Connect with us
Maaf Anda Melihat Iklan
Auto Draft

TV & Movies

Tiga Aktor ‘The Raid’ akan beraksi di Film Star Wars VII?

Published

on

GwiGwi.com – Tiga aktor The Raid yang terdiri dari Iko Uwais, Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman dikabarkan akan beraksi di film Star Wars: The Force Awakens. Mereka akan beradu akting dengan bintang-bintang Hollywood.
Seperti dilansir dari Deadline, Selasa, 6 Januari 2015, Iko, Yayan, dan Cecep Arif Rahman akan bergabung bersama bintang Star Wars lainnya seperti Harrison Ford, Lupita Nyong'O, Carrie Fisher, Mark Hamill, John Boyega, Adam Driver, Oscar Isaac, dan juga Daisy Ridley.
Kabar ini pertama kali diungkap oleh situsTwitch. Sayangnya, di situs tersebut tidak dibahas secara lengkap peran yang akan dimainkan oleh ketiga jago silat tersebut.
Disney juga menolak berkomentar soal isu kehadiran ketiga bintang The Raid di film besutan JJ Abrams tersebut.
Iko Uwais memikat publik lewat perannya dalam film The Raid. Aksi laganya di film garapan sutradara Gareth Evans itu menyita publik dunia. Sementara, Yayan dan Cecep baru tampil di The Raid 2.
Sayang, perwakilan Iko, Yayan, dan juga Cecep belum ada yang mau angkat bicara soal keterlibatan mereka dalam film Star Wars. Rencananya, film ini akan dirilis 18 Desember 2015 mendatang.
via  vivanews

 

Advertisement

Live Action

Film Live-Action OUT Rilis Trailer Utama dengan OST dari JO1

Published

on

By

Film Live Action Out Rilis Trailer Utama Dengan Ost Dari Jo1

www.gwigwi.com – Pada tanggal 15 September, situs resmi untuk versi film live-action mendatang dari manga OUT yang didakwa kriminal oleh Makoto Mizuta (seni) dan Tatsuya Iguchi (cerita) merilis trailer utama berdurasi 60 detik dengan penampilan lagu tema “HIDEOUT” oleh duo idola laki-laki Jepang JO1.

Lagu tersebut diperkenalkan di situs resmi grup sebagai berikut: “Lagu tema JO1 ‘HIDEOUT’ ditulis sebagai lagu ceria untuk memberikan vitalitas dan harapan hari esok kepada semua orang yang hidup saat ini. Lagu ini terinspirasi oleh dunia film.” Lagu bertempo cepat ini sangat ideal untuk mengakhiri kisah masa depan film, di mana tokoh protagonis mengatasi masalah remaja dengan membentuk hubungan dan persahabatan dengan kenalan baru.”

Tiga anggota grup, Sukai Kinjo, Shosei Ohira, dan Sho Yonashiro, juga ditampilkan dalam film sebagai pemeran.

Sejak serialisasinya pada tahun 2012 di Akita Shoten’s Young Champion, manga ini telah diterbitkan dalam 24 volume di Jepang. Lebih dari 6,5 juta eksemplar telah didistribusikan di seluruh dunia.

Novel Drop (2006), karya komedian Jepang Hiroshi Shinagawa, didasarkan pada pengalaman Tatsuya Iguchi, sosok dan karakter nyata dalam cerita. Alur Cerita: Setelah dibebaskan dari panti asuhan remaja, Iguchi berkenalan terutama dari geng motor “Kirihito,” dan dia segera menemukan dirinya dalam berbagai kesulitan di Nishi-Chiba.

Di pinggiran kota Tokyo, syuting dimulai pada Januari 2023 dan berakhir pada 23 Februari. 17 November 2023 adalah tanggal rilis yang dijadwalkan di Jepang untuk film yang dibintangi Tatsuya Iguchi. KADOKAWA menangani distribusi.

Continue Reading

TV & Movies

Review Film A HAUNTING IN VENICE, Horor misteri bergaya klasik ala Kenneth Branagh

Published

on

Review Film A Haunting In Venice, Horor Misteri Bergaya Klasik Ala Kenneth Branagh

www.gwigwi.com – Film ketiga detektif Hercule Poirot versi Kenneth Branagh. Dimulai dari MURDER on the ORIENT EXPRESS (2017) dan sekuelnya, DEATH ON THE NILE (2022) ternyata audiens menyukai drama misteri subgenre whodunnit ini di tengah gempuran film superhero dan aksi berlapis efek walau tak pernah mendapat resepsi secara kualiti yang memuaskan. Apakah A HAUNTING IN VENICE (2023), adaptasi dari cerita ‘HALLOWEEN PARTY’ karya Agatha Christie akan berhasil mendapat respon lebih baik?

Hercule Poirot (Kenneth Branagh) mengasingkan diri di Venisia, Italia. Ia menolak mengerjakan kasus dan hanya ingin menghabiskan hari sendirian dan makan roti dengan tenang. Sampai suatu ketika kenalan namanya, penulis Ariadne Oliver (Tina Fey) yang mengajaknya ke acara pemanggilan arwah putri Rowena Drake (Kelly Reilly). Saat salah satu korban meninggal, apakah ini perbuatan arwah yang memaksa Poirot untuk mengakui adanya hantu?

Tantangan mengadaptasi kisah klasik misteri ini dan 2 film sebelumnya adalah cara membawakannya. Baik film pertama dan kedua rasanya kurang memuaskan bahkan terlalu klasik sampai rasanya kurang terasa sentuhan stylenya yang mampu membuat ceritanya lebih spesial. A HAUNTING IN VENICE (2023) memiliki pembeda yakni nuansa horror. Nah, horronya ini yang tampaknya dimanfaatkan habis-habisan oleh sutradara Kenneth Branagh.

Filmnya berasa..haunting; Lighting remang di rumah tua menonjolkan umur bangunan dan sejarahnya; score yang terkesan menggumam tak beraturan bagai ada live musik yang menemani pertunjukan teater yang secara halus membuat suasana mencekam; komposisi shot dan editing yang mengingatkan pada film bisu hitam putih horor zaman jebot seperti NOSFERATU (1923) lalu digabungkan dengan shot handheld agak shaky dan frontal pakai rig bersentuhan modern, film ini sungguh berhasil membangun suasana klasik beraksen modern yang sangat unik dibanding misteri horor lain.

Rasanya ingin melihat Kenneth Branagh mengadaptasi kisah-kisah misteri Edgar Allan Poe atau film-film segenre yang memakai style yang sama.

Style penyutradaraan inilah barangkali satu-satunya pengangkat cerita whodunnit terlalu klasik ini. Fans misteri walau awam pada novelnya, mungkin sudah bisa menebak siapa pelakunya sebelum klimaks. Bisa jadi, inilah batas yang filmmaker adaptasi bisa lakukan; inovasi di penyajian namun tak bisa kisahnya. Semoga saja selepas film ini banyak film misteri dengan cerita yang lebih kreatif nan inovatif baik kasus dan bobotnya.

A HAUNTING IN VENICE (2023) boleh jadi adalah yang terbaik di antara gubahan Poirotnya Kenneth Branagh. Di satu sisi agak sedih bila style horornya ini mungkin tak akan digunakan lagi di filmnya yang lain tapi di sisi lain, penasaran style seperti apa yang akan dibawa beliau untuk mengadaptasi buku-buku yang lain. Semoga lebih inovatif, kreatif dan memorable lagi.

Continue Reading

TV & Movies

Review Film Retribution, tipikal film Liam Nesson tapi kali ini gak biasa

Published

on

Review Film Retribution, Tipikal Film Liam Nesson Tapi Kali Ini Gak Biasa

www.gwigwi.com – Matt Turner (Liam Nesson), seorang bankir Amerika yang bertugas di Berlin. Saat mengantar anaknya Zach (Jack Champion) dan Heather (Embeth Davidtz) ke sekolah, Matt ditelepon orang asing yang memberi tahu bahwa dia duduk di atas bom yang akan meledak jika ia berhenti, mencoba keluar, atau tidak mematuhi instruksi sang penelepon misterius.

Di sepanjang perjalanan, Matt bertanya-tanya siapa sosok yang mengancam dirinya itu? Apa yang dilakukannya sehingga membuat orang mau membunuh dirinya dan keluarganya?

Review Film Retribution, Tipikal Film Liam Nesson Tapi Kali Ini Gak Biasa

Review Film Retribution, Tipikal Film Liam Nesson Tapi Kali Ini Gak Biasa

Disini mulai terungkap satu per satu seiring cerita berjalan tentang latar belakang Matt. Masalah lain juga muncul ketika istrinya, Emily (Lilly Aspell) berupaya untuk menceraikannya karena sikap Matt yang terlalu workaholic.

Langsung ke filmnya, kayaknya ini tipikal film Liam Nesson seperti yang sudah-sudah. Semenjak Taken, Liam Neeson dikenal sebagai salah satu aktor laga kawakan yang biasanya memiliki karakter dan latar belakang yang hampir sama di film-film berikutnya. Tampak seperti pria biasa-biasa saja, karakter yang dibawakan lalu sekonyong-konyong menjema menjadi seseorang dengan kemampuan luar biasa.

Namun untuk film ini nggak, ia memiliki pekerjaan sebagai bankir yang bertugas untuk mengundang calon investor untuk berinvestasi yang terlihat hidupnya sempurna.

Review Film Retribution, Tipikal Film Liam Nesson Tapi Kali Ini Gak Biasa

Review Film Retribution, Tipikal Film Liam Nesson Tapi Kali Ini Gak Biasa

Perannya sebagai Matt Turner yang mahir merayu orang untuk berinvestasi, rupanya dirinya bukan sosok ayah yang baik untuk keluarganya.

Rasa bersalah ini pula yang berusaha ditunjukkan kepada penonton, sembari memperlihatkan sisi emosional sang karakter Matt. Ia juga dianggap sebagai dalang dari rangkaian bom mobil yang menewaskan beberapa rekan kerjanya, yang membuat dirinya menjadi buruan Europol yang dipimpin agen Angela (diperankan oleh Noma Dumezweni).

Film Retribution menjadi kolaborasi ketiga antara Neeson dan produser Andrew Rona dan Alex Heineman, setelah Non-Stop (2014) dan The Commuter (2018). Jaume Collet-Serra, yang menjadi sutradara dalam dua film tersebut, serta film yang juga dibintangi Nesson, Unknown (2011) dan Run All Night (2014) juga berada di kursi produser.

Tak heran apabila film ini memang seperti dibuat untuk Neeson dan menunjang sosok andalannya.

Review Film Retribution, Tipikal Film Liam Nesson Tapi Kali Ini Gak Biasa

Review Film Retribution, Tipikal Film Liam Nesson Tapi Kali Ini Gak Biasa

FYI, film ini adalah remake ketiga dari film Spanyol El desconocido (2015). Dua film sebelumnya ialah film Jerman, Steig. Nicht. Aus! (2018), dan film Korea Hard Hit (2021).

Buat gue apa yang membuat film ini menarik adalah perubahan karakter yang dibawakan oleh Liam Nesson. Dia tidak lagi memerankan pria tangguh yang memiliki masa lalu kekerasan, kali ini ia menjadi pria yang tak disukai keluarganya, dan kini berjuang untuk melindungi keluarga yang dia cintai.

Menurut gue Liam Nesson berhasil membawakan karakter ini dengan sangat meyakinkan, membuat kita merasakan ketegangan yang sama dan rasa takut yang dia alami.

Film yang digarap oleh Nimrod Antal Ini membuat film ini layaknya film aksi Hollywood.

Salah satu momen epik nya adalah ketika di dalam terowongan adalah salah satu momen paling mendebarkan dalam film ini. Bayangkan ketika ponselnya dalam kondisi “no signal” membuat komunikasi terputus sehingga bom di mobil tersebut bisa meledak kapan saja. Beuhh rasanya kayak udah diujung tanduk itu.

Retribution juga menyajikan twist yang membuat sosok antagonis penelepon misterius berbeda dengan film aslinya atau adaptasi sebelumnya.

Namun sangat disayangkan, plot yang sederhana dengan jumlah karakter terbatas membuat beberapa aspek cerita menjadi mudah ditebak. Endingnya pun juga yaudah beres begitu saja.

At the end, jujur buat gue ada kepuasan tersendiri melihat aksi Liam Nesson lewat film-filmnya. Namun kali ini gak biasa karena ada sesuatu yang segar dan sajian yang dimunculkan mengingatkan gue akan Speed yang rilis di tahun 1994.

Continue Reading

Trakteer

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending