Connect with us

Berita Anime & Manga

Review Anime Kantai Collection Episode 2

Published

on

[alert-warning]SPOILER ALERT! Read at your own risk![/alert-warning]

GwiGwi.com – Kembali lagi dengan cerita para kapal-kapal perang berwujud perempuan ini. Seperti yang telah kita ketahui di akhir episode perdana lalu, Fubuki bertekad untuk bisa menjadi kapal pengawal Akagi. ira-kira apa usahanya untuk meraih impiannya tersebut? Berlatih! Bahkan Fubuki sudah mulai latihan saat pagi-pagi buta.

Tapi seperti halnya para destroyer lainnya, Fubuki juga harus menjalani sekolah. Saat waktunya sekolah, ternyata Yuudachi lupa mengerjakan PR-nya sehingga dia diberi PR tambahan sebagai hukuman dari Ashigara yang berperan sebagai guru yang tegas di kelasnya. Di tengah pelajaran, Ashigara mengajukan pertanyaan kepada Yuudachi yang jika bisa dijawab dengan benar maka PR tambahannya akan dikurangi setengahnya.

Yuudachi tampak panik karena sepertinya dia tidak tahu jawaban dari pertanyaan yang diajukan gurunya, walaupun pertanyaan tersebut sebenarnya adalah materi yang sudah mereka pelajari sebelumnya. Untungnya Fubuki diam-diam menolong Yuudachi dari belakangnya sehingga Yuudachi lolos dari omelan Ashigara.

Fubuki tampaknya benar-benar tekun dalam belajarnya, ketika dia diajukan pertanyaan oleh Ashigara pun dia bisa menjawabnya dengan baik dan tenang. Tapi lain saat dia menjalani latihan manuver….

Fubuki diminta oleh Tone (yang berperan mengawasi latihan manuver) untuk berlatih dengan ship girls lainnya. Fubuki lalu terpikir untuk meminta diajari oleh Akagi sehingga mereka mencarinya ke dok (karena mereka diberitahu Kaga bahwa Akagi sedang di situ) yang berupa pemandian (jangan tanya kenapa, ini murni berasal dari gamenya sendiri). Yang Fubuki temui dari dalam pemandian malah Atago.

Atago yang mengira Fubuki butuh ke dok untuk “perbaikan” (baca: mandi) akhirnya memaksa Fubuki untuk masuk ke pemandian. Di dalam, Fubuki lalu bertemu dengan Akagi.

Akagi rupanya sedang “diperbaiki” karena dia terkena serangan torpedo dari lawan saat bertarung dalam sebuah operasi. Dan perbaikannya memakan waktu…15 jam 30 menit!? Untungnya admiral mengirimkan Instant Repair Bucket yang berisi semacam cairan yang mempercepat perbaikan kapal sampai langsung selesai (lagi, ini referensi dari gamenya).

Seusai dari dok, Akagi dan Fubuki makan bersama di kafetaria. Ternyata Akagi makannya banyak! Bukan sekedar banyak, tapi sangat-sangat banyak! Melihat sisi lain Akagi saat sedang makan, Fubuki sadar bahwa Akagi juga adalah fleet girl seperti dirinya. Karena itu, jika Akagi bisa menjadi fleet girl yang hebat maka dia pun juga pasti bisa.

Saat Fubuki mau tidur, Sendai datang ke kamarnya untuk mengajaknya latihan tengah malam. Latihan tersebut bermaksud untuk memperkuat lutut dan pinggang Fubuki agar bisa menjaga keseimbangannya saat bermanuver. Untuk itu, Sendai menyuruh Fubuki untuk menjaga keseimbangannya saat bertumpu pada dua bola baseball di kakinya.

Tentunya satu kali latihan saja tidak bisa langsung menguatkan Fubuki. Namun, Sendai kagum kepada Fubuki yang dianggapnya memiliki jiwa Torpedo Girl: “Without dissent, without shame, without resentment”. Karena matahari sudah mulai terbit, Sendai memutuskan untuk melanjutkan latihannya besok (atau dengan kata lain, nanti malamnya lagi). Tapi saat Fubuki sudah mau tidur, giliran Jintsuu yang mengajaknya latihan akurasi menembak.

Alhasil Fubuki jadi tidak dapat jatah tidur. Tapi saat dia tidur di jam istirahat sekolah, giliran Naka yang mengajak latihan Fubuki dengan membawanya ke paggung untuk…diajari jadi idol!?

Tapi tampaknya Naka cuma mau menarik perhatian ship girls lainnya agar Kitakami datang. Dia bermaksud untuk meminta Kitakami mengajari Fubuki cara menggunakan torpedo, tapi Ooi yang terus menempel di dekat Kitakami tidak mengijinkan.

Malam hari, Fubuki yang benar-benar lelah seharian itu sudah mau diajak Sendai latihan lagi. Tapi Mutsuki mencegatnya dengan mengajak bicara ketiga light cruiser tersebut di kamar mereka. Tampaknya mereka bertiga tidak tahu kalau sister shipsnya juga ikut melatih Fubuki. Mutsuki yang ingin meminta pengertian dari mereka bertiga lalu dijelaskan alasan mereka melatih Fubuki. Mereka menjelaskan bahwa Fubuki bersama dengan Torpedo Squadron Three akan dikirim ke sebuah operasi penyerangan untuk melihat apakah Fubuki mampu menjalani tugasnya sebagai seorang ship girl. Jika tidak, Fubuki akan dihapus keanggotaannya dari armada.

Di tengah pembicaraan; Yuudachi masuk untuk memberitahu mereka bahwa Fubuki, walau sudah lelah, tetap menjalani latihannya di luar. Mereka yang terkesan dengan kegigihan Fubuki akhirnya ingin membantu Fubuki untuk melatih dirinya agar setidaknya siap untuk operasi yang akan mereka lakukan.

Kitakami, setelah melihat sendiri Fubuki yang latihan keras, akhirnya juga memutuskan untuk membantu Fubuki dengan mengajarinya tentang torpedo (walau Ooi masih kelihatan tidak senang).

Akhirnya Fubuki kembali menjalani latihan manuvernya di sekolah. Performanya terlihat jauh meningkat dibanding sebelumnya. Nagato yang adalah secretary ship kepercayaan admiral ditugasi untuk melihat perkembangan performa Fubuki. Setelah yakin, akhirnya Nagato memercayakan misi penyerangan yang dimaksud kepada seluruh enam anggota Torpedo Squadron Three, termasuk Fubuki.

http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/17_zpsbf7bdbcb.jpg

Advertisement

Berita Anime & Manga

Review Tomb Raider King Eps.1-2

Sama-sama mengusung tema dungeon crawling seperti Solo Leveling, mampukah adaptasi anime Tomb Raider King meraih kesuksesan yang sama? Simak ulasan dua episode pertamanya di sini.

Published

on

Review Tomb Raider King Eps.1 2

www.gwigwi.com – Dikhianati kontraktornya, “Tomb Raider” Jooheon Suh hampir saja mati di sebuah makam/tomb berisikan relik ajaib saat tetiba dia kembali 15 tahun lalu saat God’s Tombs ajaib belum bermunculan. Bertekad untuk membalas, berbekal pengetahuan dan keahliannya, dia pergi mengoleksi berbagai elik dengan tangannya sendiri.

TOMB RAIDER KING dianimasikan! Manhwa karya Sanji Jiksong ini tampaknya ingin ikut mencicipi kesuksesan SOLO LEVELING. Sesama sub genre Lit-RPG (cerita dengan mekanisme gim) dan dungeon crawling, mampukah mereka meraup harta kesuksesan yang sama?

Menjanjikan petualangan, misteri, atraksi aksi yang dibumbui strategi cerdik tak terduga, TOMB RAIDER KING memiliki banyak key selling point buat penyuka sub genre ini.

Cerita dengan cerdas tidak dimulai dari awal mula karir Jooheon. Penonton langsung disuguhi misteri pengkhianatan, kenapa dia bisa kembali ke masa lalu dan protagonis yang sudah jago, cepat memahami situasi dan langsung bertindak.

Alur ringkas cepat ini membantu memaku perhatian saat animasi dan art style gambar terasa cukup saja. Sisa informasi world building dieksposisikan tokoh utama sambil jalan yang untungnya lore TOMB RAIDER KING ini cukup sederhana dan mudah dicerna.

Mungkin karena keliatan sederhana ini juga, rasanya dunianya kurang terasa spesial. Tomb yang didatangi Jooheon saat baru sadar terinspirasi dari kisah populer ‘Kapak Emas’ dari dongeng Aesop. Memang boleh saja terinspirasi demikian, tapi seperti kurang ada polesan unik ala TOMB RAIDER KING itu sendiri. Ya, ada twist berbeda, namun kurang terasa menghentak.

Entah karena Jooheon yang digambarkan dengan istilah “OP” atau over power kah? Pemuda ini sudah sakti, pede, cerdas, pokoknya wah. Dari dua episode ini, belum ada tantangan berarti mau itu dari menghajar orang atau melawan monster. Fokus memperlihatkan hebatnya dia memang boleh saja, tetapi cerita seperti lupa memberikan suspense atau pembeda dari sub genre yang sama saat sekarang dunia sudah mengenal SOLO LEVELING dan SHANGRI-LA FRONTIER (tentang petualangan seorang gamer di dunia gim, Shangri-La Frontier).

Rakurou Hizutome atau Sunraku, protagonis SHANGRI-LA FRONTIER memang jago tapi diperlihatkan juga dia tidak bisa memakai armor hingga terkena serangan sekali saja sudah fatal. Hal demikian belum ada di TOMB RAIDER KING. Karakter Jooheon terkesan power fantasy untuk para pembaca merasa strong dan kurang memiliki kedalaman lain supaya audiens bisa relate, malahan dia kadang terasa angkuh menyebalkan.

Bila ingin sekedar melihat protagonis doing cool, strong, smart stuff dibumbui misteri dan petualangan, dan diakhiri dengan mendapat harta yang bisa bikin lebih cool, strong, smart lagi, TOMB RAIDER KING mungkin bisa jadi pilihan.

Review Tomb Raider King Eps.1 2

Review Tomb Raider King Eps.1 2

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 2: Otak Di Atas Otot, Kemenangan Strategi Tanpa Cheat!

Published

on

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

www.gwigwi.com – Banyak anime fantasi memulai cerita dengan tokoh utama yang dibuang karena dianggap tidak berguna. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System mengambil pendekatan yang sedikit berbeda. Masalah Elymas bukan karena ia lemah, melainkan karena semua orang terlalu cepat menyimpulkan nilai seseorang hanya dari label kelas yang ia terima. Gelar Heavy Knight dianggap sebagai jalan buntu, sementara Swordmaster diperlakukan seperti satu-satunya masa depan yang layak. Keputusan ayahnya mengusir Elymas dan mengangkat adik tirinya dari cabang keluarga sebagai pewaris terasa lebih sebagai cerminan obsesi terhadap status daripada keputusan yang benar-benar rasional.

Yang menarik, Elymas tidak menghabiskan waktunya untuk meratapi nasib atau berteriak ingin balas dendam. Ia justru melihat pengasingan itu sebagai kesempatan memulai hidup tanpa ekspektasi keluarganya. Berbekal pengetahuan tentang mekanisme dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah membaca seluruh buku panduan, setiap keputusan yang diambil terasa penuh perhitungan. Kekuatan utama anime ini bukan aksi besar pada dua episode pertama, melainkan kepuasan melihat seseorang perlahan membalikkan stigma dengan logika, pengalaman, dan strategi.

Dari sisi produksi, GoHands kembali mempertahankan identitas visualnya. Desain karakter terlihat bersih dengan pencahayaan yang kaya, sementara latar memiliki detail yang membuat dunia fantasinya terasa hidup. Sayangnya, gaya penyutradaraan mereka masih sulit diabaikan. Kamera terus bergerak, melakukan panning, zoom in, dan zoom out bahkan ketika adegannya hanya percakapan sederhana. Ada momen ketika pergerakan kamera justru lebih aktif daripada karakter yang sedang berbicara. Bagi sebagian penonton ini menjadi ciri khas, tetapi bagi yang lain justru terasa mengalihkan perhatian dari cerita.

Dua episode pembuka ini belum menawarkan kejutan besar, tetapi berhasil menanam rasa penasaran. Anime ini tidak mencoba meyakinkan penonton bahwa Heavy Knight adalah kelas terkuat. Sebaliknya, ia mengajak penonton mempertanyakan apakah sebuah sistem benar-benar salah, atau manusianya saja yang terlalu cepat memberi cap pada sesuatu yang belum dipahami. Pendekatan tersebut membuat perjalanan Elymas terasa lebih menarik daripada sekadar kisah “tokoh yang diremehkan lalu menjadi overpowered.”

Nilai: 8,5/10. Premisnya memang familier, tetapi cara membangun karakter utama dan tema tentang prasangka terhadap potensi seseorang membuat serial ini memiliki identitas yang cukup kuat. Jika GoHands sedikit mengurangi “kamera yang hiperaktif”, pengalaman menontonnya akan terasa jauh lebih nyaman.

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas yang Ternyata Overpowered!

Published

on

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas Yang Ternyata Overpowered!

www.gwigwi.com – Anime fantasi dengan tema tokoh utama yang diusir keluarganya memang bukan hal baru. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System (Tsuihou sareta Tensei Juukishi wa Game Chishiki de Musou suru) menghadirkan konflik yang cukup menarik sejak episode pertamanya. Elymas, putra keluarga bangsawan Edvaughn, dianggap gagal memenuhi harapan karena memperoleh kelas Heavy Knight, kelas yang dipandang tidak memiliki masa depan dibandingkan Swordmaster. Pandangan sempit tersebut membuat ayahnya mengambil keputusan yang sangat drastis.

Situasi semakin rumit ketika Malice, adik tiri Elymas yang berasal dari cabang keluarga, memperoleh kelas Swordmaster. Berbekal status tersebut, Malice dengan cepat menggantikan posisi Elymas sebagai pewaris resmi keluarga Edvaughn. Kudeta terhadap hak waris itu berlangsung tanpa banyak perlawanan karena seluruh keluarga lebih memilih mengejar prestise daripada menilai kemampuan seseorang secara objektif. Adegan ini menjadi fondasi konflik utama serial, sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah label mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Menariknya, Elymas tidak tenggelam dalam amarah atau sibuk merencanakan balas dendam. Ia menerima pengasingannya sebagai awal kehidupan baru. Berkat pengetahuannya mengenai sistem dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah menguasai seluruh mekanisme permainan, Elymas menyadari bahwa Heavy Knight bukanlah kelas yang seburuk anggapan banyak orang. Cara berpikirnya yang tenang dan penuh perhitungan membuat tokoh utama terasa berbeda dibanding protagonis fantasi pada umumnya yang sering mengandalkan ledakan emosi.

Dari sisi visual, GoHands kembali mempertahankan ciri khasnya. Desain karakter terlihat tajam dengan efek pencahayaan yang kaya, sementara latar dunia fantasinya memiliki detail yang memanjakan mata. Sayangnya, gaya sinematografi mereka masih menjadi pedang bermata dua. Kamera terus bergerak dengan panning, zoom, dan perubahan sudut yang cukup agresif, bahkan saat adegan dialog berlangsung. Bagi sebagian penonton hal ini memberikan kesan dinamis, tetapi tidak sedikit yang justru merasa pergerakannya terlalu berlebihan sehingga mengalihkan fokus dari percakapan para karakter.

Sebagai episode pembuka, anime ini berhasil memperkenalkan dunia, sistem kelas, serta konflik keluarga yang menjadi pemicu perjalanan Elymas. Alih-alih hanya menyajikan kisah tokoh yang diremehkan lalu menjadi sangat kuat, episode pertama lebih menekankan bagaimana prasangka dan obsesi terhadap status dapat membuat seseorang kehilangan haknya. Itulah yang membuat perjalanan Elymas terasa layak untuk terus diikuti.

Nilai: 8,5/10. Episode pertama berhasil membangun konflik dengan baik dan memperkenalkan karakter utama yang cerdas serta tenang. Jika GoHands sedikit mengurangi pergerakan kameranya yang terlalu aktif, pengalaman menonton akan terasa lebih nyaman tanpa mengurangi kualitas visual yang memang menjadi kekuatan mereka.

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending