Connect with us

Box Office

Review Film The Curse of Weeping Woman (The Curse of La Llorona), teror hantu penggiring anak menuju Alam Baka

Published

on

GwiGwi.com – Sejak kematian suaminya, Anna Tate-Garcia (Linda Cardellini) kesulitan mengurus putra dan putrinya. Sebagai seorang penyidik di kepolisian, hal yang bisa diandalkannya adalah cara berpikir rasional.

Di saat bersamaan, ia bertemu dengan kasus yang tidak biasa, yaitu ketika seorang Ibu mengurung dua putranya. Tak kunjung mendapatkan titik cerah karena kasus ini, Anna kemudian harus berhadapan dengan kenyataan pahit. Dua anak yang awalnya ingin ia bebaskan dari cengkraman sang ibu justru ditemukan tewas di sungai.

Sejak itu, Anna tak pernah hidup tenang. Ia masih berpikir rasional, sementara itu arwah jahat terus mendatangi rumahnya. Mencoba merengut nyawa dua putranya ke alam baka.

Dapatkah Anna lepas dari teror arwah jahat ini?

Film ini merupakan salah satu bagian dari Conjuring Universe (The Nun, Annabelle dsb) karena kemunculan father Perez yang pernah muncul di film the conjuring.

Namun Film Ini merupakan stand-alone dan hanya menjadi bagian kecil dari keseluruhan Conjuring Universe.

Di awal film pun kita Juga disajikan dengan adegan flashback tentang awal mula arwah penasaran La Llorona Ini.

Untuk adegan jumpscare di film ini dilengkapi dengan scoring yang menyeramkan. Ada banyak dengung-dengung yang akan membuat telinga penonton menjadi bergidik.

Sangat disayangkan, suara-suara ini jelas jauh menakutkan ketimbang melihat tampilan beberapa adegan jumpscare dari La Llorona itu sendiri.

Baca Juga:  Review Film Dua Garis Biru, penyampaian sebuah pesan yang dikemas dengan fun

Meskipun di eksekusi dengan angle pengambilan kamera yang terlihat dengan gaya baru namun semua masih terlihat standard dan tidak ada kejutan di film Ini.

Bagian, urban legend-nya pun sayang banget kurang digali namun untuk bentuk dari hantu La Llorona Ini terlihat meyakinkan visualisasi tirai yang mengambang dari balik jendela atau payung adalah salah satu contohnya.

Film arahan sutradara Michael Chaves dengan tegas menyampaikan bahwa sosok iblis berbentuk wanita yang akan mengambil nyawa anak-anak disajikan secara baik.

Untuk segi karakternya, film ini sama sekali tidak memiliki satu karakter yang benar-benar kuat. Begitupun dengan pemeran utama Linda Cardellini yang memerankan Anna.

Namun, satu karakter yang menjadi screen stealer adalah Rafael Olvera (Raymond Cruz) semacam “orang Pinter” yang menyatukan nilai-nilai agama dengan ilmu pengetahuan.

Ada Easter egg boneka Annabelle Entah apa maksudnya menempatkan boneka Annabelle di Film Ini? namun mungkin saja hal ini dipengaruhi oleh James Wan yang memang menjadi kreator awal dari Conjuring Universe.

Secara keseluruhan, film The Curse of Weeping Woman Ini masih memiliki performa yang cukup baik di tengah jelang summer blockbuster di tahun ini yang cukup sengit. Namun ada beberapa kekurangan di film Ini dan bisa tercover dengan baik. Ya film Ini masih dapat dinikmati dan berhasil membuat bulu kuduk berdiri.

Box Office

Review Film Stuber, komedi aksi a la Dave Bautista dan Iko Uwais

Published

on

By

GwiGwi.com – Vic (Dave Bautista) dan partnernya Morris (Karen Gillan), anggota kepolisian LAPD mendapatkan tugas untuk menangkap seorang drug dealer bernama Tedjo (Iko Uwais).

Sialnya, kasus tersebut berakhir dengan kematian Morris yang dibunuh oleh Tedjo.

Dirundung perasaan bersalah dan sulit untuk menerima kematian Partnernya, Vic pun menjadi terobsesi untuk mengejar dan menangkap Tedjo.

Selang beberapa bulan kemudian, Vic mendapat kabar bahwa Tedjo kembali untuk melakukan transaksi pengedaran narkoba di Los Angeles (LA).

Mendengar hal ini, Vic pun langsung mencari tahu di mana keberadaan Tedjo sebenarnya.

Sayangnya, kembalinya Tedjo ini berbarengan dengan kondisi Vic yang baru saja menyelesaikan operasi lasik karena kerap merasa kurang praktikal apabila terjun ke lapangan menggunakan kacamata.

Dikarenakan kondisi mata yang belum pulih, ia pun masih mengalami kesulitan untuk melihat.

Hal itulah yang akhirnya membuatnya memutuskan untuk memburu Tedjo menggunakan moda transportasi online Uber dan mendapatkan Stu sebagai driver-nya.

Bagaimana Vic dan Stu bersatu untuk menangani kasus berat Ini?

Film garapan sutradara Michael Dowse berhasil memadukan genre film action dan komedi dengan sangat baik dan seimbang.

Tidak hanya dari segi action saja, dari segi komedinya. Jokes yang keluar di film Ini patut diacungi jempol.

Penggabungan karakter yang sangat bertolak belakang antara Vic dan Stu pun sangat mengundang tawa, di mana Vic adalah seseorang yang sangat serius, sedangkan Stu merupakan seseorang yang sangat humoris namun juga sensitif.

Baca Juga:  Review Film Toy Story 4, berhasil membuat kita nangis lagi?

Jokes-jokes yang berhamburan sepanjang Film tepat sasaran dan tandeman antara Dave Bautista dan Kumal Nanjiani berhasil tersaji dengan baik dan berhasil membuat penonton terpingkal-pingkal.

Namanya juga film action, pasti harus Ada adegan aksi yang intens menjadi daya tarik utamanya.

Apalagi ada Iko Uwais, fighting choreography-nya juga diurus oleh aktor asal Indonesia yang terkenal lewat film Merantau dan The Raid.

“Semua orang memiliki karakter fighter-nya sendiri-sendiri. Tidak mungkin ada yang sama sepenuhnya dan tidak perlu harus mempelajari pencak silat terlebih dahulu untuk memahaminya. Dari judo, karate, dan seni bela diri lainnya pun bisa sehingga pada akhirnya akan muncul karakter fighter yang unik dan berbeda-beda pada setiap orang”, ujar Iko dalam acara press release film Stuber.

Saat menyaksikan film ini, kalian pun disajikan dan ikut merasakan hasil fighting choreography yang menakjubkan dari Iko Uwais.

Terlebih saat scene perkelahian antara Vic dan Tedjo. Menurut gue, semua pemain telah berhasil memperlihatkan fighting skills mereka dengan baik.

Secara keseluruhan, film Stuber merupakan film yang menarik ditengah gempuran trend sekuel, reboot dan remake di perfilman Hollywood.

Sebuah sajian segar dengan genre action-komedi ditambah dengan rasa bangga kita sebagai orang Indonesia dengan performa Iko Uwais yang memukau.

Oiya, film ini akan dirilis di tanggal 24 Juli 2019 di bioskop seluruh Indonesia.

Continue Reading

Box Office

Kolaborasi Spesial Disney Indonesia dan Riomotret dalam “Disney’s The Lion King Through Our Lens”

Published

on

GwiGwi.com – Untuk menyambut perilisan film Disney’s “The Lion King”, Disney Indonesia berkolaborasi dengan fotografer Riomotret untuk menghadirkan koleksi foto spesial yang bertajuk “Disney’s The Lion King Through Our Lens”. Mulai dari tanggal 16 Juli hingga 4 Agustus 2019, para penggemar dapat melihat koleksi foto spesial tersebut di area Disney’s “The Lion King” yang terletak di lantai dasar Mall Plaza Senayan,
Jakarta.

Sembilan foto spesial dalam kolaborasi “Disney’s The Lion King Through Our Lens” menampilkan nuansa serta elemen yang terinspirasi dari salah satu film Disney paling legendaris tersebut. Kolaborasi spesial ini juga melibatkan deretan selebriti para penggemar seperti Asmirandah dan Jonas Rivanno, Cinta Laura, Gisella Anastasia dan Gempita, Glenn Alinskie, Chelsea Olivia dan Nastusha, Luna Maya, Marsha Aruan, Rossa, dan Titi Kamal.

“Rasanya sangat menyenangkan karena dapat menghadirkan sebuah karya spesial yang terinspirasi dari salah satu kisah favorit saya. Saya harap kolaborasi ini dapat menjadi cara yang unik dan segar bagi para penggemar untuk menikmati cerita, karakter, serta elemen elemen yang ada dalam film Disney’s ‘The Lion King’,” ungkap Riomotret.

Baca Juga:  DJI Osmo Pocket Wide Angle Lens by Ulanzi | Bikin video kamu makin wide, Vlog makin kece

Disutradarai oleh Jon Favreau, Disney’s “The Lion King” menghadirkan sebuah petualangan di padang rumput Afrika dimana sang raja dilahirkan. Simba sangat mengagumi sosok ayahnya, Mufasa, dan siap memenuhi takdirnya sebagai pewaris tahta kerajaan. Namun, tidak semua orang di kerajaan tersebut menyambut kehadiran Simba dengan baik. Scar, saudara Mufasa yang tadinya merupakan pewaris utama kerajaan, memiliki rencana lain untuk Simba.

Pertarungan di Pride Rock yang dipenuhi dengan pengkhianatan dan tragedi akhirnya membuat Simba akhirnya diasingkan. Dengan bantuan dari dua teman barunya, Simba harus berusaha untuk menjadi sosok yang lebih dewasa sehingga siap merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.

Dibintangi oleh Donald Glover sebagai Simba, Beyoncé Knowles-Carter sebagai Nala, James Earl Jones, yang kembali memerankan Mufasa, ayah Simba, Chiwetel Ejiofor memerankan tokoh antagonis Scar, Seth Rogen sebagai Pumba dan Billy Eichner sebagai Timon. Dengan teknologi  pembuatan film modern untuk membawa kembali kisah dan karakter ikonik para penggemar, Disney’s “The Lion King” hadir di bioskop-bioskop favorit penggemar mulai dari 17 Juli 2019.

Continue Reading

Box Office

Review Film Dua Garis Biru, penyampaian sebuah pesan yang dikemas dengan fun

Published

on

GwiGwi.com – Dara (Zara JKT 48) dan Bima (Angga Aldi Yunanda) adalah sepasang kekasih yang masih duduk di bangku SMA yang lagi sayang-sayangnya, terlepas keduanya memiliki latar belakang sosial yang berbeda.

Malah saking lekatnya, keduanya kerap dicap sebagai “suami-istri” oleh teman-teman sekelas mereka.

Well omongan adalah doa, Bima dan Dara tidak sengaja “kebablasan”. Akibat perbuatan ini, kehidupan keduanya mengalami perubahan drastis.

Kini di usia mereka yang masih belia, keduanya harus menghadapi kenyataan pahit untuk menjadi calon ayah dan ibu serta menanggung malu dari teman, orang tua, dan lingkungan sekitar. Karena masih di usia yang sangat terbilang muda.

Lantas, bagaimana mereka menyikapi semua ini?

Film ini merupakan debut sutradara dari penulis naskah kawakan Gina S.Noer (Perempuan berkalung sorban, ayat-ayat cinta) yang juga menulis naskah untuk film ini, konon ia telah mengembangkan naskah untuk dua garis biru selama 8 tahun.

Pas trailernya pertama kali keluar sempat ada gerakan boikot untuk film Ini, namun show must go on. Karena tujuan dari film ini bisa menjadi media edukasi seks yang sangat efektif bagi remaja-remaja di negeri kita saat ini.

Meskipun memiliki premis yang sangat umum jika kita melihat film luar negeri. Namun kali ini gue terkejut kalau Indonesia juga bisa dan Film Ini terlihat keren.

Tiap shot di sepanjang film terlihat apik dan membuat penonton terpukau serta naskah yang to-the-point tanpa harus bertele-tele.

Menurut gue, mbak Gina juga berhasil menyampaikan bahwa pentingnya pendidikan seks untuk para remaja tanpa harus menggurui.

Hal ini diwakili lewat beberapa adegan baik secara tersirat maupun tersurat yang menunjukkan seenggak tahunya Dara dan Bima soal apa yang udah mereka perbuat. Serta konsekuensi yang mereka tanggung di sepanjang film.

Selain jadi pembuka mata dan pikiran masyarakat tentang betapa pentingnya pendidikan sex untuk remaja, film ini juga berhasil ngasih pesan mendalam soal tanggung jawab, hubungan dengan keluarga, dan yang paling penting keberanian buat melakukan hal yang benar.

Baca Juga:  Realme X Indonesia Full Review | rasa Flagship

Film yang dibintangi oleh Zara JKT48, Angga Yunanda, Rachel Amanda, Asri Welas, Lulu Tobing, Dwi Sasono, Cut Mini, dan Arswendy Bening Swara berhasil melakukan performa terbaiknya masing-masing BRAVO !!!

Hal ini ditunjukan lewat scene long take sekitar 6 menit yang melibatkan para anak dan orang tua di UKS sekolah.

Scene ini terasa intens banget. Berhasil meluapkan semua emosi yang ada, bahkan penonton bisa nahan napas saking kerennya adegan ini.

Lewat scene ini, Sang sutradara ingin memberikan kesempatan buat para orangtua dan anak untuk bisa melakukan pembicaraan dari hati ke hati. Sesuatu yang kadang jadi hal yang perlu dilakukan untuk bisa memecahkan masalah secara bersama-sama.

Chemistry yang dibangun oleh karakter Bima dan Dara juga gak terlalu berlebihan, porsinya pas tanpa bikin orang gagal fokus ke Isu yang sebenernya ada di film Ini.

Terdapat juga sisi komedi yang diselipkan di film Ini biar gak serius-serius banget. Lewat beberapa jokes yang muncul sepanjang film yang memberikan sentilan untuk Bima dan Dara berupa reaksi keluarga, judging dari orang lain, dan bahkan lingkungan yang memberikan contoh tentang sulitnya berumah tangga.

Tidak lupa dengan soundtrack yang mengiringi sepanjang film ini berjalan juga pas dengan adegan filmnya dan membuat film Ini lebih hidup. Misal lagu “growing up” dari Rara Sekar, serta lagu “Jikalau” milik band Naif.

Secara keseluruhan, lewat Film Dua Garis Biru mbak Gina S. Noer berhasil membuat debut penyutradaraannya dengan apik, serta menyampaikan pesan mulia yaitu tentang pentingnya pendidikan seks sejak dini, punya perspektif yang adil dari anak dan orangtua bahwa konsekuensi yang ditanggung adalah tanggung jawab semua pihak. Serta dikemas dengan shot dan naskah yang cerdas.

Continue Reading
Advertisement SGCC 2019
Advertisement DICARI REPORTER
Advertisement

GwiGwi Space

GWIDEV

Trending