Connect with us

News

Review Redmi 5 Plus Indonesia – Layar 18:9 Paling Affordable?

Published

on

[vc_row][vc_column][vc_column_text]GwiGwi.com – Xiaomi merilis Redmi 5 dan Redmi 5 Plus sebagai penantang di dunia smarpthone 18:9 atau yang banyak dikenal sebagai FullView, Infinity Display, dan lain-lainnya bulan lalu di Indonesia. Perangkat

Full screen display for everyone

Tagline Xiaomi untuk Redmi 5 dan Redmi 5 Plus.

Redmi 5 dan Redmi 5 Plus diharapkan Xiaomi bisa jadi penantang kuat terutama melawan Vivo dan Oppo di pasar Indonesia dimana kedua brand itu sebelumnya sudah pernah merilis perangkat dengan model layar serupa.

Sebelum melanjutkan reviewnya, perlu diketahui bahwa Redmi 5 dan Redmi 5 Plus dikenal juga sebagai Redmi Note 5 di India, sehingga akan sangat mungkin terdapat kerancuan dalam penamaannya. Dalam hal lain, Xiaomi juga memiliki Redmi Note 5 Pro, yang saat ini hanya dirilis di india (dan kemungkinan segera di China) yang merupakan versi paling atas dari lini atau seri Xiaomi ke-5 ini.

Perangkat Redmi 5 dan Redmi 5 Plus ini serupa dengan perangkat yang diluncurkan Xiaomi pada tahun lalu yaitu Redmi Note 4. Namun, apakah berarti Xiaomi hanya meng-copas hardware mereka tahun lalu dan hanya menggantikan layarnya saja supaya “kekinian”? Lalu, worth-it ga yah Redmi 5 atau Redmi 5 Plus ini? Silahkan baca Review Redmi 5 Plus (4GB/64GB) veri GwiGwi dibawah ini yah Gwiples!

Spesifikasi Redmi 5 dan Redmi 5 Plus

Secara garis besar, internal hardware dari Redmi 5 dan Redmi 5 Plus sangat mirip dengan pendahulunya. Sebelumnya, mari kita lihat spesifikasi lengkapnya.

Operating System MIUI 9.2 based on Android 7.1.1 Nougat
Display 5.99-inch 18:9 FHD+ (2160×1080) IPS LCD panel
403ppi pixel density
450nits maximum brightness
SoC Octa-core Qualcomm Snapdragon 625 (Redmi 5 Plus) / Snapdragon 450 (Redmi 5)
Eight Cortex A53 cores at 2.0GHz
14nm
GPU Adreno 506 with Vulkan API, OpenCL 2.0, and OpenGL ES 3.1
650MHz
RAM 2GB (Redmi 5)/3GB/4GB
Memori Penyimpanan 32GB/64GB
microSD slot up to 128GB
Kamera Belakang 12MP with 1.25um pixel size and f/2.2 lens
PDAF, LED flash
1080p video recording
Kamera Depan 5MP with LED light
1080p video recording
Beautify 3.0
Konektivitas LTE with VoLTE
Wi-Fi 802.11 a/b/g/n, Bluetooth 4.1, GPS, GLONASS
Micro-USB, 3.5mm audio jack, IR blaster
Jaringan LTE: 1/3/5/40/41
GSM: 2/3/5/8
WCDMA: 1/2/5/8
Baterai 4000mAh battery (Redmi 5 Plus) / 3300mAh battery (Redmi 5)
Fast charging (5V/2A)
Fingerprint Rear fingerprint sensor
Dimensi 158.5×75.45×8.05mm
Berat 180g
Pilihan Warna Gold, Rose Gold, Blue, Black

Redmi 5 Plus – Hardware | Hardware tahun lalu tapi …

Secara jelas, Redmi 5 Plus memiliki hardware yang masih 11/12 dengan yang telah dimiliki oleh Redmi Note 4 yang sudah menjadi hits pada tahun sebelumnya. Namun demikian, Redmi 5 Plus ini (paling tidak untuk saat ini) bukanlah Redmi Note 5 yang sudah banyak menjadi rumor, atau mungkin ini adalah “rebranding” dari Redmi Note 5 karena seperti yang kita lihat di India, Redmi 5 Plus ini dinamakan Redmi Note 5, dan versi paling canggih sebagai Redmi Note 5 Pro.

Melihat dari jajaran spesifikasinya, tentunya akan lebih baik jika opsi yang dipilih adalah opsi tertinggi yang tersedia di Indonesia yaitu Redmi 5 Plus. Hal ini masih justifiable, paling tidak jika kita bahas soal Processor-nya dimana prosesor yang digunakan oleh Redmi 5 Plus terbukti sudah paling maknyus dari Xiaomi karena selama beberapa perangkat terakhir, Xiaomi selalu menggunakan Snapdragon 625 seperti yang bisa dilihat dari Redmi Note 4 (Redmi Note 4X) dan juga Xiaomi MiA1 (lihat review kita disini).

Opsi memori yang dibawa kedua varian ini pun berbeda. Redmi 5 memiliki opsi 2GB/16GB dan 3GB/32GB sedangkan Redmi 5 Plus memiliki opsi 3GB/32GB dan 4GB/64GB. Unit yang kita miliki untuk direview merupakan tipe teratas yaitu Redmi 5 Plus 4GB/64GB. Namun demikian, dampak RAM dan ROM yang dimiliki oleh Redmi 5 Plus sebenarnya tidak membuat perbedaan jauh, kecuali untuk Redmi 5 2GB/16GB yang tentunya akan sedikit “sesak” bagi kalian yang suka multitasking.

Secara garis besar, intinya smartphone ini mampu menelan banyak aplikasi yang ringan sekali hingga yang sedikit berat. Dalam uji coba ini, saya mencoba untuk memainkan salah satu game “berat” yang cukup populer seperti World of Warships. Game ini bisa berjalan dengan cukup baik dan tidak begitu mengejutkan. Snapdragon 625 sebenarnya sudah cukup menjadi barometer yang baik untuk menjadikan smartphone sebagai semi-flagship class. Walau disandingkan dengan kakaknya seperti Snapdragon 8xx Series, seri 6 dari Snapdragon mungkin bisa kalah, tapi itu kalau kita sebagai user jeli yang sangat mementingkan angka.

Multitasking-pun dapat ditelan dengan cukup baik oleh Redmi 5 Plus dan Multi-Window pun telah diikutsertakan oleh MIUI 9 untuk memberikan multitasking yang sangat menarik dimana 2 aplikasi bisa dijalankan bersamaan. Namun demikian, MIUI memiliki suatu kelemahan yang cukup fatal menurut saya yang nantinya akan dibahas pada bagian software.

Redmi 5 Plus – Software | Android Nougat dan MIUI 9 menjadi tombaknya.

Android Nougat 7.0 dan MIUI 9 menjadi tombak Redmi 5 Plus sebagai sistem operasinya. Duo Kombinasi ini sebenernya tidak terlalu baru karena Xiaomi Redmi Note 4, Note 5A, dan 5A, dan beberapa perangkat Xiaomi sebelumnya sudah mendapatkan kombinasi ini kecuali Mi A1 yang memang dikhususkan sebagai perangkat Android One yang berarti perangkat itu berbasis Android murni layaknya yang dimiliki Google Pixel.

MIUI 9 adalah salah satu update yang cukup signifikan untuk lini Xiaomi yang mendapatkannya karena salah satu fitur yang paling dinanti-nanti, yaitu multi-window akhirnya bisa dirasakan bagi pemilik perangkat Xiaomi. Namun demikian, MIUI 9 yang disuguhkan untuk Redmi 5 Plus ini pun tidak terlalu berbeda dengan apa yang sudah ada.

Hal yang paling menonjol di Redmi 5 Plus untuk MIUI 9 menurut pengamatan saya adalah pada sektor “visual”. MIUI 9 memperlihatkan tampilan yang lebih segar dan membuat turunan dari Android ini menjadi lebih unik dan menarik untuk dilihat tidak seperti smartphone yang dibuat dari China pada umumnya. Hal itu didukung juga dengan tampilan dari Redmi 5 Plus yang mengusung layar Full HD + sehingga tampilan pada layar Redmi 5 Plus ini terlihat lebih tajam dibandingkan Redmi Note 4 atau yang sederajat.

Selain itu, hal yang sangat terlihat adalah berpindahnya capacitive-navigation button dari “dagu” smartphone besutan Xiaomi pada umumnya kedalam layar. Ini tentunya sangat menarik dan disaat yang bersamaan aga annoying karena akhirnya tombol navigasi ini memakan layar yang digadang sebagai full screen display. Walau kecil, ini sedikit mengganggu. Pada perangkat besutan Samsung, Home Button walau bersifat on-screen navigation button, memiliki sebuah sistem haptic feedback dan force touch a la Apple dimana dengan memberikan sedikit tekanan, tombol kembali ke halaman utama bisa terasa tertekan tanpa perlu memunculkan navigation button. Dikarenakan Redmi 5 Plus tidak memiliki hal ini, maka tombol navigasi harus selalu ada. Yasudahlah yah, namanya juga smartphone on budget. Masa mau minta lebih harga murah. Ya ga Gwiples?

Redmi 5 Plus – Display | Full Screen Display … for everyone?

Layar yang diusung oleh Redmi 5 Plus berada di resolusi FHD+. Gampangnya, layar Redmi 5 Plus itu 5.99inci (tanggung banget yah), dan memiliki resolusi layar sebesar 2160×1080 yang berasio 18:9 dimana umumnya smartphone sebelum era 18:9 (coba jadi tahun gitu 1899 *ganyambung*), memiliki rasio 16:9 dan resolusi FHD atau Full HD pada 1920×1080 saja.

Full Screen Display ini terlihat apik apalagi dengan musimnya cinematic video yang mulai bertebaran di Youtube membuat konsumsi media video sekarang pun mulai berubah menjadi dalam rasio 18:9, dan bukan lagi 16:9 yang mulai terlihat lebih kotak.

Namun demikian, seperti yang sudah disebutkan pada bagian sebelumnya, tombol navigasi yang dipindahkan ke layar akhirnya malah memotong “halus” layar yang luas ini dalam posisi portrait. Tombol navigasi tentunya akan hilang secara otomatis saat kita bermain pada posisi landscape atau sedang nonton video di Youtube.

Redmi 5 Plus – Camera | Oke oke aja sih. Andai bisa lebih lagi …

Hal lainnya yang di push oleh Xiaomi untuk Redmi 5 dan Redmi 5 Plus adalah bagaimana kamera yang disematkan oleh Xiaomi ini bisa sekelas flagship kamera. Tentunya ini bukan cuman sekedar pernyataan, akan tetapi memang kualitas foto yang dihasilkan …. oke oke aja. Ohiya, kameranya cuman satu yah. Bukan 2 seperti MiA1.

Kenapa oke-oke aja? Karena sebenarnya untuk segi kamera sepertinya Xiaomi memang kurang bisa bersaing dengan beberapa pemangsa pasar kamera. Sebagai contoh, S8 tentunya bisa melibas Redmi 5 Plus dari segi ketajaman. Akan tetapi, tentu saja tidak apple to apple. Jadi kalau dibandingkan dengan yang sekelas, yah kamera Redmi 5 Plus tentu oke-oke saja. Not too bad, tapi tidak impresive seperti ikan yang ada di kasta atas.

Sebagai catatan, Xiaomi ternyata sedikit merubah design kameranya. Yang awalnya flushed alias masuk atau sejajar dengan bodinya untuk kamera Xiaomi seperti contohnya di Redmi Note 4, Redmi 5 Plus dan mungkin juga Redmi 5 memiliki kamera yang menonjol keluar. Artinya apa loh? Artinya kalian harus extra hati-hati apabila meletakan smartphone ini ke permukaan dengan bodi belakang yang menyentuh surface-nya. Kasar sedikit dan lensa kameranya bisa menjadi baret yang berarti bisa saja merusak hasil foto nantinya.

Perihal kamera depan, yah memang tidak ada yang terlalu wow banget. Sensornya masih sama dengan seri sebelumnya, namun ada 1 penambahan, yaitu Selfie Flashlight yang berada disebelah proximity sensor. Flash-nya cukup terang, jadi buat kalian yang demen selfie selagi mungkin, nonton konser Anisong(?), ini bisa jadi selfie kamera yang cukup oke.

Redmi 5 Plus – Design | Layar kekinian … ada lagi?

Dan … kita sampai ke point terakhir untuk di review. Setelah melihat keseluruhan luar dalam dari Redmi 5 Plus, bagaimanakah design dari Redmi 5 Plus ini? Jawabannya adalah, yah tetep gitu aja. Selain dari bagian depan yang sudah dirombak untuk menjadi rumah baru dari layar fullscreen yang memang lagi trending, bagian belakangnya memang terkesan Xiaomi banget. Ini bukannya hal yang buruk. Justru bisa dibilang “better” bahkan dibandingkan smartphone lain yang salah menempatkan fingerprint sensor atau bahkan menghilangkannya. Akan tetapi, setelah dari Redmi Note 3, Note 4, dan juga seri Redmi lainnya, sepertinya dengan adanya perombakan layar depan, bagian belakang juga bisa dibuat lebih fresh.

Selain itu dari segi desing, menurut saya bagian bawah juga sudah perlu sedikit perombakan. Speaker Grill-nya memang terlihat ada 2, namun demikian, sayangnya yang berfungsi hanya sebelah kanan saja. Sepertinya yang kiri hanya dummy sama seperti yang ada di Redmi Note 4. Bagian bawah sepertinya akan lebih fungsional jika dibuat seperti Mi A1 dimana bagian tengah micro USB diganti dengan USB Type-C, dan juga adanya lubang earphone jack disebelah kiri.

Secara overall, design dari Redmi 5 Plus sudah sedikit berubah paling tidak dibagian depan agar bisa terlihat lebih apik untuk layar fullscreen-nya. Namun, beberapa bagian masih Xiaomi banget, dan walau tidak buruk, ada baiknya untuk diupgrade. Selain itu, walau layar depan yang fullscreen, sayangnya dagu dan jidat dari Redmi 5 Plus ini masih terlalu “jenong” sehingga masih terkesan bagaikan smartphone biasa dan terkadang membuat saya salah pencet kirain navigation button masih di bodi dan bukan di layar.

Redmi 5 Plus – Kesimpulan 

Jadi, intinya apa?

Redmi 5 Plus adalah salah satu smartphone budget yang lebih on-point dan worth secara harga. Dibandingkan dengan kompetitornya, Redmi 5 Plus atau Redmi 5 menjadi kandidat yang sangat lezat untuk dicaplok bagi yang sedang ingin upgrade ke “yang baru” tapi tidak mau merogoh kocek yang dalam. Jeroan yang mirip dengan Redmi Note 4 tentunya membuat Redmi 5 Plus akan memiliki reputasi yang sangat baik mengingat kemampuan Redmi Note 4 yang sudah cukup mumpuni, dan hanya berkisar di harga 2jt-an pada saat secara resmi diumumkan di Indonesia.

Namun demikian, Redmi 5 Plus dan Redmi 5 bisa saja menjadi “biasa saja” karena walau memiliki “layar kekinian”, sisahnya masih biasa saja. Sensor kamera yang dipakai sama seperti Mi A1, jeroan yang secara garis besar mirip Redmi Note 4, tidak adanya Fast Charging (mungkin untuk saat ini?), dan juga salah satu yang sangat disayangkan adalah walau Mi A1 sudah memakai port USB-C, lini Redmi masih sangat bergantung dengan micro-USB yang sudah mulai sedikit ketinggalan jaman (mungkin karena Mi A1 itu berada di seri Mi yang harusnya menjadi flagship, maka Redmi tetap mendapat versi budet). Selain itu salah satu komplain yang saya miliki adalah betapa rapatnya tombol navigasi yang membuat jempol besar saya kurang “lihai” untuk manuver diatas tombol navigasi.

Tapi tentunya Redmi 5 Plus tidak semuanya negatif. Dengan harga mulai dari 1.6 Juta untuk versi paling dasar yaitu Redmi 5 2GB/16GB, dan harga 2.699 Juta, kita akan mendapatkan otak Snapdragon 450 (Redmi 5) atau Snapdragon 625 (Redmi 5 Plus), kamera yang cukup oke dicahaya terang, body yang cukup kokoh, layar kekinian rasio 18:9 yang cukup menawan, dan juga opsi hybrid Dual-Sim | microSD-SIM yang juga sudah mendukung 4G di Indonesia.

Redmi 5 Plus – Jadi, Apakah Layak Dibeli? | Punya yah oke, kalau tidak …

Salah satu value yang saya temukan dari Redmi 5 Plus adalah kalau bisa punya yah oke, kalau tidak … yasudahlah mungkin emang belom cocok. Kenapa demikian? Secara spesifikasi, Redmi 5 Plus belum bisa dibilang sebagia “major bump” dari pendahulunya. Redmi Note 4 sudah memiliki hampir keseluruhan dari apa yang Redmi 5 Plus bisa berikan. Namun demikian, dengan logika “dagang” elektronik sesuai engko-engko Roxy, Redmi Note 4 tentunya perlahan akan mulai di phase-out atau bahasa jawanya “dipensiunkan”, membuat Redmi 5 Plus menjadi opsi terdekat (atau Redmi 5 kalau mau yang lebih affordable).

Lalu kenapa bisa dibilang belum cocok? Ada beberapa kemungkinan untuk mengapa upgrade ke Redmi 5 atau Redmi 5 Plus bisa dilewatkan. Salah satunya adalah, jika kalian pengguna Redmi Note 4, alasannya sudah seringkali disebutkan diatas yaitu upgrade-nya ga jauh-jauh amat. Selain itu, ada juga flash sale yang cukup menyulitkan untuk Gwiples agar dapat hands-on dengan perangkat ini. Selain itu, untuk mengantri di Xiaomi Official Store seperti yang saya temukan di Summarecon Mall Serpong, ada batas penjualan perangkat ini setiap harinya, dan cuman bisa didapatkan apabila kita mengantri pagi-pagi buta bahkan sebelum mall buka.

Yang terakhir, adalah kemungkinan Redmi Note 5 Pro (mungkin disebut Redmi 5 Pro kali yah kalau masuk Indonesia) untuk masuk ke Indonesia dalam waktu yang singkat nanti. Mengingat kejadian dimana Mi A1 dirilis tidak lama setelah Mi 5X dijual di pasar China sebagai perangkat MIUI sedangkan Mi A1 dirilis di Indonesia dan India dalam waktu dekat sebagai perangkat Android One. Hal ini tentunya membuat Redmi Note 5 Pro sebagai jawara dari seri Redmi 5 Xiaomi pada tahun 2018 dikarenakan adanya beberapa upgrade yang lebih signifikan.

Jadi intinya Gwiples, kalau kalian mungkin masih memegang Redmi Note 3, atau mungkin Redmi 1S kali yah biar paling jadul, Redmi 5 dan Redmi 5 Plus bakalan bikin hidup “ngelag” kalian akan menjadi lebih baik dan lebih “mewah” dengan fitur-fitur elegan yang diberikan Xiaomi di Redmi 5 Plus. Akan tetapi, bagi kalian yang memakai Redmi Note 4, mugkin ada baiknya untuk menunggu Redmi Note 5 Pro karena ini lebih disebut “beast” sedangkan adik-adiknya di seri Redmi 5 adalah trainee.

Sekian Review Redmi 5 Plus ini. Jangan sampai ketinggalan informasi, review, dan berita menarik seputar Anime, Manga, Pop Culture, Events, Teknologi, dan juga Games dengan cara subscribe ke mail-list dari GwiGwi.com.

Sampai jumpa di review berikuta, FSPlus signing out!

Mengenai Review Redmi 5 Plus

Perangkat yang direview merupakan Redmi 5 Plus 4GB/64GB yang merupakan versi teratas dari seri Redmi 5 dan dijual resmi oleh Mi Indonesia melalui PT.Erajaya dan TAM. Perangkat ini telah diuji coba untuk review ini selama kurang lebih sebulan dan yang tertulis adalah pengalaman menggunakan perangkat ini melalui point-of-view pengguna awam atau penggunaan pada umumnya.

Redmi 5 Plus ini menjalankan sistem operasi Android Nougat 7.0 dan berada dalam lingkup ROM MIUI 9 versi Indonesia yang memiliki akses untuk Google Play Store. Perangkat ini dipasangkan dengan Operator XL untuk uji cobanya dan tidak dipasangkan dengan memori penyimpanan external.

Gallery[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_gallery interval=”3″ images=”37997,37995,37993,37994,37992,37991,37990,37989,37988,37987,37986,37985,37984,37983,37982,37981,37980,37979,37978,37977,37976,37975,37974,37973,37972,37971,37970,37969,37968,37967,37966″ img_size=”full” onclick=””][/vc_column][/vc_row]

Advertisement

News

PS5 Bakal Punya Hub Anime Khusus dari Sony dan Crunchyroll

Published

on

By

Ps5 Bakal Punya Hub Anime Khusus Dari Sony Dan Crunchyroll

Pengguna PlayStation 5 nantinya akan memiliki tempat khusus untuk menemukan berbagai konten yang berkaitan dengan anime. Sony Interactive Entertainment dan Crunchyroll mengumumkan kolaborasi untuk menghadirkan sebuah anime hub di PS5.

Fitur baru tersebut dirancang sebagai ruang bagi pemain untuk menemukan anime sekaligus game yang terinspirasi dari anime. Meski nama resmi hub ini belum diumumkan, Sony dan Crunchyroll menargetkan peluncurannya pada musim semi 2027.

Informasi lebih lengkap mengenai fitur serta layanan yang ditawarkan dijanjikan akan diumumkan menjelang peluncurannya.

Jadi Tempat Menemukan Anime dan Game

Anime hub ini akan menjadi bagian dari ekosistem PS5 yang mempertemukan dua komunitas besar, yaitu penggemar anime dan gamer.

Melalui fitur tersebut, pemain nantinya dapat menemukan game yang menggunakan karakter atau dunia dari anime favorit mereka. Di sisi lain, hub ini juga diharapkan menjadi sarana untuk menemukan franchise baru yang sebelumnya belum dikenal oleh pengguna.

Selain menjadi pusat penemuan konten, hub tersebut juga akan memberikan akses yang lebih mudah menuju Crunchyroll.

Kehadirannya akan melengkapi aplikasi Crunchyroll yang saat ini sudah tersedia di PS5. Melalui aplikasi tersebut, pengguna dapat menikmati berbagai tayangan anime, mulai dari episode terbaru, film, seri klasik, hingga konten populer lainnya.

Bagian dari Kolaborasi Sony dan Crunchyroll

Presiden Crunchyroll Rahul Purini menyebut kehadiran hub baru ini sebagai langkah berikutnya dalam kerja sama antara Crunchyroll dan Sony Interactive Entertainment.

Menurutnya, pengembangan fitur tersebut sejalan dengan upaya Crunchyroll untuk menghadirkan pengalaman anime di tempat yang memang sudah sering dikunjungi oleh para penggemarnya.

Kolaborasi antara kedua perusahaan sendiri bukanlah sesuatu yang baru. Crunchyroll telah memiliki integrasi dengan ekosistem PlayStation melalui layanan streaming dan berbagai inisiatif terkait keanggotaan.

Dengan anime hub mendatang, hubungan antara konten anime dan gaming di platform PlayStation akan semakin diperluas.

Sony Terus Perluas Konten Anime di PlayStation

Pengumuman ini juga menunjukkan bagaimana Sony terus memperkuat kehadiran anime dalam ekosistem hiburannya.

Pada 2025, Sony turut mengumumkan proyek anime Ghost of Tsushima: Legends yang dijadwalkan hadir melalui Crunchyroll pada 2027.

Sementara itu, anime hub untuk PS5 masih belum memiliki nama resmi. Sony Interactive Entertainment dan Crunchyroll dijadwalkan mengungkap lebih banyak informasi sebelum fitur tersebut meluncur pada musim semi 2027.

Bagi penggemar anime sekaligus pengguna PS5, fitur ini berpotensi menjadi salah satu tempat baru untuk menemukan rekomendasi anime dan game dalam satu ekosistem.

 

Continue Reading

News

PlatinumGames Beri Sinyal Bayonetta Masih Punya Masa Depan

Published

on

By

Platinumgames Beri Sinyal Bayonetta Masih Punya Masa Depan

Masa depan Bayonetta tampaknya masih terbuka lebar. PlatinumGames memberikan sinyal bahwa mereka masih memiliki rencana untuk terus mengembangkan karakter ikonik tersebut sekaligus memperluas dunia yang menjadi latar seri Bayonetta.

Dalam wawancara bersama Famitsu, Presiden PlatinumGames Atsushi Inaba belum mengungkap proyek baru secara spesifik. Namun, ketika ditanya mengenai masa depan franchise tersebut, Inaba menyampaikan bahwa studio masih memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan Bayonetta dan dunianya.

Pernyataan tersebut tentu menarik perhatian mengingat seri ini belum mendapatkan game utama baru dalam beberapa waktu terakhir. Judul terbaru yang dirilis adalah spin-off Bayonetta Origins: Cereza and the Lost Demon pada 2023.

Banyak Developer Penting Telah Meninggalkan PlatinumGames

Kondisi internal PlatinumGames memang mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah developer senior yang sebelumnya terlibat dalam pengembangan seri Bayonetta telah meninggalkan studio.

Salah satu nama terbesar adalah Hideki Kamiya, kreator Bayonetta sekaligus salah satu pendiri PlatinumGames. Kamiya meninggalkan perusahaan pada 2023 dan kemudian mendirikan studio baru bernama Clovers, yang kini mengembangkan Okami 2.

Selain Kamiya, sejumlah developer lain seperti Abebe Tinari, Yusuke Miyata, Takahisa Taura, Kenji Saito, Masaki Yamanaka, serta Yusuke Hashimoto juga telah meninggalkan PlatinumGames. Hashimoto sendiri kemudian kembali bergabung dengan Capcom dan terlibat dalam proyek Onimusha.

Menariknya, Clovers juga memiliki sejumlah mantan developer yang sebelumnya bekerja dalam pengembangan Bayonetta 3. Kondisi tersebut membuat masa depan seri ini semakin menarik untuk diperhatikan.

Bayonetta Punya Hubungan dengan SEGA dan Nintendo

Selain perubahan internal, Bayonetta juga memiliki situasi kepemilikan IP yang cukup unik. Franchise tersebut berkaitan dengan SEGA dan Nintendo, sementara Nintendo menjadi pihak yang menerbitkan Bayonetta 2 dan Bayonetta 3 secara eksklusif di platformnya.

Komentar Inaba mengenai masa depan Bayonetta disampaikan dalam wawancara bersama Hyung-tae Kim, CEO Shift Up, dalam rangka mempromosikan kolaborasi Bayonetta dengan Stellar Blade untuk Nintendo Switch 2.

Inaba juga menyebut Switch 2 sebagai platform yang memiliki potensi besar. Meskipun PlatinumGames belum memiliki game original sendiri untuk konsol tersebut, pernyataan ini kembali membuka kemungkinan menarik mengenai proyek mereka di masa depan.

Dalam beberapa tahun terakhir, PlatinumGames juga semakin banyak mengerjakan proyek bersama perusahaan lain, termasuk keterlibatan dalam Ninja Gaiden 4, Final Fantasy XVI, eFootball, dan Metal Gear Solid Delta: Snake Eater. Studio tersebut kini juga mengembangkan game Teenage Mutant Ninja Turtles bersama Paramount.

Sementara itu, Inaba sebelumnya menyatakan keinginan PlatinumGames untuk berkembang dari sekadar studio pengembang menjadi perusahaan yang mampu membuat, memasarkan, berkomunikasi, hingga menerbitkan game sendiri.

Untuk saat ini memang belum ada pengumuman mengenai Bayonetta 4 atau proyek Bayonetta baru lainnya. Namun, pernyataan terbaru Inaba menunjukkan bahwa PlatinumGames masih melihat potensi untuk melanjutkan perjalanan sang Umbra Witch di masa mendatang.

Continue Reading

News

RyzaChat AI Bakal Batasi Input Pemain Mulai Oktober, Spiral AI Perketat Moderasi

Published

on

By

Ryzachat Ai Bakal Batasi Input Pemain Mulai Oktober, Spiral Ai Perketat Moderasi

Spiral AI mengumumkan bahwa RyzaChat AI, game chatbot RPG yang menghadirkan karakter Ryza dari seri Atelier Ryza, akan mendapatkan pembatasan input pemain melalui pembaruan model AI pada Oktober 2026.

Keputusan tersebut diambil setelah pengembang menemukan adanya kekhawatiran terkait penyalahgunaan sistem AI oleh sebagian pengguna. Spiral AI menilai beberapa bentuk interaksi berpotensi merusak citra karakter Ryza maupun franchise Atelier secara keseluruhan.

Pengembang menegaskan bahwa RyzaChat AI tidak seharusnya digunakan untuk membuat karakter dari sumber aslinya mengeluarkan pernyataan yang tidak sesuai dengan kepribadiannya. Hal ini mencakup upaya membuat Ryza membahas konten yang melanggar norma atau ketertiban umum, hingga membuat screenshot palsu yang seolah-olah memperlihatkan karakter mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi di dalam game.

Sistem Moderasi RyzaChat AI Masih Bisa Ditembus

Ryzachat Ai Bakal Batasi Input Pemain Mulai Oktober, Spiral Ai Perketat Moderasi

Sebelumnya, RyzaChat AI telah menggunakan sistem moderasi hingga tiga lapis. Input pemain terlebih dahulu diperiksa oleh Game Master AI, yang bertugas menyaring kata atau instruksi bermasalah sebelum diteruskan kepada Character AI.

Ryza juga dirancang untuk menghindari pembicaraan yang terlalu jauh dari karakter maupun dunia Atelier Ryza. Apabila respons yang dihasilkan masih mengandung ekspresi yang dianggap tidak pantas, sistem akan menghapus respons tersebut. Konten yang telah ditolak juga tidak disimpan ke dalam memory AI.

Namun, sistem tersebut ternyata belum sepenuhnya mampu mencegah berbagai upaya manipulasi. Sejumlah pengguna disebut berhasil melewati filter menggunakan prompt injection dan teknik serupa.

Karena itu, Spiral AI kini memilih pendekatan yang lebih ketat dengan membatasi jenis input yang dapat dikirim pemain kepada Ryza. Pengembang juga tengah mempertimbangkan aturan tambahan, termasuk kemungkinan menerapkan batas jumlah karakter dalam input, sambil terus memantau pola penggunaan sistem.

Spiral AI Mulai Tindak Screenshot Palsu

Tidak hanya membatasi percakapan, Spiral AI juga mulai mengambil tindakan terhadap screenshot palsu atau hasil editan yang membuat RyzaChat AI terlihat menghasilkan respons yang sebenarnya tidak pernah muncul dalam game.

Developer menyebut mereka telah mulai mengirimkan permintaan takedown serta laporan kepada sejumlah platform online yang menjadi tempat beredarnya konten tersebut.

Langkah ini juga berpotensi diterapkan pada SophieChat: AI, proyek chatbot lain dari Spiral AI yang menghadirkan karakter Sophie Neuenmuller dari Atelier Sophie.

Saat ini, RyzaChat AI tersedia di iOS dan Android serta sudah mendukung Bahasa Indonesia. Dengan demikian, pengguna Indonesia tetap dapat berinteraksi dengan Ryza menggunakan bahasa lokal. Namun setelah pembaruan Oktober diterapkan, ruang bagi pemain untuk mencoba mengeksploitasi respons AI diperkirakan akan menjadi jauh lebih terbatas.

 

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending