Connect with us

TV & Movies

Cara Crop Video yang Baik dan Benar Disertai Tips untuk Pemula

Published

on

Cara Crop Video Yang Baik Dan Benar Disertai Tips Untuk Pemula

www.gwigwi.com – Crop video bisa jadi pekerjaan yang menantang jika Anda belum terbiasa melakukannya. Pelajari cara serta tips memotong video bagi para pemula pada artikel ini.

Kemampuan untuk mengedit video dengan tepat menjadi keterampilan yang semakin penting. Salah satu teknik editing yang paling fundamental tapi sering kali terabaikan adalah crop video.

Crop video bukan sekadar pemotongan secara mekanis, ia juga merupakan seni untuk menciptakan tampilan yang lebih dinamis dan bermakna. Langkah pertama dan terpenting adalah memastikan pemilihan area yang akan dicrop dengan cermat.

Proses crop video yang efektif juga bergantung pada pemilihan perangkat lunak yang sesuai. Dalam menghadirkan cara crop video yang baik dan benar, kita akan menjelajahi berbagai perangkat lunak pengeditan video, mulai dari opsi ramah pemula hingga solusi profesional.

Dengan memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing, pembaca akan dapat memilih alat yang paling cocok dengan tingkat keahlian mereka dan mencapai hasil editing yang memukau. Yuk, pahami cara memotong video bersama-sama!

Cara Crop Video yang Baik dan Benar

1. Buka Aplikasi Pemotong Video

Pertama, unduh aplikasi pemotong video di ponsel atau desktop. Sebagai contoh, proses ini akan menggunakan aplikasi Canva yang menyediakan antarmuka ramah pengguna, sehingga membuatnya sesuai untuk pemula dalam pengeditan video.

2. Pilih Template atau Buat Desain Baru

Setelah masuk, pilih opsi “Create a design” dan pilih “Custom dimensions” untuk membuat proyek dengan resolusi sesuai dengan video yang akan di-crop. Alternatifnya, Anda juga dapat memilih template yang sudah ada sesuai kebutuhan proyek, seperti template Instagram untuk memotong video yang akan diunggah ke platform tersebut.

3. Unggah Video yang Akan di-Crop

Unggah video yang akan di-crop ke dalam antarmuka Canva. Gunakan tombol “Uploads” di panel samping untuk memuat video dari perangkat Anda. Pastikan resolusi proyek Canva sesuai dengan resolusi video agar hasil akhir tetap berkualitas.

4. Tambahkan Video ke Desain

Setelah mengunggah video, seret dan letakkan video di area desain sesuai dengan kebutuhan. Canva memungkinkan Anda untuk menyusun elemen-elemen desain dengan mudah, termasuk pengaturan ukuran dan posisi video.

5. Pilih Opsi Crop Video

Klik pada video yang telah ditambahkan ke desain, dan Anda akan melihat berbagai opsi pengeditan di bagian atas layar. Pilih opsi “Crop” untuk memulai proses pemotongan video. Canva menyediakan alat pemotongan yang mudah digunakan dengan batas-batas yang dapat disesuaikan.

6. Sesuaikan Area yang akan Dipotong

 Pilih area yang akan di-crop dengan menyesuaikan batas-batas yang tersedia. Canva memungkinkan Anda untuk mengubah proporsi dan posisi dengan mudah melalui tampilan pratinjau real-time.

7. Pratinjau dan Simpan Desain

Sebelum menyimpan, pratinjau hasil crop video menggunakan tombol pratinjau Canva. Pastikan bahwa area yang dipilih sesuai dengan keinginan Anda. Setelah puas dengan hasilnya, klik tombol “Download” untuk menyimpan video ke perangkat Anda.

Tips Edit Video untuk Pemula

1. Pahami Rasio Aspek dan Platform Tujuan

Sebelum memulai proses crop video, pahami rasio aspek yang sesuai dengan platform tempat video akan diunggah. Berbagai platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok memiliki rasio aspek yang berbeda. Pastikan untuk memilih rasio yang sesuai agar video tetap terlihat proporsional dan menarik.

2. Tetapkan Fokus dan Pesan

Tentukan fokus utama dan pesan yang ingin Anda sampaikan. Identifikasi elemen-elemen kunci yang perlu dipertahankan dalam frame dan pastikan bahwa crop yang dilakukan mendukung naratif atau pesan visual yang ingin disampaikan.

3. Simpan Versi Asli Video

Sebelum memotong video, simpan versi asli dari video tersebut. Ini akan berguna jika Anda ingin kembali ke versi lengkap atau jika terjadi kesalahan selama proses editing. Menyimpan versi asli sebagai cadangan memberikan fleksibilitas dan keamanan dalam pengeditan.

4. Perhatikan Keseimbangan Estetis dan Komposisi

Saat memotong video, perhatikan keseimbangan estetis dan komposisi. Pastikan elemen-elemen utama tetap seimbang dan terletak dengan baik dalam frame. Hindari memotong bagian penting dari subjek atau kehilangan konteks yang diperlukan untuk memahami cerita video secara keseluruhan.

Dengan memperhatikan tips-tips di atas, pemula dapat memulai proses mengedit video, khususnya crop video, dengan lebih percaya diri dan menampilkan hasil yang lebih efektif secara visual. Selamat mencoba!

Advertisement

TV & Movies

Review Film HOPE, Big Trouble in Little Village

Published

on

By

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Bencana besar di desa kecil. Mungkin deskripsi yang pas untuk HOPE.

Teror monster yang biasa menimpa kota besar, melibatkan tentara dan ilmuwan, kini harus dihadapi Beom Se-Ok (Hwang Jung-Min) kepala polisi lokal, sepupunya Sung Ki (Zo In-sung), para pemburu, peternak babi, tukang jugal daging dan warga desa lain.

Dari eksekusi sinematografinya, kamera mengisolasi POV penonton pada perjalanan tiap karakternya secara eye level napak tanah untuk mengungkap misteri layaknya progress video game. Bahkan sampai protagonis dapat upgrade senjata, berganti senapan yang lebih kuat. Mengkuti jejak si monsters dari jalanan, toko-toko sampai ke gang-gang kecil.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Cara demikian melokalisir teror pada skala kecil yang justru membuat lebih ngeri dibanding film monster umumnya yang seakan ingin main skala besar secepatnya.

Audiens tak melihat sosok si monster tapi dari kehancuran, gelimpangan mayat dan bangkai berceceran yang diakibatka, gambaran mengerikannya sudah begitu kuat.

Begitu saat akhirnya si sumber horror diperlihatkan…hem. Mengingatkan pada CG game zaman PS3? Barangkali terkendala budget tapi mengingat monster ini ternyata mempunyai peran yang lebih penting lagi, agak membingungkan kenapa tampilannya tidak dicoba lebih meyakinkan lagi.

Beruntung aksi cepat dan brutalnya menghujam efektif sampai rasanya kekurangan itu cukup termaafkan.

Kelemahan umum film monster, manusianya, justru menyala di sini.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Sembari tensi terus terjaga, HOPE mampu mengenalkan para karakternya secara singkat baik dengan cerita konyol atau pun sekedar dari bagaimana mereka memburu si monster. Sampai rasanya audiens sudah klop bersama mereka padahal baru sebentar. Polisi wanita Hoyeon (Sung-Ae) tak diperkenalkan bertele-tele, dari cara dia bernafsu mengejar si monster langsung membuat dia memorable.

Aksi tegang dan kadang bisa-bisanya dibumbui komedi memang mewarnai klimaks, tapi juga berasa terlalu diperpanjang. Tambah lagi ternyata film diakhiri dengan cliffhanger yang membuka sisi lain dari para monster. Untung saja paruh awal dan tengahnya cukup kuat sehingga rasa nanggung tak sampai mengganggu.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

HOPE seakan apabila Godzilla plus ALIEN dialami desa kecil di provinsi anda dan cerdas sekali memanfaatkan keunikan itu baik secara sosiologi manusianya dan kulturnya. Mungkin penonton hanya banyak melihat Hope Harbor dalam keadaan hancur tapi bisa jadi warga dan daerahnya lebih membekas di benak penonton dibanding film monster lain. Dan demikian rasanya sungguh key selling point dari film yang barangkali kurang memenuhi ekspektasi fans sutradara Na Hong-Jin paska THE WAILING.

Apakah terus bisa dia kawinkan aspek itu dengan aliennya nanti untuk sekuel yang sudah ditease? We may hope so….

Continue Reading

TV & Movies

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Published

on

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

www.gwigwi.com – John Miller (Alan Ritchson), seorang veteran Perang Vietnam yang bekerja di pabrik perakitan mobil, dijebak atas kejahatan yang tidak ia lakukan oleh Reynolds (Ben Foster), seorang penguasa mafia lokal yang terobsesi pada kekasih John, Sophia (Shailene Woodley).

Divonis 25 tahun di penjara berkeamanan maksimum, John bertahan hidup hanya dengan satu tujuan: keluar dan menuntaskan dendam.

Ketika kesempatan itu tiba, John melancarkan perburuan berdarah menyusuri jalanan Detroit yang dingin dan korup, melintasi jajaran anak buah Reynolds yang dijaga oleh seorang polisi korup bertangan besi (Pablo Schreiber).

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Sutradara Potsy Ponciroli (Old Henry) kembali memamerkan keahliannya dalam mengolah cerita klasik menjadi sajian visual yang segar melalui Motor City.

Setting kota Detroit tahun 1970-an yang kelam, film action-thriller ini mengusung eksperimen berani. Menyajikan kisah balas dendam yang intens dengan dialog yang dipangkas hampir sepenuhnya, menyerahkan seluruh penyampaian emosi pada gestur, aksi, dan desain suara.

Estetika gritty era 70-an dengan warna-warna pudar dan pencahayaan bernuansa neo-noir. Tanpa kata-kata, deru mesin mobil muscle, dentuman senapan, dan koreografi pertarungan menjadi “dialog” utama.

Penggunaan mobil antik, outfit era 70-an, serta lagu-lagu rock klasik memperkuat suasana kota industri yang sedang runtuh.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Menurut gue ini adalah hal yang sangat berani. Serta membuang dialog eksposisi yang membuat penonton harus fokus pada aksi instinktif dan emosi karakter.

Dari jajaran cast, Alan Ritchson memanfaatkan postur fisiknya yang intimidatif secara maksimal. Tanpa bantuan dialog, ia mengandalkan tatapan mata, nafas yang berat, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan kepedihan, rasa kehilangan, serta kemarahan murni.

Begitu juga dengan Ben Foster yang tampil mengintimidasi lewat aura psikologis yang dingin, sementara Pablo Schreiber memberikan ancaman fisik yang seimbang dengan karakter Ritchson.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Buat gue film ini emang cocok-cocokan dengan penonton masa kini. Bagi yang terbiasa dengan dialog cepat atau pacing modern, beberapa transisi babak tengah mungkin terasa berjalan lambat.

Secara keseluruhan, Motor City merupakan penghormatan yang solid terhadap genre action-thriller klasik.

Film ini membuktikan bahwa Alan Ritchson as an actor tidak hanya mengandalkan fisik semata, melainkan juga kemampuan akting non-verbal yang kuat di bawah arahan sutradara yang tepat.

Continue Reading

TV & Movies

Review Film INSIDIOUS OUT OF THE FURTHER, Wahana Rumah Hantu ala The Further

Published

on

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

www.gwigwi.com – Gemma (Amelie Eve) memiliki masa kecil buruk dengan Ibunya (Laura Gordon) dan berniat menjadi Ibu lebih baik untuk anaknya, Maya (ISLAND Austin).

Sampai dia dihantui mimpi mengerikan yang bisa jadi lebih dari sekedar khayalannya dan berhubungan dengan masa lalunya.

Kembali lagi franchisee horror yang film pertamanya sukses meski low budget dan ternyata penonton masih mau kembali mengeksplorasi alam barzah khas INSIDIOUS yakni the further.

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Dengan film ke 6 filmmaker seolah bermain dengan konsep untuk mengeksploitasi the further. Setelah dapat, seakan barulah dibuat cerita seputar itu dan rasanya memang demikian.

Motivasi yang trigger emosi penonton seputar hubungan ibu anak dan mencoba memutus trauma generasional. Diselingi permainan ketegangan yang lumayan oke memakai syaitonirojim dan eksplorasi the further, di mana paruh ketiganya memang cukup seru dan tak terduga.

Semuanya fine saja dan mungkin itulah fault dari INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER ini; wahana seram-seraman yang terasa eksploitasi (dalam artian yang masih terbilang baik) franchise saja. Bila penonton senang, sampai INSIDIOUS 11 pun seakan dijabanin BLUMHOUSE PRODUCTION.

INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER seolah hasil dari pikiran; karena penonton masih mau, maka filmmaker akan coba segala hal untuk isi gas franchisenya. Apakah mereka akan menemukan alasan kuat lagi untuk penonton mau kembali menjelajah The Further? We'll see…

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending