Connect with us

TV & Movies

Rina Takeda & Shogo Hama berpose untuk Poster teaser untuk Film “Napoleon and Me”

Published

on

GwiGwi.com – Poster teaser ditambahkan untuk film “Napoleon dan Me” Dibintangi Rina Takeda & Shogo Hama. Judul di poster teaser menyatakan “Aku tidak akan menyerah padaku.” Sementara itu, tanggal rilis film tersebut ditetapkan pada 2 Juli 2021 di Jepang.

Plot Sinopsis oleh AsianWiki: 28 tahun Haruko Oohara (Rina Takeda) bekerja sebagai asisten penjualan di Perusahaan Produksi WEB. Dia tidak pernah mengalami kebahagiaan sejati. Dia naksir rekan kerjanya Shingo Iwata (Toshiyuki Someya). Suatu hari, ketika Haruko Oohara sedang memasang permainan kencan, Napoleon (Shogo Hama) muncul di layar. Napoleon mengatakan kepadanya bahwa dia akan membantunya menemukan kebahagiaan sejati.

AsianWiki

Advertisement

Box Office

Review The Death of Robin Hood, Akhir Tragis Sang Legenda

Published

on

Review The Death Of Robin Hood, Akhir Tragis Sang Legenda

www.gwigwi.com – Berapa banyak versi Robin Hood yang sudah kita saksikan di layar lebar? Mulai dari aksi teatrikal Errol Flynn, pesona klasik Kevin Costner, hingga versi taktis Russell Crowe. Kita terbiasa melihat Robin Hood dalam masa kejayaannya: muda, tangkas, memegang busur dengan presisi mematikan, dan meneriakkan keadilan di tengah Sherwood Forest. Film The Death of Robin Hood melompati era kejayaan sang pencuri budiman. Kita mendapati Robin Hood (Hugh Jackman) dalam kondisi yang mengenaskan. Ia sudah menua dan dihantui oleh bayang-bayang masa lalunya yang penuh darah dan pertempuran.

Review The Death Of Robin Hood, Akhir Tragis Sang Legenda

Robin Hood bukan lagi simbol harapan, melainkan hanya orang tua yang lelah dan tersisih dari dunia yang terus bergerak maju. Dalam pertarungan nya yang terakhir, ia terluka parah dan diselamatkan oleh seorang biarawati (Jodie Comer). Pertemuan ini bukanlah awal dari petualangan baru, melainkan sebuah ruang refleksi dan sebuah kesempatan bagi Robin untuk berdamai dengan takdirnya sebelum ajal menjemput. Film garapan Michael Sarnoski membuktikan sekali lagi bahwa ia adalah master dalam memotret kerapuhan pria-pria tangguh.

The Death of Robin Hood menanggalkan romantisasi kehidupan seorang penyamun. Hutan Sherwood tidak lagi digambarkan sebagai tempat persembunyian yang magis, melainkan tempat yang dingin, basah, dan tak kenal ampun. Film ini menggali pertanyaan mendalam: Apa yang terjadi pada simbol perlawanan ketika ia tidak lagi mampu menarik tali busurnya? Hugh Jackman memberikan salah satu performa paling subtil dan emosional dalam kariernya.

Review The Death Of Robin Hood, Akhir Tragis Sang Legenda

Fisiknya yang menua dan tatapan matanya yang redup menyampaikan rasa sakit yang mendalam baik fisik maupun eksistensial. Ini adalah penampilan yang mengingatkan kita pada perannya di Logan (2017), namun dengan tempo yang jauh lebih tenang, meditatif, dan minim ledakan amarah. Ia berhasil menampilkan sosok singa tua yang menyadari bahwa masanya telah habis. Sementara Jodie Comer tampil sebagai kontras yang luar biasa. Karakter yang ia bawakan bukan sekadar plot device untuk merawat Robin, melainkan representasi dari dunia luar yang rasional dan skeptis terhadap mitos.

Interaksinya dengan Jackman membentuk inti emosional film; dinamika mereka tumbuh organik melalui dialog-dialog sunyi yang sarat akan subteks tentang penebusan dosa (redemption) dan penerimaan diri. Dari segi visual, film ini adalah sebuah puisi visual yang muram. Memanfaatkan pencahayaan alami (natural lighting), kabut tebal, dan palet warna bumi (earthy tones), sinematografer berhasil mempertegas atmosfer senjakala. Kamera seringkali terpaku pada gestur-gestur kecil tangan yang gemetar saat memegang anak panah, atau helaan napas berat di tengah keheningan.

Review The Death Of Robin Hood, Akhir Tragis Sang Legenda

Pacing sengaja dibuat lambat, memberikan ruang bagi penonton untuk merasakan beratnya setiap detik yang tersisa dalam hidup Robin Hood. Secara keseluruhan, The Death of Robin Hood bukanlah film tentang bagaimana seorang pahlawan hidup, melainkan tentang bagaimana manusia di balik pahlawan tersebut memilih untuk mati. Jika Gwiple datang ke bioskop mengharapkan film aksi petualangan dengan panah yang beterbangan setiap lima menit atau trik-trik cerdik mengelabui Sheriff Nottingham, film ini jelas akan mengecewakan Anda.

Review The Death Of Robin Hood, Akhir Tragis Sang Legenda

Namun, jika kita ingin mencari sebuah drama psikologis yang mendalam, puitis, dan menyentuh hati tentang akhir dari sebuah hidup yang penuh kekerasan, film ini adalah sebuah mahakarya yang sunyi. Michael Sarnoski berhasil memberikan upacara pemakaman yang indah, terhormat, dan sangat manusiawi bagi salah satu legenda terbesar dalam sejarah fiksi dunia.

Film ini mengingatkan kita bahwa pada akhirnya, yang paling berharga dari sebuah legenda bukanlah keabadian fisiknya, melainkan bagaimana ia menginspirasi kemanusiaan kita.

Skor Akhir: 8.8/10

Continue Reading

Box Office

Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli dari Vietnam

Published

on

Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli Dari Vietnam

www.gwigwi.com – Pada akhir Juni 2026 ini, setelah Gwiple sering disuguhi film-film horor Asia asal Korea, China, Jepang, dan Thailand; sebuah film horor asal Vietnam mencoba peruntungannya untuk tayang di Indonesia. Phi Phong yang diproduksi oleh Bluebells Studio dan disutradarai oleh Do Quoc Trung merupakan kisah legenda horor suku gunung di Vietnam dimana iblis berwujud wanita memburu hewan-hewan bahkan manusia untuk dihisap darahnya, bahkan phi phong dapat menyaru menjadi manusia. 2 saudara Con (Kieu Minh Tuan) dan Duong (Minh Anh) mencari ibunya yang berprofesi sebagai shaman yang dikabarkan terluka di sebuah desa di pegunungan.

Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli Dari Vietnam

Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli Dari Vietnam

Con tidak sehebat ibunya namun ia mengetahui beberapa jurus untuk mengusir iblis sedangkan adiknya Duong dapat melihat hantu dan roh penasaran. Dari cerita kepala desa, sang ibu membantu shaman lokal dalam menyegel ulang hantu phi phong namun ritualnya menjadi kacau dan shaman desa mati sedangkan ibunya Con dan Duong terluka parah. Saat Con dan Duong mencoba membawa ibu mereka kembali ke kota, sebuah kecelakaan aneh menimpa mereka dan terpaksalah mereka kembali ke desa terkutuk itu. Suasana di desa semakin bertambah seram ketika kepala desa mati dengan kondisi mengerikan dan anak kepala desa juga terluka parah. Con dan Duong harus cepat menemukan iblis tersebut sebelum mereka juga menjadi korban balas dendam dari phi phong.

Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli Dari Vietnam

Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli Dari Vietnam

Banyak plot twist dalam film ini yang dijaga dengan rapi dan membuat Gwiple dapat terus bertanya-tanya asal usul phi phong dan apa motifnya menarget kepala desa dan shamannya. Sayangnya akhir cerita kurang memuaskan karena phi phong-nya tidaklah seperti yang digadang-gadang dan dengan premise iblis itu senang menghisap darah, film ini tidaklah gory. Untuk film horor Vietnam yang pertama tayang di Indonesia, Phi Phong cukup menegangkan tanpa mengandalkan jump scare asal-asalan dan dapat menjadi pilihan film horor di bioskop selain film-film horo dari Indonesia yang suplainya seakan tidak habis.

Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli Dari Vietnam Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli Dari Vietnam

Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli Dari Vietnam

Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli Dari Vietnam

 

Continue Reading

TV & Movies

Review Film Toy Story 5: Toys Vs Devices

Published

on

Review Film Toy Story 5: Toys Vs Devices

www.gwigwi.com – Toy Story, salah satu IP milik Pixar-Disney yang masih kuat bertahan di industri perfilman dunia pada tahun 2026 ini kembali menghibur seluruh kalangan Gwiple di bioskop-bioskop.

Seri ke-5 ini menitikberatkan pada pengalaman Jessie (Joan Cusack) yang masih mengalami PTSD saat ditinggalkan oleh pemilik pertamanya, yaitu Emily.

Review Film Toy Story 5: Toys Vs Devices

Review Film Toy Story 5: Toys Vs Devices

Walaupun ia dan Buzz (Tim Allen) beserta teman-teman mainan lainnya masih bahagia karena dimiliki oleh Bonnie (Scarlett Spears) namun Jessie tetap tidak bisa melupakan Emily dan merasa takut suatu saat Bonnie akan meninggalkannya juga.

Kekhawatirannya semakin menjadi-jadi saat orang tua Bonnie membelikannya Lilypad (Greta Lee), sebuah tablet khusus anak-anak berwujud kodok yang dengan cepat menjadi mainan favoritnya Bonnie.

Jessie harus menerima kenyataan bahwa makin banyak anak (dan juga orang tua) yang sudah ketergantungan dengan berbagai device dan gadget.

Review Film Toy Story 5: Toys Vs Devices

Review Film Toy Story 5: Toys Vs Devices

Jessie tidak menyukai Lilypad dan begitu juga sebaliknya karena Lilypad yakin bahwa ia dapat membuat Bonnie memiliki banyak teman online.

Dalam persaingan untuk membuat Bonnie memiliki teman main, Jessie dan Bullseye tidak sengaja tersasar dan ditemukan sepasang nenek dan kakek yang mengirim mereka ke ranch tempat Emily dulu tinggal.

Namun sekarang ditinggali oleh seorang anak bernama Blaze (Mykal-Michelle Harris )dan keluarganya. Jessie berkenalan dengan trio gadget tua yaitu Smartypants ( Conan O’Brien) si pelatih penggunaan toilet untuk anak-anak, Atlas (Craig Robinson) alat GPS berwujud kuda nil, dan Snappy (Shelby Rabara) si digital camera mini.

Review Film Toy Story 5: Toys Vs Devices

Review Film Toy Story 5: Toys Vs Devices

Jessie pun melihat bahwa Blaze juga senang bermain dengan mainannya serta memiliki imajinasi yang sangat kreatif mirip dengan Bonnie karenanya Jessie merencanakan agar Blaze dapat bertemu dengan Bonnie.

Mungkin ada sebagian dari Gwiple merasa sangsi dengan film ke-5 ini dan merasa IP ini sudah terlalu lama eksis. Namun percayalah bahwa para anggota tim di balik Toy Sotry masih dapat memberikan cerita yang bermakna namun tetap menghibur terutama bagi anak-anak.

Sebagaimana Woodie mencari tujuan hidupnya di film ke-4 dengan mendedikasikan dirinya untuk menyelamatkan mainan-mainan yang terbuang/dibuang; Jessie di dalam film ini berupaya mengatasi PTSD ditinggalkan oleh manusianya dengan berupaya membuat Bonnie memiliki teman main walaupun konsekuensinya adalah ia nanti akan ditinggalkan oleh Bonnie seiring umurnya bertambah terus.

Pesan lainnya adalah pentingnya orang tua dapat membagi waktu anak-anak dalam menggunakan devices dengan permainan lainnya agar anak-anak tetap dapat menumbuhkan kreatifitas dan imajinasi mereka.

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending