Berita Anime & Manga
Review Gate: Jieitai Kanochi nite, Kaku Tatakaeri Episode 7
[alert-warning]SPOILER ALERT! Read at your own risk[/alert-warning]
GwiGwi.com – Ketemu lagi dengan LeinRa! Seperti yang kita telah ketahui di episode sebelumnya, Itami memerintahkan teman-temannya untuk pergi meninggalkannya agar tidak terjadi konflik tidak perlu antara Recon Team 3 dengan Rose Order of Knights. Recon Team 3 telah bersiap malam harinya di dekat kota Italica, menunggu waktu yang tepat untuk menyusup masuk dan menyelamatkan Itami.
Dan seperti yang bisa kita kira, Pina marah besar atas tindakan yang dilakukan ordenya kepada Itami (bukan hanya menangkap Itami, mereka tampaknya telah membuat Itami babak belur dalam perjalanan mereka membawanya ke Italica, terlihat Itami pingsan penuh luka) bahkan sampai melempar gelas anggurnya ke salah satu ksatrianya.
Bagi Pina, mereka telah jelas melanggar perjanjian damai di antaranya dengan JSDF tepat di hari yang sama saat perjanjian dibuat. Grey berpendapat bahwa mereka bisa memakai alasan ini untuk memulai perang (taktik yang menurutnya khas bagi Empire). Tapi, karena tidak ada korban jiwa dalam konflik tersebut, Grey merasa Pina bisa saja minta maaf ke mereka. Pina, karena posisinya sebagai puteri kerajaan, tidak bisa begitu saja setuju untuk menundukkan kepala kepada JSDF namun dia juga paham bahwa melawan mereka sama saja dengan bunuh diri.
Di luar, Kuribayashi (yang tidak yakin Itami masih selamat jiwanya, melihat perawakan Itami) diberitahukan sebuah fakta mengejutkan oleh Kurata, bahwa Itami adalah seorang ranger. Ranger adalah anggota-anggota JSDF yang telah melalui latihan berat dan panjang untuk membentuk jiwa dan raga menyerupai baja. Karena itulah, Kurata yakin Itami pasti baik-baik saja. Sesaat setelah dialog mengejutkan tersebut, mereka merasa saat itulah yang tpat bagi mereka untuk menyusup ke Italica, dan segera berangkat ke sana.
Lelei, Tuka, dan Rory masuk terlebih dahulu melalui gerbang kota. Tuka naik ke atas dinding kota, dan melakukan kemampuan spirit wielding-nya. Dia mengendalikan spirit of sleep untuk menidurkan semua penjaga dinding perbatasan kota sehingga Recon Team 3 bisa masuk dengan leluasa.
Sementara itu, Itami diistirahatkan di kamar milik Countess Formar. Rupanya Pina telah memerintahkan untuk memastikan Itami dirawat dengan baik dan penuh perhatian. Selain itu, ksatria yang telah bertindak kasar kepada Itami telah diberi hukuman. Kepala pelayan mengatakan bahwa jika Itami dan JSDF ingin menghancurkan ITalica sebagai langkah pemberontakan terhadap Empire akibat tindakan tak pantas yang diterima orang yang telah menyelamatkan kota tersebut (merujuk ke Itami), mereka bersedia ikut membantu di sisi JSDF asalkan mereka tidak melukai Countess Myui. Itami membalas bahwa mereka tak akan berniat melakukan hal tersebut, sehingga kepala pelayan sangat berterima kasih atas kebaikannya. Sampai Itami pulih, dia akan dirawat oleh keempat pelayan yang telah berada di sisi tempat tidur Itami. Oh ya, nama-nama para pelayan tersebut adalah: Mamina, seorang warrior bunny; Persia, cat people; Aurea, medusa; dan Mome yang adalah…manusia. Karena kalau semuanya demi-human berlebihan mungkin. Pemimpin kota sebelumnya, menurut kepala pelayan, menjunjung kebebasan antar ras. Dia sampai bersusah payah mencari pelayan yang bukan manusia. Tapi sebagian dari usahanya itu juga dipicu oleh selera pribadinya.
Sementara itu, Recon Team 3 sudah menyusup ke dalam gedung pusat kota Italica melalui jendela. Mamina yang memiliki pendengaran tajam mendengar usaha penyusupan tersebut. Kepala pelayan akhirnya memerintahkannya dan Persia untuk mengecek. Jika mereka adalah teman-teman Itami, maka mereka harus mengajaknya ke kamar Itami berada. Jelas akhirnya Recon Team 3 bertemu Mamina dan Persia, lalu Mamina dan Persia membiarkan Recon Team 3 memasuki kamar Itami berada. Reaksi mereka? Jelas hanya satu: bingung.
Di ruangan lain, Pina menjelaskan kepada Bozes (yang rambut pirang) dan Panache (yang rambut perak) bagaimana mereka telah melanggar perjanjian yang dibuat antara Pina dengan JSDF. Pina memerintahkan Bozes untuk bisa membuat mereka bersikap seakan penangkapan sebelumnya itu tidak pernah terjadi, dan untuk melakukannya Pina memerintahkan Bozes untuk “menggunakan tubuhnya” kepada Itami. Bozes menyatakan telah siap menghadapi masalah seperti itu karena posisinya sebagai bangsawan, dan dia rela “mengorbankan tubuhnya” untuk keselamatan Empire. Dia pun akhirnya pergi ke kamar Itami hanya menggunakan pakaian tidurnya.
Jelas Bozes tidak menyangka kalau kamar Itami ternyata tidak hanya diisi pelayan yang melayani Itami, tapi juga riuh oleh Recon Team 3 yang memasuki Italica. Bozes yang kaget dan malu karena keramaian tersebut, menjadi tersulut amarahnya karena dia terabaikan oleh Itami yang sibuk berbicara dengan teman-temannya (noble pride, eh?) dan langsung menampar dan juga mencakar Itami.
Teriakan kesakitan Itami sepertinya terdengar ke satu gedung. Recon Team 3 dan Bozes akhirnya menghadap ke Pina dan menjelaskan yang terjadi (yang membuat Pina tambah panik untuk mencegah JSDF menyatakan perang ke mereka). Yang membuat keadaan lebih rumit lagi bagi Pina, Recon Team 3 memutuskan untuk segera pulang bersama Itami. Mereka sampai menolak tawaran sarapan dari Pina karena Itami harus menghadiri Sidang Nasional di Jepang. Lelei menerjemahkannya ke Pina bahwa mereka harus melapor ke senat mereka di Jepang yang semakin membuat Pina panik karena dia membayangkan bahwa sepatah kata saja dari Itami dalam laporan tersebut akan cukup untuk membawa seluruh JSDF melawan Empire. Akhirnya Pina memutuskan untuk ikut ke Arnus agar dia bisa meminta maaf langsung ke atasan Itami.
Maka jadilah Pina (dan Bozes karena dia yang paling banyak bikin gara-gara dalam masalah ini) ikut Recon Team 3 ke Arnus. Karena mengendarai wagon, mereka sampai di Arnus jauh lebih cepat dari waktu tempuh yang biasa Pina perkirakan saat mengendarai kuda. Selain itu, dia juga kembali takjud dengan “pegasus besi” (helikopter) JSDF. Tidak hanya itu, dia juga takjub melihat prajurit-prajurit JSDF yang berlatih dengan senapan mereka, bahkan mengira bahwa para prajuirt tersebut adalah penyihir. Lelei menjelaskan bahwa “tongkat” yang mereka bawa itu bukan tongkat sihir, dan dia menjelaskan cara kerja senapan seperti “silinder yang diinfusikan sihir ledakan yang lalu digunakan JSDF untuk melontarkan timah”. Belum selesai, dia kembali takjub melihat tank-tank JSDF yang menjalani latihan, mendeskripsikan mereka sebagai “gajah besi”. Pina bertanya-tanya kenapa pasukan semengerikan ini menyerang mereka. Lelei menjawabnya dengan menggambarkan bahwa Empire telah menginjak ekor Griffin. Pina terkejut bagaimana Lelei bisa berkata demikian di saat Empire berada dalam keadaan terancam tapi Lelei hanya menyanggah bahwa dirinya hanya pengelana jadi keadaan Empire tidak ada hubungannya dengannya. Pina menangkap tanggapan Lelei sebagai fakta bahwa walau Empire bisa menguasai suatu wilayah dengan kekuatan, mereka tidak bisa memenangi hati rakyat tersebut.
Sesampainya di markas, Pina ingin berbicara sebentar dengan Itami untuk melakukan persuasi dengannya (mungkin agar dia tidak melaporkan hal yang dapat membuat JSDF mengibarkan bendera perang kepada Empire) namun Itami menolak karena dia harus mengurus hal-hal mengenai sidang yang akan dia datangi. Akhirnya Pina dan Bozes, dan Lelei sebagai penerjemah, menemui Jenderal Hazama yang didampingi Letnan Yamagida. Pina menyatakan alasan kedatangannya secara pribadi kepada Hazama untuk meminta maaf atas kelakukan tidak pantas yang dilakukan ordenya kepada Itami dan kawan-kawannya, yang dia akui diakibatkan miskomunikasi antara pihak di Italica dengan pasukan ordenya yang mendatangi Italica belakangan. Hazama merasa Pina sudah cukup baik untuk menjadi mediator antara JSDF dengan Empire, jadi jika perjanjian yang dibuat memberinya masalah yang merepotkan mungkin mereka harus memikirkan ulang soal perjanjian tersebut tapi Pina menjawab bahwa perjanjiannya sudah sangat baik dalam keadaannya sekarang. Yamagida lalu angkat bicara, membicarakan soal luka yang dialami Itami di mukanya (yang oleh Itami ingin dianggap sebagai cedera yang dialami semasa menjalani tugas) yang diakibatkan oleh Bozes, dan bertanya apakah Itami berkelakukan yang tak senonoh kepada Bozes sehingga Bozes sampai melakukan hal itu, Bozes menjawab tidak. Yamagida lalu bertanya apa alasan detilnya dia melakukan hal tersebut ke Itami. Tapi karena pertanyaan tersebut membuat Bozes dan Pina takut dan bingung untuk menjawabnya, Hazama akhirnya menyuruh Yamagida berhenti bertanya.
Sore harinya, Itami memberitahu Tuka bahwa Tuka akan ikut Itami ke Jepang untuk menghadiri Sidang Nasional yang Itami akan hadiri sebagai perwakilan dari dunianya bersama Lelei (yang lagi-lagi akan menjadi penerjemah). Tapi di akhir pembicaraan mereka, rupanya Rory dan Kato mendengar pembicaraan mereka dan ingin ikut bersama Itami dan Tuka ke Jepang.
Tibalah hari esok di mana Itami akan menghadiri sidang nasional tersebut. Yang menemaninya ke Jepang selain dua anggota dari Recon Team 3 adalah Lelei, Tuka, Rory, serta Pina dan Bozes yang tidak disangka Itami untuk ikut (Pina memutuskan untuk ikut ke Jepang untuk mengenal budaya mereka, dengan harapan mengerti alasan mereka bertarung) tapi Yamagida berkata pihak di Jepang sudah menyetujui kedatangan mereka. Maka dimulailah perjalanan mereka ke Jepang…di episode berikutnya!
BONUS:
[youtube id=”_sGH3gNvVfk” width=”600″ height=”340″ position=”center”]
Berita Anime & Manga
Review Tomb Raider King Eps.1-2
Sama-sama mengusung tema dungeon crawling seperti Solo Leveling, mampukah adaptasi anime Tomb Raider King meraih kesuksesan yang sama? Simak ulasan dua episode pertamanya di sini.
www.gwigwi.com – Dikhianati kontraktornya, “Tomb Raider” Jooheon Suh hampir saja mati di sebuah makam/tomb berisikan relik ajaib saat tetiba dia kembali 15 tahun lalu saat God’s Tombs ajaib belum bermunculan. Bertekad untuk membalas, berbekal pengetahuan dan keahliannya, dia pergi mengoleksi berbagai elik dengan tangannya sendiri.
TOMB RAIDER KING dianimasikan! Manhwa karya Sanji Jiksong ini tampaknya ingin ikut mencicipi kesuksesan SOLO LEVELING. Sesama sub genre Lit-RPG (cerita dengan mekanisme gim) dan dungeon crawling, mampukah mereka meraup harta kesuksesan yang sama?
Menjanjikan petualangan, misteri, atraksi aksi yang dibumbui strategi cerdik tak terduga, TOMB RAIDER KING memiliki banyak key selling point buat penyuka sub genre ini.
Cerita dengan cerdas tidak dimulai dari awal mula karir Jooheon. Penonton langsung disuguhi misteri pengkhianatan, kenapa dia bisa kembali ke masa lalu dan protagonis yang sudah jago, cepat memahami situasi dan langsung bertindak.
Alur ringkas cepat ini membantu memaku perhatian saat animasi dan art style gambar terasa cukup saja. Sisa informasi world building dieksposisikan tokoh utama sambil jalan yang untungnya lore TOMB RAIDER KING ini cukup sederhana dan mudah dicerna.
Mungkin karena keliatan sederhana ini juga, rasanya dunianya kurang terasa spesial. Tomb yang didatangi Jooheon saat baru sadar terinspirasi dari kisah populer ‘Kapak Emas’ dari dongeng Aesop. Memang boleh saja terinspirasi demikian, tapi seperti kurang ada polesan unik ala TOMB RAIDER KING itu sendiri. Ya, ada twist berbeda, namun kurang terasa menghentak.
Entah karena Jooheon yang digambarkan dengan istilah “OP” atau over power kah? Pemuda ini sudah sakti, pede, cerdas, pokoknya wah. Dari dua episode ini, belum ada tantangan berarti mau itu dari menghajar orang atau melawan monster. Fokus memperlihatkan hebatnya dia memang boleh saja, tetapi cerita seperti lupa memberikan suspense atau pembeda dari sub genre yang sama saat sekarang dunia sudah mengenal SOLO LEVELING dan SHANGRI-LA FRONTIER (tentang petualangan seorang gamer di dunia gim, Shangri-La Frontier).
Rakurou Hizutome atau Sunraku, protagonis SHANGRI-LA FRONTIER memang jago tapi diperlihatkan juga dia tidak bisa memakai armor hingga terkena serangan sekali saja sudah fatal. Hal demikian belum ada di TOMB RAIDER KING. Karakter Jooheon terkesan power fantasy untuk para pembaca merasa strong dan kurang memiliki kedalaman lain supaya audiens bisa relate, malahan dia kadang terasa angkuh menyebalkan.
Bila ingin sekedar melihat protagonis doing cool, strong, smart stuff dibumbui misteri dan petualangan, dan diakhiri dengan mendapat harta yang bisa bikin lebih cool, strong, smart lagi, TOMB RAIDER KING mungkin bisa jadi pilihan.

Review Tomb Raider King Eps.1 2
Berita Anime & Manga
Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 2: Otak Di Atas Otot, Kemenangan Strategi Tanpa Cheat!
www.gwigwi.com – Banyak anime fantasi memulai cerita dengan tokoh utama yang dibuang karena dianggap tidak berguna. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System mengambil pendekatan yang sedikit berbeda. Masalah Elymas bukan karena ia lemah, melainkan karena semua orang terlalu cepat menyimpulkan nilai seseorang hanya dari label kelas yang ia terima. Gelar Heavy Knight dianggap sebagai jalan buntu, sementara Swordmaster diperlakukan seperti satu-satunya masa depan yang layak. Keputusan ayahnya mengusir Elymas dan mengangkat adik tirinya dari cabang keluarga sebagai pewaris terasa lebih sebagai cerminan obsesi terhadap status daripada keputusan yang benar-benar rasional.
Yang menarik, Elymas tidak menghabiskan waktunya untuk meratapi nasib atau berteriak ingin balas dendam. Ia justru melihat pengasingan itu sebagai kesempatan memulai hidup tanpa ekspektasi keluarganya. Berbekal pengetahuan tentang mekanisme dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah membaca seluruh buku panduan, setiap keputusan yang diambil terasa penuh perhitungan. Kekuatan utama anime ini bukan aksi besar pada dua episode pertama, melainkan kepuasan melihat seseorang perlahan membalikkan stigma dengan logika, pengalaman, dan strategi.
Dari sisi produksi, GoHands kembali mempertahankan identitas visualnya. Desain karakter terlihat bersih dengan pencahayaan yang kaya, sementara latar memiliki detail yang membuat dunia fantasinya terasa hidup. Sayangnya, gaya penyutradaraan mereka masih sulit diabaikan. Kamera terus bergerak, melakukan panning, zoom in, dan zoom out bahkan ketika adegannya hanya percakapan sederhana. Ada momen ketika pergerakan kamera justru lebih aktif daripada karakter yang sedang berbicara. Bagi sebagian penonton ini menjadi ciri khas, tetapi bagi yang lain justru terasa mengalihkan perhatian dari cerita.
Dua episode pembuka ini belum menawarkan kejutan besar, tetapi berhasil menanam rasa penasaran. Anime ini tidak mencoba meyakinkan penonton bahwa Heavy Knight adalah kelas terkuat. Sebaliknya, ia mengajak penonton mempertanyakan apakah sebuah sistem benar-benar salah, atau manusianya saja yang terlalu cepat memberi cap pada sesuatu yang belum dipahami. Pendekatan tersebut membuat perjalanan Elymas terasa lebih menarik daripada sekadar kisah “tokoh yang diremehkan lalu menjadi overpowered.”
Nilai: 8,5/10. Premisnya memang familier, tetapi cara membangun karakter utama dan tema tentang prasangka terhadap potensi seseorang membuat serial ini memiliki identitas yang cukup kuat. Jika GoHands sedikit mengurangi “kamera yang hiperaktif”, pengalaman menontonnya akan terasa jauh lebih nyaman.

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2
Berita Anime & Manga
Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas yang Ternyata Overpowered!
www.gwigwi.com – Anime fantasi dengan tema tokoh utama yang diusir keluarganya memang bukan hal baru. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System (Tsuihou sareta Tensei Juukishi wa Game Chishiki de Musou suru) menghadirkan konflik yang cukup menarik sejak episode pertamanya. Elymas, putra keluarga bangsawan Edvaughn, dianggap gagal memenuhi harapan karena memperoleh kelas Heavy Knight, kelas yang dipandang tidak memiliki masa depan dibandingkan Swordmaster. Pandangan sempit tersebut membuat ayahnya mengambil keputusan yang sangat drastis.
Situasi semakin rumit ketika Malice, adik tiri Elymas yang berasal dari cabang keluarga, memperoleh kelas Swordmaster. Berbekal status tersebut, Malice dengan cepat menggantikan posisi Elymas sebagai pewaris resmi keluarga Edvaughn. Kudeta terhadap hak waris itu berlangsung tanpa banyak perlawanan karena seluruh keluarga lebih memilih mengejar prestise daripada menilai kemampuan seseorang secara objektif. Adegan ini menjadi fondasi konflik utama serial, sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah label mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.
Menariknya, Elymas tidak tenggelam dalam amarah atau sibuk merencanakan balas dendam. Ia menerima pengasingannya sebagai awal kehidupan baru. Berkat pengetahuannya mengenai sistem dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah menguasai seluruh mekanisme permainan, Elymas menyadari bahwa Heavy Knight bukanlah kelas yang seburuk anggapan banyak orang. Cara berpikirnya yang tenang dan penuh perhitungan membuat tokoh utama terasa berbeda dibanding protagonis fantasi pada umumnya yang sering mengandalkan ledakan emosi.
Dari sisi visual, GoHands kembali mempertahankan ciri khasnya. Desain karakter terlihat tajam dengan efek pencahayaan yang kaya, sementara latar dunia fantasinya memiliki detail yang memanjakan mata. Sayangnya, gaya sinematografi mereka masih menjadi pedang bermata dua. Kamera terus bergerak dengan panning, zoom, dan perubahan sudut yang cukup agresif, bahkan saat adegan dialog berlangsung. Bagi sebagian penonton hal ini memberikan kesan dinamis, tetapi tidak sedikit yang justru merasa pergerakannya terlalu berlebihan sehingga mengalihkan fokus dari percakapan para karakter.
Sebagai episode pembuka, anime ini berhasil memperkenalkan dunia, sistem kelas, serta konflik keluarga yang menjadi pemicu perjalanan Elymas. Alih-alih hanya menyajikan kisah tokoh yang diremehkan lalu menjadi sangat kuat, episode pertama lebih menekankan bagaimana prasangka dan obsesi terhadap status dapat membuat seseorang kehilangan haknya. Itulah yang membuat perjalanan Elymas terasa layak untuk terus diikuti.
Nilai: 8,5/10. Episode pertama berhasil membangun konflik dengan baik dan memperkenalkan karakter utama yang cerdas serta tenang. Jika GoHands sedikit mengurangi pergerakan kameranya yang terlalu aktif, pengalaman menonton akan terasa lebih nyaman tanpa mengurangi kualitas visual yang memang menjadi kekuatan mereka.
-
Box Office4 weeks agoReview Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli dari Vietnam
-
Laptop3 weeks agoHP EliteBook 8 G1i 14 AI: Tangguh untuk Bisnis, Siap Gaming Ringan
-
Box Office2 weeks agoReview The Death of Robin Hood, Akhir Tragis Sang Legenda
-
Serial Anime2 weeks agoReview Clevatess Season 2 Episode 1: Misi Rahasia Klen dan Alicia Dimulai, Visual Makin Manjakan Mata!
-
TV & Movies2 weeks agoReview Film Love Barista, Megabintang yang Terdampar
-
TV & Movies2 weeks agoREVIEW FILM MOANA (2026), Keindahan Visual Kepulauan Pasifik
-
News1 week agoAnime Festival Asia Rayakan Edisi ke-10 di Indonesia!
-
Gaming1 week agoAkhirnya Rilis! Wuthering Waves Versi 3.5 Hadirkan Region Baru dan Resmi Tuju Xbox!

![mpc-hc64_nvo 2015-08-19 18-20-10-958.avi_snapshot_00.32_[2015.08.19_23.02.00]](http://www.gwigwi.com/wp-content/uploads/2015/08/mpc-hc64_nvo-2015-08-19-18-20-10-958.avi_snapshot_00.32_2015.08.19_23.02.00-1024x575.jpg)
![mpc-hc64_nvo 2015-08-19 18-20-10-958.avi_snapshot_00.54_[2015.08.19_23.05.05]](http://www.gwigwi.com/wp-content/uploads/2015/08/mpc-hc64_nvo-2015-08-19-18-20-10-958.avi_snapshot_00.54_2015.08.19_23.05.05-1024x575.jpg)
![mpc-hc64_nvo 2015-08-19 18-20-10-958.avi_snapshot_01.43_[2015.08.19_23.07.54]](http://www.gwigwi.com/wp-content/uploads/2015/08/mpc-hc64_nvo-2015-08-19-18-20-10-958.avi_snapshot_01.43_2015.08.19_23.07.54-1024x575.jpg)
![mpc-hc64_nvo 2015-08-19 18-20-10-958.avi_snapshot_02.43_[2015.08.19_23.13.11]](http://www.gwigwi.com/wp-content/uploads/2015/08/mpc-hc64_nvo-2015-08-19-18-20-10-958.avi_snapshot_02.43_2015.08.19_23.13.11-1024x575.jpg)
![mpc-hc64_nvo 2015-08-19 18-20-10-958.avi_snapshot_03.46_[2015.08.19_23.20.05]](http://www.gwigwi.com/wp-content/uploads/2015/08/mpc-hc64_nvo-2015-08-19-18-20-10-958.avi_snapshot_03.46_2015.08.19_23.20.05-1024x575.jpg)
![mpc-hc64_nvo 2015-08-19 18-20-10-958.avi_snapshot_05.04_[2015.08.19_23.32.15]](http://www.gwigwi.com/wp-content/uploads/2015/08/mpc-hc64_nvo-2015-08-19-18-20-10-958.avi_snapshot_05.04_2015.08.19_23.32.15-1024x575.jpg)
![mpc-hc64_nvo 2015-08-19 18-20-10-958.avi_snapshot_09.42_[2015.08.20_00.31.26]](http://www.gwigwi.com/wp-content/uploads/2015/08/mpc-hc64_nvo-2015-08-19-18-20-10-958.avi_snapshot_09.42_2015.08.20_00.31.26-1024x575.jpg)
![mpc-hc64_nvo 2015-08-19 18-20-10-958.avi_snapshot_10.02_[2015.08.20_00.32.55]](http://www.gwigwi.com/wp-content/uploads/2015/08/mpc-hc64_nvo-2015-08-19-18-20-10-958.avi_snapshot_10.02_2015.08.20_00.32.55-1024x575.jpg)
![mpc-hc64_nvo 2015-08-19 18-20-10-958.avi_snapshot_11.56_[2015.08.20_00.37.40]](http://www.gwigwi.com/wp-content/uploads/2015/08/mpc-hc64_nvo-2015-08-19-18-20-10-958.avi_snapshot_11.56_2015.08.20_00.37.40-1024x575.jpg)
![mpc-hc64_nvo 2015-08-19 18-20-10-958.avi_snapshot_14.02_[2015.08.20_00.44.57]](http://www.gwigwi.com/wp-content/uploads/2015/08/mpc-hc64_nvo-2015-08-19-18-20-10-958.avi_snapshot_14.02_2015.08.20_00.44.571-1024x575.jpg)
![mpc-hc64_nvo 2015-08-19 18-20-10-958.avi_snapshot_15.11_[2015.08.20_01.05.03]](http://www.gwigwi.com/wp-content/uploads/2015/08/mpc-hc64_nvo-2015-08-19-18-20-10-958.avi_snapshot_15.11_2015.08.20_01.05.03-1024x575.jpg)
![mpc-hc64_nvo 2015-08-19 18-20-10-958.avi_snapshot_16.31_[2015.08.20_01.05.45]](http://www.gwigwi.com/wp-content/uploads/2015/08/mpc-hc64_nvo-2015-08-19-18-20-10-958.avi_snapshot_16.31_2015.08.20_01.05.45-1024x575.jpg)
![mpc-hc64_nvo 2015-08-19 18-20-10-958.avi_snapshot_20.46_[2015.08.20_01.14.37]](http://www.gwigwi.com/wp-content/uploads/2015/08/mpc-hc64_nvo-2015-08-19-18-20-10-958.avi_snapshot_20.46_2015.08.20_01.14.37-1024x575.jpg)



