Connect with us

News

Selamat Data Vivo V17 Pro Indonesia! Inilah Spesifikasi dan Harganya di Indonesia

Published

on

GwiGwi.com – VIVO tidak mau kehilangan momentumnya yang sudah sangat baik. Kali ini VIVO Indonesia memperkenalkan VIVO V17 Pro, yang sejujurnya menurut saya sangatlah menarik. Hal ini dikarenakan secara total, V17 Pro memiliki total 6 buah kamera, sebuah setup yang sebelumnya saya hanya pernah lihat di sebuah flagship. Berikut adalah fitur, fungsi, spesifikasi, dan harga VIVO V17 Pro di Indonesia.

Dual Pop-Up Selfie + Super Wide-Angle Selfie, Super Night Selfie dan Quad Camera dengan AI di belakang

Salah satu fitur yang menurut saya paling “ajaib” di VIVO V17 Pro adalah disaat semua smartphone akhirnya kembali ke notch atau punch hole, VIVO malah semakin membuang Notch dengan memendam Kamera Selfie melalui mekanisme popup. Tidak hanya itu, popup cameranya disini untuk Selfie ada 2 buah lensa! Salah satu lensanya berfungsi sebagai lensa selfie biasa (normal lens), sedangkan yang satunya lagi merupakan lensa Super Wide-Angle Selfie. Menarik bukan? Bagi kalian penggemar Swafoto, tentunya ini menjadi sebuah kamera yang sangat menarik karena We-fie kalian akan benar-benar bisa memuat semua orang tanpa ada yang kurang!

Sensor yang digunakan beresolusi 32 megapiksel sehingga kualitas yang ditangkap oleh kamera depannya ini tentunya sangat tajam sepertinya, spec-wise. Lalu untuk lensa super wide-angle nya memiliki luas sudut 105′, mendekati kebanyakan “ultra wide-angle” yang ada di beberapa smartphone flagship. Selain itu, si kamera selfie ini juga dikabarkan mampu menangkap selfie pada malam hari yang sangat baik dan jernih. Namun demikian, mungkin akan kita ketahui ini nantinya jika kita sudah bisa coba hands-on (mungkin).

Kemudian di bagian belakangnya kita akan disuguhkan tidak hanya 2 atau 3, tapi 4 lensa kamera sekaligus. Sepertinya memang sekarang smartphone-smartphone yang beredar sedang bertarung untuk memiliki jumlah kamera terlengkap dan terbaik. Sebagai sensor utamanya, ada sensor kamera 48 megapiksel menggunakan Sony IMX582 sebagai sensornya. Dengan lensa utama ini, hasil foto yang dihasilkan dikabarkan akan sangat tajam dan memiliki penangkapan cahaya yang sangat baik.

Lensa lainnya terdiri dari 8 megapiksel lensa ultra-wide-angle seluas 120 derajat yang mampu menangkap area yang lebih luas. Memang secara resolusi lebih kecil, namun ini memang sudah menjadi basis seluruh lensa ultra-wide angle memiliki sensor yang lebih kecil dari lensa utama. Selain itu ada 2 megapiksel sensor kedalaman, serta 1 lagi yang unik adalah 2 megapiksel kamera ultra-macro. Sejujurnya, saya penasaran, sesering apakah sensor ultra-micro ini akan terpakai di kedepannya. Apakah akan menjadi trend smartphone selanjutnya?

Layar Full Display tanpa Notch

Inilah yang mulai membuat saya terheran-heran. Ketika produsen flagship seperti Apple, Samsung, dan sebagainya masih menggunakan pendekatan Notch untuk membuat smartphone mereka lebih luas layarnya tanpa bezel, kenapa produsen dari China memiliki pendekatan yang lebih baik. V17 Pro juga menjadi salah satu contohnya dimana model layarnya adalah full-display tanpa notch. Kameranya tersembunyi dalam popup-camera yang sudah menjadi andalan OPPO, Realme, dan juga VIVO serta OnePlus yang notabene dibawah 1 group yaitu BBK Electronics.

Super E3 Amoled dengan Screen-To-Body Ratio 91.6% menyelimuti si V17 Pro ini. Selain itu, ada juga sensor fingerprint dibawah layar, seperti yang sudah kita pernah temukan sebelumnya di VIVO S1 (review disini). Super E3 Amoled ini juga mengurangi cahaya berbahaya Blue Light yang kerap kita temukan di banyak smartphone, yang digadang bisa merusak mata. Untuk soal warna, VIVO V17 Pro ini hadir dengan 2 warna yaitu Satin Black dan Silk White.

Snapdragon 675AIE + RAM 8GB dengan Memory 128GB

Untuk soal memory, VIVO V17 Pro hanya punya 1 setup yaitu 8GB + 128GB, yang melengkapi prosesornya yaitu Qualcomm Snapdragon 675AIE. Seharusnya dengan setup seperti ini, kebanyakan game bisa dijalankan dengan lancar, walau tidak dalam grafis extreme. Tentu saja itu karena 675 merupakan prosesor midrange, yang pasti masih dibawah 712AIE ataupun 855+. Paling tidak, dengan menggunakan Snapdragon, performa si V17 Pro ini seharusnya cukup oke dibandingkan jika ia menggunakan MediaTek.

Untuk soal OS, si VIVO V17 Pro ini menggunakan Android Pie 9.0 sayangnya belum Android 10, ditemani dengan Funtouch OS 9.1 yang merupakan skin dari VIVO untuk semua smartphonenya.

Overall, menurut saya ini merupakan smartphone yang menarik, hanya karena kameranya saja. Untuk soal spesifikasi lainnya, sepertinya banyak pula smartphone serupa yang tidak kalah canggih. Namun karena adanya 4+2 kamera disini atau ditotal hingga 6 kamera, seharusnya hasil-hasil foto dari VIVO V17 Pro ini bisa dibilang sangat oke.

Lalu untuk soal harga, VIVO V17 Pro dikabarkan akan punya price-point lebih murah daripada di India yaitu Rp 5,699 juta dimana di India diperkirakan sekitar 5.9 juta. Dengan 6 kamera saja, apakah harga tersebut bisa menjadi acuan yang cukup baik? Terutama kalau dibandingkan ada merk lain dengan prosesor yang lebih baik juga memiliki 4 kamera dibelakang.

Untuk saat ini kita di GwiGwi.com masih belum tau total performanya seperti apa, hingga mungkin nanti akan coba kita hands-on dan review saat smartphone tersebut sudah masuk kedalam pasar.

Spesifikasi Lengkap VIVO V17 Pro

Spesifikasi Dasar

Processor

Qualcomm Snapdragon 675AIE Octa-core

RAM

8GB

Storage

128GB ROM

Baterai

4100 mAh

Fast Charging

Dual-Engine Fast Charging

Warna

Satin Black, Silk White

Sistem Operasi

Funtouch OS 9.1 (Berdasarkan pada Android 9.1)

Tampilan

Layar

6.44 inch

Resolusi

1080*2400 FHD+, Super AMOLED

Kamera

Flash

Lampu Kilat Depan + Lampu Kilat Belakang

Mode/ Fitur

Retina Flash,AR Stickers,AI Face Beauty,Watermark,AI Softlight, AI Scene Recognition, Framing Lines, AI Body Shaping, AI Super Wide-Angle, AI Super Night Mode, Ultra-clear Picture Quality, Document Correction, Professional Photography, Slow Motion, Time-lapse Photography, Filters, Dynamic Photographs, AI Smart Dual Camera, Single Front Bokeh Camera, AI Backlight Photography, AI Beauty, Rear Panorama Camera, Front Panorama Camera, 4K Video, Gender Beauty, Self-timer Screen Lighting, super macro, HD video, Pose Guide, HDR, AR Portrait, Optical Zoom, AI Make Up, Dark Mode, Geographic Locations, Mirrored Selfie, AI Portrait Framing

Koneksi

Wi-Fi

2.4GHz/5GHz

Bluetooth

Bluetooth 5.0

USB

TYPE-C

Jaringan

SIM Slot Tipe

2 Nano SIM, Dual Nano SIM – Dual Standby

2G GSM, 3G WCDMA, 4G FDD-LTE ,4G TDD-LTE

Lokasi

GPS, GLONASS, Beidou

Sensors

Fingerprint

Accelerometer

Ambient light sensor

Proximity Sensor

E-compass

Gyroscope

Media

Hi-Fi Chipset

Tidak didukung

Pemutaran Audio

WAV, MP3, MP2, AMR-NB, AMR-WB, MIDI, Vorbis, APE, FLAC

Pemutaran Video

MP4, 3GP, AVI

Format Rekaman Video

MP4

Rekaman Suara

Didukung

Di Dalam Kotak

Screen Touch ID
Accelerometer
Ambient Light Sensor
Proximity Sensor
E-compass
Gyroscope

Advertisement

News

Kreator Haganai Yomi Hirasaka Resmi Pensiun dari Dunia Menulis

Published

on

By

Kreator Haganai Yomi Hirasaka Resmi Pensiun Dari Dunia Menulis

Yomi Hirasaka, penulis yang dikenal melalui seri Boku wa Tomodachi ga Sukunai atau Haganai, mengumumkan bahwa dirinya telah memutuskan untuk pensiun dari aktivitas menulis. Keputusan tersebut disampaikan setelah ia menyelesaikan sejumlah proyek utama yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya.

Hirasaka menjelaskan bahwa keputusan untuk berhenti menulis bukan disebabkan oleh masalah kesehatan maupun kelelahan akibat pekerjaan. Ia memilih mengakhiri karier karena merasa sudah mencapai kondisi finansial yang cukup untuk menjalani kehidupan tanpa harus terus menghasilkan karya baru.

Dengan kondisi tersebut, Hirasaka ingin menikmati hasil dari kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Ia merasa berbagai karya yang telah dibuat sebelumnya sudah memberikan pencapaian yang cukup untuk memasuki fase baru dalam kehidupannya.

Salah satu proyek yang menjadi penutup perjalanan kariernya adalah A Salad Bowl of Eccentrics. Volume ke-10 sekaligus volume terakhir seri tersebut telah diterbitkan pada 17 Juli 2026. Penyelesaian novel tersebut juga menjadi bagian dari komitmen Hirasaka untuk menuntaskan karya-karya besarnya sebelum benar-benar meninggalkan profesi sebagai penulis.

Nama Yomi Hirasaka sendiri sudah cukup dikenal di industri light novel Jepang. Salah satu karyanya yang paling populer adalah Boku wa Tomodachi ga Sukunai, yang lebih dikenal dengan nama Haganai. Seri tersebut berhasil mendapatkan perhatian luas dan kemudian diadaptasi menjadi anime.

Sepanjang kariernya, karya-karya Hirasaka dilaporkan telah mencapai lebih dari 7 juta kopi dalam penjualan. Selain Haganai, beberapa karyanya juga mendapatkan adaptasi anime, sehingga namanya semakin dikenal oleh penggemar anime dan light novel.

Total terdapat tiga karya Hirasaka yang mendapatkan adaptasi anime, menunjukkan pengaruh sejumlah novelnya terhadap industri hiburan Jepang.

Keputusan pensiun ini menjadi penutup dari perjalanan panjang Hirasaka sebagai penulis. Alih-alih meninggalkan profesi karena tekanan pekerjaan atau kondisi kesehatan, ia memilih berhenti setelah merasa telah mencapai target yang diinginkan.

Kini, Hirasaka dapat menikmati hasil dari berbagai karya yang telah dibuatnya selama bertahun-tahun. Bagi penggemar Haganai dan karya lainnya, keputusan tersebut tentu menandai berakhirnya salah satu perjalanan kreator yang telah menghasilkan sejumlah judul populer di dunia light novel Jepang.

Continue Reading

News

Gabe Newell Disebut Pernah Berlatih Nyanyian Tenggorokan Mongolia Selama 5 Bulan di Valve

Published

on

By

Gabe Newell Disebut Pernah Berlatih Nyanyian Tenggorokan Mongolia Selama 5 Bulan Di Valve

Minh “Gooseman” Le, salah satu kreator Counter-Strike, membagikan cerita menarik mengenai masa kerjanya bersama Valve. Dalam sebuah wawancara, Le menceritakan kebiasaan tidak biasa yang pernah dilakukan Gabe Newell, salah satu pendiri Valve, ketika berada di kantor perusahaan.

Menurut Le, Newell sempat menghabiskan waktu sekitar lima bulan untuk mempelajari teknik nyanyian tenggorokan Mongolia atau Mongolian throat singing. Menariknya, latihan tersebut disebut dilakukan hampir setiap hari di lingkungan kantor Valve.

Ketertarikan Newell terhadap teknik vokal tersebut bermula setelah dirinya menonton sebuah dokumenter yang membahas nyanyian tradisional Mongolia. Setelah mengetahui teknik tersebut, ia kemudian tertarik untuk mempelajarinya secara langsung.

Le menceritakan bahwa Newell bahkan kerap berjalan menyusuri lorong kantor sambil berlatih. Aktivitas tersebut tentu menghasilkan suara yang cukup keras dan akhirnya menarik perhatian karyawan lain.

Suara latihan yang terdengar dari lorong bahkan disebut membuat sejumlah karyawan merasa terganggu. Beberapa di antaranya memilih menutup pintu ruang kerja masing-masing ketika Newell mulai berlatih.

Meski demikian, kebiasaan tersebut ternyata tidak berlangsung selamanya. Setelah kurang lebih lima bulan, Newell akhirnya berhenti berlatih nyanyian tenggorokan dan kemudian mulai tertarik pada hobi lain.

Salah satu hobi berikutnya yang diceritakan Le adalah ketertarikan Newell terhadap senjata tajam dan benda-benda bergaya abad pertengahan. Menurut cerita tersebut, ia mulai mengoleksi berbagai jenis pisau dan bahkan memenuhi ruangannya dengan sejumlah kapak serta pedang.

Cerita tersebut menjadi salah satu bagian menarik dari pengalaman Le selama bekerja di Valve. Alih-alih membahas perkembangan game atau bisnis perusahaan, kisah ini justru memperlihatkan sisi lain dari kehidupan sehari-hari di lingkungan studio pengembang yang dikenal lewat Half-Life, Portal, Dota 2, dan Counter-Strike.

Minh Le sendiri merupakan salah satu sosok penting dalam sejarah Counter-Strike. Ia mengembangkan modifikasi Half-Life bersama Jess Cliffe yang kemudian berkembang menjadi salah satu franchise FPS terbesar di industri game.

Sementara itu, cerita mengenai hobi Gabe Newell tersebut menjadi pengalaman pribadi yang dibagikan Le dalam konteks kenangannya selama berada di Valve. Detail tersebut tidak berkaitan dengan proyek game tertentu, tetapi memberikan gambaran unik mengenai suasana kerja di balik salah satu perusahaan game terbesar di dunia.

Continue Reading

News

SophieChat: AI Resmi Diumumkan, Aplikasi Percakapan dengan xdari Atelier

Published

on

By

Setelah menghadirkan RyzaChat AI, Koei Tecmo kembali memperkenalkan proyek serupa yang mengambil karakter dari franchise Atelier. Kali ini, perusahaan mengumumkan SophieChat: AI, sebuah aplikasi resmi berlisensi yang memungkinkan penggemar berinteraksi dengan Sophie Neuenmuller dari seri Atelier Sophie.

Aplikasi tersebut masih berada dalam tahap pengembangan dan direncanakan hadir dalam waktu dekat. Pengembangannya dipercayakan kepada SpiralAI, dengan konsep utama berupa pengalaman percakapan berbasis kecerdasan buatan. Melalui aplikasi ini, pengguna nantinya dapat berbicara dengan Sophie menggunakan teks maupun suara.

SophieChat menawarkan beberapa fitur yang dirancang untuk membuat interaksi terasa lebih personal. Pengguna dapat mengirimkan pesan melalui mode teks dan memperoleh respons dari Sophie. Selain itu, tersedia opsi untuk mendengarkan jawaban menggunakan suara karakter, termasuk fitur ASMR yang menghadirkan suara Sophie dengan gaya bisikan dari jarak dekat.

Gaya percakapan juga dapat disesuaikan sesuai kebutuhan pengguna. Mode teks menjadi pilihan bagi mereka yang ingin berinteraksi dengan Sophie secara praktis, sementara fitur suara memberikan pengalaman yang lebih imersif.

Menariknya, Koei Tecmo turut menjelaskan pendekatan mereka dalam menjaga keterlibatan kreator asli. Ilustrasi yang digunakan dalam aplikasi tidak dibuat menggunakan teknologi image-generating AI. Materi visual tersebut dikerjakan secara manual dengan pengawasan NOCO, desainer karakter asli Atelier Sophie.

Dari sisi audio, suara Sophie akan menggunakan rekaman khusus dari Yuka Aisaka, pengisi suara karakter tersebut. Koei Tecmo menyatakan bahwa rekaman tersebut dibuat dengan izin langsung dari sang pengisi suara. Pengembang juga menegaskan bahwa mereka tidak menggunakan suara tanpa izin untuk melatih sistem AI.

Saat ini, SophieChat: AI telah membuka pra-registrasi menggunakan alamat email. Namun, tahap awal pendaftaran masih dibatasi untuk pengguna yang berada di Jepang.

Aplikasi ini menjadi bagian dari proyek resmi berlisensi yang juga dirancang untuk memberikan sebagian pendapatan kepada kreator yang terlibat. Koei Tecmo belum mengungkap tanggal rilis SophieChat secara pasti dan berencana membagikan in

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending