Connect with us

TV & Movies

Review Film Live-Action Bleach, adaptasi yang sukses dari animenya

Published

on

GwiGwi.com – Bleach bisa dibilang masuk dalam kategori serial anime yang hampir tidak mungkin diadaptasi ke film live action karena memiliki beberapa aspek kesulitan: cerita yang bersetting diantara dunia nyata dan dimensi spiritual, adegan bertarung yang sangat intens, monster dengan bentuk aneh, pedang-pedang raksasa dll. Ada banyak kemungkinan kalau film adaptasinya berakhir dengan kegagalan tapi film adaptasi Bleach garapan Warner Bros, yang baru-baru ini juga tayang di Netflix, bisa dibilang sukses.

Anime bleach sendiri diadaptasi dari serial manga yang dibuat oleh Kubo Tite. Seperti Death Note, kesuksesan Bleach – yang berhasil menjual 120juta eksemplar 1 jilid buku di seluruh dunia dan menjadi salah satu anime yang paling banyak ditonton, juga berarti kekecewaan banyak fans seandainya film adaptasi live action tidak sesuai ekspektasi.

Penjelasan singkat dari premis dasar Bleach, terutama bagi mereka yang tidak familiar dengan serial ini, adalah hal yang membuat film adaptasi ini lebih sukses dari film-film adaptasi lain yang gagal dalam menciptakan setting yang mudah dimengerti. Ichigo Kurosaki yang diperankan oleh Sota Fukushi adalah sosok anak SMA pembamkang yang mendapatkan kekuatan untuk melawan monster yang memakan jiwa manusia yang bernama Hollows dan menuntun jiwa-jiwa orang mati yang tersesat ke alam setelah kematian bernama Soul Society (tapi ichigo lebih sering membasmi Hollow dengan teknik pedangnya yang melawan hukum gravitasi).

Ichigo menggantikan tugas Rukia Kuchiki (diperankan oleh Hana Sugisaki), seorang Soul Reaper yang memindahkan kemampuannya pada Ichigo saat dia terluka dalam pertarungan melawan Hollow yang cukup kuat. Terlepas dari sirkumstansi yang ada, berubungan dengan manusia yang masih hidup merupakan sesuatu yang berlawanan dengan kode etik Soul Society. Kemampuan baru Ichigo harus dibayar mahal oleh Rukia: karena kekuatannya yang semakin menipis, Rukia harus mengambil wujud seorang gadis remaja yang kemudian ikut bersekolah di sekolah yang sama dengan Ichigo demi mengawasi Ichigo dalam menjalankan tugasnya sebagai Soul Reaper dan melatih kemampuannya menggunakan energi spiritual supaya bisa mengambalikan kekuatan Rukia yang dipinjam Ichigo. Kesempatan Rukia kembali ke Soul Society hilang saat petinggi Soul Society mengirimkan pembunuh, yang mana salah satunya adalah kakaknya sendiri, untuk memaksa Rukia membunuh Ichigo atau membunuh mereka berdua.

Mereka yang familiar dengan alur cerita dari Bleach akan bisa mengenali kalo film adaptasi ini adalah versi ringkas dari musim pertama anime bleach, dengan beberapa perubahan pada urutan cerita terutama untuk menggantikan episode-episode yang menceritakan masing-masing karakter lebih dalam dan memberikan lebih banyak detil. Beberapa adegan pada sepertiga bagian awal film sama persis dengan episode-epsiode awal serial animenya. Bisa dibilang hal ini karena pemahaman sutradara Shinsuke Sato yang dalam mengenai manga dan anime bleach dan kemampuannya untuk mengetahui kapan harus “meninggalkan” material aslinya agar bisa membuat bleach menjadi sebuah film adaptasi dengan durasi 2 jam yang apik.

Baca Juga:  Film “The Brightest Roof in the Universe” Rilis Video Trailer Utama

Ada juga teman-teman sekelas ichigo antara lain Orihara Inoue yang cantik, Sado Chad yang tak banyak bicara dan Ishida Uryu, rival ichigo yang juga seorang Quincy dan mereka semua menambah warna cerita tapi tidak membuat alur cerita menjadi semakin rumit. Interaksi Ichigo dan keluarganya menjadi bagian komedi yang terbaik dan momen-moemn paling hangat dari film ini, memperkaya salah satu pondasi cerita dari Bleach yaitu misteri kematian dari Ibu ichigo ketika dia masih kecil.

Sato yang berkarir dengan membuat film adaptasi dari anime hamper saja menghilangkan tone khusus yang membuat Bleach terasa istimewa tapi tanpa merusak keseluruhan cerita. Orang-orang di dunia Bleach kebanyakan tidak bisa melihat apa saja yang ada dunia spiritual termasuk Soul Reapers yang bisa bebas bepergian di dunia manusia tanpa terlihat dan meskipun di film adaptasi ini tidak banyak ditampilkan, beberapa lelucon menggunakan perbedaan antara apa yang Ichigo dan mereka yang mampu melihat dunia spiritual dengan orang-orang yang tidak bisa melihatnya. Resiko terbesar dalam menampilkan gambaran monster hollows raksasa adalah kemampuan CGI dalam menghasilkan adegan bertarung yang super intens dan para kru film Bleach tak segan-segan membuat Ichigo terlempar keras menghantam aspal sejauh 5 meter dalam sebuah adegan yang apik.

Tentunya Bleach bukan tanpa cela. Tidak semua hal biasa diadaptasi dengan bagus dalam adegan live (pembunuh kedua, Renji terlihat sangat membosankan) atau cg (membawa jiwa-jiwa baik yang tersesat ke soul society juga terdengar membosankan) dan jeda untuk perkembangan masing-masing karakter dalam cerita juga membuat hubungan antar karakter terasa dangkal.

Rukia terutama, tidak mendapat tempat yang cukup untuk berkembang dalam cerita karena konflik internalnya terasa tidak diceritakan secara detail. Kurangnya eksposisi pada hubungan antara Ichigo dan Rukia ini sangat berbeda jauh dengan yang ada di manga dan anime. Pada saat adegan klimaks dimana Rukia harus membuat keputusan untuk menyelamatkan Ichigo terasa terburu-buru dan kurang berkesan.

Tapi dengan 16 musim anime dan manga yang sudah berjalan belasan tahun dan baru tamat pada 2016 lalu, tentunya ada lebih banyak konten yang bisa diambil. Ada spekulasi dan perbincangan perihal membuat film adaptasi ini menjadi sebuah trilogi.

Advertisements

Live Action

Netflix Bocorkan Beragam Pemeran Seri Live-Action One Piece

Published

on

GwiGwi.com – Pada hari ulang tahun Nami kemarin, showrunner untuk seri live-action Netflix One Piece, Steven Maeda, bertanya kepada penggemar siapa yang mereka inginkan untuk berperan sebagai Nami untuk serial ini.

Sementara saat ini tidak ada seorang pun dari para pemeran telah diumumkan untuk seri, akun Netflix untuk adaptasi, yang sedang diawasi oleh pencipta manga Eiichiro Oda sendiri, merespons untuk permintaan penggemar agar para pemain tetap beragam. Lihatlah apa yang mereka katakan di bawah.

Meskipun bendera ini mungkin tampak acak, pengguna Twitter @Coblin_Toota memperhatikan bahwa bendera emoji yang digunakan Netflix sesuai dengan etnis Oda sendiri dituangkan dalam seri manga untuk masing-masing karakter, jika mereka ada di Bumi ini. Meskipun harus dicatat bahwa sementara Ussop hanya dicatat sebagai berasal dari Afrika di manga, bendera yang digunakan oleh Netflix adalah bendera Kenya.

Sumber: Crunchyroll

Baca Juga:  Hinako Sakurai berperan dalam Serial Drama Live-Action TV Tokyo “Furo Girl”

Advertisements
Continue Reading

TV & Movies

Film Horor “Stigmatized Properties” Bagikan Video Cuplikan 1 Menit

Published

on

By

GwiGwi.com – Cuplikan ditambahkan untuk film horor “Stigmatized Propertiesi” dibintangi Kazuya Kamenashi, Nao, dan Koji Seto. Film didasarkan pada buku non-fiksi “Jiko Bukken Kaidan: Kowai Madori” oleh Tanishi Matsubara dan disutradarai oleh Hideo Nakata (Sadako).

Sementara itu, di atas adalah visual utama untuk film. Keterangan pada status visual “Seorang penghibur menginap di properti yang distigmatisasi. Kisah nyata.”

“Stigmatized Properties” akan dirilis 28 Agustus 2020 di Jepang.

Sinopsis oleh AsianWiki: Yamame Yamano (Kazuya Kamenashi) adalah seorang komedian yang tidak populer. Senior-nya memberi tahu dia bahwa “… itu akan disiarkan di TV, jika Anda tinggal di properti terstigma tempat pembunuhan terjadi.” Itulah bagaimana Yamame Yamano mulai tinggal di properti yang distigmatisasi. Dan pada sifat-sifat yang terstigma itu, ia mengalami berbagai fenomena yang tidak wajar.

AsianWiki

Advertisements
Continue Reading

TV & Movies

Film “The Brightest Roof in the Universe” Rilis Video Trailer Utama

Published

on

By

GwiGwi.com – Trailer utama ditambahkan untuk film “The Brightest Roof in the Universe” dibintangi Kaya Kiyohara dan Kaori Momoi. Film didasarkan pada novel 2003 “Uchu de Ichiban Akarui Yane” oleh Tomoso Nonaka dan diarahkan oleh Michihito Fujii.

Lagu tema untuk film ini juga terungkap di trailer utama, yaitu “Ima to Anokoro no Bokura” oleh penyanyi-penulis lagu Cocco.

“The Brightest Roof in the Universe” akan dirilis 4 September 2020 di Jepang.Sinopsis oleh AsianWiki: Tsubame (Kaya Kiyohara) adalah seorang gadis berusia 14 tahun. Dia naksir mahasiswa Toru (Kentaro Ito), yang tinggal di lingkungan yang sama. Tsubame tinggal di lingkungan yang hangat bersama ayahnya Toshio (Hidetaka Yoshioka) dan ibu tiri Asako (Maki Sakai), tetapi, suatu hari, ia mengetahui bahwa Asako sedang hamil. Dia merasa tersisih karena kehamilan ibu tirinya dan dia juga merasa frustrasi karena dia tidak dapat mengungkapkan cintanya kepada Toru. Atap kelas kaligrafinya adalah satu-satunya tempat di mana Tsubame dapat menemukan penghiburan. Di sana, dia merasakan angin dan menatap bintang-bintang.

Baca Juga:  Teaser Poster & Tanggal rilis untuk film Mana Ashida "Child of the Stars" Diumumkan

Suatu malam, Tsubame pergi ke atap seperti biasa. Dia menemukan skuter kickboard aneh dan seorang wanita tua misterius Hoshi-baa (Kaori Momoi) muncul di depannya.

AsianWiki

Advertisements
Continue Reading

Trending