Connect with us

TV & Movies

Review Film The Passengers, Berdoalah Sebelum Perjalanan

Published

on

Review Film The Passengers, Berdoalah Sebelum Perjalanan

www.gwigwi.com – Sepasang kekasih muda, Maddie (Lou Llobell) dan Tyler (Jacob Scipio), yang memutuskan meninggalkan penatnya kehidupan New York City demi mengejar impian van-life yaitu menggunakan mobil van yang dimodifikasi, mereka berkeliling Amerika, tidur di area parkir, dan menikmati kebebasan tanpa batas.

Namun, romansa perjalanan ini mulai retak setelah memasuki minggu keenam akibat perbedaan visi hidup yang tak pernah mereka bicarakan.

Retakan itu berubah menjadi bencana total ketika di suatu malam yang pekat, mereka menyaksikan kecelakaan mobil yang brutal di jalan panjang yang sepi.

Review Film The Passengers, Berdoalah Sebelum Perjalanan

Review Film The Passengers, Berdoalah Sebelum Perjalanan

Niat baik untuk menolong justru berbuah petaka. Entitas jahat yang dikenal sebagai The Passenger (Joseph Lopez) ikut “menumpang” di kendaraan mereka.

Sejak malam itu, ke mana pun van melaju, entitas yang tak bisa dilawan oleh kecepatan mobil ini terus mengintai dan menuntut nyawa mereka.

Disutradarai oleh André Øvredal—sutradara yang terkenal lewat atmosfer mencekam dalam The Autopsy of Jane Doe dan Scary Stories to Tell in the Dark.

Film rilisan Paramount Pictures ini mencoba mengeksplorasi tren modern van-life yang berujung menjadi mimpi buruk di jalanan sunyi.

Review Film The Passengers, Berdoalah Sebelum Perjalanan

Review Film The Passengers, Berdoalah Sebelum Perjalanan

Bagi Anda yang menyukai subgenre highway horror klasik seperti The Hitcher atau Joy Ride, film berdurasi 94 menit ini menawarkan perjalanan yang penuh ketegangan, meskipun naskahnya terkadang terasa kehabisan bensin di tengah jalan.

Kekuatan utama Passenger berada di tangan André Øvredal dan sinematografer Federico Verardi. Alih-alih terjebak dalam visual digital yang gelap gulita dan buram seperti kebanyakan film horor modern, Verardi berhasil memanfaatkan pencahayaan lampu depan mobil, temaram lampu area parkir, dan bayangan malam untuk membangun atmosfer isolasi yang kuat.

Kita akan benar-benar merasakan betapa mengerikannya terjebak di tengah jalan antah-berantah.

Øvredal juga membuktikan kelasnya sebagai kreator horor lewat adegan yang dieksekusi dengan sangat masteris.

Salah satu yang paling membekas adalah adegan one-take ketika Maddie diintai oleh sang Passenger di area parkir supermarket yang terbengkalai.

Ketegangan dibangun lewat keheningan, suara angin malam, dan desain audio yang minimalis namun menghentak.

Akting dari Lou Llobell dan Jacob Scipio juga patut diacungi jempol. Mereka menampilkan dinamika hubungan yang natural dan membuat penonton peduli dengan keselamatan mereka.

Ditambah penampilan singkat dari aktris senior pemenang Oscar, Melissa Leo, film ini mendapatkan suntikan kredibilitas akting yang solid.

Sayangnya, perjalanan Passenger harus sedikit tersendat karena fondasi naskah yang ditulis oleh T.W. Burgess dan Zachary Donohue terasa kurang matang.

Review Film The Passengers, Berdoalah Sebelum Perjalanan

Review Film The Passengers, Berdoalah Sebelum Perjalanan

Film ini mencoba membangun mitologi seputar simbol-simbol jalanan kuno, cerita rakyat, hingga jimat Saint Christopher (santo pelindung para musafir).

Namun, aturan bagaimana teror hantu ini bekerja tidak pernah dijelaskan secara konsisten. Semakin film ini mencoba memberi penjelasan, logikanya justru terasa semakin rapuh.

Ketegangan intens yang dibangun di paruh pertama sayangnya harus berakhir pada konklusi di gurun Arizona yang terasa sedikit konyol dan terlalu dipaksakan.

Ada juga pesan moral terselubung yang terasa sangat konservatif seolah mengisyaratkan bahwa gaya hidup alternatif di jalanan adalah hal yang kurang sip dan kita hanya akan aman jika memilih hidup normal di rumah konvensional.

Secara keseluruhan, The Passenger adalah film horor kelas B yang diproduksi dengan estetika kelas A.

Meskipun ceritanya tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru dan eksekusi akhirnya agak goyah, film ini tetap berhasil memberikan hiburan horor yang efektif, penuh atmosfer, dan beberapa kali sukses membuat penonton melompat dari kursi bioskop.

Jika kalian mencari film yang bisa memacu detak jantung di akhir pekan tanpa perlu berpikir terlalu keras tentang plotnya, The Passenger adalah tumpangan yang sangat layak untuk dinikmati bersama teman-teman.

Skor Akhir 7/10

Advertisement

TV & Movies

Review Film HOPE, Big Trouble in Little Village

Published

on

By

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Bencana besar di desa kecil. Mungkin deskripsi yang pas untuk HOPE.

Teror monster yang biasa menimpa kota besar, melibatkan tentara dan ilmuwan, kini harus dihadapi Beom Se-Ok (Hwang Jung-Min) kepala polisi lokal, sepupunya Sung Ki (Zo In-sung), para pemburu, peternak babi, tukang jugal daging dan warga desa lain.

Dari eksekusi sinematografinya, kamera mengisolasi POV penonton pada perjalanan tiap karakternya secara eye level napak tanah untuk mengungkap misteri layaknya progress video game. Bahkan sampai protagonis dapat upgrade senjata, berganti senapan yang lebih kuat. Mengkuti jejak si monsters dari jalanan, toko-toko sampai ke gang-gang kecil.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Cara demikian melokalisir teror pada skala kecil yang justru membuat lebih ngeri dibanding film monster umumnya yang seakan ingin main skala besar secepatnya.

Audiens tak melihat sosok si monster tapi dari kehancuran, gelimpangan mayat dan bangkai berceceran yang diakibatka, gambaran mengerikannya sudah begitu kuat.

Begitu saat akhirnya si sumber horror diperlihatkan…hem. Mengingatkan pada CG game zaman PS3? Barangkali terkendala budget tapi mengingat monster ini ternyata mempunyai peran yang lebih penting lagi, agak membingungkan kenapa tampilannya tidak dicoba lebih meyakinkan lagi.

Beruntung aksi cepat dan brutalnya menghujam efektif sampai rasanya kekurangan itu cukup termaafkan.

Kelemahan umum film monster, manusianya, justru menyala di sini.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Sembari tensi terus terjaga, HOPE mampu mengenalkan para karakternya secara singkat baik dengan cerita konyol atau pun sekedar dari bagaimana mereka memburu si monster. Sampai rasanya audiens sudah klop bersama mereka padahal baru sebentar. Polisi wanita Hoyeon (Sung-Ae) tak diperkenalkan bertele-tele, dari cara dia bernafsu mengejar si monster langsung membuat dia memorable.

Aksi tegang dan kadang bisa-bisanya dibumbui komedi memang mewarnai klimaks, tapi juga berasa terlalu diperpanjang. Tambah lagi ternyata film diakhiri dengan cliffhanger yang membuka sisi lain dari para monster. Untung saja paruh awal dan tengahnya cukup kuat sehingga rasa nanggung tak sampai mengganggu.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

HOPE seakan apabila Godzilla plus ALIEN dialami desa kecil di provinsi anda dan cerdas sekali memanfaatkan keunikan itu baik secara sosiologi manusianya dan kulturnya. Mungkin penonton hanya banyak melihat Hope Harbor dalam keadaan hancur tapi bisa jadi warga dan daerahnya lebih membekas di benak penonton dibanding film monster lain. Dan demikian rasanya sungguh key selling point dari film yang barangkali kurang memenuhi ekspektasi fans sutradara Na Hong-Jin paska THE WAILING.

Apakah terus bisa dia kawinkan aspek itu dengan aliennya nanti untuk sekuel yang sudah ditease? We may hope so….

Continue Reading

TV & Movies

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Published

on

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

www.gwigwi.com – John Miller (Alan Ritchson), seorang veteran Perang Vietnam yang bekerja di pabrik perakitan mobil, dijebak atas kejahatan yang tidak ia lakukan oleh Reynolds (Ben Foster), seorang penguasa mafia lokal yang terobsesi pada kekasih John, Sophia (Shailene Woodley).

Divonis 25 tahun di penjara berkeamanan maksimum, John bertahan hidup hanya dengan satu tujuan: keluar dan menuntaskan dendam.

Ketika kesempatan itu tiba, John melancarkan perburuan berdarah menyusuri jalanan Detroit yang dingin dan korup, melintasi jajaran anak buah Reynolds yang dijaga oleh seorang polisi korup bertangan besi (Pablo Schreiber).

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Sutradara Potsy Ponciroli (Old Henry) kembali memamerkan keahliannya dalam mengolah cerita klasik menjadi sajian visual yang segar melalui Motor City.

Setting kota Detroit tahun 1970-an yang kelam, film action-thriller ini mengusung eksperimen berani. Menyajikan kisah balas dendam yang intens dengan dialog yang dipangkas hampir sepenuhnya, menyerahkan seluruh penyampaian emosi pada gestur, aksi, dan desain suara.

Estetika gritty era 70-an dengan warna-warna pudar dan pencahayaan bernuansa neo-noir. Tanpa kata-kata, deru mesin mobil muscle, dentuman senapan, dan koreografi pertarungan menjadi “dialog” utama.

Penggunaan mobil antik, outfit era 70-an, serta lagu-lagu rock klasik memperkuat suasana kota industri yang sedang runtuh.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Menurut gue ini adalah hal yang sangat berani. Serta membuang dialog eksposisi yang membuat penonton harus fokus pada aksi instinktif dan emosi karakter.

Dari jajaran cast, Alan Ritchson memanfaatkan postur fisiknya yang intimidatif secara maksimal. Tanpa bantuan dialog, ia mengandalkan tatapan mata, nafas yang berat, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan kepedihan, rasa kehilangan, serta kemarahan murni.

Begitu juga dengan Ben Foster yang tampil mengintimidasi lewat aura psikologis yang dingin, sementara Pablo Schreiber memberikan ancaman fisik yang seimbang dengan karakter Ritchson.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Buat gue film ini emang cocok-cocokan dengan penonton masa kini. Bagi yang terbiasa dengan dialog cepat atau pacing modern, beberapa transisi babak tengah mungkin terasa berjalan lambat.

Secara keseluruhan, Motor City merupakan penghormatan yang solid terhadap genre action-thriller klasik.

Film ini membuktikan bahwa Alan Ritchson as an actor tidak hanya mengandalkan fisik semata, melainkan juga kemampuan akting non-verbal yang kuat di bawah arahan sutradara yang tepat.

Continue Reading

TV & Movies

Review Film INSIDIOUS OUT OF THE FURTHER, Wahana Rumah Hantu ala The Further

Published

on

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

www.gwigwi.com – Gemma (Amelie Eve) memiliki masa kecil buruk dengan Ibunya (Laura Gordon) dan berniat menjadi Ibu lebih baik untuk anaknya, Maya (ISLAND Austin).

Sampai dia dihantui mimpi mengerikan yang bisa jadi lebih dari sekedar khayalannya dan berhubungan dengan masa lalunya.

Kembali lagi franchisee horror yang film pertamanya sukses meski low budget dan ternyata penonton masih mau kembali mengeksplorasi alam barzah khas INSIDIOUS yakni the further.

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Dengan film ke 6 filmmaker seolah bermain dengan konsep untuk mengeksploitasi the further. Setelah dapat, seakan barulah dibuat cerita seputar itu dan rasanya memang demikian.

Motivasi yang trigger emosi penonton seputar hubungan ibu anak dan mencoba memutus trauma generasional. Diselingi permainan ketegangan yang lumayan oke memakai syaitonirojim dan eksplorasi the further, di mana paruh ketiganya memang cukup seru dan tak terduga.

Semuanya fine saja dan mungkin itulah fault dari INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER ini; wahana seram-seraman yang terasa eksploitasi (dalam artian yang masih terbilang baik) franchise saja. Bila penonton senang, sampai INSIDIOUS 11 pun seakan dijabanin BLUMHOUSE PRODUCTION.

INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER seolah hasil dari pikiran; karena penonton masih mau, maka filmmaker akan coba segala hal untuk isi gas franchisenya. Apakah mereka akan menemukan alasan kuat lagi untuk penonton mau kembali menjelajah The Further? We'll see…

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending