Connect with us

Berita Anime & Manga

Review Manga: Hell’s Kitchen

Published

on

GwiGwi.com – Wah, sudah lama saya tidak menulis review manga. Kali ini saya kembali menulis sebuah review manga, yang berjudul Hell’s Kitchen. Loh? Hell’s Kitchen? Acara di salah satu stasiun televisi itu? Yang acaranya sadis bin kejam? Bukan, bukan. Ini bukan manga tentang acara masak-memasak yang chefnya super sadis itu. Manga ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan acara itu. Manga ini bercerita tentang seorang remaja laki-laki yang ditempa menjadi chef nomor satu dengan cara-cara yang ekstrem bak neraka. Menurut saya manga ini jauh lebih sadis daripada komentar pedas dari chef di acara televisi itu. Kalau tertarik, bolehlah simak review singkat dari saya.

Judul : Hell’s Kitchen
Pengarang : Mitsuru Nishimura & Gum Amazi
Penerbit : Elex Media Komputindo
Volume : 2 (masih berlanjut)
Genre : shounen, cooking, school life, fiction, paranormal,

“Makanan paling enak di neraka adalah jiwa seorang juru masak sejati. Sayangnya yang namanya makanan enak itu sulit sekali didapat. Karena itulah, daripada duduk menunggu, Dogma si penikmat makanan paling tersohor di neraka memutuskan untuk membuat sendiri juru masak sejati itu.”

 

Hell’s Kitchen adalah manga ciptaan duo Mitsuru Nishimura & Gum Amazi. Pertama kali diterbitkan di Jepang tahun 2010 oleh Kodansha. Kalau di Indonesia sendiri baru diterbitkan tahun 2014 dan baru 2 volume yang dirilis. Kalau kalian pikir ini manga tentang memasak yang asal-asalan, kalian salah besar. Ini benar-benar manga tentang memasak yang serius, hanya saja dikemas dengan sesuatu yang nggak umum. Awal cerita dimulai dari diperkenalkannya tokoh protagonis utama yang bernama Moriya Satoru, seorang siswa kelas 3 SMP yang biasa-biasa saja. Boleh dibilang Satoru adalah orang yang pesimis karena menolak mencoba sesuatu yang dianggapnya tidak mungkin dia lakukan, karena menganggap kemampuannya sangat terbatas. Cerita berlanjut ketika Satoru diam-diam membuang ikan Shishamo yang dibencinya pada jam makan malam. Tiba-tiba dari dalam tempat sampah muncul tangan yang memaksa Satoru memakan ikan Shishamo yang tadi dia buang. Ternyata tangan itu adalah kepunyaan Dogma, seseorang yang memperkenalkan diri sebagai bangsawan pelahap makanan aneh di neraka. Jelas saja Satoru kaget bukan kepalang, apalagi Dogma ternyata tidak bisa dilihat oleh kakak Satoru.

 

 

Tanpa basa-basi Dogma langsung menyatakan bahwa Satoru akan ia jadikan juru masak sejati. Tapi yang membuat Satoru lebih terkejut adalah setelah dia menjadi juru masak sejati, Dogma akan memakan jiwanya yang sudah menjadi seorang juru masak. Dogma mengatakan kalau makanan paling enak di neraka adalah jiwa dari seorang juru masak sejati. Tapi Dogma merasa bosan karena tidak ada juru masak yang mampu memuaskan seleranya. Oleh karena itu, dia berniat membuat makanan terlezatnya sendiri dengan menciptakan juru masak yang sejati. Dan orang yang terpilih itu adalah Moriya Satoru. Karena berbagai ancaman dari Dogma, akhirnya Satoru tidak punya pilihan lain selain menuruti Dogma. Hari-hari indahnya pun kini berubah menjadi hari-hari bak di neraka karena pelatihan yang super kejam dari Dogma. Di sinilah Hell’s Kitchen akan dimulai.

Debut (?) Satoru sebagai seorang juru masak dimulai sehari setelah pertemuannya dengan Dogma. Hari itu Satoru bertemu dengan Ichinose Hakka, teman sekelasnya yang akan makan siang di Restoran Versailles yang terkenal dengan menu Hamburger Bento seharga 5.000 yen. Dengan dalih “Kamu akan jadi koki terbaik, pengalaman adalah guru terbaik”, Dogma pun menyuruh Satoru untuk ikut makan di Restoran Versailles. Setelah tiba di sana, Dogma menggunakan kekuatannya untuk mengendalikan tubuh Satoru dan secara tiba-tiba mengatakan bahwa makanan di restoran itu seperti makanan babi. Satoru yang dikendalikan Dogma dengan percaya diri mengatakan bisa membuat hamburger yang jauh lebih enak. Tidak terima dengan hinaan itu, Sakamaki Taizou, si kepala koki, menerima tantangan untuk bertanding menentukan hamburger buatan siapa yang terbaik. Satoru awalnya menolak memasak karena dia memang tidak bisa memasak. Akan tetapi karena Dogma mengancam akan melemparkan Satoru pada setan-setan kelaparan, (lagi-lagi) Satoru tidak punya pilihan lain. Ditambah lagi Dogma sangat percaya diri dengan pengetahuan memasaknya karena mendapat ingatan dari roh koki yang pernah dia makan. Dogma yakin semuanya akan berjalan lancar jika Satoru memasak sesuai perintahnya.

 

 

Pertandingan pun dimulai! Sementara si kepala koki memasak dengan bahan makanan pilihan berkualitas, Dogma justru memerintahkan Satoru memasak dengan bahan-bahan yang dibuang si kepala koki. Satoru pun memasak di bawah tekanan, intimidasi dan ancaman dari Dogma. Satoru benar-benar dipaksa jatuh bangun sampai babak belur agar menghasilkan hidangan yang luar biasa. Setelah melewati berbagai kesulitan (dan kesengsaraan), akhirnya Satoru berhasil menyelesaikan Hamburger buatannya. Si kepala koki membuat Hamburger Steak A la Royale yang menggunakan bahan makanan terbaik. Fillet terbaik, Sautee Foie Grasse, saus yang menggunakan Troufee dari Pegunungan di Perancis, dan daun emas; semuanya menyatu dalam hamburger kelas atas buatan si kepala koki. Para juri pun dibuat berdecak kagum dan memberikan banyak pujian, termasuk Ichinose yang ikut menjadi juri. Satoru menjadi pesimis dengan hamburger buatannya dan merasa tidak mungkin bisa mengalahkan hamburger si kepala koki. Namun justru sebaliknya, ternyata para juri justru menganggap hamburger sederhana Satoru lebih harum dan juicy. Para juri sepakat bahwa hamburger buatan Satoru jauh lebih enak meskipun hanya memakai sisa daging dari tulang. Satoru yang lagi-lagi dikendalikan Dogma menjelaskan bahwa dia menambahkan Suet yang dibuang si kepala koki dalam hamburgernya. Suet adalah kumpulan lemak di antara sengkel dan ginjal sapi. Titik leleh Suet sangat rendah sehingga cepat meleleh jika dipanasi. Jika ditambahkan ke daging, akan menambah rasa gurih dan terasa lembut di lidah. Satoru (atau Dogma) mengatakan bahwa kualitas makanan tidak dinilai dari kemewahannya melainkan dari cara menghidupkan semua bahan makanan. Asal ada usaha dan waktu, masakan pasti jadi enak, karena di dunia ini tidak ada yang tidak bisa dimakan.

 

 

Merasa sudah tidak sanggup lagi menerima pelatihan sadis nan kejam dari Dogma, Satoru akhirnya memikirkan sebuah rencana. Satoru berencana untuk mengunjungi jurusan masak di SMK Pangan dan Pertanian. Tujuan Satoru adalah supaya Dogma menemukan seseorang yang jauh lebih handal dalam memasak dibanding dirinya sehingga Dogma tidak lagi mengganggu hidupnya. Tapi rencana Satoru gagal total karena Dogma menganggap tidak ada seorangpun di sana yang lebih enak dari Satoru. Lagi-lagi Dogma merasuki tubuh Satoru dan mengatakan celaan dan hinaan terhadap orang-orang di jurusan masak. Satoru (yang dirasuki Dogma) kemudian menantang siapapun dari jurusan masak untuk bertanding dengan dirinya. Lawannya adalah Morisaki Yoh, salah seorang siswa jurusan masak yang dikenal memiliki teknik yang hebat. Tapi pada akhirnya Satoru berhasil memenangkan pertandingan karena berhasil membuat hidangan luar biasa hanya dengan memakai bahan makanan sisa. Satoru pun diterima masuk ke jurusan masak tanpa melalui ujian. Satoru yang dirasuki Dogma sempat menolak penawaran itu karena dianggap buang-buang waktu. Tapi Satoru sendiri ternyata ingin menjadi siswa jurusan masak sehingga Satoru kemudian menerima tawaran itu. Nah, bagaimanakah kehidupan Satoru di jurusan masak? Sanggupkah Satoru menjalani pelatihan bak neraka dari Dogma dan jurusan masak sekaligus?

 

Karakter Utama

Moriya Satoru
Cowok SMP biasa yang tak bisa apa-apa tapi dipilih Dogma menjadi koki nomor satu agar bisa dimakan. Setelah lulus SMP, ia masuk ke jurusan masak di SMK Pangan dan Pertanian. Setelah masuk jurusan masak dia mulai bisa menikmati memasak. Tapi karena diperalat oleh Dogma dan melakukan kekerasan, dia ditakuti dan dibenci murid lain.

 

Dogma
Sang juru masak neraka yang sombong dan kejam. Pengetahuannya di bidang memasak tak ada duanya karena mendapat ingatan dari koki yang pernah ia makan. Demi bisa memakan “jiwa juru masak sejati” dia merasuki tubuh Satoru yang tak bisa apa-apa untuk menjadikannya koki sejati dari nol. Sosoknya tak terlihat siapapun kecuali Satoru.

 

Ichinose Hakka
Teman sekelas Satoru waktu SMP sekaligus cewek yang disukai Satoru. Cewek yang sangat suka makan. Hanya makanan yang ada di pikirannya, sehingga ia terlihat sedikit bodoh. Sangat menyukai hamburger buatan Satoru yang dibuat di Restoran Versailles.

 

 

Morisaki Yoh
Siswa jurusan masak yang menjadi lawan Satoru dalam ujian masuk khusus jurusan masak. Sangat suka kentang dan punya teknik memasak yang hebat. Kepercayaan dirinya sangat tinggi tapi langsung hancur ketika dikalahkan Satoru (dan juga dicela habis-habisan oleh Dogma yang merasuki Satoru).

 

Nakarai Gien
Siswa jurusan masak yang sangat jenius tapi punya kepribadian yang aneh. Nyaris tidak pernah mengikuti pelajaran dan selalu ikut ujian remedial, namun kemampuan masaknya tidak perlu diragukan lagi. Seorang jenius yang kata Dogma rohnya lebih enak daripada Satoru. Secara sepihak menjadikan Satoru sebagai rival dalam bidang memasak.

 

Tachibana Kei
Siswa jurusan masak yang sangat ahli dalam rempah-rempah. Beranggapan bahwa memasak adalah hal remeh karena bumbu lah yang menjadi kunci masakan. Yakin bahwa rempah-rempah punya potensi yang tak terbatas tergantung kombinasinya. Kelebihannya adalah penciuman yang sangat kuat seperti anjing. Masa lalunya sedikit kelam.

 

 

Kelebihan
– Jalan cerita yang tidak seperti kebanyakan manga bertema memasak menjadi daya tarik tersendiri.
– Karakter-karakter yang ada dibangun dengan sangat kuat.
– Seperti manga bertema memasak lainnya, banyak informasi dan tips tentang memasak.
Kekurangan
– Banyak adegan kekerasan.

 

 

 

Advertisement

Berita Anime & Manga

Review Tomb Raider King Eps.1-2

Sama-sama mengusung tema dungeon crawling seperti Solo Leveling, mampukah adaptasi anime Tomb Raider King meraih kesuksesan yang sama? Simak ulasan dua episode pertamanya di sini.

Published

on

Review Tomb Raider King Eps.1 2

www.gwigwi.com – Dikhianati kontraktornya, “Tomb Raider” Jooheon Suh hampir saja mati di sebuah makam/tomb berisikan relik ajaib saat tetiba dia kembali 15 tahun lalu saat God’s Tombs ajaib belum bermunculan. Bertekad untuk membalas, berbekal pengetahuan dan keahliannya, dia pergi mengoleksi berbagai elik dengan tangannya sendiri.

TOMB RAIDER KING dianimasikan! Manhwa karya Sanji Jiksong ini tampaknya ingin ikut mencicipi kesuksesan SOLO LEVELING. Sesama sub genre Lit-RPG (cerita dengan mekanisme gim) dan dungeon crawling, mampukah mereka meraup harta kesuksesan yang sama?

Menjanjikan petualangan, misteri, atraksi aksi yang dibumbui strategi cerdik tak terduga, TOMB RAIDER KING memiliki banyak key selling point buat penyuka sub genre ini.

Cerita dengan cerdas tidak dimulai dari awal mula karir Jooheon. Penonton langsung disuguhi misteri pengkhianatan, kenapa dia bisa kembali ke masa lalu dan protagonis yang sudah jago, cepat memahami situasi dan langsung bertindak.

Alur ringkas cepat ini membantu memaku perhatian saat animasi dan art style gambar terasa cukup saja. Sisa informasi world building dieksposisikan tokoh utama sambil jalan yang untungnya lore TOMB RAIDER KING ini cukup sederhana dan mudah dicerna.

Mungkin karena keliatan sederhana ini juga, rasanya dunianya kurang terasa spesial. Tomb yang didatangi Jooheon saat baru sadar terinspirasi dari kisah populer ‘Kapak Emas’ dari dongeng Aesop. Memang boleh saja terinspirasi demikian, tapi seperti kurang ada polesan unik ala TOMB RAIDER KING itu sendiri. Ya, ada twist berbeda, namun kurang terasa menghentak.

Entah karena Jooheon yang digambarkan dengan istilah “OP” atau over power kah? Pemuda ini sudah sakti, pede, cerdas, pokoknya wah. Dari dua episode ini, belum ada tantangan berarti mau itu dari menghajar orang atau melawan monster. Fokus memperlihatkan hebatnya dia memang boleh saja, tetapi cerita seperti lupa memberikan suspense atau pembeda dari sub genre yang sama saat sekarang dunia sudah mengenal SOLO LEVELING dan SHANGRI-LA FRONTIER (tentang petualangan seorang gamer di dunia gim, Shangri-La Frontier).

Rakurou Hizutome atau Sunraku, protagonis SHANGRI-LA FRONTIER memang jago tapi diperlihatkan juga dia tidak bisa memakai armor hingga terkena serangan sekali saja sudah fatal. Hal demikian belum ada di TOMB RAIDER KING. Karakter Jooheon terkesan power fantasy untuk para pembaca merasa strong dan kurang memiliki kedalaman lain supaya audiens bisa relate, malahan dia kadang terasa angkuh menyebalkan.

Bila ingin sekedar melihat protagonis doing cool, strong, smart stuff dibumbui misteri dan petualangan, dan diakhiri dengan mendapat harta yang bisa bikin lebih cool, strong, smart lagi, TOMB RAIDER KING mungkin bisa jadi pilihan.

Review Tomb Raider King Eps.1 2

Review Tomb Raider King Eps.1 2

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 2: Otak Di Atas Otot, Kemenangan Strategi Tanpa Cheat!

Published

on

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

www.gwigwi.com – Banyak anime fantasi memulai cerita dengan tokoh utama yang dibuang karena dianggap tidak berguna. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System mengambil pendekatan yang sedikit berbeda. Masalah Elymas bukan karena ia lemah, melainkan karena semua orang terlalu cepat menyimpulkan nilai seseorang hanya dari label kelas yang ia terima. Gelar Heavy Knight dianggap sebagai jalan buntu, sementara Swordmaster diperlakukan seperti satu-satunya masa depan yang layak. Keputusan ayahnya mengusir Elymas dan mengangkat adik tirinya dari cabang keluarga sebagai pewaris terasa lebih sebagai cerminan obsesi terhadap status daripada keputusan yang benar-benar rasional.

Yang menarik, Elymas tidak menghabiskan waktunya untuk meratapi nasib atau berteriak ingin balas dendam. Ia justru melihat pengasingan itu sebagai kesempatan memulai hidup tanpa ekspektasi keluarganya. Berbekal pengetahuan tentang mekanisme dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah membaca seluruh buku panduan, setiap keputusan yang diambil terasa penuh perhitungan. Kekuatan utama anime ini bukan aksi besar pada dua episode pertama, melainkan kepuasan melihat seseorang perlahan membalikkan stigma dengan logika, pengalaman, dan strategi.

Dari sisi produksi, GoHands kembali mempertahankan identitas visualnya. Desain karakter terlihat bersih dengan pencahayaan yang kaya, sementara latar memiliki detail yang membuat dunia fantasinya terasa hidup. Sayangnya, gaya penyutradaraan mereka masih sulit diabaikan. Kamera terus bergerak, melakukan panning, zoom in, dan zoom out bahkan ketika adegannya hanya percakapan sederhana. Ada momen ketika pergerakan kamera justru lebih aktif daripada karakter yang sedang berbicara. Bagi sebagian penonton ini menjadi ciri khas, tetapi bagi yang lain justru terasa mengalihkan perhatian dari cerita.

Dua episode pembuka ini belum menawarkan kejutan besar, tetapi berhasil menanam rasa penasaran. Anime ini tidak mencoba meyakinkan penonton bahwa Heavy Knight adalah kelas terkuat. Sebaliknya, ia mengajak penonton mempertanyakan apakah sebuah sistem benar-benar salah, atau manusianya saja yang terlalu cepat memberi cap pada sesuatu yang belum dipahami. Pendekatan tersebut membuat perjalanan Elymas terasa lebih menarik daripada sekadar kisah “tokoh yang diremehkan lalu menjadi overpowered.”

Nilai: 8,5/10. Premisnya memang familier, tetapi cara membangun karakter utama dan tema tentang prasangka terhadap potensi seseorang membuat serial ini memiliki identitas yang cukup kuat. Jika GoHands sedikit mengurangi “kamera yang hiperaktif”, pengalaman menontonnya akan terasa jauh lebih nyaman.

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas yang Ternyata Overpowered!

Published

on

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas Yang Ternyata Overpowered!

www.gwigwi.com – Anime fantasi dengan tema tokoh utama yang diusir keluarganya memang bukan hal baru. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System (Tsuihou sareta Tensei Juukishi wa Game Chishiki de Musou suru) menghadirkan konflik yang cukup menarik sejak episode pertamanya. Elymas, putra keluarga bangsawan Edvaughn, dianggap gagal memenuhi harapan karena memperoleh kelas Heavy Knight, kelas yang dipandang tidak memiliki masa depan dibandingkan Swordmaster. Pandangan sempit tersebut membuat ayahnya mengambil keputusan yang sangat drastis.

Situasi semakin rumit ketika Malice, adik tiri Elymas yang berasal dari cabang keluarga, memperoleh kelas Swordmaster. Berbekal status tersebut, Malice dengan cepat menggantikan posisi Elymas sebagai pewaris resmi keluarga Edvaughn. Kudeta terhadap hak waris itu berlangsung tanpa banyak perlawanan karena seluruh keluarga lebih memilih mengejar prestise daripada menilai kemampuan seseorang secara objektif. Adegan ini menjadi fondasi konflik utama serial, sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah label mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Menariknya, Elymas tidak tenggelam dalam amarah atau sibuk merencanakan balas dendam. Ia menerima pengasingannya sebagai awal kehidupan baru. Berkat pengetahuannya mengenai sistem dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah menguasai seluruh mekanisme permainan, Elymas menyadari bahwa Heavy Knight bukanlah kelas yang seburuk anggapan banyak orang. Cara berpikirnya yang tenang dan penuh perhitungan membuat tokoh utama terasa berbeda dibanding protagonis fantasi pada umumnya yang sering mengandalkan ledakan emosi.

Dari sisi visual, GoHands kembali mempertahankan ciri khasnya. Desain karakter terlihat tajam dengan efek pencahayaan yang kaya, sementara latar dunia fantasinya memiliki detail yang memanjakan mata. Sayangnya, gaya sinematografi mereka masih menjadi pedang bermata dua. Kamera terus bergerak dengan panning, zoom, dan perubahan sudut yang cukup agresif, bahkan saat adegan dialog berlangsung. Bagi sebagian penonton hal ini memberikan kesan dinamis, tetapi tidak sedikit yang justru merasa pergerakannya terlalu berlebihan sehingga mengalihkan fokus dari percakapan para karakter.

Sebagai episode pembuka, anime ini berhasil memperkenalkan dunia, sistem kelas, serta konflik keluarga yang menjadi pemicu perjalanan Elymas. Alih-alih hanya menyajikan kisah tokoh yang diremehkan lalu menjadi sangat kuat, episode pertama lebih menekankan bagaimana prasangka dan obsesi terhadap status dapat membuat seseorang kehilangan haknya. Itulah yang membuat perjalanan Elymas terasa layak untuk terus diikuti.

Nilai: 8,5/10. Episode pertama berhasil membangun konflik dengan baik dan memperkenalkan karakter utama yang cerdas serta tenang. Jika GoHands sedikit mengurangi pergerakan kameranya yang terlalu aktif, pengalaman menonton akan terasa lebih nyaman tanpa mengurangi kualitas visual yang memang menjadi kekuatan mereka.

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending