Connect with us

Box Office

Review Film Spectre, Masa Lalu Yang Memulai Segalanya Diungkap

Published

on

GwiGwi.com – James Bond memang sudah terkenal sejak tahun 1962 melalui Dr.No. Kali ini serial agent MI6 kembali hadir melalui judul terbarunya, Spectre. Penasaran seperti apa ceritanya? Yuk kita lihat review berikut.

Sutradara : Sam Mendes

Pemain : Daniel Craig, Lea Seydoux, Monica Belluci, Ralph Fiennes, Christopher Waltz

Advertisements

Score : 6 / 10

Spectre adalah judul yang dipilih menjadi instalemen ke-24 James Bond, judul yang juga merupakan nama organisasi kriminal internasional yang sebenarnya sudah muncul sejak jilid Diamonds Are Forever yang rilis 1971 silam. Masih ditangani oleh Sam Mendes, sutradara yang berhasil membuat Skyfall menjadi salah satu seri Bond terbaik di era modern setelah Casino Royale yang kebetulan juga bagian dari Bond era Daniel Craig.

Apa yang dilakukan Mendes di Skyfall tidak hanya bagus secara kualitas namun bagaimana ia berani melakukan sebuah reboot halus dengan memperkenalkan kembali karakter spy paling terkenal di dunia dengan caranya yang luar biasa, memasukan karakter-karakter yang absen di dua seri sebelumnya seperti Q dan Eve Moneypenny, termasuk meremajakan karakter sepenting M yang dihadirkan dalam sebuah transisi mulus nan mengejutkan. Jadi tentu saja semua senang ketika Mendes ditunjuk kembali untuk menukangi Spectre, seri yang konon menjadi babak pemungkas buat Daniel Craig yang sudah mulai menua.

Jika kebetulan kamu terlebih dahulu sudah melihat trailernya yang berdurasi kurang lebih dua menit itu lagi-lagi kesan suram dan gelap menghinggap di setiap adegannya yang juga nyaris tidak memperlihatkan momen aksi, hal ini seakan-akan mengisyaratkan Spectre akan dikuasai oleh lebih banyak narasi yang jauh lebih kompleks dan lebih personal buat karakter Bond lengkap dengan gambar-gambar indah, dialog berat (“You are a kite dancing in a hurricane, Mr Bond”) kehadiran villain baru yang misterius dan kuat. Sayangnya, kenyataan di lapangan tidaklah demikian. Buat penonton yang mengharapkan action dan kecewa dengan trailernya, tenang saja, Spectre masih menawarkan dentuman aksi khas Bond yang cepat dan seru bahkan sejak awal ia dibuka.

Ben Whishaw and Daniel Craig in Metro-Goldwyn-Mayer Pictures/Columbia Pictures/EON Productions’ action adventure SPECTRE.

 Adegan panjang yang mengawali kisah Bond di Meksiko guna mengemban misi rahasia dari mendiang M lama disyut dengan sangat baik tanpa putus di kurang lebih 7 menit pertama yang kemudian dilanjutkan dengan ledakan, kejar-kejaran dan stunt helikopter yang mendebarkan.

Setelah itu Bond yang tidak mendapat restu dari kepala baru MI6, M (Ralph Fiennes) yang menskors Bond dari segala aktivitasnya sebagai agen rahasia. Tetapi hal ini tidak membuat James Bond pantang mundur ketika misi pencariannya belum selesai. Dengan bantuan Q (Ben Whishaw) dan  Moneypenny (Naomie Harris) tugas rahasia Bond berlanjut, mempertemukannya dengan Dr. Madeleine Swann (Léa Seydoux) putri tunggal Mr. White (Jesper Christensen) dan sindikat rahasia misterius bernama SPECTRE yang dipimpin oleh Franz Oberhauser (Christoph Waltz) yang berencana membuat kekacauan besar.

Harapan akan suguhan kisah Bond di pemungkas era Craig yang berkesan sepertinya gagal dihadirkan Mendes kali ini. Ya, ekspektasi akan narasi yang lebih dalam dari para pendahulunya ternyata tidak terbukti meski sebenarnya potensi menjadi besar ada di dalamnya. Coba cek, trailernya menampilkan suasana suram yang seakan-akan menitik beratkan pada pribadi dan masa lalu Bond serta rahasia besar yang akan terkuak nanti, tetapi dalam perjalanannya tidak demikian. Setelah 15-20 menit penontonnya perlahan akan menyadari bahwa naskah keroyokan garapan John Logan, Neal Purvis, Robert Wade dan Jez Butterworth ini menjadi terlalu dangkal, jauh dari yang diharapkan.

Beberapa bagian terasa dibiarkan terlalu panjang dan bertele-tele sehingga menghasilan kejenuhan bagi sebagian penontonnya, belum lagi saya menyebut beberapa bagian lain yang terasa terlalu digampangkan, padahal kalau mau, ada ruang lebih untuk mengeksplorasinya guna memberikan sisi emosional, lihat saja salah satunya misteri musuh Bond, Ernst Stavro Blofeld alias Franz Oberhauser  yang awalnya memberikan ancaman meyakinkan dengan menampilkan keterkaitannya dengan musuh-musuh Bond sebelumnya seperti Raoul Silva dari Skyfall, Le Chiffre yang termasuk love interst Bond, Vesper Lynd yang tewas mengenaskan di Casino Royale.

james

Ya, dari sini saya tentu saja punya harapan besar bahwa Oberhauser sebagai bos besar dari segala bos akan memberikan tekanan penting pada narasi Spectre, entah dengan cara mengulik masa lalu Bond atau punya kecerdasan luar biasa yang akan mengintimidasi jagoan kita nantinya baik secara mental mau fisik, tapi sekali lagi harapan tinggal harapan,  kenyataannya Oberhauser tidak segarang itu, Mendes dan tim penulisnya juga memilih jalan yang lebih sederhana untuk menyelesaikan konfliknya dengan dalih menghormati era Bond klasik yang imbasnya malah menghilangkan ciri khas Bond Craig.

Baca Juga:  Ryoko Yonekura Berperan Dalam Serial Drama Netflix "The Journalist"

Tetapi apa pun kekurangannya, film James Bond tetaplah film James Bond, termasuk Spectre cukup enjoyable untuk dinikmati khususnya pada sekuens aksinya yang menantang. Dari berjibaku dalam helikopter di pembukaannya, balap-balapan di jalan raya kota Roma antara Aston Martin DB10 dan Jaguar C-X75 yang dikendarai pembunuh sekaligus henchman Oberhauser,  Mr. Hinx (Dave Bautistasampai puncaknya di London berhasil digarap dengan apik dalam balutan sinematografi cantik dari Hoyte van Hoytema (Interstellar, Her), sementara scoring garapan Thomas Newman menderu-deru memberi emosi di setiap adegan penting. Singkatnya, secara teknis, Mendes masih dibilang berhasil membungkus Spectre dengan kualitas tingkat tinggi dan keglamoran klasik khas film Bond .

Sementara jajaran pemainnya bisa dibilang hit and miss. Daniel Craig tentu saja menjadi daya pikat utama Spectre seperti di seri-seri sebelumnya. Meski mulai menua tetapi kharisma Bond dan ketangguhannya masih terpancar kuat meski kini narasinya tidak lagi terlalu banyak bermain-main dengan emosinya.

james_2

Sementara miss-nya bisa dibilang terlalu banyak. Pemilihan Léa Seydoux  dan aktris gaek Monica Bellucci memang menarik secara fisik dan nama besar. Seydoux jelas adalah aktris penuh potensi dengan segudang pengalaman bermain baik di negaranya sendiri, Perancis maupun beberapa judul keluaran Hollywood, tetapi buat saya Seydoux tidak punya material untuk menjadikannya gadis Bond yang tepat yang akan selalu diingat layaknya Eva Green di Casino Royale atau Famke Janssen di Golden Eye, dan menjadi masalah ketika naskahnya memberi tempat spesial buat karakter Madeleine Swann di hati Bond tanpa jalinan chemistry yang kuat. Tetapi dibanding Monica Belluci, Seydoux masih terbilang sangat beruntung karena mendapatkan screen time lebih banyak, Belluci sendiri tampil sangat singkat bak cameo tak penting yang dengan mudah digantikan siapa saja. Karakter-karakter lain macam Q yang dimainkan Ben Whishaw memberi warna komedi tersendiri ketika disatukan dengan Bond, lalu Naomie Harris kali ini tidak mendapatkan banyak porsi sebagai  Moneypenny.

M baru di bawah kendali Ralph Fiennes mungkin kini tidak se-memorable Judy Dench, tetapi Fiennes masih punya banyak waktu untuk ke sana di seri-seri berikutnya. Last but not least, ada Christoph Waltz yang didapuk sebagai villain utama sebenarnya punya modal menjadi salah satu karakter bos musuh paling dikenang dalam sejarah Bond dengan segala konsep Spectre yang misterius dan mengerikan itu, tetapi sayang narasinya tidak memberi kesempatan buat Waltz untuk berkembang dan itu adalah hal yang sangat disayangkan ketika ia hanya berakhir sebagai musuh Bond yang terlupakan.

Kesimpulan yang saya bisa tarik setelah menyaksikannya adalah Spectre memang mempunyai nilai plusnya sendiri. Namun, beberapa kelemahan dan kekurangan yang sebenarnya bisa lebih menyempurnakannya membuat Spectre menjadi hit and miss di beberapa tempat.

Advertisements

hello i'm an alien, cosplayer, gunplay builder, boardgames player, amateur bassist, movie blogger and a dreamer

Box Office

Review Film Cuties, Realita Sosial Yang Cukup Menohok

Published

on

GwiGwi.com – Oke gwiples kali ini gue bakal mereview film asal negara Perancis yang cukup mengundang kontroversi yang tayang di layanan streaming Netflix. Bahkan sampai ada kampanye untuk memboikot Netflix karena film ini membuat penontonnya geleng-geleng kepala. Yaitu Cuties (Mignonnes) arahan Maimouna Doucure.

Film ini mengisahkan tentang Amy, anak perempuan berusia 11 tahun dari keluarga imigran muslim Senegal yang pindah ke Perancis. Hidup di keluarga yang konservatif yang dimana ia adalah anak sulung yang harus mengurus adik-adiknya, bantu ibunya mengurus pekerjaan rumah tangga, dan dicerewetin ama tantenya.

Ketika ia harus bersekolah di lingkungan baru, Amy bertemu dengan geng populer di sekolah tersebut. Ya tipikal geng di sekolah yang gaul, free, expressive, dan entitled.

Advertisements

Akhirnya Amy bisa gabung dan nge-klik sama mereka, dan dia berubah drastis bahkan bisa dibilang ekstrim gayanya semata-mata Karena dia pengen bebas dan bisa nyeimbangin dengan gaya hidup geng populer temen-temennya Ini.

Film Cuties ini berbicara tentang realita, ya memang di anak usia segitu bisa dibilang ingin diakui dan ingin dilihat bahwa mereka mampu terlihat “keren” dan terjadi di kehidupan nyata. Film Ini juga memberikan pelajaran bagi orangtua juga tapi untuk para orangtua juga musti menonton film ini dengan pikiran terbuka gak cuman melihat sisi hitam-putihnya aja. Rasanya agak keliru jika para orangtua nonton Film Ini dengan pola pikir judgemental.

Baca Juga:  Rinka Kumada & Toshiki Seto berperan dalam Drama TV Asahi "Marry Me!"

Filmnya berhasil menyampaikan social commentary dengan baik. Tapi dari segi pengambilan gambar punya angle-angle kamera yang mengerenyitkan dahi. Ngapain sih ngeshot adegan-adegan seronok anak umur 11 tahun???? Tujuan film ini kan meningkatkan awareness soal oversexualizing anak.

Gue paham shot Ini ingin menyampaikan bahwa yang dilakukan Amy dan kawan-kawan salah, tapi malah bikin jengah beberapa penonton.

Untuk ending filmnya pun gue rasa pas. Karena ya peran utamanya anak-anak gue rasa cukup dengan adanya sedikit sentilan untuk karakter di film Ini untuk sadar atas apa yang mereka lakukan.

Terlepas dari segala kontroversi yang ada di film ini bagi beberapa orang. Film Ini memang menggambarkan realita yang menohok. Namanya hidup terbentur masalah biasa sih menurut gue kita bisa mengambil beberapa pelajaran untuk tidak melakukan kesalahan di kemudian hari.

Advertisements
Continue Reading

Box Office

Aktor ‘Black Panther’ Chadwick Boseman Meninggal Dunia Karena Kanker pada Usia 43 tahun

Published

on

By

Chadwick Boseman poses in the press room with the award for outstanding actor in a motion picture for "Black Panther" at the 50th annual NAACP Image Awards at the Dolby Theatre in Los Angeles in 2019. Photo: Invision/AP

GwiGwi.com – Aktor Chadwick Boseman, yang memerankan ikon Black Jackie Robinson dan James Brown sebelum menemukan ketenaran sebagai Black Panther agung di Marvel Cinematic Universe, meninggal Jumat karena kanker, kata perwakilannya.

Dia berusia 43 tahun. Boseman meninggal di rumahnya di daerah Los Angeles bersama istri dan keluarganya di sisinya, juru bicara Nicki Fioravante mengatakan kepada The Associated Press. Boseman didiagnosis menderita kanker usus besar empat tahun lalu, kata keluarganya dalam sebuah pernyataan.

“Seorang pejuang sejati, Chadwick bertahan melalui itu semua, dan membawakan Anda banyak film yang sangat Anda sukai,” kata keluarganya.

Advertisements

“Dari Marshall hingga Da 5 Bloods, August Wilson's Ma Rainey’s Black Bottom dan beberapa lainnya – semuanya difilmkan selama dan di antara banyak operasi dan kemoterapi. Merupakan kehormatan dalam karirnya untuk menghidupkan Raja T’Challa di Black Panther.”

Boseman tidak berbicara secara terbuka tentang diagnosisnya. Lahir di Carolina Selatan, Boseman lulus dari Howard University dan memiliki peran kecil di televisi sebelum pergantian bintang pertamanya pada tahun 2013.

Penggambarannya yang mencolok dari bintang bisbol tabah Robinson berlawanan dengan Harrison Ford di tahun 2013 dengan “42” menarik perhatian di Hollywood dan membuatnya sebuah bintang. Boseman meninggal pada hari Major League Baseball merayakan hari Jackie Robinson.

“Ini adalah pukulan telak,” kata aktor dan sutradara Jordan Peele di Twitter, salah satu dari banyak yang mengungkapkan keterkejutan saat berita itu menyebar ke media sosial.

Baca Juga:  Drama TV Asahi "24 Japan" Ungkap Poster Teaser dan Tanggal Tayang Episode 1

“Ini menghancurkan saya,” kata aktor dan penulis Issa Rae. Karakter T’Challa-nya pertama kali diperkenalkan ke film blockbuster Marvel di tahun 2016 “Captain America: Civil War”, dan salam “Wakanda Forever” bergema di seluruh dunia setelah rilis “Black Panther” dua tahun lalu.

Karakter itu terakhir kali terlihat berdiri diam dalam balutan setelan hitam di pemakaman Tony Stark di “Avengers: Endgame” tahun lalu. Bahkan pada awal karirnya di Hollywood, Boseman memiliki pandangan yang jernih – dan bahkan skeptis terhadap – industri di mana ia akan menjadi bintang internasional.

“Anda tidak memiliki pengalaman yang persis sama sebagai aktor kulit hitam seperti yang Anda miliki sebagai aktor kulit putih. Anda tidak memiliki kesempatan yang sama. Itu terbukti dan benar,” katanya kepada AP sambil mempromosikan ” 42.” “Cara terbaik untuk mengatakannya adalah: Seberapa sering Anda melihat film tentang pahlawan kulit hitam yang memiliki kisah cinta – dengan seorang wanita kulit hitam, atau wanita mana pun … dia memiliki spiritualitas. Dia memiliki kecerdasan. Aneh untuk mengatakannya, tapi itu tidak sering terjadi.”

Selain Robinson dan Brown, Boseman memerankan Hakim Agung AS Thurgood Marshall dalam film “Marshall” tahun 2017. Dia mengambil pekerjaan produksi pertamanya dalam film thriller aksi tahun lalu “21 Bridges,” di mana dia juga membintangi, dan terakhir terlihat di layar dalam film Spike Lee “Da 5 Bloods” sebagai pemimpin sekelompok tentara Hitam di Perang Vietnam.

Advertisements
Continue Reading

Box Office

Pixar Umumkan Film ‘Luca’ Untuk 2021

Published

on

By

GwiGwi.com – Pixar Animation Studios mengumumkan perilisan film terbarunya berjudul ‘Luca’. Disutradarai oleh penerima nominasi Academy Award® Enrico Casarosa (‘La Luna’) dan diproduseri oleh Andrea Warren (‘Lava’, ‘Cars 3’), ‘Luca’ akan tayang di bioskop pada 2021 mendatang.

Berlatar di sebuah kota pinggir pantai yang indah di Riviera Italia, film animasi orisinal terbaru ini berkisah tentang petualangan musim panas anak laki-laki bernama Luca yang dipenuhi dengan gelato, pasta, dan skuter. Bersama sahabat barunya, Luca menikmati liburan yang tak terlupakan. Namun, kebahagiaan mereka terancam saat Luca mengungkap sebuah rahasia: ia adalah monster laut dari dunia lain di bawah permukaan air.

Baca Juga:  Kasumi Arimura Berperan dalam Drama Fuji TV "Older Sister's Lover"

“Ini adalah kisah yang sangat personal bagi saya, bukan hanya karena berlatar di Riviera Italia tempat saya dibesarkan, tetapi karena inti dari film ini adalah perayaan akan nilai persahabatan. Persahabatan masa kecil sering kali menentukan arah hidup yang kita inginkan dan ikatan itulah yang menjadi inti kisah kami di ‘Luca',” ujar Enrico Casarosa sang sutradara. “Jadi, selain menyajikan keindahan dan pesona tepi pantai Italia, film ini juga akan menghadirkan petualangan musim panas tak terlupakan yang akan mengubah hidup Luca.”

Advertisements
Advertisements
Continue Reading

Trending