Connect with us

TV & Movies

Panduan Sebelum Menonton Avengers: Age of Ultron

Published

on

GwiGwi.com – Avengers: Age of Ultron dibuat berdasarkan event dalam Marvel Cinematic Universe yang terjadi setelah para superhero terkuat di bumi itu berkumpul untuk pertama kalinya pada film The Avengers (2012) lalu. Tetapi setelah itu, hampir tidak ada kejadian yang signifikan yang mungkin dilewatkan oleh para pecinta film.

Film sekuel ini sendiri langsung membawa para penonton ke tengah adegan aksi dimana para Avengers sudah berkumpul dan menjalankan misi melawan Hydra di markas mereka. Captain America, Iron Man, Hulk, Thor, Black Widow dan Hawkeye kembali berkumpul dalam sebuah misi untuk mengalahkan anggota penting dari Hydra, Baron von Strucker dan mengambil kembali tongkat misterius dan berbahaya yang ditinggalkan Loki ketika dia menyerang bumi.

Bagaimana Avengers bisa menemukan lokasi markas Hydra dan percobaan berbahaya Strucker sendiri tidak dieksplor karena keterbatasan waktu, meskipun begitu hal ini memang disengaja oleh Marvel.

Jadi kalau Gwiple adalah seorang fans dari film ini dan ingin tahu informasi dari kejadian-kejadian yang mendahului Age of Ultron atau kalau Gwiple melewatkan beberapa film Marvel sebelumnya, mengingat ini adalah film ke 11, Gwimin disini untuk membantumu.

Dimana S.H.I.E.L.D.?

Avengers Initiative adalah ide dari direktur S.H.I.E.L.D. Nick Fury, sebuah rencana yang sangat dia percaya dimana semua orang dengan kemampuan super langka dikumpulkan untuk melawan ancaman saat bumi dalam bahaya. S.H.I.E.L.D (Strategic Homeland Intervention, Enforcement and Logistics Division) sendiri adalah kantor intelejensi berteknologi tinggi dan setelah kejadian penyerangan Loki dan pasukan Chitauri pada film Avengers pertama, bertugas  menjaga keamanan dunia.

S.H.I.E.L.D. sendiri terpecah belah dari dalam beberapa bulan kemudian dalam film Captain America: The Winter Soldier ketika kenyataan bahwa Hydra (faksi Red Skull dari perang Dunia II) masih aktif dan menghabiskan puluhan tahun untuk menginfiltrasi S.H.I.E.L.D. dan berbagai lapisan pemerintah.  Dengan hilangnya kemimpinan S.H.I.E.L.D. yang dipegang dewan dunia dan Nick Fury yang dipercaya mati, S.H.I.E.L.D. tidak sekuat dulu.  Sebaliknya, hanya ada beberapa tim dari para agen terpercaya yang dipimpin oleh Agen Coulson (Clark Gregg) yang ditunjuk sebagai direktur baru oleh Nick Fury (yang masih hidup). Cerita ini hanya bisa kalian ikuti pada serial “Agents of S.H.I.E.L.D.” di channel ABC.

Kapan The Avengers berkumpul kembali?

Setelah Captain America: The Winter Soldier, dunia membutuhkan pasukan pertahanan elit untuk menggantikan S.H.I.E.L.D. dan menyelesaikan permasalahan dengan pasukan HYDRA.  Thor (Chris Hemsworth)  kembali ke bumi setelah kejadian di Thor: The Dark World dan Tony Stark (Robert Downey Jr.) membantu mendanai dan menyiapkan keperluan The Avengers setelah perjalanan spiritual/pribadinya di Iron Man 3. Menyatukan 6 superhero dari film pertama dan membangun markas di Stark Tower yang kini berubah menjadi markas the Avengers.

Ketika film Avengers: Age of Ultron dimulai, mereka telah menjalankan beberapa misi bersama melawan Hydra dan tiap superhero telah mendapat peningkatan dalam pakaian dan peralatan tempur mereka. Adegan pembuka memperlihatkan Avengers menyerang markas Hydra di Sokovia yang dipimpin Baron von Strucker.

Siapakah Baron Von Strucker?

Baron Wolfgang von Strucker (Thomas Kretschmann) adalah salah satu penjahat baru di Marvel Cinematic Universe, pertama kali muncul di film Captain America: The Winter Soldier pada adegan setelah credit. Pada adegan ini juga kita melihat Quicksilver (Aaron Taylor-Johnson) dan Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) yang dikurung dalam penjara dan mereka terlihat tidak bisa mengontrol kekuatan mereka yang tidak pernah kita lihat sebelumnya. Mereka adalah “enhanced”, obyek tes dari eksperimen yang sedang dilakukan Strucker.

Struker sendiri adalah petinggi Hydra, salah satu yang tersisa menurut agen Hydra yang muncul di Agents of S.H.I.E.L.D.. Tangan kanan Strucker adalah ilmuwan bernama Dr. List (Henry Goodman) yang sering muncul di serial televisi Agents of S.H.I.E.L.D., terutama episode paling baru yang menjadi prekuel  Avengers: Age of Ultron.

Season kedua  Agents of S.H.I.E.L.D. lebih banyak fokus pada perburuan sisa –sisa Hydra dan penemuan tentang keberadaan  “enhanced”, sesuatu yang menjadi prioritas Hydra. Kita telah bertemu dengan sisa “kepala” Hydra pada awal season ini dan pada episode minggu ini yg berjudul “The Dirty Half Dozen” ( berkaitan langsung dengan Age of Ultron), hanya dua yang tersisa List and Strucker. Tim Coulson menyerang markas List pada episode ini untuk menghentikan eksperimennya dan mencari lokasi Strucker dan tongkat milik Loki, Scepter. (lebih lanjutnya baca di bawah) –  dan pada momen inilah kita masuk ke prolog dari Avengerss: Age of Ultron – di Sokovia, Eropa Timur.

Mengenal “Enhanced”

Enhanced mulai sering muncul di MCU meskipun mereka bukan focus utama dari film – film buatan Marvel, sampai saat ini. Hydra bereksperimen pada Enhanced untuk mempelajari cara memanfaatkan, mengontrol dan membuat manusia dengan kekuatan super dan S.H.I.E.L.D. (sisa – sisa lebih tepatnya) ingin tahu apakah mereka berbahaya atau tidak. Hal ini menjadi fokus utama Agents of S.H.I.E.L.D. dan dengan cepat menjadi elemen penting di  Marvel Cinematic Universe.

Quicksilver dan Scarlet Witch (“si kembar”) muncul pada awal Avengers: Age of Ultron dan meski sumber kekuatan dan asal usul mereka tidak dijelaskan, mereka disebut sebagai “enhanced” –dua hasil eksperimen Hydra yang berhasil sampai saat ini.

Di Marvel Comics, Quicksilver dan Scarlet Witch adalah mutan (ingat X-Men), tapi karena alasan legal, penjelasan ini tidak dapat dipakai di film Avengers. Sebaliknya, Agents of S.H.I.E.L.D. telah membangun konsep “enhanced” dan memperkenalkan ide tentang “Inhumans” – sebuah perkumpulan orang – orang dengan kekuatan super yang membaur bersama manusia normal, Inhumans sendiri akan mendapat film mereka sendiri pada 2019 nanti.

Avengers: Age of Ultron sendiri tidak membahas topik Inhumans tapi komik prekuel Avengers: Age of Ultron prelude comic “This Scepter’d Isle”, membahas lebih jauh tentang cerita si kembar Quicksilver dan Scarlet Witch, memperlihatkan mereka adalah bagian dari protes di Sokovia. Struckers menggunakan protes ini sebagai cara untuk merekrut subjek tes dan mereka adalah satu – satunya yang selamat dari eksperimen itu, ada yang berbeda dalam diri mereka.

Kembalinya tongkat Loki, Scepter

Pada beberapa film Marvel Cinematic Universe sebelumnya, telah diperlihatkan kemampuan dan kekuatan Tesseract (disebut juga “Cosmic Cube”) dan benda ini menjadi tujuan utama di film Avengers yang pertama. Semua ingin memilikinya, tak terkecuali Sang “Mad Titan” Thanos – penjahat besar yang muncul pada bagian tengah credit di film Avengers pertama dan penjahat di balik layar pada film  Guardians of the Galaxy.

Thanos memberikan Scepter pada Loki, sebuah tongkat dengan kemampuan manipulasi pikiran yang luar biasa yang dia gunakan dalam invasi ke Bumi untuk merebut Tesseract.  Setelah Loki dikalahkan oleh Avengers, Thor membawa Loki dan Tesseract ke Asgard, tapi anehnya Scepter ditinggalkan di bumi di tangan S.H.I.E.L.D.. Jadi apa yang terjadi ketika S.H.I.E.L.D. hancur?

Seperti yang disebutkan di komik prekuel official “This Scepter’d Isle”, agen – agen Hydra di dalam S.H.I.E.L.D. mencuri Scepter  dan membawanya ke markas Baron von Strucker di Sokovia, di mana dia menggunankannya untuk bereksperimen pada manusia untuk menciptakan prajurit super. Lagi – lagi alur cerita ini sangat berkaitan dengan season 2 of Agents of S.H.I.E.L.D. dan Scepter entah bagaimana  melepaskan kekuatan tersembunyi pada Quicksilver dan Scarlet Witch, meskipun tidak berhasil pada tes subjek yang lain.

Episode Agents of S.H.I.E.L.D. minggu ini menceritakan tim Coulson menyerang Hydra dan menemukan lokasi Strucker di Sokovia dan mengirimkannya ke Maria Hill (Cobie Smulders) sehingga memungkinkan Avengerss untuk menyerang markas tersebut.  Jadi tujuan sebenarnya Coulson adalah mencari lokasi Strucker dan Scepter, dan episode minggu ini memperkuat  peran serial ini (dan prekuel komiknya) sebagai prequel langsung dari  Avengers: Age of Ultron.

terjemahan dari Screenrant

 

Advertisement

TV & Movies

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting unjuk Gigi

Published

on

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi

Sepertinya meski gak familiar dengan STREET FIGHTER, beberapa persen manusia di dunia pasti pernah mendengar atau melihat serangan melempar bola energi itu meski hanya sekilas.

Sekarang hadoken membara lagi dengan CG modern di adaptasi teranyar serial gim fighting legendaris ini yang disutradarai Kitao Sakurai. Apakah bisa melebihi 2 adaptasi STREET FIGHTER sebelumnya yang reputasinya kurang bagus itu?

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi

STREET FIGHTER baru ini bercerita tentang Ken (Noah Centinio) yang kacau setelah kematian gurunya, Goken (Don Lee). Di kaya tapi seakan kehilangan jiwa petarungnya. Hidup gemerlap, namun yang menemaninya di bawah lampu ajep-ajep hanya Dan Hibiki (Andrew Schulz) seorang.

Ken menyalahkan Ryu (Andrew Koji) padahal si jagoan ikonik itu juga menderita dengan bebannya sendiri, yakni sisi gelapnya yang bisa meraung bila ia kembali bertarung.

Chun Li (Calina Liang) kemudian datang dan merekrut keduanya untuk mengikuti turnamen buatan M. Bison (David Dastmalchian) yang mempunyai agendanya sendiri.

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi

Kedua aktor begitu klop memainkan Ken dan Ryu sampai hanya beberapa detik saja melihat mereka di layar langsung, yeah it's them. 100%.

Karena menghidupkan dan chemistry mereka sukes, drama keduanya pun menjadi daging di film yang paling menarik diikuti dan memang jadi fokus STREET FIGHTER, meskipun bisa menjadi agak rumit.

Sayangnya melawan Bison seakan cerita yang dipaksakan untuk dimasukkan, apalagi akting si villain terasa kurang. Penulis kurang paham apa arah akting David Dastmalchian; serius total kah? Atau ada bercandanya? Karena cast lain terasa 100% game, kekurangan ini jadi menonjol.

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi

Hasilnya, untuk serve perihal Ryu dan Ken juga Chun Li-Bison ini, pacing terasa dikebut dan penonton tak banyak diberi nafas untuk meresapi dramanya. Tarung lanjut ada yang marah, tarung lagi, kerja sama, etc. Kesemuanya bila perlahan oke saja, namun alur ngegas ini yang bikin semuanya terasa sekelebat saja kurang total mengena.

Jadi berharap ada cut lain yang penceritaanya lebih rapih.

Maka terasa sayang melihat visual 90’s yang kreatif pop tapi tak melupakan drama, cast yang cetar apalagi adegan bertarung di klub <siapa sangka Dhalsim (Vidyut Jammwal) bisa terlihat cool?>, adegan bertarung yang cukup setia gerakan di gim dan tetap engaging, semuanya terganggu oleh problem yang sama.

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi

Review Film Street Fighter (2026), Saatnya Pionir Game Fighting Unjuk Gigi

MORTAL KOMBAT 2 dan kini STREET FIGHTER menunjukkan adaptasi gim sungguh sudah menuju level lebih tinggi dan keduanya fighting game! Bukan yang kuat dalam bercerita tetapi filmmaker sekarang seperti sudah menemukan formulanya. Semoga ronder berikutnya lebih dan lebih dan lebih menonjok lagi.

Continue Reading

TV & Movies

Bonus Stage Street Fighter di Indonesia Comic Con 2026: Smash The Car!

Published

on

By

Bonus Stage Street Fighter Di Indonesia Comic Con 2026: Smash The Car!

Menjelang perilisan film Street Fighter, Paramount Pictures Indonesia mengajak para penggemar merasakan langsung keseruan pertarungan dari franchise ikonik tersebut melalui Smash the Car, sebuah pengalaman interaktif yang hadir di Indonesia Comic Con 2026, pada 3–4 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Bonus Stage Street Fighter Di Indonesia Comic Con 2026: Smash The Car!

Bonus Stage Street Fighter Di Indonesia Comic Con 2026: Smash The Car!

Terinspirasi dari salah satu bonus stage paling ikonik dalam Street Fighter II, Smash the Car menantang pemain untuk menghancurkan sebuah mobil dalam waktu terbatas demi meraih poin bonus. Tantangan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman bermain Street Fighter ini kini dibawa ke dunia nyata untuk memberikan kesempatan kepada para penggemar untuk merasakan kembali semangat kompetitif khas para World Fighters.

Bonus Stage Street Fighter Di Indonesia Comic Con 2026: Smash The Car!

Bonus Stage Street Fighter Di Indonesia Comic Con 2026: Smash The Car!

Disutradarai oleh Kitao Sakurai dan diproduksi oleh Legendary Pictures bersama Capcom, film Street Fighter menghadirkan kembali karakter-karakter ikonik serta elemen khas dari franchise tersebut ke layar lebar, sekaligus memperkenalkan dunia Street Fighter kepada generasi baru.

“Street Fighter memiliki karakter, personality, dan signature moves yang membuat setiap fighter memiliki identitas dan daya tariknya sendiri. Melalui Smash the Car, kami ingin membawa salah satu pengalaman yang sangat identik dengan game ini ke dunia nyata. Dengan begitu, penggemar tidak hanya dapat bernostalgia dengan keseruan saat bermain, tetapi juga merasakan langsung excitement dari salah satu bonus stage paling ikonik dalam Street Fighter,” ujar Julius Daniel Suhakri, Head of Marketing Paramount Pictures Indonesia.

Bonus Stage Street Fighter Di Indonesia Comic Con 2026: Smash The Car!

Bonus Stage Street Fighter Di Indonesia Comic Con 2026: Smash The Car!

Menggabungkan nostalgia arcade, karakter-karakter ikonik, dan pengalaman interaktif, Smash the Car menjadi salah satu cara bagi para penggemar untuk kembali merasakan energi pertarungan Street Fighter secara langsung di Indonesia Comic Con 2026.

Film Street Fighter akan hadir di bioskop Indonesia mulai 14 Oktober 2026.

Continue Reading

TV & Movies

REVIEW FILM CRAWLERS, JANGAN BUKA MULUT SAAT TIDUR

Published

on

Review Film Crawlers, Jangan Buka Mulut Saat Tidur

Crawlers merupakan film horor-thriller terbaru rilisan 2026 yang disutradarai Ángel Gómez Hernández dengan naskah garapan Jayson Rothwell. Film ini diproduksi di bawah naungan label Badlands—sebuah bendera produksi genre horor baru yang didirikan oleh Basil Iwanyk dan Erica Lee, tim produser kawakan dari Thunder Road Films yang sukses besar memproduseri waralaba aksi John Wick dan Sicario. Mengusung atmosfer bertahan hidup yang intens, film ini menceritakan bencana wabah laba-laba beracun yang meluas secara mengerikan di dalam kompleks apartemen Paradiso Palms.

Review Film Crawlers, Jangan Buka Mulut Saat Tidur

Review Film Crawlers, Jangan Buka Mulut Saat Tidur

Cerita berfokus pada Serena (Matilda Lutz), seorang pengelola apartemen yang mendadak harus menghadapi situasi darurat setelah ditemukannya kematian misterius penghuni apartemen akibat gigitan laba-laba jenis baru. Ketika otoritas menetapkan karantina ketat yang mengunci seluruh penghuni di dalam gedung tanpa jalan keluar, Serena harus menggunakan pengetahuan mendalamnya tentang seluk-beluk bangunan untuk memimpin para penghuni—termasuk karakter yang diperankan Gregg Sulkin, William Miller, dan Melina Matthews—bertahan hidup dari gempuran serangga mematikan tersebut. Namun, tugas ini tidak mudah karena laba-laba ini dapat bersembunyi di sudut-sudut yang tidak kelihatan dan mudah menyelinap.

Bagaimanakah upaya Serena dan para penghuni gedung dalam meloloskan diri dari kepungan ribuan laba-laba beracun yang terus berkembang biak? Apakah Serena berhasil mengatasi trauma fobianya demi menyelamatkan nyawa mereka semua? Gwiple dapat mengetahui jawabannya di bioskop-bioskop kesayangan. Oya, jajaran sinematografer film ini ditangani oleh Pablo Rosso, sosok di balik kamera untuk film horor fenomenal [REC] yang sudah teruji lihai membangun atmosfer claustrophobic di dalam gedung terisolasi.

Review Film Crawlers, Jangan Buka Mulut Saat Tidur

Review Film Crawlers, Jangan Buka Mulut Saat Tidur

Sutradara Ángel Gómez Hernández bersama tim produser John Wick berhasil menyajikan ritme film yang penuh ketegangan tanpa henti, memacu adrenalin penonton dari awal hingga akhir. Sensasi desakan ribuan kaki laba-laba yang menjalar di celah dinding dan lorong-lorong gelap sangat efektif dalam memicu rasa cemas serta menyengat fobia arachnophobia bagi siapa saja yang menontonnya. Tak hanya mengandalkan aspek psikologis, Crawlers juga menyajikan adegan yang sangat berdarah-darah (gory), memperlihatkan dampak gigitan beracun yang mengerikan serta perjuangan brutal manusia melawan invasi monster berkaki delapan.

Crawlers memang merupakan tayangan horor yang sangat solid dan unik, di mana penonton Gwiple diajak merasakan teror claustrophobic yang intens di tengah ancaman makhluk berkaki 8 yang haus darah. Bagi Gwiple yang menyukai horor laba-laba sejenis, film ini menyajikan nuansa yang mengingatkan kita pada film horor laba-laba asal Prancis berjudul Infested (Vermines, 2023) yang juga menceritakan karantina gedung apartemen akibat teror serangga, serta film klasik legendaris Arachnophobia (1990).

 

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending