Connect with us

Box Office

Review Film Venom, aksi si antihero musuh bebuyutan Spider-Man

Published

on

GwiGwi.com – Eddie Brock (Tom Hardy) si wartawan yang suka membuat sensasi ingin mencari tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh life foundation? Setelah terjadi insiden yang mengorbankan tim astronot Yang sedang melakukan riset untuk mencari sumber daya alam dari Planet selain Bumi.

Ternyata mereka menemukan symbiote yaitu sebuah entitas berasal dari Luar angkasa yang menjadi aset penting bagi life foundation untuk menciptakan sesuatu.

Ternyata symbiote Ini adalah sel yang bisa memilih inang/host-nya dan bekerjasama untuk menjadi kuat dan life foundation melakukan eksperimen Ini dengan manusia sebagai bahan percobaan namun hasilnya nihil.

Berbekal rasa ingin tahu yang tinggi Eddie pun melakukan wawancara dengan pimpinan yayasan yaitu Carlton Drake namun berakhir dengan tidak enak.

Dengan rasa ‘kepo berat’-nya Eddie ia pun menyusup ke laboratorium milik life foundation dan menemukan symbiote yang agresif dan memilih Eddie Brock sebagai host-nya.

Lantas, Eddie pun dicari-cari oleh Carlton drake untuk mengembalikan symbiote yang merupakan aset penting dan mencegah Eddie Brock mengungkap semuanya ke media tentang kebusukan life foundation.

Langsung ke filmnya, Venom merupakan proyek ambisius milik Sony Pictures yang bekerjasama dengan Marvel Comics merupakan film untuk membayar kesalahan yang mereka Buat saat menggambarkan Venom difilm Spider-Man 3 (2007).

Memang sudah lama direncanakan namun baru terealisasi Di tahun 2018 ini.

Baca Juga:  Review Film IT: Chapter Two, IT’s Back To Terrorize Derry

Dengan pilihan Tom Hardy yang memerankan Eddie Brock merupakan pilihan yang pas untuk menghidupkan kembali Venom di layar lebar.

Riz Ahmed pun yang memerankan Carlton Drake seorang CEO dari perusahaan yang terlihat “baik” tampil dengan cukup meyakinkan sebagai sosok antagonis yang ngeselin.

Namun film Ini sepertinya tampil dengan ragu-ragu Karena di film Ini sama sekali tidak memunculkan rival abadi venom yaitu Spider-Man.

Film Ini mau terkesan dibilang Film yang Bisa berdiri sendiri Karena spidey telah masuk marvel cinematic universe bersama para anggota Avengers dan tanpa dia venom Bisa punya cerita sendiri.

Padahal Kalo dilihat dari komiknya awal mula munculnya Venom itu adalah dari Spider-Man dan di film spider-Man 3 lah itu merupakan origin dari karakter Venom.

Lalu Venom membuat perjanjian damai dengan spidey dengan judul komik Venom: Lethal Protector ia pindah ke kota lain Lalu menghadapi life foundation.

Jangan langsung buru-buru beranjak keluar dari bioskop karena ada dua post-credits scene yang memberikan petunjuk untuk kisah Venom selanjutnya.

Secara keseluruhan, Nikmati aja Film Ini jangan berekspektasi apapun dan jangan Kaitkan dengan Marvel cinematic universe Karena Venom has it own story.

Satu lagi gue berharap, semoga Sony Pictures tergerak hatinya untuk melakukan crossover venom dengan Spider-Man versi Tom Holland di Marvel Cinematic Universe…. Aminnn

Box Office

Petualangan Luar Angkasa Brad Pitt dalam Ad Astra Tuai Pujian di Venice Film Festival

Published

on

GwiGwi.Com – Dibintangi dan diproduseri oleh salah satu aktor terpopuler Brad Pitt, ‘Ad Astra’ ditayangkan secara perdana di Venice Film Festival ke-76 pada hari Kamis, 29 Agustus 2019. Brad Pitt yang hadir bersama sang sutradara James Gray, serta deretan pemain ‘Ad Astra’ lainnya seperti Liv Tyler dan Ruth Negga, menerima sambutan positif untuk film terbaru mereka dari para kritikus yang hadir dalam acara tersebut. ‘Ad Astra’ disebut sebagai salah satu mahakarya dari James Gray yang sebelumnya telah populer melalui deretan filmnya seperti ‘The Lost City of Z’, ‘We Own the Night’ dan ‘The Immigrant’.

Berlatar waktu di masa depan, ‘Ad Astra’ berkisah tentang Roy McBride, seorang astronot yang dikirim dalam sebuah misi rahasia berbahaya untuk menemukan ayahnya yang telah hilang selama bertahun-tahun. Roy yang selama ini mengira ayahnya telah hilang dalam sebuah misi luar angkasa harus dihadapkan pada kemungkinan bahwa ayahnya masih hidup dan sedang mengancam keberadaan umat manusia. Ia harus melalui perjalanan yang panjang dan menantang untuk mengungkap misteri tersebut.

Baca Juga:  Review Film Ready or Not, malam pengantin yang penuh darah

Brad Pitt mampu memerankan karakter Roy McBride dengan mengagumkan. Dalam film ini, karakter yang ia perankan tidak hanya melalui perjalanan yang berbahaya dan penuh ancaman, melainkan harus melawan emosi dan dirinya sendiri. The Wrap menyebut penampilan Brad Pitt dalam ‘Ad Astra’ sebagai salah satu performanya yang paling menakjubkan.

Kolaborasi James Gray dan Brad Pitt dalam ‘Ad Astra’ juga dianggap sebagai film dengan perpaduan tepat dan kisah yang kuat oleh The Guardian (UK) dan The Telegraph (UK) yang memberikan skor sempurna untuk film ini. The Independent juga menyatakan bahwa film ini mampu menghadirkan kisah yang menyentuh berkat penampilan Brad Pitt dengan arahan tepat dari James Gray. ‘Ad Astra’ menghadirkan petualangan luar angkasa yang menegangkan dengan visual yang menawan, namun dilengkapi dengan sentuhan emosional yang mendalam.

Disutradarai oleh James Gray berdasarkan naskah karya Gray dan rekannya, Ethan Gross, ‘Ad Astra’ juga turut dibintangi oleh aktor pemenang Academy Award® Tommy Lee Jones dan Donald Sutherland. Film terbaru Brad Pitt ini akan tayang di bioskop-bioskop Indonesia mulai tanggal 20 September 2019 mendatang.

Continue Reading

Box Office

Review Film IT: Chapter Two, IT’s Back To Terrorize Derry

Published

on

GwiGwi.com, IT Chapter Two disutradarai Andy Muschietti dan diproduseri Barbara Muschietti. Film sekuel IT ini terjadi 27 tahun setelah film yang pertama. Mike, Bill, Beverly, Eddie, Ben, Richie, dan Stanley yang sudah dewasa dan sudah jarang bertemu lagi terpaksa harus kembali ke Derry untuk menghadapi Pennywise yang meneror penduduk kota kecil itu serta mencegah lebih banyak korban.

IT CHAPTER TWO
Copyright: © 2019 WARNER BROS. ENTERTAINMENT INC.
Photo Credit: Brooke Palmer
Caption: (L-r) ISAIAH MUSTAFA as Mike Hanlon, BILL HADER as Richie Tozier, JAMES McAVOY as Bill Denbrough, JESSICA CHASTAIN as Beverly Marsh and JAY RYAN as Ben Hascomb in New Line Cinema’s horror thriller “IT CHAPTER TWO,” a Warner Bros. Pictures release.

Pada awal-awal film mungkin sebagian penonton tidak ingat siapa mereka karena sudah dalam fisik dewasa (kecuali Beverly dan Mike yang pasti gampang diingat), namun jangan khawatir karena pelan-pelan penonton akan dibawa mengingat kembali siapa saja mereka saat masih kecil.

Walaupun pada awalnya mereka agak ragu-ragu untuk kedua kalinya menghadapi Pennywise dan ingin melupakan kenangan-kenangan buruk di Derry namun pada akhirnya mereka memutuskan harus mengakhiri semuanya. Masing-masing dari mereka harus menghadapi memori terkelam saat masih tinggal di Derry karena itulah yang dapat menjadi kunci dalam mengalahkan sang badut. Hal ini tidaklah mudah dilakukan karena Pennywise muncul dalam setiap memori untuk mengacaukan mereka.

Baca Juga:  Petualangan Luar Angkasa Brad Pitt dalam Ad Astra Tuai Pujian di Venice Film Festival

Film sekuel yang berdurasi sekitar 170 menit (2 jam 50 menit) ini tidak banyak adegan sadisnya, lebih banyak menampilkan visual mahluk-mahluk yang menjijikan dan mengerikan. Sedangkan untuk urusan jump scare, kentara sekali momen-momen dimana Pennywise akan muncul terutama saat para karakter sedang mengingat kembali masa lampaunya.

Bukan berarti itu hal yang buruk, karena pelan-pelan membangun ketegangan di dalam batin penonton yang menanti-nanti kapan si badut horror ini menampilkan wujud iblisnya dan saat ia muncul, ada perasaan kaget yang memuaskan. Walaupun ada penjelasan mengenai apa itu IT dan asal usulnya namun sangat sedikit sekali pembahasannya sehingga tidak terlalu jelas mengenai latar belakangnya.

Mungkin memang bukan itulah fokus dari cerita ke dua ini, yang sebetulnya ingin lebih menekankan bagaimana manusia yang mengalami kejadian yang traumatis dan kelam, apakah kau ingin menguburnya seolah-olah tidak pernah terjadi atau kau akan menghadapinya untuk menjadi pribadi yang sekiranya bisa lebih baik dan tidak terkekang masa lalu.

Continue Reading

Box Office

Review Film Once Upon A Time in Hollywood, rekreasi Hollywood a la Quentin Tarantino

Published

on

By

Gwigwi.com – Aktor TV Rick Dalton (Leonardo Dicaprio) yang karirnya telah meredup, berusaha bertahan di industri film Hollywood era 60an dibantu stuntmannya, Cliff Booth (Brad Pitt).

Lalu ia mendapatkan tawaran untuk bermain di sebuah episode serial tv namun berakhir kegagalan, dan akhirnya ia mendapatkan tawaran untuk bermain untuk Film eropa dengan genre spaghetti western.

Di sisi lain, aktris Sharon Tate yang tengah melejit karirnya bersama sang suami pindah ke Hollywood untuk mencoba peruntungan Karir.

Hingga pada suatu saat, sebuah kejadian tak terduga pun terjadi. Well, Awal film kita dibuat bingung film ini mau cerita apa? Dan mau dibawa kemana ending film Ini. Jokenya kurang nendang dan rasanya banyak build up tapi kurang ada punch line.

Cerita hanya terjadi dan lewat gitu aja. Agak sulit untuk peduli sama yg terjadi.

Saya pun jadi tidur-bangun nontonnya di awal. Namun kayaknya yang saya lewatkan gak gitu signifikan untuk paruh film berikutnya.

Barulah di adegan Sharon Tate (Margot Robbie) nikmatin reaksi penonton di bioskop yg sedang muter ‘The Wrecking Crew‘ yg dibintanginya baru saya ngerti; kita diajak untuk menikmati keseharian dan rekreasi di Hollywood era 60an a la Tarantino.

Sharon Tate untuk perspektif karakter Yang sangat menikmati hidupnya, Rick yg berusaha bertahan dan Cliff yg bersinggungan dengan bahayanya dalam bentuk keluarga Charles Manson.

Baca Juga:  Review Film Once Upon A Time in Hollywood, rekreasi Hollywood a la Quentin Tarantino

Era yang mengijinkan glamor dan keanehan industri hiburan bersanding dengan ancamannya.

Kalau hanya mengejar itu rasanya bisa aja Tarantino lakukan dengan genre Noir a la LA Confidential, tapi gak akan jadi se fun Film ini.

Sharon Tate nari sambil dengerin lagu, Rick Dalton salah dialog pas syuting dan hubungan Cliff dengan anggota keluarga Charles Manson, Pussycat (Margaret Qually).

Serta Momen-momen lucu dan manis tanpa ada bahaya nyata ini punya napas lebih banyak dibanding film Tarantino lain dan dengan skill filmmakingnya yang menonjolkan pesona dari momen-momen yg di film lain mungkin biasa.

Gue suka cara plot karir Rick Dalton dibawakan di sini karena suka dukanya tidak digambarkan dengan melodramatik; sedu sedan, dinasehati, semangat, bisa, abis, naaaah.

Cukup disampaikan melalui gonjang-ganjing usahanya saja saat berakting.

Melalui aksi yang begitu juga dengan pertemanan Rick dan Cliff.

Tidak perlu curhat-curhatan cukup Cliff selalu ada buat Rick gimanapun kondisi hidup pribadinya.

Secara keseluruhan, Film ONCE UPON A TIME IN HOLLYWOOD adalah bukti hebatnya Quentin Tarantino sebagai pencerita bagaimanapun kualitas substansi cerita yg ditulisnya.

Bentuk “pamer” nya yang meski agak kasar di awal tapi halus di sisanya begitu kita paham “kaca mata”nya.

Well, saya pun menjadi ingin nonton kembali film ini.

Saya berikan rating 8,5/10 untuk karya ini.

Continue Reading
Advertisement SGCC 2019
Advertisement DICARI REPORTER
Advertisement

GwiGwi Space

GWIDEV

Trending