TV & Movies
Teror Tuyul dan Kuntilanak Hitam Siap Kejutkan Penonton di Film Pamali: Tumbal
www.gwigwi.com – Rumah produksi LYTO Pictures menggelar konferensi pers di Epicentrum XXI pada 29 Juli 2025 untuk memperkenalkan film horor terbaru mereka, Pamali: Tumbal, di hadapan ratusan media partners dan komunitas film.
Presscon dimeriahkan oleh kehadiran para pemeran dan kru, yaitu: Keisya Levronka, Fajar Nugra, Ummi Quary, Nai Djenar Maisa Ayu, Verdi Sulaeman, Dominique Sanda, Krishna Keitaro, dan Ben Bening, serta sutradara Bobby Prasetyo, penulis Evelyn Afnilia, dan produser Andi Suryanto dan Marcella Daryanani.
Pamali: Tumbal mengisahkan Putri (Keisya Levronka) yang mencari Ibunya yang hilang misterius setelah mengambil uang tumbal di jalan karena terhimpit masalah ekonomi.
Bersama dua sahabatnya, Kiki (Ummi Quary) dan Cecep (Fajar Nugra). Ia berusaha mencari kebenaran, yang ternyata membawa mereka masuk ke dalam hutan angker, pabrik tua, hingga rumah misterius yang dihuni oleh tuyul, kuntilanak hitam, dan makhluk-makhluk menyeramkan lainnya.

Teror Tuyul Dan Kuntilanak Hitam Siap Kejutkan Penonton Di Film Pamali: Tumbal
Namun di balik semua teror itu, muncul pertanyaan besar. apakah ada pamali atau larangan adat yang mereka lakukan hingga menimbulkan malapetaka ini?
Para cast dan kru hadir berbagi pengalaman mereka selama proses produksi, tantangan yang dihadapi dalam menghidupkan nuansa horor yang autentik, serta pesan yang ingin disampaikan melalui film ini.
“Yang sering menjadi topik pembicaraan kami di awal membuat film ini adalah pamali apa yang akan diangkat dan bagaimana mendesain tuyul yang menyeramkan, yang berbeda dari penggambaran yang sudah ada,” ujar Bobby Prasetyo, sutradara Pamali: Tumbal, “Setelah diskusi dan riset yang panjang. akhirnya kami tiba ke bentuk tuyul yang sekarang.
Teror Tuyul digabungkan dengan Kuntilanak Hitam, membuat duo hantu yang harapannya bisa memberi dinamika horor baru di Indonesia.”
Keisya Levronka, menyatakan, “Bermain film Pamali: Tumbal ini merupakan tantangan tersendiri, namun proses mengulik karakter Putri sangat menyenangkan.
Banyak adegan-adegan yang menantang aku sebagai aktris, baik secara fisik
maupun emosional, salah satunya scene berantem dengan tuyul di kolam air yang diretake berkali-kali. Benar-benar pengalaman seru yang berharga.”
Ummi Quary, menambahkan, “Ini juga merupakan film horor pertamaku dan pertama kali berbagi layar dengan Keisya dan Fajar.

Teror Tuyul Dan Kuntilanak Hitam Siap Kejutkan Penonton Di Film Pamali: Tumbal
Lumayan memakan energi banyak saat pertama kalinya melakukan adegan stuntku sendiri, tapi karena semua cast saling dukung dan Om Bob (Bobby Prasetyo) juga sangat open untuk diskusi karakter, proses jadi terasa mudah.
Dari awal sampai akhir, memerankan karakter Kiki ini rasanya seperti naik roller coaster gitu, ada lucunya, ada seramnya, ada beraninya, jadi ga berhenti-henti kejutannya.”
Film Pamali: Tumbal juga merupakan debut akting untuk YouTuber ternama Aldean “DeanKT” Tegar Gemilang. Perannya pada film Pamali: Tumbal ini bukan hanya sekedar cameo, tapi sebagai pemeran pendukung yang mempunyai peran penting.
Peran serta DeanKT merupakan bentuk komitmen lain dari LYTO Pictures untuk mengintegrasikan industri game dan film, serta memperluas ekosistem hiburan Indonesia. Pamali: Tumbal sendiri merupakan adaptasi dari game berjudul Pamali: The Little Devil yang dibuat oleh studio game Storytale.
“Saat awal tidak menyangka kalau game bisa jadi film. Pamali: Tumbal merupakan kerjasama Storytale yang kesekian kalinya dengan LYTO Pictures. Senang rasanya bisa mengenalkan hantu dan budaya Indonesia yang beragam ke dunia, lewat medium yang bermacam,” ujar Arya Hamdani, Co-Founder Storytale.
Produser Pamali: Tumbal sekaligus CEO LYTO Pictures, Andi Suryanto, menyatakan: “Pamali: Tumbal ini adalah film yang diadaptasi berdasarkan game Indonesia dengan judul Pamali: The Little Devil.
Penonton akan merasakan film horor yang menegangkan, dekat dengan keseharian masyarakat, terutama mengenai pamali foto bertiga, berbicara sembarangan, dan keluar setelah magrib. Pamali: Tumbal diharapkan dapat mengingatkan masyarakat tentang tradisi dan budaya lokal. Semoga Pamali: Tumbal mendapat sambutan positif di bioskop.”
Box Office
Review The Death of Robin Hood, Akhir Tragis Sang Legenda
www.gwigwi.com – Berapa banyak versi Robin Hood yang sudah kita saksikan di layar lebar? Mulai dari aksi teatrikal Errol Flynn, pesona klasik Kevin Costner, hingga versi taktis Russell Crowe. Kita terbiasa melihat Robin Hood dalam masa kejayaannya: muda, tangkas, memegang busur dengan presisi mematikan, dan meneriakkan keadilan di tengah Sherwood Forest. Film The Death of Robin Hood melompati era kejayaan sang pencuri budiman. Kita mendapati Robin Hood (Hugh Jackman) dalam kondisi yang mengenaskan. Ia sudah menua dan dihantui oleh bayang-bayang masa lalunya yang penuh darah dan pertempuran.

Robin Hood bukan lagi simbol harapan, melainkan hanya orang tua yang lelah dan tersisih dari dunia yang terus bergerak maju. Dalam pertarungan nya yang terakhir, ia terluka parah dan diselamatkan oleh seorang biarawati (Jodie Comer). Pertemuan ini bukanlah awal dari petualangan baru, melainkan sebuah ruang refleksi dan sebuah kesempatan bagi Robin untuk berdamai dengan takdirnya sebelum ajal menjemput. Film garapan Michael Sarnoski membuktikan sekali lagi bahwa ia adalah master dalam memotret kerapuhan pria-pria tangguh.
The Death of Robin Hood menanggalkan romantisasi kehidupan seorang penyamun. Hutan Sherwood tidak lagi digambarkan sebagai tempat persembunyian yang magis, melainkan tempat yang dingin, basah, dan tak kenal ampun. Film ini menggali pertanyaan mendalam: Apa yang terjadi pada simbol perlawanan ketika ia tidak lagi mampu menarik tali busurnya? Hugh Jackman memberikan salah satu performa paling subtil dan emosional dalam kariernya.

Fisiknya yang menua dan tatapan matanya yang redup menyampaikan rasa sakit yang mendalam baik fisik maupun eksistensial. Ini adalah penampilan yang mengingatkan kita pada perannya di Logan (2017), namun dengan tempo yang jauh lebih tenang, meditatif, dan minim ledakan amarah. Ia berhasil menampilkan sosok singa tua yang menyadari bahwa masanya telah habis. Sementara Jodie Comer tampil sebagai kontras yang luar biasa. Karakter yang ia bawakan bukan sekadar plot device untuk merawat Robin, melainkan representasi dari dunia luar yang rasional dan skeptis terhadap mitos.
Interaksinya dengan Jackman membentuk inti emosional film; dinamika mereka tumbuh organik melalui dialog-dialog sunyi yang sarat akan subteks tentang penebusan dosa (redemption) dan penerimaan diri. Dari segi visual, film ini adalah sebuah puisi visual yang muram. Memanfaatkan pencahayaan alami (natural lighting), kabut tebal, dan palet warna bumi (earthy tones), sinematografer berhasil mempertegas atmosfer senjakala. Kamera seringkali terpaku pada gestur-gestur kecil tangan yang gemetar saat memegang anak panah, atau helaan napas berat di tengah keheningan.

Pacing sengaja dibuat lambat, memberikan ruang bagi penonton untuk merasakan beratnya setiap detik yang tersisa dalam hidup Robin Hood. Secara keseluruhan, The Death of Robin Hood bukanlah film tentang bagaimana seorang pahlawan hidup, melainkan tentang bagaimana manusia di balik pahlawan tersebut memilih untuk mati. Jika Gwiple datang ke bioskop mengharapkan film aksi petualangan dengan panah yang beterbangan setiap lima menit atau trik-trik cerdik mengelabui Sheriff Nottingham, film ini jelas akan mengecewakan Anda.

Namun, jika kita ingin mencari sebuah drama psikologis yang mendalam, puitis, dan menyentuh hati tentang akhir dari sebuah hidup yang penuh kekerasan, film ini adalah sebuah mahakarya yang sunyi. Michael Sarnoski berhasil memberikan upacara pemakaman yang indah, terhormat, dan sangat manusiawi bagi salah satu legenda terbesar dalam sejarah fiksi dunia.
Film ini mengingatkan kita bahwa pada akhirnya, yang paling berharga dari sebuah legenda bukanlah keabadian fisiknya, melainkan bagaimana ia menginspirasi kemanusiaan kita.
Skor Akhir: 8.8/10
Box Office
Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli dari Vietnam
www.gwigwi.com – Pada akhir Juni 2026 ini, setelah Gwiple sering disuguhi film-film horor Asia asal Korea, China, Jepang, dan Thailand; sebuah film horor asal Vietnam mencoba peruntungannya untuk tayang di Indonesia. Phi Phong yang diproduksi oleh Bluebells Studio dan disutradarai oleh Do Quoc Trung merupakan kisah legenda horor suku gunung di Vietnam dimana iblis berwujud wanita memburu hewan-hewan bahkan manusia untuk dihisap darahnya, bahkan phi phong dapat menyaru menjadi manusia. 2 saudara Con (Kieu Minh Tuan) dan Duong (Minh Anh) mencari ibunya yang berprofesi sebagai shaman yang dikabarkan terluka di sebuah desa di pegunungan.


Con tidak sehebat ibunya namun ia mengetahui beberapa jurus untuk mengusir iblis sedangkan adiknya Duong dapat melihat hantu dan roh penasaran. Dari cerita kepala desa, sang ibu membantu shaman lokal dalam menyegel ulang hantu phi phong namun ritualnya menjadi kacau dan shaman desa mati sedangkan ibunya Con dan Duong terluka parah. Saat Con dan Duong mencoba membawa ibu mereka kembali ke kota, sebuah kecelakaan aneh menimpa mereka dan terpaksalah mereka kembali ke desa terkutuk itu. Suasana di desa semakin bertambah seram ketika kepala desa mati dengan kondisi mengerikan dan anak kepala desa juga terluka parah. Con dan Duong harus cepat menemukan iblis tersebut sebelum mereka juga menjadi korban balas dendam dari phi phong.


Banyak plot twist dalam film ini yang dijaga dengan rapi dan membuat Gwiple dapat terus bertanya-tanya asal usul phi phong dan apa motifnya menarget kepala desa dan shamannya. Sayangnya akhir cerita kurang memuaskan karena phi phong-nya tidaklah seperti yang digadang-gadang dan dengan premise iblis itu senang menghisap darah, film ini tidaklah gory. Untuk film horor Vietnam yang pertama tayang di Indonesia, Phi Phong cukup menegangkan tanpa mengandalkan jump scare asal-asalan dan dapat menjadi pilihan film horor di bioskop selain film-film horo dari Indonesia yang suplainya seakan tidak habis.


Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli Dari Vietnam
TV & Movies
Review Film Toy Story 5: Toys Vs Devices
www.gwigwi.com – Toy Story, salah satu IP milik Pixar-Disney yang masih kuat bertahan di industri perfilman dunia pada tahun 2026 ini kembali menghibur seluruh kalangan Gwiple di bioskop-bioskop.
Seri ke-5 ini menitikberatkan pada pengalaman Jessie (Joan Cusack) yang masih mengalami PTSD saat ditinggalkan oleh pemilik pertamanya, yaitu Emily.

Review Film Toy Story 5: Toys Vs Devices
Walaupun ia dan Buzz (Tim Allen) beserta teman-teman mainan lainnya masih bahagia karena dimiliki oleh Bonnie (Scarlett Spears) namun Jessie tetap tidak bisa melupakan Emily dan merasa takut suatu saat Bonnie akan meninggalkannya juga.
Kekhawatirannya semakin menjadi-jadi saat orang tua Bonnie membelikannya Lilypad (Greta Lee), sebuah tablet khusus anak-anak berwujud kodok yang dengan cepat menjadi mainan favoritnya Bonnie.
Jessie harus menerima kenyataan bahwa makin banyak anak (dan juga orang tua) yang sudah ketergantungan dengan berbagai device dan gadget.

Review Film Toy Story 5: Toys Vs Devices
Jessie tidak menyukai Lilypad dan begitu juga sebaliknya karena Lilypad yakin bahwa ia dapat membuat Bonnie memiliki banyak teman online.
Dalam persaingan untuk membuat Bonnie memiliki teman main, Jessie dan Bullseye tidak sengaja tersasar dan ditemukan sepasang nenek dan kakek yang mengirim mereka ke ranch tempat Emily dulu tinggal.
Namun sekarang ditinggali oleh seorang anak bernama Blaze (Mykal-Michelle Harris )dan keluarganya. Jessie berkenalan dengan trio gadget tua yaitu Smartypants ( Conan O’Brien) si pelatih penggunaan toilet untuk anak-anak, Atlas (Craig Robinson) alat GPS berwujud kuda nil, dan Snappy (Shelby Rabara) si digital camera mini.

Review Film Toy Story 5: Toys Vs Devices
Jessie pun melihat bahwa Blaze juga senang bermain dengan mainannya serta memiliki imajinasi yang sangat kreatif mirip dengan Bonnie karenanya Jessie merencanakan agar Blaze dapat bertemu dengan Bonnie.
Mungkin ada sebagian dari Gwiple merasa sangsi dengan film ke-5 ini dan merasa IP ini sudah terlalu lama eksis. Namun percayalah bahwa para anggota tim di balik Toy Sotry masih dapat memberikan cerita yang bermakna namun tetap menghibur terutama bagi anak-anak.
Sebagaimana Woodie mencari tujuan hidupnya di film ke-4 dengan mendedikasikan dirinya untuk menyelamatkan mainan-mainan yang terbuang/dibuang; Jessie di dalam film ini berupaya mengatasi PTSD ditinggalkan oleh manusianya dengan berupaya membuat Bonnie memiliki teman main walaupun konsekuensinya adalah ia nanti akan ditinggalkan oleh Bonnie seiring umurnya bertambah terus.
Pesan lainnya adalah pentingnya orang tua dapat membagi waktu anak-anak dalam menggunakan devices dengan permainan lainnya agar anak-anak tetap dapat menumbuhkan kreatifitas dan imajinasi mereka.
-
TV & Movies4 weeks agoReview Film Disclosure Day, Obsesi Spielberg Tentang Alien
-
Gaming4 weeks agoRoad to Worlds! Kualifikasi Yu-Gi-Oh! World Championship Sudah Dimulai di Yu-Gi-Oh! MASTER DUEL
-
TV & Movies2 weeks agoReview Film Toy Story 5: Toys Vs Devices
-
Box Office2 weeks agoReview Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli dari Vietnam
-
Laptop6 days agoHP EliteBook 8 G1i 14 AI: Tangguh untuk Bisnis, Siap Gaming Ringan
-
Serial Anime2 days agoReview The Exiled Heavy Knight Knows How To Game the System Episode 1: Awal Kisah Sang Heavy Knight yang Dibuang Keluarganya
-
Box Office1 day agoReview The Death of Robin Hood, Akhir Tragis Sang Legenda




