Connect with us

Box Office

Review Film Dora and The Lost City Of Gold, Si Remaja Petualang

Published

on

GwiGwi.com – Setelah lama bertualang di layar TV, Dora The Explorer akhirnya diangkat ke layar lebar dengan judul Dora and The Lost City Of Gold.

Film yang disutradarai oleh James Bobin (The Muppets & Muppets Most Wanted) menceritakan Dora (Isabela Moner) yang bercita-cita menjadi petualang untuk menemukan berbagai artefak dan peninggalan sejarah seperti kedua orang tuanya (diperankan Michael Pena dan Eva Longoria).

Mereka bertiga beserta monyet mereka, Boots tinggal di sebuah hutan di Amerika Selatan dan hidup tanpa banyak kontak dengan manusia lain.

Pada suatu saat, orang tua Dora ingin bertualang menemukan kota legendaris Inca, Parapata namun karena dirasakan bahwa Dora (yang sudah seharusnya masuk SMU) belum siap untuk bertualang, dipaksa untuk bersekolah di California dan tinggal bersama sepupunya, Diego (Jeff Wahlberg) sekaligus belajar bersosialisasi dengan anak-anak sebayanya.

Di sekolah, Dora berkenalan dengan Sammy (Madeleine Madden), yang kompetitif dan ambisius; serta Randy (Nicholas Coombe) yang menyukai astronomi. Dora yang eksentrik ternyata menjadi bahan cemoohan anak-anak di sekolah dan ini membuatnya sedih.

Baca Juga:  Review Film Ad Astra, Mengarungi Antariksa bersama Brad Pitt

Namun tak disangka-sangka pada saat sedang karyawisata, Dora beserta kawan-kawannya diculik sekelompok penjahat yang juga ingin menemukan kota Parapata. Dora dkk harus melepaskan diri dari kejaran para penjahat dan membantu orang tuanya untuk menemukan kota legendaris, Parapata.

Sebagai film keluarga, film ini dapat menghibur semua umur dan diisi oleh candaan-candaan yang lucu dan masih mempertahankan beberapa elemen dari serial TV-nya. Swiper dan Boots masih berbentuk kartun (untungnya tidak memaksakan memakai CGI yang photo realistic), serta Dora beberapa kali melontarkan pertanyaan kepada penonton seakan mencoba berinteraksi.

Penempatan puzzle-puzzle untuk membuka jalan menuju Parapata merupakan unsur yang juga menarik dari film ini. Film ini cocok bagi yang mau bernostalgia masa kecil saat menonton Dora di televisi ataupun mengajak anggota keluarga yang masih kecil untuk menikmatinya sebab plotnya simple untuk ditonton anak-anak kecil.

Box Office

Review Film Maleficent: Mistress of Evil, sekuel yang ditunggu namun seperti ada yang kurang

Published

on

GwiGwi.com – Raja kerajaan Ulstead, Raja John (Robert Lindsay) terkulai lantaran terkena kutukan. Anaknya, Pangeran Phillip (Harris Dickinson) meminta ibunya, Ratu Ingrith (Michelle Pfeiffer) untuk mencium ayahnya untuk mematahkan kutukannya. Kekuatan cinta sejati dan sebagainya. Ketika tidak bekerja, Ratu Ingris melihat anaknya dan calon menantunya, Ratu Kerajaan Moors, Si Putri Tidur, Aurora (Elle Fanning), dan berkata, “This is not a fairy tale” atau, “Ini bukan cerita dongeng.”

Melalui adegan ini, sutradara Joachim Rønning seolah ingin menegaskan kalau film teranyarnya, MALEFICENT: MISTRESS OF EVIL berbeda dengan adaptasi karakter animasi Disney lainnya. Pendekatannya dalam mengeksplorasi kelamnya akibat xenophobia dan perang tidak tanggung-tanggung. Bahkan saya yakin bisa cukup menakuti anak-anak.

Pendekatannya sebenarnya menarik dan cukup fresh di genre sejenisnya, sayangnya fokus cerita yang kurang jelas dan ending yang tone-nya terlalu berbeda dengan keseluruhan film mengurangi nilai film ini sampai pada poin layak dipertanyakan perlu tidaknya sekuel dari MALEFICENT (2014) ini.

MALEFICENT (Angelina Jolie) merasa sulit melepas Ratu Kerjaan Moors, Aurora, putri angkatnya untuk dinikahkan kepada Pangeran Phillip. Setelah diyakinkan beberapa kali, Maleficent akhirnya bersedia untuk menyebrang ke Kerajaan Ulstead, bertemu dengan keluarga Phillip, demi kebahagiaan anak angkatnya. Tak peduli dia disambut ketakutan dari penduduk di sana. Ketegangan muncul ketika Ratu Ingris tampak tak menyukai Maleficent dan makhluk-makhluk mistis di Kerajaan Moors. Puncak dari peristiwa itu pun memantik konflik yang juga melibatkan bangsa Maleficent yakni “Dark Faye” keluar dari persembunyiannya untuk melawan manusia.

Cara pembuat film meramu perseteruan antara “Dark Faye” dan Kerajaan Ulstead cukup mengasyikkan. Salah satu poin paling menarik dan sepertinya memang fokus filmnya adalah efek dari konflik tersebut pada kehidupan bangsa “Dark Faye”, Maleficent, dan Aurora. Eksplorasi penderitaan mereka dan intrik musuhnya untuk merubah situasi begitu memikat. Penonton sungguh bisa tenggelam pada konfliknya.

Baca Juga:  Review Film City Hunter : Shinjuku Private Eyes, Ryo Saeba is Back!

Saya suka bagaimana sifat emosional dan kejamnya Maleficent ditampilkan. Terdapat adegan di mana ia dimintai tolong tetapi dia tolak karena egonya. Sewaktu perang juga ia tak ragu untuk membunuh lawannya. Terlihat pembuat film mencoba sekali melepas sisi gelapnya sebisa mungkin.

Angelina Jolie mampu tampil menyeramkan, lucu dengan kikuknya dan tetap membuat penonton simpati. Mantap lah dia. Apalagi Michelle Pfeiffer, dan sebenarnya semua castnya juga. Elle Fanning sampai pemeran Borra, Ed Skrein, semua mendapat momen untuk berkilau. Mereka berhasil membawa realisme emosional di tengah balutan kostum dan spesial efek untuk menjual temanya yang cukup intens. Mereka lebih nyala dari CGI-nya! Yah mungkin kecuali Connal (Chiwetel Ejiofor) yang kesannya ada untuk sampaikan eksposisi dan nambah motivasi kaum “Dark Faye” buat perang saja.

Segala usaha untuk membuat MALEFICENT: MISTRESS OF EVIL layaknya film perang fantasi ternyata diakhiri menjadi film dongeng biasa. Endingnya terkesan memaksa merubah ke arah generik, aman nan nyaman itu. Begitu mudahnya menyampingkan kasualti dari pertempuran di klimaksnya sampai rasanya cukup mengherankan. Membuat poin dari temanya yang sudah diurus baik menjadi tak jelas. Sebegitu merusaknya ending film ini.

Hubungan Maleficent dan Aurora sebagai keluarga yang berbeda jenis ini menjadi pondasi kuat untuk awal ceritanya. Sayangnya begitu cerita bergulir, tampaknya pembuat film lebih tertarik untuk mengangkat konflik di sekitar mereka dibanding konflik antar dua karakter utamanya. Runyamnya hubungan mereka kurang tereksplorasi dengan baik dan diakhiri dengan biasa-biasa saja. Padahal harusnya penting lho.

MALEFICENT: MISTRESS OF EVIL terkesan mau memberi resep baru ternyata setelah dicoba tak jauh beda dengan resep lama. Tidak berarti waktu makan tak bisa dinikmati sih.

Continue Reading

Box Office

Review Film Hustlers, kisah para stripper yang ingin survive di tengah krisis ekonomi global

Published

on

GwiGwi.com – Dorothy (Constance Wu) yang punya nama panggung Destiny di club striptease Moves, bekerja sebagai stripper untuk menghidupi nenek nya. Namun karena ia masih terbilang baru di tempatnya dan potongan gaji yang cukup besar karena “jatah preman” nya banyak, Ia ingin melakukan kinerja yang lebih baik.

Kemudian ia bertemu dengan Ramona Vega (Jennifer Lopez) yang merupakan bintang di Moves dan ia mengajari Destiny untuk bagaimana menarik pelanggan dan mendapatkan uang tip yang banyak.

Destiny pun berhasil melakukan performa terbaiknya dan mendapatkan gaji yang cukup besar, beserta uang tip yang banyak berkat apa yang diajarkan oleh Ramona. Karena Moves merupakan tempat nya para pebisnis dan pemegang saham di Wall Street untuk melepas penat. Namun semua berubah ketika krisis ekonomi di Amerika Serikat melanda di tahun 2008.

Lantas bisnis di club striptease Moves pun juga kena imbasnya, pola bisnis nya pun berubah agar club striptease ini tidak bangkrut. Kemudian Ramona dan Destiny memiliki sebuah rencana agar tetap mendapatkan para pelanggan dan mereka masih bisa hidup senang di tengah krisis ekonomi yang melanda.

Film ini berdasarkan kejadian nyata dari artikel di New York’s Magazine “The Hustlers at Scores” yang ditulis oleh Jessica Pressler pada tahun 2015. Filmnya sendiri sukses mendapatkan review positif dari para kritikus ketika penayangan perdana di Toronto International Film Festival (TIFF) 2019.

Film yang dibintangi oleh Constance Wu, Jennifer Lopez, Julia Stiles, Cardi B, Lili Reinhart, Lizzo, dan Kiki Palmer ini bisa dibilang ini merupakan sebuah suguhan genre drama thriller yang menarik perhatian tahun ini. Karena mengangkat isu bisnis strip club untuk bisa survive ditengah krisis ekonomi yang melanda di tahun 2008 yang memberikan imbas di beberapa sektor.

Baca Juga:  Review Film Maleficent: Mistress of Evil, sekuel yang ditunggu namun seperti ada yang kurang

Constance Wu dan Jennifer Lopez mencuri perhatian lewat performa nya di film ini, namun sangat disayangkan beberapa cast lain hanya tampil sebagai pemanis saja di film ini.

Dari segi cerita, mereka tidak terlalu bertele-tele karena langsung to the point namun tetap berbobot dan berhasil menyampaikan pesan yang ingin disampaikan lewat film ini. Dengan alur maju mundur namun tidak membuat penonton bingung. Dengan menyajikan adegan si penulis artikel yang mewawancarai Destiny dan Ramona meyakinkan para penonton bahwa kejadian di film ini terlihat nyata.

Film ini dilarang tayang di negeri Jiran karena “excessive obscene content” menurut lembaga sensor di negara Malaysia Malaysian Film Censorship Board. Namun film ini tayang di Indonesia dengan sensor yang sangat hati-hati agar tidak merusak cerita di film ini. Total 6 menit adegan yang di cut. Sementara untuk naked scene nya sendiri hanya di blur saja dan memberikan rating film ini untuk 21 tahun keatas.

Menurut gue, Lembaga sensor film berhasil membuat sensor yang ideal buat film ini. Mereka tahu mana adegan yang semesti nya di potong dan mana yang tidak agar tidak merusak cerita lewat suatu film. Well, good job.

Secara keseluruhan, film Hustlers yang akhirnya tayang di Indonesia merupakan sajian menarik yang bisa menjadi pilihan untuk kalian yang ingin menonton film di bulan ini. Film dengan cerita menarik ditambah performa cast yang baik sangat sayang jika kalian lewatkan.

Continue Reading

Box Office

Review Film Gemini Man, Aksi Seru Melawan Diri Sendiri

Published

on

GwiGwi.comGemini Man merupakan film kolaborasi Jerry Bruckheimer dengan Ang Lee yang menceritakan agen top DIA (Defense Intelligence Agency), Henry (Will Smith) yang ingin pensiun karena sudah lelah dan mempertanyakan nuraninya atas banyaknya pembunuhan yang sudah ia lakukan demi kepentingan biro tempat ia bekerja. Atasannya, Janet (Linda Emond) dan bekas atasan Henry, Clay (Clive Owen) yang sekarang membentuk perusahaan pengamanan, Gemini ingin melenyapkan Henry yang dianggap terlalu tahu banyak tentang rahasia DIA. Beberapa kali DIA mengirimkan unit pembunuh namun semuanya berhasil dikalahkan oleh Henry yang dibantu Danny (Mary Elizabeth Winstead), agen DIA yang terjebak dalam usaha pembunuhan tersebut dan juga dibantu oleh Baron (Benedict Wong), mantan rekan Henry.

Clay akhirnya memutuskan mengirimkan pembunuh andalannya, Junior yang merupakan hasil klon Henry. Henry mencoba mengajak Junior kembali ke jalan yang benar karena ia tidak ingin Junior yang dianggap seperti keturunannya tidak terlibat dalam dunia pembunuhan. Dari sekilas sinopsis diatas seharusnya banyak orang sudah bisa menebak jalan ceritanya dan bagaimana akhirnya nanti. Selain plot yang mudah ditebak, film ini penuh dengan dialog yang kaku dan jokes yang garing. Selama menonton tidak bisa merasakan ikatan emosi antar karakternya bahkan antara Henry dengan Junior yang dua-duanya diperankan oleh Will Smith terasa awkward selama berinteraksi.

Baca Juga:  Review Film Maleficent: Mistress of Evil, sekuel yang ditunggu namun seperti ada yang kurang

Action scene nya juga terasa nanggung walau koreografi fighting-nya top; masih terkait dengan itu, adegan tembak-tembakan terasa seperti menonton simulasi game aksi macam Call of Duty atau Counter Strike namun kurang terasa intens. Yang menonjol dari film ini adalah kualitas gambarnya menggunakan teknologi 3D+ dengan 60fps yang menampilkan resolusi 4K; untuk itu shooting film ini dilakukan di Cartagena, Kolombia yang penuh bangunan-bangunan berwarna-warni serta di Budapest yang penuh bangunan elegan dan bersejarah.

Opini saya pribadi, dengan mengumumkan bahwa Will Smith berperan sebagai dua karakter (Henry dan klonnya) di film ini adalah sebuah kesalahan besar karena sudah ada di film the 6th Day (Arnold Schwazenegger) yang memiliki tema serupa dimana karakter asli dan klonnya bekerja sama mengalahkan pembuatnya yang tamak sehingga seperti yang sudah disebutkan di atas yaitu plot filmnya tertebak.

Continue Reading
Advertisement SEACA 2019
Advertisement SGCC 2019
Advertisement DICARI REPORTER
Advertisement

GwiGwi Space

GWIDEV

Trending