Pemerintah Jepang akan tata ulang aturan industri film porno

GwiGwi.com – Industri film porno di Jepang telah menghadapi berbagai tantangan selama setahun terakhir ini. Laporan-laporan perihal wanita-wanita yang dipaksa tampil di film porno dan operasi yang mentargetkan konten tanpa sensor telah membuat banyak rumah produksi dan agensi talenta gulung tikar.

“Tujuan dari penegakan hukum adalah melarang adegan seks dalam produksi film porno” ujar seorang penyelidik pada tabloid Yukan Fuji 3 Oktober lalu – dan tujuan akhirnya adalah merubah total industri ini secara keseluruhan.

Penyelidikan dan penangkapan ini dimulai dari klaim-klaim para wanita yang dipaksa tampil di film porno. Tahun lalu polisi Tokyo menangkap mantan pemilik agensi talenta Marks Japan karena memaksa wanita-wanita tampil di film porno. Setelah penangkapan ini, 52 orang termasuk aktris film porno dituntut oleh jaksa dengan tuduhan melakukan hal asusila di tempat umum dalam pembuatan sebuah film porno yang berlokasi di perfektur Kanagawa.

“Perasaan tidak tenang”

Penegakan aturan ini tak hanya terbatas pada kru produksi film porno. November tahun lalu, 3 pemilik agensi talenta di Tokyo ditahan karena menyuruh aktris film porno bekerja sebagai PSK di soapland.

“Setiap hari ada perasaan tidak tenang.” Ujar salah seorang orang dalam di industry film porno pada Yukan Fuji.

Polisi juga menerapkan aturan dimana organ intim pria dan wanita harus disensor, sesuai dengan hukum yangg berlaku. Maret tahun ini, Michael Sapp, seorang pegawai bagian manajemen dari perusahaan Caribbean.com, dituntut oleh jaksa di pengadilan distrik Tokyo karena menjadi bagian dari kegiatan mengunggah konten tanpa sensor di situs Caribbean.com.

Baca Juga:  Riku Minato umumkan pensiun dari indutri AV Jepang

“Resiko ditangkap yang tinggi”

Agar tidak ditangkap, server dari Caribbean.com berada di luar Jepang. Dengan pelanggan sebanyak 300ribu, situs ini memiliki 4.300 film yang menampilkan 370 aktris film porno jepang.

Seorang perwakilan dari sebuah situs yang mirip dengan Caribbean.com mengatakan pada Yukan Fuji kalau penegakan aturan ini selalu menjadi perhatian. “Beberapa konten dibuat dan disunting di luar Jepang, tapi kebanyakan diproduksi di studio-studio di Tokyo,” ujar perwakilan tersebut.

“Terlebih lagi karena kami sendiri yang memproduksi dan melakukan pengiriman, resiko ditangkap sangatlah tinggi.”

Menurut tabloid tersebut, tujuan dari penegakan aturan ini adalah membuat konten dari industri film porno menjadi tidak terlalu ekstrim, dengan cara menghilangkan adegan seks dan mengarahkan konten-konten film porno ke arah soft-core.

“Kami ingin mengembalikan konten film porno ke era Nikkatsu dengan konten porno romantisnya atau ke era produksi pink eiga.” Ungkap penyelidik.

Terpaksa bersembunyi di “bawah tanah”

Selama proses penegakan aturan ini, polisi juga memperhatikan Olympic Games di Tokyo pada 2020 nanti. Tapi operasi ini juga membawa perhatian ke kemungkinan bahwa industri film porno bukannya menghilang tapi akan bersembunyi di “bawah tanah” – sebuah kemungkinan yang tidak dapat dipungkiri para penyelidik.

“Beberapa pelaku di dunia film porno, yang tidak bisa mendapatkan pemasukan, bergabung dengan klub kencan dan klub-klub dewasa untuk mempekerjakan aktris film porno dan menyediakan servis-servis ilegal termasuk salah satunya adalah prostitusi.” Ungkap penyelidik tadi.

  • 2136 Posts
  • 0 Comments
Chief dan editor, suka nonton anime mainstream yang ga ribet, mulai mendalami yang namanya cameco (cameramen cosplay)