Connect with us

TV & Movies

Review Film Oppenheimer, Gelegar bom yang tak sempurna

Published

on

Review Film Oppenheimer, Gelegar Bom Yang Tak Sempurna

www.gwigwi.com – Julius Robert Oppenheimer (Cillian Murphy) sedang memberikan pernyataan pada Komisi Energi Atom Amerika (AEC) yang mencurigainya sebagai mata-mata Uni Soviet yang entah bagaimana juga memiliki bom atom. Sudut pandang cerita dari beliau yang menggunakan warna dinamakan “Fission,” mengacu pada pembelahan atom.

Sudut pandang kedua, yang disebut “Fusion” dan monochrome (hitam putih) berasal dari Lewis Strauss (Robert Downey Jr) seorang perwira Angkatan Laut Amerika yang sedang disidang oleh Komite Perdagangan Senat terkait usulan Presiden Dwight D. Eisenhower yang merekomendasikannya sebagai Menteri Perdagangan. Namun, hal itu terbentur perlakuan Strauss pada Oppenheimer di masa lalu yang bisa jadi membatalkan promosi tersebut.

Review Film Oppenheimer, Gelegar Bom Yang Tak Sempurna

Review Film Oppenheimer, Gelegar Bom Yang Tak Sempurna

Kedua POV (Point of View) ini tampaknya menceritakan hal berbeda walau kadang bersilangan; Fission tentang kehidupan personal Oppenheimer, bersinggungan dengan simpatisan komunisme, proses penciptaan bom atom dari teori hingga praktis, hingga sidang dituduhnya si ilmuwan sebagai pengkhianat.

Fusion adalah intepretasi Strauss akan kehidupan Oppenheimer dan berusaha mencari momen yang barangkali menobatkan si ilmuwan sebagai pengkhianat negara tulen. Sekalian juga usahanya untuk mendapat jabatan prestis Menteri Perdagangan sekaligus dampak sidang Oppenheimer pada pendapat Komite Perdagangan Senat terhadap si perwira.

Review Film Oppenheimer, Gelegar Bom Yang Tak Sempurna

Review Film Oppenheimer, Gelegar Bom Yang Tak Sempurna

Oppenheimer dan para ilmuwan ingin menghentikan perang dengan kekuatan bom atom namun meski Perang Dunia 2 usai akhirnya politiklah yang membuat konflik baru yang tak berkesudahan. Ironisnya, tanpa politik tersebut keinginan Oppenheimer tak akan terlaksana. Beliau paham itu dari jauh hari. Pada akhirnya merasa tak ada yang bisa dilakukan dan hanya bisa hidup dalam konsekuensinya.

Warna-warni di Fission barangkali menggambarkan Oppenheimer yang berpikir luas dan jauh ke depan terkait penemuannya. Dia tak terpengaruh ambisi politik dan berpikir pada kanvas yang lebih besar lagi.

Review Film Oppenheimer, Gelegar Bom Yang Tak Sempurna

Review Film Oppenheimer, Gelegar Bom Yang Tak Sempurna

Sedangkan monochrome di Fusion seakan adalah pikiran Strauss yang melihat permasalahan terlalu simplistik, hitam putih, yang terkesan kuno dan dipenuhi nafsu pribadi yang pada akhirnya menyempitkan pandangannya.

Seolah Fission fokus pada gonjang ganjing ilmuwan dengan ketidak sempurnaan sifatnya (Oppenheimer doyan main cewek) dan usaha para ilmuwan untuk mencipta. Mereka juga bergulat dengan masalah moralitasnya.

Review Film Oppenheimer, Gelegar Bom Yang Tak Sempurna

Review Film Oppenheimer, Gelegar Bom Yang Tak Sempurna

Fusion adalah representatif imbas penemuan bom atom pada dunia politik. Sibuk memperseterukan kekuasaan, adu kekuatan dan menyampingkan isu yang lebih besar untuk merasa lebih dominan dari lawan baik orang maupun negara lain.

Format IMAX justru bukan untuk jualan skala pemandangan tapi untuk membuat adegan intim terasa granduer atau besar. Karena konsekuensi segala lini kehidupan Oppenheimer yang dibahas pada akhirnya mengarah pada senjata luar biasa, ya sah saja.

Gemuruh suara hentakan kaki mau pun ledakan yang ditunggu menggetarkan kursi dan score dari Ludwig Göransson menegaskan ketegangan adegan bahkan sebagai pilar utama ketika momen tak terlalu intens. Dan tentunya sinkron dengan mood granduer dari format IMAX.

Review Film Oppenheimer, Gelegar Bom Yang Tak Sempurna

Review Film Oppenheimer, Gelegar Bom Yang Tak Sempurna

Momen pamungkas paduan audiovisualnya ini adalah saat-saat sebelum uji coba ledakan bom atom atau disebut Proyek Trinitas. Puluhan mungkin ratusan adegan ledakan sudah saya lihat tapi tak satu pun yang membuat saya beneran brace for impact selain film ini. Momen yang menurut saya justru lebih wah dibanding saat bomnya meledak.

Intensitas. Inilah kunci Nolan memaku perhatian penonton yang disuapi bermacam karakter, isu dan teori. Suspense kerap diberikan dalam berbagai bentuk di pelbagai adegan untuk terus menjaga ketegangan. Bagai desis terbakarnya sumbu bom perlahan menuju mesiu.

Sebenarnya pantas saja karena kulminasinya adalah perubahan besar dalam sejarah tapi apakah perlu sekonstan itu?

Dialog cepat, cutting cepat, didukung akting berkomitmen dan skor yang menjaga mood tegang ya efektif namun bosan juga kalau terlalu membombardir. Jarang ada waktu untuk meresapi apa yang terjadi walau tak separah BLACK ADAM (2023).

Menariknya momen yang lebih perlahan jadi mencuat seperti melakukan Tes Trinity, Oppenheimer menyemangati para ilmuwan setelah bom dijatuhkan di Hiroshima tapi dia sendiri merasa hampa mengingat korbannya dan pembicaraan dengan Einstein sembari melihat ratusan riak di air. Seolah simbolisasi efek penemuannya yang tak akan berhenti hingga kiamat.

OPPENHEIMER menasbihkan Nolan sebagai auteur doyan main berbagai genre dan memahami tiap mainan barunya. Namun seperti yang terjadi juga di TENET (2020) beliau belum sepiawai penulis Aaron Sorkin dalam menyajikan penceritaan yang cepat nan padat. Moga dia nemu formulanya. Atau mungkin main genre lain lagi.

Nudity yang aneh dan tak perlu. R rated.

Advertisement

TV & Movies

Review Film Garfield The Movie, Petualangan Oyen Gembul

Published

on

Review Film Garfield The Movie, Petualangan Oyen Gembul

www.gwigwi.com – Si kucing oyen Garfield kembali muncul di bioskop-bioskop pada akhir Mei 2024 ini. Film animasi si oyen terbaru ini dibintangi Chris Pratt sebagai Garfield dan Samuel L. Jackson sebagai Vic. Siapakah Vic? Vic adalah ayahnya Garfield yang 5 tahun lalu meninggalkan Garfield kecil di gang yang gelap namun kejadian ini mempertemukan si oyen kecil dengan Jon (Nicholas Hoult), yang langsung menjadi babunya Garfield dan Odie (Harvey Guillen), si anjing yang terlihat bodoh tapi dapat diandalkan.

Review Film Garfield The Movie, Petualangan Oyen Gembul

Review Film Garfield The Movie, Petualangan Oyen Gembul

Hingga suatu malam, Garfield diculik oleh Roland (Brett Goldstein) dan Nolan (Bowen Yang), sepasang anjing yang merupakan bawahannya Jinx (Hannah Waddingham), seekor kucing betina yang mempunyai dendam terhadap Vic dan ingin memancingnya keluar dari persembunyian dengan menculik anaknya.

Vic pun terpaksa menerima tawaran Jinx yaitu merampok susu dari sebuah peternakan besar. Garfield pun terpaksa ikut karena nyawanya juga terancam dan dimulailah petualangan trio satwa ini yang penuh humor.

Review Film Garfield The Movie, Petualangan Oyen Gembul

Review Film Garfield The Movie, Petualangan Oyen Gembul

Sebagai film untuk semua umur, Garfield ini sangat menghibur dan penuh kekonyolan yang lucu. Karakter-karakter baru seperti Vic, Jinx dll juga ditampilkan dengan pas dan dengan cepat kita dapat memahami karakter mereka.

Karakter Odie dişini yang merupakan “asisten”nya Garfield juga ditampilkan dengan baik, dalam beberapa adegan ia terlihat amat dapat diandalkan tanpa mengurangi penampilannya Garfield.

Review Film Garfield The Movie, Petualangan Oyen Gembul

Review Film Garfield The Movie, Petualangan Oyen Gembul

Namun, ada sedikit kekurangan yaitu ada part yang terlihat kewalahan sehingga film ini bingung mau dibawa kemana. Padahal ini film untuk semua umur yang seharusnya bisa dikemas dengan ringan.

Overall, Garfield: The Movie tahun 2024 ini cocok untuk dinikmati Gwiple terutama bagi fans si oyen ini. Dan Garfield idealnya cocok dikemas sebagai film animasi dibandingkan live action seperti di film tahun 2004.

Continue Reading

Box Office

Review Film Furiosa: A Mad Max Saga, Awal Mula Malaikat Tergelap

Published

on

Review Film Furiosa: A Mad Max Saga, Awal Mula Malaikat Tergelap

www.gwigwi.com – Setelah 2 jam lebih dan berkali-kali lupa ambil napas saking terwahnya dengan apa yang disajikan, FURIOSA: A MAD MAX SAGA tak disangka, adalah epik menggelegar yang tak kalah dari DUNE PART TWO.

Furiosa (Anya Taylor Joy) diculik dari rumahnya saat masih kecil. Takdir mempertemukannya dengan bos Bikerdom, Dementus (Chris Hemsworth) dan akhirnya dia menetap di Citadel milik pemimpin yang sudah seperti dewa bagi warganya, Immortan Joe (Lachy Hulme).

Meski derita terus menerpa, Furiosa terus bertahan dengan harapan bisa kembali pulang…

Review Film Furiosa: A Mad Max Saga, Awal Mula Malaikat Tergelap

Review Film Furiosa: A Mad Max Saga, Awal Mula Malaikat Tergelap

Mematahkan anggapan prekuel yang tidak perlu atau memaksakan masuk ke jalinan cerita film setelahnya, FURIOSA: A MAD MAX SAGA adalah film yang sangat mampu berdiri sendiri dan sangat memiliki alasan eksistensi yang kuat.

Sutradara George Miller tidak memaksakan refrensi film lain yang harus dimasukkan tapi membuatnya sangat organik dan memang dibutuhkan oleh cerita. Mungkin memang itulah rencana beliau sedari lama untuk Furiosa tapi belum saja difilmkan.

Pengadeganan George Miller kental dengan emosi dan atraksi yang dilakukan oleh para karakter yang berpikiran cepat nan cerdik. Seolah selalu satu langkah di depan ekspektasi penonton.

Menjadikan aksi film selalu mengejutkan dan selalu memaku mata sampai lupa nutup mulut…heck, napas.

Review Film Furiosa: A Mad Max Saga, Awal Mula Malaikat Tergelap

Review Film Furiosa: A Mad Max Saga, Awal Mula Malaikat Tergelap

George Miller menganggap MAD MAX FURY ROAD sebuah dokumenter maka detail terperinci dalam membuat dunianya, semua memiliki fungsi. FURIOSA: A MAD MAX SAGA mengembangkannya lebih jauh. Semakin membuat penonton larut dalam dunia gila penuh luapan mesin motor ini.

Dementus adalah pemimpin yang jago mengambil tapi tak bisa mempertahankan. Sementara Immortan Joe cakap dalam memimpin. Tidak sangka melihat karakter villain tua di FURY ROAD ini bisa kelihatan cerdas dan keren.

Review Film Furiosa: A Mad Max Saga, Awal Mula Malaikat Tergelap

Review Film Furiosa: A Mad Max Saga, Awal Mula Malaikat Tergelap

Furiosa mencoba bertahan di dunia patriarki yang dibuat dua pemimpin itu. Anya Taylor Joy tak perlu banyak berkata. Hanya sekedar tatapan sudah banyak menyampaikan derita dan tegarnya Furiosa.

Barangkali yang agak mengganggu adalah background cg yang cukup kentara di berbagai adegan aksi penting. Akan tetapi kuatnya aksi dan emosi di adegan tersebut membuat kekurangannya terlupakan.

Review Film Furiosa: A Mad Max Saga, Awal Mula Malaikat Tergelap

Review Film Furiosa: A Mad Max Saga, Awal Mula Malaikat Tergelap

Alasan kenapa Furios harus menunggu lama sampai FURY ROAD untuk kabur rasanya perlu lebih dikuatkan lagi. Aneh melihat dia punya kesempatan lari di kisah ini, tapi saat posisinya lebih tinggi dia seakan tak punya pilihan.

FURIOSA: A MAD MAX SAGA menunjukkan George Miller masih memiliki bensin di tangki. Gak sabar lihat dia ngegas lagi buat cerita lain Mad Max.

Brutal tapi untuk 13 tahun ke atas? Tak paham saya…

Continue Reading

Box Office

Review Film Cash Out, Aksi Perampokan yang Santai

Published

on

Review Film Cash Out, Aksi Perampokan Yang Santai

www.gwigwi.com – Cash Out adalah film aksi perampokan karya Randdal Emmet dan Dipo Oseni yang dibintangi John Travolta (Mason), Kristin Davis (Amelia), dan Lucas Haas (Shawn). Mason, seorang mantan perampok professional yang terpaksa harus kembali dalam dunia kriminalitas demi menyelamatkan adiknya, Shawn yang secara serampangan mencoba merampok sebuah bank.

Review Film Cash Out, Aksi Perampokan Yang Santai

Review Film Cash Out, Aksi Perampokan Yang Santai

Polisi dengan cepat mengepung bank tersebut dan negosiasi pun berjalan dengan lancer, Mason pun segera memikirkan rencana untuk bisa kabur dari kepungan polisi setelah mendapatkan target yang perlu diambil dari bank itu.

Review Film Cash Out, Aksi Perampokan Yang Santai

Review Film Cash Out, Aksi Perampokan Yang Santai

Cash Out terbilang tidak mengikuti pakem film-film aksi yang bertema perampokan karena tidak ada aksi tembak-tembakan, tidak ada konflik yang serius baik antar crew perampokan maupun dengan para sandera.

Proses Negosiasi dengan polisi dan FBI pun berjalan lancer-lancar saja. Sebagai gantinya film ini memberikan humor ringan dan sedikit plot twist mengenai barang incaran Shawn.

Review Film Cash Out, Aksi Perampokan Yang Santai

Review Film Cash Out, Aksi Perampokan Yang Santai

Dari segi cast sudah tidak dapat dipungkiri karismanya John Travolta masih terlihat di film ini, jadinya itu merupakan sebuah nilai plus. Akting bintang-bintang pendukung lainnya juga baik dan menghibur.

Pada akhirnya, bila Gwiple mencari film yang santai namun masih berbobot, bisa menyaksikan Cash Out ekslusif hanya di bioskop XXI.

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending