Connect with us

Box Office

Review Film Avengers: Endgame, babak akhir dari infinity saga

Published

on

GwiGwi.com – Pasca pertarungan dengan Thanos di planet Titan Tony Stark dan Nebula terdampar di Luar Angkasa ia pun mengirim pesan kepada Potts untuk memberitahukan bahwa ia Selamat dari jentikan jari Thanos. Kemudian muncul captain marvel Yang membantu mereka kembali ke Bumi.

Kemudian, para anggota Avengers yang tersisa di Bumi diantaranya Black Widow, Captain America, James Rhodes, Thor, Okoye, Rocket Raccoon, dan Bruce Banner pun mencari cara bagaimana untuk mengalahkan Thanos dan menyelamatkan orang-orang Yang terkena jentikan jari Thanos.

Lalu mereka pun menyusun strategi untuk melakukan serangan balasan ke Thanos.

Berhasilkah mereka menyelamatkan Bumi pasca kejadian Thanos dengan segala kemampuan yang mereka punya dan dengan sumber daya manusia yang tersisa?

Film ke-22 dari Marvel Studios ini merupakan penutup dari Infinity Saga yang telah dimulai dari phase 1 MCU di tahun 2008 hingga tahun 2019 yang akan ditutup dengan Spider-Man: Far From Home yang akan dirilis Juli 2019.

MCU mencoba menutup cerita infinity saga yang mereka bangun susah payah dengan lintas koneksi antar film MCU yang kompleks yang pernah ada dalam sejarah perfilman.

Film yang masih dibesut oleh duo sutradara Anthony Russo dan Joe Russo ini ngasih pengalaman menonton yang gak pernah kita temukan dalam film superhero apapun dan mengemas semuanya menjadi pencapaian yang sangat sophisticated dan berhasil mengumpulkan pundi pundi uang yang sangat banyak.

Terbukti dengan memecahkan rekor box office dalam waktu 5 hari perilisan film di seluruh Dunia. Ya beda-beda tipis dengan pendapatan film The Godfather II dan The Dark Knight.

Baca Juga:  Review Film Konosuba : God’s Blessing On This Wonderful World-Legend of Crimson, Penuh Tawa Tanpa Henti

Semua karakter disini tampil seimbang, tanpa ada satupun yang dominan, memang dari total durasi 3 jam, 2 jam pertama alur cerita berjalan relatif lambat dan setelahnya baru berangsur relatif cepat.

Pergolakan batin yang dialami Tony Stark dan transformasi Clint Barton sampai menjadi Ronin membuat momen kickstarter film ini menarik.

Pengaturan flow yang sangat cerdas membuat film ini gak ngebosenin.

Gue menyarankan jangan banyak minum air dan makan cemilan karena bikin kita keluar masuk ke toilet dan melewatkan momen seru sepanjang film ini yang sayang jika dilewatkan.

Jokes yang ada di film Ini juga tersebar sepanjang film agar tetap menghibur dan tepat sasaran di momen-momen tertentu sepanjang film.

Kemudian, Avengers Endgame akan menjadi film terakhir untuk beberapa cast yang terlibat, jangan lupa siapkan tissue untuk salam perpisahan buat para cast yang berakhir kontraknya di Film Ini.

Oiya, Film Ini tidak ada mid ataupun post credit scene jadi kalau mau keluar dari bioskop Oke-oke aja kecuali mau bantuin bersihin sampah makanan atau minuman di studio untuk meringankan beban pekerjaan staf bioskop.

Secara keseluruhan, Film Avengers Endgame wajib di tonton baik untuk fans marvel maupun penonton awam karena memang merupakan sajian yang menghibur dan buat fans mungkin ini dapat menjadi film Marvel Cinematic Universe terbaik.

Box Office

Review Film The Invisible Man, Teror Kejam si Tak Terlihat

Published

on

GwiGwi.com – Semenjak kegagalan demi kegagalan hasil adaptasi monster klasik Universal Studios seperti DRACULA UNTOLD (2014) dan THE MUMMY (2017) tentu trailer pertama dari THE INVISIBLE MAN (2020) mengundang rasa skeptis yang tinggi. Terkesan kalau Universal ingin hanya sekedar menghadirkan si manusia kasat mata di modern tanpa punya sentuhan lain. Hanya menggantikan hantu dengan si “monster”nya. Saya sangat-sangat salah. Film ini berhasil memodernkan formula horror klasik, membawakan tema toxic relationship yang akan selalu relevan dengan baik, dan nominasi oscar untuk Elizabeth Moss? Bisa jadi, bisa jadi.

Cecilia (Elizabeth Moss) berhasil melarikan diri dari pacarnya yang kejam, Adrian Greene (Oliver Jackson-Cohen), miliarder dan ilmuwan di bidang optik. Namun memori hubungan traumatik tersebut tak langsung pergi. Cecilia hidup dalam ketakutan di rumah temannya, James (Aldis Hodge) dan anak James, Sydney (Storm Reid), sampai sekedar mengambil koran di luar terasa berat. Saat Cecilia mengira hari baru yang lebih baik dimulai, beragam peristiwa membuatnya yakin adanya ancaman yang tak terlihat.

Di film INVISIBLE MAN (1933), film monster klasik favorit saya, terdapat adegan saat beberapa karakter berbicara soal bahaya dari Griffin/Invisible Man (Claude Rains) dan bagaimana dia bisa saja di ruangan itu, saat itu juga mendengarkan mereka. Gimmick inilah yang dimaksimalkan sutradara Leigh Wannel di adaptasi terbaru Invisible Man ini hingga sekedar shot sudut ruangan yang kosong bahkan saat ada banyak orang terasa mengerikan.

Cara Leigh menampilkan teror tidak dengan frontal nan agresif tetapi lebih perlahan dan meminimalisir pergerakan kamera, membiarkan aksi Invisible Man sendiri yang berbicara tanpa banyak interupsi potongan editing; seperti saat adegan Cecilia memasak di dapur. Begitu Cecilia keluar frame, kamera tidak mengikutinya melainkan tetap menyorot dapur dalam long take seperti di seri film Paranormal Activity. Dari dapur yang terlihat normal ini keganjilan seperti pisau yang jatuh menghilang tanpa suara dan kompor yang memanas sendiri tampak mencolok.

Baca Juga:  Review Film The Invisible Man, Teror Kejam si Tak Terlihat

Meskipun aksi si “monster” ini begitu kreatif dan tulen menyeramkan, THE INVISIBLE MAN berpotensi sekali menjadi film horor rutin yang mudah ditebak, namun penekanannya pada efek psikologis si korban yang membuatnya tetap segar dan unik. Memfokuskan pada apa akibat perbuatannya sedari pada bagaimana wujud penebar terornya. Karena “monster”nya tidak terlihat, akting Elisabeth Moss ini berfungsi besar menjual keseraman efek dari aksinya. Diperlihatkan efek aksi si manusia kasat mata ini yang berimbas besar pada batin Cecilia. Membuatnya terlihat delusional dan pada akhirnya putus asa yang membuatnya dianggap gila oleh orang di sekitarnya.

Teror-teror yang si “monster” seolah perwujudan dari sifat mantan kekasihnya yang posesif seperti tidak ingin Cecilia mempunyai karir sendiri atau mandiri, membuatnya dibenci keluarga dan dijauhi teman. Bagai ingin Cecilia menderita karena sudah pergi dari si mantan. Bahkan kostum si manusia kasat mata yang penuh lensa ini seolah mengesankan Adrian yang ingin mengamati dan mengontrol semuanya.

THE INVISIBLE MAN mungkin adalah contoh langka suksesnya horor yang bisa jadi dianggap kuno dirubah menjadi kontemporer tapi tetap menyeramkan. Saya jadi penasaran bagaimana monster-monster klasik Universal lain bila mengikuti pola yang sama. Apa 2 bersaudara yang berburu di antah berantah lalu salah satu digigit serigala dan pelan-pelan jadi manusia serigala/Werewolf? Atau Dracula yang mencari mangsa di Hollywood? So gwiples buat kalian yang menyukai film horror maupun meyukai si Invisible Man nya sendiri Film yang satu ini wajib kamu tonton!

Continue Reading

Box Office

Review Film Sebelum Iblis Menjemput: Ayat 2, Teror Lama yang Belum Tuntas

Published

on

GwiGwi.com – Dua tahun setelah kejadian film pertama yang rilis di tahun 2018, Alfi dan Nara dimintai tolong oleh sekelompok muda-mudi bekas penghuni panti asuhan Bahtera. Di panti asuhan setelah puluhan tahun, begitu juga dengan Alfi yang masih dihantui oleh biang dari semua apa yang terjadi pada diri Alfi dan sekitarnya.

Akankah semua teror ini selesai?? Atau galah makin menjadi??

Well, kali ini sekuelnya diramaikan dengan beberapa aktor dan aktris seperti Baskara Mahendra, Lutesha, Arya Vasco, Karina Salim, Shareefa Daanish, Widika Sidmore, Hadijah Shahab, Ruth Marini, dan Tri Hariono. Kali ini, setelah menghadapi teror yang minimpa keluarga Alfi. Di sekuelnya kali ini Alfi Bertem dengan yang tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian di film pertama. Namun mereka memiliki kunci yang sama yaitu menghadapi iblis yang sama.

Dari awal film para penonton tidak diberi nafas sama sekali buat teror yang minimal di sepanjang film. Semua karakter disini kebagian teror nya masing-masing dengan berbagai teror berlapis. Namun sayangnya di sekuel kali ini walaupun teror yang berlapis membuat film ini menyenangkan, sisi drama yang disajikan untuk film ini terasa tertutup dengan berbagai ketegangan yang terjadi di film ini. Andai porsi drama ditambahkan sedikit mungkin dari segi ceritanya akan terasa lebih kuat.

Baca Juga:  Review Film Secret Zoo, Aksi Kocak untuk Selamatkan Kebun Binatang

Pada sebuah sekuel, pasti ada pengembangan karakter yang terjadi Alfi sebagai karakter kunci di film ini berhasil melakukan pengembangan karakter yang luar biasa, Selain itu Baskara Mahendra juga melakukan performa yang cukup baik sebagai penjembatan dari karakter alfi dan kelompok anak-anak panti. Widika Sidmore berhasil mencuri perhatian karena ia menyimpan sesuatu di cerita film ini dan membawa plot twist yang cukup mengejutkan di konklusi film ini.

Dari segi visual efek, semua di eksekusi dengan apik menurut saya. Karena saya menonton marathon film SIM (Sebelum Iblis Menjemput) 1-2 di bioskop di hari yang sama dengan permainan kamera, dan visual efek praktikal dan CGI sama seperti film-film Mo Brothers yang sudah-sudah. Namun tetap keren. Sound nya pun gak bikin budeg, namun tetap nendang di setiap momen dan jumpscare yang tetap nendang di sepanjang film.

Secara keseluruhan, memang sekuelnya agak lemah di sisi drama pada ceritanya dibanding film sebelumnya. Tapi film ini tetap menghentak dan menyenangkan. Makin banyaknya plothole di film ini mungkin saja bisa terjawab di sekuel nya nanti kalau dibuat. so Gwiples, buat kalian yang suka film horor silahkan menonton film satu ini!

Continue Reading

Box Office

Review Film Brahms: The Boy II, Berpotensi Namun Teralu Ringan

Published

on

GwiGwi.com – Sewaktu Joseph (Ralph Ineson) memberi tahu Liza (Katie Holmes) dan Sean (Owain Yeoman) kalau anak lelaki keluarga Heelshire yang meninggal bernama Brahms, nama yang sama dengan boneka yang ditemukan anak mereka, Jude (Christopher Convery), sulit untuk merasa terkejut lantaran di judul filmnya jelas tertulis BRAHMS: THE BOY II. Sudah pasti sentral horrornya adalah boneka tersebut dan segala yang misterius dan buruk berpusat padanya.

Liza menderita trauma berkepanjangan setelah rumahnya disantroni perampok. Anaknya, Jude yang juga menjadi korban menjadi bisu karena shock oleh peristiwa tersebut. Sang kepala keluarga, Sean berusaha menghibur mereka dengan menetap di rumah yang jauh dari kota. Tempat yang mereka tinggali dulu dimiliki oleh keluarga Heelshire dan di sanalah teror Brahms dimulai.

Bagi yang mengetahui cerita film pertamanya yakni THE BOY (2016) tentu tahu tentang twist mengejutkan yang membuat Brahms menjadi sosok unik dibanding karakter horror lain. Tentu sekuel ini membuat penasaran bagaimana karakter ini akan dieksplor lebih jauh. Sayangnya para pembuat filmnya membuat perubahan yang begitu besar untuk Brahms dan menjadikannya tak jauh berbeda dengan Annabelle.

BRAHMS: THE BOY II tampaknya ingin mengikuti kesuksesan franchise CONJURING terutama ANNABELLE sampai ke akarnya. Ceritanya sangat formulaik tipikal cerita horror dari boneka sampai terasa mirip. Rasanya hanya tinggal menunggu saja para karakternya sadar bonekanya bermasalah. Mencoba sabar untuk melihat barangkali film ini punya sentuhan orisinil pun sulit karena hampir nihil adanya. Keseraman yang disajikan terlalu sering menggunakan jump scare yang membikin jenuh malah cukup menyebalkan. Diperburuk dengan aturan main Brahms yang tidak jelas seolah mempertegas kalau konsep horror filmnya sendiri kurang didalami hingga hasilnya tak maksimal.

Baca Juga:  Review Film Little Woman, Kisah Klasik tak Lekang Zaman

Cerita filmnya yang ingin mengeksplorasi soal trauma sebenarnya memiliki potensi yang besar. Liza yang tidak mau disentuh, Jude yang bisu berkomunikasi dengan tulisan dan Sean yang ramah. Sangat mampu sekali membuat dramanya lebih menarik. Namun sayang kurang bisa dinikahkan dengan horrornya hingga elemen ini hampir tenggelam dan berakhir seadanya saja.

BRAHMS: THE BOY II berasa hanya sebuah konsep yang masih kasar, tak banyak mempunyai identitas sendiri hingga mengikuti apa yang populer dan terlihat ingin sekali menjadi sebuah icon baru. but buat yang suka menonton film horror mungkin film ini bisa mengisi waktu luang kalian jadi silahkan disaksikan ya

 

Continue Reading
Advertisement DICARI REPORTER
Advertisement

Trending