Berita Anime & Manga
Preview Nusaimoe Week #10, pertarungan seru posisi empat besar
GwiGwi.com – Nusaimoe week #10 kembali berlanjut mulai Sabtu (19/3) pada pukul 18:00. Seperti pada week #9, beberapa maskot seperti Koshka (Neko Airsoft Team), Hanako (Doujin Dalam Botol), dan Balka-chan tampil dengan desain baru. Beberapa laga menarik kembali tersaji pada week #10 ini, terutama laga-laga yang mempertemukan sesama pesaing dalam memperebutkan posisi empat besar divisi masing-masing.
Divisi Cempaka
Altea (Squash Alternative Works) v Ika (Gorengans Comic)
Persaingan memperebutkan posisi empat besar semakin panas setelah Adistia Etsuko (JCRC20) harus tumbang melawan Nishi pada week #9. Kemenangan atas Ika pada week #9 akan menjaga peluang Altea untuk menembus empat besar, sedangkan Ika sendiri wajib menang jika tidak mau semakin tertinggal dari persaingan memperebutkan empat besar. Dengan desain gambar yang sama-sama bagus, Altea sedikit unggul karena termasuk salah satu maskot yang rajin mengumpulkan suara.
Erie (Reverie Visual Work) v Hana (Dango Kyoudai)
Laga yang mempertemukan dua maskot bertubuh mungil. Erie sendiri belum pernah menang sejak week #1 Nusaimoe, sedangkan Hana baru memperoleh kemenangan perdananya pada week #8; kedua-duanya menang atas duet maskot Paulina dan Hanako. Sulit untuk menentukan pemenang di antaranya karena sama-sama memiliki desain yang cukup menarik.
Divisi Kamboja
Argi (UGM Art Community) v Emi Hoshino (Wikiba Asia)
Rekor sempurna Argi hingga week #9 akan diuji melawan Emi Hoshino. Sejak sempat tumbang pada laga perdananya atas Mochi, laju Emi tak terhentikan — dua kemenangan terakhir Emi bahkan diperoleh melawan Deco dan Eufie, dua pesaing utama dalam memperebutkan satu tempat di empat besar klasemen. Dengan desain keduanya yang cukup berimbang, menang-kalahnya Argi akan bergantung pada seberapa rajinnya Argi, mengingat Emi termasuk salah satu maskot yang cukup rajin mengumpulkan suara.
Bunga (Bandung Portal) v Deco (Artelier)
Tumbang atas Emi pada week #8 membuat Deco, yang sempat berada di posisi kedua klasemen, harus rela turun ke posisi tujuh. Jika tidak ingin terpeleset lebih jauh, Deco harus menang atas Bunga, yang sedang mengincar kemenangan ketiganya musim ini. Lebih jauh, mengingat Emi dan Eufie harus melakoni laga sulit pada week #10 ini, kemenangan dalam derby Bandung ini akan membuat Deco berpeluang besar merebut posisi empat dari Akane, yang harus puas dengan hasil imbang pada week #9 kemarin.
Divisi Kenanga
Balka-chan (Balka – Balon Kata) v Hibi (Handband Studios)
Belum pernah menang musim ini, Balka-chan kini tampil dengan desain gambar bergaya realis yang sangat menarik. Tampilan barunya itu akan langsung diuji melawan Hibi, salah satu maskot yang masih memegang rekor 100% menang di Divisi Kenanga. Dengan desain maskot yang cantik, Hibi akan menjadi lawan tangguh untuk desain baru Balka-chan; jika bisa menang, Balka-chan bisa jadi berpeluang untuk melonjak menuju empat besar.
Eca (Design and Art) v Flo (Sekiranun Circle)
Setelah minggu lalu harus berhadapan dengan Hibi, Flo kembali harus menghadapi salah satu pesaing memperebutkan posisi empat besar. Jika ingin mengejar rekor 100% menang Castella dan mempertahankan posisi empat besar, Flo harus mampu menumbangkan Eca. Untuk pertandingan ini, desain loli Flo tampak lebih memikat, namun banyak pengikut Eca tidak boleh diremehkan.
Divisi Melati
Castella (Sekiranun Circle) v Gia (GwiGwi)
Laga ini merupakan big match yang mempertemukan pemegang posisi tiga dan empat klasemen sementara. Kemenangan menjadi harga mati jika tidak ingin terlempar dari perebutan empat besar — apalagi pemenang antara laga Zuella-Hitomi di pekan yang sama berpotensi menyodok dari belakang. Kedua maskot juga sama-sama memiliki desain yang menarik; Castella memiliki bentuk tubuh yang bagus, sedangkan desain Gia penuh dengan warna-warna cerah.
Zuella (Arteza Sketzuela) v Hitomi Midorikawa (Kameko.bdg)
Sama-sama sudah menelan satu kekalahan musim ini, baik Zuella maupun Hitomi harus mampu mencetak kemenangan jika tidak ingin terlempar lebih jauh dari perebutan empat besar klasemen. Kemenangan menjadi semakin penting lantaran Castella dan Gia akan saling beradu di pekan yang sama — pemenang laga ini bisa jadi dapat melesat ke empat besar. Desain chibi Zuella yang sukses meraih kemenangan di week #7 akan kembali diuji melawan desain Hitomi yang ramah dan bersahabat.
Cara Memilih
Pemilihan maskot dapat diakses di halaman Facebook Nusaimoe atau tautan di bawah ini mulai Sabtu hari ini (26/3) pukul 18:00 hingga Jum'at (1/4) pukul 18:00.
Tautan ke halaman voting Nusaimoe: http://bit.ly/1WNT4lu
Berita Anime & Manga
Review Tomb Raider King Eps.1-2
Sama-sama mengusung tema dungeon crawling seperti Solo Leveling, mampukah adaptasi anime Tomb Raider King meraih kesuksesan yang sama? Simak ulasan dua episode pertamanya di sini.
www.gwigwi.com – Dikhianati kontraktornya, “Tomb Raider” Jooheon Suh hampir saja mati di sebuah makam/tomb berisikan relik ajaib saat tetiba dia kembali 15 tahun lalu saat God’s Tombs ajaib belum bermunculan. Bertekad untuk membalas, berbekal pengetahuan dan keahliannya, dia pergi mengoleksi berbagai elik dengan tangannya sendiri.
TOMB RAIDER KING dianimasikan! Manhwa karya Sanji Jiksong ini tampaknya ingin ikut mencicipi kesuksesan SOLO LEVELING. Sesama sub genre Lit-RPG (cerita dengan mekanisme gim) dan dungeon crawling, mampukah mereka meraup harta kesuksesan yang sama?
Menjanjikan petualangan, misteri, atraksi aksi yang dibumbui strategi cerdik tak terduga, TOMB RAIDER KING memiliki banyak key selling point buat penyuka sub genre ini.
Cerita dengan cerdas tidak dimulai dari awal mula karir Jooheon. Penonton langsung disuguhi misteri pengkhianatan, kenapa dia bisa kembali ke masa lalu dan protagonis yang sudah jago, cepat memahami situasi dan langsung bertindak.
Alur ringkas cepat ini membantu memaku perhatian saat animasi dan art style gambar terasa cukup saja. Sisa informasi world building dieksposisikan tokoh utama sambil jalan yang untungnya lore TOMB RAIDER KING ini cukup sederhana dan mudah dicerna.
Mungkin karena keliatan sederhana ini juga, rasanya dunianya kurang terasa spesial. Tomb yang didatangi Jooheon saat baru sadar terinspirasi dari kisah populer ‘Kapak Emas’ dari dongeng Aesop. Memang boleh saja terinspirasi demikian, tapi seperti kurang ada polesan unik ala TOMB RAIDER KING itu sendiri. Ya, ada twist berbeda, namun kurang terasa menghentak.
Entah karena Jooheon yang digambarkan dengan istilah “OP” atau over power kah? Pemuda ini sudah sakti, pede, cerdas, pokoknya wah. Dari dua episode ini, belum ada tantangan berarti mau itu dari menghajar orang atau melawan monster. Fokus memperlihatkan hebatnya dia memang boleh saja, tetapi cerita seperti lupa memberikan suspense atau pembeda dari sub genre yang sama saat sekarang dunia sudah mengenal SOLO LEVELING dan SHANGRI-LA FRONTIER (tentang petualangan seorang gamer di dunia gim, Shangri-La Frontier).
Rakurou Hizutome atau Sunraku, protagonis SHANGRI-LA FRONTIER memang jago tapi diperlihatkan juga dia tidak bisa memakai armor hingga terkena serangan sekali saja sudah fatal. Hal demikian belum ada di TOMB RAIDER KING. Karakter Jooheon terkesan power fantasy untuk para pembaca merasa strong dan kurang memiliki kedalaman lain supaya audiens bisa relate, malahan dia kadang terasa angkuh menyebalkan.
Bila ingin sekedar melihat protagonis doing cool, strong, smart stuff dibumbui misteri dan petualangan, dan diakhiri dengan mendapat harta yang bisa bikin lebih cool, strong, smart lagi, TOMB RAIDER KING mungkin bisa jadi pilihan.

Review Tomb Raider King Eps.1 2
Berita Anime & Manga
Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 2: Otak Di Atas Otot, Kemenangan Strategi Tanpa Cheat!
www.gwigwi.com – Banyak anime fantasi memulai cerita dengan tokoh utama yang dibuang karena dianggap tidak berguna. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System mengambil pendekatan yang sedikit berbeda. Masalah Elymas bukan karena ia lemah, melainkan karena semua orang terlalu cepat menyimpulkan nilai seseorang hanya dari label kelas yang ia terima. Gelar Heavy Knight dianggap sebagai jalan buntu, sementara Swordmaster diperlakukan seperti satu-satunya masa depan yang layak. Keputusan ayahnya mengusir Elymas dan mengangkat adik tirinya dari cabang keluarga sebagai pewaris terasa lebih sebagai cerminan obsesi terhadap status daripada keputusan yang benar-benar rasional.
Yang menarik, Elymas tidak menghabiskan waktunya untuk meratapi nasib atau berteriak ingin balas dendam. Ia justru melihat pengasingan itu sebagai kesempatan memulai hidup tanpa ekspektasi keluarganya. Berbekal pengetahuan tentang mekanisme dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah membaca seluruh buku panduan, setiap keputusan yang diambil terasa penuh perhitungan. Kekuatan utama anime ini bukan aksi besar pada dua episode pertama, melainkan kepuasan melihat seseorang perlahan membalikkan stigma dengan logika, pengalaman, dan strategi.
Dari sisi produksi, GoHands kembali mempertahankan identitas visualnya. Desain karakter terlihat bersih dengan pencahayaan yang kaya, sementara latar memiliki detail yang membuat dunia fantasinya terasa hidup. Sayangnya, gaya penyutradaraan mereka masih sulit diabaikan. Kamera terus bergerak, melakukan panning, zoom in, dan zoom out bahkan ketika adegannya hanya percakapan sederhana. Ada momen ketika pergerakan kamera justru lebih aktif daripada karakter yang sedang berbicara. Bagi sebagian penonton ini menjadi ciri khas, tetapi bagi yang lain justru terasa mengalihkan perhatian dari cerita.
Dua episode pembuka ini belum menawarkan kejutan besar, tetapi berhasil menanam rasa penasaran. Anime ini tidak mencoba meyakinkan penonton bahwa Heavy Knight adalah kelas terkuat. Sebaliknya, ia mengajak penonton mempertanyakan apakah sebuah sistem benar-benar salah, atau manusianya saja yang terlalu cepat memberi cap pada sesuatu yang belum dipahami. Pendekatan tersebut membuat perjalanan Elymas terasa lebih menarik daripada sekadar kisah “tokoh yang diremehkan lalu menjadi overpowered.”
Nilai: 8,5/10. Premisnya memang familier, tetapi cara membangun karakter utama dan tema tentang prasangka terhadap potensi seseorang membuat serial ini memiliki identitas yang cukup kuat. Jika GoHands sedikit mengurangi “kamera yang hiperaktif”, pengalaman menontonnya akan terasa jauh lebih nyaman.

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2
Berita Anime & Manga
Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas yang Ternyata Overpowered!
www.gwigwi.com – Anime fantasi dengan tema tokoh utama yang diusir keluarganya memang bukan hal baru. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System (Tsuihou sareta Tensei Juukishi wa Game Chishiki de Musou suru) menghadirkan konflik yang cukup menarik sejak episode pertamanya. Elymas, putra keluarga bangsawan Edvaughn, dianggap gagal memenuhi harapan karena memperoleh kelas Heavy Knight, kelas yang dipandang tidak memiliki masa depan dibandingkan Swordmaster. Pandangan sempit tersebut membuat ayahnya mengambil keputusan yang sangat drastis.
Situasi semakin rumit ketika Malice, adik tiri Elymas yang berasal dari cabang keluarga, memperoleh kelas Swordmaster. Berbekal status tersebut, Malice dengan cepat menggantikan posisi Elymas sebagai pewaris resmi keluarga Edvaughn. Kudeta terhadap hak waris itu berlangsung tanpa banyak perlawanan karena seluruh keluarga lebih memilih mengejar prestise daripada menilai kemampuan seseorang secara objektif. Adegan ini menjadi fondasi konflik utama serial, sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah label mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.
Menariknya, Elymas tidak tenggelam dalam amarah atau sibuk merencanakan balas dendam. Ia menerima pengasingannya sebagai awal kehidupan baru. Berkat pengetahuannya mengenai sistem dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah menguasai seluruh mekanisme permainan, Elymas menyadari bahwa Heavy Knight bukanlah kelas yang seburuk anggapan banyak orang. Cara berpikirnya yang tenang dan penuh perhitungan membuat tokoh utama terasa berbeda dibanding protagonis fantasi pada umumnya yang sering mengandalkan ledakan emosi.
Dari sisi visual, GoHands kembali mempertahankan ciri khasnya. Desain karakter terlihat tajam dengan efek pencahayaan yang kaya, sementara latar dunia fantasinya memiliki detail yang memanjakan mata. Sayangnya, gaya sinematografi mereka masih menjadi pedang bermata dua. Kamera terus bergerak dengan panning, zoom, dan perubahan sudut yang cukup agresif, bahkan saat adegan dialog berlangsung. Bagi sebagian penonton hal ini memberikan kesan dinamis, tetapi tidak sedikit yang justru merasa pergerakannya terlalu berlebihan sehingga mengalihkan fokus dari percakapan para karakter.
Sebagai episode pembuka, anime ini berhasil memperkenalkan dunia, sistem kelas, serta konflik keluarga yang menjadi pemicu perjalanan Elymas. Alih-alih hanya menyajikan kisah tokoh yang diremehkan lalu menjadi sangat kuat, episode pertama lebih menekankan bagaimana prasangka dan obsesi terhadap status dapat membuat seseorang kehilangan haknya. Itulah yang membuat perjalanan Elymas terasa layak untuk terus diikuti.
Nilai: 8,5/10. Episode pertama berhasil membangun konflik dengan baik dan memperkenalkan karakter utama yang cerdas serta tenang. Jika GoHands sedikit mengurangi pergerakan kameranya yang terlalu aktif, pengalaman menonton akan terasa lebih nyaman tanpa mengurangi kualitas visual yang memang menjadi kekuatan mereka.
-
Box Office4 weeks agoReview Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli dari Vietnam
-
Laptop3 weeks agoHP EliteBook 8 G1i 14 AI: Tangguh untuk Bisnis, Siap Gaming Ringan
-
Box Office2 weeks agoReview The Death of Robin Hood, Akhir Tragis Sang Legenda
-
Serial Anime1 week agoReview Clevatess Season 2 Episode 1: Misi Rahasia Klen dan Alicia Dimulai, Visual Makin Manjakan Mata!
-
TV & Movies1 week agoREVIEW FILM MOANA (2026), Keindahan Visual Kepulauan Pasifik
-
TV & Movies1 week agoReview Film Love Barista, Megabintang yang Terdampar
-
News1 week agoAnime Festival Asia Rayakan Edisi ke-10 di Indonesia!
-
Gaming1 week agoAkhirnya Rilis! Wuthering Waves Versi 3.5 Hadirkan Region Baru dan Resmi Tuju Xbox!












