TV & Movies
Review Film Air, Kisah Dibalik Line Sepatu Terbaik dalam Sejarah
Gwigwi.com – Film diangkat dari kisah nyata di tahun 1984, tentang negosiasi bisnis yang dilakukan perusahaan sepatu Nike untuk mendapatkan kontrak kerja dengan pebasket Michael Jordan.
Namun pada saat itu, ambisi Nike untuk mendapatkan Michael Jordan adalah sebuah hil yang mustahal. Pasalnya, Nike hanyalah produsen sepatu olahraga peringkat ketiga.
Pangsa pasarnya dibawah Converse dan Adidas yang memiliki budget besar-besaran untuk memasarkan sepatu mereka.
Ketiga perusahaan ini sangat getol untuk mengajak Michael Jordan untuk menjadi Brand Ambassador salah satu diantara mereka.

Review Film Air, Kisah Dibalik Line Sepatu Terbaik Dalam Sejarah
Yang membuat Nike makin tak punya harapan adalah, Jordan sangat membenci Nike. Direktur pemasaran Nike yang juga mantan pelatih basket George Raveling bahkan mengatakan bahwa Jordan akan menandatangani kontrak dengan brand mana pun yang mau memberinya mobil Mercedes Benz favoritnya, asalkan bukan Nike.
Sonny Vaccaro (Matt Damon), bagian pemasaran divisi olahraga yang yakin betul bahwa Nike harus tetap mengejar Jordan. Ia menghubungi agen Jordan, David Falk (Chris Messina), untuk minta dibuatkan jadwal bertemu sang atlet dan keluarganya. Tentu saja Falk menolak mentah-mentah.
Nekat, Sonny menempuh cara out of the box.

Review Film Air, Kisah Dibalik Line Sepatu Terbaik Dalam Sejarah
Air adalah kolaborasi reuni duo sahabat Ben Affleck dan Matt Damon. Kali ini, Affleck menjadi sutradara, aktor, sekaligus produser. Sementara Damon sebagai aktor utama dan produser.
Bagi pencinta film, duo ini saja sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menonton Air, salah satunya berkat duet ikonis mereka dalam Good Will Hunting (1997). Namun Air memberi banyak senjata bagi penikmat film untuk mau menonton kisah ini.
Selain cerita kisah nyata legenda basket dan duo Affleck-Damon, Air juga memiliki sederet aktor ternama. Dari yang sudah disebutkan di atas, masih ada Jason Bateman, Chris Tucker, Marlon Wayans, dan Julius Tennon.

Review Film Air, Kisah Dibalik Line Sepatu Terbaik Dalam Sejarah
Penampilan ensemble cast ini makin menggila karena mereka diberikan skenario yang penuh selera humor. Chris Tucker yang muncul di menit awal langsung membuat penonton tertawa lebar dengan gayanya yang komikal, saat menyampaikan kekhawatiran nya akan kehilangan pekerjaan gara-gara ambisi Sonny mengejar Jordan.
Akting brilian dan skenario bagus ini makin sempurna dengan ritme penceritaan yang bergerak cepat, membuat durasi 112 menit benar-benar on point.
Penampakan Michael Jordan pun hanya terlihat dari belakang dan samping saja, namun hal tersebut tidak mengganggu filmnya berjalan.
Secara keseluruhan, Air menjadi film based on true story yang sangat menyenangkan dengan formula yang seperti ini mampu membuat penonton nya pun menikmati the great story behind the greatest shoe line in history.
TV & Movies
Review Film Disclosure Day, Obsesi Spielberg Tentang Alien
www.gwigwi.com –

Review Film Disclosure Day, Obsesi Spielberg Tentang Alien

Review Film Disclosure Day, Obsesi Spielberg Tentang Alien

Review Film Disclosure Day, Obsesi Spielberg Tentang Alien
TV & Movies
Review Film The Masters of The Universe, Not Enough Power
www.gwigwi.com – Franchise legenda lagi akan tayang setelah MORTAL KOMBAT 2 dan THE MANDALORIAN AND GROGU. HE-MAN! Laama sekali penantian setelah begitu banyak rumor dan segala macamnya, MASTERS OF THE UNIVERSE akhirnya jadi film juga. Nah, apakah akan hanya menyenangkan fans lama saja?
Adam (Nicholas Galitzine) rindu dengan kampung halamannya, Eternia sampai mengganggu pekerjaannya di kantor.
Naas, saat kerajaannya diserang dulu, dia terpaksa kabur ke bumi. Sampai akhirnya dia menemukan lagi pedang yang akan menuntunnya pulang, Sword of Power.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power
Namun, baru saja dia panggul pedang itu lagi, Adam diserang monster dan dilindungi teman lamanya, Theela (Camila Mendes) yang membawanya pulang.
Sang pangeran tak menyangka Eternia kini rusak akibat lalimnya sang musuh utama, Skeletor (Jared Leto). Menggunakan Sword of Power dan sekutunya seperti Man At-Arms (Idris Elba), maka Adam harus berjuang menyelamatkan dunianya.
Sebagai adaptasi mainan HE-MAN, tentu visual dan baku hantamnya lah salah satu pesona utama. Kostumnya untungnya tidak direalistiskan tapi total mencoba setia pada mainannya. Begitu pun aksinya menghentak bahkan sedari awal. Berkat koreografi energik dan sinematografi dinamis yang cakap.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power
Nicholas Galatzine seakan menchannel man child ala Star Lord-nya Chris Pratt, tapi tetap punya keunikan sendiri. Meski berbadan besar hanya dengan tatapan saja dia bisa terkesan lembut dan membuat iba.
Sisi itulah yang membuat hero ini tak hanya sekedar mas berotot tangguh bawa pedang saja. Terdapat kualitas heroik lain yang menyokong tenaga itu, membuatnya cukup berbeda dibanding tipikal penampilannya. Dan Nicholas Galitzine berhasil menampilkannya.
Mungkin yang mengherankan adalah pilihan membuat badannya sudah bongsor walau belum berubah jadi HE-MAN. Meski visual henshinnya keren, tapi perubahan fisiknya terasa kurang sedrastis Chris Evans saat menjadi Captain America. Jadinya, efek wow transformasinya berasa kurang.

Review Film The Masters Of The Universe, Not Enough Power
Di sisi lain, Jared Leto mengejutkan sebagai si antagonis. Tak sekalipun kita melihat wajahnya, tapi dia bisa melebur total dalam balutan kostum dan wajah tengkorak. Gesturnya begitu hidup dan dia bisa terlihat mengancam tapi kemudian lucu dengan seketika.
Secara cerita memang…klasik, maka film tampak mengandalkan atraksi, banter antar karakter yang memang oke saja dan komedi. Walau servicable, rasanya bila ingin menjadi franchise jaya kembali, THE MASTERS OF THE UNIVERSE tampaknya butuh lebih banyak kejutan dan selling point untuk memenangkan penonton sekarang yang sudah terhujani banyak konten, tak seperti tahun-tahun keemasannya dulu.
Bila tidak, yang senang sekali bisa jadi hanya para fans tua saja sementara penonton lain menggangguk saja kurang terkesan, seperti yang penulis rasakan.
TV & Movies
REVIEW FILM NORMAL, FILM ACTION YANG TIDAK NORMAL
www.gwigwi.com – Bob Odenkirk, sosok multitalenta yang dikenal sebagai penulis, produser, dan aktor populer lewat serial Breaking Bad serta Saturday Night Live (SNL), kembali menggebrak layar lebar. Kali ini, ia berpartner dengan Derek Kolstad—kreator bertangan dingin di balik kesuksesan waralaba John Wick dan Nobody. Sinergi keduanya membuahkan sebuah film komedi aksi berjudul Normal, yang digarap di bawah arahan sutradara Ben Wheatley, yang sebelumnya menukangi film Free Fire, Tomb Raider, dan Meg.
Film ini menyoroti kisah seorang sheriff pengganti bernama Ulysses (diperankan oleh Bob Odenkirk). Ia mendapatkan penugasan baru di sebuah kota kecil yang tenang di wilayah Minnesota bernama Normal. Ulysses hadir untuk menggantikan posisi sheriff sebelumnya, Gunderson, yang secara mengejutkan meninggal mendadak. Secara personal, Ulysses adalah pria yang fleksibel dan hanya ingin menjalani sisa kehidupannya dengan ketenangan. Namun, di balik pembawaannya tersebut, ia memendam masa lalu traumatis yang kelam saat masih menjadi seorang sheriff idealis di masa lalu.

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal
Ulysses awalnya beranggapan bahwa masa tugasnya selama delapan minggu ke depan—hingga sheriff definitif baru diangkat—akan berjalan datar dan biasa saja seperti nama kotanya. Namun, ekspektasi tersebut langsung hancur berantakan. Kehadiran sepasang pendatang baru, Moira (Lena Headey) dan Keith (Brendan Fletcher), yang nekat melakukan perampokan bank secara brutal, justru menjadi pemantik yang membuka kotak pandora dan menyingkap rahasia besar nan kelam yang selama ini disembunyikan oleh kota Normal.
Sebagai sebuah film aksi, Normal masih membawa napas dan formula yang serupa dengan John Wick dan Nobody. Sepanjang durasi, film ini dipenuhi oleh adegan-adegan sadis, berdarah, dan memilukan. Oleh karena itu, film ini sangat tidak ramah dan tidak cocok ditonton oleh Gwiple yang masih berusia di bawah 17 tahun.
Meski begitu, intensitas baku tembak dan pertarungan di film ini tidak disajikan secara bombastis atau se-elegan John Wick. Mengapa? Karena mayoritas karakter yang terlibat di dalamnya hanyalah warga sipil biasa, bukan petarung atau kombatan profesional. Namun, di situlah letak kekuatan dan keseruannya. Setiap aksi perkelahian terasa sangat mentah (raw), realistis, minim koreografi rumit, dan brutal. Unsur komedi gelap (dark comedy) di film ini juga dieksekusi dengan cerdas, di mana kelucuan sering kali lahir dari situasi gore yang dialami para korban, memicu banyak momen mencengangkan yang membuat Gwiple terbelalak.

Review Film Normal, Film Action Yang Tidak Normal
Selain itu, film ini memiliki jajaran karakter pendukung yang cukup ramai. Hebatnya, setiap tokoh diperkenalkan satu per satu dengan porsi yang pas dan penokohan yang kuat. Hal ini membuat Gwiple bisa dengan mudah mengingat mereka dalam waktu singkat, meskipun durasi kemunculan beberapa karakter tergolong singkat.
Secara keseluruhan, Normal adalah sajian film aksi yang lebih condong mendekati kembaran Nobody berkat taburan bumbu komedi yang kental, sehingga nuansanya tidak terasa sekelam dan seserius John Wick. Dengan plot cerita yang ringan, pergerakan alur yang tidak bertele-tele, serta suguhan beberapa plot twist yang menyegarkan di akhir cerita, Normal menjadi sebuah tontonan yang amat menghibur, seru, dan sangat layak untuk Gwiple saksikan langsung di layar bioskop!
-
Smartphone4 weeks agorealme Siap Luncurkan realme P4 Series, Mendefinisikan Ulang “Power” untuk Generasi Berikutnya
-
Nintendo Console3 weeks agoFarming Simulator 26 Resmi Meluncur di Nintendo Switch: Hadirkan Peta Baru dan Tantangan yang Lebih Seru!
-
Box Office4 weeks agoReview Film Gohan: A Heart That Goes Home, Perjalanan Hidup Penuh Haru
-
Event3 weeks agoAKEMI ID SIAP GELAR ‘KEMISTAGE VOL. 1: THE BEGINNING’, AWAL BARU PERTUNJUKAN KONSEPTUAL BERKALA DI ZONA KOREA
-
Gaming4 weeks agoModHub Resmi Hadir di Farming Simulator: Signature Edition, Hadirkan Ribuan Mod Gratis di Nintendo Switch 2
-
Gaming4 weeks agoSiap Tempa Takdirmu: Blades of Fire Versi 2.0 Kini Resmi Hadir di Steam!
-
Music4 weeks agoBawa Seluruh Katalog Musik ke Platform Streaming, Ae! Juga Rilis MV Single Terbaru
-
Smartphone4 weeks agoReview Infinix GT 50 Pro: Standar Baru HP Gaming 6 Jutaan dengan Performa Buas




