Connect with us

Box Office

Timeline cerita film Wolverine, urutan kisah hidup Wolverine dalam adaptasi film

Published

on

Gwigwi.com – Logan merupakan salah satu film yang di rilis di bioskop bulan Maret 2017, film ini merupakan aksi terakhir sang aktor yang memerankan Wolverine yaitu Hugh Jackman yang juga berhasil mengangkat namanya di kancah perfilman Hollywood.

Mungkin para penonton awam maupun fans dari film adaptasi komik Marvel masih bingung bagaimana merunutkan timeline sepak terjang dari salah satu anggota X-Men yang memiliki cakar adamantium ini yang diadaptasi dengan format film layar lebar.

Kisah James “Logan” Howlett dimulai pada film X-Men Origins: Wolverine rilisan tahun 2009, di tahun 1845 ketika ia menemukan kekuatan nya yaitu bisa mengeluarkan cakar dan menyembuhkan diri dengan cepat, setelah terjadi insiden ia membunuh ayah kandungnya ia pun pergi bersama saudara tirinya Victor Creed yang kelak akan menjadi musuh bebuyutan Logan yaitu Sabretooth dan mereka pun ikut serta dalam peperangan seperti perang saudara di Amerika, Perang Dunia I serta perang lainnya yang memberikan pengaruh kepada sejarah dunia.

Kemudian masuk ke tahun 1945 dimana Logan menjadi tawanan perang Jepang dan ia melindungi tentara Jepang bernama Yashida ketika serangan bom atom. Hal ini diceritakan di film The Wolverine rilisan 2013.

Masuk ke tahun 1962 di film X-Men: First Class ketika perang telah usai muncul Charles Xavier muda dan Erik Lehnsherr muda merencanakan sebuah perkumpulan untuk para mutant yang akan menjadi cikal bakal X-Men namun Logan menolaknya dengan mengatakan “go f*ck yourself”. Disini pula awal perpecahan antara Xavier dan Erik alias Magneto.

Dalam rentang waktu pertengahan 1960-an hingga 1975 Logan kembali mengikuti wajib militer dan terlibat perang Vietnam, lalu ia direkrut oleh kolonel William Stryker dan bergabung dengan X-force kelompok tentara bayaran untuk melakukan misi black ops dan ia mengundurkan diri dari kelompok tersebut dan Stryker mengajak Logan untuk proyek Weapon X. Ia pun menolaknya namun Stryker tidak menyerah dan membunuh orang yang sangat dicintai oleh Logan yaitu mutan bernama Silver Fox.

Pada akhirnya Logan menerima tawaran Stryker untuk ikut dalam proyek weapon X dimana ia ditanamkan besi adamantium di dalam tubuhnya dan lahirlah nama Wolverine.

Namun kekuatan tersebut Logan gunakan untuk menuntut balas dan ia tersadar bahwa proyek Weapon X hanya digunakan untuk kepentingan Stryker dan membuat Logan menjadi mesin pembunuh milik Stryker. Tetapi hal tersebut berakhir tragis ia harus kehilangan ingatannya ketika Stryker menembakkan peluru adamantium di kepalanya.

Di film X-Men Pada tahun 2000 Wolverine yang tidak tahu menahu apa yang terjadi di masa lalunya pun ditemukan oleh Storm dan Cyclops dan bergabung dengan X-Men dan terjadi perseteruan antara tim X-Men dan Brotherhood of Mutant yang dipimpin oleh Magneto. Setelah melumpuhkan Magneto, Wolverine pergi berkelana ke Kanada untuk mencari tahu masa lalunya.

Lalu di film X-Men 2: United, Stryker masih berusaha memburu para mutant untuk dijadikan senjata dan ia menyerang sekolah mutant milik Xavier. Wolverine berhasil melenyapkan Stryker namun Jean Grey harus mengorbankan nyawanya.

Baca Juga:  Keseruan sneak peek X-Men Dark Phoenix

Kisah Wolverine dan tim X-Men berlanjut di film X-Men: The Last Stand, dimana Jean Grey bangkit menjadi Dark Phoenix kekuatannya menjadi tidak terkontrol Cyclops pun tewas dan mau tidak mau Wolverine harus membunuh Jean Grey.

Atas kejadian itu, Wolverine mengasingkan diri ke Jepang dan bertemu dengan Yashida yang ia selamatkan dari bom atom pada Perang Dunia II yang telah menjadi Yakuza. Yashida yang menjadi Silver Samurai menginginkan kemampuan super-healing milik Wolverine agar ia hidup abadi. Di pertarungan tersebut ia harus kehilangan cakar adamantiumnya.

Di post credit film The Wolverine ia bertemu dengan Magneto dan Xavier dari masa depan lalu diperingatkan bahwa akan terjadi sesuatu yang akan mengancam keberlangsungan hidup mutant dan umat manusia yaitu Trask Industries dengan program Sentinelnya.

Satu dekade kemudian di tahun 2024 yang menjadi latar film X-Men: Days of Future Past, digambarkan mutant terancam punah dan mutant yang masih tersisa bertarung melawan Sentinel yaitu robot pembasmi mutant. Wolverine dikirim ke tahun 1973 untuk mencegah upaya Trask Industries yang sedang mengembangkan program Sentinel, ia pun berhasil menghentikan Trask Indutries.

Timeline X-Men berubah, sejarah di reset Wolverine ditemukan oleh Mystique yang menyamar menjadi William Stryker. Disini terjadi plothole yang begitu besar apa yang terjadi pada Wolverine ketika timeline X-Men di reset.

Yang akan kita ketahui sejauh ini adalah, tiba-tiba Wolverine bertemu dengan anggota X-Men seperti Jean Grey, Cyclops, Jubilee, dan Nightcrawler di film X-Men Apocalypse yang ber setting di tahun 1982. Logan ditemukan tengah menjalankan proyek Weapon X. Jean grey mengetahui masa lalu Logan dan ingatannya dipulihkan setelah itu Logan melarikan diri dari tempat ia di karantina oleh William Stryker.

Di ending film X-Men: Days of Future Past, setelah timeline di reset pada tahun 2024 semua kembali menjadi normal termasuk Cyclops dan Jean grey masih hidup. Wolverine pun menjadi guru di Xavier’s School yaitu menjadi guru sejarah.

Kemudian, untuk film Logan yang rilis di bioskop pada Maret 2017 berlatar tahun 2029 dikarenakan suatu insiden semua mutant musnah hanya Logan dan Xavier yang tersisa mereka mengasingkan diri. Mereka harus bersembunyi dari incaran Transigen yang ingin membuat mutant berjaya kembali.

Sebenarnya, masih banyak detil yang belum begitu jelas tentang apa yang terjadi dengan Wolverine ketika sejarah di reset dan muncul timeline X-Men baru setelah Days of Future Past. Mungkin saja apa yang terjadi dengan Wolverine akan muncul di proyek film X-Men selanjutnya. Ya itu hanya kemungkinan atau pihak 20th Century Fox selaku pemegang lisensi film X-Men Sengaja membuat plot hole yang cukup besar.

Chief dan editor, suka nonton anime mainstream yang ga ribet, mulai mendalami yang namanya cameco (cameramen cosplay)

Box Office

Review Film X-Men: Dark Phoenix, puncak dari keseluruhan franchise X-men

Published

on

GwiGwi.com – Setelah kejadian di X-men: Apocalypse (2016), tim X-men yang beranggotakan Cyclops, Jean Grey, Quicksilver, Mystique,Beast, dan Nightcrawler ditugaskan oleh pemerintah Amerika untuk menyelamatkan astronot yang melakukan sebuah misi luar angkasa.

Karena suatu kelalaian dalam misi tersebut, Jean Grey tertabrak sinar kosmik nyawanya pun terancam, namun berhasil diselamatkan.

Mulanya, semua aman-aman saja namun Jean tidak bisa mengendalikan kekuatannya yang terlihat mengalami sedikit evolusi, disini juga terjadi pergolakan dalam dirinya dan kekuatannya semakin tidak stabil. Jean pun meminta bantuan Erik Lehnsherr atau lebih dikenal sebagai Magneto untuk mengendalikan kekuatan barunya ini.

Momen Ini membuat membuat Magneto turun gunung dan berniat membunuh Jean. Kemudian, muncul ras alien D’bari juga mengincar kekuatan kosmik yang diserap oleh tubuh Jean Grey. Dengan kemampuan shapeshifter-nya para pasukan alien ini menyamar menjadi anggota militer Amerika yang mengincar Jean dan para mutant.

Akankah tim X-men berhasil menyelamatkan bumi dari ancaman magneto yang turun gunung dan ancaman dari alien D’bari?

Franchise X-Men yang kali Ini digarap oleh Simon Kinberg yang sebelumnya hanya duduk sebagai produser sejak X-Men: First Class. Akhirnya rilis dan menjadi penutup saga X-men Yang dimulai sejak tahun 2000.

Kenapa menjadi penutup? Ya kita sudah mengetahui bahwa rumah produksi 20th Century Fox selaku pemegang lisensi X-Men telah diakuisisi oleh Disney.

Film ini juga sempat mengalami proses produksi yang cukup lama karena kesibukan para cast-nya. Serta mengalami proses reshoot yang katanya hasil produksi awal kurang memuaskan.

Kemudian setelah rilis di bulan Juni hasilnya dicerca oleh kritikus karena katanya kualitasnya kurang memuaskan.

Kita di Indonesia kebagian nonton filmnya seminggu setelah libur lebaran karena lebaran blockbuster dimana film-film nasional rilis pada saat libur lebaran.

Baca Juga:  Review Film Godzilla II: King of Monsters, aksi baku hantam para titans

Hasilnya, menurut gue gak seburuk dengan apa yang dibilang reviewer luar negeri. Dari segi cerita, filmnya mengambil cerita di komik yaitu Dark Phoenix Saga. Memang sebelumnya cerita Ini telah diangkat di film X-men: The Last Stand (2006), namun timeline X-men yang telah di reset rasanya sah-sah saja jika kisah ini diangkat kembali.

Namun, sangat disayangkan dari segi eksekusinya terkesan nanggung bahkan ada yang terlihat datar. Misal dalam misi penyelamatan luar angkasa, kurang terkesan dramatis ya semua terjadi dengan begitu saja.

Kemudian, adegan yang menjadi favorit gue adalah adegan pertarungan di akhir ketika para mutant mengerahkan seluruh kemampuannya terlihat sangat epik menurut gue.

Para cast dalam filmnya pun memang bukan kaleng-kaleng, kualitas akting mereka tidak diragukan lagi. Sophie Turner tampil memukau tapi sangat disayangkan untuk James McAvoy, secara kharismanya sebagai Charles Xavier di film Ini terkesan meredup padahal di tiga film X-men sebelumnya terlihat sangat apik. Keduanya memiliki jatah menit tampil terbanyak dan berhasil menghidupkan peran masing-masing.

Didukung oleh penampilan apik dari Michael Fassbender, Tye Sheridan, Nicholas Hoult dan Jennifer Lawrence.

Hanya Jessica Chastain yang terasa kurang mengesankan, tapi gue rasa akibat karakterisasi dingin sehingga tidak terlihat perubahan guratan emosi yang signifikan di wajah dan gesturnya.

Secara keseluruhan, Film Ini memang terseok-seok di box office, namun bukan berarti film ini buruk seperti yang dikatakan oleh kritikus dan netizen.

Film Ini masih enak untuk dinikmati dari segi visual efek dan cerita yang mudah dicerna. Mungkin hanya apes aja karena momentum perilisannya yang terasa kurang tepat.

Abaikan bad review para kritikus film, silahkan nikmati saja filmnya lalu beropini.

Continue Reading

Box Office

Review Film Secret Life of Pets 2, tontonan menyenangkan di hari libur sekolah

Published

on

GwiGwi.com – Max (Patton Oswalt) dan teman-temannya sesama hewan peliharaan. Max yang sudah akur dengan Duke kini mendapatkan anggota keluarga baru. Ia adalah Chuck, yang menikah dengan Katie pemilik dari Max.

Mereka pun memiliki anak bernama Liam. Liam selalu mengikuti gaya Max dan Duke. Mereka pun menjadi akrab, apa lagi saat Max memasuki usia balita. Max pun semakin sayang dan membuatnya sangat protektif dan khawatir berlebih kepada Liam.

Katie mengajak Max dan Duke ke pedesaan, di sana mereka bertemu dengan seekor anjing peliharaan bernama Rooster (Harrison Ford). Max berusaha mengatasi rasa takutnya dengan bantuan dari Rooster.

Kemudian, Snowball (Kevin Hart) yang sekarang sudah dipelihara oleh anak perempuan. Ia berniat menjadi super snowball hewan peliharaan super yang memiliki tujuan mulia yaitu menolong hewan-hewan yang tersiksa.

Lalu, datanglah Daisy (Tiffany Haddish), seekor anjing Shih Tzu yang meminta pertolongan. Daisy ingin membantu seekor anak harimau yang di sebuah sirkus.

Lantas snowball melakukan misi penyelamatan anak harimau bersama Daisy. Sementara Gidget (Jenny Slate) mencoba menyelamatkan mainan favorit Max di apartemen penuh kucing.

Ia pun meminta bantuan Chloe (Lake Bell), si kucing tambun. Berhasilkah mereka semua menyelesaikan masalahnya masing-masing?

Sejak melihat trailernya, kita sudah dibuat tertawa dengan tingkah laku para hewan peliharaan Ini. Bahkan masing-masing karakter memiliki trailer sendiri.

Di film ini juga ada karakter-karakter baru seperti Daisy yang diisi Tiffany Haddish dan Rooster yang disulih suarakan oleh Harrison Ford.

Secret Life of Pets 2 menampilkan beragam cerita dari beberapa karakter namun akhirnya mereka semua bertemu dalam sebuah momen petualangan.

Baca Juga:  Review Film Secret Life of Pets 2, tontonan menyenangkan di hari libur sekolah

Max yang jadi gelisah, Gidget yang panik harus berhadapan dengan puluhan kucing, hingga Snowball yang ingin menyelamatkan anak harimau.

Masing-masing memiliki masalahnya sendiri, ceritanya disajikan dengan lompat kesana-kesini mungkin akan membuat kita sedikit mengantuk karena terlalu panjang untuk dipertemukan ke klimaksnya film Ini.

Memang untuk sebuah sekuel, Film Ini sangat pas untuk disebut sebagai sekuel. Dengan ruang lingkup yang lebih luas serta permasalahan yang lebih pelik untuk tiap karakternya.

Untuk tontonan anak-anak mungkin akan terlihat menyenangkan. Namun untuk tontonan dewasa mungkin akan terlihat sedikit membosankan.

Kemudian sisi positifnya, tingkah laku para hewan peliharaan ini seolah olah Dibuat hidup dan memiliki kesamaan dengan para hewan peliharaan pada umum nya di Dunia nyata. Misalnya, Chloe yang mengeong meminta perhatian pemiliknya.

Belum lagi saat dia mengajarkan Gidget menjadi kucing. Bersiaplah tertawa saat muncul sinar laser dan para kucing.

Kemudian Rooster, seekor anjing peternakan pemberani yang mengajarkan banyak hal kepada Max. Tampilannya gagah namun namanya ayam jago. Anjing pedesaan tidur di luar, sementara Max dan Duke terbiasa tidur di dalam rumah.

Belum lagi saat Max diajak Katie ke dokter hewan. Layaknya anjing jika gatal-gatal ia dipakaikan kerucut kepala.

Lucunya lagi tingkah hewan-hewan lainnya yang sedang mengantre di sana yang mempunyai permasalahan kayaknya manusia.

Secara keseluruhan, film Ini masih menjual tingkah laku hewan yang menggemaskan dari segi cerita pun dapat dibilang sebagai sekuel yang ideal untuk sebuah Film. Namun sayangnya mungkin hanya anak-anak yang menikmati Film ini. Namun untuk penonton dewasa terkesan biasa saja atau mungkin malah membosankan

Continue Reading

Box Office

Review Film Disney’s Aladdin Live Action, masih tetap magical

Published

on

GwiGwi.com – Kalian pasti tahu kisah 1001 malam Aladdin kan? Cerita tentang pemuda jalanan yang mendapatkan lampu ajaib dan berhasil menyelamatkan kerajaan dari ancaman penyihir jahat.

Kisah Ini telah beberapa kali diadaptasi lewat beberapa medium dari buku cerita, animasi, film, bahkan Indonesia pun pernah membuat film layar lebar dari kisah ini yang dibintangi oleh Rano Karno dan Lydia Kandou di tahun 1982.

Namun yang paling terkenal adalah film animasi versi Disney di tahun 1992 lewat tangan dingin Jon Musker dan Ron Clements yang dibintangi oleh Robin Williams, Scott Weinger dan Linda Larkin dan menjadi salah satu mahakarya Disney.

Di tahun 2019, Disney mencoba peruntungan mengadaptasi masterpiecenya dengan format live action setelah menuai kesuksesan lewat Cinderella, jungle book, Beauty and the Beast, Alice in Wonderland, dan nanti The Lion King pada bulan Juli tahun ini.

Dikisahkan Aladdin, pemuda jalanan yang berprofesi sebagai pencuri kelas teri di negeri Agrabah bertemu dengan Jasmine Putri sultan dan penemuan lampu ajaib. Aladdin pun berhasil menemukan lampu itu dan diberi tiga permintaan dari genie si penghuni lampu ajaib, serta perseteruan dengan Jafar penasehat kerajaan yang ingin menguasai negeri Agrabah.

Setelah proyek Ini dihujani kritik pedas oleh para netizen karena film ini ditangani oleh sutradara Guy Ritchie dan dibintangi oleh Will Smith, Mena Massoud, dan Naomi Scott.

Film Ini tetap percaya diri melenggang di jajaran film yang rilis pada musim panas tahun ini.

Dari segi cerita, Film Ini masih tetap setia dengan versi animasinya, meskipun dengan ciri khas proyek Live Action Disney yang melakukan sedikit improvisasi tetap disajikan di Film ini.

Mungkin para penonton yang sedikit peka akan menyadari beberapa perubahan dari segi cerita versi live action ini.

Namun hal ini tidak merusak cerita, ditambah dengan visual yang memanjakan Mata, serta penggambaran negeri Agrabah yang merupakan akulturasi dari beberapa budaya timur Tengah, Maroko, Turkey, dan India menjadikan Film ini memiliki daya magisnya tersendiri.

Dari segi cast-nya, Will Smith yang menanggung beban berat memerankan Genie Karena dibandingkan dengan pendahulunya mendiang Robin Williams.

Baca Juga:  Review Film Godzilla II: King of Monsters, aksi baku hantam para titans

Berhasil Lepas dari predecessors-nya dan membuat gayanya sendiri dalam memerankan sosok jin penunggu lampu ajaib sahabat setia Aladdin.

Untuk Mena Massoud dan Naomi Scott berhasil membangun chemistry yang baik sebagai Aladdin dan Jasmine, namun sosok Jasmine lebih ditonjolkan mengingat gerakan girl empowerment yang sedang kencang-kencangnya berhembus di industri perfilman Hollywood. Namun porsi pembagian karakter untuk mereka berdua sangat pas.

Untuk tokoh Jafar yang diperankan oleh Marwan Kenzari terlihat kurang mengancam dari perawakannya. As we know, karakter Jafar di versi animasinya memiliki perawakan yang sangat mengancam dan bengis untuk sosok antagonis sebuah Film animasi.

Marwan Kenzari is Jafar in Disney’s live-action ALADDIN, directed by Guy Ritchie.

Andai saja, aktor yang memerankan Hakeem di Film ini yang diperankan oleh Nurman Acar memerankan tokoh Jafar mungkin akan terlihat lebih pas.

Yang menjadi screen stealer di Film ini adalah tokoh Dalia yang diperankan oleh Nasim Pedrad. Dari materi promosi filmnya, mungkin hanya sekedar menjadi tempelan saja tokoh Dalia Ini. Namun ternyata, tokoh orisinil dari Live Action Film Ini memiliki peranan yang sangat penting dalam keutuhan sebuah cerita.

Kalau boleh dibandingkan dengan versi kartunnya, baik live action maupun animasi dari Disney Aladdin, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya serta memiliki daya magis yang Luar biasa. Tidak heran jika Disney memiliki gaya tersendiri dalam men-treatment proyek filmnya.

Dari segi soundtrack-nya pun, masih tetap bagus meskipun terjadi perubahan lirik dari versi animasinya.

Secara keseluruhan, adaptasi Live Action dari Disney’s Aladdin masih bagus dan tidak kalah dengan versi animasinya terdahulu.

Dengan visual yang apik, dan sarat akan pesan moral karena memang ada pesan yang tersirat di Film Ini.

Lewat Film ini juga mengajarkan kita untuk tidak nyinyir duluan dengan performa para orang-orang Yang terlibat di Film Ini. Karena terbukti, dengan apa yang kita lihat di trailernya berbanding terbalik dengan upaya para sutradara dan para pemerannya (kecuali aktor yang memerankan Jafar). Berhasil melakukan yang terbaik untuk Film ini.

Continue Reading

Trending