Connect with us

Berita Anime & Manga

Review Gate: Jieitai Kanochi nite, Kaku Tatakaeri Episode 8

Published

on

[alert-warning]SPOILER ALERT! Read at your own risk[/alert-warning]

GwiGwi.com – Ketemu lagi dengan LeinRa yang akan kembali mereview anime Gate: Jieitai Kanochi nite, Kaku Tatakaeri. Di episode kali ini, teman-teman Itami dari dunia lain pergi ke Jepang. Kira-kira akan seperti apa pengalaman mereka mengunjungi dunia lain yang tak pernah mereka kenali, dengan segala kemajuan teknologi dan perbedaan budaya yang jauh dari bayangan mereka? Saat baru menginjak tanah Tokyo saja, Pina sudah dikejutkan dengan bangunan-bangunan pencakar langit yang dideskripsikannya sebagai “bangunan yang menyentuh langit”.

mpc-hc64_nvo 2015-08-23 10-41-19-375.avi_snapshot_00.27_[2015.08.26_15.38.00]

Sesampainya mereka di sana, mereka disambut oleh Komakado, seorang intel dari Public Safety yang diperintahkan untuk mengawal Itami dan kawan-kawan. Layaknya seorang intel, dia sudah mempelajari banyak informasi mengenai pihak yang akan dikawalnya…yah setidaknya Itami. Dia menceritakan bahwa Itami dulunya mendapat peringkat terendah kedua dalam pelatihan perwira dan hanya tidak mendapat peringkat akhir karena ada salah satu pengikut latihan yang terluka. Setelah diluluskan, dia diberi peringkat “lulus pas-pasan”. Atasannya kesal dan “melempar” itami ke pelatihan ranger yang entah bagaimana berhasil dijalani Itami hingga selesai. Karena alasan tersebut, dia dipindahkan ke asrama JSDF di Narashino. Evaluasi pribadinya menahan Itami di pangkat letnan dua, namun karena kontribusinya dalam Insiden Ginza dia dinaikkan menjadi letnan satu. Komakado juga menyatakan bahwa reputasi Itami di pos buruk karena dia pemalas dan otaku, tapi entah bagaimana dia juga adalah anggota dari S Special Forces, sebuah kesatuan pasukan khusus JSDF yang dibentuk berdasarkan model dari kesatuan Green Beret dan Delta Force dalam US Army (dan Kuribayashi kembali kaget setengah mati mendengar fakta tersebut).

mpc-hc64_nvo 2015-08-23 10-41-19-375.avi_snapshot_01.32_[2015.08.26_15.47.08]

Mereka lalu memulai perjalanan mereka di bawah kawalan Komakado dan orang-orangnya. Sementara TukaLelei, dan Rory sibuk melihat-lihat jalanan di luar (yang sudah dihias dengan pohon-pohon natal); Itami menyarankan agar mereka mengunjungi toko pakaian terlebih dahulu karena Tuka masih memakai jeans dan menurutnya tidak baik kalau dia ke gedung majelis dengan pakaian seperti itu. Akhirnya mereka membelikan setelan untuk Tuka (Lelei dan Rory memutuskan untuk ke gedung majelis dengan pakaian mereka yang biasanya).

mpc-hc64_nvo 2015-08-23 10-41-19-375.avi_snapshot_04.00_[2015.08.26_16.02.34]

Dari toko baju, mereka lalu mampir dulu ke rumah makan untuk makan Gyuudon. Masa tamu dari dunia lain cuma disuguhi Gyuudon? Karena Itami harus membagi dana yang mereka punya untuk perjalanan mereka ke gedung majelis, jadi mereka hanya dapat makan siang seharga 500 yen per orang dari dana tersebut. Yah, walau makanan murah, tetap saja itu makanan yang bukan biasa ada di dunia lain tersebut. Apalagi sepertiya di dunia Pina dan Bozes memakan sesuatu yang mentah (Gyuudon terkadang disajikan dengan telur mentah sebagai toppingnya).

mpc-hc64_nvo 2015-08-23 10-41-19-375.avi_snapshot_04.47_[2015.08.26_16.11.55]

Akhirnya Itami dan kawan-kawan sampai di gedung majelis. Namun; hanya Itami, Lelei, Tuka, dan Rory yang turun dari bis. Pina dan Bozes yang datang ke Jepang untuk tujuan mengajukan permohonan maaf akan diantar ke area lain karena secara resmi mereka tidak dianggap sedang berada di Jepang bersama Itami dan lainnya. Mereka berdua diantar ke sebuah hotel; di mana mereka bertemu dengan Shirayuki Reiko, penasihat perdana menteri Jepang, dan Sugiwara Kouji dari Kementerian Luar Negeri. Pertemuan yang mereka lakukan bukan konferensi perdamaian, tapi untuk memastikan posisi kedua pihak setara dalam antisipasi kemungkinan adanya konferensi tersebut pihak dari Jepang ingin mendiskusikan dan mengambil keputusan mengenai beberapa masalah yang masih ada di antara kedua belah pihak dalam pertemuan tersebut.

mpc-hc64_nvo 2015-08-23 10-41-19-375.avi_snapshot_05.19_[2015.08.26_16.23.04]

Sementara itu, sidang nasional sudah siap dilaksanakan dengan hadirnya Itami, Lelei, Tuka, dan Rory ke dalam ruang sidang. Pertanyaan dilontarkan oleh anggota sidang Kouhara Mizuki. Pertama dia bertanya kepada Itami mengenai alasan jatuhnya 150 korban jiwa dari pengungsi di special region yang seharusnya berada di bawah perlindungan JSDF. Itami dengan tenangnya menjawab bahwa naga yang mereka lawan memang terlalu kuat. Beberapa anggota sidang tercengang dengan jawaban tenang Itami tersebut, dan Mizuki menekan Itami dengan mempertanyakan apakah dia tidak merasa bertanggung jawab atas semua nyawa yang telah meninggal tersebut. Itami menyatakan rasa sedihnya atas banyaknya pengungsi yang meningal pada insiden tersebut, dan menyatakan juga bahwa kapabilitas mereka saat itu kurang. Mizuki mengartikan jawaban Itami sebagai pengakuan bahwa JSDF bertanggung jawab atas korban-korban tersebut, tapi Itami membantah dan menyatakan bahwa yang salah adalah kurangnya persenjataan yang mencukupi untuk melawan naga tersebut. Itami menjelaskan bagaimana senjata kaliber 7.62mm mereka memantul saat ditembakkan ke naga tersebut, seakan mereka adalah kapal tempur. Dia sangat berharap mereka memiliki persenjataan yang lebih kuat saat itu. Untuk mendukung pernyataan Itami, pihak lain di sidang tersebut membabarkan hasil analisis mereka terhadap sisik naga tersebut yang mereka deskripsikan sama kuatnya dengan tungsten dan dapat menghembuskan api bertemperatur tinggi. Naga tersebut, menurut mereka, bisa dikatakan bagaikan tank terbang. Karena itu, meminta tidak jatuhnya korban jiwa dalam menghadapi monster semacam itu bisa dikatakan cukup tidak masuk akal.

mpc-hc64_nvo 2015-08-23 10-41-19-375.avi_snapshot_07.14_[2015.08.26_16.40.27]

Sesi tanya jawab berikutnya adalah untuk Lelei. Pertama dia ditanyai apakah kebutuhan mereka terpenuhi saat tinggal di pengungsian yang dibangun JSDF untuk mereka. Dia menjawabnya dengan iya; baik kebutuhan sandang, pangan papan, dan psikis. Jika mereka terus meminta kebutuhan lainnya, mungkin tidak akan habisnya. Mizuki lalu melanjutkan pertanyaannya untuk mengetahui apakah Lelei merasa bahwa aksi yang dilakukan JSDF di special region turut berkontribusi dalam jatuhnya 150 korban jiwa di antara pengungsi tersebut, yang dijawabnya dengan tidak.

mpc-hc64_nvo 2015-08-23 10-41-19-375.avi_snapshot_08.16_[2015.08.26_16.48.13]

Berikutnya adalah giliran Tuka untuk dilempari pertanyaan. Pertanyaan pertama, dan mungkin paling penting, yang ditanyakan Mizuki adalah apakah telinga elf Tuka tersebut asli atau tidak. Tuka membuktikannya dengan menunjukkan telinganya sepenuhnya dengan menyibak rambutnya. Dia juga menggerakkan telinganya untuk lebih membuktikan lagi kalau telinganya itu asli. Sontak satu ruangan sidang riuh dan beberapa anggota sidang bahkan sampai mengeluarkan handphone mereka untuk memotret Tuka sehingga pimpinan sidang terpaksa harus memerintahkan semua peserta sidang untuk tenang. Mizuki lalu menanyakan Tuka jika dia merasa ada masalah dengan cara JSDF menangani naga yang menyerang pengungsi yang mereka lindungi. Tuka hanya bisa menjawab tidak tahu, karena dia saat itu pingsan.

mpc-hc64_nvo 2015-08-23 10-41-19-375.avi_snapshot_08.52_[2015.08.26_16.57.14]

Rory mendapat giliran terakhir dalam sesi tanya jawab tersebut. Mizuki, melihat pakaian hitam dan tudung yang dipakai Rory yang menyerupai pakaian berkabung, merasa percaya diri bisa menekan JSDF dengan bertanya ke Rory. Pertama Mizuki meminta Rory untuk menceritakan kehidupannya di pengungsian. Rory mendeskripsikannya dengan sederhana: bangun di pagi hari, berdoa, menerima nyawa, berdoa, lalu tidur di malam harinya. Mizuki menanyakan maksudnya menerima nyawa, yang Rory deskripsikan dengan kegiatannya makan, membunuh, dan memberi persembahan untuk Emloy. Mizuki, yang sadar pertanyaannya telah menjurus ke arah yang bukan diinginkannya, mengganti pertanyaannya. Dia menyatakan bahwa Rory terlihat telah kehilangan seseorang yang berharga baginya, dan meminta pendapatnya apakah JSDF menurutnya bertanggung jawab dalam kejadian tersebut. Rory menjawab, dengan Lelei sebagai penerjemahnya, bahwa dia tidak mengerti maksud pertanyaannya itu karena keluarga Rory…belum selesai Lelei menerjemahkan jawaban Rory Mizuki memotong dengan menyatakan bagaimana seperempat dari pengungsi yang seharusnya dilindungi JSDF meninggal oleh serangan naga sementara JSDF tidak mengalami korban jiwa ataupun luka baik satupun di antara personilnya. Dia menyatakan bahwa JSDF yang seharusnya melindungi mereka justru lebih mementingkan keselamatan mereka sendiri dan berakhir menyebabkan nyawa pengungsi terancam. Mizuki, melihat reaksi Rory setelah mendengar terjemahan Lelei atas pernyataan Mizuki, menekan Mizuki untuk “menunjukkan warna sebenarnya dari JSDF”. Rory berteriak keras-keras “Apa kau bodoh?” Mizuki memastikan apa yang baru saja diteriakkan Rory, dan Rory menjawab bahwa dia bertanya apakah perempuan kecil yang memberi pertanyaan tersebut bodoh (ya, yang dia maksud adalah Mizuki).

mpc-hc64_nvo 2015-08-23 10-41-19-375.avi_snapshot_10.51_[2015.08.26_17.11.57]

Untuk menjawab pertanyaan Mizuki, Rory mendeskripsikan bagaimana Itami dan kawan-kawannya bertarung melawan naga saat itu. Dia menceritakan bahwa mereka berjuang sebisa mereka, sama sekali tidak menggunakan para pengungsi sebagai tameng, mereka justru bertempur dari jarak yang aman dari naga tersebut. Rory melanjutkan dengan bertanya apa salahnya prajurit memastikan diri mereka bertahan hidup. Menurut Rory, jika mereka mati sia-sia maka siapa lagi yang akan melindungi orang-orang di gedung majelis yang hanya bisa duduk nyaman dan komplain (tidak lupa dengan masih memanggil Mizuki sebagai little girl). Selain itu, menurutnya dengan mereka bisa kembali selamat tanpa korban jiwa setelah mengalahkan naga setidaknya harus patut diberikan pujian. Rory melanjutkan, JSDF bukan telah membiarkan mati seperempat dari pengungsi yang seharusnya mereka lindungi; baginya JSDF telah menyelamatkan tiga perempat dari pengungsi yang mereka lindungi dari serangan naga tersebut.

mpc-hc64_nvo 2015-08-23 10-41-19-375.avi_snapshot_11.54_[2015.08.26_17.24.22]

Karena kesal dipanggil sebagai little girl oleh Rory, Mizuki menegur Rory dengan menyatakan bahwa di Jepang ada budaya untuk menghormati yang lebih tua. Rory hampir akan menarik perban kapaknya dan mengamuk jika tidak dihentikan oleh Itami. Itami menjelaskan bahwa Rory sebenarnya adalah yang paling tua di antara semua anggota sidang yang hadir saat itu. Saat Mizuki menanyakan umur Rory, dia menjawab 961 tahun. Sontak semua anggota sidang kaget dan tak bisa berkata apa-apa. Mizuki lalu menanyakan umur Tuka, dan Tuka menjawab 165 tahun. Mizuki langsung mengira Lelei juga berumur tiga angka, namun Lelein menjawab bahwa dia masih berumur 15 tahun. Lelei lalu maju kembali ke podium dan menjelaskan bahwa dirinya adalah manusia, di mana di dunia mereka berumur paling tua sekitar 60-70 tahun dan adalah penghuni mayoritas dunia mereka. Dia lalu menjelaskan tentang ras Tuka, elf, yang dideskripsikannya sebagai ras yang hidup panjang dan tidak menua. Selain itu, Tuka adalah elf langka, fairy type, yang hidup hampir abadi. Sedangkan Rory dulunya adalah manusia, namun semenjak menjadi demigod tubuhnya berhenti menua. Setelah sekitar 1000 tahun nantinya, demigod akan meninggalkan eksistensi fisik mereka dan menjadi arwah, kemudian menjadi dewa-dewi. Karena itulah konsep “masa hidup” tidak berlaku bagi mereka. Dan sesi edukasi singkat tersebut akhirnya mengakhiri sesi tanya jawab dari sidang nasional tersebut.

mpc-hc64_nvo 2015-08-23 10-41-19-375.avi_snapshot_13.19_[2015.08.26_17.36.54]

Sementara itu di ruang hotel tempat Pina dan Bozes bertemu dengan Penasehat Reiko dan Menteri Luar Negeri Kouji, mereka tampak sudah mendekati akhir pertemuan mereka. Kouji mengangkat masalah tawanan prajurit dari special region yang ditangkap JSDF saat Insiden Ginza 4 bulan lalu. Ada 6000 pasukan dari special region yang ditahan pihak Jepang, dan ingin melepaskan mereka berdasarkan permintaan dari puteri Pina. Pina menanyakan tebusan yang kira-kira mereka butuhkan untuk dilepaskannya tawanan-tawanan tersebut, namun Reiko menjawab bahwa Jepang tidak memakai sistem tebusan dalam melepaskan tawanan sehingga Pina tidak perlu khawatir soal itu, walau mereka memang mengharapkan sesuatu sebagai balasannya. Kouji menyerahkan daftar tawanan yang mereka tahan, dan menyatakan bahwa mereka bisa membebaskan sebagian kecil di antaranya saat itu juga. Bozes memberitahu Pina bahwa beberapa di antara prajurit yang ditawan tersebut adalah anak senator dan bangsawan. Maka dari itu, dengan keinginan mereka membebaskan sebagiannya sesegera mungkin dimaksudkan agar anak-anak senator dan bangsawan tersebut bisa membantu Jepang membangun hubungan baik yang lebih luas di antara mereka dengan orang-orang di special region. Pina akhirnya memutuskan untuk memeriksa daftar tawanan tersebut sebelum memutuskan tawanan yang akan segera dibebaskan. Dengan selesainya masalah tawanan tersebut, selesailah semua topik yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Mereka mengakhirinya dengan jabat tangan, yang rupanya bukan budaya yang ada di special region sehingga Pina sempat bingung sebentar.

mpc-hc64_nvo 2015-08-23 10-41-19-375.avi_snapshot_15.01_[2015.08.26_17.54.10]

Sementara itu; sudah waktunya Itami, Lelei, Tuka, dan Rory untuk keluar dari gedung majelis. Mereka tampak melakukan perjalanan pulang mereka melalui bis yang mereka pakai untuk ke gedung majelis. Namun di dekat lampu merah ada sekelompok mobil mencegat mobil-mobil pengawal Komakado sehingga hanya bis tersebut yang lolos lampu merah. Untungnya bis tersebut hanyalah tipuan. Itami dan kawan-kawannya sebenarnya menggunakan kereta bawah tanah. Tapi Pina dan Bozes tampak ketakutan karena mereka mengira mereka dibawa “ke bawah Bumi”. Yang agak mengejutkan, ternyata Rory juga takut berada di bawah tanah. Rupanya ada seorang demigod yang dikatakan mengendalikan semua yang terjadi di bawah tanah, yaitu Hardy. Sejak dua ratus tahun lalu dia selalu mengajak Rory menikah dan tak pernah menyerah setiap bertemu dengan Rory.

mpc-hc64_nvo 2015-08-23 10-41-19-375.avi_snapshot_16.58_[2015.08.26_18.10.31]

Komakado bergabung dengan mereka dari stasiun Kasumigaseki. Dia menjelaskan bahwa kelompok Itami direncanakan untuk mengganti kereta setibanya di Tokyo. Selain itu, tipuan bis yang mereka lakukan sebelumnya juga sukses. Semua pihak luar tertipu dengan pergantian rencana diam-diam tersebut. Tapi karena Rory yang tampak sudah tidak tahan untuk tetap di bawah tanah, Itami memutuskan untuk turun di stasiun Ginza. Komakado menghentikan Itami saat keluar, menjelaskan bahwa dia tidak bisa bertindak semaunya sendiri. Namun mendadak ada pengumuman bahwa terjadi kecelakaan dalam pemasangan kawat di antara stasiun Tokyo dengan stasiun Ginza sehingga kereta bawah tanah yang mereka naiki barusan tidak bisa lanjut berjalan. Tampaknya ini juga ulah pihak yang ingin macam-macam dengan Itami dan kawan-kawan.

mpc-hc64_nvo 2015-08-23 10-41-19-375.avi_snapshot_18.35_[2015.08.26_18.27.22]

Setelah naik ke permukaan, Komakado menjelaskan ke Itami bahwa “lawan” mereka bertujuan untuk melakukan demonstrasi. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka bisa “menyerang” mereka kapan pun mereka mau. Tapi karena rencana mereka terhadap bis dan kereta bawah tanah sudah gagal, lawan mereka akan memakai rencana yang lebih langsung dan jelas. Baru saja dia selesai bicara, ada orang asing yang mencopet kapak Rory…hanya untuk berakhir tidak kuat membawanya dan tertiban kapak tersebut. Komakado mencoba mengangkat kapak tersebut dengan tujuan mengamankan orang asing tersebut, tapi karena Itami telat mengingatkan Komakado dia juga berakhir dengan cedera di bahu dan lengannya karena juga tidak kuat mengangkat kapak tersebut. Selagi dimasukkan ke ambulans, Komakado menyuruh kelompok Itami untuk pergi ke Ruang Pertemuan Ichigaya malam itu juga.

mpc-hc64_nvo 2015-08-23 10-41-19-375.avi_snapshot_19.18_[2015.08.26_18.30.50]

Sebelum pergi ke tempat yang diberitahu Kamokado, Itami ingin mampir ke suatu tempat dulu (yang Kuribayashi kira adalah Akihabara). Mereka sampai di rumah warga biasa, dengan Itami tampak membawakan makanan untuk satu-satunya penghuni yang ada di rumah tersebut. Jelas teman-temannya bertanya-tanya siapa orang tersebut. Itami menjawab bahwa orang itu adalah…mantan istrinya!?

mpc-hc64_nvo 2015-08-23 10-41-19-375.avi_snapshot_20.46_[2015.08.26_18.40.50]

 

BONUS:

[youtube id=”UpDGfxVXaGY” width=”600″ height=”340″ position=”center”]

Advertisement

Berita Anime & Manga

Review Tomb Raider King Eps.1-2

Sama-sama mengusung tema dungeon crawling seperti Solo Leveling, mampukah adaptasi anime Tomb Raider King meraih kesuksesan yang sama? Simak ulasan dua episode pertamanya di sini.

Published

on

Review Tomb Raider King Eps.1 2

www.gwigwi.com – Dikhianati kontraktornya, “Tomb Raider” Jooheon Suh hampir saja mati di sebuah makam/tomb berisikan relik ajaib saat tetiba dia kembali 15 tahun lalu saat God’s Tombs ajaib belum bermunculan. Bertekad untuk membalas, berbekal pengetahuan dan keahliannya, dia pergi mengoleksi berbagai elik dengan tangannya sendiri.

TOMB RAIDER KING dianimasikan! Manhwa karya Sanji Jiksong ini tampaknya ingin ikut mencicipi kesuksesan SOLO LEVELING. Sesama sub genre Lit-RPG (cerita dengan mekanisme gim) dan dungeon crawling, mampukah mereka meraup harta kesuksesan yang sama?

Menjanjikan petualangan, misteri, atraksi aksi yang dibumbui strategi cerdik tak terduga, TOMB RAIDER KING memiliki banyak key selling point buat penyuka sub genre ini.

Cerita dengan cerdas tidak dimulai dari awal mula karir Jooheon. Penonton langsung disuguhi misteri pengkhianatan, kenapa dia bisa kembali ke masa lalu dan protagonis yang sudah jago, cepat memahami situasi dan langsung bertindak.

Alur ringkas cepat ini membantu memaku perhatian saat animasi dan art style gambar terasa cukup saja. Sisa informasi world building dieksposisikan tokoh utama sambil jalan yang untungnya lore TOMB RAIDER KING ini cukup sederhana dan mudah dicerna.

Mungkin karena keliatan sederhana ini juga, rasanya dunianya kurang terasa spesial. Tomb yang didatangi Jooheon saat baru sadar terinspirasi dari kisah populer ‘Kapak Emas’ dari dongeng Aesop. Memang boleh saja terinspirasi demikian, tapi seperti kurang ada polesan unik ala TOMB RAIDER KING itu sendiri. Ya, ada twist berbeda, namun kurang terasa menghentak.

Entah karena Jooheon yang digambarkan dengan istilah “OP” atau over power kah? Pemuda ini sudah sakti, pede, cerdas, pokoknya wah. Dari dua episode ini, belum ada tantangan berarti mau itu dari menghajar orang atau melawan monster. Fokus memperlihatkan hebatnya dia memang boleh saja, tetapi cerita seperti lupa memberikan suspense atau pembeda dari sub genre yang sama saat sekarang dunia sudah mengenal SOLO LEVELING dan SHANGRI-LA FRONTIER (tentang petualangan seorang gamer di dunia gim, Shangri-La Frontier).

Rakurou Hizutome atau Sunraku, protagonis SHANGRI-LA FRONTIER memang jago tapi diperlihatkan juga dia tidak bisa memakai armor hingga terkena serangan sekali saja sudah fatal. Hal demikian belum ada di TOMB RAIDER KING. Karakter Jooheon terkesan power fantasy untuk para pembaca merasa strong dan kurang memiliki kedalaman lain supaya audiens bisa relate, malahan dia kadang terasa angkuh menyebalkan.

Bila ingin sekedar melihat protagonis doing cool, strong, smart stuff dibumbui misteri dan petualangan, dan diakhiri dengan mendapat harta yang bisa bikin lebih cool, strong, smart lagi, TOMB RAIDER KING mungkin bisa jadi pilihan.

Review Tomb Raider King Eps.1 2

Review Tomb Raider King Eps.1 2

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 2: Otak Di Atas Otot, Kemenangan Strategi Tanpa Cheat!

Published

on

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

www.gwigwi.com – Banyak anime fantasi memulai cerita dengan tokoh utama yang dibuang karena dianggap tidak berguna. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System mengambil pendekatan yang sedikit berbeda. Masalah Elymas bukan karena ia lemah, melainkan karena semua orang terlalu cepat menyimpulkan nilai seseorang hanya dari label kelas yang ia terima. Gelar Heavy Knight dianggap sebagai jalan buntu, sementara Swordmaster diperlakukan seperti satu-satunya masa depan yang layak. Keputusan ayahnya mengusir Elymas dan mengangkat adik tirinya dari cabang keluarga sebagai pewaris terasa lebih sebagai cerminan obsesi terhadap status daripada keputusan yang benar-benar rasional.

Yang menarik, Elymas tidak menghabiskan waktunya untuk meratapi nasib atau berteriak ingin balas dendam. Ia justru melihat pengasingan itu sebagai kesempatan memulai hidup tanpa ekspektasi keluarganya. Berbekal pengetahuan tentang mekanisme dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah membaca seluruh buku panduan, setiap keputusan yang diambil terasa penuh perhitungan. Kekuatan utama anime ini bukan aksi besar pada dua episode pertama, melainkan kepuasan melihat seseorang perlahan membalikkan stigma dengan logika, pengalaman, dan strategi.

Dari sisi produksi, GoHands kembali mempertahankan identitas visualnya. Desain karakter terlihat bersih dengan pencahayaan yang kaya, sementara latar memiliki detail yang membuat dunia fantasinya terasa hidup. Sayangnya, gaya penyutradaraan mereka masih sulit diabaikan. Kamera terus bergerak, melakukan panning, zoom in, dan zoom out bahkan ketika adegannya hanya percakapan sederhana. Ada momen ketika pergerakan kamera justru lebih aktif daripada karakter yang sedang berbicara. Bagi sebagian penonton ini menjadi ciri khas, tetapi bagi yang lain justru terasa mengalihkan perhatian dari cerita.

Dua episode pembuka ini belum menawarkan kejutan besar, tetapi berhasil menanam rasa penasaran. Anime ini tidak mencoba meyakinkan penonton bahwa Heavy Knight adalah kelas terkuat. Sebaliknya, ia mengajak penonton mempertanyakan apakah sebuah sistem benar-benar salah, atau manusianya saja yang terlalu cepat memberi cap pada sesuatu yang belum dipahami. Pendekatan tersebut membuat perjalanan Elymas terasa lebih menarik daripada sekadar kisah “tokoh yang diremehkan lalu menjadi overpowered.”

Nilai: 8,5/10. Premisnya memang familier, tetapi cara membangun karakter utama dan tema tentang prasangka terhadap potensi seseorang membuat serial ini memiliki identitas yang cukup kuat. Jika GoHands sedikit mengurangi “kamera yang hiperaktif”, pengalaman menontonnya akan terasa jauh lebih nyaman.

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas yang Ternyata Overpowered!

Published

on

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas Yang Ternyata Overpowered!

www.gwigwi.com – Anime fantasi dengan tema tokoh utama yang diusir keluarganya memang bukan hal baru. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System (Tsuihou sareta Tensei Juukishi wa Game Chishiki de Musou suru) menghadirkan konflik yang cukup menarik sejak episode pertamanya. Elymas, putra keluarga bangsawan Edvaughn, dianggap gagal memenuhi harapan karena memperoleh kelas Heavy Knight, kelas yang dipandang tidak memiliki masa depan dibandingkan Swordmaster. Pandangan sempit tersebut membuat ayahnya mengambil keputusan yang sangat drastis.

Situasi semakin rumit ketika Malice, adik tiri Elymas yang berasal dari cabang keluarga, memperoleh kelas Swordmaster. Berbekal status tersebut, Malice dengan cepat menggantikan posisi Elymas sebagai pewaris resmi keluarga Edvaughn. Kudeta terhadap hak waris itu berlangsung tanpa banyak perlawanan karena seluruh keluarga lebih memilih mengejar prestise daripada menilai kemampuan seseorang secara objektif. Adegan ini menjadi fondasi konflik utama serial, sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah label mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Menariknya, Elymas tidak tenggelam dalam amarah atau sibuk merencanakan balas dendam. Ia menerima pengasingannya sebagai awal kehidupan baru. Berkat pengetahuannya mengenai sistem dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah menguasai seluruh mekanisme permainan, Elymas menyadari bahwa Heavy Knight bukanlah kelas yang seburuk anggapan banyak orang. Cara berpikirnya yang tenang dan penuh perhitungan membuat tokoh utama terasa berbeda dibanding protagonis fantasi pada umumnya yang sering mengandalkan ledakan emosi.

Dari sisi visual, GoHands kembali mempertahankan ciri khasnya. Desain karakter terlihat tajam dengan efek pencahayaan yang kaya, sementara latar dunia fantasinya memiliki detail yang memanjakan mata. Sayangnya, gaya sinematografi mereka masih menjadi pedang bermata dua. Kamera terus bergerak dengan panning, zoom, dan perubahan sudut yang cukup agresif, bahkan saat adegan dialog berlangsung. Bagi sebagian penonton hal ini memberikan kesan dinamis, tetapi tidak sedikit yang justru merasa pergerakannya terlalu berlebihan sehingga mengalihkan fokus dari percakapan para karakter.

Sebagai episode pembuka, anime ini berhasil memperkenalkan dunia, sistem kelas, serta konflik keluarga yang menjadi pemicu perjalanan Elymas. Alih-alih hanya menyajikan kisah tokoh yang diremehkan lalu menjadi sangat kuat, episode pertama lebih menekankan bagaimana prasangka dan obsesi terhadap status dapat membuat seseorang kehilangan haknya. Itulah yang membuat perjalanan Elymas terasa layak untuk terus diikuti.

Nilai: 8,5/10. Episode pertama berhasil membangun konflik dengan baik dan memperkenalkan karakter utama yang cerdas serta tenang. Jika GoHands sedikit mengurangi pergerakan kameranya yang terlalu aktif, pengalaman menonton akan terasa lebih nyaman tanpa mengurangi kualitas visual yang memang menjadi kekuatan mereka.

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending