Connect with us

Box Office

Review Film Stuber, komedi aksi a la Dave Bautista dan Iko Uwais

Published

on

GwiGwi.com – Vic (Dave Bautista) dan partnernya Morris (Karen Gillan), anggota kepolisian LAPD mendapatkan tugas untuk menangkap seorang drug dealer bernama Tedjo (Iko Uwais).

Sialnya, kasus tersebut berakhir dengan kematian Morris yang dibunuh oleh Tedjo.

Dirundung perasaan bersalah dan sulit untuk menerima kematian Partnernya, Vic pun menjadi terobsesi untuk mengejar dan menangkap Tedjo.

Selang beberapa bulan kemudian, Vic mendapat kabar bahwa Tedjo kembali untuk melakukan transaksi pengedaran narkoba di Los Angeles (LA).

Mendengar hal ini, Vic pun langsung mencari tahu di mana keberadaan Tedjo sebenarnya.

Sayangnya, kembalinya Tedjo ini berbarengan dengan kondisi Vic yang baru saja menyelesaikan operasi lasik karena kerap merasa kurang praktikal apabila terjun ke lapangan menggunakan kacamata.

Dikarenakan kondisi mata yang belum pulih, ia pun masih mengalami kesulitan untuk melihat.

Hal itulah yang akhirnya membuatnya memutuskan untuk memburu Tedjo menggunakan moda transportasi online Uber dan mendapatkan Stu sebagai driver-nya.

Bagaimana Vic dan Stu bersatu untuk menangani kasus berat Ini?

Film garapan sutradara Michael Dowse berhasil memadukan genre film action dan komedi dengan sangat baik dan seimbang.

Tidak hanya dari segi action saja, dari segi komedinya. Jokes yang keluar di film Ini patut diacungi jempol.

Penggabungan karakter yang sangat bertolak belakang antara Vic dan Stu pun sangat mengundang tawa, di mana Vic adalah seseorang yang sangat serius, sedangkan Stu merupakan seseorang yang sangat humoris namun juga sensitif.

Baca Juga:  Review Film Bad Boys For Life, Kembalinya Aksi Buddy Cop Apik nan Seru.

Jokes-jokes yang berhamburan sepanjang Film tepat sasaran dan tandeman antara Dave Bautista dan Kumal Nanjiani berhasil tersaji dengan baik dan berhasil membuat penonton terpingkal-pingkal.

Namanya juga film action, pasti harus Ada adegan aksi yang intens menjadi daya tarik utamanya.

Apalagi ada Iko Uwais, fighting choreography-nya juga diurus oleh aktor asal Indonesia yang terkenal lewat film Merantau dan The Raid.

“Semua orang memiliki karakter fighter-nya sendiri-sendiri. Tidak mungkin ada yang sama sepenuhnya dan tidak perlu harus mempelajari pencak silat terlebih dahulu untuk memahaminya. Dari judo, karate, dan seni bela diri lainnya pun bisa sehingga pada akhirnya akan muncul karakter fighter yang unik dan berbeda-beda pada setiap orang”, ujar Iko dalam acara press release film Stuber.

Saat menyaksikan film ini, kalian pun disajikan dan ikut merasakan hasil fighting choreography yang menakjubkan dari Iko Uwais.

Terlebih saat scene perkelahian antara Vic dan Tedjo. Menurut gue, semua pemain telah berhasil memperlihatkan fighting skills mereka dengan baik.

Secara keseluruhan, film Stuber merupakan film yang menarik ditengah gempuran trend sekuel, reboot dan remake di perfilman Hollywood.

Sebuah sajian segar dengan genre action-komedi ditambah dengan rasa bangga kita sebagai orang Indonesia dengan performa Iko Uwais yang memukau.

Oiya, film ini akan dirilis di tanggal 24 Juli 2019 di bioskop seluruh Indonesia.

Box Office

Review Film Bad Boys For Life, Kembalinya Aksi Buddy Cop Apik nan Seru.

Published

on

GwiGwi.com – Will Smith dan Martin Lawrence kembali sebagai duo polisi Miami PD Mike Lowrey dan Marcus Burnett di film Bad Boys For Life.

“Bad boys, bad boys Whatcha gonna do, whatcha gonna do. When they come for you”

Kali Ini dikisahkan tentang aksi detektif Mike Lowrey yang sedang memiliki masalah baru.

Saat diterpa masalah, sahabatnya Marcuss Burnett yang biasa menemaninya dalam menumpas kejahatan, pensiun dari kepolisian karena faktor usia. Mike pun seolah tidak menerima kenyataan dan mencoba berbagai cara agar sahabatnya itu terus menemaninya lagi memburu penjahat. Apalagi, kali Ini mereka menghadapi penjahat yang mencoba membunuh Mike karena ada dendam lama yang harus di balas.

Mau tidak mau Marcus harus kembali membantu Mike Lowrey untuk menghabisi penjahat yang tengah memburunya untuk terakhir kali nya bagi Marcuss sebelum ia pensiun. Selain Will Smith dan Martin Lawrence, Film Ini juga diramaikan beberapa bintang yang ikut terlibat dalam film tersebut. Di antaranya Vanessa Hudgens, Alexander Ludwig, Charles Melton, Paola Nunez, Kate Del Castillo, Nicky Jam, dan Joe Pantoliano.

Absennya Michael Bay setelah membawa film aksi yang bombastis dari film pertama dan kedua Bad Boys memang terasa dari segi skala aksinya. Duet Bilall Fallah dan Adil El Arbi yang kali Ini duduk di kursi sutradara bisa dibilang tak mengecewakan. Sutradara Bilall dan Adil membawa karakter Lowrey dan Burnett lebih dalam. Usia yang tak lagi muda membuat keduanya harus mempertimbangkan banyak hal dalam mengambil keputusan, hingga menyangkut keluarga.

Baca Juga:  Review Film Spies in Disguise, Aksi Spionase Kocak yang Sangat Menghibur

Dinamika plotnya menarik, bahkan hingga plot twist yang tak disangka-sangka.

Jokes yang disajikan cukup menyenangkan untuk dinikmati dan adegan kejar-kejaran serta perkelahian membawa kembali keseruan film aksi yang tak terlalu berat. Smith dan Lawrence menghubungkan aksi dan komedi yang pas, seperti lelucon di tengah-tengah aksi kejar-kejaran dan sedikit mengembangkan cerita Lowrey dan Burnett lebih jauh. Tapi jika dikembangkan, mungkin film ini akan menjadi lebih mengesankan.

Film Bad Boys for Life bisa disebut sebagai tontonan yang menarik di awal tahun, tapi film ini bukanlah film yang sempurna. Misal karakter tim AMMO ini seperti hanya menjadi figuran karena tertutup oleh duo Mike Lowrey dan Marcuss Burnett, padahal karakter tim tactical Ini menarik dan bisa di gali lebih dalam serta mendapat porsi yang seimbang dengan duo polisi tersebut tapi sayang hal Ini tidak terjadi.

Well, Secara keseluruhan, Smith dan Lawrence mengembalikan genre buddy cop era 90an dengan apik, walaupun ada beberapa bagian kurang mendapatkan perhatian. Film Bad Boys for Life bisa menjadi penghibur dari rutinitas dengan komedi dan aksi yang disajikan. Setelah melihat mid credits di sepanjang credits film bergulir mungkin bisa saja ada sekuelnya setelah Ini, tapi menurut saya cukup sampai disini atau mungkin lebih baik dibuat spin off dari Tim AMMO karena mereka memiliki karakteristik yang unik. so Gwiples, jangan sampai kelewatan film satu ini ya!

Continue Reading

Box Office

Review Film Dolittle, Sang Dokter datang Membawa Tawa

Published

on

GwiGwi.com – Terakhir kali penonton seantero dunia melihat Robert Downey Jr. adalah saat dia mengucapkan selamat tinggal untuk perannya sebagai Tony Stark atau Iron Man yang mungkin adalah penampilan terbaiknya setelah 10 tahun lebih menjadi tokoh orang kaya jenius dermawan tersebut. Disela film-film Marvel dia juga memulai franchise baru dengan SHERLOCK HOLMES (2009) yang juga cukup sukses hingga menelurkan sekuelnya, SHERLOCK HOLMES: A GAME OF SHADOWS (2011) dan film ketiganya nanti dengan tanggal rilis tahun 2021.

Mungkin menjadi wajah franchise baru adalah kesukaan pribadi Robert Downey Jr. atau studio-studio besar memang gemar memakai jasa beliau untuk memanfaatkan nama tenarnya, berharap DOLITTLE akan menjadi kesuksesan kesekian kalinya. Meskipun seringkali sulit untuk sebuah film berdiri sendiri bila elemen lain demikian lemahnya hingga nama besar sulit untuk membantu.

Berkisah tentang John Dolittle (Robert Downey Jr.) seorang dokter yang bisa berbicara pada binatang yang mau bergaul dengan segala spesies hewan yang ada rumahnya tapi menolak untuk menemui makhluk berkaki dua sepertinya disebabkan trauma masa lalu. Semua berubah ketika Stubbins (Harry Scollet) dan utusan Ratu Victoria (Jessie Buckley), Lady Rose (Carmel Laniado) memasuki hidupnya.

DOLITTLE memiliki premis cerita yang sederhana dan memiliki unsur petualangan yang secara naratif, memberi banyak ruang untuk Dolittle bekerja sama dengan para binatang atau para binatangnya berinisiatif beraksi sendiri. Ketegangan dan komedi berbunga dari situ. Robert Downey Jr. memerankan Dolittle kurang lebih mirip dengan karakter Jack Sparrow. Meski Jack Sparrow sering berpenampilan dan bertingkah eksentrik, namun percikan pikiran briliannya membuatnya menarik dan kompleks. DOLITTLE mencoba melakukan hal yang sama dengan hasil kurang baik. Sisi cerdas Dolittle terasa kurang dieksplor lebih jauh dan mendetail lagi. Spotlight lambat laun justru lebih banyak diberikan pada para binatang membuat Dolittle justru terkesan pelengkap saja. Belum lagi pilihan aksen bicaranya yang sulit didengar. Untung saja penonton Indonesia disuguhi subtitle.

Baca Juga:  Review Film Spies in Disguise, Aksi Spionase Kocak yang Sangat Menghibur

Unsur hiburan yang paling menonjol adalah tingkah para binatang. Gorilla yang penakut, Beruang kutub yang takut dingin, Rubah yang berbicara bahasa perancis, Burung Unta yang malas, dll. Semua kepribadian berbeda ini membaur, beraksi, bekerja sama, dan berhasil mengundang tawa walau tidak selalu mendarat mulus. Para binatang ini mungkin satu-satunya yang secara konsisten membuat DOLITTLE mengambang saat momen emosional, cerita dan karakternya sering kali kesulitan.

Untuk film yang mengedepankan CG hasil akhirnya secara begitu kasat mata sering kurang meyakinkan. Para binatang terkadang begitu terlihat artifisialnya. Spesial efek untuk latar belakangnya pun begitu kasar nan kentara apalagi saat Stubbins pertama kali melihat gajah di pekarangan Dolittle. Sesuatu yang harusnya bisa dijual sebagai momen magis baik itu untuk karakter Stubbins dan penonton disajikan begitu cepat dan kurang rapih sehingga terkesan hanya adegan sekelebat tak terlalu penting saja.

Pada akhirnya DOLITTLE adalah film yang dikemas dengan sebisa mungkin untuk anak-anak (sepertinya diakui oleh LSF Indonesia yang kini mempunyai pemberitahuan rating yang manis sebelum film dimulai); plot sederhana minimal ancaman berarti, antagonis bercerita tentang rencana jahatnya secara gamblang terang benderang, dan para binatang lucu berwarna warni. DOLITTLE mungkin tak mempunyai resep yang manjur untuk yang menginginkan lebih, tapi bagi yang ingin memberi sang dokter kesempatan, ini adalah film yang bisa mengundang tawa bagi anak anak dan juga kalian gwiples.

Continue Reading

Box Office

Review Film Cats, Indah Lagunya namun Seram Wujudnya

Published

on

GwiGwi.comCats adalah film yang berkisah tentang sekelompok kucing yang digambarkan seperti manusia yang hidup di lorong dan jalan-jalan di London, Inggris. Suatu hari, pemeran utama dalam film ini, yakni Victoria (Francesca Hayward), seekor kucing putih yang dibuang bertemu dengan kelompok suku kucing bernama Jellicle.

Victoria disambut oleh kucing Munkstrap (Robbie Fairchild) dan diperkenalkan kepada kawanan Jellicle tersebut. Victoria disambut oleh nyanyian dan musik riang, serta tarian-tarian energik dari kelompok Jellicle. Victoria mulai bisa beradaptasi dan menikmati keadaannya meski, harus menerima kenyataan telah dibuang. Seiring film berjalan, semakin menarik saat Victoria mengetahui bahwa kelompok kucing Jellicle itu memiliki sebuah pertunjukan bakat bernama Jellicle Ball, yang diawasi oleh kucing Old Deuteronomy (Judi Dench).

Nantinya, yang terbaik dalam pertunjukan itu akan melakukan perjalanan kebahagiaan menuju Heaviside Layer yang nampak misterius.

Film besutan Tom Harper ini adalah sebuah film drama musikal yang diadaptasi dari buku kumpulan puisi karya T.S. Elliot yang berjudul Old Possum’s Book of Parctical Cats tahun 1939. Namanya film musikal ini memang hampir semuanya menggunakan nyanyian sebagai dialog mereka. Jika tidak memperhatikan nyanyian yang dilantunkan dalam film ini, maka bisa jadi tidak akan paham dengan jalan cerita yang sedang dibangun.

Baca Juga:  Review Film Spies in Disguise, Aksi Spionase Kocak yang Sangat Menghibur

Yang menjadi hal menarik dalam film Cats ini tentu saja adalah pemerannya yang terdiri papan atas seperti James Corden, Jennifer Hudson, Judi Dench, Ian McKellen, Jason Derulo, Taylor Swift, Idris Elba, Francesca Hayward dan Rebel Wilson. Mereka berhasil melakukan effort terbaik untuk film Ini. Namun ya sayang sekali belum beruntung film Ini di persaingan film bulan Desember 2019.

Dari segi visual, film Cats ini memang menampilkan banyak orang yang memiliki karakter fisik seperti manusia, namun memiliki bulu dan ekor layaknya kucing sehingga bagi sebagian orang mungkin tampak menyeramkan atau aneh, sehingga sempat menimbulkan banyak pro dan kontra. Trailer film yang diunggah di YouTube juga diketahui lebih banyak mendapat dislike daripada like.

Ada satu adegan yang mencuri perhatian saat kucing-kucing yang seperti manusia itu memakan kecoa. Sutradara seakan ingin menjelaskan bahwa yang sedang makan kecoa itu adalah kucing. Namun, tampaknya hal tersebut membuat jijik karena masih tampak jelas yang memakan kecoak hidup-hidup itu adalah manusia.

Secara keseluruhan, Film Cats memiliki kekuatan di lagu-lagunya namun sayang dari segi visual malah terlihat menyeramkan atau terkadang terlihat aneh.

Continue Reading
Advertisement DICARI REPORTER
Advertisement

Trending