lain yang disematkanpun sudah cukup lengkap dan mumpuni. Kamera yang dijualnya pun bisa dibilang diatas rata-rata. Dengan kemampuannya untuk menghasilkan foto bokeh hasil produksi dari software dengan 2 kamera 12MP Wide(Color)+Tele(Color) membuat fitur portrait mode dari Mi A1 cukup joss.

Kelebihan lain dari Mi A1 adalah adanya campur tangan Google secara langsung dengan device ini. Mi 5X yang di rebrand menjadi Mi A1 memiliki kesempatan untuk bersaing dengan budget smartphone lainnya melalui kerjasama ini dimana hampir bisa dipastikan bahwa smartphone ini bakal dapat update paling tidak untuk 2 update kedepan yaitu Oreo dan Android P. Selain itu, karena softwarenya yang bersifat Pure Android membuat Mi A1 cukup responsif karena tidak adanya bloatware yang membuat smartphone ini terlalu sesak. Simple-nya, Mi A1 cocok untuk yang ingin merasakan smartphone dengan cita-cita Google, namun tidak perlu merogoh kocek yang terlalu dalam. Terlebih lagi, Google Photos memberikan unlimited storage sebagai penyimpanan cloud untuk foto-foto #bokehlicious dari Mi A1.

Namun demikian, Mi A1 bukan 100% Perfect. Tidak adanya NFC di jaman sekarang dimana Indonesia sedang berubah menjadi negara yang “butuh NFC” membuat future-proofing dari Mi A1 sedikit kurang. Selain itu, saingan dari Mi A1, Moto G5S Plus, memiliki NFC dan juga Water-Resistance yang membuat Mi A1 terkesan “kok masih gitu-gitu aja” karena 2 fitur tadi sudah menjadi kewajiban. Fast charging juga tidak diikutsertakan yang membuat effort untuk mengisi daya menjadi lebih besar dan menunggu cukup lama.

Selain itu, masih banyak adjustment yang harus dibuat untuk menyempurnakan hasil fotonya. Di kondisi lowlight, Xiaomi Mi A1 masih sangat struggling sehingga karya fotonya dimalam hari tidak begitu berkesan.

Xiaomi Mi A1 – Jadi, Apakah Layak Dibeli? | IYA PAKE BANGET!

Kalau Gwiples ingin upgrade smartphone kalian yang sudah jadul, mungkin sudah berusia lebih dari 3 tahun, tapi belum ada budget terlalu tinggi atau memang tidak ingin merogoh kocek sampe harus membuat bolong dompet dan juga tabungan di Bank, mungkin Mi A1 bisa menjadi pilihan yang sangat cocok. Desainnya yang cukup premium, nyaman dipegang, dan bisa bikin gaya kalian sedikit upgrade mungkin adalah salah satu pilihan yang tepat. Kameranya juga cukup oke, dan kalian bisa merasakan update instagram dengan foto-foto kece bokeh bagaikan menggunakan smartphone di harga 8jt-keatas. Dengan harga segini-pun kalian dapat merasakan Android sebagai mana mestinya, dan tidak perlu takut untuk tidak bisa update dan merasakan fitur Android terbaru, karena Mi A1 adalah device Android One.

Smartphone ini tentunya akan sedikit tidak cocok bagi kalian yang memang sudah pernah menggunakan kelas atas flagship seperti iPhone 7 Plus ataupun Galaxy S8. Tapi tentunya itu tidak membandingkan apple-to-apple sehingga sepertinya Mi A1 memang bukan ditargetkan untuk pengguna kelas atas seperti itu.

Sebagai alternatif, masih ada smartphone yang memiliki fitur serupa seperti Motorola G5S Plus, Lenovo K8, Galaxy J7+, dan lainnya. Namun demikian, tiap alternatif memiliki plus-minus tersendiri dan tidak ada yang perfect, tetapi Mi A1 adalah salah satu smartphone budget dengan fitur melimpah dan juga pengalaman Android yang lebih bersih.

Gimana kalau menurut kalian Gwiples? Apakah Mi A1 will be the one? Atau kalian masih mau menunggu apabila ada Android One lainnya yang akan meluncur?

Sekian review dari Mi A1 kali ini, sampai jumpa di review berikutnya!

fsp out!

  • 8/10
    Design - 8/10
  • 7/10
    Display - 7/10
  • 7/10
    Hardware - 7/10
  • 9/10
    Software - 9/10
  • 7.5/10
    Kamera - 7.5/10
7.7/10

Freelancer serabutan yang demenannya beragam sampai tidak jelas kemana. Saat ini sedang berkutat sebagai Web Developer sembari mengupdate informasi tentang Gadget Teranyar yang biasanya berada di segmentasi affordable hingga high end flagship. Selain itu juga jadi Youtuber untuk GwiGwi. Kontak: fsp@giwgwi.com.

News

PEMBUKAAN GRAND FINAL UniPin SEACA 2019 UniPin SEACA 2019 Jadi Gerbang Pelopor Atlet Esports Naik Kelas

Published

on

By

GwiGwi.com – Tahun 2019 merupakan tahun kedua diadakannya turnamen eSports berskala internasional, Southeast Asia Cyber Arena (SEACA) oleh UniPin. Tahun ini, sebanyak 66 tim yang berasal dari 24 kota/kabupaten di Indonesia serta beberapa negara di Asia Tenggara akan bertanding memperebutkan gelar juara pada Grand Final UniPin SEACA 2019, yang berlangsung pada tanggal 8 – 10 November 2019 di Kartika Expo, Balai Kartini, Jakarta.

UniPin berhasil menjaring 10.000 tim sebagai talenta bibit eSports dan akan mengorbitkan
atlet eSports profesional yang berpotensi untuk bertarung mengharumkan nama bangsa di
mata dunia. Sebagai cabang olahraga baru di Indonesia, UniPin menekankan pentingnya
membangun gaya hidup eSports yang sehat demi terbentuknya budaya eSports yang lebih
baik.

Turnamen ini diawali dengan babak kualifikasi UIC (UniPin Indomaret Championship) dan UCL (UniPin City League) yang dimulai sejak bulan April 2019 lalu. UniPin juga menggelar babak kualifikasi di Malaysia yakni UKK Championship (UniPin KK Mart Championship) dan UniPin SEACA 2019 Philippine Qualifier di Filipina. Sejumlah 464 peserta yang terbagi kedalam 66 tim, berhasil melewati kualifikasi dan akan saling bersaing di babak Grand Final.

Turnamen UniPin SEACA 2019 mempertandingkan 3 jenis game yang saat ini tengah populer yaitu Free Fire, DOTA 2 serta PUBG (Player’s Unknown Battleground) Mobile. Sebagai bukti keseriusan dalam menggarap pertumbuhan eSports di tanah air, UniPin mempersiapkan total hadiah sebesar Rp 2,4 Miliar.

UniPin juga mengadakan sebuah sebuah ekshibisi bertajuk Southeast Asia Millennials Expo (SEAME), yang hadir berdampingan dengan ajang Grand Final UniPin SEACA 2019. Di ekshibisi SEAME, UniPin mengajak pengunjung untuk menikmati berbagai produk lokal dan internasional, serta tenant kuliner di food festival. Kompetisi “SEACA Cosplay Showcase 2019” juga turut meramaikan SEAME dengan mengundang ratusan cosplayers asal Indonesia. Para pengunjung juga dapat ikut berkompetisi mengikuti mini turnamen Tekken 7 dan Chess Rush.

Baca Juga:  Xiaomi luncurkan ShareSave: Platform online marketplace lintas batas di Indonesia

“Tren global eSports saat ini mengalami pertumbuhan yang begitu pesat. Dalam hal ini UniPin telah menjadi pelopor ekosistem eSports di Indonesia. Oleh karena itu melalui platform turnamen yang kami miliki, dapat menjadikan UniPin SEACA 2019 sebagai sarana untuk mendorong perkembangan eSports di Indonesia,” ungkap CEO & Co-Founder UniPin, Ashadi Ang.

“UniPin SEACA 2019 akan menjadi gerbang bagi para pemain eSports di Indonesia untuk melangkah ke turnamen yang lebih besar di kancah internasional. Kami berterima kasih kepada para sponsor yang telah ikut berkolaborasi dalam kegiatan ini. Ke depannya, kami berharap dukungan yang lebih besar dari semua pihak, khusunya kepada pemerintah maupun pihak swasta agar ekosistem eSports di Indonesia semakin berkembang dalam memberikan kebanggaan bagi Tanah Air,” tutup Ashadi.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo* diagendakan membuka acara Grand Final UniPin SEACA 2019. Juga turut hadir Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Bapak Bambang Soesatyo, Menteri Pemuda dan Olahraga Bapak Zainudin Amali, Ketua Dewan Pendiri PB eSports Indonesia Bapak Jenderal Pol. (Purn) Budi Gunawan, dan Ketua Umum KONI Pusat Bapak Letjen. TNI. (Purn) Marciano Norman.

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Ngobrol Bareng “Meme Queen” Sally Amaki: “Ssstt, Nanti Kena Masalah Kalau Bocorin!”

Published

on

By

GwiGwi.com – Pada Creators Super Fest 2019 yang diadakan pada pekan lalu (26 – 27 Oktober 2019), di Jakarta, Tim GwiGwi berkesempatan ngobrol bareng dengan salah satu artist Voice Actor IdolSally Amaki, yang dijuluki sebagai Meme Queen di dunia maya. Setelah sebelumnya membuat rakyat +62 “tertarik” dengan gayanya yang nyeleneh dan sering melakukan hal yang tidak biasa di Sosial Media, Sally Amaki sendiri juga pernah berinteraksi dengan sangat “santuy” dengan Pucchi dari JKT48. Nah seperti apa sesi ngobrol kita waktu itu? Yuk disimak artikel interviewnya ini!

Halo Sally Amaki 🙂 Btw mau nanya nih, ini kan kali pertama Sally ke Indonesia, Hal apa yang menurut Sally paling bikin WAW saat pertama kali ke Indonesia?

Sejujurnya, aku baru mendarat tadi pagi. Tapi pas turun pesawat, waw semuanya tuh langsung ramah-ramah, padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya. Selain itu juga, waktu pertama kali posting soal mau ke Indonesia, banyak banget yang menyambut positif kedatanganku jadi kesannya terhadap Indonesia dan Jakarta tuh orang-orangnya baik-baik banget! Terimakasih 🙂

Oh yah waktu itu kan sempet bisa ketemu sama Pucchi JKT48 tuh, terus gimana tuh lanjutannya?

Iya! Kita ketemu di Akihabara abis itu kita masih ngobrol dan tukeran nomor telfon. Kita juga akan ketemuan di hari kedua nih hehe

Wah asik dong reunian lagi nih hehe. Oh yah terus kita pengen tau nih sebenernya Sally kalau bukan jadi seorang seiyuu, misalnya nih, pengen jadi apa?

Sejujurnya sih, ada niatan untuk jadi dokter dulu. Cuman kan kalau jadi dokter, harus punya “big brains *teehee*”. Nah tapi dulu memang ada keinginan untuk jadi idol karena mereka tuh lucu-lucu. Cuman memang sih, waktu itu cuman jadi mimpi atau fantasi. Tapi sekarang, udah jadi kenyataan dan itu membuatku sangat senang. Oh yah selain itu, andai aku bisa gambar, pengen jadi seorang ilustrator atau manga artist.

Nah pas jadi Seiyuu sekarang ini, pernah ada ga pengalaman yang sangat memorable nih dengan fans?

Waktu itu, sempet ada seorang fans yang mendatangiku sambil menangis. Katanya sih aku berhasil jadi motivator atau penyemangat untuknya meraih mimpinya. Mimpinya itu mau jadi seiyuu juga. Nah dia bilang katanya pas ngelihat aku diatas panggung, dia jadi terinspirasi untuk memberanikan diri menjadi seiyuu. Buktinya lihat aja aku seseorang dari Los Angeles, kemudian berhasil menjadi seiyuu di Jepang. Jujur-jujuran aja itu jadi pengalaman yang tak terlupakan untukku.

Wah ikutan nangis nih huhu, anyway lanjut, kita juga pengen tau nih perasaan Sally setelah dijuluki Meme Queen oleh Netizen

Sebenernya bingung sih, tersanjung dan bingung hehe. Queen atau ratu itu kan julukan besar banget. Jadi yah bener-bener bikin seneng sih. Yah karena juga, sebenernya tujuanku update dan posting soal Meme di social media sih untuk bikin orang-orang tersenyum dan bahagia gitu hehe.

Nah kalau gitu, gimana tanggapan “Netizen” atau warga Jepang sendiri soal meme? Terutama temen-temen segrup di 22/7 nih.

Kalau di Jepang sendiri, sebenernya bisa dibilang pada kena Culture Shock. karena di Jepang sendiri, banyakan masih belum tau apa sih itu Meme. Banyak yang nangkepnya secara literal atau as it is jadi kadang bikin bingung padahal meme harusnya lebih bersifat sarkas. Kalau temen-temen di 22/7 sendiri sih, sama pada ga gitu paham memes itu apa. Tapi ga sedikit kok dari mereka yang akhirnya minta diajarin sih. Tapi dari komunikasi ini, mungkin bisa juga dibilang menjadi salah satu kunci utama untuk membuat teman. Cuman memang sih, sulit jelasin memes tuh gimana dalama konotasi Jepang, lebih mudah kalau dalam Bahasa Inggris.

Waduh, ribet juga yah.. yaudah deh kita lanjut aja nih yah. Sally kan suka sama Anime, apa nih yang jadi triggernya sampai suka Anime?

Sebenernya aku sudah suka Anime sejak kecil. Nah tapi, pas Middle School (SMP), berkenalan dan membuat teman itu bisa dibilang cukup sulit. Apalagi, percaya ga percaya, aku tipe orang yang introvert loh. Lalu akhirnya kenal deh sama Anime yang bikin lebih ceria dan yah salah satunya Gintama tuh bikin hidup berasa berubah aja. Selain itu ini juga jadi salah satu alasan aku akhirnya tertarik untuk mencoba voice acting.

Baca Juga:  Dirilis Hari Ini, Redmi Note 8 dan Redmi Note 8 Pro Akan Bikin Kaget Indonesia?

Selain Gintama, ada ga Anime lain yang disukai Sally?

Hmm, banyak sih. Ada Bobobo-bo Bo-bobo, Naruto, dan Gintama. Kalau dari Genre aku lebih suka Shounen sih. Karena alasannya yah kakak laki-lakiku nontonnya genre itu sih.

Selain Anime, Sally juga seneng main game kah? Kalau iya, game apa yang sedang dimainkan sekarang?

Oh pastinya dong. Banyakan sih Otome Game. Tapi ga bisa kasih tau judulnya nih hehehe. Selain itu yah di smartphone juga main Mario Kart sama member-member lain juga. Jujur-jujuran aku sangat jago loh hehe!

Waduh, semoga kapan-kapan bisa tanding deh di Mario Kart haha. 

Oh yah berikutnya kami pengen tau nih, kan Sally fasih banget ngomong bahasa Inggris, nah kemampuan ini ada mempengaruhi ga yah di kehidupan sebagai Seiyuu?

Kalau di soal seiyuu sendiri sih yah overall positif responnya. Karena juga itu bisa jadi nilai lebih dalam pekerjaan sebagai seiyuu. Namun kalau lagi di kehidupan sehari-hari, yah karena banyak yang kurang paham dengan Bahasa Inggris disana, kadang suka aku pakai buat keluar dari situasi yang kurang mengenakan. Kaya misalnya pas lagi jalan-jalan, kemudian aku bisa bilang sesuatu dalam Bahasa Inggris biar ga gitu dipahami.

Nah berikutnya kita pengen tau nih soal 22/7 hehe. Kan akhirnya nih, 22/7 dikabarkan akan segera memiliki anime. Boleh diceritain ga tanggapannya Sally soal ini? Sama kalau boleh sih dibocorin dikit hehe.

Sebenernya kita udah diinfoin kalau 22/7 akan segera memiliki anime pada September 2017. Jadi segrup sudah pada nungguin tuh. Tapi belum ada konfirmasi atau lanjutannya lagi. Namun, pas 2019 ini, akhirnya kita dapet informasi dan akhirnya kita makin antusias lagi sih. Gugup ada. Cuman aku sih bersemangat banget untuk lihat nanti hasilnya gimana dan penasaran sama tanggapan orang-orang nanti.

Kalau soal bocoran, Sssttt aku belum boleh bocorin apa-apa nih. Tapi bisa dibilang nanti ceritanya berdasarkan dari anggota-anggota 22/7 sebelum mereka memulai debutnya dan akhirnya berlanjut terus dari situ.

Oh yah, di 22/7 sendiri kan Sally disulap menjadi pengisi suara Sakura Fujima, apa kesannya Sally terhadap Sakura Fujima ini?

Wah, kata pertama yang muncul adalah “Love”. Jadi aku sudah langsung suka banget sama si Sakura Fujima. Karakternya tuh imut dan menggemaskan! Dia adalah gadis yang sangat baik dan selalu memikirkan teman-temannya. Sakura Fujima sendiri juga fasih berbahasa Inggris, dan berasal dari Los Angeles. Jadi cocok banget deh. Seperti ada chemistrynya gitu.

Nah Sakura Fujima ini sendiri kan bisa dibilang seperti Virtual Idol, apa pendapat Sally soal Booming Virtual Idol ini?

Kalau di Jepang sendiri, seperti 22/7, kita kan merupakan idol yang berbasis di Jepang. Nah sulit sekali untuk bisa berkomunikasi dan bertemu dengan fans dan orang-orang baru diluar sana. Tapi melalui Virtual Idol ini, kita dapat lebih luas lagi menjangkau dan berkomunikasi dengan siapapun di luar Jepang. Mereka tidak perlu jauh-jauh ke Jepang hanya untuk bertemu idol mereka.

Wah menarik yah. Waduh, sayang nih. Segini aja waktunya kali ini hehe. Mungkin lain kali bisa bicara lebih banyak lagi yah 🙂

Terimakasih juga Indonesia untuk sudah antusias saat aku datang kesini. Sampai jumpa di stage yah hehe 🙂

Nah kurang lebih itulah sesi ngobrol-ngobrol kita di Creators Super Fest 2019 ini Gwiples. Mungkin di lain waktu kita akan bisa lebih banyak ngobrol lagi yah dengan Sally Amaki siapa tau kita juga dibonusin lebih banyak info lagi soal Anime yang akan datang.

Continue Reading

Event

Tunjukan Sisi Kreatifmu di Creator Superfest 2019, Jakarta Akhir Pekan Ini!

Published

on

By

GwiGwi.com – Creator Super Fest 2019 akan diselenggarakan di akhir pekan ini dengan segudang Guest yang pastinya kece-kece dan akan memberikan pengalaman yang tak terlupakan untuk kamu yang punya sisi kreatif dalam dunia JPOP. Event ini akan diselenggarakan di SMESCO Convention Hall, Jakarta, mulai tanggal 26 – 27 Oktober 2019. Yuk bertemu dengan artist-artist kece berikut!

Illustrator 

Krenz, seorang guru dan master illustrator dari Taiwan akan datang menyambut kalian semua. Ia juga akan menunjukan keahliannya dalam menciptakan suatu karya loh! Selain itu ada juga 2 illustrator ternama asal Indonesia yaitu Soyatu, dan juga Tiyan Muhammad yang dimana keduanya sukses berkarya dengan konten mereka yang berbasis dengan konten pop culture asal Jepang.

Musical Performers

Butuh Anisong Party? Tenang disini juga ada! WILD PARTY akan datang bersama dengan SOBA, REDSHiFT, Lazurite, dan OTAGROOVE untuk memutar lagu-lagu anisong favorit kalian! Selain itu ada juga Rainych dan Nanairo Symphony yang akan membuat kalian mulai menari!

Virtual Youtubers

Tidak hanya para makhluk 3D saja, Virtual Youtubers ternama dari berbagai tempat pun ikut datang untuk meramaikan. NIJISANJI id’s Hana Macchia, ZEA Cornelia, dan Taka Radjiman, serta Maya Putri, KMNZ, dan Mintchan akan hadir di panggung untuk menyapa dan berbincang dengan kalian semua!

Cosplayers

Tentunya ga lengkap kalau tidak ada Guest Cosplayers. Lea & MikkiMing Tao, serta Rithe akan hadir di CSF Jakarta kali ini! Jangan lewatkan kesempatan untuk bertemu mereka di sesi Meet & Greet yang hanya akan ada di 26 dan 27 Oktober 2019 ini yah!

Baca Juga:  Selain Realme XT, Realme Buds Wireless Juga Akan Diluncurkan Dengan Model Stylish dan Disetel oleh Alan Walker

Segudang Kegiatan Lainnya

Selain para artist dan guest yang sudah diumumkan diatas, kalian juga akan disuguhkan kegiatan-kegiatan yang menarik seperti Art DuelCosplay Competition, serta Karaoke Competition yang bakalan bikin pengalaman kalian disini semakin warna warni. Selain itu ada juga booth-booth dari merk-merk ternama seperti Bandai NamcoPlaystation, dan juga Auto Chess yang akan menyediakan test-drive untuk game-game baru seperti Taiko no TatshujinCode Vein, dan juga yang paling menarik, Nioh2.

SPECIAL GUEST ALERT! SALLY AMAKI

Sebagai salah satu artist yang paling aktif mainan Twitter, “Sang Ratu Online” Sally Amaki, akan menemui kalian semua pertama kalinya di Indonesia! Yuk tunjukan rasa cinta kalian ke Idol dan Voice Actor 1 ini, hanya di kesempatan kali ini loh!

Gimana? Seru bukan? Makanya jangan sampai kelewatan yah Event ini yang diselenggarakan oleh SOZO , AFA Anime Festival Asia, dan dibawakan oleh CIMB Niaga Indie Account, yaitu Creators Super Fest 2019 yang berlangsung dari 26 hingga 27 Oktober 2019. See you there!

Continue Reading
Advertisement SEACA 2019
Advertisement SGCC 2019
Advertisement Klikspot Yuki Matsuri Ticket
Advertisement DICARI REPORTER
Advertisement

GwiGwi Space

GWIDEV

Trending