Sinopsis oleh AsianWiki: Saat masih perawan di usia 30 tahun, Kiyoshi Adachi (Eiji Akaso) mendapatkan kekuatan magis. Kekuatan magisnya memungkinkan dia membaca pikiran orang lain dengan menyentuhnya. Awalnya, dia kewalahan oleh kekuatannya. Kemampuan sihir barunya tidak membantu sama sekali. Banyak hal berubah, ketika dia secara tidak sengaja menyentuh Yuichi Kurosawa (Keita Machida) dan membaca pikirannya. Yuichi Kurosawa memiliki perasaan romantis untuk Kiyoshi Adachi.
TV & Movies
Eiji Akaso & Keita Machida berperan dalam Drama TV Tokyo “30sai made Dotei dato Mahotsukai ni Narerurashii”
GwiGwi.com – Eiji Akaso dan Keita Machida berperan dalam serial drama aksi langsung TV Tokyo “30sai made Dotei dato Mahotsukai ni Narerurashii.”
Serial drama ini didasarkan pada serial manga “30sai made Dotei dato Mahotsukai ni Narerurashii” oleh You Toyota. Skrip bertema BL menampilkan Eiji Akaso yang memerankan Kiyoshi Adachi yang berusia 30 tahun. Keita Machida akan berperan sebagai Yuichi Kurosawa, yang memiliki perasaan romantis pada Kiyoshi Adachi.
TV & Movies
Review Film Spider-Man Brand New Day, Best Spidey adaptation so far
www.gwigwi.com – Beberapa tahun telah berlalu sejak mantra Doctor Strange menghapus ingatan seluruh dunia tentang siapa Peter Parker?
Kini, Peter (Tom Holland) hidup dalam isolasi total di New York. MJ (Zendaya) dan Ned (Jacob Batalon) telah melanjutkan hidup mereka masing-masing tanpa mengingat sedikit pun tentang Peter.
Di tengah rasa kesepian dan perjuangan fisik akibat evolusi biologis DNA laba-laba dalam tubuhnya, Peter / Spider-Man mendapati kota New York terancam oleh serangkaian manipulasi pikiran dan kejahatan jalanan yang kian merajalela.

Review Film Spider Man Brand New Day, Best Spidey Adaptation So Far
Situasi memaksa Spider-Man menjalin aliansi tak terduga serta berhadapan dengan birokrasi ketat Department of Damage Control yang dipimpin Bill Metzger (Tramell Tillman).
Langsung aja ke filmnya, film garapan sutradara Destin Daniel Cretton (Shang-Chi, Wonder Man) kali ini melakukan tindakan yang cukup berani. Ia menolak godaan multiverse dan memilih untuk menyelami jiwa Peter Parker.
Evolusi kekuatan Spider-Man berfungsi sebagai sebuah metafora mendalam tentang pendewasaan.
Peter belajar bahwa menjadi dewasa bukan sekadar memikul rasa sakit sendirian, melainkan tentang keberanian untuk membuka diri kembali meskipun ada risiko kehancuran emosional.
Secara sinematografi film keempat versi Tom Holland initerasa jauh lebih solid, bervolume, dan mengutamakan pemakaian practical effect dibanding penggunaan green screen yang berlebihan.
Filmnya sendiri membawa kita kembali pada estetika era Sam Raimi dan mengombinasikan keseriusan trauma dengan keindahan lanskap Manhattan.

Review Film Spider Man Brand New Day, Best Spidey Adaptation So Far
Tidak lupa koreografi pertarungan close combat ala film Shang-Chi. Formula ini disajikan lagi di Spider-Man ketika melawan kelompok The Hand dan sekuens aksi bersama Bruce Banner / Hulk (Mark Ruffalo) terasa sangat hidup, mengalir, dan dinamis.
Kehadiran Frank Castle bukan sekedar cameo MCU. Pertemuan keduanya mempertemukan dua filosofi keadilan yang berbeda. Menurut The Punisher: Keadilan yang didorong oleh keputusasaan dan pembalasan dendam tanpa batas.
Sementara menurut Spider-Man: Keadilan yang bertumpu pada empati, kesabaran, dan pertanggungjawaban moral.
Interaksi diantara mereka menegaskan kembali prinsip dasar Spider-Man: memiliki kekuatan super adalah alat untuk melindungi kemanusiaan, bukan menghancurkannya.

Review Film Spider Man Brand New Day, Best Spidey Adaptation So Far
Spider-Man Brand New Day secara cerdas bertindak sebagai soft reboot tanpa menghapus fondasi Trilogi Home.
Film ini membuktikan bahwa cerita skala kecil memiliki dampak emosional yang jauh lebih kuat bagi penonton dibandingkan ancaman skala kiamat antargalaksi.
Secara keseluruhan, Spider-Man Brand New Day adalah sebuah surat cinta untuk karakter Spider-Man dan para penggemarnya. Dengan memadukan aksi jalanan yang memukau, akting berkelas dari para cast-nya, serta eksplorasi psikologis yang menyentuh, film ini berhasil mereset arah MCU ke jalur yang tepat.
TV & Movies
Review Film The Oddysey, reinkarnasi epos dalam sinema modern
www.gwigwi.com – Christopher Nolan kembali ke layar lebar dengan proyek terambisiusnya hingga saat ini: The Odyssey. Setelah sukses besar menggelegar lewat Oppenheimer (2023), Nolan kini memalingkan kameranya dari sejarah abad ke-20 menuju puisi epik tertua dalam peradaban Barat karangan Homer.
Hasilnya bukan sekadar film kolosal berlatar Yunani kuno biasa, melainkan sebuah eksplorasi psikologis yang mencekam tentang trauma perang, PTSD, serta tekad manusia melintasi kehampaan demi kembali ke rumah.

Review Film The Oddysey, Reinkarnasi Epos Dalam Sinema Modern
The Odyssey mengikuti narasi klasik Raja Ithaca, Odysseus (Matt Damon). Setelah sepuluh tahun bertarung dalam Perang Troya dan merancang strategi Kuda Troya yang legendaris, Odysseus bermaksud berlayar pulang pasca perang dan dianggap sebagai pahlawan.
Namun, kemurkaan para dewa dan badai eksistensial memaksanya menempuh perjalanan sepuluh tahun berikutnya. Ia harus melewati berbagai monster, penyihir, dan godaan mistis sebelum bisa kembali pada istrinya, Penelope (Anne Hathaway), serta putranya, Telemachus (Tom Holland).
Lewat tangan dingin Christopher Nolan, pertempuran melawan makhluk mitologi bukan disajikan sebagai tontonan aksi blockbuster semata, melainkan sebagai manifestasi alegoris dari rasa bersalah, rasa kehilangan, dan trauma pasca-perang.

Review Film The Oddysey, Reinkarnasi Epos Dalam Sinema Modern
Nolan secara cerdas tidak memperlakukan perjalanan Odysseus sebagai petualangan aksi heroic yang diromantisasi, melainkan petualangan jiwanya yang koyak. Perang Troya mungkin sudah selesai secara fisik, namun kehancuran di dalam diri para prajurit baru saja dimulai.
Kekuatan utama film ini terletak pada caranya membongkar sosok heroik Odysseus. Matt Damon membawakan sosok pahlawan yang lelah, dipenuhi keraguan moral atas kekejaman yang ia lakukan di Troya.
Nolan menyoroti aspek bahwa membawa seseorang pulang dari peperangan jauh lebih sulit daripada sekadar memindahkan fisiknya melintasi samudra.
Rumah yang dicari Odysseus bukan sekadar titik geografis di Ithaca, melainkan kedamaian pikiran yang perlahan hilang akibat dosa-dosa masa lalu.
Gaya penceritaan non-linear yang menjadi ciri khas Nolan dimanfaatkan untuk menggambarkan ingatan yang retak. Kilas balik kehancuran Troya berbaur dengan ilusi monster dan penyihir, menciptakan ambiguitas apakah bahaya tersebut nyata atau sekadar manifes kegilaan dari isolasi di tengah laut.

Review Film The Oddysey, Reinkarnasi Epos Dalam Sinema Modern
Jika kita bicara soal aspek teknis, Nolan dan cinematographer Hoyte van Hoytema memecahkan rekor baru. Film ini menjadi karya fiksi pertama yang seluruhnya (100%) direkam menggunakan kamera seluloid IMAX.
Produksi film ini menggunakan teknologi inovatif camera blimp khusus yang memungkinkan adegan dialog berbisik terekam secara sinkron dalam format IMAX tanpa terganggu suara bising mekanis kamera.
Pemandangan samudra lepas, pulau-pulau terisolasi, hingga reruntuhan Troya ditangkap dengan kedalaman warna dan ketajaman tekstur yang membuat penonton seolah berada di atas kapal yang berguncang di tengah badai.
Musik scoring oleh Ludwig Göransson kembali menghadirkan aransemen eksperimental. Bukannya mengandalkan orkestra Yunani klasik yang klise, ia memakai perpaduan instrumen primitive percussion dengan denyut frekuensi rendah yang menekankan detak jantung ketakutan para prajurit serta membangun atmosfer intimidatif sepanjang film.
Dari sisi performa cast, Matt Damon memberikan salah satu akting terbaik dalam kariernya. Ia berhasil mentransformasikan Odysseus dari taktikawan jenius menjadi pria yang letih, rentan pasca perang, namun tak pernah padam semangatnya.
Begitupun dengan Anne Hathaway sebagai Penelope, meskipun berjarak ruang dari panggung utama petualangan laut, Hathaway mampu menampilkan keteguhan dan duka Penelope secara emosional saat mempertahankan takhtanya dari ancaman para pelamar.
Lalu, Robert Pattinson sebagai Antinous. Tampil memikat sebagai antagonis utama di Ithaca. Karakternya dingin, manipulatif, dan menjadi representasi ancaman politik domestik.
Dengan durasi film hampir 3 jam, transisi antar-pulau atau alur cerita di Ithaca sesekali terasa meloncat dan memiliki tempo yang dinamis. Menurut gue film ini bisa dinikmati dan mudah dicerna bagi seluruh penonton yang menikmati alih wahana kisah epos Yunani ini.
Secara keseluruhan, The Odyssey adalah bukti kemahiran Christopher Nolan dalam mengolah mahakarya epos klasik menjadi karya sinema modern yang masif sekaligus intim.
Ini bukan sekadar tontonan hiburan petualangan, melainkan sebuah perenungan mendalam tentang penderitaan, moralitas, dan ketangguhan jiwa manusia.
Bagi pencinta film yang mendambakan pengalaman sinematik berskala monumental, The Odyssey merupakan karya yang WAJIB disaksikan di bioskop.
Skor Akhir: 9.0 / 10
TV & Movies
Reveiw Film Evil Dead Burn, Burn or Burned
www.gwigwi.com – Evil Dead kali ini membara! Film ke 6 di franchise horor ini kini mengusung judul EVIL DEAD BURN! Apakah apinya bisa membawa teror yang berbeda, unik dan lebih berbobot? Alice (Souheila Yacoub) kehilangan suaminya Will (George Pullar) akibat kecelakaan. Memaksanya untuk bertemu ibu dan bapak mertuanya; Susan (Tandi Wright) dan Edgar (Erroll Shand) Juga si nenek yang sudah pikun, Polly (Maude Davey). Keluarga ipar yang tidak menyukainya.

Reveiw Film Evil Dead Burn, Burn Or Burned
Keadaan intens itu meledak begitu Edgar menggila dan membuat Alice menyadari, kekuatan jahat lain yang memanfaatkan keluarga itu dan berniat menghabisi mereka semua.
Sedari awal editing smash cut yang agresif begitu membantu menaikkan tensi dan membangun suspense dari sekedar memperlihatkan kipas mesin kapal berputar saja (“apakah akan digunakan untuk memotong orang? Hah!”).
Mampu memanaskan ketegangan hingga mendidih juga seperti adegan makan keluarga yang canggung sampai meletup.
Efek-efek praktikal gore pun terasa berkelas; Gorokan perlahan di leher, penyandar kepala kursi mobil ditusukkan ke leher dan kepala bahkan wajah yang dihancurkan sampai tak bersisa.

Reveiw Film Evil Dead Burn, Burn Or Burned
Semua dilakukan tanpa membuat eksploitatif menjijikkan dan cukup membuat ngeri. Didukung seram mumpuni oleh para aktor
Usaha bertahan hidup para korban dan muatan emosi yang melatarbelakangi nasib tragisnya memang digarap serius, namun EVIL DEAD BURNS seperti kurang memaku identitas uniknya sendiri yang menonjolkannya dari film-film EVIL DEAD lain.
Kontras dramatis antara Alice yang ingin mengontrol hidupnya sendiri dan Susan yang mengorbankan segalanya demi keluarga, meskipun satu persatu mulai kesurupan memang menarik.
Namun, rasanya been there done that nan by the book tanpa punya treatment dan resolusi yang menonjol beda dibanding horor lain.

Reveiw Film Evil Dead Burn, Burn Or Burned
Walhasil, EVIL DEAD BURN mengandalkan body horor yang bahkan untuk ranah film horor Indonesia juga sudah banyak bermain menggila buat gore stuff.
Maka agak sulit melihat tempat untuk EVIL DEAD BURN di mana franchise inilah yang barangkali mempopulerkan body horror dulu tetapi sekarang tampaknya butuh appeal lain untuk membara terbakar, bukan malah gosong sendiri.
Mungkin ke depannya kembali dengan balutan komedi konyol dan penampilan kharistmatik ala Bruce Campbell? They do need some sugar….
-
Box Office4 weeks agoReview The Death of Robin Hood, Akhir Tragis Sang Legenda
-
Serial Anime3 weeks agoReview Clevatess Season 2 Episode 1: Misi Rahasia Klen dan Alicia Dimulai, Visual Makin Manjakan Mata!
-
TV & Movies3 weeks agoREVIEW FILM MOANA (2026), Keindahan Visual Kepulauan Pasifik
-
TV & Movies3 weeks agoReview Film Love Barista, Megabintang yang Terdampar
-
News3 weeks agoAnime Festival Asia Rayakan Edisi ke-10 di Indonesia!
-
Gaming3 weeks agoAkhirnya Rilis! Wuthering Waves Versi 3.5 Hadirkan Region Baru dan Resmi Tuju Xbox!
-
Music3 weeks agoKolaborasi Musisi Genius! Anime Baru “The Ghost In The Shell” Umumkan Perilisan Original Soundtrack Resmi
-
Berita Anime & Manga2 weeks agoReview Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas yang Ternyata Overpowered!




