Connect with us

Berita Anime & Manga

Review Gate: Jieitai Kanochi nite, Kaku Tatakaeri Episode 5

Published

on

[alert-warning]SPOILER ALERT! Read at your own risk[/alert-warning]

GwiGwi.com – Akhirnya anime ini mencapai episodenya yang kelima. Itami dan para anggota Recon Team Three beserta ChukaLelei, dan Rory pergi ke Italica untuk menjual sisik-sisik naga yang mereka kumpulkan dari mayat-mayat naga yang tersisa di bekas medan tempur JSDF dengan pasukan-pasukan kerajaan aliansi Empire demi mendapat uang untuk para pengungsi gunakan saat mereka akan hidup di luar pengungsian. Saat mereka mendekati wilayah Italica, mereka meliahat asap besar dari arah kota. Tampaknya ada kebakaran besar di kota tersebut.

mpc-hc64_nvo 2015-08-03 11-32-32-644.avi_snapshot_01.14_[2015.08.03_13.29.07]

Ternyata kota Italica diserang segerombolan bandit. Para penduduk Italica berjuang keras menahan serangan tersebut di bawah pimpinan Pina yang sudah sampai di sana terlebih dahulu bersama ordenya. Mereka yang seharusnya terus melanjutkan perjalanan ke bukit Arnus terpaksa ikut membantu kota tersebut.

mpc-hc64_nvo 2015-08-03 11-32-32-644.avi_snapshot_02.27_[2015.08.03_13.30.00]

Mereka berhasil mempertahankan Italica dari serangan bandit tersebut. Walau pembawaan dan kalimatnya terhadap orang-orang Italica yang memberi kesan berpengalaman, ternyata pertempuran tersebut adalah pertempurannya dan ordenya yang pertama, dan dia tidak menduga bagaimana pertempuran pertamanya akan sesulit itu.

mpc-hc64_nvo 2015-08-03 11-32-32-644.avi_snapshot_05.40_[2015.08.03_13.30.28]

Saat beristirahat, dirinya terkenang kembali masa kecilnya saat dia merekrut teman-temannya menjadi anggota ordenya yang saat itu belum resmi terbentuk. Di bawah panduan Grey, mereka berlatih untuk menjadi kesatria yang pantas untuk dijadikan orde.

mpc-hc64_nvo 2015-08-03 11-32-32-644.avi_snapshot_06.19_[2015.08.03_13.30.49]

Walau awalnya tampak hanya seperti sekumpulan anak yang bermain kesatria-kesatriaan, tujuh tahun kemudian mereka berkembang dan resmi menjadi orde yang bernama “Rose Order of Knights“. Namun, mereka sepanjang karirnya sebagai kesatria hanya selalu ditunjuk sebagai honor guard dan tak pernah diberi kesempatan berpartisipasi langsung dalam pertempuran yang sesungguhnya. Karena itulah, Pina tidak mundur saat diperintahkan untuk memata-matai keadaan bukit Arnus bersama ordenya karena itu adalah kesempatannya untuk berpartisipasi langsung ke dalam pertempuran untuk pertama kalinya, sekaligus membuktikan kemampuan ordenya kepada kaisar.

mpc-hc64_nvo 2015-08-03 11-32-32-644.avi_snapshot_07.50_[2015.08.03_13.31.26]

Pina dibangunkan dari istirahatnya saat mendengar kabar bahwa ada kumpulan orang yang datang dengan kendaraan yang dibuat sepenuhnya dari besi tempa. Pina yang awalnya ragu apakah mereka adalah teman atau musuh mencoba mengajak mereka masuk setelah melihat penyihir (Lelei), elf (Chuka), dan Rory Mercury turun dari kendaraan tersebut (dengan maksud mengajak mereka ke pihak mereka).

mpc-hc64_nvo 2015-08-03 11-32-32-644.avi_snapshot_10.26_[2015.08.03_13.34.34]

Pina menceritakan ke Itami, Chuka, Lelei, dan Rory mengenai kondisi pertahanan kota Italica. Semenjak kota tersebut kehilangan count-nya, terjadi perebutan kekuasaan di antara ketiga anak perempuan dari count tersebut tapi anak termudanya lah yang diputuskan menjadi count karena kedua kakaknya telah menikah dengan keluarga bangsawan lain. Di antara keluarga bangsawan lain yang hidup di Italica, mulai terjadi perebutan untuk siapa yang akan menjadi pelindung count muda baru Italica di sisinya. Namun sebelum sempat ditentukan, pemimpin utama dari tiap-tiap keluarga tersebut beserta pasukannya masing-masing dikirim ke dunia lain untuk menjelajahi sisi lain Gate dan tidak pernah kembali (kita jelas tahu apa yang terjadi pada mereka di episode 1). Ini meninggalkan Italica dalam keadaan hampir tidak ada pasukan terlatih yang bisa mempertahankan kota dengan baik sehingga serangan dari bandit harus ditahan bersama dengan bantuan penduduk.

mpc-hc64_nvo 2015-08-03 11-32-32-644.avi_snapshot_13.03_[2015.08.03_13.38.32]

Itami menawarkan bantuan kepada Pina untuk membereskan masalah dengan para bandit tersebut. Pina menerimanya, tapi tentu saat dia memberitahukannya ke atasannya dia kena marah karena dia harusnya pulang hari itu dan bersiap untuk dikirim ke sidang legislatif di Jepang untuk menceritakan keadaan di dunia lain. Dia memohon sesuatu hal yang tidak ditunjukkan di episode ini.

mpc-hc64_nvo 2015-08-03 11-32-32-644.avi_snapshot_13.41_[2015.08.03_13.38.54]

Mendekati malam, mereka semua bersiap dengan rencana yang telah disusun Pina. Karena Itami dan Recon Team Three hanya dua belas orang, mereka akan menjadi umpan di gerbang selatan dengan menjadi satu-satunya penjaga gerbang tersebut. Karena para bandit tersebut tidak memiliki jumlah pasukan yang cukup untuk mengepung dari segala arah, mereka akan memfokuskan kekuatan massa mereka ke satu titik dan dengan mereka mengira gerbang selatan tidak terjaga mereka akan datang ke sana. Itami dan teman-temannya akan menahan mereka sementara pasukan lain di belakang mereka sudah bersiap untuk membantu mereka.

Rory ingin mengetahui alasan Itami menolong mereka. Padahal Pina adalah putri dari Imperial yang adalah musuh mereka. Itami berkata bahwa dia hanya ingin menolong penduduk kota tersebut. Rory yang tidak yakin bahwa hanya itu saja motifnya mendorong Itami untuk mengatakan motif lainnya: menunjukkan bahwa meneruskan perang dengan JSDF bukanlah ide yang baik. Lebih baik mereka menjalin hubungan damai. Dia ingin menunjukkannya melalui pertempuran itu.

mpc-hc64_nvo 2015-08-03 11-32-32-644.avi_snapshot_16.46_[2015.08.03_13.40.00]

Tidak diduga, para bandit tersebut tidak jatuh ke perangkap gerbang selatan tersebut. Mereka menyerang melalui gerbang timur. Orang-orang ang menjaga gerbang timur tidak siap dan berusaha menahan mereka sebisa mungkin. Namun, walaupun mereka bandit mereka masihlah pasukan yang terlatih. Melawan pasukan amatir yang tersisa di Italica, dan dengan bantuan Spirit Wielder juga, para bandit dengan mudahnya menembus masuk gerbang timur.

mpc-hc64_nvo 2015-08-03 11-32-32-644.avi_snapshot_19.01_[2015.08.03_13.41.16]

Pina memerintahkan para penduduk yang bersiap bertempur di belakang barikade di balik gerbang timur untuk tetap tenang dan tidak menyerang balik namun perintahnya tidak didengarkan. Para penduduk itu langsung menyerang balik tanpa berpikir bahwa mereka mbisa kalah total dan terbunuh oleh para bandit tersebut. Sementara Itami…apakah dia akan menolong Pina?

mpc-hc64_nvo 2015-08-03 11-32-32-644.avi_snapshot_20.34_[2015.08.03_13.41.39]

 

BONUS:

[youtube id=”TquO7qzvhY8″ width=”600″ height=”340″ position=”center”]

Advertisement

Berita Anime & Manga

Review Tomb Raider King Eps.1-2

Sama-sama mengusung tema dungeon crawling seperti Solo Leveling, mampukah adaptasi anime Tomb Raider King meraih kesuksesan yang sama? Simak ulasan dua episode pertamanya di sini.

Published

on

Review Tomb Raider King Eps.1 2

www.gwigwi.com – Dikhianati kontraktornya, “Tomb Raider” Jooheon Suh hampir saja mati di sebuah makam/tomb berisikan relik ajaib saat tetiba dia kembali 15 tahun lalu saat God’s Tombs ajaib belum bermunculan. Bertekad untuk membalas, berbekal pengetahuan dan keahliannya, dia pergi mengoleksi berbagai elik dengan tangannya sendiri.

TOMB RAIDER KING dianimasikan! Manhwa karya Sanji Jiksong ini tampaknya ingin ikut mencicipi kesuksesan SOLO LEVELING. Sesama sub genre Lit-RPG (cerita dengan mekanisme gim) dan dungeon crawling, mampukah mereka meraup harta kesuksesan yang sama?

Menjanjikan petualangan, misteri, atraksi aksi yang dibumbui strategi cerdik tak terduga, TOMB RAIDER KING memiliki banyak key selling point buat penyuka sub genre ini.

Cerita dengan cerdas tidak dimulai dari awal mula karir Jooheon. Penonton langsung disuguhi misteri pengkhianatan, kenapa dia bisa kembali ke masa lalu dan protagonis yang sudah jago, cepat memahami situasi dan langsung bertindak.

Alur ringkas cepat ini membantu memaku perhatian saat animasi dan art style gambar terasa cukup saja. Sisa informasi world building dieksposisikan tokoh utama sambil jalan yang untungnya lore TOMB RAIDER KING ini cukup sederhana dan mudah dicerna.

Mungkin karena keliatan sederhana ini juga, rasanya dunianya kurang terasa spesial. Tomb yang didatangi Jooheon saat baru sadar terinspirasi dari kisah populer ‘Kapak Emas’ dari dongeng Aesop. Memang boleh saja terinspirasi demikian, tapi seperti kurang ada polesan unik ala TOMB RAIDER KING itu sendiri. Ya, ada twist berbeda, namun kurang terasa menghentak.

Entah karena Jooheon yang digambarkan dengan istilah “OP” atau over power kah? Pemuda ini sudah sakti, pede, cerdas, pokoknya wah. Dari dua episode ini, belum ada tantangan berarti mau itu dari menghajar orang atau melawan monster. Fokus memperlihatkan hebatnya dia memang boleh saja, tetapi cerita seperti lupa memberikan suspense atau pembeda dari sub genre yang sama saat sekarang dunia sudah mengenal SOLO LEVELING dan SHANGRI-LA FRONTIER (tentang petualangan seorang gamer di dunia gim, Shangri-La Frontier).

Rakurou Hizutome atau Sunraku, protagonis SHANGRI-LA FRONTIER memang jago tapi diperlihatkan juga dia tidak bisa memakai armor hingga terkena serangan sekali saja sudah fatal. Hal demikian belum ada di TOMB RAIDER KING. Karakter Jooheon terkesan power fantasy untuk para pembaca merasa strong dan kurang memiliki kedalaman lain supaya audiens bisa relate, malahan dia kadang terasa angkuh menyebalkan.

Bila ingin sekedar melihat protagonis doing cool, strong, smart stuff dibumbui misteri dan petualangan, dan diakhiri dengan mendapat harta yang bisa bikin lebih cool, strong, smart lagi, TOMB RAIDER KING mungkin bisa jadi pilihan.

Review Tomb Raider King Eps.1 2

Review Tomb Raider King Eps.1 2

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 2: Otak Di Atas Otot, Kemenangan Strategi Tanpa Cheat!

Published

on

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

www.gwigwi.com – Banyak anime fantasi memulai cerita dengan tokoh utama yang dibuang karena dianggap tidak berguna. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System mengambil pendekatan yang sedikit berbeda. Masalah Elymas bukan karena ia lemah, melainkan karena semua orang terlalu cepat menyimpulkan nilai seseorang hanya dari label kelas yang ia terima. Gelar Heavy Knight dianggap sebagai jalan buntu, sementara Swordmaster diperlakukan seperti satu-satunya masa depan yang layak. Keputusan ayahnya mengusir Elymas dan mengangkat adik tirinya dari cabang keluarga sebagai pewaris terasa lebih sebagai cerminan obsesi terhadap status daripada keputusan yang benar-benar rasional.

Yang menarik, Elymas tidak menghabiskan waktunya untuk meratapi nasib atau berteriak ingin balas dendam. Ia justru melihat pengasingan itu sebagai kesempatan memulai hidup tanpa ekspektasi keluarganya. Berbekal pengetahuan tentang mekanisme dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah membaca seluruh buku panduan, setiap keputusan yang diambil terasa penuh perhitungan. Kekuatan utama anime ini bukan aksi besar pada dua episode pertama, melainkan kepuasan melihat seseorang perlahan membalikkan stigma dengan logika, pengalaman, dan strategi.

Dari sisi produksi, GoHands kembali mempertahankan identitas visualnya. Desain karakter terlihat bersih dengan pencahayaan yang kaya, sementara latar memiliki detail yang membuat dunia fantasinya terasa hidup. Sayangnya, gaya penyutradaraan mereka masih sulit diabaikan. Kamera terus bergerak, melakukan panning, zoom in, dan zoom out bahkan ketika adegannya hanya percakapan sederhana. Ada momen ketika pergerakan kamera justru lebih aktif daripada karakter yang sedang berbicara. Bagi sebagian penonton ini menjadi ciri khas, tetapi bagi yang lain justru terasa mengalihkan perhatian dari cerita.

Dua episode pembuka ini belum menawarkan kejutan besar, tetapi berhasil menanam rasa penasaran. Anime ini tidak mencoba meyakinkan penonton bahwa Heavy Knight adalah kelas terkuat. Sebaliknya, ia mengajak penonton mempertanyakan apakah sebuah sistem benar-benar salah, atau manusianya saja yang terlalu cepat memberi cap pada sesuatu yang belum dipahami. Pendekatan tersebut membuat perjalanan Elymas terasa lebih menarik daripada sekadar kisah “tokoh yang diremehkan lalu menjadi overpowered.”

Nilai: 8,5/10. Premisnya memang familier, tetapi cara membangun karakter utama dan tema tentang prasangka terhadap potensi seseorang membuat serial ini memiliki identitas yang cukup kuat. Jika GoHands sedikit mengurangi “kamera yang hiperaktif”, pengalaman menontonnya akan terasa jauh lebih nyaman.

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

Review Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Eps.1 2

Continue Reading

Berita Anime & Manga

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas yang Ternyata Overpowered!

Published

on

Review Anime The Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System Episode 1: Bukti Kelas Ampas Yang Ternyata Overpowered!

www.gwigwi.com – Anime fantasi dengan tema tokoh utama yang diusir keluarganya memang bukan hal baru. Namun Exiled Heavy Knight Knows How To Game The System (Tsuihou sareta Tensei Juukishi wa Game Chishiki de Musou suru) menghadirkan konflik yang cukup menarik sejak episode pertamanya. Elymas, putra keluarga bangsawan Edvaughn, dianggap gagal memenuhi harapan karena memperoleh kelas Heavy Knight, kelas yang dipandang tidak memiliki masa depan dibandingkan Swordmaster. Pandangan sempit tersebut membuat ayahnya mengambil keputusan yang sangat drastis.

Situasi semakin rumit ketika Malice, adik tiri Elymas yang berasal dari cabang keluarga, memperoleh kelas Swordmaster. Berbekal status tersebut, Malice dengan cepat menggantikan posisi Elymas sebagai pewaris resmi keluarga Edvaughn. Kudeta terhadap hak waris itu berlangsung tanpa banyak perlawanan karena seluruh keluarga lebih memilih mengejar prestise daripada menilai kemampuan seseorang secara objektif. Adegan ini menjadi fondasi konflik utama serial, sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah label mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Menariknya, Elymas tidak tenggelam dalam amarah atau sibuk merencanakan balas dendam. Ia menerima pengasingannya sebagai awal kehidupan baru. Berkat pengetahuannya mengenai sistem dunia yang ia pahami layaknya seorang pemain yang telah menguasai seluruh mekanisme permainan, Elymas menyadari bahwa Heavy Knight bukanlah kelas yang seburuk anggapan banyak orang. Cara berpikirnya yang tenang dan penuh perhitungan membuat tokoh utama terasa berbeda dibanding protagonis fantasi pada umumnya yang sering mengandalkan ledakan emosi.

Dari sisi visual, GoHands kembali mempertahankan ciri khasnya. Desain karakter terlihat tajam dengan efek pencahayaan yang kaya, sementara latar dunia fantasinya memiliki detail yang memanjakan mata. Sayangnya, gaya sinematografi mereka masih menjadi pedang bermata dua. Kamera terus bergerak dengan panning, zoom, dan perubahan sudut yang cukup agresif, bahkan saat adegan dialog berlangsung. Bagi sebagian penonton hal ini memberikan kesan dinamis, tetapi tidak sedikit yang justru merasa pergerakannya terlalu berlebihan sehingga mengalihkan fokus dari percakapan para karakter.

Sebagai episode pembuka, anime ini berhasil memperkenalkan dunia, sistem kelas, serta konflik keluarga yang menjadi pemicu perjalanan Elymas. Alih-alih hanya menyajikan kisah tokoh yang diremehkan lalu menjadi sangat kuat, episode pertama lebih menekankan bagaimana prasangka dan obsesi terhadap status dapat membuat seseorang kehilangan haknya. Itulah yang membuat perjalanan Elymas terasa layak untuk terus diikuti.

Nilai: 8,5/10. Episode pertama berhasil membangun konflik dengan baik dan memperkenalkan karakter utama yang cerdas serta tenang. Jika GoHands sedikit mengurangi pergerakan kameranya yang terlalu aktif, pengalaman menonton akan terasa lebih nyaman tanpa mengurangi kualitas visual yang memang menjadi kekuatan mereka.

Continue Reading

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending