Connect with us

Berita Anime & Manga

Review Manga: Kurogane Ichiba

Published

on

GwiGwi.com – Kurogane yang terlahir sebagai anak keturunan bangsawan konglomerat Ichiba, merasa sedih karena tidak pernah mempunyai sesuatu yang diperolehnya sendiri, dan memutuskan untuk masuk ke suatu sekolah. Di sana, semua hal dinilai dari “uang” yang dikumpulkan!! Apakah kondisi ini bisa membuatnya mandiri tanpa fasilitas sebagai anak konglomerat!?

Judul : Kurogane Ichiba
Pengarang : Masaki Goto
Penerbit : Elex Media Komputindo
Volume : 1 (masih berlanjut)

Membaca sekilas ringkasan yang tertera di sampul belakang, saya langsung tertarik dengan jalan cerita yang ditawarkan. Dan jauh di luar dugaan, setelah membaca secara keseluruhan komik ini ternyata jauh lebih menarik dari bayangan saya. Menurut pengamatan saya, komik ini akan jadi anime yang bagus dan lucu, itupun kalau dibikin anime sih. Sambil menunggu komik ini dijadikan anime, ada baiknya membaca sedikit review dari komik yang baru terbit 1 volume di Indonesia.

Kurogane Ichiba atau berjudul asli Ichiba Kurogane wa Kasegitai (Ichiba Kurogane yang ingin mendapatkan penghasilan) adalah komik/manga ciptaan Masaki Goto yang pertama kali diterbitkan tahun 2012 di Jepang oleh Shogakukan. Bergenre kehidupan sekolah dan komedi, komik ini bercerita tentang seorang remaja laki-laki bernama Kurogane Ichiba, anak dari konglomerat Ichiba yang punya sifat dan kemampuan yang aneh. Berbeda dari anak-anak konglomerat lainnya, Kurogane rupanya membenci orang-orang yang hanya bisa memakai dan menikmati uang yang diperoleh orangtuanya saja. Bagi Kurogane keindahan sejati adalah seseorang yang bekerja keras demi memperoleh uang, orang yang hanya bisa memakai uang yang diperoleh orang lain sama sekali tidak indah. Karena Kurogane sendiri tidak pernah menghasilkan uang dengan usaha sendiri, akhirnya dia berniat menguji dirinya sendiri dengan masuk sekolah yang paling sulit dan ‘indah’ di dunia, Institut Gakuenzono. Institut Gakuenzono adalah sebuah sekolah raksasa yang didirikan di sebuah pulau dengan jumlah siswa mencapai 30 ribu orang. Keistimewaan dari sekolah ini adalah seluruh siswa bisa bersaing secara sehat untuk berbisnis dan mengumpulkan uang mulai dari nol. Alasannya hanya satu, karena semua hal di sekolah ini hanya diukur dengan uang, uang, dan uang, termasuk kenaikan dan kelulusan. Siswa yang tidak punya uang akan dianggap hina, sedangkan yang kaya akan dijunjung setinggi langit. Bahkan ada desas-desus yang menyebutkan bahwa siswa dapat lulus tanpa mengikuti satu pelajaran pun asalkan memiliki uang yang banyak.

Kurogane Ichiba pun akhirnya menginjakkan kaki di Institut Gakuenzono, dan bertemu seorang anak perempuan bernama Hana Naruko. Dengan menggunakan kemampuan mata kirinya yang bisa menganalisis kemampuan seseorang, Kurogane langsung jatuh hati dengan ‘keindahan’ Hana yang ternyata memiliki kemampuan memasak yang hebat. Baru juga sebentar berada di Gakuenzono, Kurogane langsung mendapat masalah. Kurogane tanpa sengaja mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan 10 ribu yen. Membawa mata uang dan alat pembayaran lain rupanya adalah pelanggaran sehingga dompet Kurogane beserta isinya disita oleh Komite Disiplin. Dalam Gakuenzono hanya berlaku satu mata uang yaitu mata uang‘Gakuen’, sehingga mata uang dan alat pembayaran lain tidak boleh digunakan. Sesuai dugaan Kurogane, Hana Naruko ternyata adalah anggota klub memasak, tapi dia sedang mengalami masalah karena restoran klubnya sepi pengunjung dan akan segera ditutup. Sadar dengan bakat dan kemampuan Hana yang tidak bisa dilewatkan begitu saja, akhirnya Kurogane mengajak Hana untuk berbisnis bersama. Dengan menggunakan kemampuan analisis mata kirinya, Kurogane merancang strategi luar biasa jenius yang tiba-tiba mendatangkan banyak pengunjung dalam sekejap. Uang pun datang dengan sendirinya dalam sekejap, sehingga membuat Kurogane percaya diri mampu mengumpulkan uang lebih banyak dari siapapun di Gakuenzono.

Baru juga merayakan keberhasilan pertamanya di Gakuenzono, lagi-lagi Kurogane kesandung masalah, bahkan jauh lebih besar. Buntut dari pelanggaran yang dia lakukan sebelumnya, Hagane Asamatsuri si Ketua Murid Gakuenzono menjatuhi Kurogane denda senilai 100 juta Gakuen. Kurogane harus menanggung utang senilai 100 juta yang harus dicicil 3 juta per bulan selama 3 tahun. Jika tidak sanggup membayar, Kurogane akan dikeluarkan dari sekolah kapan saja. Beban utang seumur hidup membuat Kurogane dicap sebagai ‘orang yang paling tidak diinginkan masuk klub’, tidak punya tempat tinggal, dan mendapatkan gedung sekolah nomor 13 yang paling bobrok karena tak mampu membayar biaya sekolah. Meskipun punya utang segunung, Kurogane tetap tidak menyerah untuk menjadi orang yang paling kaya di Gakuenzono. Karena tidak ada klub yang mau menerimanya, Kurogane akhirya menciptakan klubnya sendiri yang bernama “Mata Kiri Dewa’. Kurogane bahkan membuat perjanjian dengan Hagane si Ketua Murid untuk menanamkan modal di klub barunya. Kurogane akan mencarikan anggota staf komite murid yang tepat dengan kemampuan analisis mata kirinya. Jika Kurogane berhasil, sebagai balasannya Hagane akan mengeluarkan modal untuk klub ‘Mata Kiri Dewa’. Mampukah Kurogane Ichiba melakukannya?

 

“Wanita bodoh yang cuma tahu memakai uang yang diperoleh orang lain sepertimu, tidak punya keindahan yang terlihat di mataku ini!!” -Kurogane Ichiba-

Advertisement

Berita Anime & Manga

Review Tomb Raider King Eps.1-2

Sama-sama mengusung tema dungeon crawling seperti Solo Leveling, mampukah adaptasi anime Tomb Raider King meraih kesuksesan yang sama? Simak ulasan dua episode pertamanya di sini.

Published

on

Review Tomb Raider King Eps.1 2

www.gwigwi.com – Dikhianati kontraktornya, “Tomb Raider” Jooheon Suh hampir saja mati di sebuah makam/tomb berisikan relik ajaib saat tetiba dia kembali 15 tahun lalu saat God’s Tombs ajaib belum bermunculan. Bertekad untuk membalas, berbekal pengetahuan dan keahliannya, dia pergi mengoleksi berbagai elik dengan tangannya sendiri.

TOMB RAIDER KING dianimasikan! Manhwa karya Sanji Jiksong ini tampaknya ingin ikut mencicipi kesuksesan SOLO LEVELING. Sesama sub genre Lit-RPG (cerita dengan mekanisme gim) dan dungeon crawling, mampukah mereka meraup harta kesuksesan yang sama?

Menjanjikan petualangan, misteri, atraksi aksi yang dibumbui strategi cerdik tak terduga, TOMB RAIDER KING memiliki banyak key selling point buat penyuka sub genre ini.

Cerita dengan cerdas tidak dimulai dari awal mula karir Jooheon. Penonton langsung disuguhi misteri pengkhianatan, kenapa dia bisa kembali ke masa lalu dan protagonis yang sudah jago, cepat memahami situasi dan langsung bertindak.

Alur ringkas cepat ini membantu memaku perhatian saat animasi dan art style gambar terasa cukup saja. Sisa informasi world building dieksposisikan tokoh utama sambil jalan yang untungnya lore TOMB RAIDER KING ini cukup sederhana dan mudah dicerna.

Mungkin karena keliatan sederhana ini juga, rasanya dunianya kurang terasa spesial. Tomb yang didatangi Jooheon saat baru sadar terinspirasi dari kisah populer ‘Kapak Emas’ dari dongeng Aesop. Memang boleh saja terinspirasi demikian, tapi seperti kurang ada polesan unik ala TOMB RAIDER KING itu sendiri. Ya, ada twist berbeda, namun kurang terasa menghentak.

Entah karena Jooheon yang digambarkan dengan istilah “OP” atau over power kah? Pemuda ini sudah sakti, pede, cerdas, pokoknya wah. Dari dua episode ini, belum ada tantangan berarti mau itu dari menghajar orang atau melawan monster. Fokus memperlihatkan hebatnya dia memang boleh saja, tetapi cerita seperti lupa memberikan suspense atau pembeda dari sub genre yang sama saat sekarang dunia sudah mengenal SOLO LEVELING dan SHANGRI-LA FRONTIER (tentang petualangan seorang gamer di dunia gim, Shangri-La Frontier).

Rakurou Hizutome atau Sunraku, protagonis SHANGRI-LA FRONTIER memang jago tapi diperlihatkan juga dia tidak bisa memakai armor hingga terkena serangan sekali saja sudah fatal. Hal demikian belum ada di TOMB RAIDER KING. Karakter Jooheon terkesan power fantasy untuk para pembaca merasa strong dan kurang memiliki kedalaman lain supaya audiens bisa relate, malahan dia kadang terasa angkuh menyebalkan.

Bila ingin sekedar melihat protagonis doing cool, strong, smart stuff dibumbui misteri dan petualangan, dan diakhiri dengan mendapat harta yang bisa bikin lebih cool, strong, smart lagi, TOMB RAIDER KING mungkin bisa jadi pilihan.

Review Tomb Raider King Eps.1 2

Review Tomb Raider King Eps.1 2

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 2: Otak Di Atas Otot, Kemenangan Strategi Tanpa Cheat!

Published

on

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

www.gwigwi.com – Banyak anime fantasi memulai cerita dengan tokoh utama yang dibuang karena dianggap tidak berguna. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System mengambil pendekatan yang sedikit berbeda. Masalah Elymas bukan karena ia lemah, melainkan karena semua orang terlalu cepat menyimpulkan nilai seseorang hanya dari label kelas yang ia terima. Gelar Heavy Knight dianggap sebagai jalan buntu, sementara Swordmaster diperlakukan seperti satu-satunya masa depan yang layak. Keputusan ayahnya mengusir Elymas dan mengangkat adik tirinya dari cabang keluarga sebagai pewaris terasa lebih sebagai cerminan obsesi terhadap status daripada keputusan yang benar-benar rasional.

Yang menarik, Elymas tidak menghabiskan waktunya untuk meratapi nasib atau berteriak ingin balas dendam. Ia justru melihat pengasingan itu sebagai kesempatan memulai hidup tanpa ekspektasi keluarganya. Berbekal pengetahuan tentang mekanisme dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah membaca seluruh buku panduan, setiap keputusan yang diambil terasa penuh perhitungan. Kekuatan utama anime ini bukan aksi besar pada dua episode pertama, melainkan kepuasan melihat seseorang perlahan membalikkan stigma dengan logika, pengalaman, dan strategi.

Dari sisi produksi, GoHands kembali mempertahankan identitas visualnya. Desain karakter terlihat bersih dengan pencahayaan yang kaya, sementara latar memiliki detail yang membuat dunia fantasinya terasa hidup. Sayangnya, gaya penyutradaraan mereka masih sulit diabaikan. Kamera terus bergerak, melakukan panning, zoom in, dan zoom out bahkan ketika adegannya hanya percakapan sederhana. Ada momen ketika pergerakan kamera justru lebih aktif daripada karakter yang sedang berbicara. Bagi sebagian penonton ini menjadi ciri khas, tetapi bagi yang lain justru terasa mengalihkan perhatian dari cerita.

Dua episode pembuka ini belum menawarkan kejutan besar, tetapi berhasil menanam rasa penasaran. Anime ini tidak mencoba meyakinkan penonton bahwa Heavy Knight adalah kelas terkuat. Sebaliknya, ia mengajak penonton mempertanyakan apakah sebuah sistem benar-benar salah, atau manusianya saja yang terlalu cepat memberi cap pada sesuatu yang belum dipahami. Pendekatan tersebut membuat perjalanan Elymas terasa lebih menarik daripada sekadar kisah “tokoh yang diremehkan lalu menjadi overpowered.”

Nilai: 8,5/10. Premisnya memang familier, tetapi cara membangun karakter utama dan tema tentang prasangka terhadap potensi seseorang membuat serial ini memiliki identitas yang cukup kuat. Jika GoHands sedikit mengurangi “kamera yang hiperaktif”, pengalaman menontonnya akan terasa jauh lebih nyaman.

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas yang Ternyata Overpowered!

Published

on

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas Yang Ternyata Overpowered!

www.gwigwi.com – Anime fantasi dengan tema tokoh utama yang diusir keluarganya memang bukan hal baru. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System (Tsuihou sareta Tensei Juukishi wa Game Chishiki de Musou suru) menghadirkan konflik yang cukup menarik sejak episode pertamanya. Elymas, putra keluarga bangsawan Edvaughn, dianggap gagal memenuhi harapan karena memperoleh kelas Heavy Knight, kelas yang dipandang tidak memiliki masa depan dibandingkan Swordmaster. Pandangan sempit tersebut membuat ayahnya mengambil keputusan yang sangat drastis.

Situasi semakin rumit ketika Malice, adik tiri Elymas yang berasal dari cabang keluarga, memperoleh kelas Swordmaster. Berbekal status tersebut, Malice dengan cepat menggantikan posisi Elymas sebagai pewaris resmi keluarga Edvaughn. Kudeta terhadap hak waris itu berlangsung tanpa banyak perlawanan karena seluruh keluarga lebih memilih mengejar prestise daripada menilai kemampuan seseorang secara objektif. Adegan ini menjadi fondasi konflik utama serial, sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah label mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Menariknya, Elymas tidak tenggelam dalam amarah atau sibuk merencanakan balas dendam. Ia menerima pengasingannya sebagai awal kehidupan baru. Berkat pengetahuannya mengenai sistem dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah menguasai seluruh mekanisme permainan, Elymas menyadari bahwa Heavy Knight bukanlah kelas yang seburuk anggapan banyak orang. Cara berpikirnya yang tenang dan penuh perhitungan membuat tokoh utama terasa berbeda dibanding protagonis fantasi pada umumnya yang sering mengandalkan ledakan emosi.

Dari sisi visual, GoHands kembali mempertahankan ciri khasnya. Desain karakter terlihat tajam dengan efek pencahayaan yang kaya, sementara latar dunia fantasinya memiliki detail yang memanjakan mata. Sayangnya, gaya sinematografi mereka masih menjadi pedang bermata dua. Kamera terus bergerak dengan panning, zoom, dan perubahan sudut yang cukup agresif, bahkan saat adegan dialog berlangsung. Bagi sebagian penonton hal ini memberikan kesan dinamis, tetapi tidak sedikit yang justru merasa pergerakannya terlalu berlebihan sehingga mengalihkan fokus dari percakapan para karakter.

Sebagai episode pembuka, anime ini berhasil memperkenalkan dunia, sistem kelas, serta konflik keluarga yang menjadi pemicu perjalanan Elymas. Alih-alih hanya menyajikan kisah tokoh yang diremehkan lalu menjadi sangat kuat, episode pertama lebih menekankan bagaimana prasangka dan obsesi terhadap status dapat membuat seseorang kehilangan haknya. Itulah yang membuat perjalanan Elymas terasa layak untuk terus diikuti.

Nilai: 8,5/10. Episode pertama berhasil membangun konflik dengan baik dan memperkenalkan karakter utama yang cerdas serta tenang. Jika GoHands sedikit mengurangi pergerakan kameranya yang terlalu aktif, pengalaman menonton akan terasa lebih nyaman tanpa mengurangi kualitas visual yang memang menjadi kekuatan mereka.

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending