Berita Anime & Manga
Review: Kuroko no Basuke 3 Episode 1 (Episode 51)
[alert-warning]SPOILER ALERT! Read at your own risk[/alert-warning]
GwiGwi.com – Setelah menunggu kurang lebih setahun, Kuroko no Basket kini kembali hadir dalam sekuel ketiganya. Kuroko no Basuke 3 merupakan salah satu sekuel anime yang paling ditunggu musim ini setelah Tokyo Ghoul, Durarara!, dan Aldnoah.Zero. Tanpa basa basi lagi, saya akan memberi ulasan tentang episode kali ini. Episode ini merupakan kelanjutan dari episode sebelumnya (Kuroko no Basuke 2 Episode 50). Cerita bermula saat pemain-pemain Seirin sedang membahas tentang wawancara di ruang ganti pemain. Ini artinya tim mereka sudah mulai diperhatikan.
http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/KnB3-11_zpsf5e68092.jpg
Saat wawancara, awalnya wartawan dan kameramen memuji perjuangan tim Seirin di Winter Cup kali ini mengingat tim Basket Seirin baru dibentuk dua tahun. Lalu, mereka menanyakan pertandingan mana yang berkesan bagi tim mereka. Awalnya mereka bingung, akhirnya Hyuga menjawab yaitu saat melawan Shutoku di babak kualifikasi Winter Cup. Jika kalian menonton season sebelumnya pasti kalian tahu betapa sengitnya pertandingan ini sehingga skor mereka harus berakhir seri saat itu.
http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/Shutoku_zpsb4497e6b.jpg
Menurut Aida Riko, pertandingan yang paling berkesan adalah saat melawan Touou karena pertandingan itu membuat Kagami sangat menonjol. Seperti yang kita ketahui sebelumnya, dalam pertandingan ini Kagami dan Aomine bertanding dengan sangat cepat dan sengit karena mereka berdua sedang berada dalam Zone.
http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/Touou_zpsbe864caa.jpg
Lalu mereka pun beralih ke Kuroko. Mereka memuji Kuroko yang selalu membantu tim menghindari kekalahan dalam setiap pertandingan. Setelah wawancara, cerita pun beralih ke Himuro dan Alex yang sedang berada di luar stadion. Alex memuji pertandingan yang baru saja dilihatnya. Namun, saat mereka berdua sedang mengobrol muncul seorang pemain berandalan yang belum diketahui timnya. Pemain itu berbicara dengan gaya yang menyebalkan sehingga membuat Alex jengkel. Saat mulai terjadi pertengkaran antara mereka berdua, Himuro pun melerai mereka dan membiarkan pemain berandalan itu berbicara. Tapi pemain itu malah melayangkan pukulan ke arah Himuro.
http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/Berandalan_zpsf00c6913.jpg
Cerita pun beralih ke dalam lapangan saat tim Kaijo dan lawannya sedang melakukan pemanasan sebelum bertanding. Kise tampak serius karena teringat saat menonton video tim lawannya semalam.
http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/Semalam_zps57e0c18a.jpg
Lagi-lagi cerita beralih ke Himuro yang hendak dipukul pemain berandalan tadi. Himuro berhasil menghindar pukulan namun pemain itu langsung menendang perut Himuro hingga terjatuh. Tak berapa lama, Kagami datang ke tempat itu dan terkejut melihat pemain berandalan itu mencekik leher Alex dan mengangkatnya ke atas.
http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/Cekik_zps98a82f7d.jpg
Di saat yang bersamaan, karena suatu alasan Kise berhenti melakukan pemanasan dan pergi ke suatu tempat. Pertikaian pun terjadi antara Kagami dan pemain berandalan itu. Di tengah pertikaian itu, tiba-tiba ada bola basket yang terlempar ke arah pemain itu. Spontan dia langsung menangkapnya dengan satu tangan. Yang melempar tak lain tak bukan adalah Kise. Setelah ditanyai Kagami, Kise pun menjelaskan identitas pemain berandalan itu. Dia adalah Haizaki Shogo, dulunya dia adalah pemain reguler SMP Teiko sebelum Kise. Karena suka melakukan kekerasan dia pun dipaksa untuk berhenti dari tim oleh Akashi. Saat Kise berhenti bicara, Haizaki pun berbicara bahwa dia ingin merebut gelar Kiseki no Sedai (Generasi Keajaiban). Kise pun mengatakan kepada Kagami untuk tidak ikut campur karena dia ingin melawan Kagami di babak selanjutnya dengan mengalahkan Haizaki.
http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/Serius_zps898c65d8.jpg
Cerita pun kembali beralih ke lapangan saat pertandingan antara SMA Kaijo dan Akademi Fukuda Sogo hendak dimulai. Semangat Kise terlihat dari raut wajahnya saat melihat Haizaki. Pertandingan akan dimulai di episode selanjutnya~
http://i1153.photobucket.com/albums/p504/gwigwicom/End_zps2f21c78e.jpg
Setelah menonton episode ini, saya menjadi penasaran kira-kira seberapa hebat Haizaki itu. Seperti season sebelumnya, anime tetap menarik untuk ditonton. Yap sekian review kali ini dan sampai jumpa di episode berikutnya~
Berita Anime & Manga
Review Tomb Raider King Eps.1-2
Sama-sama mengusung tema dungeon crawling seperti Solo Leveling, mampukah adaptasi anime Tomb Raider King meraih kesuksesan yang sama? Simak ulasan dua episode pertamanya di sini.
www.gwigwi.com – Dikhianati kontraktornya, “Tomb Raider” Jooheon Suh hampir saja mati di sebuah makam/tomb berisikan relik ajaib saat tetiba dia kembali 15 tahun lalu saat God’s Tombs ajaib belum bermunculan. Bertekad untuk membalas, berbekal pengetahuan dan keahliannya, dia pergi mengoleksi berbagai elik dengan tangannya sendiri.
TOMB RAIDER KING dianimasikan! Manhwa karya Sanji Jiksong ini tampaknya ingin ikut mencicipi kesuksesan SOLO LEVELING. Sesama sub genre Lit-RPG (cerita dengan mekanisme gim) dan dungeon crawling, mampukah mereka meraup harta kesuksesan yang sama?
Menjanjikan petualangan, misteri, atraksi aksi yang dibumbui strategi cerdik tak terduga, TOMB RAIDER KING memiliki banyak key selling point buat penyuka sub genre ini.
Cerita dengan cerdas tidak dimulai dari awal mula karir Jooheon. Penonton langsung disuguhi misteri pengkhianatan, kenapa dia bisa kembali ke masa lalu dan protagonis yang sudah jago, cepat memahami situasi dan langsung bertindak.
Alur ringkas cepat ini membantu memaku perhatian saat animasi dan art style gambar terasa cukup saja. Sisa informasi world building dieksposisikan tokoh utama sambil jalan yang untungnya lore TOMB RAIDER KING ini cukup sederhana dan mudah dicerna.
Mungkin karena keliatan sederhana ini juga, rasanya dunianya kurang terasa spesial. Tomb yang didatangi Jooheon saat baru sadar terinspirasi dari kisah populer ‘Kapak Emas’ dari dongeng Aesop. Memang boleh saja terinspirasi demikian, tapi seperti kurang ada polesan unik ala TOMB RAIDER KING itu sendiri. Ya, ada twist berbeda, namun kurang terasa menghentak.
Entah karena Jooheon yang digambarkan dengan istilah “OP” atau over power kah? Pemuda ini sudah sakti, pede, cerdas, pokoknya wah. Dari dua episode ini, belum ada tantangan berarti mau itu dari menghajar orang atau melawan monster. Fokus memperlihatkan hebatnya dia memang boleh saja, tetapi cerita seperti lupa memberikan suspense atau pembeda dari sub genre yang sama saat sekarang dunia sudah mengenal SOLO LEVELING dan SHANGRI-LA FRONTIER (tentang petualangan seorang gamer di dunia gim, Shangri-La Frontier).
Rakurou Hizutome atau Sunraku, protagonis SHANGRI-LA FRONTIER memang jago tapi diperlihatkan juga dia tidak bisa memakai armor hingga terkena serangan sekali saja sudah fatal. Hal demikian belum ada di TOMB RAIDER KING. Karakter Jooheon terkesan power fantasy untuk para pembaca merasa strong dan kurang memiliki kedalaman lain supaya audiens bisa relate, malahan dia kadang terasa angkuh menyebalkan.
Bila ingin sekedar melihat protagonis doing cool, strong, smart stuff dibumbui misteri dan petualangan, dan diakhiri dengan mendapat harta yang bisa bikin lebih cool, strong, smart lagi, TOMB RAIDER KING mungkin bisa jadi pilihan.

Review Tomb Raider King Eps.1 2
Berita Anime & Manga
Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 2: Otak Di Atas Otot, Kemenangan Strategi Tanpa Cheat!
www.gwigwi.com – Banyak anime fantasi memulai cerita dengan tokoh utama yang dibuang karena dianggap tidak berguna. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System mengambil pendekatan yang sedikit berbeda. Masalah Elymas bukan karena ia lemah, melainkan karena semua orang terlalu cepat menyimpulkan nilai seseorang hanya dari label kelas yang ia terima. Gelar Heavy Knight dianggap sebagai jalan buntu, sementara Swordmaster diperlakukan seperti satu-satunya masa depan yang layak. Keputusan ayahnya mengusir Elymas dan mengangkat adik tirinya dari cabang keluarga sebagai pewaris terasa lebih sebagai cerminan obsesi terhadap status daripada keputusan yang benar-benar rasional.
Yang menarik, Elymas tidak menghabiskan waktunya untuk meratapi nasib atau berteriak ingin balas dendam. Ia justru melihat pengasingan itu sebagai kesempatan memulai hidup tanpa ekspektasi keluarganya. Berbekal pengetahuan tentang mekanisme dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah membaca seluruh buku panduan, setiap keputusan yang diambil terasa penuh perhitungan. Kekuatan utama anime ini bukan aksi besar pada dua episode pertama, melainkan kepuasan melihat seseorang perlahan membalikkan stigma dengan logika, pengalaman, dan strategi.
Dari sisi produksi, GoHands kembali mempertahankan identitas visualnya. Desain karakter terlihat bersih dengan pencahayaan yang kaya, sementara latar memiliki detail yang membuat dunia fantasinya terasa hidup. Sayangnya, gaya penyutradaraan mereka masih sulit diabaikan. Kamera terus bergerak, melakukan panning, zoom in, dan zoom out bahkan ketika adegannya hanya percakapan sederhana. Ada momen ketika pergerakan kamera justru lebih aktif daripada karakter yang sedang berbicara. Bagi sebagian penonton ini menjadi ciri khas, tetapi bagi yang lain justru terasa mengalihkan perhatian dari cerita.
Dua episode pembuka ini belum menawarkan kejutan besar, tetapi berhasil menanam rasa penasaran. Anime ini tidak mencoba meyakinkan penonton bahwa Heavy Knight adalah kelas terkuat. Sebaliknya, ia mengajak penonton mempertanyakan apakah sebuah sistem benar-benar salah, atau manusianya saja yang terlalu cepat memberi cap pada sesuatu yang belum dipahami. Pendekatan tersebut membuat perjalanan Elymas terasa lebih menarik daripada sekadar kisah “tokoh yang diremehkan lalu menjadi overpowered.”
Nilai: 8,5/10. Premisnya memang familier, tetapi cara membangun karakter utama dan tema tentang prasangka terhadap potensi seseorang membuat serial ini memiliki identitas yang cukup kuat. Jika GoHands sedikit mengurangi “kamera yang hiperaktif”, pengalaman menontonnya akan terasa jauh lebih nyaman.

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2
Berita Anime & Manga
Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas yang Ternyata Overpowered!
www.gwigwi.com – Anime fantasi dengan tema tokoh utama yang diusir keluarganya memang bukan hal baru. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System (Tsuihou sareta Tensei Juukishi wa Game Chishiki de Musou suru) menghadirkan konflik yang cukup menarik sejak episode pertamanya. Elymas, putra keluarga bangsawan Edvaughn, dianggap gagal memenuhi harapan karena memperoleh kelas Heavy Knight, kelas yang dipandang tidak memiliki masa depan dibandingkan Swordmaster. Pandangan sempit tersebut membuat ayahnya mengambil keputusan yang sangat drastis.
Situasi semakin rumit ketika Malice, adik tiri Elymas yang berasal dari cabang keluarga, memperoleh kelas Swordmaster. Berbekal status tersebut, Malice dengan cepat menggantikan posisi Elymas sebagai pewaris resmi keluarga Edvaughn. Kudeta terhadap hak waris itu berlangsung tanpa banyak perlawanan karena seluruh keluarga lebih memilih mengejar prestise daripada menilai kemampuan seseorang secara objektif. Adegan ini menjadi fondasi konflik utama serial, sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah label mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.
Menariknya, Elymas tidak tenggelam dalam amarah atau sibuk merencanakan balas dendam. Ia menerima pengasingannya sebagai awal kehidupan baru. Berkat pengetahuannya mengenai sistem dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah menguasai seluruh mekanisme permainan, Elymas menyadari bahwa Heavy Knight bukanlah kelas yang seburuk anggapan banyak orang. Cara berpikirnya yang tenang dan penuh perhitungan membuat tokoh utama terasa berbeda dibanding protagonis fantasi pada umumnya yang sering mengandalkan ledakan emosi.
Dari sisi visual, GoHands kembali mempertahankan ciri khasnya. Desain karakter terlihat tajam dengan efek pencahayaan yang kaya, sementara latar dunia fantasinya memiliki detail yang memanjakan mata. Sayangnya, gaya sinematografi mereka masih menjadi pedang bermata dua. Kamera terus bergerak dengan panning, zoom, dan perubahan sudut yang cukup agresif, bahkan saat adegan dialog berlangsung. Bagi sebagian penonton hal ini memberikan kesan dinamis, tetapi tidak sedikit yang justru merasa pergerakannya terlalu berlebihan sehingga mengalihkan fokus dari percakapan para karakter.
Sebagai episode pembuka, anime ini berhasil memperkenalkan dunia, sistem kelas, serta konflik keluarga yang menjadi pemicu perjalanan Elymas. Alih-alih hanya menyajikan kisah tokoh yang diremehkan lalu menjadi sangat kuat, episode pertama lebih menekankan bagaimana prasangka dan obsesi terhadap status dapat membuat seseorang kehilangan haknya. Itulah yang membuat perjalanan Elymas terasa layak untuk terus diikuti.
Nilai: 8,5/10. Episode pertama berhasil membangun konflik dengan baik dan memperkenalkan karakter utama yang cerdas serta tenang. Jika GoHands sedikit mengurangi pergerakan kameranya yang terlalu aktif, pengalaman menonton akan terasa lebih nyaman tanpa mengurangi kualitas visual yang memang menjadi kekuatan mereka.
-
Box Office4 weeks agoReview Film Phi Phong: The Blood Demon, Hantu Asli dari Vietnam
-
Laptop3 weeks agoHP EliteBook 8 G1i 14 AI: Tangguh untuk Bisnis, Siap Gaming Ringan
-
Box Office2 weeks agoReview The Death of Robin Hood, Akhir Tragis Sang Legenda
-
Serial Anime1 week agoReview Clevatess Season 2 Episode 1: Misi Rahasia Klen dan Alicia Dimulai, Visual Makin Manjakan Mata!
-
TV & Movies1 week agoREVIEW FILM MOANA (2026), Keindahan Visual Kepulauan Pasifik
-
TV & Movies1 week agoReview Film Love Barista, Megabintang yang Terdampar
-
News1 week agoAnime Festival Asia Rayakan Edisi ke-10 di Indonesia!
-
Gaming1 week agoAkhirnya Rilis! Wuthering Waves Versi 3.5 Hadirkan Region Baru dan Resmi Tuju Xbox!





