Connect with us

TV & Movies

Review Film Balada Si Roy, Bukan Sekedar Nostalgia

Published

on

Gwigwi.com – Bagi generasi 70-90an mungkin familiar dengan cerbung (cerita bersambung) Balada si Roy karangan Gol A Gong yang muncul di majalah HAI hingga di novelkan hingga 10 Jilid buku.

Setelah mengalami proses panjang, akhirnya kisah Roy diangkat ke layar lebar yang dinahkodai oleh Fajar Nugros dan naskahnya ditulis oleh Salman Aristo.

Dikisahkan, Roy (Abidzar Al-Ghifari) pindah ke kota Serang, ia pun berambisi untuk menaklukan tempat baru dimana ia tinggal dan menghadapi berbagai hal seperti; ngegebet cewek, bersaing dengan anak jawara, kena santet, hingga balapan liar.

Visi dari IDN Pictures dan Fajar Nugros yang ingin menggarap Balada si Roy bukan hanya sekedar nostalgia bagi para generasi yang tahu dan tumbuh besar membaca cerbung maupun novelnya di masa itu. Namun juga memberikan spirit Roy di masa sekarang dan di masa depan kelak.

Pas gue denger novel ini mau diangkat ke layar lebar, jujur gue sangat excited karena gue baca novelnya dulu jaman SMA dan kisah Roy menjadi pelarian di masa muda yang gak indah-indah banget. Meskipun gue bukan hidup di generasi dimana Balada si Roy sedang booming.

Ketika gue menyaksikan filmnya, seolah-olah memberikan trip down memory lane ke masa muda yang dinamis, persahabatan yang kuat, bahkan sampai geng-geng an.

Gue pun bertanya-tanya? Apakah kisah si Roy ini relate dengan anak sekarang?? Gue pikir masih bisa karena kunci dari Balada si Roy adalah bagaimana Roy menjalani hidup, serta memberikan perspektif tentang seorang figur remaja yang concern terhadap perubahan di lingkungan sekitar.

Film ini sempat tayang di beberapa festival terlebih dahulu sebelum tayang reguler yang telah beberapa kali mengalami penundaan. Intinya sih sabar menanti dan buat gue film Ini worth to wait.

Dari segi cast Abidzar Al-Ghifary, Feby Rastanti, dan Bio One berhasil menghidupkan karakter sentral sebagai Roy, Ani, dan Dullah secara autentik dan sesuai bayangan gue ketika balik lagi baca novelnya sambil menunggu filmnya rilis.

Adegan persaingan Roy dan Dullah ini menjadi highlight di filmnya berhasil dieksekusi dengan baik dan patut di apresiasi.

Begitupun dengan beberapa cast lainnya yang juga berhasil menghidupkan keseluruhan cerita menjadi sangat hidup.

Dengan latar tahun 1980an, gue salut banget dengan pembangunan set, props, penampilan para tokohnya, serta beberapa hal yang ngetren di era tersebut berhasil dibuat se-autentik mungkin. Bahkan sampai lagu-lagu yang merepresentasikan kisah di film ini.

Gak lupa dengan pengenalan kota Serang dengan berbagai hal seperti situs sejarah, kondisi sosial, bahkan tradisi yang ada di kota yang menjadi latar kisah si Roy.

Di novelnya sendiri memiliki gaya penceritaan yang cukup kompleks menurut gue, banyak layer yang berbeda dengan satu bab dan bab lainnya.

Sehingga ketika diangkat ke film akan menjadi sangat padat dan Ini adalah pilihan yang cukup bijak sehingga terjadi penyederhanaan di beberapa sisi cerita dan hal itu gak bisa dihindari. Dan gue pribadi pun memahami hal tersebut.

Kisah Roy yang deket dengan berbagai cewek di kisah ini pun kurang memiliki alasan kuat, sehingga Roy bisa dicap buaya yang gampang pindah ke lain hati, padahal di novelnya Roy punya alasan yang kuat untuk dekat dengan siapa saja dan tidak mau memiliki ikatan dengan siapapun. Lagi-lagi gue harus memahami hal tersebut yang dimana film ini ingin menggebet pasar remaja zaman now.

Secara keseluruhan, film Balada si Roy belum sempurna dan banyak yang perlu dibenahi jika ada sekuelnya kelak. Namun gue memberikan apresiasi untuk semua orang yang terlibat di film ini yang sudah menghidupkan kisah si Roy yang bukan hanya menjadi bahan nostalgia namun juga sebagai penanda bahwa akan ada pemuda macam Roy yang terus menyuarakan kebenaran meskipun kadang menyimpang.

 

Advertisement

TV & Movies

Review Film HOPE, Big Trouble in Little Village

Published

on

By

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Bencana besar di desa kecil. Mungkin deskripsi yang pas untuk HOPE.

Teror monster yang biasa menimpa kota besar, melibatkan tentara dan ilmuwan, kini harus dihadapi Beom Se-Ok (Hwang Jung-Min) kepala polisi lokal, sepupunya Sung Ki (Zo In-sung), para pemburu, peternak babi, tukang jugal daging dan warga desa lain.

Dari eksekusi sinematografinya, kamera mengisolasi POV penonton pada perjalanan tiap karakternya secara eye level napak tanah untuk mengungkap misteri layaknya progress video game. Bahkan sampai protagonis dapat upgrade senjata, berganti senapan yang lebih kuat. Mengkuti jejak si monsters dari jalanan, toko-toko sampai ke gang-gang kecil.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Cara demikian melokalisir teror pada skala kecil yang justru membuat lebih ngeri dibanding film monster umumnya yang seakan ingin main skala besar secepatnya.

Audiens tak melihat sosok si monster tapi dari kehancuran, gelimpangan mayat dan bangkai berceceran yang diakibatka, gambaran mengerikannya sudah begitu kuat.

Begitu saat akhirnya si sumber horror diperlihatkan…hem. Mengingatkan pada CG game zaman PS3? Barangkali terkendala budget tapi mengingat monster ini ternyata mempunyai peran yang lebih penting lagi, agak membingungkan kenapa tampilannya tidak dicoba lebih meyakinkan lagi.

Beruntung aksi cepat dan brutalnya menghujam efektif sampai rasanya kekurangan itu cukup termaafkan.

Kelemahan umum film monster, manusianya, justru menyala di sini.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Sembari tensi terus terjaga, HOPE mampu mengenalkan para karakternya secara singkat baik dengan cerita konyol atau pun sekedar dari bagaimana mereka memburu si monster. Sampai rasanya audiens sudah klop bersama mereka padahal baru sebentar. Polisi wanita Hoyeon (Sung-Ae) tak diperkenalkan bertele-tele, dari cara dia bernafsu mengejar si monster langsung membuat dia memorable.

Aksi tegang dan kadang bisa-bisanya dibumbui komedi memang mewarnai klimaks, tapi juga berasa terlalu diperpanjang. Tambah lagi ternyata film diakhiri dengan cliffhanger yang membuka sisi lain dari para monster. Untung saja paruh awal dan tengahnya cukup kuat sehingga rasa nanggung tak sampai mengganggu.

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

Review Film Hope, Big Trouble In Little Village

HOPE seakan apabila Godzilla plus ALIEN dialami desa kecil di provinsi anda dan cerdas sekali memanfaatkan keunikan itu baik secara sosiologi manusianya dan kulturnya. Mungkin penonton hanya banyak melihat Hope Harbor dalam keadaan hancur tapi bisa jadi warga dan daerahnya lebih membekas di benak penonton dibanding film monster lain. Dan demikian rasanya sungguh key selling point dari film yang barangkali kurang memenuhi ekspektasi fans sutradara Na Hong-Jin paska THE WAILING.

Apakah terus bisa dia kawinkan aspek itu dengan aliennya nanti untuk sekuel yang sudah ditease? We may hope so….

Continue Reading

TV & Movies

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Published

on

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

www.gwigwi.com – John Miller (Alan Ritchson), seorang veteran Perang Vietnam yang bekerja di pabrik perakitan mobil, dijebak atas kejahatan yang tidak ia lakukan oleh Reynolds (Ben Foster), seorang penguasa mafia lokal yang terobsesi pada kekasih John, Sophia (Shailene Woodley).

Divonis 25 tahun di penjara berkeamanan maksimum, John bertahan hidup hanya dengan satu tujuan: keluar dan menuntaskan dendam.

Ketika kesempatan itu tiba, John melancarkan perburuan berdarah menyusuri jalanan Detroit yang dingin dan korup, melintasi jajaran anak buah Reynolds yang dijaga oleh seorang polisi korup bertangan besi (Pablo Schreiber).

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Sutradara Potsy Ponciroli (Old Henry) kembali memamerkan keahliannya dalam mengolah cerita klasik menjadi sajian visual yang segar melalui Motor City.

Setting kota Detroit tahun 1970-an yang kelam, film action-thriller ini mengusung eksperimen berani. Menyajikan kisah balas dendam yang intens dengan dialog yang dipangkas hampir sepenuhnya, menyerahkan seluruh penyampaian emosi pada gestur, aksi, dan desain suara.

Estetika gritty era 70-an dengan warna-warna pudar dan pencahayaan bernuansa neo-noir. Tanpa kata-kata, deru mesin mobil muscle, dentuman senapan, dan koreografi pertarungan menjadi “dialog” utama.

Penggunaan mobil antik, outfit era 70-an, serta lagu-lagu rock klasik memperkuat suasana kota industri yang sedang runtuh.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Menurut gue ini adalah hal yang sangat berani. Serta membuang dialog eksposisi yang membuat penonton harus fokus pada aksi instinktif dan emosi karakter.

Dari jajaran cast, Alan Ritchson memanfaatkan postur fisiknya yang intimidatif secara maksimal. Tanpa bantuan dialog, ia mengandalkan tatapan mata, nafas yang berat, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan kepedihan, rasa kehilangan, serta kemarahan murni.

Begitu juga dengan Ben Foster yang tampil mengintimidasi lewat aura psikologis yang dingin, sementara Pablo Schreiber memberikan ancaman fisik yang seimbang dengan karakter Ritchson.

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Review Film Motor City, Aksi Balas Dendam Tanpa Kata

Buat gue film ini emang cocok-cocokan dengan penonton masa kini. Bagi yang terbiasa dengan dialog cepat atau pacing modern, beberapa transisi babak tengah mungkin terasa berjalan lambat.

Secara keseluruhan, Motor City merupakan penghormatan yang solid terhadap genre action-thriller klasik.

Film ini membuktikan bahwa Alan Ritchson as an actor tidak hanya mengandalkan fisik semata, melainkan juga kemampuan akting non-verbal yang kuat di bawah arahan sutradara yang tepat.

Continue Reading

TV & Movies

Review Film INSIDIOUS OUT OF THE FURTHER, Wahana Rumah Hantu ala The Further

Published

on

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

www.gwigwi.com – Gemma (Amelie Eve) memiliki masa kecil buruk dengan Ibunya (Laura Gordon) dan berniat menjadi Ibu lebih baik untuk anaknya, Maya (ISLAND Austin).

Sampai dia dihantui mimpi mengerikan yang bisa jadi lebih dari sekedar khayalannya dan berhubungan dengan masa lalunya.

Kembali lagi franchisee horror yang film pertamanya sukses meski low budget dan ternyata penonton masih mau kembali mengeksplorasi alam barzah khas INSIDIOUS yakni the further.

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Review Film Insidious Out Of The Further, Wahana Rumah Hantu Ala The Further

Dengan film ke 6 filmmaker seolah bermain dengan konsep untuk mengeksploitasi the further. Setelah dapat, seakan barulah dibuat cerita seputar itu dan rasanya memang demikian.

Motivasi yang trigger emosi penonton seputar hubungan ibu anak dan mencoba memutus trauma generasional. Diselingi permainan ketegangan yang lumayan oke memakai syaitonirojim dan eksplorasi the further, di mana paruh ketiganya memang cukup seru dan tak terduga.

Semuanya fine saja dan mungkin itulah fault dari INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER ini; wahana seram-seraman yang terasa eksploitasi (dalam artian yang masih terbilang baik) franchise saja. Bila penonton senang, sampai INSIDIOUS 11 pun seakan dijabanin BLUMHOUSE PRODUCTION.

INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER seolah hasil dari pikiran; karena penonton masih mau, maka filmmaker akan coba segala hal untuk isi gas franchisenya. Apakah mereka akan menemukan alasan kuat lagi untuk penonton mau kembali menjelajah The Further? We'll see…

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending