Connect with us

TV & Movies

Sambut Ramadan Di Rumah Aja, Vidio Hadirkan Tayangan Spesial Untuk Konsumen Indonesia

Published

on

GwiGwi.com – Menyambut Ramadan 1441 H di situasi pandemi COVID-19 membuat Ramadan kali ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat yang biasanya dapat berkumpul bersama keluarga dan teman untuk beribadah dan buka puasa, mungkin kali ini hanya sendiri, namun selalu ada berkah yang dapat kita maknai dari situasi ini. Oleh karena itu, Vidio menghadirkan penawaran spesial dan menarik dalam menciptakan suasana penuh berkah bagi seluruh masyarakat Indonesia melalui VIDIO BERKAH NONTON.

Vidio Berkah Nonton hadir untuk berbagi berkah kepada seluruh konsumen dalam menikmati tayangan hiburan melalui penawaran spesial dengan harga terjangkau selama 30 hari. Di samping itu, Vidio juga ingin mengajak konsumen untuk bernostalgia Ramadan melalui tayangan legendaris yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia selama menjalankan ibadah puasa.

Rezki Yanuar, Vice President Brand Marketing Vidio menjelaskan, “Ramadan dan Lebaran Idul Fitri tahun ini terasa berbeda terkait pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Oleh karena itu, Vidio menghadirkan beragam tayangan yang dapat menghibur dan menemani masyarakat agar #BetahdiRumah selama menjalankan ibadah puasa. Sesuai dengan program spesial Ramadan yang kami hadirkan kali ini, yaitu Vidio Berkah Nonton, Vidio memberikan harga spesial langganan Vidio Premier kepada konsumen khusus bulan Mei selama 30 hari. Melalui penawaran spesial ini kami berharap dapat menjadi pilihan yang seru untuk ngabuburit, bernostalgia dan menambah kebahagiaan pada Ramadan serta lebaran”.

Agar #BetahdiRumah sepanjang hari sambil menunggu waktu beribadah dan berbuka puasa, Vidio akan menghadirkan tayangan-tayangan legendaris yang mengajak masyarakat untuk bernostalgia seperti; Lorong Waktu, Kiamat Sudah Dekat, dan Para Pencari Tuhan Jilid 13. Dengan program Berkah Nonton konsumen juga dapat menikmati tayangan premium dari Vidio yang meliputi; Vidio Original Series “Omen” dan “Get Married” serta Catatan Si Boy, Susah Sinyal, Love Sparks in Korea, Oh My Baby, Full House, Descendants of The Sun, Memorist, dan drama Korea yang sedang hits diperbincangkan. Sambil menunggu waktu berbuka, konsumen juga dapat menikmati tayangan religi gratis yaitu; Tanya Ustad, Jawara, dan Sarung Milik Ayah. Di samping itu, menyambut Hari Raya Idul Fitri 1441 H, Vidio sudah menyiapkan tayangan hiburan spesial seperti Srimulat dan Warkop DKI.

Para pengguna dapat menikmati seluruh layanan Vidio Premier Platinum hanya dengan membayar Rp 15.000 dengan melakukan redeem voucher VIDIOBERKAHNONTON melalui aplikasi Android dan website Vidio. Dengan periode aktivasi 1 – 31 Mei 2020, kode voucher hanya dapat diakses satu kali oleh setiap pengguna dan tidak dapat diperpanjang secara otomatis. Untuk dapat mempelajari lebih lanjut mengenai penggunaan kode voucher, konsumen dapat mengunjungi laman berikut.

Melalui Vidio Premier, para pengguna dapat dengan mudah menikmati seluruh tayangan eksklusif, meliputi; serial dan film Indonesia, Korea, Thailand, China, drama Korea, drama India, Vidio Original Series, hiburan kartun animasi anak, tayangan olahraga, layanan program musik Vidio hingga konten edukasi. Untuk dapat menikmati berbagai konten layanan hiburan yang ditawarkan oleh Vidio, masyarakat dapat mengunduh dan install aplikasi Vidio di smartphone Android dan iOS pada Apple Store atau Google Store serta dapat dinikmati melalui Smart TV dan juga melalui website Vidio.

Advertisement

TV & Movies

Review Film HOPE, Big Trouble in Little Village

Published

on

By

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Bencana besar di desa kecil. Mungkin deskripsi yang pas untuk HOPE.

Teror monster yang biasa menimpa kota besar, melibatkan tentara dan ilmuwan, kini harus dihadapi Beom Se-Ok (Hwang Jung-Min) kepala polisi lokal, sepupunya Sung Ki (Zo In-sung), para pemburu, peternak babi, tukang jugal daging dan warga desa lain.

Dari eksekusi sinematografinya, kamera mengisolasi POV penonton pada perjalanan tiap karakternya secara eye level napak tanah untuk mengungkap misteri layaknya progress video game. Bahkan sampai protagonis dapat upgrade senjata, berganti senapan yang lebih kuat. Mengkuti jejak si monsters dari jalanan, toko-toko sampai ke gang-gang kecil.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Cara demikian melokalisir teror pada skala kecil yang justru membuat lebih ngeri dibanding film monster umumnya yang seakan ingin main skala besar secepatnya.

Audiens tak melihat sosok si monster tapi dari kehancuran, gelimpangan mayat dan bangkai berceceran yang diakibatka, gambaran mengerikannya sudah begitu kuat.

Begitu saat akhirnya si sumber horror diperlihatkan…hem. Mengingatkan pada CG game zaman PS3? Barangkali terkendala budget tapi mengingat monster ini ternyata mempunyai peran yang lebih penting lagi, agak membingungkan kenapa tampilannya tidak dicoba lebih meyakinkan lagi.

Beruntung aksi cepat dan brutalnya menghujam efektif sampai rasanya kekurangan itu cukup termaafkan.

Kelemahan umum film monster, manusianya, justru menyala di sini.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Sembari tensi terus terjaga, HOPE mampu mengenalkan para karakternya secara singkat baik dengan cerita konyol atau pun sekedar dari bagaimana mereka memburu si monster. Sampai rasanya audiens sudah klop bersama mereka padahal baru sebentar. Polisi wanita Hoyeon (Sung-Ae) tak diperkenalkan bertele-tele, dari cara dia bernafsu mengejar si monster langsung membuat dia memorable.

Aksi tegang dan kadang bisa-bisanya dibumbui komedi memang mewarnai klimaks, tapi juga berasa terlalu diperpanjang. Tambah lagi ternyata film diakhiri dengan cliffhanger yang membuka sisi lain dari para monster. Untung saja paruh awal dan tengahnya cukup kuat sehingga rasa nanggung tak sampai mengganggu.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

HOPE seakan apabila Godzilla plus ALIEN dialami desa kecil di provinsi anda dan cerdas sekali memanfaatkan keunikan itu baik secara sosiologi manusianya dan kulturnya. Mungkin penonton hanya banyak melihat Hope Harbor dalam keadaan hancur tapi bisa jadi warga dan daerahnya lebih membekas di benak penonton dibanding film monster lain. Dan demikian rasanya sungguh key selling point dari film yang barangkali kurang memenuhi ekspektasi fans sutradara Na Hong-Jin paska THE WAILING.

Apakah terus bisa dia kawinkan aspek itu dengan aliennya nanti untuk sekuel yang sudah ditease? We may hope so….

Continue Reading

TV & Movies

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Published

on

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

www.gwigwi.com – John Miller (Alan Ritchson), seorang veteran Perang Vietnam yang bekerja di pabrik perakitan mobil, dijebak atas kejahatan yang tidak ia lakukan oleh Reynolds (Ben Foster), seorang penguasa mafia lokal yang terobsesi pada kekasih John, Sophia (Shailene Woodley).

Divonis 25 tahun di penjara berkeamanan maksimum, John bertahan hidup hanya dengan satu tujuan: keluar dan menuntaskan dendam.

Ketika kesempatan itu tiba, John melancarkan perburuan berdarah menyusuri jalanan Detroit yang dingin dan korup, melintasi jajaran anak buah Reynolds yang dijaga oleh seorang polisi korup bertangan besi (Pablo Schreiber).

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Sutradara Potsy Ponciroli (Old Henry) kembali memamerkan keahliannya dalam mengolah cerita klasik menjadi sajian visual yang segar melalui Motor City.

Setting kota Detroit tahun 1970-an yang kelam, film action-thriller ini mengusung eksperimen berani. Menyajikan kisah balas dendam yang intens dengan dialog yang dipangkas hampir sepenuhnya, menyerahkan seluruh penyampaian emosi pada gestur, aksi, dan desain suara.

Estetika gritty era 70-an dengan warna-warna pudar dan pencahayaan bernuansa neo-noir. Tanpa kata-kata, deru mesin mobil muscle, dentuman senapan, dan koreografi pertarungan menjadi “dialog” utama.

Penggunaan mobil antik, outfit era 70-an, serta lagu-lagu rock klasik memperkuat suasana kota industri yang sedang runtuh.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Menurut gue ini adalah hal yang sangat berani. Serta membuang dialog eksposisi yang membuat penonton harus fokus pada aksi instinktif dan emosi karakter.

Dari jajaran cast, Alan Ritchson memanfaatkan postur fisiknya yang intimidatif secara maksimal. Tanpa bantuan dialog, ia mengandalkan tatapan mata, nafas yang berat, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan kepedihan, rasa kehilangan, serta kemarahan murni.

Begitu juga dengan Ben Foster yang tampil mengintimidasi lewat aura psikologis yang dingin, sementara Pablo Schreiber memberikan ancaman fisik yang seimbang dengan karakter Ritchson.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Buat gue film ini emang cocok-cocokan dengan penonton masa kini. Bagi yang terbiasa dengan dialog cepat atau pacing modern, beberapa transisi babak tengah mungkin terasa berjalan lambat.

Secara keseluruhan, Motor City merupakan penghormatan yang solid terhadap genre action-thriller klasik.

Film ini membuktikan bahwa Alan Ritchson as an actor tidak hanya mengandalkan fisik semata, melainkan juga kemampuan akting non-verbal yang kuat di bawah arahan sutradara yang tepat.

Continue Reading

TV & Movies

Review Film INSIDIOUS OUT OF THE FURTHER, Wahana Rumah Hantu ala The Further

Published

on

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

www.gwigwi.com – Gemma (Amelie Eve) memiliki masa kecil buruk dengan Ibunya (Laura Gordon) dan berniat menjadi Ibu lebih baik untuk anaknya, Maya (ISLAND Austin).

Sampai dia dihantui mimpi mengerikan yang bisa jadi lebih dari sekedar khayalannya dan berhubungan dengan masa lalunya.

Kembali lagi franchisee horror yang film pertamanya sukses meski low budget dan ternyata penonton masih mau kembali mengeksplorasi alam barzah khas INSIDIOUS yakni the further.

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Dengan film ke 6 filmmaker seolah bermain dengan konsep untuk mengeksploitasi the further. Setelah dapat, seakan barulah dibuat cerita seputar itu dan rasanya memang demikian.

Motivasi yang trigger emosi penonton seputar hubungan ibu anak dan mencoba memutus trauma generasional. Diselingi permainan ketegangan yang lumayan oke memakai syaitonirojim dan eksplorasi the further, di mana paruh ketiganya memang cukup seru dan tak terduga.

Semuanya fine saja dan mungkin itulah fault dari INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER ini; wahana seram-seraman yang terasa eksploitasi (dalam artian yang masih terbilang baik) franchise saja. Bila penonton senang, sampai INSIDIOUS 11 pun seakan dijabanin BLUMHOUSE PRODUCTION.

INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER seolah hasil dari pikiran; karena penonton masih mau, maka filmmaker akan coba segala hal untuk isi gas franchisenya. Apakah mereka akan menemukan alasan kuat lagi untuk penonton mau kembali menjelajah The Further? We'll see…

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending