TV & Movies
Review Film Blue Beetle, Gelegar Debut Superhero Latin Pertama Layar Lebar
Setelah resepsi THE FLASH yang kurang baik dari segi kritikan dan box office (malahan jadi film superhero dengan Box Office Bomb terparah sepanjang sejarah), tidak heran banyak yang skeptis dengan potensi BLUE BEETLE. Ditambah karakternya yang kurang dikenal maka seolah lengkaplah segala formula pasti kegagalannya.
Akan tetapi, tak lama berkenalan dengan Jaime Reyes (Xolo Maridueña) dan keluarganya semua rasa skeptis itu lenyap. Kembali menjadi penonton biasa menikmati suguhan yang barangkali salah satu film terbaik superhero DC.
Pulang dari wisudanya, Jaime Reyes berharap semua akan baik saja. Berkumpul kembali dengan keluarga dan akan dapat kerja bagus dengan diplomanya. Begitu Milla (Belissa Escobado), adiknya yang sinis memberikan berita buruk; bengkel keluarga ditutup dan rumah masa kecilnya akan diambil perusahaan, semua terasa kelam.
Seolah derita belum selesai, Jenny Kord (Bruna Markuezine), anak superhero Ted Kord, menawarinya pekerjaan yang malah berakhir dengan Jaime ketempelan “Scarab,” benda berbentuk kumbang yang punya pikiran sendiri.
Scarab memberi Jaime kekuatan ala Iron Man dan dibantu keluarganya, Jaime mau tidak mau menjadi superhero latin pertama di layar lebar.
Layaknya Scarab yang menempel dan perlahan berasimilasi dengan Jaime, budaya orang hispanik terasa menyatu dalam BLUE BEETLE. Dengan sangat piawai digunakan untuk momen hangat, komedi dan tragis. Menjadi daya tarik spesial padahal di komiknya tidak dikenal demikian.
Dari isu gentrifikasi (perubahan sosial budaya lantaran penduduk berduit banyak membeli properti di daerah mayoritas kelas bawah), diskriminasi, referensi musik dan telenovela, cerita minoritas hispanik ini terasa begitu mengena nadi keseharian dan relevansi isunya.
Cerita itu dihidupkan dengan penuh komitmen oleh keluarga reyes; Alberto (Damián Alcazár) si bapak pekerja keras dan penyatu keluarga; si ibu Rocio (Elpidia Carrillo) yang teriakannya bisa mempengaruhi si Jaime dan Scarab yang sedang lemah untuk bertarung; si om Rudy (George Lopez), ilmuwan nyeleneh; dan yang tampaknya akan jadi favorit penonton, si abuela/nenek Nana (Adriana Barraza).
Begitu terkuak sisi lain dari Nana, menarik sekali melihat bagaimana filmmaker melalui beliau menonjolkan kekuatan dan kebanggaan dari identitas hispanik. Sesuatu yang barangkali begitu terkurung oleh tempelan stereotype dan tekanan sosio ekonomi. Adegan yang komedik itu memiliki kedalaman yang hebat nan menyentuh.
Tak hanya untuk protagonis, para pembantu protagonis yang berdarah latin pun disinggung; si villain, Victoria Kord (Susan Sarandon) yang sengaja tak mengenali nama asli Dr. Sanchez (Harvey Guillén) dan caranya memanipulasi Carapax (Raoul Trujillo) untuk terus merasa berhutang budi padanya. Menyinggung isu “White Savior” atau orang kulit putih heroik.
Menambah dimensi yang menarik memang tapi penggambaran Victoria terlalu karikatur 2 dimensi datarnya. Kalau yang main bukan Susan Sarandon tak berkesan sekali si villain ini.
BLUE BEETLE menchecklist semua klise superhero dengan sajian di atas rata-rata. Xolo Maridueña sebagai Jaime klop tenan, energik, pingin liat lagi. Aksinya keren directingnya. Berasa impactnya padahal banyak balutan CG. Kalo hanya 2 itu superhero lain udah banyak. La Familia, itulah kekuatan asli spesial film ini. Mungkin Vin Diesel harus bawa catatan pas nonton ini dan kayaknya mesti catat yang banyak.
Lots of sweary stuff.
TV & Movies
Review Film Disclosure Day, Obsesi Spielberg Tentang Alien
www.gwigwi.com –

Review Film Disclosure Day, Obsesi Spielberg Tentang Alien

Review Film Disclosure Day, Obsesi Spielberg Tentang Alien

Review Film Disclosure Day, Obsesi Spielberg Tentang Alien
TV & Movies
Review Film The Masters of The Universe, Not Enough Power
www.gwigwi.com – Franchise legenda lagi akan tayang setelah MORTAL KOMBAT 2 dan THE MANDALORIAN AND GROGU. HE-MAN! Laama sekali penantian setelah begitu banyak rumor dan segala macamnya, MASTERS OF THE UNIVERSE akhirnya jadi film juga. Nah, apakah akan hanya menyenangkan fans lama saja?
Adam (Nicholas Galitzine) rindu dengan kampung halamannya, Eternia sampai mengganggu pekerjaannya di kantor.
Naas, saat kerajaannya diserang dulu, dia terpaksa kabur ke bumi. Sampai akhirnya dia menemukan lagi pedang yang akan menuntunnya pulang, Sword of Power.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power
Namun, baru saja dia panggul pedang itu lagi, Adam diserang monster dan dilindungi teman lamanya, Theela (Camila Mendes) yang membawanya pulang.
Sang pangeran tak menyangka Eternia kini rusak akibat lalimnya sang musuh utama, Skeletor (Jared Leto). Menggunakan Sword of Power dan sekutunya seperti Man At-Arms (Idris Elba), maka Adam harus berjuang menyelamatkan dunianya.
Sebagai adaptasi mainan HE-MAN, tentu visual dan baku hantamnya lah salah satu pesona utama. Kostumnya untungnya tidak direalistiskan tapi total mencoba setia pada mainannya. Begitu pun aksinya menghentak bahkan sedari awal. Berkat koreografi energik dan sinematografi dinamis yang cakap.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power
Nicholas Galatzine seakan menchannel man child ala Star Lord-nya Chris Pratt, tapi tetap punya keunikan sendiri. Meski berbadan besar hanya dengan tatapan saja dia bisa terkesan lembut dan membuat iba.
Sisi itulah yang membuat hero ini tak hanya sekedar mas berotot tangguh bawa pedang saja. Terdapat kualitas heroik lain yang menyokong tenaga itu, membuatnya cukup berbeda dibanding tipikal penampilannya. Dan Nicholas Galitzine berhasil menampilkannya.
Mungkin yang mengherankan adalah pilihan membuat badannya sudah bongsor walau belum berubah jadi HE-MAN. Meski visual henshinnya keren, tapi perubahan fisiknya terasa kurang sedrastis Chris Evans saat menjadi Captain America. Jadinya, efek wow transformasinya berasa kurang.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power
Di sisi lain, Jared Leto mengejutkan sebagai si antagonis. Tak sekalipun kita melihat wajahnya, tapi dia bisa melebur total dalam balutan kostum dan wajah tengkorak. Gesturnya begitu hidup dan dia bisa terlihat mengancam tapi kemudian lucu dengan seketika.
Secara cerita memang…klasik, maka film tampak mengandalkan atraksi, banter antar karakter yang memang oke saja dan komedi. Walau servicable, rasanya bila ingin menjadi franchise jaya kembali, THE MASTERS OF THE UNIVERSE tampaknya butuh lebih banyak kejutan dan selling point untuk memenangkan penonton sekarang yang sudah terhujani banyak konten, tak seperti tahun-tahun keemasannya dulu.
Bila tidak, yang senang sekali bisa jadi hanya para fans tua saja sementara penonton lain menggangguk saja kurang terkesan, seperti yang penulis rasakan.
TV & Movies
REVIEW FILM NORMAL, FILM ACTION YANG TIDAK NORMAL
www.gwigwi.com – Bob Odenkirk, sosok multitalenta yang dikenal sebagai penulis, produser, dan aktor populer lewat serial Breaking Bad serta Saturday Night Live (SNL), kembali menggebrak layar lebar. Kali ini, ia berpartner dengan Derek Kolstad—kreator bertangan dingin di balik kesuksesan waralaba John Wick dan Nobody. Sinergi keduanya membuahkan sebuah film komedi aksi berjudul Normal, yang digarap di bawah arahan sutradara Ben Wheatley, yang sebelumnya menukangi film Free Fire, Tomb Raider, dan Meg.
Film ini menyoroti kisah seorang sheriff pengganti bernama Ulysses (diperankan oleh Bob Odenkirk). Ia mendapatkan penugasan baru di sebuah kota kecil yang tenang di wilayah Minnesota bernama Normal. Ulysses hadir untuk menggantikan posisi sheriff sebelumnya, Gunderson, yang secara mengejutkan meninggal mendadak. Secara personal, Ulysses adalah pria yang fleksibel dan hanya ingin menjalani sisa kehidupannya dengan ketenangan. Namun, di balik pembawaannya tersebut, ia memendam masa lalu traumatis yang kelam saat masih menjadi seorang sheriff idealis di masa lalu.

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal
Ulysses awalnya beranggapan bahwa masa tugasnya selama delapan minggu ke depan—hingga sheriff definitif baru diangkat—akan berjalan datar dan biasa saja seperti nama kotanya. Namun, ekspektasi tersebut langsung hancur berantakan. Kehadiran sepasang pendatang baru, Moira (Lena Headey) dan Keith (Brendan Fletcher), yang nekat melakukan perampokan bank secara brutal, justru menjadi pemantik yang membuka kotak pandora dan menyingkap rahasia besar nan kelam yang selama ini disembunyikan oleh kota Normal.
Sebagai sebuah film aksi, Normal masih membawa napas dan formula yang serupa dengan John Wick dan Nobody. Sepanjang durasi, film ini dipenuhi oleh adegan-adegan sadis, berdarah, dan memilukan. Oleh karena itu, film ini sangat tidak ramah dan tidak cocok ditonton oleh Gwiple yang masih berusia di bawah 17 tahun.
Meski begitu, intensitas baku tembak dan pertarungan di film ini tidak disajikan secara bombastis atau se-elegan John Wick. Mengapa? Karena mayoritas karakter yang terlibat di dalamnya hanyalah warga sipil biasa, bukan petarung atau kombatan profesional. Namun, di situlah letak kekuatan dan keseruannya. Setiap aksi perkelahian terasa sangat mentah (raw), realistis, minim koreografi rumit, dan brutal. Unsur komedi gelap (dark comedy) di film ini juga dieksekusi dengan cerdas, di mana kelucuan sering kali lahir dari situasi gore yang dialami para korban, memicu banyak momen mencengangkan yang membuat Gwiple terbelalak.

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal
Selain itu, film ini memiliki jajaran karakter pendukung yang cukup ramai. Hebatnya, setiap tokoh diperkenalkan satu per satu dengan porsi yang pas dan penokohan yang kuat. Hal ini membuat Gwiple bisa dengan mudah mengingat mereka dalam waktu singkat, meskipun durasi kemunculan beberapa karakter tergolong singkat.
Secara keseluruhan, Normal adalah sajian film aksi yang lebih condong mendekati kembaran Nobody berkat taburan bumbu komedi yang kental, sehingga nuansanya tidak terasa sekelam dan seserius John Wick. Dengan plot cerita yang ringan, pergerakan alur yang tidak bertele-tele, serta suguhan beberapa plot twist yang menyegarkan di akhir cerita, Normal menjadi sebuah tontonan yang amat menghibur, seru, dan sangat layak untuk Gwiple saksikan langsung di layar bioskop!
-
Nintendo Console4 weeks agoFarming Simulator 26 Resmi Meluncur di Nintendo Switch: Hadirkan Peta Baru dan Tantangan yang Lebih Seru!
-
Event4 weeks agoAKEMI ID SIAP GELAR ‘KEMISTAGE VOL. 1: THE BEGINNING’, AWAL BARU PERTUNJUKAN KONSEPTUAL BERKALA DI ZONA KOREA
-
Berita Anime & Manga3 weeks agoReview Film The Mandalorian and Grogu, Is this The Way?
-
TV & Movies3 weeks agoReview Film The Passengers, Berdoalah Sebelum Perjalanan
-
TV & Movies3 weeks agoREVIEW FILM NORMAL, FILM ACTION YANG TIDAK NORMAL
-
Nintendo Console2 weeks agoReview Game Farming Simulator 26 Nintendo Switch Edition: Simulasi Portabel yang Seru, Namun Minim Lompatan Besar
-
Gaming2 weeks agoFarming Simulator 25 Luncurkan Update Konten Gratis ke-6: Hadirkan Mesin Baru dari John Deere!
-
TV & Movies2 weeks agoReview Film The Masters of The Universe, Not Enough Power




