Connect with us

News

Review : Xiaomi Mi A1, Android One, Dual Camera, 3jt-an. Kurang Apa Lagi?

Published

on

GwiGwi.com – Setelah Samsung mengeluarkan penerus dan penghilang rasa sakit hati fans yaitu Galaxy Note 8 dengan fitur kamera dua lensa yang waw, dan juga Motorola dengan G5S Plus yang resmi masuk di Indonesia dengan fitur kamera dua lensa color+monochrome juga yang dijanjikan bisa menghasilkan kualitas yang oke, Xiaomi memboyong smartphone budget-nya yang juga mengsung Dual-Lens Camera yaitu Xiaomi Mi A1.

Advertisements

Xiaomi terkenal dengan budget smartphones-nya yang bisa dibilang gahar dibandingkan pesaingnya di kelas yang sama seperti Lenovo K-series, dan juga Samsung J Series. Tahun 2017 awal pun Xiaomi cukup handal dalam hal penjualan melalui Redmi Note 4 yang memang resmi masuk ke Indonesia melalui Erajaya dan juga Lazada Indonesia. Pada 5 September lalu, Xiaomi resmi meluncurkan Mi A1 sebagai petarung di kelas budget dengan fitur dua buah kamera, sebuah fitur yang mulai menjadi trending setelah iPhone memperkenalkan portrait mode yang membuat kamera smartphone bagaikan kamera DSLR dan akhirnya juga ditekankan oleh manufaktur lainnya yang juga memboyong 2 buah mata untuk smartphone mereka seperti LG G6One Plus 5, dan juga Samsung Galaxy Note 8. Xiaomi kemudian mengumumkan kehadiran Mi A1 di beberapa negara lain, seperti Malaysia, Singapura, dan tentunya Indonesia dimana launchingnya sendiri di tanah air adalah pada 22 September 2017, dan penjualan perdana pada 2 Oktober 2017 melalui Mi Store di Summarecon Serpong, dan juga Summarecon Bekasi.

Namun, tentunya dengan konsep budget tidak akan bisa membawa Mi A1 ke panggung yang sangat besar. Akan tetapi ada satu langkah menarik yang diambil oleh Xiaomi untuk Mi A1 ini. Mi A1 terlahir dari kerjasama Google, sebagai perusahaan pemilik Android OS dan juga Xiaomi. Ini membuat Mi A1 masuk dalam projek Android One yang sudah lama terpendam dan bisa dibilang “gagal” pada masanya. Inilah sepertinya yang dapat menjadi taring terkuat Mi A1 dibandingkan para kompetitor.

Silahkan simak artikel dibawah untuk Review lebih dalam mengenai Mi A1 dan juga kenapa Mi A1 bisa menjadi pilihan tepat untuk yang sedang ingin upgrade ke Budget Smartphone, atau ingin mencicipi teknologi yang tergolong cukup baru tapi tidak ingin merogoh kocek hingga belasan juta rupiah.

Spesifikasi Xiaomi Mi A1

Operating System Android 7.1.2 Nougat
Layar Display 5.5-inch IPS LCD 1920 x 1080 (403ppi)
Gorilla Glass, 2.5D curved glass
Prosesor Qualcomm Snapdragon 625
2.0GHz octa-core Cortex A53
14nm FinFET
GPU Adreno 506
RAM 4GB
Penyimpanan 64GB
Penyimpanan Eksternal Ya, sampai dengan 128GB
Baterai 3080mAh
Charger USB-Type C
Kamera Belakang Wide : 12MP wide-angle (OmniVision OV12A10) f/2.2, 1.25-micron pixels
Dual tone flash, PDAF
[email protected] : 12MP telephoto (OmniVision OV13880) f/2.6, 1.1-micron pixels
Kamera Depan 5MP
1080p video
Koneksi Wi-Fi 802.11 ac, Bluetooth 4.2
IR blaster, 3.5mm jack
GPS/AGPS, GLONASS, BeiDou
Audio 3.5mm colokan Headphone
Amplifier tersendiri
Fitur Keamanan Sensor sidik jari pada bagian belakang.
SIM Dual SIM slot (hybrid slot)
Dimensi 155.4 x 75.8 x 7.3mm
165g
Opsi Warna Black, Gold, Rose Gold

Xiaomi Mi A1 – Design | 8/10

Design dari Mi A1 tidak terlalu mencengangkan. Tidak ada fullview display ataupun infinity display yang sekarang mulai menjajal menjadi trend seperti yang dapat ditemukan pada smartphone kelas atas seperti Galaxy S8/S8+/Note 8iPhone X, dan juga LG G6. Namun demikian, design yang diusung Mi A1 tidaklah murahan. Badannya terbalut oleh desain yang premium dan juga full metal chasis yang berarti di keseluruhan tubuhnya kecuali layar depan, terbuat dari aluminium kualitas premium, mirip dengan yang dimiliki oleh iPhone.

Selain itu, antena yang dimiliki Mi A1 tertutup rapih, melengkung dibagian atas dan dibawah atau gampangnya disebut u-shaped jadi tidak kentara terlihat seperti yang ditemukan pada lini Redmi Note dari Xiaomi. Lengkungan yang dimiliki oleh Xiaomi juga nyaman dipegang, walaupun memang hingga saat ini, saya masih sangat merasa nyaman dengan bentuk dari Galaxy S8 yang melekung. Namun demikian, Mi A1 tetap terlihat tipis dan oke banget mengingat, kembali lagi, Mi A1 jatuh di segmentasi budget.

This slideshow requires JavaScript.

Ketipisan yang dimiliki Mi A1 tadi memang memiliki kekurangan. Walau nyaman dipegang dan beratnya yang cukup pas di 165 gram saja, kamera yang menjadi pionir dari Mi A1 ini terlihat timbul dan memberi rasa was-was apabila bagian belakang bersentuhan langsung dengan permukaan, tanpa adanya case yang memberikan perlindungan. Namun demikian, selain rasa was-was, tonjolan kameranya tidak membuat design Mi A1 menjadi jelek.

Perlu diketahui, bahwa sebenernya Mi A1 sudah dirilis sebelumnya di China dengan nama Mi 5X dan tetap mengusung OS Android hasil racikan Xiaomi, MIUI.

Xiaomi Mi A1 – Display | 7/10

Layar yang selalu menjadi jendela antara pengguna dan juga smartphone menjadi concern utama beberapa manufaktor smartphone. Layar Mi A1 cukup baik, tapi cukup sampai disitu saja. Hasil reproduksi layar Mi A1 dalam balutan Kaca 2.5D dan juga Corning Gorilla Glass 3 sebagai perlindungannya, dalam resolusi Full HD sebesar 5.5 inci mampu menghasilkan display yang cukup baik, namun tidak memukau seperti yang dimiliki oleh AMOLED Display.

Dibawah cahaya matahari, layarnya cukup terang untungnya, dan area penglihatan dari Mi A1 pun cukup oke jadi bisa dimaklumi kenapa layar yang dipakai tidak menggunakan panel yang memang top-end seperti AMOLED.

Xiaomi Mi A1 – Hardware | 7/10

Prosesor yang diusung oleh Mi A1 adalah Qualcomm Snapdragon 625. Xiaomi sepertinya sudah sangat nyaman dengan prosesor ini karena sejak Redmi Note 4, Xiaomi selalu mengusung prosesor ini untuk kelas bawah, sedangkan untuk Mi 6 memakai SD 835, sama seperti yang digunakan oleh flagship kebanyakan. Secara spesifikasi di kertas, 625 memang cukup fleksibel dikarenakan oleh teknologi yang diusungnya yaitu 14nm FinFET yang digadang oleh Qualcomm dan juga Xiaomi sebagai proses yang kuat, namun hemat energi, seperti mana yang merupakan impian Xiaomi untuk merilis smartphone seharga 3jt-an namun mampu melewati sehari-dua hari saat lupa di charge.

RAM yang diusungnya sebesar 4GB, dan juga ROM 64GB, tanpa ada konfigurasi lain seperti 6+128, ataupun 3/32. Ini membuat Mi A1 kurang lebih setara atau sedikit lebih baik dibandingkan Redmi Note 4 dengan konfigurasi 4+64. Apakah bisa dibilang cukup? Menurut saya cukup banget. Benchmark untuk smartphone beberapa tahun terakhir terpaku pada konfiguras 4GB untuk RAM dan 64GB atau 32GB untuk ROM, dan ini sudah cukup bertahan selama 2 tahun terakhir bahkan untuk smartphone kelas atas yang memiliki konfigurasi serupa seperti Galaxy Note 5, S8, dan juga G6. Apabila kapasitas penyimpanannya kurang, slot SIM Card yang kedua dapat digunakan juga sebagai slot microSD, namun dengan mengorbankan ketersediaan SIM ke-2.

Sensor-sensor yang dimilikinya bisa dibilang cukup standard. Wi-Fi 802.11 ac, Bluetooth 4.2, IR blaster, 3.5mm jack, GPS/AGPS, GLONASS, BeiDou telah disematkan dalam bodi ramping dari Mi A1. Namun sangat disayangkan, sesuatu NFC atau Near Field Communication tidak diikutsertakan kedalam Mi A1. Padahal, Indonesia sedang memasuki era cashless dan NFC sepertinya sangat bisa dipercaya untuk meng-handle perubahan yang sedang dialami di Indonesia.

Xiaomi juga menyematkan capacitive buttons untuk urusan navigasi Home, Recent Apps, dan juga Back. Ini merupakan ciri khas Xiaomi sejak dulu, dan sepertinya akan menetap. Menurut saya, inilah kekurangan dari Xiaomi. Capacitive Buttons dengan backlit seperti ini adalah tombol navigasi yang umum ditemukan di smartphone china, dan kebanyakan kurang menunjukan kesan premium. Seandainya Xiaomi menyematkan Home Button sebagai physical button ataupun menggunakan model navigasi yang dimiliki oleh iPhone 7 Plus yaitu Force Touch, ataupun embedded seperti yang dimiliki oleh S8 dan juga Note 8, atau opsi lainnya, On-Screen Navigation yang memang a la Google banget. Namun demikian, yang pasti navigation button ini berfungsi dengan cukup baik.

Untuk hal security, Xiaomi bergantung dengan One-Touch Fingerprint Sensor yang diletakan dibelakang ditengah atas yang menurut banyak orang “Inilah lokasi Fingerprint yang pas” *ehem Samsung*. Waktu membuka kunci menggunakan Fingerprint ini pun cukup cepat dan dari 15 kali mencoba dengan cepat, hanya 2 atau 3 kali sensor ini meleset dan tidak pernah gagal apabila menggunakan jari yang salah.

Baterai yang diusung Mi A1  adalah sebesar 3080mAh. Baterai ini 1020mAh lebih kecil dibandingkan saudaranya, Redmi Note 4 yang memiliki baterai 4100mAh. Namun demikian, karena menggunakan SD 625, saat digunakan sehari-hari untuk browsingmessaging ringan, dan juga menggunakan kameranya beserta koneksi hanya melalui WiFi, Mi A1 berhasil melewati hari hingga jam 10 malam, sejak menyala dari jam 8 pagi. Ini bukanlah hal yang buruk mengingat bahkan sekelas flagship Galaxy Note 5 pun hanya bertahan dari jam 7 pagi hingga 3 sore saat butuh mengisi baterai kembali. Namun sayang, fast charging tidak diikutsertakan, padahal mengingat penggunaan SD 625 sebagai SoC berarti Quick Charge dari Qualcomm sebenarnya bisa ikut menaikan daya guna Mi A1 dan mampu mengisi baterai dengan cepat bila dibutuhkan. Mungkin saja, saat ini masih dinonaktifkan oleh Xiaomi untuk suatu alasan. Selain itu, interface koneksi yang dipakainya menggunakan USB-C sehingga kedepannya akan lebih mudah untuk hal aksesoris mengingat sekarang banyak sekali elektronik yang sudah mengupdate menjadi USB-C.

Untuk soal body-nya, bisa dibilang cukup mirip dengan iPhone 7 atau 7 Plus, dan itu bukanlah hal yang buruk. Mi A1 nyaman digenggam, dan cukup ringan untuk dibawa-bawa. Namun, pastikan untuk menggunakan case agar tidak ada rasa takut-takut karena Aluminium milik Xiaomi terkenal cukup rentan.

Baca Juga:  Akun Tokopedia Kebobolan? Apa Yang Harus Dilakukan? Tips Mengamankan Akun Tokopedia Kalian!

Xiaomi Mi A1 – Software | 9/10

Created by Xiaomi, Powered by Google

Inilah yang menurut saya menjadi nilai jual terbesar dari Mi A1. Google Pixel 2 baru saja di announce belum lama ini, dan menyuguhkan pengalaman terbaik dari Google melalui stock android. Namun, Pixel 2 bisa diprediksi memiliki harga yang cukup tinggi. Disinilah Mi A1 bisa menunjukan taringnya. Mi A1 merupakan smartphone pertama dari Xiaomi yang tidak disematkan MIUI. Xiaomi bekerjasama dengan Google untuk menaruh Mi A1 kedalam projek Android One, yang dulu pernah diciptakan oleh Google dengan tujuan untuk memperkenalkan jutaan orang dengan Android sebagai smartphone mereka. Dengan demikian, Mi A1 memiliki pengalaman Vanilla Android yang hampir serupa dengan yang kita rasakan denga lini Nexus, ataupun Pixel. Simple-nya, kalian tidak akan menemukan bloatwarere-skin Android bagaikan iPhone KW, dan yang paling saya sukai adalah, janji Google dan Xiaomi untuk memberikan update lebih cepat dibandingkan vendor lain karena memang masih Pure Android tanpa ada campur tangan terlalu banyak dari manufaktor.

Xiaomi dan Google menjanjikan update Android 8.0 – Oreo sebelum tahun 2017 berakhir, dan juga Google sendiri menyatakan pada waktu launch di India September lalu, bahwa Mi A1 bakal jadi salah satu smartphone pertama yang akan mendapatkan update Android P bersamaan dengan Google Pixel.

Xiaomi Mi A1 – Camera | 7.5/10

Inilah juga yang diunggulkan oleh Xiami dan diagadang sebagai Flagship dual kamera. Kamera yang dimiliki Xiaomi memiliki setup Wide(Color) + Tele(Color) dan memiliki sensor 12MP untuk kedua kamera dan sensornya dibuat oleh OmniVision. Kameranya juga ditemani oleh dual-tone flash yang berfungsi untuk menghasilkan warna natural karena bukan hanya memiliki flash berwarna putih saja, tapi ada juga berwarna orange-kuning untuk menaturalisasikan warna yang dikeluarkan.

Setup inilah yang nantinya mampu membawa Mi A1 untuk memiliki kemampuan Portrait Mode dan menghasilkan foto ber-bokeh dan membuat kualitas fotonya seolah berasal dari kamera DSLR. Kedua kamera akan menangkap foto secara bersamaan, dan memprosesnya menjadi satu dimana subyek dari foto akan terlihat tajam, dan latar belakangnya menjadi blur. Ini memang bukan fitur baru di ranah smartphone. Beberapa smartphone sebelumnya sudah menjual fitur ini bersamaan dengan dual kameranya, namun kocek yang perlu dikeluarkan bisa dibilang cukup dalam dan Mi A1 mengatasinya dengan mengeluarkan smartphone dengan fitur yang sama di sekitar 1/3 atau 1/4 harga dari smartphone kelas atas itu.

Tapi, apakah hasilnya muantap? Fotonya … okedeh lumayan bagus. Dalam kondisi cahaya yang cukup baik, foto yang dihasilkan bisa sangat jerning, dan kadang mata saya sendiri tidak begitu percaya bahwa smartphone ini hanya 1/4 dari harga Galaxy Note 8 dan 1/5 dari iPhone 7 Plus. Gambar yang dihasilkan apabila dilihat dari layar Mi A1 cukup oke, dan saat dipindahkan atau diupload masih cukup joss. Memang bokeh yang dihasilkan tidak se-refine hasil dari iPhone 7 Plus, but it's okay.

This slideshow requires JavaScript.

Namun, kamera ini akan mulai kesulitan jika kita memasukin keadaan lowlight. Salah satu kekurangan yang saya selalu temui dari smartphone Xiaomi adalah kameranya akan cukup bergumul saat kekurangan cahaya. Flash yang dimilikinya memang sangat membantu, namun, portrait mode yang dijual oleh Xiaomi ternyata tidak bisa digunakan bersamaan dengan flash tersebut. Hasil foto akan terlihat sangat noisy dalam lowlight walaupun detail yang ditangkap masih cukup oke. Mungkin beberapa orang akan menyukai noise yang muncul sebagai filter artistik, namun, untuk fotografer, ini akan cukup mengganggu. Selain itu, kamera Mi A1 juga tidak memiliki OIS atau Optical Image Stabilization ataupun EIS atau Electronic Image Stabilization sehingga tidak jarang kita melihat foto yang sedikit blur karena pergerakan smartphone.

This slideshow requires JavaScript.

Selain dual kamera dan flashnya, Xiaomi juga menyematkan kamera depan yang … harusnya bisa lebih baik. Hasil foto kamera depan sangat biasa menuju kurang, dan fiturnya pun tidak begitu banyak. Namun demikian, memang Xiaomi tidak pernah mengusung AMAZING SELFIES tapi yang ditonjolkan adalah kamera belakang, dan juga smartphone yang cukup powerful dengan harga yang bersahabat untuk dompet.

Hasil HDR - Mi A1

Hasil HDR – Mi A1

Hal lain yang bisa ditemukan di Mi A1 adalah HDR. Hasil foto HDR-nya pun cukup oke, bisa memperlihatkan kontras yang cukup baik untuk foto lanskap, dan juga detail yang dikeluarkan cukup oke. Sayangnya HDR ini tidak langsung menyala pada saat membuka aplikasi kamera, jadi kalau kalian ingin menggunakannya, jangan lupa untuk menekan opsi HDR terlebih dahulu. Oh ya, selain itu HDR juga tidak bisa digunakan untuk portrait mode.

Overall, kameranya cukup oke, namun masih ada beberapa tweaks yang harus diimplementasikan oleh Xiaomi untuk membuat kamera ini menjadi lebih baik lagi. Mungkin ini bisa dilakukan melalui software update karena sepertinya bukan batasan dari hardware Mi A1.

Xiaomi Mi A1 – Kesimpulan

Mi A1 memiliki desain yang cukup baik, namun tidak waw seperti S8/S8+/Note 8 ataupun iPhone X. Penggunaannya sehari-hari cukup oke, dan dibawa sedikit berat, tenaganya bersama dengan Qualcomm Snapdragon 625 cukup mumpuni dibantu dengan RAM sebesar 4GB DDR3. Baterainya juga lumayan mampu untuk bertahan seharian walau hanya sebesar 3080mAh. Selain itu, USB-C membuat Mi A1 memiliki masa depan yang cukup baik mengingat sekarang banyak elektronik yang merubah interfacenya yang dari beragam  menjadi USB3.0-Type C yang multifungsi. Displaynya yang cukup oke mampu memperlihatkan multimedia dengan baik dalam resolui Full HD dan dibawah terik matahari, masih cukup terang dan dapat digunakan dengan baik. Fingerprintnya cukup akurat, dan sensor lain yang disematkanpun sudah cukup lengkap dan mumpuni. Kamera yang dijualnya pun bisa dibilang diatas rata-rata. Dengan kemampuannya untuk menghasilkan foto bokeh hasil produksi dari software dengan 2 kamera 12MP Wide(Color)+Tele(Color) membuat fitur portrait mode dari Mi A1 cukup joss.

Kelebihan lain dari Mi A1 adalah adanya campur tangan Google secara langsung dengan device ini. Mi 5X yang di rebrand menjadi Mi A1 memiliki kesempatan untuk bersaing dengan budget smartphone lainnya melalui kerjasama ini dimana hampir bisa dipastikan bahwa smartphone ini bakal dapat update paling tidak untuk 2 update kedepan yaitu Oreo dan Android P. Selain itu, karena softwarenya yang bersifat Pure Android membuat Mi A1 cukup responsif karena tidak adanya bloatware yang membuat smartphone ini terlalu sesak. Simple-nya, Mi A1 cocok untuk yang ingin merasakan smartphone dengan cita-cita Google, namun tidak perlu merogoh kocek yang terlalu dalam. Terlebih lagi, Google Photos memberikan unlimited storage sebagai penyimpanan cloud untuk foto-foto #bokehlicious dari Mi A1.

Namun demikian, Mi A1 bukan 100% Perfect. Tidak adanya NFC di jaman sekarang dimana Indonesia sedang berubah menjadi negara yang “butuh NFC” membuat future-proofing dari Mi A1 sedikit kurang. Selain itu, saingan dari Mi A1, Moto G5S Plus, memiliki NFC dan juga Water-Resistance yang membuat Mi A1 terkesan “kok masih gitu-gitu aja” karena 2 fitur tadi sudah menjadi kewajiban. Fast charging juga tidak diikutsertakan yang membuat effort untuk mengisi daya menjadi lebih besar dan menunggu cukup lama.

Selain itu, masih banyak adjustment yang harus dibuat untuk menyempurnakan hasil fotonya. Di kondisi lowlight, Xiaomi Mi A1 masih sangat struggling sehingga karya fotonya dimalam hari tidak begitu berkesan.

Xiaomi Mi A1 – Jadi, Apakah Layak Dibeli? | IYA PAKE BANGET!

Kalau Gwiples ingin upgrade smartphone kalian yang sudah jadul, mungkin sudah berusia lebih dari 3 tahun, tapi belum ada budget terlalu tinggi atau memang tidak ingin merogoh kocek sampe harus membuat bolong dompet dan juga tabungan di Bank, mungkin Mi A1 bisa menjadi pilihan yang sangat cocok. Desainnya yang cukup premium, nyaman dipegang, dan bisa bikin gaya kalian sedikit upgrade mungkin adalah salah satu pilihan yang tepat. Kameranya juga cukup oke, dan kalian bisa merasakan update instagram dengan foto-foto kece bokeh bagaikan menggunakan smartphone di harga 8jt-keatas. Dengan harga segini-pun kalian dapat merasakan Android sebagai mana mestinya, dan tidak perlu takut untuk tidak bisa update dan merasakan fitur Android terbaru, karena Mi A1 adalah device Android One.

Smartphone ini tentunya akan sedikit tidak cocok bagi kalian yang memang sudah pernah menggunakan kelas atas flagship seperti iPhone 7 Plus ataupun Galaxy S8. Tapi tentunya itu tidak membandingkan apple-to-apple sehingga sepertinya Mi A1 memang bukan ditargetkan untuk pengguna kelas atas seperti itu.

Sebagai alternatif, masih ada smartphone yang memiliki fitur serupa seperti Motorola G5S Plus, Lenovo K8, Galaxy J7+, dan lainnya. Namun demikian, tiap alternatif memiliki plus-minus tersendiri dan tidak ada yang perfect, tetapi Mi A1 adalah salah satu smartphone budget dengan fitur melimpah dan juga pengalaman Android yang lebih bersih.

Gimana kalau menurut kalian Gwiples? Apakah Mi A1 will be the one? Atau kalian masih mau menunggu apabila ada Android One lainnya yang akan meluncur?

Sekian review dari Mi A1 kali ini, sampai jumpa di review berikutnya!

fsp out!

  • 8/10
    Design - 8/10
  • 7/10
    Display - 7/10
  • 7/10
    Hardware - 7/10
  • 9/10
    Software - 9/10
  • 7.5/10
    Kamera - 7.5/10
7.7/10

Freelancer serabutan yang demenannya beragam sampai tidak jelas kemana. Saat ini sedang berkutat sebagai Web Developer sembari mengupdate informasi tentang Gadget Teranyar yang biasanya berada di segmentasi affordable hingga high end flagship. Selain itu juga jadi Youtuber untuk GwiGwi. Kontak: [email protected]

Japan

Jepang mensubsidi Traveling untuk mengembalikan Industri Pariwisata

Published

on

By

GwiGwi.com – Pemerintah Jepang ingin menghidupkan kembali industri pariwisata, pendorong utama ekonomi yang telah terpukul oleh pandemi coronavirus baru, dengan membayar orang-orang untuk pergi berlibur di negara itu.

Advertisements

Di bawah inisiatif Go To Travel, pemerintah akan memberikan subsidi senilai hingga 20.000 yen per hari untuk orang-orang yang melakukan perjalanan liburan.

Subsidi akan mencakup setengah biaya perjalanan, didistribusikan melalui kombinasi diskon dan voucher untuk digunakan di restoran dan toko terdekat.

Inisiatif ini diharapkan akan dimulai pada awal Juli, berlaku untuk pemesanan yang dilakukan melalui agen perjalanan Jepang atau langsung dengan hotel atau penginapan tradisional Jepang, meskipun biaya perjalanan ke Jepang tidak akan ditanggung di bagian mana pun.

Pemerintah ingin segera memulai ekonomi terbesar ketiga di dunia, yang sudah lesu setelah kenaikan pajak konsumsi tahun lalu sebelum coronavirus dan keadaan darurat menghentikan aktivitas bisnis.

Baca Juga:  Setelah Xiaomi Mi 10, POCOPHONE F2 atau REDMI K30 PRO Siap Nyusul? Xiaomi Indonesia Gercep!

Industri pariwisata adalah salah satu yang paling terpukul karena banyak orang Jepang berhenti pergi ke kantor, apalagi berlibur.

Harapan untuk masuknya pengunjung asing musim panas ini pupus ketika Olimpiade Tokyo ditunda dan Jepang memberlakukan larangan masuk di lebih dari 100 negara dan wilayah.

Menurut sebuah survei oleh Tokyo Shoko Research, 31 perusahaan dalam bisnis akomodasi menyatakan atau bersiap untuk mengajukan kebangkrutan pada bulan April karena pandemi tersebut.

Perdana Menteri Shinzo Abe pada hari Senin mengangkat keadaan darurat di Tokyo dan daerah sekitarnya serta Hokkaido, setelah melakukan itu untuk seluruh negara awal bulan ini, menandakan dimulainya kembali ke kehidupan normal.

Sekitar 1,35 triliun yen telah disiapkan untuk inisiatif Go To Travel, bagian dari paket darurat yang menurut Abe akan melebihi 200 triliun yen.

Continue Reading

Japan

Taman hiburan Jepang bersiap untuk dibuka kembali dengan aturan ‘Dilarang Berteriak!’

Published

on

By

GwiGwi.com – Jangan berteriak-teriak di rollercoaster, jaga jara di rumah berhantu ini dan menahan diri untuk tidak menyalami pahlawan super favorit Anda: selamat datang di taman hiburan Jepang di era coronavirus.

Advertisements

Ketika taman hiburan yang menyenangkan di Jepang dibuka kembali secara perlahan, sekelompok operator taman telah merilis pedoman bersama tentang cara beroperasi dengan aman di bawah ancaman virus.

Di antara rekomendasinya, pencari sensasi akan diminta untuk mengenakan masker setiap saat dan “menahan diri untuk tidak bersuara keras” di rollercoaster dan wahana lainnya.

‘Hantu' yang bersembunyi di rumah hantu harus menjaga jarak yang sehat dari ‘korban' mereka, pedoman menambahkan.

Staf taman, termasuk yang berpakaian seperti boneka binatang dan pahlawan super, tidak boleh berjabat tangan atau berpasangan dengan penggemar muda tetapi menjaga jarak yang sesuai.

Pahlawan super yang terlibat dalam perkelahian sampai mati dengan penjahat jahat juga harus menghindari pemberian dukungan dari penonton untuk mencegah teriakan – agar tetesan yang sarat dengan virus coronavirus – agar tidak terbang di udara.

Baca Juga:  Perusahaan Mainan Bandai Namco, SEEDS Membuat Pelindung Wajah Untuk Rumah Sakit Memerangi COVID-19

Daya tarik realitas virtual tidak boleh beroperasi kecuali kacamata atau kacamata khusus dapat sepenuhnya dibersihkan, pedoman menyarankan.

Dan mungkin untuk bantuan orang tua, penjual akan diminta untuk tidak mengeluarkan mainan atau sampel makanan bagi pengunjung muda untuk disentuh, bermain atau makan.

“Pedoman ini tidak akan membuat infeksi menjadi nol, tetapi akan mengurangi risiko infeksi,” operator mengakui, berjanji untuk terus mempelajari cara untuk menurunkan risiko penularan.

Taman hiburan paling terkenal di Jepang – Tokyo Disneyland dan Universal Studios Jepang di Osaka – tetap ditutup tanpa tanggal yang ditetapkan untuk dibuka kembali.

Tetapi Perdana Menteri Shinzo Abe pada hari Senin mengangkat keadaan darurat nasional setelah penurunan tajam dalam jumlah kasus virus corona di Jepang. Warga dan bisnis didesak untuk beradaptasi dengan “normal baru” di era coronavirus, termasuk memakai masker dan menjaga jarak sosial jika memungkinkan.

Continue Reading

Entertainment

Fuji TV mengakhiri reality show ‘Terrace House’ setelah kematian anggotanya

Published

on

By

GwiGwi.com – Fuji Television akan mengakhiri seri terbaru dalam reality show populernya “Terrace House,” kata penyiar Jepang itu, Rabu, empat hari setelah salah satu anggota pemerannya ditemukan tewas dalam dugaan bunuh diri yang diyakini memiliki hubungan dengan penindasan cyber yang dipicu oleh perilakunya dalam sebuah episode.

Advertisements

Hana Kimura, pegulat profesional wanita berusia 22 tahun, termasuk di antara enam anggota “Terrace House Tokyo 2019-2020.” Dia telah memposting foto dirinya di Instagram dengan tulisan “Maaf,” sesaat sebelum kematiannya dikonfirmasi di rumah sakit pada hari Sabtu.

Penyiar juga berhenti mendistribusikan seri pada FOD layanan distribusi video internetnya. “Kami menanggapi apa yang terjadi dengan sangat serius, dan akan mengatasinya dengan tulus,” kata perusahaan itu dalam rilis Rabu, menyatakan belasungkawa dan simpatinya kepada keluarga Kimura.

Wanita itu, yang bergabung dengan acara September lalu, menjadi sasaran pesan-pesan penuh kebencian di media sosial, terutama setelah sebuah episode yang dibagikan pada akhir Maret di mana dia marah pada seorang anggota pemeran pria yang secara tidak sengaja memangkas salah satu kostum gulatnya saat mencuci pakaian.

Pada hari Sabtu, hari kematiannya, penduduk asli Yokohama itu tweet, “Saya telah menerima hampir 100 pendapat jujur ​​setiap hari dan saya tidak dapat menyangkal bahwa saya terluka.”

Fuji TV sudah menghentikan pengambilan gambar pertunjukan sejalan dengan langkah-langkah nasional yang diambil selama pandemi coronavirus. Layanan streaming video AS Netflix, yang mendistribusikan reality show Jepang dengan terjemahan bahasa Inggris, mengatakan akan menahan diri dari streaming episode baru tetapi pemirsa masih dapat menonton episode “Terrace House” yang telah didistribusikan.

Baca Juga:  Paten baru Xiaomi menunjukkan ponsel lipat dengan bar kamera berputar

Soichiro Matsutani, seorang ahli dalam studi informasi sosial, mengatakan bahwa hampir tidak mengejutkan bahwa Fuji TV memutuskan untuk mengakhiri serial ini tetapi penyiar juga harus “memeriksa, dengan tanggung jawabnya sendiri, mengapa situasi seperti ini terjadi.”

Dosen di Universitas Musashi di Tokyo mengatakan para anggota pemeran di reality show adalah “para penghibur pemula yang memiliki toleransi rendah terhadap komentar fitnah yang dibuat tentang mereka di media sosial.”

Matsutani juga menunjukkan bahwa bunuh diri telah terjadi di antara para pemeran reality show di luar negeri, dan beberapa program menawarkan layanan konseling oleh para profesional kepada para pemeran.

“Penyiar harus memikirkan cara merawat” kesehatan mental para pemeran reality show, katanya, seraya menambahkan bahwa memiliki lembaga penyiaran atau manajemen, yang bertanggung jawab atas akun media sosial mereka adalah salah satu pilihan untuk mengambil .

“Terrace House Tokyo 2019-2020” adalah seri terbaru yang dimulai pada 2012. Serial saat ini, yang dimulai pada Mei tahun lalu, menampilkan tiga wanita dan tiga pria berbagi rumah di Tokyo. Para anggota pemeran “mencari cinta sambil hidup di bawah atap yang sama,” dan “tidak ada naskah” dalam pertunjukan itu, menurut Netflix.

Continue Reading
Advertisements

Trending