Connect with us

TV & Movies

Review Rurouni Kenshin: The Legend Ends (2014)

Published

on

Kalau kamu sudah menonton sekuel kedua Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno, diakhir cerita, Kenshin lompat ke laut untuk menyelamatkan Kaoru dari kapal milik Shishio. Di scene terakhir, Kenshin sudah terdampar di pantai, kemudian ada seseorang yang menemukannya dan menggendongnya pergi. Diawal film terakhir dari trilogi Kenshin Series, Rurouni Kenshin: The Legend Ends, diceritakan siapa itu orang yang membawa Kenshin, dia adalah seorang guru yang mengajari Kenshin hingga menjadi battousai.

Maaf Anda Melihat Iklan

Kenshin yang bangun dari pingsannya yang lama, kaget menemukan dirinya sudah tempat tinggal gurunya, Hiko Seijuro. Dipikiran Kenshin saat itu hanya ingin mempelajari jurus pamungkas untuk mengalahkan Shishio. Disisi lain, Kaoru yang dikhawatirkan oleh semua orang baik Kenshin sendiri, ternyata berada dirumah sakit. Balik lagi ke Kenshin, Kenshin dilatih dan dia pun pergi dari kediaman gurunya.

Film ini, diawal terasa lama dengan tempo yang sangat lambat, namun kebosanan kamu akan hal itu akan mulai hilang ketika memasuki scene Kenshin melawan Aoshi. Jika sekuel sebelumnya, kita melihat adegan pertempuran antara Kenshin dengan pasukan Shishio yang banyak, kali ini kamu akan disajika pertarungan satu lawan satu yang membuat mungkin kamu terperangah.

Jujur, terlalu banyak narasi dan percakapan yang diselingi keheningan yang gwimin bilang tidak perlu dilakukan. Memang masih ada beberapa flash back ke cerita sebelumnya untuk tidak banyak dan masih ketutup sama adegan perkelahian yang keren. Banyak juga perkelahian yang dilakukan dengan cepat, mungkin agar pertempuran utama Kenshin dengan Shishio bisa lebih fokus, contonya adalah pertempuran satu lawan satu Hajime Saito dari polisi dan Usui Uonuma dari Juppongatana, bisa dibilang hanya beberapa detik saja adegan ini. Tetapi ada juga adegan yang dilakukan dengan hanya sekali shot. Walaupun banyak adegan yang cepat, namun tidak meninggalkan detail keunikkan jurus masing-masing karakter seperti, Saito dalam jurus Gatotsu, Double kodachi dari Aoshi Shinomori, Shukuchi dari Sojiro Seta, dan Homura Dama oleh Shishio yang lengkap dengan api di pedangnya.

Kenshin Himura yang diperankan Takeru Satoh memang sangat pas memerankannya. Apalagi dalam jurus pamungkas yang diajarkan gurunya, Amakakeru Ryu no Hirameki. Jurus yang diajarkan ke Kenshin ini terkenal dengan kecepatan dan kekuatannya. Kalau di anime biasanya ada efek cahayanya, ya di filmnya mirip-mirip lah. Tidak hanya itu, Kenshin di film itu juga berhasil menampilkan jurus Kuzuryusen yang diajar oleh sang guru Hiko Seijuro.

Baca Juga:  Review Netflix Squid Game, Ketika Main Kelereng Jadi Menyeramkan Sekaligus Menegangkan

Sebagian dari penonton film khususnya para fans Kenshin pasti sebelum menonton film ini, pasti akan berpemikiran kalau Kenshin pasti akan bertemu dan bertempur, mengalahkan Shishio. Namun kalau kamu sudah menonton film ini, justri sang sutradara Keishi Otomo, member plot yang berbeda. Di sekuel kedua, Kenshin Himura dikirim oleh kepolisian untuk menyingkirkan Shishio, namun cerita di film cukup berbeda, namun tetap membuat film ini lebih seru bagi fans yang sudah mengetahui ceritanya dan untuk non fans yang baru saja menontonnya.

Dibalik semua keseriusan pertempuran diatas, Sanosuke Sagara yang diperankan oleh Munetaka Aoki, memberi bumbu humor yang membuat ketegangan nonton menjadi pecah. Dari kesan lugu ditambah akting bodohnya, cukup membuat kamu akan tertawa kecil. Dari mulai awal hingga pertarungan melawan Yukyukan Anji, walaupun sudah berdarah-darah masih saja Sano melawak.

Sayangnya, memang di film ketiga ini, tidak banyak penjelasan soal anggota Juppongatana, yang kalau dilihat difilm kedua dan ketiga sering bermunculan disisi Shishio, namun ketika pertempuran kemana mereka semua. Yang gwimin tahu ada 10 orang, 1 sudah mati di kyoto inferno, sisanya cuman diperlihatkan beberapa orang saja.

Kaoru Kamiya juga tidak banyak screen time, mungkin karena mau difokuskan ke adegan adu pedangnya saja. Kaoru cuman terlihat bangun dari pingsannya, kemudian bertemu Kenshin diakhir cerita, tidak banyak adegan romantis juga.

Overall, Rurouni Kenshin: The Legend Ends sangat layak ditonton bagi fans berat Kenshin di anime dan manganya. Tetapi untuk kamu yang belum paham sangat direkomendasikan menonton film ini, karena kenshin series mungkin film live-action terbaik yang pernah ada.

Maaf Anda Melihat Iklan
Advertisement
1 Comment
0 0 votes
Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

TV & Movies

Review Netflix Squid Game, Ketika Main Kelereng Jadi Menyeramkan Sekaligus Menegangkan

Published

on

By

GwiGwi.com – Squid Game, atau Ojingeo Geim, adalah serial aksi-petualangan-thriller Korea yang ditulis dan disutradarai oleh Dong-hyuk Hwang dan dibintangi oleh Lee Jung-jae, Park Hae-soo, Heo Sung-tae, Wi Ha-joon dan Jung Ho-yeon, bersama anggota pemeran lainnya. Serial ini memiliki 9 episode, masing-masing berdurasi sekitar satu jam tayang di Netflix mulai 17 September 2021.

Maaf Anda Melihat Iklan

Squid Game mengingatkan saya pada Alice in Borderland yang sama-sama memiliki genre battleroyale namun bukan saat kiamat. Meskipun demikian, serial ini menampilkan beberapa wajah yang sangat familiar termasuk Heo Sung-tae (Beyond Evil) dan Gong Yoo (Train to Busan).

Squid Game dimulai dengan menunjukkan kepada kita kehidupan Gi-hun. Dia bangkrut dan putus asa dan keputusasaan itu tumbuh ketika dia menyadari bahwa mantan istrinya dan suami barunya akan membawa putrinya ke AS tahun depan. Tanpa banyak pilihan, ia menawarkan diri untuk “bermain game” sebagai pengganti uang. Namun, apa yang terjadi selanjutnya tidak kalah mengerikan.

Sama bingungnya dengan penonton, kebingungan awal Gi-hun karena dilemparkan ke dunia yang aneh bersama hampir 500 orang lainnya dengan dihadapkan dengan pria bertopeng mengenakan jump suit pink. Bagi kalian yang terbiasa menonton variety show outdoor korea seperti, Running Man, Family Outing, Infinity Challenges, 1 Night 2 Days, kalian akan langsung memahami permainan level pertama game ini, Mugunghwa kkoci pieot seumnida (lit. The Hibiscus Flowers Bloomed) dibelahan dunia lain disebut Red Light, Green Light, (apa permainan ini ada di Indonesia?), permainan anak-anak tahun 90-an ini terlihat simple namun dibuat begitu menegangkan, sama halnya dengan voting sederhana yang dilakukan di akhir episode pertama.

Baca Juga:  Review Netflix Squid Game, Ketika Main Kelereng Jadi Menyeramkan Sekaligus Menegangkan

Namun, apa yang mencolok di Squid Game bukan hanya game yang mengerikan, tetapi juga momen emosional yang mendalam dari seri ini. Ini bukan hanya tentang pembunuhan tanpa berpikir. Ada saat-saat yang begitu menyayat hati. Selain latar berlakang Gi-hun yang memilukan, semua orang yang dipaksa untuk berpartisipasi dalam memiliki latar belakang yang menyedihkan, membuat mereka rentan untuk dimangsa.

Namun, bagian lain yang menarik dari Squid Game adalah motivasi orang-orang untuk melakukan apa yang mereka lakukan. Meskipun ada yang benar-benar jahat, hampir semua memiliki alasan untuk melepaskan rasa moralitas mereka. Setiap orang yang putus asa, kekurangan uang, dan hubungan mereka yang rumit dengan orang-orang di sekitar mereka dan diri mereka sendiri akan membuat penonton sangat peduli satu sama lain kepada para kontestan, setidaknya untuk tim Gi-hun.

Hal luar biasa lainnya dari Squid Game, ialah set yang benar-benar menakjubkan, begitu indah dan sebagian besar adalah tempat-tempat luas, berwarna cerah yang biasa ditemui di tempat bermain anak-anak, yang tak terpikir sama sekali kalau bakal ada pembantaian besar-besaran.

Kesimpulannya Squid Game merupakan serial yang mungkin sudah atau belum kalian lihat sebelumnya, walaupun begitu kalian wajib menonton serial satu ini.

Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

NSFW

Eimi Fukuda Bagikan Tips Seks untuk Taklukkan Wanita

Published

on

By

GwiGwi.com – Sebagai salah satu bintang video dewasa paling populer di Jepang dan pencipta seluruh lini mainan dewasa, Eimi Fukada adalah seorang wanita yang tahu tentang seks. Dan dia juga berjiwa dermawan yang ingin berbagi wawasannya dengan masyarakat umum.

Maaf Anda Melihat Iklan

Dia juga salah satu bintang JAV paling aktif di YouTube dan baru-baru ini merilis video baru berjudul (kira-kira) “Intercourse untuk Membuat Pasangan kalian Terpikat pada kalian.”

Ya, dalam video berdurasi delapan menit, Eimi yang berpakaian lebih seperti wanita kantoran yang sering kalian lihat di kawasan SCBD daripada bintang porno, memberi penjelasan tentang cara membuat pasangan wanita benar-benar menikmati seks yang dia lakukan dengan kalian. Walaupun hanya dalam bahasa Jepang berikut ini ringkasan dasar dari poin-poinnya di bawah ini.

Beberapa di antaranya agak jelas, bahkan dangkal, seperti membalas pesan seorang wanita secara teratur di LINE untuk membuatnya tetap tertarik dan menunjukkan bahwa tujuan kalian di kencan mendatang bukan hanya seks.

Yang lain lebih sulit dilakukan: jangan tunjukkan pada wanita bahwa kalian ingin berhubungan seks. Buat seolah-olah kalian tidak hanya tertarik hanya pada fisiknya dengan pergi berkencan walaupun akhirnya tidak jadi berhubungan. Jika kalian membuat sedikit kejutan, atau mungkin kecewa, bahwa kalian tidak berhubungan seks, kamu sudah melakukan hal baik — setidaknya, menurut Eimi Fukada.

Baca Juga:  Review Netflix Squid Game, Ketika Main Kelereng Jadi Menyeramkan Sekaligus Menegangkan

Rupanya, seorang wanita tidak mengharapkan seorang pria untuk memiliki teknik fingering yang luar biasa seperti menunjukkan bahwa dia peduli padanya untuk mencapai orgasme. Eimi menyarankan kalian membeli berbagai mainan untuk wanita seperti vibrator dan mencoba menggunakannya. Selain efek fisik, mengeluarkan mainan seperti itu segera menunjukkan pasangan wanita kalian bahwa kalian tertarik untuk mengeksplorasi kesenangannya.

Poin berikutnya adalah bahwa mengubah segalanya sangat penting: keragaman adalah bumbu kehidupan, seperti yang mereka katakan. Eimi bilang jangan hanya mengandalkan misionaris dan doggy. Sebaliknya, cobalah melakukannya di depan cermin atau tiba-tiba memulai seks di kamar mandi. Yang penting adalah mengejutkannya!

Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Live Action

Drama Live-Action ‘Tokyo Vice’ Mengungkap Anggota Pemeran Utama

Published

on

GwiGwi.com – Staf untuk adaptasi live-action dari buku Tokyo Vice karya reporter Amerika Jake Adelstein mengungkapkan anggota pemeran baru untuk seri tersebut pada hari Rabu.

Ansel Elgort (kiri atas pada gambar di atas) berperan sebagai protagonis dan reporter Jake. Ken Watanabe (baris tengah atas) berperan sebagai polisi berpengalaman Katagiri. Rinko Kikuchi (kanan atas) memerankan reporter senior Jake, Eimi Maruyama. Hideaki Ito (kiri bawah) berperan sebagai polisi korup Miyamoto. Perlihatkan Kasamatsu (baris tengah bawah) memainkan Chihara-kai yakuza anggota kelompok Satō. Tomohisa Yamashita (kanan bawah) berperan sebagai pembawa acara karismatik Akira.

Maaf Anda Melihat Iklan

Anggota pemeran lainnya termasuk Rachel Keller, Ella Rumpf, Shun Sugata, Ayumi Tanida, Masato Hagiwara, Kōsuke Toyohara, Ayumi It, Makiko Watanabe, Yuka Itaya, dan Miyuki Matsuda.

Baca Juga:  Kikai Sentai Zenkaiger Menggantikan Tatsuhisa Suzuki Menyuarakan Gege

Proyek ini awalnya direncanakan sebagai sebuah film, dengan Daniel Radcliffe (film Harry Potter) awalnya dibintangi sebagai Adelstein. Proyek ini sekarang menjadi serial televisi 10 episode, dengan sutradara Michael Mann. J.T. Rogers dikreditkan sebagai pencipta dan penulis. Serial ini akan debut di HBO Max, dan juga direncanakan tayang perdana di Jepang di WOWOW pada musim semi 2022. WOWOW adalah co-producer serial ini.

Adelstein menulis tentang kejahatan dan yakuza untuk surat kabar Yomiuri Shimbun. Adelstein menjadi terjerat dengan yakuza karena pekerjaannya dan khususnya dengan bos yakuza Tadamasa Goto, dan menulis tentang pengalamannya di Tokyo Vice.

Sumber: ANN

Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Trakteer

CryptoTab Browser

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending

1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x