Connect with us

Box Office

Review Film Scary Stories To Tell In The Dark, teror makhluk dari buku cerita horror yang menjadi nyata

Published

on

GwiGwi.com – Berlatar tahun 1968 di sebuah kota kecil Mill Valley di Amerika Serikat, terdapat sebuah urban legend tentang rumah keluarga Bellows yang angker dan misterius menjadi kisah yang ramai dibicarakan warga kota selama turun-temurun.

Maaf Anda Melihat Iklan

Kisah dendam hantu Sarah, anak perempuan keluarga Bellows yang semasa hidup tidak diakui dan diasingkan keluarganya hingga mati bunuh diri tersebut menarik minat para muda-mudi kota tersebut. Diantaranya perempuan yang bercita-cita jadi penulis, Stella dan kedua temannya Auggie dan Chucky.

Pada malam Halloween, setelah lelah lari dari kejaran tukang bully Tommy Milner, tiga sekawan tersebut mengajak pemuda pendatang baru misterius yang menolong mereka Ramon untuk berkunjung ke rumah Bellows.

Sialnya penelusuran mereka terganggu dengan kedatangan Tommy yang masih mengejar mereka. Mereka pun dikunci di Rumah tersebut oleh Tommy di dalam bekas kamar Sarah yang menyeramkan.

Walau sempat panik mereka akhirnya bisa keluar dari rumah dengan Stella yang membawa pulang sebuah buku dari rumah tersebut.

Buku yang berisikan cerita-cerita horor yang memang selama ini menjadi inspirasi Stella dalam menulis.

Sialnya, setelah membaca buku itu Stella menemukan kenyataan mengerikan dimana ia melihat buku tersebut menulis dengan sendirinya kejadian-kejadian horor yang terjadi di kehidupan nyata dan menimpa semua orang yang berkunjung ke rumah Bellows malam itu.

Kejadian-kejadian yang membuat Stella dan kawan-kawan diteror oleh para makhluk yang ada di dalam cerita yang tercantum di buku tersebut.

Akankah mereka selamat dari teror ini? Atau malah sebaliknya?

Film yang diangkat dari buku tiga seri kumpulan kisah horor yang diterbitkan dari tahun 1981 sampai 1991, film Scary Stories To Tell In The Dark ini dengan cerdik memasukkan elemen-elemen cerita horor di bukunya yang berformula omnibus di dalam sebuah plot besar rumah angker dengan legenda Sarah Bellows yang gemar bercerita kepada anak-anak untuk lalu membunuhnya.

Tercatat ada empat cerita dari buku yang dimasukkan yaitu , “Harold”, “The Red Spot”, “The Big Toe” dan “The Dream” serta satu cerita baru, “The Jangly Man”.

Dan dan Kevin Hageman yang juga menulis serial animasi Trollhunters buatan Guillermo del Toro menjadi penulis skenario film bersama del Toro setelah awalnya didasarkan dari cerita duet Patrick Melton dan Marcus Dunstan (Saw IV, V & VI).

Pemilihan Latar belakang tahun 1968, di masa pilpres di Amerika saat Richard Nixon berkuasa ditampilkan dengan sangat apik dalam film ini.

Sinematografi filmnya tanpa malu-malu mengambil lanskap gambar yang lebar.

Maaf Anda Melihat Iklan

Suasana kota kecil Mill Valley dengan kebun jagung yang luas tampak estetik dalam 111 menit durasi film.

Baca Juga:  Review Serial Monsterland, Antologi horror yang mencekam

Atmosfer horor juga mampu ditangkap oleh kamera arahan sinematografer andalan Andre Ovredal, Roman Osin (The Autopsy of Jane Doe). Osin bekerjasama dengan departemen artistik mengerti benar cara membangun atmosfer mengerikan dalam film ini.

Penata suara juga memainkan peran yang tidak kalah penting dalam mendukung jumpscare film yang tidak berlebihan dari sisi suara. Begitu pula gubahan musik Marco Beltrami (A Quiet Place) yang bekerjasama dengan composer muda, Anna Drubich yang terasa mencekam di beberapa bagian film ini.

Untuk segi make up dan efek spesial adalah juaranya dalam film ini. Kreativitas mereka dalam menciptakan makhluk-makhluk mengerikan patut diacungi jempol.

Sebuah kerja kolektif yang sangat baik dengan Andre Ovredal sebagai sutradara yang mengarahkan para kru untuk menghasilkan film horor yang menghibur sekaligus mencekam.

Dari segi akting para cast nya, pemain yang hampir seluruhnya tidak memiliki nama memang kurang sedikit menjual, tetapi kualitas akting bintang muda Zoe Margaret Colletti (Annie 2014, Wildlife) dan dua rekannya Gabriel Rush (Moonrise Kingdom, The Grand Budapest Hotel) dan Austin Zajur (Fist Fight) sangat baik menampilkan para remaja yang enerjik dan ekspresif kala mendapatkan teror.

Sedangkan Michael Garza (The Hunger Games: Mockingjay Part 1) sebagai Ramon menjadi yang terlemah karena sering salah menampilkan ekspresi di beberapa momen. Wajahnya terlalu sering terlihat tersenyum dan kurang menampilkan sisi misterius yang dimiliki oleh karakternya.

Minusnya film ini adalah dari segi naskah di awal film saat film berusaha memperkenalkan sejarah urban legend keluarga Bellows.

Penceritaannya terasa panjang dan berbelit-belit menyebabkan penonton harus berkonsentrasi lebih untuk memahami apa yang terjadi dengan Sarah Bellows dan mengapa ia memiliki buku yang menjadi sumber teror film ini.

Lima cerita yang ditampilkan film pun terasa dijelaskan dengan sangat singkat karena sepertinya asumsi para pembuat film adalah bahwa penonton telah memahami cerita-cerita tersebut sebelumnya.

Efeknya adalah potensi untuk mengurangi kengerian penonton yang tidak terbangun oleh masing-masing cerita misteri tersebut.

Well, secara keseluruhan film Scary Stories To Tell In The Dark Ini, memadukan genre horor dengan coming of age yang sukses membuat film IT versi remake menjadi film horor dengan rating dewasa tersukses di dunia, film Scary Stories To Tell In The Dark sangat berpotensi memberikan sensasi ngeri yang sama, bahkan lebih mengingat makhluk-makhluk dan hantu yang ditampilkan di film ini lebih beragam dengan cerita-cerita yang juga variatif.

Meski susunan plot ceritanya terasa terburu-buru dan tidak terbangun dengan sempurna namun film ini masih memberikan sebuah hiburan bagi penonton yang menggemari film horor dan kisah-kisah seram.

Maaf Anda Melihat Iklan
Advertisement
Click to comment
0 0 vote
Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Box Office

Review Film Netflix Malcolm and Marie, keluh kesah sepasang kekasih yang falling out of love

Published

on

GwiGwi.com – Sutradara bernama Malcolm Elliott (John David Washington) dikisahkan baru saja pulang dari gala premiere film yang ia tulis dan diarahkan bersama dengan kekasihnya, Marie Jones (Zendaya). Sesampainya di rumah, Marie Jones lantas memilih untuk memasak hidangan mac and cheese untuk dinikmati sang kekasih. Sembari menunggu hidangan masak, Malcolm Elliott dan Marie Jones mereka berkontemplasi mengenai industri perfilman, kondisi lingkungan sosial, serta, hubungan romansa mereka selama ini.

Disinilah momen-momen ajaib mulai terjadi….

Setelah sukses dengan kolaborasi mereka dalam serial televisi Euphoria yang berhasil meraih pujian luas dari banyak kritikus sekaligus memenangkan sejumlah penghargaan bergengsi di industri pertelevisian dunia, termasuk Outstanding Lead Actress in a Drama Series pada ajang The 72nd Primetime Emmy Awards, Zendaya bersama dengan sutradara sekaligus penulis naskah Sam Levinson kembali berkolaborasi dalam film Malcolm and Marie merupakan film perdana yang ditulis, didanai, dan diproduksi oleh Hollywood selama masa pandemi COVID-19, Kemudian film ini digadang-gadangkan sebagai film yang masuk beberapa nominasi di banyak ajang penghargaan tahun 2021 ini.

Sebagai sebuah film yang berfokus penuh pada naik turunnya interaksi yang terbentuk antara dua karakter yang mengisi keseluruhanlinimasa penceritaan, sang sutradara mampu menghadirkan Malcolm & Marie sebagai sebuah presentasi yang terasa begitu intim melalui kualitas tatanan produksinya.

Pilihan untuk menghadirkan film dalam balutan warna hitam dan putih melalui penataan sinematografi arahan Marcell Rev mendukung penuh atmosfer pengisahan tersebut, baik untuk memberikan fokus secara utuh pada dialog yang terjalin antara kedua karakter maupun untuk membentuk gambaran yang lebih personal akan kedua karakter. Banyak adegan dalam Malcolm & Marie diisi oleh lagu-lagu popular bernuansa jazz dan blues, mulai dari Down and Out in New York City milik James Brown, Get Rid of Him dari Dionne Warwick. Kebanyakan dari lagu-lagu tersebut mengumandangkan barisan lirik yang menggambarkan situasi dari banyak adegan dalam film ini. Namun, banyak momen terasa menjadi lebih kuat ketika Malcolm & Marie lebih memilih untuk membiarkan komposisi musik scoring buatan Labrinth yang lebih mengendalikan suasana.

Dari semi cerita, si sutradara sekaligus penulis naskah Sam Levinson menata “pertarungan” kata-kata yang terjadi antara karakter Malcolm Elliott dan Marie Jones layaknya sebuah pertandingan tinju dengan tiap karakter menghadirkan pukulan maupun tinjuan mereka melalui serangkaian teriakan demi teriakan. Cukup melelahkan. Mudah untuk merasakan bahwa Levinson membentuk dua karakter dalam jalan cerita Malcolm & Marie sebagai perwakilan akan berbagai pemikirannya sebagai seorang pembuat film, bagaimana reaksinya terhadap para kritikus film, hingga tanggapannya pada kritik film yang sering kali bernuansa politis ketika dihadapkan pada film-film yang dihasilkan oleh kelompok orang kulit berwarna meskipun hal ini jelas terasa janggal ketika mengingat bahwa Levinson adalah seorang pembuat film berkulit putih.

Maaf Anda Melihat Iklan

Lewat sambatan yang disampaikan olehkarakter Malcolm Elliott, Levinson ingin menyuarakan bahwa sinema bukan tentang menyampaikan sebuah pesan namun menyampaikan sentuhan emosi, bahwa sinema bukan tentang menggambarkan kenyataan namun menghasilkan kesan nyata akan sebuah situasi, serta bahwa tidak segala hal harus diberikan pemikiran yang jauh lebih mendalam. Berbagai pernyataan menohok yang jelas dapat memaksa setiap telinga yang mendengarnya untuk menjadi lebih awas terhadap isu yang disampaikan.

MALCOLM & MARIE (L-R): ZENDAYA as MARIE, JOHN DAVID WASHINGTON as MALCOLM. DOMINIC MILLER/NETFLIX © 2021

Namun, jelas cukup sulit untuk menanggapi berbagai pemikiran Levinson secara serius ketika ia menyalurkannya melalui teriakan demi teriakan yang datang dari seorang sosok sutradara yang menganggap dirinya adalah sosok yang begitu berbakat, mampu memuntahkan segala referensi tentang pembuat film ataupun film-film klasik, dan bukanlah seorang sosok karakter yang dapat dianggap menyenangkan secara keseluruhan.

Baca Juga:  Rilis Film Godzilla vs. Kong di AS Ditunda 5 Hari Menjadi 31 Maret

Pilihan dialog dan penyampaian dari Levinson lebih sering terasa pretensius dan datang dari kumpulan perasaan getir daripada tampil sebagai presentasi yang hangat dan tajam sehingga mampu mengena secara mendalam. Lewat penggambaran itersebut lantas menjebak penampilan Washington sehingga terasa begitu berlebihan dalam penampilannya. Kelemahan ini masih diperparah dengan plot cerita yang seolah-olah hadir sebagai repetisi tanpa pernah dapat berkembang secara lebih utuh.

Bagian terbaik dalam film Malcolm & Marie jelas berasal dari chemistry yang dibentuk antara Washington dengan Zendaya. Ketika Levinson membiarkan konflik romansa dalam alur pengisahan filmnya berjalan tanpa kehadiran kesan dan pesannya akan industri perfilman, Malcolm & Marie sebenarnya hadir dengan sentuhan emosional yang cukup menohok. Zendaya, khususnya, mampu menyajikan sosok Marie Jones sebagai karakter rapuh dengan masa lalu yang kelam dan akhirnya melakukan konfrontasi terhadap sang kekasih yang selama ini selalu menomorduakan keberadaannya. Mudah untuk berpihak kepada sosok Marie Jones ketika dihadapkan dengan karakter angkuh seperti Malcolm Elliott namun, lebih dari itu, penampilan Zendaya memberikan karakter yang ia perankan dengan beberapa lapisan emosional yang ditampilkan begitu efektif dalam menjadikannya sosok yang humanis.

Pada akhirnya, film ini berakhir sebagai sebuah sajian yang akan diingat sebagai ruang yang diberikan untuk penampilan akting megah kedua cast di film ini yang sangat disayangkan tereksekusi dangkal dan berakhir sangat melelahkan.

Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Box Office

Saksikan Aksi Kocak Baim Wong dalam Agen Dunia yang Tayang Eksklusif di Disney+ Hotstar

Published

on

GwiGwi.com – Di bulan penuh kasih sayang ini, Disney+ Hotstar mempersembahkan film drama romantis berbalut komedi karya Herwin Novianto, “Agen Dunia” yang tayang perdana secara eksklusif pada tanggal 5 Februari. “Agen Dunia” berkisah tentang perjuangan cinta dua sejoli Citra (Clara Bernadeth) dan Reza (Onadio Leonardo) yang dihadang masalah besar untuk menikah. Keduanya lalu meminta bantuan sang Agen Dunia yang lucu namun serba bisa, Jamal (Baim Wong).

Permasalahan kisah cinta Citra dan Reza yang pelik bermula saat keduanya memutuskan untuk melangkah ke jenjang hubungan yang lebih serius, yaitu pernikahan. Layaknya pasangan yang sedang mempersiapkan pernikahan, mereka mengadakan pertemuan untuk saling memperkenalkan kedua belah keluarga. Alih-alih mendapat restu, tak disangka kedua keluarga justru menentang keras hubungan Citra dan Reza. Sontak pasangan yang sedang dimabuk asmara ini jadi galau berat memikirkan cara untuk menyatukan keluarga mereka yang saling berseteru.

Maaf Anda Melihat Iklan

Di tengah tantangan yang mereka hadapi, Citra dan Reza kemudian menghubungi sang Agen Dunia, Jamal, yang dikenal dengan moto uniknya “menyelesaikan masalah tanpa masalah”, untuk meredam perseteruan antar keluarga ini. Setelah mencari tahu kesana-kemari, Jamal mendapatkan inti permasalahan yang mengancam mimpi pernikahan Citra dan Reza, yaitu perseteruan antara kerajaan Majapahit (Jawa) dan Pajajaran (Sunda) yang terjadi berabad-abad lalu. Dengan tingkahnya yang lucu dan unik, Jamal berusaha sebisa mungkin untuk membuat pernikahan Citra dan Reza dapat berjalan dengan lancar. Dan sekarang setelah pernikahan sudah dekat, adat apa yang akan digunakan saat resepsi? Sunda, atau Jawa?

Baca Juga:  Review Anime 'Kimetsu Gakuen: Valentine-hen,' Kisah Zenitsu Mencari Cinta Sejati

Saksikan trailer terbaru Agen Dunia

 

Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Box Office

Rilis Film Godzilla vs. Kong di AS Ditunda 5 Hari Menjadi 31 Maret

Published

on

GwiGwi.com – Variety melaporkan pada hari Selasa bahwa Warner Bros. telah menunda tanggal rilis domestik untuk film Godzilla vs. Kong dari Legendary Entertainment selama lima hari ,emjadio 31 Maret. Namun, film tersebut akan mempertahankan tanggal peluncuran 26 Maret secara internasional di wilayah di mana layanan streaming HBO Max tidak tersedia.

Maaf Anda Melihat Iklan

Warner Bros. dan Legendary mencapai kesepakatan awal bulan ini tentang cara merilis film tersebut. Warner Bros. telah mengumumkan pada awal Desember bahwa mereka bermaksud untuk merilis Godzilla vs. Kong dan 17 film lainnya pada tahun 2021 secara online melalui HBO Max dan di bioskop secara bersamaan. Seminggu kemudian, Deadline mengabarkan bahwa Legendary Entertainment telah mengirimkan surat resmi kepada Warner Bros. terkait rencana rilis tersebut. (Sumber berita hiburan The Hollywood Reporter melaporkan pada 26 November bahwa Netflix telah menawarkan untuk membeli hak streaming Godzilla vs. Kong seharga US $ 225 juta atau lebih.)

Baca Juga:  Review Anime 'Kimetsu Gakuen: Valentine-hen,' Kisah Zenitsu Mencari Cinta Sejati

Perusahaan menggambarkan cerita film tersebut:

Di saat monster berjalan di Bumi, perjuangan umat manusia untuk masa depannya menempatkan Godzilla dan Kong pada jalur tabrakan yang akan melihat dua kekuatan alam terkuat di planet ini bertabrakan dalam pertempuran spektakuler selama berabad-abad. Saat Monarch memulai misi berbahaya ke medan yang belum dipetakan dan menemukan petunjuk asal-usul Titans, konspirasi manusia mengancam untuk menghapus makhluk-makhluk itu, baik dan buruk, dari muka bumi selamanya.

Warner Bros. Pictures berencana untuk mendistribusikan film tersebut ke seluruh dunia di luar Jepang dalam 2D ​​dan 3D, serta di bioskop IMAX. Toho Co., LTD. akan mendistribusikan film tersebut di Jepang.

Sumber: ANN

Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading
Maaf Anda Melihat Iklan

CryptoTab Browser

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x