Berita Anime & Manga
Review Assassination Classroom Episode 2
[alert-warning]Spoiler Alert! Read at your own Risk[/alert-warning]
GwiGwi.com– Kembali lagi dengan aksi konyol dari Kelas 3-E dan Koro-Sensei ^^, Episode kali ini dimulai ketika Koro-Sensei sedang santai di hutan belakang sekolah dan seperti biasa muridnya sedang berusaha membunuhnya. Kali ini murid bernama Sugino mengambil kesempatannya berkat informasi dari Nagisa. Sugino telah memodifikasi sebuah bola baseball dan memasang peluru spesial pada bola tersebut. Dengan percaya diri, ia melempar bola itu ke arah Koro-Sensei tetapi tiba-tiba Koro-Sensei muncul di belakang mereka. Bahkan saat Sugino melempar bola tersebut, Koro-Sensei sudah pergi ke ruang peralatan terlebih dahulu dan mengambil sebuah sarung tangan untuk menangkap bola tersebut :v.
Kita juga diberi recap singkat dari Nagisa mengenai episode sebelumnya. Setelah kelas selesai, Koro-Sensei pergi menuju New York untuk menonton pertandingan sehingga para murid tidak ada kegiatan lain. Saat para murid sedang mengobrol, Karasuma-San datang menanyai kemajuan mereka dalam membunuh Koro-Sensei dan kita diberi lagi recap lanjutan.
Saat makan siang keesokannya, Koro-Sensei menemui Sugino dan mengembalikan bola miliknya. Melihat Sugino yang murung karena lemparannya yang kurang cepat, Koro-Sensei memberikannya nasehat mengenai caranya melempar. Nagisa yang melihat mereka berdua sedang mengobrol datang menghampiri karena ia mengira Sugino sedang dimarahi. Sugino diangkat dan diikat tentakel milik Koro-Sensei untuk diperiksa olehnya. Setelah diturunkan, Nagisa pun datang dan Koro-Sensei berkata kalau Sugino tidak akan bisa melempar seperti pemain idola-nya.
Mendengar itu, Nagisa pun marah karena ia mengira Koro-Sensei menghina mereka yang berada di kelas E. Tetapi yang dimaksud Koro-Sensei berbeda. Sugino tidak akan bisa melempar seperti pemain idola-nya karena kekuatan milik Sugino tidak sebanding tetapi jika dilatih Sugino bisa melampaui idola-nya. Koro-Sensei bisa tahu hal ini karena ia pergi ke New York dan memeriksa idola Sugino sendiri. Koro-Sensei pun kembali ke gedung sekolah yang kemudian diikuti Nagisa. Nagisa menanyakan apakah Koro-Sensei sengaja pergi ke New York demi Sugino. Tentu saja, Koro-Sensei juga menceritakan alasan ia menjadi guru mereka.
http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/14_zpsf14d467b.jpg
Sugino pun melakukan apa yang dinasehati Koro-Sensei dan berlatih bersama Nagisa. Sugino pun akan tetap fokus dalam belajar dan juga berlatih. Ia pun akan terus mencoba membunuh guru yang tidak dapat dibunuh. Part A Clear.
Part B – Koro-Sensei kembali bersantai di hutan dan kali ini ia memakan kakigori yang ia ambil dari kutub utara. Lagi-Lagi para murid lain mencoba membunuhnya. Dengan senyuman tak bersalah, mereka mendatangi Koro-Sensei dengan pisau yang mereka sembunyikan. Melihat para murid yang tersenyum itu, Koro-Sensei pun ikut bahagia tetapi ia langsung kabur ketika para murid mengeluarkan pisau mereka. Setelah mengambil pisau mereka, Koro-Sensei memberikan setiap murid bunga yang ditanami mereka. Tentu saja mereka marah dan memaksa Koro-Sensei untuk menanam mereka kembali.
http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/16_zpsa8a4700e.jpg
Di tempat lain, Karasuma-san berencana akan menjadi guru olahraga mereka dan tentu saja mengawasi gerak-gerik Koro-Sensei. Kita juga diperlihatkan iklan Kunugigaoka Academy oleh maskot mereka yang lucu, Kunudon.
http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/17_zpsd1f8fe17.jpg
Saat Karasuma-Sensei datang ke gedung lama, ia disambut oleh Kayano. Kayano juga menunjukkan Koro-Sensei yang sedang memberi tantangan membunuh sebagai ganti telah merusak tanaman bunga tadi pagi. Melihat betapa senangnya para murid 3-E, Karasuma-Sensei pun bingung.
Di kementrian pertahanan, seorang anggota kementrian sedang berbicara kepada seseorang yang terlihat sebagai murid Kunugigaoka. Sepertinya murid itu adalah murid kelas 3-E yang diskors. Ia juga diberi detil mengenai misi membunuh Koro-Sensei dan ia juga terlihat sangat senang sekali.
Setelah selesai Episode yang kedua ini, memang aksi komedi nya jadi semakin lucu XD. Selain itu jalan cerita nya juga makin menarik dengan akan datangnya murid baru. Nantikan juga Episode berikutnya dari Assassination Classroom yang pasti akan semakin lucu juga ^^.
Berita Anime & Manga
Review Tomb Raider King Eps.1-2
Sama-sama mengusung tema dungeon crawling seperti Solo Leveling, mampukah adaptasi anime Tomb Raider King meraih kesuksesan yang sama? Simak ulasan dua episode pertamanya di sini.
www.gwigwi.com – Dikhianati kontraktornya, “Tomb Raider” Jooheon Suh hampir saja mati di sebuah makam/tomb berisikan relik ajaib saat tetiba dia kembali 15 tahun lalu saat God’s Tombs ajaib belum bermunculan. Bertekad untuk membalas, berbekal pengetahuan dan keahliannya, dia pergi mengoleksi berbagai elik dengan tangannya sendiri.
TOMB RAIDER KING dianimasikan! Manhwa karya Sanji Jiksong ini tampaknya ingin ikut mencicipi kesuksesan SOLO LEVELING. Sesama sub genre Lit-RPG (cerita dengan mekanisme gim) dan dungeon crawling, mampukah mereka meraup harta kesuksesan yang sama?
Menjanjikan petualangan, misteri, atraksi aksi yang dibumbui strategi cerdik tak terduga, TOMB RAIDER KING memiliki banyak key selling point buat penyuka sub genre ini.
Cerita dengan cerdas tidak dimulai dari awal mula karir Jooheon. Penonton langsung disuguhi misteri pengkhianatan, kenapa dia bisa kembali ke masa lalu dan protagonis yang sudah jago, cepat memahami situasi dan langsung bertindak.
Alur ringkas cepat ini membantu memaku perhatian saat animasi dan art style gambar terasa cukup saja. Sisa informasi world building dieksposisikan tokoh utama sambil jalan yang untungnya lore TOMB RAIDER KING ini cukup sederhana dan mudah dicerna.
Mungkin karena keliatan sederhana ini juga, rasanya dunianya kurang terasa spesial. Tomb yang didatangi Jooheon saat baru sadar terinspirasi dari kisah populer ‘Kapak Emas’ dari dongeng Aesop. Memang boleh saja terinspirasi demikian, tapi seperti kurang ada polesan unik ala TOMB RAIDER KING itu sendiri. Ya, ada twist berbeda, namun kurang terasa menghentak.
Entah karena Jooheon yang digambarkan dengan istilah “OP” atau over power kah? Pemuda ini sudah sakti, pede, cerdas, pokoknya wah. Dari dua episode ini, belum ada tantangan berarti mau itu dari menghajar orang atau melawan monster. Fokus memperlihatkan hebatnya dia memang boleh saja, tetapi cerita seperti lupa memberikan suspense atau pembeda dari sub genre yang sama saat sekarang dunia sudah mengenal SOLO LEVELING dan SHANGRI-LA FRONTIER (tentang petualangan seorang gamer di dunia gim, Shangri-La Frontier).
Rakurou Hizutome atau Sunraku, protagonis SHANGRI-LA FRONTIER memang jago tapi diperlihatkan juga dia tidak bisa memakai armor hingga terkena serangan sekali saja sudah fatal. Hal demikian belum ada di TOMB RAIDER KING. Karakter Jooheon terkesan power fantasy untuk para pembaca merasa strong dan kurang memiliki kedalaman lain supaya audiens bisa relate, malahan dia kadang terasa angkuh menyebalkan.
Bila ingin sekedar melihat protagonis doing cool, strong, smart stuff dibumbui misteri dan petualangan, dan diakhiri dengan mendapat harta yang bisa bikin lebih cool, strong, smart lagi, TOMB RAIDER KING mungkin bisa jadi pilihan.

Review Tomb Raider King Eps.1 2
Berita Anime & Manga
Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 2: Otak Di Atas Otot, Kemenangan Strategi Tanpa Cheat!
www.gwigwi.com – Banyak anime fantasi memulai cerita dengan tokoh utama yang dibuang karena dianggap tidak berguna. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System mengambil pendekatan yang sedikit berbeda. Masalah Elymas bukan karena ia lemah, melainkan karena semua orang terlalu cepat menyimpulkan nilai seseorang hanya dari label kelas yang ia terima. Gelar Heavy Knight dianggap sebagai jalan buntu, sementara Swordmaster diperlakukan seperti satu-satunya masa depan yang layak. Keputusan ayahnya mengusir Elymas dan mengangkat adik tirinya dari cabang keluarga sebagai pewaris terasa lebih sebagai cerminan obsesi terhadap status daripada keputusan yang benar-benar rasional.
Yang menarik, Elymas tidak menghabiskan waktunya untuk meratapi nasib atau berteriak ingin balas dendam. Ia justru melihat pengasingan itu sebagai kesempatan memulai hidup tanpa ekspektasi keluarganya. Berbekal pengetahuan tentang mekanisme dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah membaca seluruh buku panduan, setiap keputusan yang diambil terasa penuh perhitungan. Kekuatan utama anime ini bukan aksi besar pada dua episode pertama, melainkan kepuasan melihat seseorang perlahan membalikkan stigma dengan logika, pengalaman, dan strategi.
Dari sisi produksi, GoHands kembali mempertahankan identitas visualnya. Desain karakter terlihat bersih dengan pencahayaan yang kaya, sementara latar memiliki detail yang membuat dunia fantasinya terasa hidup. Sayangnya, gaya penyutradaraan mereka masih sulit diabaikan. Kamera terus bergerak, melakukan panning, zoom in, dan zoom out bahkan ketika adegannya hanya percakapan sederhana. Ada momen ketika pergerakan kamera justru lebih aktif daripada karakter yang sedang berbicara. Bagi sebagian penonton ini menjadi ciri khas, tetapi bagi yang lain justru terasa mengalihkan perhatian dari cerita.
Dua episode pembuka ini belum menawarkan kejutan besar, tetapi berhasil menanam rasa penasaran. Anime ini tidak mencoba meyakinkan penonton bahwa Heavy Knight adalah kelas terkuat. Sebaliknya, ia mengajak penonton mempertanyakan apakah sebuah sistem benar-benar salah, atau manusianya saja yang terlalu cepat memberi cap pada sesuatu yang belum dipahami. Pendekatan tersebut membuat perjalanan Elymas terasa lebih menarik daripada sekadar kisah “tokoh yang diremehkan lalu menjadi overpowered.”
Nilai: 8,5/10. Premisnya memang familier, tetapi cara membangun karakter utama dan tema tentang prasangka terhadap potensi seseorang membuat serial ini memiliki identitas yang cukup kuat. Jika GoHands sedikit mengurangi “kamera yang hiperaktif”, pengalaman menontonnya akan terasa jauh lebih nyaman.

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2
Berita Anime & Manga
Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas yang Ternyata Overpowered!
www.gwigwi.com – Anime fantasi dengan tema tokoh utama yang diusir keluarganya memang bukan hal baru. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System (Tsuihou sareta Tensei Juukishi wa Game Chishiki de Musou suru) menghadirkan konflik yang cukup menarik sejak episode pertamanya. Elymas, putra keluarga bangsawan Edvaughn, dianggap gagal memenuhi harapan karena memperoleh kelas Heavy Knight, kelas yang dipandang tidak memiliki masa depan dibandingkan Swordmaster. Pandangan sempit tersebut membuat ayahnya mengambil keputusan yang sangat drastis.
Situasi semakin rumit ketika Malice, adik tiri Elymas yang berasal dari cabang keluarga, memperoleh kelas Swordmaster. Berbekal status tersebut, Malice dengan cepat menggantikan posisi Elymas sebagai pewaris resmi keluarga Edvaughn. Kudeta terhadap hak waris itu berlangsung tanpa banyak perlawanan karena seluruh keluarga lebih memilih mengejar prestise daripada menilai kemampuan seseorang secara objektif. Adegan ini menjadi fondasi konflik utama serial, sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah label mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.
Menariknya, Elymas tidak tenggelam dalam amarah atau sibuk merencanakan balas dendam. Ia menerima pengasingannya sebagai awal kehidupan baru. Berkat pengetahuannya mengenai sistem dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah menguasai seluruh mekanisme permainan, Elymas menyadari bahwa Heavy Knight bukanlah kelas yang seburuk anggapan banyak orang. Cara berpikirnya yang tenang dan penuh perhitungan membuat tokoh utama terasa berbeda dibanding protagonis fantasi pada umumnya yang sering mengandalkan ledakan emosi.
Dari sisi visual, GoHands kembali mempertahankan ciri khasnya. Desain karakter terlihat tajam dengan efek pencahayaan yang kaya, sementara latar dunia fantasinya memiliki detail yang memanjakan mata. Sayangnya, gaya sinematografi mereka masih menjadi pedang bermata dua. Kamera terus bergerak dengan panning, zoom, dan perubahan sudut yang cukup agresif, bahkan saat adegan dialog berlangsung. Bagi sebagian penonton hal ini memberikan kesan dinamis, tetapi tidak sedikit yang justru merasa pergerakannya terlalu berlebihan sehingga mengalihkan fokus dari percakapan para karakter.
Sebagai episode pembuka, anime ini berhasil memperkenalkan dunia, sistem kelas, serta konflik keluarga yang menjadi pemicu perjalanan Elymas. Alih-alih hanya menyajikan kisah tokoh yang diremehkan lalu menjadi sangat kuat, episode pertama lebih menekankan bagaimana prasangka dan obsesi terhadap status dapat membuat seseorang kehilangan haknya. Itulah yang membuat perjalanan Elymas terasa layak untuk terus diikuti.
Nilai: 8,5/10. Episode pertama berhasil membangun konflik dengan baik dan memperkenalkan karakter utama yang cerdas serta tenang. Jika GoHands sedikit mengurangi pergerakan kameranya yang terlalu aktif, pengalaman menonton akan terasa lebih nyaman tanpa mengurangi kualitas visual yang memang menjadi kekuatan mereka.
-
TV & Movies4 weeks agoReview Film Toy Story 5: Toys Vs Devices
-
Box Office3 weeks agoReview Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli dari Vietnam
-
Laptop3 weeks agoHP EliteBook 8 G1i 14 AI: Tangguh untuk Bisnis, Siap Gaming Ringan
-
Box Office2 weeks agoReview The Death of Robin Hood, Akhir Tragis Sang Legenda
-
Serial Anime1 week agoReview Clevatess Season 2 Episode 1: Misi Rahasia Klen dan Alicia Dimulai, Visual Makin Manjakan Mata!
-
TV & Movies1 week agoREVIEW FILM MOANA (2026), Keindahan Visual Kepulauan Pasifik
-
TV & Movies1 week agoReview Film Love Barista, Megabintang yang Terdampar
-
News1 week agoAnime Festival Asia Rayakan Edisi ke-10 di Indonesia!












