Connect with us

TV & Movies

Review Film: Train to Busan, thriller zombie apocalypse yang membuat adrenalin berpacu kencang

Published

on

GwiGwi.com – Film dimulai dengan pertengkaran suami istri di telepon yang telah berpisah. Sang anak Soo-An (Soo-an Kim), ingin bertemu dengan ibunya di hari ulang tahunnya besok. Sang ayah Sook-Wo (Yoo Gong) yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sebenarnya enggan mengantar anaknya ke Busan menuju ibunya, namun melihat betapa menyedihkan si anak, akhirnya ia rela cuti dan mengantar Soo-An ke Busan dengan naik kereta KTX.

Bagai petir di siang bolong, ketika mereka akan berangkat, ada satu perempuan yang terlihat kurang sehat masuk ke dalam kereta. Ternyata perempuan tersebut terinfeksi virus yang menyebabkan dirinya menjadi zombie. Seperti film dengan tema zombie apocalypse, tentu saja perempuan ini berubah menjadi zombie dan mengigit orang-orang yang ditemuinya. Sialnya, tema zombie apocalypse kali ini adalah tipikal zombie cepat, yang berubahnya cepat dan larinya cepat. Persis seperti film World War Z.

Saat itu Sook-Wo sedang tertidur, Soo-An yang ingin pipis dan pergi ke toilet di kereta. Karena toiletnya penuh, Soo-An menelusuri kereta mencari toilet yang kosong. Ketika Sook-Wo terbangun dan mendapatkan anaknya tidak ada di kursi, ia pun segera mencari Soo-An. Lalu BOOOM !! , saat menemukan Soo-An, di saat itu pula zombie mulai menggigit para penumpang. Sook-Wo segera menggendong Soo-An dan berlarian menuju gerbong berikutnya.

Advertising
Advertising

Selanjutnya mereka harus mencoba bertahan hidup di dalam gerbong kereta yang sebagian isi kereta penuh dengan zombie. Di sini para survivor yang dihighlight antara lain Sook-Wo dan Soo-An, pasangan suami istri Sang Hwa dan Sung Gyeong, dua remaja Young Gook dan Jin-hee, dua nenek-nenek yang gak diketahui namanya, dan satu orang stress.

14360332_10207811915722931_1107812838_o

Gak perlu ribet-ribet menghafalkan nama-nama mereka, cukup bilang si bapak, si anak, remaja cewek, remaja cowok, suami siaga, istri hamil, duo nenek-nenek, dan orang stress.

One more thing, istri Sung Gyeong tuh lagi dalam keadaan hamil gede. Bayangin, ibu-ibu hamil harus menghadapi zombie apocalypse. Gue jadi keingetan Lori di serial The Walking Dead.

Apakah Sook-Wo dan Soo-ahn dapat bertahan hidup sampai akhir film? Bagaimana kehamilan Sung Gyeong setelah berlari-larian dikejar zombie. Tonton langsung aja Train to Busan.

Film ini memperlihatkan karakter-karakter manusia mulai dari yang egois sampai dengan yang ingin menolong sesama. Banyak adegan penuh derai air mata di film ini. Siapkanlah tissue atau bahu teman sebelah untuk meperin umbel.

train_to_busan

Sepanjang film, rasanya sulit dibuat bernafas. Baru nafas sedikit, eh ada ketakutan lainnya. Ketika berhasil melewati satu rintangan, eh ada lagi yang bikin greget. Asli, nonton ini berasa kayak lari marathon.

Dilihat dari komentar-komentar trailernya di Youtube, banyak sekali orang di luar Korea yang penasaran dengan film ini. Bahkan di Amerika sendiri film ini dicari-cari penonton. Buat gue pribadi, skor film ini 8 /10. Karena gue puas nonton ini. Semacam mendapatkan ketegangan yang diinginkan.

Jika menonton film Ini , abaikan bagaimana awal virus zombie menyebar dan gak perlu cari tahu bagaimana akhirnya bisa menular hingga ke semua orang, karena yang diangk

Advertisement

TV & Movies

Review Film HOPE, Big Trouble in Little Village

Published

on

By

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Bencana besar di desa kecil. Mungkin deskripsi yang pas untuk HOPE.

Teror monster yang biasa menimpa kota besar, melibatkan tentara dan ilmuwan, kini harus dihadapi Beom Se-Ok (Hwang Jung-Min) kepala polisi lokal, sepupunya Sung Ki (Zo In-sung), para pemburu, peternak babi, tukang jugal daging dan warga desa lain.

Dari eksekusi sinematografinya, kamera mengisolasi POV penonton pada perjalanan tiap karakternya secara eye level napak tanah untuk mengungkap misteri layaknya progress video game. Bahkan sampai protagonis dapat upgrade senjata, berganti senapan yang lebih kuat. Mengkuti jejak si monsters dari jalanan, toko-toko sampai ke gang-gang kecil.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Cara demikian melokalisir teror pada skala kecil yang justru membuat lebih ngeri dibanding film monster umumnya yang seakan ingin main skala besar secepatnya.

Audiens tak melihat sosok si monster tapi dari kehancuran, gelimpangan mayat dan bangkai berceceran yang diakibatka, gambaran mengerikannya sudah begitu kuat.

Begitu saat akhirnya si sumber horror diperlihatkan…hem. Mengingatkan pada CG game zaman PS3? Barangkali terkendala budget tapi mengingat monster ini ternyata mempunyai peran yang lebih penting lagi, agak membingungkan kenapa tampilannya tidak dicoba lebih meyakinkan lagi.

Beruntung aksi cepat dan brutalnya menghujam efektif sampai rasanya kekurangan itu cukup termaafkan.

Kelemahan umum film monster, manusianya, justru menyala di sini.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Sembari tensi terus terjaga, HOPE mampu mengenalkan para karakternya secara singkat baik dengan cerita konyol atau pun sekedar dari bagaimana mereka memburu si monster. Sampai rasanya audiens sudah klop bersama mereka padahal baru sebentar. Polisi wanita Hoyeon (Sung-Ae) tak diperkenalkan bertele-tele, dari cara dia bernafsu mengejar si monster langsung membuat dia memorable.

Aksi tegang dan kadang bisa-bisanya dibumbui komedi memang mewarnai klimaks, tapi juga berasa terlalu diperpanjang. Tambah lagi ternyata film diakhiri dengan cliffhanger yang membuka sisi lain dari para monster. Untung saja paruh awal dan tengahnya cukup kuat sehingga rasa nanggung tak sampai mengganggu.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

HOPE seakan apabila Godzilla plus ALIEN dialami desa kecil di provinsi anda dan cerdas sekali memanfaatkan keunikan itu baik secara sosiologi manusianya dan kulturnya. Mungkin penonton hanya banyak melihat Hope Harbor dalam keadaan hancur tapi bisa jadi warga dan daerahnya lebih membekas di benak penonton dibanding film monster lain. Dan demikian rasanya sungguh key selling point dari film yang barangkali kurang memenuhi ekspektasi fans sutradara Na Hong-Jin paska THE WAILING.

Apakah terus bisa dia kawinkan aspek itu dengan aliennya nanti untuk sekuel yang sudah ditease? We may hope so….

Continue Reading

TV & Movies

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Published

on

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

www.gwigwi.com – John Miller (Alan Ritchson), seorang veteran Perang Vietnam yang bekerja di pabrik perakitan mobil, dijebak atas kejahatan yang tidak ia lakukan oleh Reynolds (Ben Foster), seorang penguasa mafia lokal yang terobsesi pada kekasih John, Sophia (Shailene Woodley).

Divonis 25 tahun di penjara berkeamanan maksimum, John bertahan hidup hanya dengan satu tujuan: keluar dan menuntaskan dendam.

Ketika kesempatan itu tiba, John melancarkan perburuan berdarah menyusuri jalanan Detroit yang dingin dan korup, melintasi jajaran anak buah Reynolds yang dijaga oleh seorang polisi korup bertangan besi (Pablo Schreiber).

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Sutradara Potsy Ponciroli (Old Henry) kembali memamerkan keahliannya dalam mengolah cerita klasik menjadi sajian visual yang segar melalui Motor City.

Setting kota Detroit tahun 1970-an yang kelam, film action-thriller ini mengusung eksperimen berani. Menyajikan kisah balas dendam yang intens dengan dialog yang dipangkas hampir sepenuhnya, menyerahkan seluruh penyampaian emosi pada gestur, aksi, dan desain suara.

Estetika gritty era 70-an dengan warna-warna pudar dan pencahayaan bernuansa neo-noir. Tanpa kata-kata, deru mesin mobil muscle, dentuman senapan, dan koreografi pertarungan menjadi “dialog” utama.

Penggunaan mobil antik, outfit era 70-an, serta lagu-lagu rock klasik memperkuat suasana kota industri yang sedang runtuh.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Menurut gue ini adalah hal yang sangat berani. Serta membuang dialog eksposisi yang membuat penonton harus fokus pada aksi instinktif dan emosi karakter.

Dari jajaran cast, Alan Ritchson memanfaatkan postur fisiknya yang intimidatif secara maksimal. Tanpa bantuan dialog, ia mengandalkan tatapan mata, nafas yang berat, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan kepedihan, rasa kehilangan, serta kemarahan murni.

Begitu juga dengan Ben Foster yang tampil mengintimidasi lewat aura psikologis yang dingin, sementara Pablo Schreiber memberikan ancaman fisik yang seimbang dengan karakter Ritchson.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Buat gue film ini emang cocok-cocokan dengan penonton masa kini. Bagi yang terbiasa dengan dialog cepat atau pacing modern, beberapa transisi babak tengah mungkin terasa berjalan lambat.

Secara keseluruhan, Motor City merupakan penghormatan yang solid terhadap genre action-thriller klasik.

Film ini membuktikan bahwa Alan Ritchson as an actor tidak hanya mengandalkan fisik semata, melainkan juga kemampuan akting non-verbal yang kuat di bawah arahan sutradara yang tepat.

Continue Reading

TV & Movies

Review Film INSIDIOUS OUT OF THE FURTHER, Wahana Rumah Hantu ala The Further

Published

on

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

www.gwigwi.com – Gemma (Amelie Eve) memiliki masa kecil buruk dengan Ibunya (Laura Gordon) dan berniat menjadi Ibu lebih baik untuk anaknya, Maya (ISLAND Austin).

Sampai dia dihantui mimpi mengerikan yang bisa jadi lebih dari sekedar khayalannya dan berhubungan dengan masa lalunya.

Kembali lagi franchisee horror yang film pertamanya sukses meski low budget dan ternyata penonton masih mau kembali mengeksplorasi alam barzah khas INSIDIOUS yakni the further.

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Dengan film ke 6 filmmaker seolah bermain dengan konsep untuk mengeksploitasi the further. Setelah dapat, seakan barulah dibuat cerita seputar itu dan rasanya memang demikian.

Motivasi yang trigger emosi penonton seputar hubungan ibu anak dan mencoba memutus trauma generasional. Diselingi permainan ketegangan yang lumayan oke memakai syaitonirojim dan eksplorasi the further, di mana paruh ketiganya memang cukup seru dan tak terduga.

Semuanya fine saja dan mungkin itulah fault dari INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER ini; wahana seram-seraman yang terasa eksploitasi (dalam artian yang masih terbilang baik) franchise saja. Bila penonton senang, sampai INSIDIOUS 11 pun seakan dijabanin BLUMHOUSE PRODUCTION.

INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER seolah hasil dari pikiran; karena penonton masih mau, maka filmmaker akan coba segala hal untuk isi gas franchisenya. Apakah mereka akan menemukan alasan kuat lagi untuk penonton mau kembali menjelajah The Further? We'll see…

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending