Connect with us

TV & Movies

‘Squid Game’ Menuju Serial Netflix Paling Banyak Ditonton, Akan Lewati Rekor Money Heist dan Bridgerton

Published

on

GwiGwi.com – Dengan begitu banyak liputan, Netflix blockbuster Korea mengambil alih dunia, Squid Game. Tidak hanya menjangkau cakupan yang luas di Asia, Squid Game juga memiliki pengaruh yang besar terhadap penonton di Eropa – Amerika. Film tersebut menjadi serial Korea pertama yang mencapai posisi top 1 trending di chart Netflix AS, membuat penonton Korea terbelalak.

Maaf Anda Melihat Iklan

Tidak hanya menarik, Squid Game juga berada di jalur yang tepat untuk membuat rekor hebat untuk Netflix. Secara khusus, drama Korea ini bisa menjadi film yang paling banyak ditonton di Netflix.

Co-chairman Netflix Ted Sarandos memiliki bagian yang membuat publik heboh. Menurutnya, Squid Game pasti akan menjadi film berbahasa asing paling sukses di Netflix. Ini membuktikan bahwa Squid Game dengan mudah melampaui Money Heist – serial ini memegang posisi rekor ini dengan 65 juta keluarga menonton dalam 28 hari pertama perilisannya.

Ted Sarandos bahkan menambahkan bahwa “ada kemungkinan besar bahwa Squid Game akan menjadi film kami yang paling sukses”. Saat ini, serial Netflix yang paling banyak ditonton adalah Bridgerton dengan 82 juta rumah tangga yang ditonton dalam 28 hari pertama. Sistem pengukuran Netflix akan menghitung 1 penayangan jika akun hanya perlu menonton film selama 2 menit.

Squid Game berada di jalur untuk melampaui Money Heist, kemudian Bridgerton menjadi serial yang paling banyak ditonton di Netflix

Baca Juga:  Anime 'Thermae Romae Novae' Akan Debut di Netflix Pada Tahun 2022

Pada 28 September, Squid Game adalah seri terpanas di Netflix, jauh melampaui nama yang dirilis pada hari yang sama dengan Sex Education 3 (menurut Flixpatrol). Game kematian yang mewah dengan konsep yang menarik dan akting yang luar biasa menjadi poin yang membuat Game Squid menarik perhatian. Pada saat yang sama, banyak detail dalam film yang dipasang dengan cerdik oleh kru, membuat penonton menonton berulang kali.

Setelah dirilis, Squid Game menghadapi banyak tuduhan plagiarisme dari penonton. Banyak orang membandingkan film ini dengan karya survival Jepang As The Gods Will dan Alice in Borderland. Namun, performa Squid Game secara mengejutkan jauh melampaui dua judul Jepang yang disebutkan di atas.

2 film survival Jepang hit yang sangat dibandingkan dengan Squid Game sekarang memiliki skor lebih rendah. Di IMDb, Squid Game saat ini memiliki skor 8.3/10 dengan sekitar 36.000 suara. Sedangkan As The Gods Will mendapat rating 6,4/10 poin dengan 5,4 ribu suara. Alice in Borderland diberi peringkat 7.7/10 dengan 25.000 suara.

Gganbu – episode ke-6 Squid Game dengan permainan menembak bola adalah episode dengan rating tertinggi dari seri ini di IMDb. Episode ini diberi peringkat 9.4/10 dengan hampir 2500 suara.

Maaf Anda Melihat Iklan
Advertisement
Click to comment
0 0 votes
Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Box Office

Review Film Ghostbusters: Afterlife, The Legacy Continue

Published

on

GwiGwi.com – Setelah Ghostbusters 2 (1989) bertahun-tahun setelahnya banyak sekali rumor, pembicaran, blabla soal film ke tiga tapi tak pernah terwujud. Tahun 2010 cast original kembali berkumpul tapi bukan untuk layar lebar melainkan game berjudul Ghostbusters (2009). Saya pernah memainkannya dan yeah, busting does feels good. Tetap, usaha untuk membuat film ketiga masih berlanjut dengan Dan Aykroyd memimpin. Tanpa Bill Murray yang ternyata dirinya tidak mau kembali karena dia tak suka sekuel.

Maaf Anda Melihat Iklan

Berdekade kemudian this and that happen. gonta-ganti rencana, Bill Murray masih menolak kembali, Harold Ramis meninggal, etc. Kemudian penulis skenario Max Landis memberi pitch Ghostbusters 3 versi dia yang memperbesar skala cerita dan terbuka untuk spin-off. Sayang ide besar itu kandas dan dengan Sutradara Paul Feig (Bridemaids, Spy), Sony mempersembahkan Ghostbusters Answer The Call (2016) yang hasilnya kurang berhasil baik dari Box Office mau pun resepsi dari penonton.

Setelah berdekade-dekade cinta pada film original yang seperti tak pernah mati dan versi 2016 yang kurang dari ekspektasi, apa yang bisa ditawarkan Ghostbusters: Afterlife? Apakah film ini akan mengedepankan nostalgia habis-habisan demi kembali menangkap hati fans lama jadi takut berinovasi? Atau justru memberi inovasi menarik tapi terbebani harus memberikan nostalgia? Hasil akhirnya jadi begitu bercampur.

Tema besar dari film ini adalah warisan. Tak hanya di depan layar, tapi juga di belakang layar. Disutradarai oleh Jason Reitman (Juno, Up in The Air) anak dari sutradara film originalnya, Ivan Reitman (Caddyshack, Ghostbusters), Ghostbusters: Afterlife, bercerita tentang Phoebe (Mckenna Grace) yang beserta keluarganya pindah ke rumah peternakan milik almarhum kakeknya. Rumahnya berantakan penuh buku, rongsokan mobil dan hutang. Ditambah reputasinya yang buruk di kota, seolah tak ada yang ditinggalkan si kakek selain beban.

Kota kecil itu ternyata menyimpan misteri. Gempa aneh, ukiran di tambang dan perilaku penambang yang pernah bekerja di sana. Semuanya mungkin berhubungan dengan tindak-tanduk aneh kakek Phoebe dan menjadi tugas gadis 12 tahun itu untuk menyelesaikan tugas pendahulunya.

Hal-hal yang mungkin paling disukai fans dari film originalnya adalah castnya, chemistry karakternya dan komedinya. Bagaimana mereka membagi tugas dari Ray (Dan Aykyord) yang antusiastik, Venkman (Bill Murray) yang…jadi Bill Murray terus memberikan joke bahkan di momen serius seolah menolak tergiring suasana, Egon (Harold Ramis) yang selaluuu serius 100% dan Winston (Ernie Hudson) yang hanya ingin cari kerja. Interaksi mereka satu sama lain dan dengan plot berhasil memancing tawa

Ghostbusters (1984) memiliki komedi yang tidak memaksa harus terus memberi tawa tapi agar cerita absurdnya yang membuat karakter bereaksi atau berkata aneh yang memberi tawa. Hal ini yang jelas dibawa ke Ghostbusters; Afterlife. Phoebe dan keluarganya seperti paham dan terima kehidupan mereka menyedihkan. Mereka cuek, mengetawai diri sendiri dan sesama anggota keluarga, dan berusaha mengarungi keseharian yang sulit saja sambil sesekali mengeluh. Sikap yang sangat mencerminkan film originalnya.

Baca Juga:  Review Film Red Notice, Aksi Komedi Seru dengan Jajaran Artis Papan Atas

Hanya satu karakter yang sedikit memaksa memberi komedi yaitu Podcast (Logan Kim) yang dengan antusiasmenya membuat Podcast. Mengetjutkannya, dia tidak berisik menjengkelkan dan bisa jadi menjadi favorit penonton.

Bila Podcast jadi yang antusias, Trevor (Finn Wolfhard), kakak Phoebe, jadi “bantalan” yang sering kena sial, dan Mr. Grooberson (Paul Rudd) jadi ilmuwan dengan tipikal gaya Paul Rudd macam di Ant-Man (2015), situasi lucu sering ada dan sering efektif, malah kayaknya jarang yang garing. Komedinya toplah. Bicara cast, Mckenna Grace paling menonjol.

Grace sebagai Phoebe menyalurkan sifat kutu buku yang kaku ala Egon. Dia jenius, rajin menyelesaikan masalah dan berani menghadapi hantu. Namun dia tidak kaku membosankan. Phoebe tetap memiliki perasaan walau berbeda cara mengungkapkannya dan memiliki pesona menggemaskan seperti anak kecil yang muncul ke permukaan beberapa kali seperti saat ngasih joke nerd yang jayus tapi manis. Phoebe adalah pemeran utama yang cocok mempimpin generasi baru Ghostbusters ini.

Seimbangnya aksi, komedi dan good character stuff sangat baik disampaikan di sini. Sayang sekali plotnya begitu mirip film originalnya. Momen saat Phoebe memperbaik Proton Pack dan Trevor memperbaiki mobil Ecto-1, seolah simbolisme dari keseluruhan film ini, hanya melanjutkan apa yang bekerja dulu, tanpa terobosan atau variasi. Padahal versi tahun 2016 saja menampilkan banyak peralatan baru.

Sebagai yang telah mengikuti Ghostbuster dari dulu, sering sekali saya hanyut dengan komedi dan aksinya lalu mood hilang karena plotnya begitu familiar dan mudah ditebak. Seolah saya hanya duduk menunggu momen-momen filmnya saja datang. Ya saya akan sesekali terhibur tapi saya berharap sekali mereka benar-benar memberikan plot yang baru. Untungnya pada bagian klimaks ada twist dan kejutan-kejutan menyenangkan

Sebelumnya saya bilang tema film ini adalah warisan. Oke saja, yang saya tidak sangka apa yang diwariskan banyak banget. Sangat memberikan rasa nostalgia sekali. Dari referensi dialog, properti, etc. Untuk fans hal ini bisa jadi pedang bermata dua; ada yang senang serta mengobati rasa rindu dan bisa jadi ada yang masih mencari sebuah inovasi / cerita baru dari franchise ini.

Jemunya plot dan nostalgia ini terasa lantaran hal-hal barunya begitu kuat. Semoga sekuelnya jika ada benar-benar meninggalkan nostalgia dan melajut ke arah baru. Pondasinya untuk melanjutkan franchise-nya sudah, sekali lagi, sudah sangat amat super kuat.

So Gwiples, buat kalian yang ingin bernostalgia ataupun yang baru pertama kali ingin menonton GhostBusters, Film satu ini wajib di tonton. Saksikan Ghostbusters: Afterlife di bioskop-bioskop kesayangan kalian dan jangan lupakan prokes ya Gwiples!

Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Box Office

Review Film Raging Fire, Pertarungan Mentor VS Mantan Anak Didik

Published

on

GwiGwi.comCheung Sung Bong (Donnie Yen) adalah seorang polisi senior di Regional Crime Unit yang berdedikasi dan lurus. Namun dalam suatu operasi penggerebekan bandar narkotik, Bong harus kehilangan banyak rekan-rekan polisinya karena mereka diserang oleh sekelompok geng misterius. Bong pun bertekad menangkap para anggota kelompok gang tersebut yang tak disangka-sangka ternyata dipimpin oleh Yau Kong Ngo (Nicholas Tse).

Maaf Anda Melihat Iklan

Ngo adalah mantan agen RCU sekaligus anak didiknya Bong yang pernah terjerat kasus penganiayaan seorang tersangka penculikan seorang konglomerat dan harus dipenjara. Sekeluarnya dari penjara, Ngo ingin membalas dendam kepada para petinggi kepolisian yang tidak membelanya dalam kasus penculikan tersebut. Bong cukup kesulitan dalam membuktikan Ngo terlibat dalam kematian rekan-rekannya karena Ngo lihai dalam menutupi jejaknya. Ngo pun sedang mempersiapkan aksi besar selanjutnya, dan menjadi tugasnya Bong untuk mencegah aksi tersebut.

Baca Juga:  Anime 'Vampire in the Garden' Mengungkap Pemeran, Lebih Banyak Staf, Debut 2022

Adanya plot hole dan inkonsistensi dalam film ini, sebagai contoh: saat Ngo membajak sebuah motor yang ada di parkiran dan kabur. Pada adegan kejar-kejaran di jalan, Ngo bukan hanya memakai helm tapi juga memakai jaket balap, sempat-sempatnya dia memakai jaket balap saat sedang melarikan diri. Tapi kejanggalan-kejanggalan dalam film dapat diobati dengan banyaknya aksi tembak-tembakan serta pertarungan tangan kosong yang ciamik dan pastinya sangat seru terutama saat final battle Ngo vs Bong; menjadikan film ini cocok untuk Gwiples yang menyukai film action Hong Kong.

So Gwiples buat kalian yang menanti nantikan film laga serta tembak tembakan nan apik jangan lupa untuk menyaksikan Raging Fire di bioskop bioskop kesayangan kalian ya!

Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Live Action

Kamiki Ryunosuke & Shibasaki Kou beradu akting dalam film live-action ‘xxxHOLiC’

Published

on

By

GwiGwi.com – Kamiki Ryunosuke dan Shibasaki Kou akan berperan dalam film live-action ‘xxxHOLiC.'

Maaf Anda Melihat Iklan

Dalam film tersebut, Kamiki akan memerankan Watanuki Kimihiro, seorang siswa SMA kesepian yang dihantui oleh ayakashi (roh pendendam). Sementara itu, Shibasaki akan memerankan Ichihara Yuko, pemilik toko yang mengabulkan permintaan dengan harga tertentu. Ini akan disutradarai oleh Ninagawa Mika dan ditulis oleh Yoshida Erika.

Film live-action ‘xxxHOLiC' akan dirilis secara nasional pada 29 April 2022.

Sumber: (1)

Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Trakteer

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x