Connect with us

TV & Movies

First Impression – Sakura ~ Jiken wo Kiku Onna

Published

on

Ciri khasnya di pagi hari adalah ucapan ‘Good morning, Komagome’. Setelahnya ia akan berlarian sambil bergumam ‘tardy—terlambat’ menuju pos-nya yang berikutnya.

Yep, ini drama baru di musim dingin a.k winter kali ini. Bagi penggemar serial terkenal Gokusen pasti tidak asing donk dengan si guru wanita ahli bela diri ini. Bener banget, Nakama Yukie kembali di drama barunya berjudul Sakura ~ Jiken wo Kiku Onna. Ini adalah drama detektifnya yang terbaru setelah yang terakhir pada 2009 yang lalu.

Nakama Yukie-sensei berperan sebagai Mizusawa Sakura. Di pagi hari, dia bekerja sebagai penyiar radio di sebuah radio kecil, Komagome FM dengan nama udara Kokoro-san. Tidak ada yang tahu mengenai identitasnya yang sebenarnya kecuali orang-orang terdekatnya. Nyaris seluruh kota menunggu suaranya di pagi hari. Warna keberuntungan yang diucapkannya menjadi warna keberuntungan seluruh kota. Dan … jenis sarapan yang disarankannya pun menjadi sarapan wajib nyaris seluruh kota. Jelas, Sakura menjadi favorit orang-orang. Suaranya yang khas selalu ditunggu di pagi hari. Selain suara yang selalu ditunggu, Sakura juga selalu membacakan cerita yang masuk ke radionya. Hmmm … tidak heran sih, banyak yang naksir dengan suara seksinya.

Selesai siaran, Sakura langsung bergegas. Tapi sebelumnya ia akan berganti kostum yang sangat bertolak belakang dengan kesehariannya. Ia akan berlarian menuju pos-nya yang berikutnya di kantor pusat kepolisian Komagome. Ngapaian Sakura disini? Ternyata di bertugas di bagian layanan pengaduan masyarakat, penerima complain-lah maksudnya. Jadi, sepanjang hari dia harus mendengarkan complain atau laporan dari masyarakat yang datang. Beragam masalah pun menjadi makanan sehari-harinya. Dari yang simple hingga yang rumit. Dan di sore hari, setelah pulang dari kantor, ia menjadi pendengar yang baik di kedai milik neneknya.

Baca Juga:  Shiraishi Mai akan Bermain dalam Film Stolen Identity 2

Siapa sih sebenarnya Sakura?

Film bergenre detektif ini mulai tayang pada Senin, 20 Oktober 2014 pukul 20.00 malam di TBS. Berada di zona prime time tidak mengherankan sih, jika ratingnya pun lumayan. Apalagi pemeran utamanya adalah Nakama Yukie-sensei yang cantik ini. Ceritanya sendiri ditulis dengan apik oleh Matsumoto Miyako (Inpei Sousa, Kakushou, Fake ~ Kyoto Bijutsu Jiken Emaki), dan Yamaoka Junpei (GTO (remake) Series, Honey Trap, Power Game), ahli serial detektif.

Berpartner dengan Sato Ryuta yang berperan sebagai Takeuchi Masato, Nakagama Yukie memerankan seorang polisi wanita yang sering melakukan penyamaran. Loh? Iya, di luar, identitas Sakura ini adalah seorang polisi wanita biasa yang bekerja di bagian layanan pengaduan masyarakat. Tetapi, di bawah perintah sang “Iron Lady” Igarashi Kyoko (Takashima Reiko), Sakura bertugas ‘mendengarkan suara yang hanya bisa didengarnya saja’. Ia menjadi detektif yang sering melakukan penyelidikan secara rahasia. Jadi jangan heran deh kalau banyak scene yang menunjukkan telinga Sakura ini. Meski sering bertengkar dengan Takeuchi, mereka ternyata kompak dalam menangani kasus. Takeuchi sering dibuat kesal karena Sakura mendatangi si tersangka tanpa menunggu bantuan datang. Tapi Takeuchi yang ahli bela diri selalu sigap membantunya. Meski di akhir, Sakura akan memilih meninggalkan TKP diam-diam dan menyerahkan sisanya pada Takeuchi ini.

Ehm, rating drama ini? Secara cerita memang agak lambat. Tapi bagi pecinta detail dan kelogisan cerita, drama ini patut untuk dijadikan pilihan. Meski pemerannya ‘kurang bling-bling’, tapi ceritanya tetap asyik koq. Kalau diminta ngasih rating, engngngng … 3,75 dari 5 deh. Selamat menonton ^_^

Box Office

Review Film Zombieland: Double Tap, Membawa Kembali Dunia Zombie Penuh Tawa

Published

on

GwiGwi.com – Setelah 10 tahun film Zombieland; Jesse Eisenberg, Woody Harrelson, Emma Stone, dan Abigail Breslin kembali memerankan Columbus, Tallahassee, Wichita, dan Little Rock dalam sequelnya yang berjudul Zombieland: Double Tap.

Pada sekuel ini, rentang waktu 10 tahun sudah berlalu sejak bencana zombie terjadi, Columbus dan kawan-kawan yang sudah berpengalaman dalam bertahan hidup dan membasmi para zombie akhirnya memutuskan menetap di Gedung Putih yang rapi dan bersih.

Namun tampaknya mereka menetap terlalu lama terasa membosankan bagi Wichita dan Little Rock sehingga mereka berdua memutuskan pergi. Columbus yang ditinggalkan Wichita, sangat terpukul dan meratapi nasibnya namun status jomblonya tidaklah lama karena ia bertemu Madison (Zoey Deutch), seorang tipikal stupid blonde yang dengan instan menjadi pacar barunya Columbus.

Tidak disangka-sangka, Wichita kembali ke Gedung Putih untuk memberi tahu bahwa Little Rock meninggalkan dia untuk pergi ke Graceland beserta pacar barunya, Berkeley (Avan Jogja) yang seorang hippie yang anti senjata.

Tallahassee yang khawatir dengan Little Rock memutuskan untuk mencarinya, tentu saja ditemani Columbus, Wichita, dan Madison. Road trip ini bukannya tanpa bahaya, karena ada varian zombie baru yang lebih kuat, lincah, dan pintar yang dapat membahayakan jiwa mereka. Namun itu semua tidak menghalangi mereka dalam menjemput anggota “keluarga” yang hilang.

Baca Juga:  Review Film Gemini Man, Aksi Seru Melawan Diri Sendiri

Sekuel dari film komedi rilisan 2009 ini lebih menekankan pada interaksi kocak antar karakternya (terutama antar Madison-Columbus-Wichita), sedangkan para zombie hanya sebagai pelengkapnya dan tidak menjadi fokus dari plot cerita.

Ceritanya juga sangat ringan dan mudah dinikmati banyak orang. Keberadaan Madison benar-benar menghibur dengan kebodohannya (tidak perlu ditanyakan bagaimana ia bisa survive selama 10 tahun)

Mungkin sedikit kekurangan dari Zombieland : Double Tap ini adalah ingin menceritakan bahwa keluarga merupakan orang-orang yang paling akrab dengan diri kita tanpa harus ada hubungan darah, sedangkan rumah adalah tempat kamu nyaman untuk berada dan tidak terikat pada fisik bangunan saja. Bagi yang mencari film zombie dengan komedi, maupun bagi kalian yang sudah kangen dengan fim zombieland, Zombieland: Double Tap ini wajib untuk kamu tonton.

 

Continue Reading

Box Office

Review Film Maleficent: Mistress of Evil, sekuel yang ditunggu namun seperti ada yang kurang

Published

on

GwiGwi.com – Raja kerajaan Ulstead, Raja John (Robert Lindsay) terkulai lantaran terkena kutukan. Anaknya, Pangeran Phillip (Harris Dickinson) meminta ibunya, Ratu Ingrith (Michelle Pfeiffer) untuk mencium ayahnya untuk mematahkan kutukannya. Kekuatan cinta sejati dan sebagainya. Ketika tidak bekerja, Ratu Ingris melihat anaknya dan calon menantunya, Ratu Kerajaan Moors, Si Putri Tidur, Aurora (Elle Fanning), dan berkata, “This is not a fairy tale” atau, “Ini bukan cerita dongeng.”

Melalui adegan ini, sutradara Joachim Rønning seolah ingin menegaskan kalau film teranyarnya, MALEFICENT: MISTRESS OF EVIL berbeda dengan adaptasi karakter animasi Disney lainnya. Pendekatannya dalam mengeksplorasi kelamnya akibat xenophobia dan perang tidak tanggung-tanggung. Bahkan saya yakin bisa cukup menakuti anak-anak.

Pendekatannya sebenarnya menarik dan cukup fresh di genre sejenisnya, sayangnya fokus cerita yang kurang jelas dan ending yang tone-nya terlalu berbeda dengan keseluruhan film mengurangi nilai film ini sampai pada poin layak dipertanyakan perlu tidaknya sekuel dari MALEFICENT (2014) ini.

MALEFICENT (Angelina Jolie) merasa sulit melepas Ratu Kerjaan Moors, Aurora, putri angkatnya untuk dinikahkan kepada Pangeran Phillip. Setelah diyakinkan beberapa kali, Maleficent akhirnya bersedia untuk menyebrang ke Kerajaan Ulstead, bertemu dengan keluarga Phillip, demi kebahagiaan anak angkatnya. Tak peduli dia disambut ketakutan dari penduduk di sana. Ketegangan muncul ketika Ratu Ingris tampak tak menyukai Maleficent dan makhluk-makhluk mistis di Kerajaan Moors. Puncak dari peristiwa itu pun memantik konflik yang juga melibatkan bangsa Maleficent yakni “Dark Faye” keluar dari persembunyiannya untuk melawan manusia.

Cara pembuat film meramu perseteruan antara “Dark Faye” dan Kerajaan Ulstead cukup mengasyikkan. Salah satu poin paling menarik dan sepertinya memang fokus filmnya adalah efek dari konflik tersebut pada kehidupan bangsa “Dark Faye”, Maleficent, dan Aurora. Eksplorasi penderitaan mereka dan intrik musuhnya untuk merubah situasi begitu memikat. Penonton sungguh bisa tenggelam pada konfliknya.

Baca Juga:  Review Film Zombieland: Double Tap, Membawa Kembali Dunia Zombie Penuh Tawa

Saya suka bagaimana sifat emosional dan kejamnya Maleficent ditampilkan. Terdapat adegan di mana ia dimintai tolong tetapi dia tolak karena egonya. Sewaktu perang juga ia tak ragu untuk membunuh lawannya. Terlihat pembuat film mencoba sekali melepas sisi gelapnya sebisa mungkin.

Angelina Jolie mampu tampil menyeramkan, lucu dengan kikuknya dan tetap membuat penonton simpati. Mantap lah dia. Apalagi Michelle Pfeiffer, dan sebenarnya semua castnya juga. Elle Fanning sampai pemeran Borra, Ed Skrein, semua mendapat momen untuk berkilau. Mereka berhasil membawa realisme emosional di tengah balutan kostum dan spesial efek untuk menjual temanya yang cukup intens. Mereka lebih nyala dari CGI-nya! Yah mungkin kecuali Connal (Chiwetel Ejiofor) yang kesannya ada untuk sampaikan eksposisi dan nambah motivasi kaum “Dark Faye” buat perang saja.

Segala usaha untuk membuat MALEFICENT: MISTRESS OF EVIL layaknya film perang fantasi ternyata diakhiri menjadi film dongeng biasa. Endingnya terkesan memaksa merubah ke arah generik, aman nan nyaman itu. Begitu mudahnya menyampingkan kasualti dari pertempuran di klimaksnya sampai rasanya cukup mengherankan. Membuat poin dari temanya yang sudah diurus baik menjadi tak jelas. Sebegitu merusaknya ending film ini.

Hubungan Maleficent dan Aurora sebagai keluarga yang berbeda jenis ini menjadi pondasi kuat untuk awal ceritanya. Sayangnya begitu cerita bergulir, tampaknya pembuat film lebih tertarik untuk mengangkat konflik di sekitar mereka dibanding konflik antar dua karakter utamanya. Runyamnya hubungan mereka kurang tereksplorasi dengan baik dan diakhiri dengan biasa-biasa saja. Padahal harusnya penting lho.

MALEFICENT: MISTRESS OF EVIL terkesan mau memberi resep baru ternyata setelah dicoba tak jauh beda dengan resep lama. Tidak berarti waktu makan tak bisa dinikmati sih.

Continue Reading

Box Office

Review Film Hustlers, kisah para stripper yang ingin survive di tengah krisis ekonomi global

Published

on

GwiGwi.com – Dorothy (Constance Wu) yang punya nama panggung Destiny di club striptease Moves, bekerja sebagai stripper untuk menghidupi nenek nya. Namun karena ia masih terbilang baru di tempatnya dan potongan gaji yang cukup besar karena “jatah preman” nya banyak, Ia ingin melakukan kinerja yang lebih baik.

Kemudian ia bertemu dengan Ramona Vega (Jennifer Lopez) yang merupakan bintang di Moves dan ia mengajari Destiny untuk bagaimana menarik pelanggan dan mendapatkan uang tip yang banyak.

Destiny pun berhasil melakukan performa terbaiknya dan mendapatkan gaji yang cukup besar, beserta uang tip yang banyak berkat apa yang diajarkan oleh Ramona. Karena Moves merupakan tempat nya para pebisnis dan pemegang saham di Wall Street untuk melepas penat. Namun semua berubah ketika krisis ekonomi di Amerika Serikat melanda di tahun 2008.

Lantas bisnis di club striptease Moves pun juga kena imbasnya, pola bisnis nya pun berubah agar club striptease ini tidak bangkrut. Kemudian Ramona dan Destiny memiliki sebuah rencana agar tetap mendapatkan para pelanggan dan mereka masih bisa hidup senang di tengah krisis ekonomi yang melanda.

Film ini berdasarkan kejadian nyata dari artikel di New York’s Magazine “The Hustlers at Scores” yang ditulis oleh Jessica Pressler pada tahun 2015. Filmnya sendiri sukses mendapatkan review positif dari para kritikus ketika penayangan perdana di Toronto International Film Festival (TIFF) 2019.

Film yang dibintangi oleh Constance Wu, Jennifer Lopez, Julia Stiles, Cardi B, Lili Reinhart, Lizzo, dan Kiki Palmer ini bisa dibilang ini merupakan sebuah suguhan genre drama thriller yang menarik perhatian tahun ini. Karena mengangkat isu bisnis strip club untuk bisa survive ditengah krisis ekonomi yang melanda di tahun 2008 yang memberikan imbas di beberapa sektor.

Baca Juga:  Review Film Gemini Man, Aksi Seru Melawan Diri Sendiri

Constance Wu dan Jennifer Lopez mencuri perhatian lewat performa nya di film ini, namun sangat disayangkan beberapa cast lain hanya tampil sebagai pemanis saja di film ini.

Dari segi cerita, mereka tidak terlalu bertele-tele karena langsung to the point namun tetap berbobot dan berhasil menyampaikan pesan yang ingin disampaikan lewat film ini. Dengan alur maju mundur namun tidak membuat penonton bingung. Dengan menyajikan adegan si penulis artikel yang mewawancarai Destiny dan Ramona meyakinkan para penonton bahwa kejadian di film ini terlihat nyata.

Film ini dilarang tayang di negeri Jiran karena “excessive obscene content” menurut lembaga sensor di negara Malaysia Malaysian Film Censorship Board. Namun film ini tayang di Indonesia dengan sensor yang sangat hati-hati agar tidak merusak cerita di film ini. Total 6 menit adegan yang di cut. Sementara untuk naked scene nya sendiri hanya di blur saja dan memberikan rating film ini untuk 21 tahun keatas.

Menurut gue, Lembaga sensor film berhasil membuat sensor yang ideal buat film ini. Mereka tahu mana adegan yang semesti nya di potong dan mana yang tidak agar tidak merusak cerita lewat suatu film. Well, good job.

Secara keseluruhan, film Hustlers yang akhirnya tayang di Indonesia merupakan sajian menarik yang bisa menjadi pilihan untuk kalian yang ingin menonton film di bulan ini. Film dengan cerita menarik ditambah performa cast yang baik sangat sayang jika kalian lewatkan.

Continue Reading
Advertisement SEACA 2019
Advertisement SGCC 2019
Advertisement DICARI REPORTER
Advertisement

GwiGwi Space

GWIDEV

Trending