Connect with us

TV & Movies

Review Crows Explode (2014)

Published

on

Sebelum memulai review, satu hal yang mau gua katakan, Gua butuh screen time lebih banyak untuk Miya!!!! <3<3<3 Masa film 2 jam, si Miya (Suzu Hirose) cuman muncul tidak sampai 5 menit. Terakhir lihat doi pas dorama Kasuka no Kanojo, sekarang makin lucu. Biar ga penasaran sapa itu Miya nih screenshot dari filmnya.

http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/CrowsExplode2014720pBluRayH264-WiKi-SSmkv_snapshot_002518_20141030_230557_zps529a5499.jpg
http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/CrowsExplode2014720pBluRayH264-WiKi-SSmkv_snapshot_013823_20141030_230727_zpsed6801d5.jpg

Back to Crows Explode, Crows Explode merupakan sekuel dari Crows Zero II (2009), jujur gwimin uda lupa cerita Crows Zero (2007) dan Crows Zero II. Cuman ingetnya ya pukul-pukulan doank. Banyak berkomentar karena Genji Takiya (Shun Oguri) sudah tak ada alias lulus SMA di Crows Zero II, film ini tak akan seru lagi. Mari kita lihat ya.

http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/CrowsExplode2014720pBluRayH264-WiKi-SSmkv_snapshot_015315_20141030_234214_zps9b55dd08.jpg

Intinya film ini menceritakan Kazeo Kaburagi (Masahiro Higashide) merupakan seorang anak murid transfer yang masuk ke Suzuran dan sudah bikin heboh di hari pertama dia masuk. Kemudian Kazeo yang awalnya tak berniat mencapai puncak Suzuran, akhirnya dia pun berkelahi karena mungkin sudah lelah melihat teman-temannya sendiri berguguran. Ceritanya standar kalau gwimin bilang. Ceritanya khas dorama Jepang, dengan bumbu action ala Crows Series, pukul-pukulan tangan kosong tanpa senjata.

http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/CrowsExplode2014720pBluRayH264-WiKi-SSmkv_snapshot_014416_20141030_233950_zps3ece9950.jpg

Adegan pertempuran terakhir rada berasa dejavu emang, kembali si Kazeo harus mencapai atap dimana adik kelasnya Ryohei Kagami (Taichi Saotome) sudah menunggunya. Ceritanya di film, Ryohei ini sudah mengalahkan Top 1 terdahulu suzuran, Goura Toru (Yuya Yagira). Saya sudah menduga dari awal kalau si Kazeo bakal lawan Kagami. Karena dari adegan pertama dimenit-menit awal sudah bisa terlihat jelas.

http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/CrowsExplode2014720pBluRayH264-WiKi-SSmkv_snapshot_012428_20141030_233907_zps5d375ee0.jpg

Yang bikin bingung sih pas berkelahi terakhirnya, kurang jelas mana musuh mana kawan, ya karena emang yang dilawan sesama nak SMA Suzuran, yang berpakaian hitam-hitam. Mungkin lain kali bisa dibikin seragam berbeda gitu ya. Btw, kawan-kawan nak kelas 3-nya si Goura tiba-tiba hilang, secara kalau dilihat mereka kalah jumlah melawan Ryohei dan anak-anak kelas 1 plus lagi geng ODA (non SMA).

Baca Juga:  Shiraishi Mai akan Bermain dalam Film Stolen Identity 2

http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/CrowsExplode2014720pBluRayH264-WiKi-SSmkv_snapshot_014412_20141030_233941_zps2dd5ba70.jpg

Untuk pertarungan antara Goura x Fujiwara Hajime (Kento Nagayama) x Shibata Hiroki (Takanori Iwata), gwimin bilang rada gantung, masa sih Fujiwara dibiarin gitu doank, dan si Fujiwara ga nafsu berkelahi setelah melihat bekas luka Shibata yang ceritanya dulu akibat perbuatan Fujiwara. C’mon, berkelahi lah secara laki-laki, lihat bekas luka doank bubar, padahal bikin berdarah-darah bisa.

http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/CrowsExplode2014720pBluRayH264-WiKi-SSmkv_snapshot_014410_20141030_233933_zps4037ca33.jpg

Soal para pemeran, gwimin berpendapat walaupun tanpa Genji Takiya, masih boleh lah. Ya walaupun si Goura jujur sudah keliatan tua ya sebagai nak SMA (anggap aja tinggal kelas bertahun-tahun).  Si Kazeo awalnya gwimin pikir ga cocok jadi gangster tapi lama kelamaan cocok juga. Si Fujiwara, oke gwimin bilang paling kakkoi doi, sayang berkelahinya gitu doank. Kembali ke awal artikel ini, si Miya, kalau dia berdiri disamping Kazeo kerasa pendek banged, palagi Kazeo yang tinggi gitu. gwimin juga masih bingung, si Miya ini adik kandung atau adik apanya nih, masih ga jelas.

Overall, gwimin bilang, kalau kamu suka Crows Zero I dan II, pasti nonton ini juga tetap akan suka. Tetapi untuk penggemar Shun Oguri, cobalah untuk menonton ini tanpa harus berharap doi bakalan muncul. Adegan darah-darahan sudah pasti ada ya, jadi yang ga kuat lihat darah sebaiknya nontonnya diskip-skip aja. gwimin tetap rekomendasi untuk nonton film ini.

  • Cerita
  • Cast
  • Sinematografi
  • Music Scoring
2.6

Summary

Untuk sebuah sekuel Crows Series, ini masih layak ditonton

Chief dan editor, suka nonton anime mainstream yang ga ribet, mulai mendalami yang namanya cameco (cameramen cosplay)

Box Office

Review Film Hustlers, kisah para stripper yang ingin survive di tengah krisis ekonomi global

Published

on

GwiGwi.com – Dorothy (Constance Wu) yang punya nama panggung Destiny di club striptease Moves, bekerja sebagai stripper untuk menghidupi nenek nya. Namun karena ia masih terbilang baru di tempatnya dan potongan gaji yang cukup besar karena “jatah preman” nya banyak, Ia ingin melakukan kinerja yang lebih baik.

Kemudian ia bertemu dengan Ramona Vega (Jennifer Lopez) yang merupakan bintang di Moves dan ia mengajari Destiny untuk bagaimana menarik pelanggan dan mendapatkan uang tip yang banyak.

Destiny pun berhasil melakukan performa terbaiknya dan mendapatkan gaji yang cukup besar, beserta uang tip yang banyak berkat apa yang diajarkan oleh Ramona. Karena Moves merupakan tempat nya para pebisnis dan pemegang saham di Wall Street untuk melepas penat. Namun semua berubah ketika krisis ekonomi di Amerika Serikat melanda di tahun 2008.

Lantas bisnis di club striptease Moves pun juga kena imbasnya, pola bisnis nya pun berubah agar club striptease ini tidak bangkrut. Kemudian Ramona dan Destiny memiliki sebuah rencana agar tetap mendapatkan para pelanggan dan mereka masih bisa hidup senang di tengah krisis ekonomi yang melanda.

Film ini berdasarkan kejadian nyata dari artikel di New York’s Magazine “The Hustlers at Scores” yang ditulis oleh Jessica Pressler pada tahun 2015. Filmnya sendiri sukses mendapatkan review positif dari para kritikus ketika penayangan perdana di Toronto International Film Festival (TIFF) 2019.

Film yang dibintangi oleh Constance Wu, Jennifer Lopez, Julia Stiles, Cardi B, Lili Reinhart, Lizzo, dan Kiki Palmer ini bisa dibilang ini merupakan sebuah suguhan genre drama thriller yang menarik perhatian tahun ini. Karena mengangkat isu bisnis strip club untuk bisa survive ditengah krisis ekonomi yang melanda di tahun 2008 yang memberikan imbas di beberapa sektor.

Baca Juga:  Shiraishi Mai akan Bermain dalam Film Stolen Identity 2

Constance Wu dan Jennifer Lopez mencuri perhatian lewat performa nya di film ini, namun sangat disayangkan beberapa cast lain hanya tampil sebagai pemanis saja di film ini.

Dari segi cerita, mereka tidak terlalu bertele-tele karena langsung to the point namun tetap berbobot dan berhasil menyampaikan pesan yang ingin disampaikan lewat film ini. Dengan alur maju mundur namun tidak membuat penonton bingung. Dengan menyajikan adegan si penulis artikel yang mewawancarai Destiny dan Ramona meyakinkan para penonton bahwa kejadian di film ini terlihat nyata.

Film ini dilarang tayang di negeri Jiran karena “excessive obscene content” menurut lembaga sensor di negara Malaysia Malaysian Film Censorship Board. Namun film ini tayang di Indonesia dengan sensor yang sangat hati-hati agar tidak merusak cerita di film ini. Total 6 menit adegan yang di cut. Sementara untuk naked scene nya sendiri hanya di blur saja dan memberikan rating film ini untuk 21 tahun keatas.

Menurut gue, Lembaga sensor film berhasil membuat sensor yang ideal buat film ini. Mereka tahu mana adegan yang semesti nya di potong dan mana yang tidak agar tidak merusak cerita lewat suatu film. Well, good job.

Secara keseluruhan, film Hustlers yang akhirnya tayang di Indonesia merupakan sajian menarik yang bisa menjadi pilihan untuk kalian yang ingin menonton film di bulan ini. Film dengan cerita menarik ditambah performa cast yang baik sangat sayang jika kalian lewatkan.

Continue Reading

Box Office

Review Film Gemini Man, Aksi Seru Melawan Diri Sendiri

Published

on

GwiGwi.comGemini Man merupakan film kolaborasi Jerry Bruckheimer dengan Ang Lee yang menceritakan agen top DIA (Defense Intelligence Agency), Henry (Will Smith) yang ingin pensiun karena sudah lelah dan mempertanyakan nuraninya atas banyaknya pembunuhan yang sudah ia lakukan demi kepentingan biro tempat ia bekerja. Atasannya, Janet (Linda Emond) dan bekas atasan Henry, Clay (Clive Owen) yang sekarang membentuk perusahaan pengamanan, Gemini ingin melenyapkan Henry yang dianggap terlalu tahu banyak tentang rahasia DIA. Beberapa kali DIA mengirimkan unit pembunuh namun semuanya berhasil dikalahkan oleh Henry yang dibantu Danny (Mary Elizabeth Winstead), agen DIA yang terjebak dalam usaha pembunuhan tersebut dan juga dibantu oleh Baron (Benedict Wong), mantan rekan Henry.

Clay akhirnya memutuskan mengirimkan pembunuh andalannya, Junior yang merupakan hasil klon Henry. Henry mencoba mengajak Junior kembali ke jalan yang benar karena ia tidak ingin Junior yang dianggap seperti keturunannya tidak terlibat dalam dunia pembunuhan. Dari sekilas sinopsis diatas seharusnya banyak orang sudah bisa menebak jalan ceritanya dan bagaimana akhirnya nanti. Selain plot yang mudah ditebak, film ini penuh dengan dialog yang kaku dan jokes yang garing. Selama menonton tidak bisa merasakan ikatan emosi antar karakternya bahkan antara Henry dengan Junior yang dua-duanya diperankan oleh Will Smith terasa awkward selama berinteraksi.

Baca Juga:  Review Film Gemini Man, Aksi Seru Melawan Diri Sendiri

Action scene nya juga terasa nanggung walau koreografi fighting-nya top; masih terkait dengan itu, adegan tembak-tembakan terasa seperti menonton simulasi game aksi macam Call of Duty atau Counter Strike namun kurang terasa intens. Yang menonjol dari film ini adalah kualitas gambarnya menggunakan teknologi 3D+ dengan 60fps yang menampilkan resolusi 4K; untuk itu shooting film ini dilakukan di Cartagena, Kolombia yang penuh bangunan-bangunan berwarna-warni serta di Budapest yang penuh bangunan elegan dan bersejarah.

Opini saya pribadi, dengan mengumumkan bahwa Will Smith berperan sebagai dua karakter (Henry dan klonnya) di film ini adalah sebuah kesalahan besar karena sudah ada di film the 6th Day (Arnold Schwazenegger) yang memiliki tema serupa dimana karakter asli dan klonnya bekerja sama mengalahkan pembuatnya yang tamak sehingga seperti yang sudah disebutkan di atas yaitu plot filmnya tertebak.

Continue Reading

Box Office

Review Film Joker, Menyelami Pikiran Sang Badut

Published

on

GwiGwi.com – Joker (2019) merupakan karya yang mengagumkan, namun bukan berarti mahakarya yang tanpa cela. Ada beberapa kekurangan baik dari plottingnya yang rasanya terlalu nyaman dan kebetulan, juga membuat pernyataan soal pengaruh lingkungan sosial pada manusia yang ujungnya seolah dibantah sendiri. Kesan dingin nihilis yang kuat bisa membuat orang salah kaprah menelaah film ini, namun pada akhirnya, sepertinya  yang sutradara Todd Phillips mau capai adalah eksplorasi dari gelapnya pikiran sang tokoh utama.

Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) ingin membuat orang tersenyum. Apa daya masyarakat Gotham dan tekanan hidup lain gemar merundungnya. Tempat nyaman untuknya hanyalah sang ibu, Penny Fleck (Frances Conroy), tetangganya Sophie Dumond (Zazie Beets) dan impiannya untuk bertemu si idola, komedian Murray Franklin (Robert Deniro). Semua mulai berubah begitu apa yang dia percaya dan perjuangkan selama ini hancur. Arthur mencari pelipur lara dengan berserah pada dorongan tergelap pribadinya yang akan membawa kehancuran ke sekitarnya dan tawa untuk dirinya.

Alarm bahaya yang digaungkan oleh banyak orang dan menjadi kontroversi dari Joker (2019) adalah glorifikasi dari penderita sakit jiwa pelaku aksi kriminal yang takutnya bisa menginspirasi kejahatan di dunia nyata. Saya tidak akan bilang kalau ketakutan itu tanpa dasar, tapi yang pembuat film lakukan dengan menunjukkan apa yang membuat Arthur jatuh dan penderitaan orang lain akibat perbuatannya rasanya cukup efektif untuk menangkal tudingan itu. Apalagi endingnya menegaskan kalau pada akhirnya semua kembali pada esensi karakternya, seperti Joker-nya Heath Ledger di The Dark Knight, yaitu orang yang menyukai kekacauan. Tulen plek.

Untuk ukuran yang tidak terlalu mengikuti materialnya seperti yang diakui sutradara Todd Phillips, saya terkejut bagaimana loyalnya penggambaran Joker di sini. Mencampurkan daya tarik Joker yang sudah berkembang di berbagai media selama puluhan tahun; selera komedinya yang gelap nan sadis, abainya dia dengan orang yang takut dengan aksinya, pistol revolver khasnya, tariannya yang seolah menganggap aksinya adalah teatrikal dan uniknya, sisi menyedihkannya dari gaya dia lari yang mirip tokoh kartun jaman dulu. Menciptakan persona unik yang jahat tulen tapi payah yang seolah anda sendiri pun bisa menjatuhkan dia sekali pukul dan dia tertawa nikmati itu yang bisa bikin ngeri. Endingnya mempunyai sesuatu yang sangat mengejutkan dan merangkum dengan mantap siapa Joker itu; kejam, samar, tak stabil dan komikal.

Baca Juga:  Shiraishi Mai akan Bermain dalam Film Stolen Identity 2

Buat yang berharap kalau film ini adalah aksi superhero dengan banyak atraksi, Joker adalah murni film crime thriller drama layaknya film-film Martin Scorsese dulu dan pastinya bukan buat anak-anak. Tulen. Alurnya di awal agak lambat, langkah demi langkahnya jadi Joker butuh waktu. Sulit terbiasa kalau anda langsung berharap dia menggila di awal. Sayang plottingnya soal dia di”hancurkan” oleh sekelilingnya secara bertahap kadang terasa repetitif. Seolah ingin sebanyak mungkin buat Arthur terjembab di awal namun caranya kurang istimewa. Endingnya (saya sering sebut endingnya ini karena benar multifungsi) mencoba menjustifikasi itu tapi kesannya terlalu liar.

Joaquin Phoenix mempunyai pekerjaan yang lebih berat dari Heath Ledger atau Jack Nicholson karena tak hanya menjadi kriminal sakit jiwa, dia juga harus memunculkan kemanusian Arthur. Dari kepolosannya dan penderitaannya sakit ketawa tak tertahankan. Seolah sisi Joker-nya ingin keluar sejak lama dari cangkang tubuhnya, di mana Arthur sekuat tenaga menahan itu. Di sebagian besar durasi dia berhasil bermain apik, di momen-momen tertentu Phoenix amat brilian, sangat menyeramkan, tapi ada juga saat-saat yang saya maklum kalau dianggap sedikit berlebihan.

Dari film Batman-nya Tim Burton, dimasukkan elemen Gothic art style yang sampai sekarang muncul di adaptasi Batman seperti game misalnya. Joker seperti menggunakan gaya brutalist dalam pendekatannya soal arsitektur settingnya. Rumah sakit, gedung, terowongan dibuat beton, tanpa hiasan, dan berukuran besar. Banyak di shot dengan low angle membuatnya terkesan raksasa secara dingin membuat Arthur yang berjalan di bawahnya terhimpit dan tak berarti. Saya menduga akan terjadi polarisasi pendapat soal Joker ini. Baik itu sisi kontroversialnya atau secara olahan fiksinya sendiri. Sangat sulit untuk tidak menyeleneh atau memuaskan semua kalangan mengingat karakternya sendiri rentan dipermasalahkan. Jika anda memang suka hal yang berbau superhero dan psikopat, sayang kalau tidak ikut membicarakannya dan melewatkan film ini di bioskop begitu saja.

Continue Reading
Advertisement SEACA 2019
Advertisement SGCC 2019
Advertisement DICARI REPORTER
Advertisement

GwiGwi Space

GWIDEV

Trending