Connect with us
Maaf Anda Melihat Iklan

TV & Movies

Review Film SHE SAID, Film jurnalis terkeras dan terpedih pemantik gerakan “Me Too”

Published

on

GwiGwi.com – Di awal film terdapat beberapa shot yang memfokuskan pada wanita-wanita yang berjalan kaki di New York. Seolah mengatakan kalau kisah SHE SAID adalah tentang mereka dan bisa jadi masalah yang akan menimpa mereka namun tak terangkat dan sulit terkatakan.

Maaf Anda Melihat Iklan

Film investigasi reportase ini bercerita mengenai penyelidikan dua jurnalis koran NEW YORK TIMES yakni Jodi Kantor (Zoe Kazan) dan Megan Twohey (Carey Mulligan) akan kasus pelecehan yang dilakukan produser kondang, Harvey Weinstein.

Jodi mendapat tip mengenai pelecehan seksual yang dialami Rose Mcgowan (voice: Rose Mcquail) namun yang bersangkutan menolak berkomentar. Rose kemudian menelpon balik dan mengaku diperkosa saat berumur 23 tahun oleh Harvey Weinstein. Megan Twohey (Carey Mulligan) membantu setelah diketahui banyaknya beban Jodi.

Tidak hanya kalangan aktris, para mantan karyawan di MIRAMAX, rumah produksi yang dikepalai Harvey pun mendapat perlakuan yang sama. Pelbagai kasus ini membuka mata Jodi dan Megan soal besarnya skala perbuatan pria yang pernah disebut sebagai “Tuhan” oleh aktris Meryl Streep itu.

Film investigasi berdasarkan kisah nyata ini berpotensi jatuh hanya berisikan para pemeran mengeksposisikan masalah saja dan disajikan dengan visual yang berasa datar. Tak ubahnya dokumentasi kejahatan. Di beberapa poin memang terasa demikian walaupun pengadeganan masih kuat.

Zoe Kazan dan Carey Mulligan terlihat berkomitmen dan tentunya representasi bagus ibu pekerja yang sukses di pekerjaan dan di rumah. Akting mereka menolong karakter Wendy dan Jody yang sebenarnya biasa saja bila dibandingkan kisah investigasi reportase, SPOTLIGHT dengan Michael Rezendes (Mark Ruffalo) yang unik atau duo detektif di serial investigasi prosedural UNBELIEVABLE, Karen Duvall (Merritt Wever) yang konservatif dan Grace Rasmu (Toni Collette) yang lebih liberal.

Baca Juga:  Review Anime Spy x Family Part 2

Maka film sangat tergantung bagaimana mengolah ketegangan saat tiap lapisan kasus besar ini terkuak dan bisa dibilang filmmaker cukup sukses melakukannya.

Fakta penyelesaian hukum berupa uang dengan korban tak ada bedanya dengan uang suap tutup mulut dan membungkam korban; suara rekaman aktris Ambra Battilana yang dilecehkan Harvey yang menjijikkan; meski terkesan terlindungi pengaruh dan uang, orang sekitar Harvey sebenarnya kerepotan atau tak setuju dengan tindakannya dan bersedia bicara bila diberi sedikit dorongan.

Bisa dipahami kalau film barangkali ingin materi ini ingin diangkat se real mungkin tanpa melodrama dan walau beberapa wawancara dengan korban seperti Laura Madden (Jennifer Ehle) memilukan, apa adegan seperti ini tak membuat penonton sekalian saja melihat pernyataan korban aslinya saja di Youtube? The movie does need more cinematic moment like “To kids” speech in SPOTLIGHT.

Brendan Fraser baru-baru ini menyatakan menolak menghadiri GOLDEN GLOBE AWARDS 2022 meskk
Ipun mendapat nominasi karena pernah dilecehkan oleh mantan pemimpin HOLLYWOOD FOREIGN PRESS ASSOCIATION, organisasi penyelenggaranya. Pada akhirnya ini bukan hanya tentang perempuan tetapi tentang siapa saja.

Heavy sensitive subject and strong language. This ain't PG-13 come on.

Maaf Anda Melihat Iklan
Maaf Anda Melihat Iklan
Advertisement
Click to comment
0 0 votes
Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

TV & Movies

Review Film The Offering, Horor Religi yang Mengerikan

Published

on

GwiGwi.com – Arthur (Nick Blood) yang tumbuh di keluarga Yahudi Ortodoks memiliki hubungan yang kurang akur dengan sang Ayah yang berprofesi sebagai pemilik rumah duka.

Maaf Anda Melihat Iklan

Keputusan Arthur untuk memilih pasangan bukan dari keturunan Yahudi menjadi salah satu alasan pertengkaran mereka.

Namun, saat sang istri Claire hamil, Arthur merasa ini momen yang tepat untuk berdamai dengan sang ayah.

Di saat Art dan Claire datang, lingkungan Yahudi ini tengah dihebohkan dengan hilangnya seorang anak perempuan bernama Sarah Scheindal.

Tanpa disadari oleh Art dan Saul, hilangnya Sarah ternyata memiliki hubungan dengan mayat Yosille yang baru dibawa ke rumah duka.

Sejak saat itulah jenazah Yosille, Saul, Art dan Claire diteror berbagai hal menyeramkan yang turut mengancam keselamatan bayi di kandungan Claire.

Langsung ke filmnya, Mengambil latar kehidupan keluarga Yahudi Ortodoks, film ini menawarkan kisah horor konvensional di mana sang iblis bertarung dengan kekuatan religi.

Namun, gak cuman vibe horor yang dijual, film ini juga mengangkat drama hubungan ayah dan anak yang terasa cukup menghangatkan di beberapa adegan.

Baca Juga:  Daftar Anime Musim Dingin 2023 yang memiliki Format ONA

Meski begitu drama ayah anak ini perlahan akan mereda di paruh kedua film dan beralih pada teror iblis Abyzou, yang dikenal sebagai iblis perenggut anak.

Desain produksi dan visual adalah sesuatu yang patut diacungi jempol ini, buat yang nungguin jump scare mungkin akan merasa terhibur dengan film ini, karena The Offering cukup rajin membuat penonton tersentak kaget.

Namun, ada kalanya saya merasa jump scare yang dihadirkan begitu klise dan muncul dari hal yang terasa remeh alih-alih teror sang iblis. Di samping itu penggunaan audio yang mencekam dan bernada tinggi banyak digunakan untuk menambah kesan horor.

Namun menurut gue, di beberapa adegan hal ini terasa berlebihan dan sekadar memancing rasa kaget, bukan memicu rasa mencekam.

Secara keseluruhan film The Offering cukup menghibur. Menyebut kelemahan film, The Offering tidak membawa hal baru untuk sebuah sajian horor. Tetapi buat yang suka film horor supernatural, film ini bisa jadi pilihan.

 

Maaf Anda Melihat Iklan
Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

TV & Movies

Review Film Operation Fortune: Ruse de Guerre, Aksi Mata-Mata Standar dari Guy Ritchie

Published

on

GwiGwi.com – Orson Fortune (Jason Statham) agen kawakan bersifat menyebalkan ditugaskan untuk mencari alat berbahaya berkode name, “The Handle” dan menghentikan orang kaya penjual senjata, Greg Simmonds (Hugh Grant) menjualnya.

Maaf Anda Melihat Iklan

Bersama timnya, Sarah Fidel (Aubrey Plaza), J.J (Bugzy Malone) dan bosnya yang sering dibuatnya kesal, Nathan (Cary Elwes). Mengingat Greg menyukai artis Hollywood, Orson mengajak paksa aktor Danny Francesco (Josh Hartnett) untuk membantunya.

Film aksi komedi mata-mata bertabur bintang ini disutradarai Guy Ritchie yang memang awal karirnya melesat dengan film penuh interaksi antar karakter seperti LOCK, STOCK and TWO SMOKING BARRELS (1998) dan SNATCH (1998). Bila dua film itu banyak tentang preman Inggris kali ini memainkan trope film mata-mata dan apakah berhasil? Tidak terlalu.

OPERATION FORTUNE: RUSE DE GUERRE menonjolkan keunikan karakter dan chemistry antar mereka dibanding world building atau banyak menjelaskan soal teknologi maupun setting. Seolah berkata ini para karakternya, melakukan spy thing, gak usah pikir yang lain.

Mengambil apa tipikal film mata-mata dan tambah gaya Guy Ritchie. Kekurangan dari pendekatan ini adalah filmnya secara visual dan art begitu forgettable karena tak memiliki identitas khusus seperti misal: perlente ala James Bond, penuh gadget ala Mission Impossible, atau stylish gentleman ala Kingsman.

Baca Juga:  Daftar Anime Musim Dingin 2023 yang memiliki Format ONA

Sangat bergantung pada keunikan karakter yang di mana kalau mereka gagal menarik, film bisa jatuh. Dalam itu pun film tak terlalu berhasil.

Komedi kurang bekerja untuk saya dan rasanya tidak secerdas atau selucu yang filmnya pikirkan. Terlalu banyak lawakan soal selangkangan. Mungkin skripnya perlu tambah draft lagi sebelum difinalisasi. Memang ada beberapa yang lucu namun mayoritas berasa tanggung. Seolah tinggal sedikit lagi berhasil tapi kurang matang.

Para aktornya lah yang lumayan berhasil mengangkat kekurangan komedinya ini. Film ini juga mengingatkan kalau Jason Statham adalah aktor yang memiliki banyak range dan karismatik. Film justru lebih menarik saat dia sedang beraksi sendiri bukan dengan timnya.

OPERATION FORTUNE: RUSE DE GUERRE memiliki banyak twist diplotnya yang sebenarnya asik saja walau aksinya begitu standar. Namun semua bahannya untuk menjadikan film in franchise baru ada. Moga saja berikutnya skrip, komedi dan aksi lebih baik.

So much F bomb and the rating is PG-13? What the heck LSF?

 

Maaf Anda Melihat Iklan
Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

TV & Movies

Review Film Balada Si Roy, Bukan Sekedar Nostalgia

Published

on

Gwigwi.com – Bagi generasi 70-90an mungkin familiar dengan cerbung (cerita bersambung) Balada si Roy karangan Gol A Gong yang muncul di majalah HAI hingga di novelkan hingga 10 Jilid buku.

Maaf Anda Melihat Iklan

Setelah mengalami proses panjang, akhirnya kisah Roy diangkat ke layar lebar yang dinahkodai oleh Fajar Nugros dan naskahnya ditulis oleh Salman Aristo.

Dikisahkan, Roy (Abidzar Al-Ghifari) pindah ke kota Serang, ia pun berambisi untuk menaklukan tempat baru dimana ia tinggal dan menghadapi berbagai hal seperti; ngegebet cewek, bersaing dengan anak jawara, kena santet, hingga balapan liar.

Visi dari IDN Pictures dan Fajar Nugros yang ingin menggarap Balada si Roy bukan hanya sekedar nostalgia bagi para generasi yang tahu dan tumbuh besar membaca cerbung maupun novelnya di masa itu. Namun juga memberikan spirit Roy di masa sekarang dan di masa depan kelak.

Pas gue denger novel ini mau diangkat ke layar lebar, jujur gue sangat excited karena gue baca novelnya dulu jaman SMA dan kisah Roy menjadi pelarian di masa muda yang gak indah-indah banget. Meskipun gue bukan hidup di generasi dimana Balada si Roy sedang booming.

Ketika gue menyaksikan filmnya, seolah-olah memberikan trip down memory lane ke masa muda yang dinamis, persahabatan yang kuat, bahkan sampai geng-geng an.

Gue pun bertanya-tanya? Apakah kisah si Roy ini relate dengan anak sekarang?? Gue pikir masih bisa karena kunci dari Balada si Roy adalah bagaimana Roy menjalani hidup, serta memberikan perspektif tentang seorang figur remaja yang concern terhadap perubahan di lingkungan sekitar.

Film ini sempat tayang di beberapa festival terlebih dahulu sebelum tayang reguler yang telah beberapa kali mengalami penundaan. Intinya sih sabar menanti dan buat gue film Ini worth to wait.

Dari segi cast Abidzar Al-Ghifary, Feby Rastanti, dan Bio One berhasil menghidupkan karakter sentral sebagai Roy, Ani, dan Dullah secara autentik dan sesuai bayangan gue ketika balik lagi baca novelnya sambil menunggu filmnya rilis.

Baca Juga:  First Impression Anime Tomo-chan wa Onnanoko

Adegan persaingan Roy dan Dullah ini menjadi highlight di filmnya berhasil dieksekusi dengan baik dan patut di apresiasi.

Begitupun dengan beberapa cast lainnya yang juga berhasil menghidupkan keseluruhan cerita menjadi sangat hidup.

Dengan latar tahun 1980an, gue salut banget dengan pembangunan set, props, penampilan para tokohnya, serta beberapa hal yang ngetren di era tersebut berhasil dibuat se-autentik mungkin. Bahkan sampai lagu-lagu yang merepresentasikan kisah di film ini.

Gak lupa dengan pengenalan kota Serang dengan berbagai hal seperti situs sejarah, kondisi sosial, bahkan tradisi yang ada di kota yang menjadi latar kisah si Roy.

Di novelnya sendiri memiliki gaya penceritaan yang cukup kompleks menurut gue, banyak layer yang berbeda dengan satu bab dan bab lainnya.

Sehingga ketika diangkat ke film akan menjadi sangat padat dan Ini adalah pilihan yang cukup bijak sehingga terjadi penyederhanaan di beberapa sisi cerita dan hal itu gak bisa dihindari. Dan gue pribadi pun memahami hal tersebut.

Kisah Roy yang deket dengan berbagai cewek di kisah ini pun kurang memiliki alasan kuat, sehingga Roy bisa dicap buaya yang gampang pindah ke lain hati, padahal di novelnya Roy punya alasan yang kuat untuk dekat dengan siapa saja dan tidak mau memiliki ikatan dengan siapapun. Lagi-lagi gue harus memahami hal tersebut yang dimana film ini ingin menggebet pasar remaja zaman now.

Secara keseluruhan, film Balada si Roy belum sempurna dan banyak yang perlu dibenahi jika ada sekuelnya kelak. Namun gue memberikan apresiasi untuk semua orang yang terlibat di film ini yang sudah menghidupkan kisah si Roy yang bukan hanya menjadi bahan nostalgia namun juga sebagai penanda bahwa akan ada pemuda macam Roy yang terus menyuarakan kebenaran meskipun kadang menyimpang.

 

Maaf Anda Melihat Iklan
Maaf Anda Melihat Iklan
Continue Reading

Trakteer

Interview on GwiGwi

Join Us

Subscribe GwiGwi on Youtube

Trending

GwiGwi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x