Connect with us

Box Office

Review Film Widows, Para Janda yang Melawan Takdir

Published

on

GwiGwi.com –  Widows merupakan film terbaru karya Steve McQueen (12 Years a Slave, Shame, & Hunger) dan penulis Gillian Flynn (Gone Girl). Kolaborasi keduanya menjadikan Widows sebuah film yang menyentuh tentang para perempuan yang mencoba bangkit lagi setelah ditinggal mati oleh suami mereka di tengah pergumulan politik dan kriminalitas kota Chicago.

Harry Rawlings (Liam Neeson) meninggal dalam suatu kejadian tragis sehingga meninggalkan istrinya, Veronica (Viola Davis) dalam keadaan bingung bagaimana harus mencukupi kebutuhan hidupnya yang mewah. Belum lama selesai berduka, Veronica mendapatkan ancaman dari Jamal Manning (Brian Tyree Henry), seorang calon anggota dewan distrik 18 yang sedang menghadapi pemilihan umum setempat melawan Jack Mulligan (Colin Farrell) yang keluarganya sudah turun menurun memimpin distrik 18. Rupanya Veronica baru mengetahui kalau Harry merupakan perampok profesional dan pada malam ia meninggal, target perampokannya adalah uang milik Jamal yang akan digunakan untuk memodali kampanyenya.  Jamal memberi waktu 2 minggu supaya Veronica melunasi uang yang telah dicuri suaminya.

Sedikit harapan muncul saat supir pribadi Harry, Bash ( Garret Dillahunt) memberikan surat wasiat dari Harry untuk Veronica. Di dalamnya berisi detil rencana perampokan yang jika berhasil dilakukan maka akan mencukupi Veronica untuk melunasi hutang dan kebutuhan hidupnya. Ia mengumpulkan janda-janda dari rekan-rekan Harry yang juga ikut meninggal pada malam itu.  Ada Linda (Michelle Rodriguez), yang mempunyai anak-anak dan kehilangan toko bajunya sepeninggal suaminya dan Alice ( Elizabeth Debicki) yang cantik dan sering dipukuli oleh mantan suaminya.   Walaupun awalnya mereka agak ragu untuk merampok namun akhirnya kedua janda ini ikut bergabung dan mulailah mereka berlatih dan merencanakan perampokan tersebut.  Linda belakangan juga mengajak Belle (Cynthia Erivo), seorang hair stylist yang atletis untuk melengkapi tim mereka yang masih kekurangan orang.  Semakin mendekati hari H, semakin banyak pula informasi yang didapatkan oleh Veronica mengenai suaminya. Apa saja yang disembunyikan oleh suaminya dan bagaimana akhir dari rencana perampokan tersebut? Semua bisa disaksikan pada tanggal 7 Desember 2018.

Baca Juga:  Review Film Foxtrot Six, film aksi indonesia yang gak main-main

Yang menarik dari film ini adalah akting-akting para pemainnya  terutama Viola Davis dan Elizabeth Debicki dimana mereka berdua menunjukkan diri sebagai perempuan yang rentan namun di sisi lain harus tegar dan kuat untuk mencapai tujuan mereka. Film ini juga menggambarkan korelasi politik dan kriminalitas dimana politisi tidak segan-segan melakukan berbagai cara agar mendapatkan hasil yang mereka inginkan. Film Widows penuh dengan intrik-intrik politik dan plot twist yang memukau dan secara perlahan memberikan bagaimana kehidupan rumah tangga Harry dan Veronica lewat beberapa flashback yang tidaklah mengganggu plot cerita. Akhir kata, Widows adalah film drama kehidupan dan kriminalitas yang patut ditonton.

Box Office

Review Film Foxtrot Six, film aksi indonesia yang gak main-main

Published

on

By

GwiGwi.com – Randy Korompis memiliki konsep sebuah film aksi Indonesia dengan rasa Hollywood.

Setelah dikonsepkan selama 9 tahun dengan menggebet produser film Hollywood yaitu Mario Kassar yang terkenal pernah memproduseri film Rambo I-III, Terminator trilogy, Chaplin, dan masih banyak lagi. Menghasilkan sebuah film dalam negeri yang berjudul Foxtrot Six.

Film Dystopian Ini berlatar di negara Indonesia di tahun 2031 dimana tanah air kita telah menjadi negara adikuasa dan kuat di sektor produksi bahan pangan.

Indonesia menjadi negara kaya namun kekayaan itu hanya dinikmati oleh kaum elit. Sementara banyak masyarakat Indonesia yang kelaparan dan hidup miskin.

Para kaum elit dari partai piranas yang kejam dan otoriter menguasai kekayaan negara Ini dan mengontrol seluruh komponen negara termasuk paramiliter untuk menjaga kestabilan kondisi internal negara terutama ancaman dari kaum pemberontak yang menamai dirinya reformation.

Angga (Oka Antara) anggota Dewan yang merupakan mantan marinir Indonesia secara tiba-tiba diculik oleh kaum reformasi yang ternyata kaum pemberontak ini dipimpin oleh Sari (Julie Estelle) yang ternyata mantan tunangan nya.

Sari pun menjelaskan bahwa selama ini Angga membela pihak yang Salah karena telah mengorbankan rakyat nya sendiri demi kepentingan para elit politik.

Diduga membelot kepada pihak reformasi, Wisnu (Edward akbar) yang merupakan pemimpin paramiliter milik partai piranas memburu Angga dan dianggap sebagai musuh negara.

Lantas, Angga kembali mengumpulkan para rekan-rekannya dulu di marinir seperti Bara (Rio Dewanto), Oggy (Verdi solaiman), Ethan (Mike Lewis), dan Tino (Arifin Putra), dan penembak jitu reformasi Yang misterius Spec (Chicco Jerikho) mereka mencari tahu rencana jahat Piranas untuk menghancurkan reformasi dan rencana pembunuhan massal para pentinggi negara Yang disebut dengan “heroic act”.

Baca Juga:  Review Film Foxtrot Six, film aksi indonesia yang gak main-main

Mampukah mereka menyelamatkan Bumi pertiwi dari sekelompok paramiliter yang memiliki alutsista yang mumpuni??

Film ini merupakan debut dari sang sutradara Randy Korompis yang menampilkan beberapa cast jawara dan performanya sudah tidak diragukan lagi.

Sebelumnya gue meragukan proyek film Ini, karena sutradaranya pun terbilang pemula di kancah perfilman Indonesia. Namun hasilnya film ini sangat Luar biasa mengagumkan.

Film Ini memiliki dialog dalam bahasa Inggris dengan subtitle bahasa Indonesia. Yang gue salut dialognya Hollywood banget karena scriptnya ditulis langsung dalam bahasa Inggris bukan gubahan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Hasilnya pun gak terlihat kaku malah terlihat natural begitu saja.

Alasannya film Ini dibuat dengan dialog bahasa Inggris agar bisa dilirik oleh pasar internasional yang menjadi tujuan dari perfilman indonesia untuk “go international”.

Adegan aksinya pun tidak tanggung-tanggung karena digarap oleh uwais team namun sayang teknik pengambilan untuk adegan close combat sedikit kurang enak untuk dilihat.

Film ini juga diambil dengan full CGI ada yang terlihat sangat rapi ala film Hollywood namun ada beberapa scene yang kurang but that’s okay for me.

Cerita di film Ini sebelumnya pernah dibuat untuk perfilman internasional. Ada kelemahan sedikit untuk pengenalan beberapa karakter di menit awal film namun sisanya terlihat membaik ditambah aksi di film ini yang fantastis.

Namun dibalik kekurangan di film ini, secara keseluruhan Film Foxtrot Six menjadi sebuah batu loncatan untuk perkembangan film Indonesia yang semakin membaik dari tahun ke tahun.

Jangan beranjak dari bangku bioskop karena ada 2 post credit scene yang mengindikasikan keberlanjutan filmnya.

Sekuel ?? It could be

Continue Reading

Box Office

Trailer versi Jepang untuk sekuel film Godzilla: King of the Monsters Film dirilis

Published

on

By

GwiGwi.com – TOHO mulai merilis trailer dengan subtitle bahasa Jepang untuk sekuel film GOdzillla berjudul Godzilla: King of the Monsters.

Film ini aslinya dijadwalkan rilis tanggal 22 Maret, namun ditunda hingga 31 Mei dirilis bersamaan dengan Jepang.

Kyle Chandler, Vera Farmiga (Up in the Air, The Conjuring, Bates Motel), dan Millie Bobby Brown (Stranger Things) membintangi film ini sebagai ayah, ibub dan anak.

Pemeran lainnya

O’Shea Jackson Jr. (Straight Outta Compton)
Aisha Hinds (Underground, Shots Fired, Under the Dome)
Anthony Ramos (White Girl, Hamilton musical)
Charles Dance (Game of Thrones)
Thomas Middleditch (Silicon Valley)
Bradley Whitford (The West Wing, Get Out, Transparent)
Zhang Ziyi (Memoirs of a Geisha, Hero, The Grandmaster)
Elizabeth Ludlow (The Walking Dead)
Ken Watanabe (The Last Samurai, Letters from Iwo Jima, Inception) and Sally Hawkins (Paddington, Blue Jasmine) are returning from the 2014 film.

Baca Juga:  Trailer versi Jepang untuk sekuel film Godzilla: King of the Monsters Film dirilis

Continue Reading

Box Office

Review Film The Kid Who Would Be King, rewrite the legends

Published

on

GwiGwi.com – Bagaimana jika sebuah legenda diceritakan kembali di era saat ini??

Alexander Elliot, seorang anak sekolah yang tipikal menjadi korban bullying oleh teman-teman sekolahnya. Ia pun berani menghadapi para pelaku penindasan tersebut.

Suatu saat, ia sedang diincar oleh teman sekolahnya yang ingin mengganggu dia. Tanpa sengaja ia menemukan dan mencabut pedang Excalibur milik raja Arthur legenda yang terkenal di Inggris Raya.

Di sisi lain, iblis yang telah lama terkurung bangkit kembali untuk mengancam ketentraman dunia.

Maka Alex mengemban tanggung jawab yang besar karena telah mencabut pedang Excalibur serta mengumpulkan kekuatan bersama teman nya Bedder, Lance, dan Kaye serta penyihir legendaris Merlin. Untuk menghadapi Iblis yang mengancam kedamaian Dunia.

Film yang disutradarai oleh Joe Cornish (Attack of the blocks) butuh waktu 8 tahun untuk mengonsepkan ide untuk film ini. Bagaimana ia menceritakan legenda King Arthur dan ksatria meja bundar dengan konsep kekinian.

Hasilnya, tidak terlalu mengecewakan tanpa melupakan legenda yang sudah masyhur, Semua di eksekusi dengan cukup baik.

Penokohan karakternya pun juga baik terutama untuk Alex dari korban bullying menjadi pahlawan penyelamat dunia. Konflik internal dengan Lance pun membuat karakter Alex tumbuh berkembang karena ia menjadi seorang pemimpin.

Baca Juga:  Trailer versi Jepang untuk sekuel film Godzilla: King of the Monsters Film dirilis

Hal menarik lainnya adalah adanya keberagaman pada pemilihan karakter.

Keberagaman yang dimaksud di sini adalah keberagaman ras dan gender yang tergambar pada sosok Kaye yang merupakan seorang perempuan kulit hitam, juga pada sosok Bedder yang jika dilihat dari wajahnya memiliki darah India.

Hal Ini merupakan esensi dari meja bundar yaitu, semua memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk melindungi dunia dari segala ancaman.

Plot filmnya juga disajikan dengan menarik penuh dengan proses untuk para karakternya sekaligus untuk pengembangan karakter yang lebih jauh.

Selain disajikan dengan cerita, Film The Kid who Would be King juga sarat akan pesan seperti pentingnya menghargai orang yang kita cintai baik itu orang tua, dan teman, serta bukan hanya semangat perjuangan namun kita mengetahui bagaimana cara untuk memperjuangkan hal yang kita yakini.

Secara keseluruhan, film Ini Bisa dibilang sajian yang cukup menghibur untuk ditonton bersama keluarga.

Continue Reading

Trending