Connect with us

TV & Movies

Onde Mande! Angkat Sisi Universal Masyarakat Dan Budaya Minang

Published

on

Onde Mande! Angkat Sisi Universal Masyarakat Dan Budaya Minang

www.gwigwi.com – Film terbaru produksi Visinema, bekerjasama dengan Gandheng Ceneng Film dan Visionari Capital yang berjudul Onde Mande! siap menyapa pecinta film tanah air. Sebuah drama komedi karya Paul Agusta, dengan kisah yang unik tentang masyarakat Minang di tepian Danau Maninjau, Sumatra Barat.

Maaf Anda Melihat Iklan

Onde Mande! akan hadir sebagai sajian film yang segar buat penonton Indonesia. Mengangkat cerita tentang masyarakat Minang di tepian Maninjau yang bersolidaritas dan ‘berkonspirasi’ untuk mendapatkan sebuah hadiah besar.

Bercerita tentang laki-laki bernama Angku Wan (diperankan Musra Dahrizal), memenangkan hadiah undian senilai Rp2 miliar. Namun nahas, ia meninggal dunia sebelum bisa menerima uang tersebut.
Karena para kerabat dan warga desa panjang akal, maka disusunlah rencana untuk mengelabui perusahaan sabun si penyelenggara undian. Dibuatlah cerita seolah-olah Angku Wan masih hidup, agar hadiah itu benar-benar bisa diterima.
Warga yang bersekongkol tersebut semuanya membantu, karena tahu bahwa Angku Wan memiliki niat untuk menggunakan uang hadiah tersebut demi membangun desa. Mereka yang berkonspirasi di antaranya Ni Ta (Jajang C Noer), Da Am (Jose Rizal Manua) serta Si Mar (Shenina Cinnamon).

Keadaan pun semakin runyam, tatkala Anwar, (Emir Mahira), perwakilan perusahaan sabun, datang ke desa tersebut untuk memvalidasi identitas si penerima hadiah.

Paul Agusta selaku sutradara mengatakan, hal-hal yang diangkat di dalam film ini adalah keseharian warga di Desa Sigiran, tepian Danau Maninjau. Lewat lensa drama komedi, ia mencoba memotret keseharian masyarakat di sana, termasuk budaya gotong royong, ikatan kekeluargaan yang kuat, serta kekayaan kuliner di daerah tersebut.

Tak sekadar memotret, Paul berharap lewat film ini bisa menyampaikan pesan-pesan universal kepada penonton. Menurutnya, meski memiliki bahasa dan budaya tersendiri, ada nilai universal yang bisa dipelajari dari keseharian masyarakat Minang.

“Aku pikir value-nya, ya, penonton Jakarta pun akan bisa relate dengan value-value yang ditanamkan itu. Bisa relate siapapun yang punya keluarga, siapapun yang punya tempat kelahiran, mereka akan bisa relate dengan film itu,” ungkap Paul dalam sesi konferensi pers di wilayah Cipete, Jakarta Selatan, Senin (15/5).

Baca Juga:  Serial Horor Terbaru dari Danur Universe, “Jurnal Risa”, Segera Tayang Eksklusif di Disney+ Hotstar Mulai 27 Mei 2023

Karena merupakan film drama komedi, Paul menggunakan banyak gaya komedi khas masyarakat Minang di dalam film ini. Namun, ia pun memastikan bahwa komedi-komedi yang dihadirkan akan bisa dinikmati oleh para penonton Indonesia, tak harus punya latar belakang Minang.

“Sense of humor-nya minang itu agak unik ya, tajam, satir. Kami gunakan itu sebanyak mungkin tapi kami juga gunakan komedi universal. Jadi kami juga yakin komedi Minang itu bisa menghibur orang-orang non minang juga,” tutur Paul.

Film Onde Mande! dikemas dengan tampilan visual yang ciamik, memotret alam seputaran Danau Maninjau. Film ini pun menggunakan hampir sepenuhnya bahasa Minang dalam dialog-dialognya.

Untuk memastikan para pemeran bisa membawakan bahasa Minang dengan meyakinkan, Paul dan tim menggandeng penutur aktif bahasa Minang untuk menyelaraskan bahasa dalam skenario.

Shenina Cinnamon yang berperan sebagai Si Mar menceritakan, ia dan para pemain lainnya berupaya semaksimal mungkin agar bisa membawakan dialog berbahasa Minang dengan fasih. Dengan begitu, penonton akan merasa benar-benar mendengar dialog orang Minang atau Sumatra Barat saat menonton nantinya, bukan orang Jakarta yang mencoba berbahasa Minang.

Untuk hal ini, Shenina mengaku banyak terbantu oleh latihan-latihan yang dilakukan, serta bantuan dari para kru yang sebagian besarnya merupakan orang-orang Minang atau yang menetap di Sumatra Barat.

“Di film ini hampir 90% ngomongnya pakai bahasa Minang. Ini yang menantang. Karena aku  sebelumnya belum pernah main di film yang menggunakan bahasa selain bahasa Indonesia,” tutur Shenina.

“Jadi aku ngobrol dulu dengan kru kami yang memang setengahnya itu orang Minang asli. Jadi kalau ada yang kurang dikasih tahu yang benar itu yang seperti apa. Termasuk orang sound-nya juga orang Minang jadi aman,” imbuhnya.

Onde Mande! dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 22 Juni mendatang.

Maaf Anda Melihat Iklan
Maaf Anda Melihat Iklan
Advertisement

TV & Movies

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Published

on

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

www.gwigwi.com – John Miller (Alan Ritchson), seorang veteran Perang Vietnam yang bekerja di pabrik perakitan mobil, dijebak atas kejahatan yang tidak ia lakukan oleh Reynolds (Ben Foster), seorang penguasa mafia lokal yang terobsesi pada kekasih John, Sophia (Shailene Woodley).

Divonis 25 tahun di penjara berkeamanan maksimum, John bertahan hidup hanya dengan satu tujuan: keluar dan menuntaskan dendam.

Ketika kesempatan itu tiba, John melancarkan perburuan berdarah menyusuri jalanan Detroit yang dingin dan korup, melintasi jajaran anak buah Reynolds yang dijaga oleh seorang polisi korup bertangan besi (Pablo Schreiber).

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Sutradara Potsy Ponciroli (Old Henry) kembali memamerkan keahliannya dalam mengolah cerita klasik menjadi sajian visual yang segar melalui Motor City.

Setting kota Detroit tahun 1970-an yang kelam, film action-thriller ini mengusung eksperimen berani. Menyajikan kisah balas dendam yang intens dengan dialog yang dipangkas hampir sepenuhnya, menyerahkan seluruh penyampaian emosi pada gestur, aksi, dan desain suara.

Estetika gritty era 70-an dengan warna-warna pudar dan pencahayaan bernuansa neo-noir. Tanpa kata-kata, deru mesin mobil muscle, dentuman senapan, dan koreografi pertarungan menjadi “dialog” utama.

Penggunaan mobil antik, outfit era 70-an, serta lagu-lagu rock klasik memperkuat suasana kota industri yang sedang runtuh.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Menurut gue ini adalah hal yang sangat berani. Serta membuang dialog eksposisi yang membuat penonton harus fokus pada aksi instinktif dan emosi karakter.

Dari jajaran cast, Alan Ritchson memanfaatkan postur fisiknya yang intimidatif secara maksimal. Tanpa bantuan dialog, ia mengandalkan tatapan mata, nafas yang berat, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan kepedihan, rasa kehilangan, serta kemarahan murni.

Begitu juga dengan Ben Foster yang tampil mengintimidasi lewat aura psikologis yang dingin, sementara Pablo Schreiber memberikan ancaman fisik yang seimbang dengan karakter Ritchson.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Buat gue film ini emang cocok-cocokan dengan penonton masa kini. Bagi yang terbiasa dengan dialog cepat atau pacing modern, beberapa transisi babak tengah mungkin terasa berjalan lambat.

Secara keseluruhan, Motor City merupakan penghormatan yang solid terhadap genre action-thriller klasik.

Film ini membuktikan bahwa Alan Ritchson as an actor tidak hanya mengandalkan fisik semata, melainkan juga kemampuan akting non-verbal yang kuat di bawah arahan sutradara yang tepat.

Continue Reading

TV & Movies

Review Film INSIDIOUS OUT OF THE FURTHER, Wahana Rumah Hantu ala The Further

Published

on

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

www.gwigwi.com – Gemma (Amelie Eve) memiliki masa kecil buruk dengan Ibunya (Laura Gordon) dan berniat menjadi Ibu lebih baik untuk anaknya, Maya (ISLAND Austin).

Sampai dia dihantui mimpi mengerikan yang bisa jadi lebih dari sekedar khayalannya dan berhubungan dengan masa lalunya.

Kembali lagi franchisee horror yang film pertamanya sukses meski low budget dan ternyata penonton masih mau kembali mengeksplorasi alam barzah khas INSIDIOUS yakni the further.

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Dengan film ke 6 filmmaker seolah bermain dengan konsep untuk mengeksploitasi the further. Setelah dapat, seakan barulah dibuat cerita seputar itu dan rasanya memang demikian.

Motivasi yang trigger emosi penonton seputar hubungan ibu anak dan mencoba memutus trauma generasional. Diselingi permainan ketegangan yang lumayan oke memakai syaitonirojim dan eksplorasi the further, di mana paruh ketiganya memang cukup seru dan tak terduga.

Semuanya fine saja dan mungkin itulah fault dari INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER ini; wahana seram-seraman yang terasa eksploitasi (dalam artian yang masih terbilang baik) franchise saja. Bila penonton senang, sampai INSIDIOUS 11 pun seakan dijabanin BLUMHOUSE PRODUCTION.

INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER seolah hasil dari pikiran; karena penonton masih mau, maka filmmaker akan coba segala hal untuk isi gas franchisenya. Apakah mereka akan menemukan alasan kuat lagi untuk penonton mau kembali menjelajah The Further? We'll see…

Continue Reading

TV & Movies

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Published

on

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

www.gwigwi.com – Kalau kamu nonton film Mutiny, jangan berharap bakal disuguhi cerita drama yang bertele-tele atau plot twist yang bikin pusing tujuh keliling. Film ini tipikal tontonan aksi Statham banget yang ceritanya langsung tancap gas tanpa basa-basi.

Cerita bermula ketika Cole Reed (Jason Statham), seorang pria tangguh dengan latar belakang keluarga polisi, bekerja pada seorang bos miliarder India di Thailand Sialnya, hidup Cole mendadak jungkir balik ketika atasannya itu tewas ditembak tepat di depan matanya sendiri.

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Belum sempat merespons situasi, Cole langsung dijebak sebagai pelaku pembunuhan tersebut. Ia otomatis menjadi buronan utama kepolisian. Demi membersihkan nama baiknya sekaligus membalaskan dendam sang bos, Cole melacak jejak para pelaku hingga ke sebuah kapal kargo besar yang tengah berlayar.

Di dalam lambung kapal yang sempit dan penuh kontainer itulah, perguruan dimulai. Di tengah usahanya bertahan hidup, Cole justru menemukan fakta yang lebih besar: kapal tersebut ternyata dipakai sebagai sarang konspirasi internasional dan perdagangan manusia berkedok jaringan kriminal yang dipimpin Marko Madsen yang tidak lain adalah nahkoda kapal tersebut. Dari sinilah misi balas dendam pribadi Cole berubah menjadi aksi penyelamatan skala besar.

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Secara garis besar, alur Mutiny sangat linear dan mudah diikuti. Sutradara Jean-François Richet (yang sebelumnya sukses menggarap Plane) tahu betul cara memanfaatkan ruang terbatas. Latar tempat di atas kapal kargo memberikan atmosfer klaustrofobik—membuat penonton ikut merasa terkurung karena tidak banyak ruang untuk lari.

Dari segi akting, Jason Statham tampil konsisten memerankan karakter andalannya: jagoan dingin, minim ekspresi tapi mematikan, yang kerjanya cuma menghajar penjahat tanpa perlu banyak dialog. Tidak ada yang baru dari penampilan Statham di sini, tapi toh memang itu yang dicari oleh para penggemar setianya.

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Namun, ada sedikit catatan bagi pencinta film laga murni. Buat kamu yang mengharapkan pertarungan tangan kosong (hand-to-hand combat) yang intens dan panjang ala film-film pertarungan tangan kosong tradisional, Mutiny rasanya agak “kurang banyak” porsinya. Film ini lebih banyak mengandalkan tembak-tembakan, todongan senjata, dan aksi taktis jarak menengah ketimbang baku hantam brutal satu lawan satu yang melelahkan fisik secara kasat mata.

Mutiny tetap menjadi tontonan pelepas penat yang seru dan efektif untuk akhir pekan, asalkan kamu menaruh ekspektasi sebagai film action tembak-tembakan kapal kargo yang simpel, cepat, dan tidak ribet.

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending