Connect with us

Box Office

Review Film: Deadpool, the super but not a hero

Published

on

GwiGwi.com – Jujur, saya tidak tahu bagaimana memulai review ini, karena begitu banyak kekacauan luar biasa menyenangkan di sini yang sedikit banyak juga mengacaukan pikiran saya. Ya, Deadpool adalah sebuah sajian superhero adaptasi dari komik Marvel yang punya satu jurusan dengan dunia X-Men. Proyeknya sendiri sebenarnya sudah direncanakan sejak sedekade silam, jauh sebelum karakter ciptaan Fabian Nicieza dan Rob Liefeld ini sempat mampir di X-Men Origins: Wolverine dengan porsi dan penampilan yang bisa dibilang kurang pantas.

Deadpool-Poster-Dec1st

Tetapi baru dua tahun belakangan Fox benar-benar serius menghadirkan versi live action-nya. Tidak tanggung, Fox langsung memberi tempat Deadpool dalam universe X-Men mereka ketimbang hidup dalam kisahnya seorang diri meski sayang dengan bujet yang hanya sepertiga dari franchise superhero kebanggaan mereka itu. Jadi tidak usah heran jika kamu akan menemukan banyak sindiran kocak tentang X-Men di sini.

Tetapi sesungguhnya melabeli Deadpool sebagai seorang pahlawan super mungkin terasa kurang tepat, meski ia punya kekuatan lebih dalam hal bertarung baik dengan senjata maupun tangan kosong, serta kemampuan cepat sembuh ala Wolverine. Kamu mungkin lebih tepat menjulukinya dengan sebutan “anti-superhero” superhero karena selera humor dan mulutnya yang setajam dua bilah katana di punggungnya.

deadpool-gallery-07-gallery-image

Satu hal yang pasti, ini adalah sajian yang superhero yang hebat dan kocak, jauh melebihi ekspektasi sebelumnya. Jika kebetulan kamu sudah pernah melihat trailernya lebih dulu, percayalah, apa yang tersaji di sana hanya secuil kecil dari begitu banyak kegilaan yang ditawarkan Deadpool.

Tentu saja sebagai pahlawan ‘baru’ di dunia per-superhero-an layar lebar, khususnya dalam franchise X-Men, Deadpool butuh mengenalkan diri pada penonton non fanboy-nya yang awam tentang dirinya meski sebenarnya tim marketing dari Fox sudah melakukan pekerjaan fantastis di berbagai media, dari sekedar akun Twitter, pemilihan poster sampai billboard nyeleneh sampai yang terakhir ketika melibatkan beberapa punggawa Manchester United dalam usaha memasarkannya.

Ya, kita tetap butuh sebuah origins, dalam kasus ini ada sebuah kisah cinta yang tersaji jauh sebelum ia menjadi film superhero dalam sebuah rangkaian flashback. Wade Wilson (Ryan Reynolds) ada tentara bayaran yang suatu hari terlibat hubungan asmara dengan Vanessa Carlysle (Morena Baccarin). Pertemuan kemudian menjadi cinta, tetapi belum sempat mereka menikmati kebersamaan lebih lama, Wade didiagnosa mengidap kanker stadium akhir yang lalu memaksanya pergi meninggalkan Vanessa untuk terlibat dalam sebuah percobaan dari seorang yang menamakan dirinya Francis Freeman (Ed Skrein).

deadpool-gallery-05

Bisa ditebak, meski melewati siksaan fisik luar biasa, serum ciptaan Francis berhasil menyembuhkan Wade dari kankernya, tidak hanya itu, ia juga memberi Wade kekuatan super termasuk di dalamnya kemampuan untuk menyembuhkan diri dengan cepat, hanya saja efek sampingnya membuat tubuh dan wajah Wade menjadi rusak. Dari ini ia kemudian menjadi Deadpool, vigilante bertopeng yang menuntut balas kepada Francis Freeman yang sudah merusak hidupnya.

Menonton Deadpool berarti kamu harus mempersiapkan dirimu untuk menghadapi 108 menit penuh kejutan dan kegilaan yang seperti tanpa batas. Terakhir menonton gelaran superhero dengan dosis komedi tinggi adalah The Guardian of The Galaxy, tetapi Deadpool jelas adalah kasus yang berbeda. Siapa yang menyangka bahwa spesialis spesial efek yang didapuk menjadi sutradara macam Tim Miller ini bisa memberikan batasan begitu tinggi dalam menghadirkan sajian superhero komedi, bahkan ini adalah film pertamanya.

Baca Juga:  Terminator: Dark Fate merilis trailer pertama

Miller seperti tahu benar bagaimana membawa spirit komiknya ke versi live action, membiarkan Ryan Reynolds bersenang-senang dengan segala aksi heroik dalam balutan lateks merah ketat plus mulut ‘sampah” guna menebus kesalahannya di masa lalu ketika ia sempat mengenakan seragam CGI hijau yang….ah, sudahlah.

Sosok Deadpool jelas adalah pusat segalanya, tetapi tentu saja ia tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan presentasi apik yang lagi-lagi sukses dibentuk Miller dalam sebuah konsep yang sama nyelenehnya dengan karakter utamanya.

Dengan banyaknya serbuan joke-joke segar berhamburan dari mulut pedas Wade Wilson bersama alter egonya, Deadpool adalah obat tawa mujarab efektif. Di beberapa kesempatan ia bahkan tidak malu mengolok-olok dirinya sendiri baik sebagai Deadpool maupun Ryan Reynolds.

Beberapa sindiran konyol yang melibatkan dunia superhero mungkin hanya bekerja maksimal pada mereka yang sering menonton subgenre ini, misalnya saja ketika ia mengeluh tentang timeline X-men yang membingungkan, atau kepada profesor siapa ia harus bertemu ketika ditarik paksa oleh Peter Rasputin a.k.a Colossus (Stefan Kapičić) dan tentu saja masih segudang penuh humor-humor yang muncul di saat-saat tak terduga yang siap menghajar syaraf tawamu.

deadpool-and-colossus-movie

Namun meski terlihat konyol dan tidak serius, Miller tidak pernah membuat Deadpool kehilangan sentuhan superhero yang keren. Setiap aksi Deadpool terlihat menawan dengan balutan spesial efek dan beberapa slowmotion yang meski tidak sampai terlalu bombastis karena keterbatasan biaya produksi namun hasilnya bisa tepat sasaran dan tidak berlebihan, belum saya menyebutkan sisi kebrutalan yang juga sukses diekspos Miller dengan penuh gaya. Ryan Reynolds adalah alasan mengapa karakter Deadpool begitu hidup dan begitu cerewet.

Dari menit pertama ia seperti tidak berhenti ngoceh di berbagai situasi yang sebenarnya termasuk kasual seperti di dalam taksi, laundry atau santai di rumah bersama temannya; seorang wanita tua buta. Reynolds Membombardir penontonnya dengan rentetan one-liner, ejekan-ejekan, dan metafora aneh yang sedikit banyak sudah membantu menutupi kekurangan pada plotnya yang sebenarnya klise untuk ukuran film superhero, termasuk juga kehadiran villain yang tidak hebat-hebat banget.

Secara keseluruhan, plot superhero dan balas dendamnya memang terlalu tipikal, bahkan sosok villainnya juga kurang ganas, tetapi persetan dengan semua itu. Deadpool memberimu lebih dari sekedar sebuah sajian superhero biasa. Ini adalah sebuah kegilaan maksimal yang tidak setiap hari kamu dapatkan dalam film superhero. Kadar komedi dan totalitas Ryan Reynolds plus presentasi apik dari Tim Miller menjadikan Deadpool sebagai salah satu yang terbaik dan tergila di genrenya.

Box Office

Review Film X-Men: Dark Phoenix, puncak dari keseluruhan franchise X-men

Published

on

GwiGwi.com – Setelah kejadian di X-men: Apocalypse (2016), tim X-men yang beranggotakan Cyclops, Jean Grey, Quicksilver, Mystique,Beast, dan Nightcrawler ditugaskan oleh pemerintah Amerika untuk menyelamatkan astronot yang melakukan sebuah misi luar angkasa.

Karena suatu kelalaian dalam misi tersebut, Jean Grey tertabrak sinar kosmik nyawanya pun terancam, namun berhasil diselamatkan.

Mulanya, semua aman-aman saja namun Jean tidak bisa mengendalikan kekuatannya yang terlihat mengalami sedikit evolusi, disini juga terjadi pergolakan dalam dirinya dan kekuatannya semakin tidak stabil. Jean pun meminta bantuan Erik Lehnsherr atau lebih dikenal sebagai Magneto untuk mengendalikan kekuatan barunya ini.

Momen Ini membuat membuat Magneto turun gunung dan berniat membunuh Jean. Kemudian, muncul ras alien D’bari juga mengincar kekuatan kosmik yang diserap oleh tubuh Jean Grey. Dengan kemampuan shapeshifter-nya para pasukan alien ini menyamar menjadi anggota militer Amerika yang mengincar Jean dan para mutant.

Akankah tim X-men berhasil menyelamatkan bumi dari ancaman magneto yang turun gunung dan ancaman dari alien D’bari?

Franchise X-Men yang kali Ini digarap oleh Simon Kinberg yang sebelumnya hanya duduk sebagai produser sejak X-Men: First Class. Akhirnya rilis dan menjadi penutup saga X-men Yang dimulai sejak tahun 2000.

Kenapa menjadi penutup? Ya kita sudah mengetahui bahwa rumah produksi 20th Century Fox selaku pemegang lisensi X-Men telah diakuisisi oleh Disney.

Film ini juga sempat mengalami proses produksi yang cukup lama karena kesibukan para cast-nya. Serta mengalami proses reshoot yang katanya hasil produksi awal kurang memuaskan.

Kemudian setelah rilis di bulan Juni hasilnya dicerca oleh kritikus karena katanya kualitasnya kurang memuaskan.

Kita di Indonesia kebagian nonton filmnya seminggu setelah libur lebaran karena lebaran blockbuster dimana film-film nasional rilis pada saat libur lebaran.

Baca Juga:  Redmi Note 7 Indonesia Full Review

Hasilnya, menurut gue gak seburuk dengan apa yang dibilang reviewer luar negeri. Dari segi cerita, filmnya mengambil cerita di komik yaitu Dark Phoenix Saga. Memang sebelumnya cerita Ini telah diangkat di film X-men: The Last Stand (2006), namun timeline X-men yang telah di reset rasanya sah-sah saja jika kisah ini diangkat kembali.

Namun, sangat disayangkan dari segi eksekusinya terkesan nanggung bahkan ada yang terlihat datar. Misal dalam misi penyelamatan luar angkasa, kurang terkesan dramatis ya semua terjadi dengan begitu saja.

Kemudian, adegan yang menjadi favorit gue adalah adegan pertarungan di akhir ketika para mutant mengerahkan seluruh kemampuannya terlihat sangat epik menurut gue.

Para cast dalam filmnya pun memang bukan kaleng-kaleng, kualitas akting mereka tidak diragukan lagi. Sophie Turner tampil memukau tapi sangat disayangkan untuk James McAvoy, secara kharismanya sebagai Charles Xavier di film Ini terkesan meredup padahal di tiga film X-men sebelumnya terlihat sangat apik. Keduanya memiliki jatah menit tampil terbanyak dan berhasil menghidupkan peran masing-masing.

Didukung oleh penampilan apik dari Michael Fassbender, Tye Sheridan, Nicholas Hoult dan Jennifer Lawrence.

Hanya Jessica Chastain yang terasa kurang mengesankan, tapi gue rasa akibat karakterisasi dingin sehingga tidak terlihat perubahan guratan emosi yang signifikan di wajah dan gesturnya.

Secara keseluruhan, Film Ini memang terseok-seok di box office, namun bukan berarti film ini buruk seperti yang dikatakan oleh kritikus dan netizen.

Film Ini masih enak untuk dinikmati dari segi visual efek dan cerita yang mudah dicerna. Mungkin hanya apes aja karena momentum perilisannya yang terasa kurang tepat.

Abaikan bad review para kritikus film, silahkan nikmati saja filmnya lalu beropini.

Continue Reading

Box Office

Review Film Secret Life of Pets 2, tontonan menyenangkan di hari libur sekolah

Published

on

GwiGwi.com – Max (Patton Oswalt) dan teman-temannya sesama hewan peliharaan. Max yang sudah akur dengan Duke kini mendapatkan anggota keluarga baru. Ia adalah Chuck, yang menikah dengan Katie pemilik dari Max.

Mereka pun memiliki anak bernama Liam. Liam selalu mengikuti gaya Max dan Duke. Mereka pun menjadi akrab, apa lagi saat Max memasuki usia balita. Max pun semakin sayang dan membuatnya sangat protektif dan khawatir berlebih kepada Liam.

Katie mengajak Max dan Duke ke pedesaan, di sana mereka bertemu dengan seekor anjing peliharaan bernama Rooster (Harrison Ford). Max berusaha mengatasi rasa takutnya dengan bantuan dari Rooster.

Kemudian, Snowball (Kevin Hart) yang sekarang sudah dipelihara oleh anak perempuan. Ia berniat menjadi super snowball hewan peliharaan super yang memiliki tujuan mulia yaitu menolong hewan-hewan yang tersiksa.

Lalu, datanglah Daisy (Tiffany Haddish), seekor anjing Shih Tzu yang meminta pertolongan. Daisy ingin membantu seekor anak harimau yang di sebuah sirkus.

Lantas snowball melakukan misi penyelamatan anak harimau bersama Daisy. Sementara Gidget (Jenny Slate) mencoba menyelamatkan mainan favorit Max di apartemen penuh kucing.

Ia pun meminta bantuan Chloe (Lake Bell), si kucing tambun. Berhasilkah mereka semua menyelesaikan masalahnya masing-masing?

Sejak melihat trailernya, kita sudah dibuat tertawa dengan tingkah laku para hewan peliharaan Ini. Bahkan masing-masing karakter memiliki trailer sendiri.

Di film ini juga ada karakter-karakter baru seperti Daisy yang diisi Tiffany Haddish dan Rooster yang disulih suarakan oleh Harrison Ford.

Secret Life of Pets 2 menampilkan beragam cerita dari beberapa karakter namun akhirnya mereka semua bertemu dalam sebuah momen petualangan.

Baca Juga:  Terminator: Dark Fate merilis trailer pertama

Max yang jadi gelisah, Gidget yang panik harus berhadapan dengan puluhan kucing, hingga Snowball yang ingin menyelamatkan anak harimau.

Masing-masing memiliki masalahnya sendiri, ceritanya disajikan dengan lompat kesana-kesini mungkin akan membuat kita sedikit mengantuk karena terlalu panjang untuk dipertemukan ke klimaksnya film Ini.

Memang untuk sebuah sekuel, Film Ini sangat pas untuk disebut sebagai sekuel. Dengan ruang lingkup yang lebih luas serta permasalahan yang lebih pelik untuk tiap karakternya.

Untuk tontonan anak-anak mungkin akan terlihat menyenangkan. Namun untuk tontonan dewasa mungkin akan terlihat sedikit membosankan.

Kemudian sisi positifnya, tingkah laku para hewan peliharaan ini seolah olah Dibuat hidup dan memiliki kesamaan dengan para hewan peliharaan pada umum nya di Dunia nyata. Misalnya, Chloe yang mengeong meminta perhatian pemiliknya.

Belum lagi saat dia mengajarkan Gidget menjadi kucing. Bersiaplah tertawa saat muncul sinar laser dan para kucing.

Kemudian Rooster, seekor anjing peternakan pemberani yang mengajarkan banyak hal kepada Max. Tampilannya gagah namun namanya ayam jago. Anjing pedesaan tidur di luar, sementara Max dan Duke terbiasa tidur di dalam rumah.

Belum lagi saat Max diajak Katie ke dokter hewan. Layaknya anjing jika gatal-gatal ia dipakaikan kerucut kepala.

Lucunya lagi tingkah hewan-hewan lainnya yang sedang mengantre di sana yang mempunyai permasalahan kayaknya manusia.

Secara keseluruhan, film Ini masih menjual tingkah laku hewan yang menggemaskan dari segi cerita pun dapat dibilang sebagai sekuel yang ideal untuk sebuah Film. Namun sayangnya mungkin hanya anak-anak yang menikmati Film ini. Namun untuk penonton dewasa terkesan biasa saja atau mungkin malah membosankan

Continue Reading

Box Office

Review Film Disney’s Aladdin Live Action, masih tetap magical

Published

on

GwiGwi.com – Kalian pasti tahu kisah 1001 malam Aladdin kan? Cerita tentang pemuda jalanan yang mendapatkan lampu ajaib dan berhasil menyelamatkan kerajaan dari ancaman penyihir jahat.

Kisah Ini telah beberapa kali diadaptasi lewat beberapa medium dari buku cerita, animasi, film, bahkan Indonesia pun pernah membuat film layar lebar dari kisah ini yang dibintangi oleh Rano Karno dan Lydia Kandou di tahun 1982.

Namun yang paling terkenal adalah film animasi versi Disney di tahun 1992 lewat tangan dingin Jon Musker dan Ron Clements yang dibintangi oleh Robin Williams, Scott Weinger dan Linda Larkin dan menjadi salah satu mahakarya Disney.

Di tahun 2019, Disney mencoba peruntungan mengadaptasi masterpiecenya dengan format live action setelah menuai kesuksesan lewat Cinderella, jungle book, Beauty and the Beast, Alice in Wonderland, dan nanti The Lion King pada bulan Juli tahun ini.

Dikisahkan Aladdin, pemuda jalanan yang berprofesi sebagai pencuri kelas teri di negeri Agrabah bertemu dengan Jasmine Putri sultan dan penemuan lampu ajaib. Aladdin pun berhasil menemukan lampu itu dan diberi tiga permintaan dari genie si penghuni lampu ajaib, serta perseteruan dengan Jafar penasehat kerajaan yang ingin menguasai negeri Agrabah.

Setelah proyek Ini dihujani kritik pedas oleh para netizen karena film ini ditangani oleh sutradara Guy Ritchie dan dibintangi oleh Will Smith, Mena Massoud, dan Naomi Scott.

Film Ini tetap percaya diri melenggang di jajaran film yang rilis pada musim panas tahun ini.

Dari segi cerita, Film Ini masih tetap setia dengan versi animasinya, meskipun dengan ciri khas proyek Live Action Disney yang melakukan sedikit improvisasi tetap disajikan di Film ini.

Mungkin para penonton yang sedikit peka akan menyadari beberapa perubahan dari segi cerita versi live action ini.

Namun hal ini tidak merusak cerita, ditambah dengan visual yang memanjakan Mata, serta penggambaran negeri Agrabah yang merupakan akulturasi dari beberapa budaya timur Tengah, Maroko, Turkey, dan India menjadikan Film ini memiliki daya magisnya tersendiri.

Dari segi cast-nya, Will Smith yang menanggung beban berat memerankan Genie Karena dibandingkan dengan pendahulunya mendiang Robin Williams.

Baca Juga:  Inilah Trailer Perdana dari Rambo V: Last Blood

Berhasil Lepas dari predecessors-nya dan membuat gayanya sendiri dalam memerankan sosok jin penunggu lampu ajaib sahabat setia Aladdin.

Untuk Mena Massoud dan Naomi Scott berhasil membangun chemistry yang baik sebagai Aladdin dan Jasmine, namun sosok Jasmine lebih ditonjolkan mengingat gerakan girl empowerment yang sedang kencang-kencangnya berhembus di industri perfilman Hollywood. Namun porsi pembagian karakter untuk mereka berdua sangat pas.

Untuk tokoh Jafar yang diperankan oleh Marwan Kenzari terlihat kurang mengancam dari perawakannya. As we know, karakter Jafar di versi animasinya memiliki perawakan yang sangat mengancam dan bengis untuk sosok antagonis sebuah Film animasi.

Marwan Kenzari is Jafar in Disney’s live-action ALADDIN, directed by Guy Ritchie.

Andai saja, aktor yang memerankan Hakeem di Film ini yang diperankan oleh Nurman Acar memerankan tokoh Jafar mungkin akan terlihat lebih pas.

Yang menjadi screen stealer di Film ini adalah tokoh Dalia yang diperankan oleh Nasim Pedrad. Dari materi promosi filmnya, mungkin hanya sekedar menjadi tempelan saja tokoh Dalia Ini. Namun ternyata, tokoh orisinil dari Live Action Film Ini memiliki peranan yang sangat penting dalam keutuhan sebuah cerita.

Kalau boleh dibandingkan dengan versi kartunnya, baik live action maupun animasi dari Disney Aladdin, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya serta memiliki daya magis yang Luar biasa. Tidak heran jika Disney memiliki gaya tersendiri dalam men-treatment proyek filmnya.

Dari segi soundtrack-nya pun, masih tetap bagus meskipun terjadi perubahan lirik dari versi animasinya.

Secara keseluruhan, adaptasi Live Action dari Disney’s Aladdin masih bagus dan tidak kalah dengan versi animasinya terdahulu.

Dengan visual yang apik, dan sarat akan pesan moral karena memang ada pesan yang tersirat di Film Ini.

Lewat Film ini juga mengajarkan kita untuk tidak nyinyir duluan dengan performa para orang-orang Yang terlibat di Film Ini. Karena terbukti, dengan apa yang kita lihat di trailernya berbanding terbalik dengan upaya para sutradara dan para pemerannya (kecuali aktor yang memerankan Jafar). Berhasil melakukan yang terbaik untuk Film ini.

Continue Reading

Trending