Connect with us

Box Office

Review Film Misteri Dilaila, thriller asik yang menegangkan

Published

on

Gwigwi – Pasangan suami istri Jefri dan Dilaila sedang liburan di sebuah Villa yang berlokasi Di Fraser Hill, Pahang milik mendiang ayah Dilaila.

Di malam pertama mereka menginap, Jefri telah diganggu oleh kejadian-kejadian aneh. Keesokan harinya, Dilaila menghilang. Jefri yang sangat risau meminta kepada pihak polisi untuk mencari keberadaan istrinya.

Lalu, Jefri mendengar kabar gembira bahwa Dilaila ditemukan oleh seorang ulama yang bernama Imam Aziz dalam keadaan selamat. Jefri pun senang mendengar kabar gembira Ini.

Namun permasalahan tidak selesai sampai disini, ternyata perempuan yang mengaku sebagai Dilaila ternyata bukan istri Jefri.

Apa yang sebenernya terjadi?? Lantas kemanakah Dilaila yang asli??

Film Misteri Dilaila ini merupakan film ke-41 yang diproduksi Scop Productions dan menghabiskan biaya produksinya sekitar 2,2 juta ringgit Malaysia atau sekitar Rp 7 miliar.

Sejak awal film yang disutradarai oleh Syafiq Yusof ini menawarkan suasana mencekam nan mengerikan.

Apalagi film Misteri Dilaila ini diproduseri oleh Zul Arifin yang juga menggarap film Munafik dan Munafik 2 yang sangat booming di Indonesia.

Baca Juga:  Review Film: Long Shot, antara Cinta dan Karir

Uniknya film ini menawarkan hal yang berbeda dari film horor yang Ada sebelumnya. Karena film Misteri Dilaila ditayangkan dengan dua versi ending yang berbeda di hari yang sama.

Akibat dibuat dengan dua versi tersebut, film yang mengambil lokasi syuting di Bukit Frasers, Pahang, Malaysia ini menghabiskan budget yang lumayan besar untuk ukuran film Negeri Jiran.

Menurut gue wajar upaya Film Ini terbayarkan karena meraih box office di Malaysia karena menyajikan dua ending berbeda dengan alur film yang juga berbeda.

Tak hanya di malaysia, film ini juga ditayangkan di beberapa negara di Asia Tenggara seperti Singapura, Brunei Darussalam, serta di Indonesia.

Tone film Ini mengingatkan kita akan Film pengabdi setan garapan Joko Anwar. Tapi jelas beda sensasinya.

Overall, film Ini harus ditonton Buat yang suka genre horror-thriller yang memacu detak jantung anda di Setiap menitnya serta menerka sendiri bagaimana kejadian yang Ada di film Ini.

Film Misteri Dilaila tayang mulai 13 Maret di Indonesia pada jaringan bioskop CGV dan Cinemaxx.

Box Office

Review Film John Wick: Chapter 3 – Parabellum, aksi memukau dengan cerita yang solid

Published

on

GwiGwi.com- Pasca menghabisi nyawa anggota High Table dalam The Continental di film sebelumnya, John wick (Keanu Reeves) mulai diburu dengan bayaran kepala seharga 14 juta USD.

Lantas, gerak-gerik John pun menjadi tidak tenang dimanapun ia berada karena diburu oleh pembunuh bayaran dari seluruh dunia. You can run but you can’t hide.

Keanu Reeves stars as ‘John Wick’ in JOHN WICK: CHAPTER 3 – PARABELLUM.

Dalam masa waktu tersebut, ia mendapatkan pertolongan dari pembunuh bayaran yang masih percaya dengannya bernama Sofia (Halle Berry). Dengan sekuat tenaga, John harus berkutat dengan waktu dan para pembunuh bayaran yang Siap mengincar kepalanya kapanpun dan dimanapun.

Mampukah ia berhasil lolos dari perburuan Ini? Atau malah berakhir dengan maut?

Film yang dinahkodai oleh Chad Stahelski dan naskahnya dikerjakan kembali oleh Derek Kolstad yang menulis dua film John wick sebelumnya.

Film Ini memiliki aksi yang intens dari awal hingga akhir. Judul film ini diambil dari kutipan militer Romawi abad ke-4 yang terkenal “Si vis pacem, para bellum,” yang artinya, “Jika Anda menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk perang.”

Performa Keanu Reeves pun dalam saga John Wick Ini pun seakan melepas dahaga para penonton seperti bangkit kembali sebagai aktor film action, setelah namanya meredup usai membintangi Constantine (2005).

Untuk sebuah sekuel, film Ini makin memiliki lingkup yang lebih besar dari para pembunuh bayaran yang mengincar John Wick dengan harga bounty yang besar.

Penulis naskahnya pun juga memahami apa yang diinginkan penonton. Terbukti tanpa banyak basa-basi penonton sudah dibuat terpukau lewat serangkaian adegan aksi John Wick dengan senjata yang seadanya.

Baca Juga:  Review Film John Wick: Chapter 3 - Parabellum, aksi memukau dengan cerita yang solid

Pengembangan karakternya pun juga terlihat di film Ini, dengan skala aksi yang lebih besar sudah pasti karakternya pun juga ikut tumbuh berkembang seiring berjalannya cerita.

Tidak hanya mengandalkan aksi yang memukau, film ini juga memiliki narasi cerita yang solid dibandingkan dua film sebelumnya.

Si sutradara dan penulis naskah mengetahui bagaimana menyajikan film Ini, cerita beserta aksinya bersinergi dengan baik dan diimbangi dengan kemunculan tokoh-tokoh yang sudah dikenal dalam saga Ini maupun tokoh yang baru muncul di film Ini.

Bagian paling menarik adalah kemunculan dua aktor laga asal Indonesia yaitu Yayan Ruhiyan dan Cecep Arif Rahman yang terkenal lewat film The Raid.

Bukan hanya unjuk kebolehan kemampuan bela dirinya saja, namun juga berdialog dengan bahasa Indonesia dan Keanu Reeves sebagai John Wick juga membalas dengan bahasa Indonesia juga. Mungkin kita akan terpukau di bagian ini, Karena mereka berdua memiliki screen time yang cukup banyak tidak seperti di film-film lain dimana Kang Yayan dan Kang Cecep terlibat.

Secara keseluruhan, John Wick 3: Parabellum Ini merupakan sebuah film dengan paket lengkap. Aksi yang intens serta narasi cerita yang solid dan tidak lupa sinematografi yang indah secara estetika untuk sebuah film.

Meskipun film Ini konon menjadi penutup dari kisah John Wick si pembunuh bayaran. Mungkin saja setelah menyaksikan film Ini, kemungkinan besar akan membuat penonton ingin terus melihat aksi Keanu Reeves sebagai John Wick.

Ya, mungkin saja akan seperti franchise Fast and Furious wannabe yang ditunggu oleh penggemar maupun penikmat film awam yang mencari hiburan di layar lebar.

Continue Reading

Box Office

Review Film Brightburn, ancaman dari bocah yang memiliki kekuatan super

Published

on

GwiGwi.com – Kehidupan keluarga Breyers mendapatkan kejutan, saat sebuah benda asing dari langit terjatuh Di lahan properti mereka. Usut punya usut, ternyata benda tersebut adalah kapal luar angkasa dan berisi seorang bayi laki-laki.

Lantas, merekapun mengadopsi bayi tersebut setelah pernikahan mereka belum dikarunai keturunan dan menamai bayi tersebut dengan nama Brandon Breyer. Ketika Brandon menginjak usia 12 tahun, ia mengalami transformasi yang terbilang luar biasa.

Namun bagai pisau bermata dua, perubahan dalam diri Brandon malah menjadi ancaman bagi orang-orang sekitar.

Apa penyebab dari transformasi dalam diri Brandon? Siapakah jati diri sebenarnya?

Film yang diproduseri oleh James Gunn beserta saudaranya Mark dan Brian Gunn, kali Ini mereka memutar balik kisah asal usul dari tokoh Superman ciptaan Jerry Siegel dan Joe Shuster ketika tokoh superhero Ini bukan manusia bumi melainkan makhluk luar angkasa yang dikirim oleh orang tua kandungnya lalu diadopsi oleh pasangan petani Kent dan menjadi penyelamat Bumi.

Namun Lewat film Brightburn, dengan unsur “andai” mereka mengembangkan cerita bagaimana jika bayi dari luar angkasa tersebut bukan menjadi pahlawan tapi justru malah menjadi sebuah ancaman?

Meskipun Film ini kental akan unsur komik, namun perlu ditekankan bahwa Brightburn merupakan film horror bukan bergenre action superhero.

Terlihat dari bagaimana penuturan storyline-nya, pengemasan adegan per adegan, serta adegan jumpscare yang ngagetin penonton.

Baca Juga:  Review Film Brightburn, ancaman dari bocah yang memiliki kekuatan super

Even James Gunn hanya sebagai produser di Film Ini Karena Tengah disibukkan dengan proyek the Suicide Squad-nya DC Comics, David Yarovensky yang merupakan tandemannya Gunn di film Slither.

Brandon Breyer (Jackson A. Dunn) in Screen Gems’ BRIGHTBURN.

David berhasil membuktikan kapasitasnya dengan mengeksekusi konsep superhero dan horror menjadi sebuah sajian Film yang gak umum.

Dengan budget yang kecil mampu menghadirkan visual efek Yang meyakinkan, ia pun tidak mengerem adegan kekerasan dan gore dalam Film Ini. Ya isu gore ini sedang hangat-hangat nya ketika film Hellboy yang rilis bulan April lalu mengalami pemotongan adegan yang merusak cerita ketika tayang di tanah air.

Dari segi para pemerannya, Elizabeth banks dan David Denman mampu bermain dengan baik. Yang menjadi Spotlight untuk Film Ini adalah pemeran Brandon Breyer yaitu Jackson A. Dunn yang menjadi sosok pembawa teror bahkan Inisial namanya pun menjadi simbol dari karakternya yang mengingatkan kita akan gimmick superhero.

Secara keseluruhan, Brightburn mampu memenuhi ekspektasi gue dan pihak kreator pun tidak mengupas terlalu dalam soal dibalik kekuatan Brandon. Tapi premis Film Ini Bisa saja Ada sekuelnya ataupun menjadi sebuah franchise Karena menurut gue sangat disayangkan jika Brightburn hanya Berakhir sampai di titik Ini saja.

Continue Reading

Box Office

Review Film: Long Shot, antara Cinta dan Karir

Published

on

Gwigwi – Fred Flarsky (Seth Rogen) bekerja sebagai seorang jurnalis yang menuliskan politik dengan kritik Yang nyelekit. Suatu ketika, Fred bertemu kembali dengan wanita yang disukainya sejak kecil, Charlotte Field (Charlize Teron). Charlotte yang merupakan Menteri Luar negeri Amerika Serikat sekaligus pengasuh Fred saat berumur 13 tahun.

Suatu ketika Charlotte bersiap maju menjadi calon Presiden Amerika Serikat. Kemudian mereka pun dipertemukan kembali ketika Charlotte mempekerjakan Fred untuk menulis pidatonya. Fred membantu dalam setiap pidato kampanye Charlotte. Ya witing tresno jalaran Soko kulino hubungan profesional mereka bercampur dengan cinta lama yang bersemi kembali.

Film komedi romantis arahan Jonathan Levine ini mengangkat tema percintaan antara seorang wartawan dengan calon kandidat presiden yang berawal dari hubungan professional menjadi hubungan asmara serius. Konflik hubungan mereka pun sangat cepat terselesaikan padahal cerita yang diusung sangat menarik dan didukung dengan ansambel cast yang Luar biasa. Namun semua dieksekusi dengan cepat sangat disayangkan sekali untuk sebuah Film komedi romantis.

Baca Juga:  GIVEAWAY Road to 5000 subs channel Youtube GwiGwi

Walau kurang di plot cerita, nilai plus dari Long Shot adalah humor-humor ala Seth Rogen yang benar-benar lucu namun mungkin tidak semua penonton dapat memahami candaan tersebut. Salah satu hal yang terlihat jelas adalah bagaimana sang presiden AS terlihat tidak memahami tugasnya dan bagaimana Charlotte mirip Hillary Clinton, mereka sama-sama menjadi Menlu dan menjadi kandidat presiden AS hanya saja beda pada hasil pemilu saja.

Perlu diperhatikan juga bahwa di film ini menampilkan adegan penggunaan amphetamine dan zat adiktif lain sehingga belum tentu dapat diterima sebagian masyarakat Indonesia.

Overall, Long Shot menjadi film yang cukup menghibur sebagai sebuah film komedi romantis yang ringan walau berlatar dunia politik namun dapat dicerna dengan mudah bagi kita penonton awam.

Continue Reading
Advertisement DICARI REPORTER
Advertisement

GwiGwi Space

GWIDEV

Trending