Connect with us

TV & Movies

Review Film Ant-Man and The Wasp: Quantumania, Besar skalanya, dangkal dramanya

Published

on

GwiGwi.com – Di trailer pertama ANT MAN & THE WASP: QUANTUMANIA, saat orang di toko yang salah mengenali Scott Lang (Paul Rudd) seorang Ant-Man sebagai Spider-Man, Kang (Jonathan Majors) sang musuh besar MCU paska Thanos, justru mengenali siapa dia dan seakan menghormatinya. Apakah filmnya sendiri menghormati si tokoh utama? Hasil akhirnya rasanya kurang.

Selepas AVENGERS: ENDGAME (2019) Scott menikmati ketenarannya sebagai penyelamat dunia. Dia disapa orang-orang dan bahkan sampai menulis buku soal heroismenya.

Semua tampak baik-baik saja sampai anaknya, Cassie Lang (Kathryn Newton) yang ternyata juga ilmuwan jenius menciptakan alat untuk bisa meneliti Quantum Realm, tempat Janet Van Dyne (Michelle Pfeiffer) dulu terdampar di 2 film Ant-Man sebelumnya. Pengalaman yang tak pernah mau Janet ceritakan pada keluarganya, Hank (Michael Douglas) dan Hope (Evangeline Lily)

Saat alatnya diaktifkan, sinyal yang dikirim “dijawab” oleh sesuatu dan menarik keluarga Ant-Man ke dalam Quantum Realm. Sesampainya di sana, mereka harus menghadapi rahasia berbahaya yang disimpan oleh Janet, yang melibatkan seorang penakluk super kuat.

Kathryn Newton sebagai Cassie Lang langsung klop dengan para pemain lama. Sampai rasanya memang Kathryn sudah ikut main sedari film pertama. Level kecocokannya begitu luwes sampai tidak terasa ada member baru, adalah bukti bagusnya casting yang dilakukan Casting Director Sarah Halley Finn.

Baca Juga:  Review Film Missing, Pencarian Yang Penuh Plot Twist

Baik dari karakter dan cast juga pondasi konflik yang ada sebenarnya ANT-MAN & THE WASP: QUANTUMANIA siap untuk memiliki drama yang kuat nan meyentuh. Sungguh sayang fokus justru banyak diberikan untuk membangun musuh besar baru MCU, Kang Sang Penakluk.

Film sibuk menjelaskan Quantum Realm dan siapa Kang itu. Momen saat keluarga Ant-Man bersama habis untuk kebingungan nyasar di tempat baru itu atau bercanda sedari pada mengembangkan karakter dan chemistry antar mereka.

Efeknya, ceritanya tak pernah memiliki momentum emosi yang menohok saat diperlukan. Semua dramanya akhirnya terasa datar. Cerita yang predictable juga tidak menolong.

Saya agak bingung dengan Jonathan Majors sebagai Kang. Memang ada momen dia seram namun..tak terasa ada lapisan lain yang membuatnya beda atau menarik. Malahan penampilannya sebagai variasi Kang lain di serial LOKI (2021) justru lebih unik. Kalau dibilang karena ini bukan filmnya dan dia bakal meledak di AVENGERS: THE KANG DYNASTY (2025) nanti, tak bisa jadi pembenaran karena durasi yang diberikan untuknya banyak sekali. Maybe next time Kang.

Film-film MCU kadang dibilang generik atau serial episodik kurang “sinema” whatever that means. Untuk pertama kalinya mungkin saya setuju. ANT-MAN & THE WASP: QUANTUMANIA adalah episode kesekian dari serial panjang MCU…episode yang bisa diskip.

 

Advertisement

TV & Movies

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Published

on

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

www.gwigwi.com – John Miller (Alan Ritchson), seorang veteran Perang Vietnam yang bekerja di pabrik perakitan mobil, dijebak atas kejahatan yang tidak ia lakukan oleh Reynolds (Ben Foster), seorang penguasa mafia lokal yang terobsesi pada kekasih John, Sophia (Shailene Woodley).

Divonis 25 tahun di penjara berkeamanan maksimum, John bertahan hidup hanya dengan satu tujuan: keluar dan menuntaskan dendam.

Ketika kesempatan itu tiba, John melancarkan perburuan berdarah menyusuri jalanan Detroit yang dingin dan korup, melintasi jajaran anak buah Reynolds yang dijaga oleh seorang polisi korup bertangan besi (Pablo Schreiber).

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Sutradara Potsy Ponciroli (Old Henry) kembali memamerkan keahliannya dalam mengolah cerita klasik menjadi sajian visual yang segar melalui Motor City.

Setting kota Detroit tahun 1970-an yang kelam, film action-thriller ini mengusung eksperimen berani. Menyajikan kisah balas dendam yang intens dengan dialog yang dipangkas hampir sepenuhnya, menyerahkan seluruh penyampaian emosi pada gestur, aksi, dan desain suara.

Estetika gritty era 70-an dengan warna-warna pudar dan pencahayaan bernuansa neo-noir. Tanpa kata-kata, deru mesin mobil muscle, dentuman senapan, dan koreografi pertarungan menjadi “dialog” utama.

Penggunaan mobil antik, outfit era 70-an, serta lagu-lagu rock klasik memperkuat suasana kota industri yang sedang runtuh.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Menurut gue ini adalah hal yang sangat berani. Serta membuang dialog eksposisi yang membuat penonton harus fokus pada aksi instinktif dan emosi karakter.

Dari jajaran cast, Alan Ritchson memanfaatkan postur fisiknya yang intimidatif secara maksimal. Tanpa bantuan dialog, ia mengandalkan tatapan mata, nafas yang berat, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan kepedihan, rasa kehilangan, serta kemarahan murni.

Begitu juga dengan Ben Foster yang tampil mengintimidasi lewat aura psikologis yang dingin, sementara Pablo Schreiber memberikan ancaman fisik yang seimbang dengan karakter Ritchson.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Buat gue film ini emang cocok-cocokan dengan penonton masa kini. Bagi yang terbiasa dengan dialog cepat atau pacing modern, beberapa transisi babak tengah mungkin terasa berjalan lambat.

Secara keseluruhan, Motor City merupakan penghormatan yang solid terhadap genre action-thriller klasik.

Film ini membuktikan bahwa Alan Ritchson as an actor tidak hanya mengandalkan fisik semata, melainkan juga kemampuan akting non-verbal yang kuat di bawah arahan sutradara yang tepat.

Continue Reading

TV & Movies

Review Film INSIDIOUS OUT OF THE FURTHER, Wahana Rumah Hantu ala The Further

Published

on

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

www.gwigwi.com – Gemma (Amelie Eve) memiliki masa kecil buruk dengan Ibunya (Laura Gordon) dan berniat menjadi Ibu lebih baik untuk anaknya, Maya (ISLAND Austin).

Sampai dia dihantui mimpi mengerikan yang bisa jadi lebih dari sekedar khayalannya dan berhubungan dengan masa lalunya.

Kembali lagi franchisee horror yang film pertamanya sukses meski low budget dan ternyata penonton masih mau kembali mengeksplorasi alam barzah khas INSIDIOUS yakni the further.

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Dengan film ke 6 filmmaker seolah bermain dengan konsep untuk mengeksploitasi the further. Setelah dapat, seakan barulah dibuat cerita seputar itu dan rasanya memang demikian.

Motivasi yang trigger emosi penonton seputar hubungan ibu anak dan mencoba memutus trauma generasional. Diselingi permainan ketegangan yang lumayan oke memakai syaitonirojim dan eksplorasi the further, di mana paruh ketiganya memang cukup seru dan tak terduga.

Semuanya fine saja dan mungkin itulah fault dari INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER ini; wahana seram-seraman yang terasa eksploitasi (dalam artian yang masih terbilang baik) franchise saja. Bila penonton senang, sampai INSIDIOUS 11 pun seakan dijabanin BLUMHOUSE PRODUCTION.

INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER seolah hasil dari pikiran; karena penonton masih mau, maka filmmaker akan coba segala hal untuk isi gas franchisenya. Apakah mereka akan menemukan alasan kuat lagi untuk penonton mau kembali menjelajah The Further? We'll see…

Continue Reading

TV & Movies

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Published

on

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

www.gwigwi.com – Kalau kamu nonton film Mutiny, jangan berharap bakal disuguhi cerita drama yang bertele-tele atau plot twist yang bikin pusing tujuh keliling. Film ini tipikal tontonan aksi Statham banget yang ceritanya langsung tancap gas tanpa basa-basi.

Cerita bermula ketika Cole Reed (Jason Statham), seorang pria tangguh dengan latar belakang keluarga polisi, bekerja pada seorang bos miliarder India di Thailand Sialnya, hidup Cole mendadak jungkir balik ketika atasannya itu tewas ditembak tepat di depan matanya sendiri.

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Belum sempat merespons situasi, Cole langsung dijebak sebagai pelaku pembunuhan tersebut. Ia otomatis menjadi buronan utama kepolisian. Demi membersihkan nama baiknya sekaligus membalaskan dendam sang bos, Cole melacak jejak para pelaku hingga ke sebuah kapal kargo besar yang tengah berlayar.

Di dalam lambung kapal yang sempit dan penuh kontainer itulah, perguruan dimulai. Di tengah usahanya bertahan hidup, Cole justru menemukan fakta yang lebih besar: kapal tersebut ternyata dipakai sebagai sarang konspirasi internasional dan perdagangan manusia berkedok jaringan kriminal yang dipimpin Marko Madsen yang tidak lain adalah nahkoda kapal tersebut. Dari sinilah misi balas dendam pribadi Cole berubah menjadi aksi penyelamatan skala besar.

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Secara garis besar, alur Mutiny sangat linear dan mudah diikuti. Sutradara Jean-François Richet (yang sebelumnya sukses menggarap Plane) tahu betul cara memanfaatkan ruang terbatas. Latar tempat di atas kapal kargo memberikan atmosfer klaustrofobik—membuat penonton ikut merasa terkurung karena tidak banyak ruang untuk lari.

Dari segi akting, Jason Statham tampil konsisten memerankan karakter andalannya: jagoan dingin, minim ekspresi tapi mematikan, yang kerjanya cuma menghajar penjahat tanpa perlu banyak dialog. Tidak ada yang baru dari penampilan Statham di sini, tapi toh memang itu yang dicari oleh para penggemar setianya.

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Review Film Mutiny: Klasik Statham Yang Kurang Menggebuk

Namun, ada sedikit catatan bagi pencinta film laga murni. Buat kamu yang mengharapkan pertarungan tangan kosong (hand-to-hand combat) yang intens dan panjang ala film-film pertarungan tangan kosong tradisional, Mutiny rasanya agak “kurang banyak” porsinya. Film ini lebih banyak mengandalkan tembak-tembakan, todongan senjata, dan aksi taktis jarak menengah ketimbang baku hantam brutal satu lawan satu yang melelahkan fisik secara kasat mata.

Mutiny tetap menjadi tontonan pelepas penat yang seru dan efektif untuk akhir pekan, asalkan kamu menaruh ekspektasi sebagai film action tembak-tembakan kapal kargo yang simpel, cepat, dan tidak ribet.

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending