Connect with us

Berita Anime & Manga

Perhelatan Comic Frontier 13 Hadirkan Para Insan Kreatif Muda Indonesia tanggal 7-8 September

Published

on

GwiGwi.com – Comic Frontier hadir untuk membangun industri kreatif di Indonesia. Mempertemukan para insan kreatif yang terus berkarya, perhelatan ini  menjadi ajang untuk unjuk karya para kreator muda Indonesia. Menghadirkan berbagai kreasi komik dan animasi karya para kreator kreatif dalam negeri, kehadiran acara ini selalu dinanti oleh para penikmat budaya populer. Antusiasme yang luar biasa tersebut, akhirnya mewujudkan perhelatan Comic Frontier 13 pada September mendatang.

Sejak pertama kali dilaksanakan, Comic Frontier telah hadir sebagai wadah bagi para kreator lokal untuk unjuk karya kreatif kepada para pengunjung dan sesama kreator yang hadir. Acara Comic Frontier 13 ini menghadirkan lebih dari 500 insan kreatif yang akan bergabung dan menambah semarak meriah yang ada di acara ini. Comic Frontier 13 membuka kesempatan untuk terjadinya kolaborasi kepada seluruh insan kreatif yang hadir dalam perhelatan ini. Tidak hanya itu, acara ini juga menjadi ajang berkumpul bagi para penggemar karya kreatif untuk bertemu dengan para kreator yang mereka kagumi.

Menyemarakkan semangat kreativitas yang ada di Comic Frontier 13, dalam acara ini juga akan diadakan beberapa workshop yang membahas mengenai pengembangan karya kreatif. Salah satu workshop yang ada di acara ini adalah tentang “Etika Membangun Circle” yang dibawakan oleh Afdhal Gamalsyah Putra, founder dari Creatrip. Selain itu lembaga kursus bahasa Jepang dan manga Ikuzo! juga akan mengadakan workshop tentang profesionalisme dalam berkarya.

Ada beragam cara yang bisa dilakukan oleh para kreator untuk menunjukkan karyanya di Comic Frontier 13. Dalam acara ini pengunjung juga bisa menunjukkan bakatnya dalam Utattemita Session yang diadakan di panggung utama. Utattemita Session adalah sesi khusus selama 2 jam (dari jam 10.00-12.00) di mana seluruh pengunjung bisa berkaraoke dan bahkan melakukan live dubbing. Untuk mengikuti Utattemita Session ini para pengunjung diharuskan melakukan registrasi karena slot yang dibuka terbatas.

Perhelatan Comic Frontier ke-13 juga dimeriahkan oleh berbagai insan kreatif, salah satunya adalah Nanairo Symphony. Grup vokal yang beranggotakan 7 penyanyi berbakat ini menyanyikan berbagai lagu anime di berbagai perhelatan pop kultur di Indonesia. Nanairo Symphony juga aktif merilis karya pada kanal youtube resmi mereka yang beralamat di https://www.youtube.com/nanairosymphony.

Selain itu, Comic Frontier 13 juga disemarakan oleh grup orkestra Waltzio Edutainment. Dikenal sebagai grup orkestra yang sering memainkan lagu soundtrack dari film karya studio animasi Ghibli seperti My Neighbor Totoro, membuat mereka dikenal di kalangan penggemar animasi Ghibli. Kepopuleran yang dimiliki juga membuat mereka diundang menjadi bintang tamu pada eksibisi khusus film animasi karya studio animasi Ghibli yang dilaksanakan di Jakarta. Selain itu, grup orkestra ini juga dikenal sering memainkan lagu soundtrack dari berbagai game JRPG klasik.

Terakhir, Comic Frontier yang selalu menghadirkan aksi penutup dari DJ untuk mengajak para pengunjung mengguncang panggung pada akhir perhelatan ini. Kini, Comic Frontier 13  akan mengundang seorang DJ asal Jepang, yaitu DJ Sunamori dan DJ Misawa. yang dikenal sebagai DJ yang khusus membawakan berbagai musik dan lagu bernuansa Pop Culture. Tentu saja, kehadiran DJ Sunamori akan menjadi puncak kesemarakan acara Comic Frontier 13.

Sebagai Perhelatan yang menghadirkan berbagai insan kreatif, Comic Frontier 13 ini, turut menghadirkan dua kreator web comic berbakat asal Indonesia. Keduanya akan berbagai pengalaman mereka kepada para pengunjung yang hadir. Tidak hanya itu, para pengunjung juga dapat berinteraksi secara langsung dengan kedua kreator web comic tersebut dalam perhelatan ini.

Kreator pertama adalah pengarang web comic berjudul He is Gynophobic. Diterbitkan di platform Ciayo, web comic ini bercerita tentang seorang remaja pria bernama Afrizky Budiutomo yang selalu menjauh dari perempuan. Tanpa disangka, dirinya malah bertemu dengan seorang gadis bernama Oksa yang terobsesi dengan dirinya. Bagi yang ingin bertegur sapa dengan kreator, kalian dapat langsung menuju ke laman resmi yang beralamat di https://www.facebook.com/heisgynophobic/ dan https://www.instagram.com/heisgynophobic/.

Komikus kedua adalah Kreator dari web comic berjudul Rika Si Preman Sekolah yang saat ini juga diterbitkan di platform Ciayo. Rika si Preman Sekolah merupakan web comic yang menceritakan petualangan absurd Rika bersama dengan teman-temannya di sekolah yang dipenuhi oleh kejadian menarik serta mengundang tawa dari para pembaca. Kalian juga bisa bertegur sapa dengan kreator dari Rika si Preman Sekolah melalui laman resminya di https://www.facebook.com/rikappuchino/ dan https://www.instagram.com/rikappuchino/.

Perhelatan Comic Frontier 13 akan diselenggarakan pada 7 – 8 September mendatang di gedung Kartika Expo Center, Balai Kartini, Jakarta Selatan. Lokasi ini telah menjadi tempat penyelenggaraan Comic Frontier sejak 2017 hingga saat ini. Tiket masuk acara dijual dengan harga Rp 30.000 melalui loket tiket yang dibuka di lokasi acara dilaksanakan. Loket tiket mulai beroperasi sejak pagi hari untuk mengantisipasi antrian panjang dari para pengunjung yang sangat antusias menyambut ajang yang mempertemukan insan kreatif ini.

Advertisement

Berita Anime & Manga

Review Tomb Raider King Eps.1-2

Sama-sama mengusung tema dungeon crawling seperti Solo Leveling, mampukah adaptasi anime Tomb Raider King meraih kesuksesan yang sama? Simak ulasan dua episode pertamanya di sini.

Published

on

Review Tomb Raider King Eps.1 2

www.gwigwi.com – Dikhianati kontraktornya, “Tomb Raider” Jooheon Suh hampir saja mati di sebuah makam/tomb berisikan relik ajaib saat tetiba dia kembali 15 tahun lalu saat God’s Tombs ajaib belum bermunculan. Bertekad untuk membalas, berbekal pengetahuan dan keahliannya, dia pergi mengoleksi berbagai elik dengan tangannya sendiri.

TOMB RAIDER KING dianimasikan! Manhwa karya Sanji Jiksong ini tampaknya ingin ikut mencicipi kesuksesan SOLO LEVELING. Sesama sub genre Lit-RPG (cerita dengan mekanisme gim) dan dungeon crawling, mampukah mereka meraup harta kesuksesan yang sama?

Menjanjikan petualangan, misteri, atraksi aksi yang dibumbui strategi cerdik tak terduga, TOMB RAIDER KING memiliki banyak key selling point buat penyuka sub genre ini.

Cerita dengan cerdas tidak dimulai dari awal mula karir Jooheon. Penonton langsung disuguhi misteri pengkhianatan, kenapa dia bisa kembali ke masa lalu dan protagonis yang sudah jago, cepat memahami situasi dan langsung bertindak.

Alur ringkas cepat ini membantu memaku perhatian saat animasi dan art style gambar terasa cukup saja. Sisa informasi world building dieksposisikan tokoh utama sambil jalan yang untungnya lore TOMB RAIDER KING ini cukup sederhana dan mudah dicerna.

Mungkin karena keliatan sederhana ini juga, rasanya dunianya kurang terasa spesial. Tomb yang didatangi Jooheon saat baru sadar terinspirasi dari kisah populer ‘Kapak Emas’ dari dongeng Aesop. Memang boleh saja terinspirasi demikian, tapi seperti kurang ada polesan unik ala TOMB RAIDER KING itu sendiri. Ya, ada twist berbeda, namun kurang terasa menghentak.

Entah karena Jooheon yang digambarkan dengan istilah “OP” atau over power kah? Pemuda ini sudah sakti, pede, cerdas, pokoknya wah. Dari dua episode ini, belum ada tantangan berarti mau itu dari menghajar orang atau melawan monster. Fokus memperlihatkan hebatnya dia memang boleh saja, tetapi cerita seperti lupa memberikan suspense atau pembeda dari sub genre yang sama saat sekarang dunia sudah mengenal SOLO LEVELING dan SHANGRI-LA FRONTIER (tentang petualangan seorang gamer di dunia gim, Shangri-La Frontier).

Rakurou Hizutome atau Sunraku, protagonis SHANGRI-LA FRONTIER memang jago tapi diperlihatkan juga dia tidak bisa memakai armor hingga terkena serangan sekali saja sudah fatal. Hal demikian belum ada di TOMB RAIDER KING. Karakter Jooheon terkesan power fantasy untuk para pembaca merasa strong dan kurang memiliki kedalaman lain supaya audiens bisa relate, malahan dia kadang terasa angkuh menyebalkan.

Bila ingin sekedar melihat protagonis doing cool, strong, smart stuff dibumbui misteri dan petualangan, dan diakhiri dengan mendapat harta yang bisa bikin lebih cool, strong, smart lagi, TOMB RAIDER KING mungkin bisa jadi pilihan.

Review Tomb Raider King Eps.1 2

Review Tomb Raider King Eps.1 2

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 2: Otak Di Atas Otot, Kemenangan Strategi Tanpa Cheat!

Published

on

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

www.gwigwi.com – Banyak anime fantasi memulai cerita dengan tokoh utama yang dibuang karena dianggap tidak berguna. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System mengambil pendekatan yang sedikit berbeda. Masalah Elymas bukan karena ia lemah, melainkan karena semua orang terlalu cepat menyimpulkan nilai seseorang hanya dari label kelas yang ia terima. Gelar Heavy Knight dianggap sebagai jalan buntu, sementara Swordmaster diperlakukan seperti satu-satunya masa depan yang layak. Keputusan ayahnya mengusir Elymas dan mengangkat adik tirinya dari cabang keluarga sebagai pewaris terasa lebih sebagai cerminan obsesi terhadap status daripada keputusan yang benar-benar rasional.

Yang menarik, Elymas tidak menghabiskan waktunya untuk meratapi nasib atau berteriak ingin balas dendam. Ia justru melihat pengasingan itu sebagai kesempatan memulai hidup tanpa ekspektasi keluarganya. Berbekal pengetahuan tentang mekanisme dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah membaca seluruh buku panduan, setiap keputusan yang diambil terasa penuh perhitungan. Kekuatan utama anime ini bukan aksi besar pada dua episode pertama, melainkan kepuasan melihat seseorang perlahan membalikkan stigma dengan logika, pengalaman, dan strategi.

Dari sisi produksi, GoHands kembali mempertahankan identitas visualnya. Desain karakter terlihat bersih dengan pencahayaan yang kaya, sementara latar memiliki detail yang membuat dunia fantasinya terasa hidup. Sayangnya, gaya penyutradaraan mereka masih sulit diabaikan. Kamera terus bergerak, melakukan panning, zoom in, dan zoom out bahkan ketika adegannya hanya percakapan sederhana. Ada momen ketika pergerakan kamera justru lebih aktif daripada karakter yang sedang berbicara. Bagi sebagian penonton ini menjadi ciri khas, tetapi bagi yang lain justru terasa mengalihkan perhatian dari cerita.

Dua episode pembuka ini belum menawarkan kejutan besar, tetapi berhasil menanam rasa penasaran. Anime ini tidak mencoba meyakinkan penonton bahwa Heavy Knight adalah kelas terkuat. Sebaliknya, ia mengajak penonton mempertanyakan apakah sebuah sistem benar-benar salah, atau manusianya saja yang terlalu cepat memberi cap pada sesuatu yang belum dipahami. Pendekatan tersebut membuat perjalanan Elymas terasa lebih menarik daripada sekadar kisah “tokoh yang diremehkan lalu menjadi overpowered.”

Nilai: 8,5/10. Premisnya memang familier, tetapi cara membangun karakter utama dan tema tentang prasangka terhadap potensi seseorang membuat serial ini memiliki identitas yang cukup kuat. Jika GoHands sedikit mengurangi “kamera yang hiperaktif”, pengalaman menontonnya akan terasa jauh lebih nyaman.

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas yang Ternyata Overpowered!

Published

on

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas Yang Ternyata Overpowered!

www.gwigwi.com – Anime fantasi dengan tema tokoh utama yang diusir keluarganya memang bukan hal baru. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System (Tsuihou sareta Tensei Juukishi wa Game Chishiki de Musou suru) menghadirkan konflik yang cukup menarik sejak episode pertamanya. Elymas, putra keluarga bangsawan Edvaughn, dianggap gagal memenuhi harapan karena memperoleh kelas Heavy Knight, kelas yang dipandang tidak memiliki masa depan dibandingkan Swordmaster. Pandangan sempit tersebut membuat ayahnya mengambil keputusan yang sangat drastis.

Situasi semakin rumit ketika Malice, adik tiri Elymas yang berasal dari cabang keluarga, memperoleh kelas Swordmaster. Berbekal status tersebut, Malice dengan cepat menggantikan posisi Elymas sebagai pewaris resmi keluarga Edvaughn. Kudeta terhadap hak waris itu berlangsung tanpa banyak perlawanan karena seluruh keluarga lebih memilih mengejar prestise daripada menilai kemampuan seseorang secara objektif. Adegan ini menjadi fondasi konflik utama serial, sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah label mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Menariknya, Elymas tidak tenggelam dalam amarah atau sibuk merencanakan balas dendam. Ia menerima pengasingannya sebagai awal kehidupan baru. Berkat pengetahuannya mengenai sistem dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah menguasai seluruh mekanisme permainan, Elymas menyadari bahwa Heavy Knight bukanlah kelas yang seburuk anggapan banyak orang. Cara berpikirnya yang tenang dan penuh perhitungan membuat tokoh utama terasa berbeda dibanding protagonis fantasi pada umumnya yang sering mengandalkan ledakan emosi.

Dari sisi visual, GoHands kembali mempertahankan ciri khasnya. Desain karakter terlihat tajam dengan efek pencahayaan yang kaya, sementara latar dunia fantasinya memiliki detail yang memanjakan mata. Sayangnya, gaya sinematografi mereka masih menjadi pedang bermata dua. Kamera terus bergerak dengan panning, zoom, dan perubahan sudut yang cukup agresif, bahkan saat adegan dialog berlangsung. Bagi sebagian penonton hal ini memberikan kesan dinamis, tetapi tidak sedikit yang justru merasa pergerakannya terlalu berlebihan sehingga mengalihkan fokus dari percakapan para karakter.

Sebagai episode pembuka, anime ini berhasil memperkenalkan dunia, sistem kelas, serta konflik keluarga yang menjadi pemicu perjalanan Elymas. Alih-alih hanya menyajikan kisah tokoh yang diremehkan lalu menjadi sangat kuat, episode pertama lebih menekankan bagaimana prasangka dan obsesi terhadap status dapat membuat seseorang kehilangan haknya. Itulah yang membuat perjalanan Elymas terasa layak untuk terus diikuti.

Nilai: 8,5/10. Episode pertama berhasil membangun konflik dengan baik dan memperkenalkan karakter utama yang cerdas serta tenang. Jika GoHands sedikit mengurangi pergerakan kameranya yang terlalu aktif, pengalaman menonton akan terasa lebih nyaman tanpa mengurangi kualitas visual yang memang menjadi kekuatan mereka.

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending