Connect with us

Berita Anime & Manga

Review Fate/Stay Night Unlimited Blade Works Episode 7

Published

on

[alert-warning]Spoiler Alert! Read at your own risk[/alert-warning]

GwiGwi.com – Episode kali ini melanjutkan usaha Saber untuk menyelamatkan Shirou yang telah ditangkap oleh Caster. Tapi Assassin mencegah Saber untuk masuk dan mengajak Saber untuk bertarung. Shirou sendiri sedang dibantu Archer menghadapi Caster.

http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/70_zps91561dae.jpg

Pertarungan terjadi antara Saber dan Assassin di depan kuil. Walaupun Saber lebih kuat dalam hal kekuatan dan kecepatan, ia tetap tidak bisa menyerang Assassin. Sebaliknya, Assassin sendiri merasa bahwa ia perlu mengandalkan teknik dibandingkan kekuatan. Archer juga sedang mengkonfrontasi Caster. Archer sudah tau bahwa Caster bekerja sama dengan Assassin tapi Caster berkata lain. Ternyata Caster lah yang memanggil Assassin dan menjadikan Caster sebagai Master. Hal itu sebenanya tidak diperbolehkan. Oleh karena itu, Assassin yang dipanggil Caster bukanlah yang asli.

http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/71_zps7c1ff861.jpg

Caster sendiri memang bukanlah tipe petarung tapi jika ia berada dalam wilayahnya, ia percaya tidak ada yang bisa menyentuhnya. Archer percaya bahwa ia bisa mengalahkan Caster dengan satu serangan dan jika tidak maka Archer akan serahkan kepada Saber. Dan memang benar, Archer berhasil menyerang Caster. Sayangnya, yang diserang bukanlah Caster yang asli melainkan hanya ilusi. Caster yang asli sudah berada di langit menyiapkan serangannya. Dalam wilayahnya sendiri, Caster bisa menggunakan True Magic.

http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/72_zpsb90e2ae9.jpg

Caster mulai menyerang Archer dengan Magic terus-menerus sehingga membuat Archer kesulitan untuk mendekati Caster. Caster sendiri juga memiliki suplai mana yang besar. Shirou yang sedang diam saja akhirnya terlihat oleh Caster dan kemudian terserang. Archer sudah mengantisipasi hal tersebut dan berhasil menyelamatkan Shirou. Tetapi Caster tetap saja menyerang dan Archer terpaksa membawa Shirou ke tempat aman dulu. Setelah cukup jauh, Archer menendang Shirou pergi. Di saat itu juga, Caster sudah memasang barrier di sekitar Archer, membuatnya tidak dapat bergerak.

http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/73_zpsd9fd0678.jpg

Archer sebelumnya telah mengantisipasi semua serangan Caster dan telah melempar kedua pedangnya. Konsentrasi Caster pecah akibat pedang Archer dan Barrier di sekitar Archer pun hilang. Caster mulai lagi menyerang dan Archer menyiapkan Noble Phantasm miliknya. Dengan cepat, Noble Phantasm yang dinamai Caladbolg itu diluncurkan oleh Archer dan mengenai Caster.

http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/74_zps63de5cfa.jpg

Pada sisi Saber, Assassin yang merasa Masternya dalam bahaya merasa tidak ada gunanya lagi menyembunyikan kekuatan asli miliknya. Assassin turun menghadapi Saber dan menggunakan salah satu Skill miliknya yang dinamai Concealed Sword. Saber yang telat menyadari apa yang Assassin lakukan akhirnya terkena serangannya.

http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/75_zpsd42852d7.jpg

Caster yang terluka setelah terkena serangan Archer bertanya mengapa ia tidak dibunuh. Archer sendiri ingin menguji Caster dengan satu kali serangan dan memang benar, Caster yang tadinya terluka parah langsung sembuh lagi. Caster bingung mengapa Archer tidak ingin mengalahkannya. Tujuan Archer hanyalah Shirou dan ia tidak suka bertarung tanpa tujuan. Caster merasa bahwa Archer dan Shirou sangat mirip. Shirou tidak menyukai orang yang melukai yang tidak bersalah dan Archer tidak suka asal membunuh.

http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/76_zps54d21407.jpg

Caster juga mengajak Shirou dan Archer untuk bekerja sama. Shirou langsung menolak tetapi Archer memberi alasan mengapa ia menolak. Archer datang juga karena kehendaknya sendiri jadi ia tidak bertujuan untuk membunuh Caster. Caster kabur dan Shirou bingung mengapa Archer membiarkan Caster kabur. Archer juga tau bahwa jika ia terus menyerang Caster, Caster juga akan kabur. Archer juga lebih senang jika Caster melanjutkan apa yang ia lakukan agar Caster bisa mengalahkan Berseker.

http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/77_zps36cecea5.jpg

Kembali pada pertarungan Saber dengan Assassin, Saber yang terkena serangan langsung bangkit kembali. Assassin juga terkesan melihat Saber yang berhasil selamat dari Concealed Sword miliknya. Assassin menjelaskan bahwa Concealed Sword didapatkan saat ia sedang memburu burung layang. Menyerang burung layang dengan satu pedang memang sulit, sehingga ia harus menebas berkali kali dalam satu serangan untuk bisa menjatuhkan burung tersebut. Saber tidak merasakan hanya satu pedang tetapi setidaknya 3 pedang saat terserang.

http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/78_zpsc4d68855.jpg

Archer merasa bahwa Caster terlalu rendah hati karena seharusnya Caster sudah membunuh semua orang di kota supaya bertarung lebih mudah. Tentu saja itu membuat Shirou marah. Tapi apa yang dikatakan Archer tidak salah. Jika Caster memenangkan Holy Grail, maka kerusakan tidak hanya akan terjadi pada kota Shirou saja tapi bisa lebih luas.

http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/79_zpsa4274675.jpg

Tetap saja Shirou bertekad mengejar Caster. Archer mencoba menghentikan Shirou tapi Shirou tidak hanya menghiraukannya. Saat Shirou akan mengejar Caster, Archer menebas punggung Shirou. Archer merasa jika Shirou tidak akan bertarung demi dirinya sendiri, maka lebih baik Shirou mati. Shirou mencoba kabur tapi Archer tetap mengikutinya. Shirou tiba tiba terjatuh tapi Saber langsung menangkapnya. Merasa Saber lebih memillih melindungi Masternya, Assassin akhirnya membiarkan mereka pergi.

http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/80_zps15f851be.jpg

Archer tetapi tetap menyerang Shirou. Assassin langsung datang menghentikan serangan Archer. Sebagai penjaga kuil, Assassin sudah membiarkan Saber untuk pergi tapi Archer belum. Oleh karena itu, Assassin akan mengalahkan Archer. Archer tidak percaya bahwa Assassin bisa mengalahkannya dan Assassin juga merasa sebaliknya. Pertarungan juga tidak terhindarkan dan selama mereka bertarung, Saber dan Shirou terpaksa mundur.

http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/81_zpsa7389060.jpg

Advertisement

Berita Anime & Manga

Review Tomb Raider King Eps.1-2

Sama-sama mengusung tema dungeon crawling seperti Solo Leveling, mampukah adaptasi anime Tomb Raider King meraih kesuksesan yang sama? Simak ulasan dua episode pertamanya di sini.

Published

on

Review Tomb Raider King Eps.1 2

www.gwigwi.com – Dikhianati kontraktornya, “Tomb Raider” Jooheon Suh hampir saja mati di sebuah makam/tomb berisikan relik ajaib saat tetiba dia kembali 15 tahun lalu saat God’s Tombs ajaib belum bermunculan. Bertekad untuk membalas, berbekal pengetahuan dan keahliannya, dia pergi mengoleksi berbagai elik dengan tangannya sendiri.

TOMB RAIDER KING dianimasikan! Manhwa karya Sanji Jiksong ini tampaknya ingin ikut mencicipi kesuksesan SOLO LEVELING. Sesama sub genre Lit-RPG (cerita dengan mekanisme gim) dan dungeon crawling, mampukah mereka meraup harta kesuksesan yang sama?

Menjanjikan petualangan, misteri, atraksi aksi yang dibumbui strategi cerdik tak terduga, TOMB RAIDER KING memiliki banyak key selling point buat penyuka sub genre ini.

Cerita dengan cerdas tidak dimulai dari awal mula karir Jooheon. Penonton langsung disuguhi misteri pengkhianatan, kenapa dia bisa kembali ke masa lalu dan protagonis yang sudah jago, cepat memahami situasi dan langsung bertindak.

Alur ringkas cepat ini membantu memaku perhatian saat animasi dan art style gambar terasa cukup saja. Sisa informasi world building dieksposisikan tokoh utama sambil jalan yang untungnya lore TOMB RAIDER KING ini cukup sederhana dan mudah dicerna.

Mungkin karena keliatan sederhana ini juga, rasanya dunianya kurang terasa spesial. Tomb yang didatangi Jooheon saat baru sadar terinspirasi dari kisah populer ‘Kapak Emas’ dari dongeng Aesop. Memang boleh saja terinspirasi demikian, tapi seperti kurang ada polesan unik ala TOMB RAIDER KING itu sendiri. Ya, ada twist berbeda, namun kurang terasa menghentak.

Entah karena Jooheon yang digambarkan dengan istilah “OP” atau over power kah? Pemuda ini sudah sakti, pede, cerdas, pokoknya wah. Dari dua episode ini, belum ada tantangan berarti mau itu dari menghajar orang atau melawan monster. Fokus memperlihatkan hebatnya dia memang boleh saja, tetapi cerita seperti lupa memberikan suspense atau pembeda dari sub genre yang sama saat sekarang dunia sudah mengenal SOLO LEVELING dan SHANGRI-LA FRONTIER (tentang petualangan seorang gamer di dunia gim, Shangri-La Frontier).

Rakurou Hizutome atau Sunraku, protagonis SHANGRI-LA FRONTIER memang jago tapi diperlihatkan juga dia tidak bisa memakai armor hingga terkena serangan sekali saja sudah fatal. Hal demikian belum ada di TOMB RAIDER KING. Karakter Jooheon terkesan power fantasy untuk para pembaca merasa strong dan kurang memiliki kedalaman lain supaya audiens bisa relate, malahan dia kadang terasa angkuh menyebalkan.

Bila ingin sekedar melihat protagonis doing cool, strong, smart stuff dibumbui misteri dan petualangan, dan diakhiri dengan mendapat harta yang bisa bikin lebih cool, strong, smart lagi, TOMB RAIDER KING mungkin bisa jadi pilihan.

Review Tomb Raider King Eps.1 2

Review Tomb Raider King Eps.1 2

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 2: Otak Di Atas Otot, Kemenangan Strategi Tanpa Cheat!

Published

on

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

www.gwigwi.com – Banyak anime fantasi memulai cerita dengan tokoh utama yang dibuang karena dianggap tidak berguna. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System mengambil pendekatan yang sedikit berbeda. Masalah Elymas bukan karena ia lemah, melainkan karena semua orang terlalu cepat menyimpulkan nilai seseorang hanya dari label kelas yang ia terima. Gelar Heavy Knight dianggap sebagai jalan buntu, sementara Swordmaster diperlakukan seperti satu-satunya masa depan yang layak. Keputusan ayahnya mengusir Elymas dan mengangkat adik tirinya dari cabang keluarga sebagai pewaris terasa lebih sebagai cerminan obsesi terhadap status daripada keputusan yang benar-benar rasional.

Yang menarik, Elymas tidak menghabiskan waktunya untuk meratapi nasib atau berteriak ingin balas dendam. Ia justru melihat pengasingan itu sebagai kesempatan memulai hidup tanpa ekspektasi keluarganya. Berbekal pengetahuan tentang mekanisme dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah membaca seluruh buku panduan, setiap keputusan yang diambil terasa penuh perhitungan. Kekuatan utama anime ini bukan aksi besar pada dua episode pertama, melainkan kepuasan melihat seseorang perlahan membalikkan stigma dengan logika, pengalaman, dan strategi.

Dari sisi produksi, GoHands kembali mempertahankan identitas visualnya. Desain karakter terlihat bersih dengan pencahayaan yang kaya, sementara latar memiliki detail yang membuat dunia fantasinya terasa hidup. Sayangnya, gaya penyutradaraan mereka masih sulit diabaikan. Kamera terus bergerak, melakukan panning, zoom in, dan zoom out bahkan ketika adegannya hanya percakapan sederhana. Ada momen ketika pergerakan kamera justru lebih aktif daripada karakter yang sedang berbicara. Bagi sebagian penonton ini menjadi ciri khas, tetapi bagi yang lain justru terasa mengalihkan perhatian dari cerita.

Dua episode pembuka ini belum menawarkan kejutan besar, tetapi berhasil menanam rasa penasaran. Anime ini tidak mencoba meyakinkan penonton bahwa Heavy Knight adalah kelas terkuat. Sebaliknya, ia mengajak penonton mempertanyakan apakah sebuah sistem benar-benar salah, atau manusianya saja yang terlalu cepat memberi cap pada sesuatu yang belum dipahami. Pendekatan tersebut membuat perjalanan Elymas terasa lebih menarik daripada sekadar kisah “tokoh yang diremehkan lalu menjadi overpowered.”

Nilai: 8,5/10. Premisnya memang familier, tetapi cara membangun karakter utama dan tema tentang prasangka terhadap potensi seseorang membuat serial ini memiliki identitas yang cukup kuat. Jika GoHands sedikit mengurangi “kamera yang hiperaktif”, pengalaman menontonnya akan terasa jauh lebih nyaman.

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas yang Ternyata Overpowered!

Published

on

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas Yang Ternyata Overpowered!

www.gwigwi.com – Anime fantasi dengan tema tokoh utama yang diusir keluarganya memang bukan hal baru. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System (Tsuihou sareta Tensei Juukishi wa Game Chishiki de Musou suru) menghadirkan konflik yang cukup menarik sejak episode pertamanya. Elymas, putra keluarga bangsawan Edvaughn, dianggap gagal memenuhi harapan karena memperoleh kelas Heavy Knight, kelas yang dipandang tidak memiliki masa depan dibandingkan Swordmaster. Pandangan sempit tersebut membuat ayahnya mengambil keputusan yang sangat drastis.

Situasi semakin rumit ketika Malice, adik tiri Elymas yang berasal dari cabang keluarga, memperoleh kelas Swordmaster. Berbekal status tersebut, Malice dengan cepat menggantikan posisi Elymas sebagai pewaris resmi keluarga Edvaughn. Kudeta terhadap hak waris itu berlangsung tanpa banyak perlawanan karena seluruh keluarga lebih memilih mengejar prestise daripada menilai kemampuan seseorang secara objektif. Adegan ini menjadi fondasi konflik utama serial, sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah label mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Menariknya, Elymas tidak tenggelam dalam amarah atau sibuk merencanakan balas dendam. Ia menerima pengasingannya sebagai awal kehidupan baru. Berkat pengetahuannya mengenai sistem dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah menguasai seluruh mekanisme permainan, Elymas menyadari bahwa Heavy Knight bukanlah kelas yang seburuk anggapan banyak orang. Cara berpikirnya yang tenang dan penuh perhitungan membuat tokoh utama terasa berbeda dibanding protagonis fantasi pada umumnya yang sering mengandalkan ledakan emosi.

Dari sisi visual, GoHands kembali mempertahankan ciri khasnya. Desain karakter terlihat tajam dengan efek pencahayaan yang kaya, sementara latar dunia fantasinya memiliki detail yang memanjakan mata. Sayangnya, gaya sinematografi mereka masih menjadi pedang bermata dua. Kamera terus bergerak dengan panning, zoom, dan perubahan sudut yang cukup agresif, bahkan saat adegan dialog berlangsung. Bagi sebagian penonton hal ini memberikan kesan dinamis, tetapi tidak sedikit yang justru merasa pergerakannya terlalu berlebihan sehingga mengalihkan fokus dari percakapan para karakter.

Sebagai episode pembuka, anime ini berhasil memperkenalkan dunia, sistem kelas, serta konflik keluarga yang menjadi pemicu perjalanan Elymas. Alih-alih hanya menyajikan kisah tokoh yang diremehkan lalu menjadi sangat kuat, episode pertama lebih menekankan bagaimana prasangka dan obsesi terhadap status dapat membuat seseorang kehilangan haknya. Itulah yang membuat perjalanan Elymas terasa layak untuk terus diikuti.

Nilai: 8,5/10. Episode pertama berhasil membangun konflik dengan baik dan memperkenalkan karakter utama yang cerdas serta tenang. Jika GoHands sedikit mengurangi pergerakan kameranya yang terlalu aktif, pengalaman menonton akan terasa lebih nyaman tanpa mengurangi kualitas visual yang memang menjadi kekuatan mereka.

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending