Connect with us

Box Office

Review Film Secret Life of Pets 2, tontonan menyenangkan di hari libur sekolah

Published

on

GwiGwi.com – Max (Patton Oswalt) dan teman-temannya sesama hewan peliharaan. Max yang sudah akur dengan Duke kini mendapatkan anggota keluarga baru. Ia adalah Chuck, yang menikah dengan Katie pemilik dari Max.

Mereka pun memiliki anak bernama Liam. Liam selalu mengikuti gaya Max dan Duke. Mereka pun menjadi akrab, apa lagi saat Max memasuki usia balita. Max pun semakin sayang dan membuatnya sangat protektif dan khawatir berlebih kepada Liam.

Katie mengajak Max dan Duke ke pedesaan, di sana mereka bertemu dengan seekor anjing peliharaan bernama Rooster (Harrison Ford). Max berusaha mengatasi rasa takutnya dengan bantuan dari Rooster.

Kemudian, Snowball (Kevin Hart) yang sekarang sudah dipelihara oleh anak perempuan. Ia berniat menjadi super snowball hewan peliharaan super yang memiliki tujuan mulia yaitu menolong hewan-hewan yang tersiksa.

Lalu, datanglah Daisy (Tiffany Haddish), seekor anjing Shih Tzu yang meminta pertolongan. Daisy ingin membantu seekor anak harimau yang di sebuah sirkus.

Lantas snowball melakukan misi penyelamatan anak harimau bersama Daisy. Sementara Gidget (Jenny Slate) mencoba menyelamatkan mainan favorit Max di apartemen penuh kucing.

Ia pun meminta bantuan Chloe (Lake Bell), si kucing tambun. Berhasilkah mereka semua menyelesaikan masalahnya masing-masing?

Sejak melihat trailernya, kita sudah dibuat tertawa dengan tingkah laku para hewan peliharaan Ini. Bahkan masing-masing karakter memiliki trailer sendiri.

Di film ini juga ada karakter-karakter baru seperti Daisy yang diisi Tiffany Haddish dan Rooster yang disulih suarakan oleh Harrison Ford.

Secret Life of Pets 2 menampilkan beragam cerita dari beberapa karakter namun akhirnya mereka semua bertemu dalam sebuah momen petualangan.

Baca Juga:  Review Film Secret Zoo, Aksi Kocak untuk Selamatkan Kebun Binatang

Max yang jadi gelisah, Gidget yang panik harus berhadapan dengan puluhan kucing, hingga Snowball yang ingin menyelamatkan anak harimau.

Masing-masing memiliki masalahnya sendiri, ceritanya disajikan dengan lompat kesana-kesini mungkin akan membuat kita sedikit mengantuk karena terlalu panjang untuk dipertemukan ke klimaksnya film Ini.

Memang untuk sebuah sekuel, Film Ini sangat pas untuk disebut sebagai sekuel. Dengan ruang lingkup yang lebih luas serta permasalahan yang lebih pelik untuk tiap karakternya.

Untuk tontonan anak-anak mungkin akan terlihat menyenangkan. Namun untuk tontonan dewasa mungkin akan terlihat sedikit membosankan.

Kemudian sisi positifnya, tingkah laku para hewan peliharaan ini seolah olah Dibuat hidup dan memiliki kesamaan dengan para hewan peliharaan pada umum nya di Dunia nyata. Misalnya, Chloe yang mengeong meminta perhatian pemiliknya.

Belum lagi saat dia mengajarkan Gidget menjadi kucing. Bersiaplah tertawa saat muncul sinar laser dan para kucing.

Kemudian Rooster, seekor anjing peternakan pemberani yang mengajarkan banyak hal kepada Max. Tampilannya gagah namun namanya ayam jago. Anjing pedesaan tidur di luar, sementara Max dan Duke terbiasa tidur di dalam rumah.

Belum lagi saat Max diajak Katie ke dokter hewan. Layaknya anjing jika gatal-gatal ia dipakaikan kerucut kepala.

Lucunya lagi tingkah hewan-hewan lainnya yang sedang mengantre di sana yang mempunyai permasalahan kayaknya manusia.

Secara keseluruhan, film Ini masih menjual tingkah laku hewan yang menggemaskan dari segi cerita pun dapat dibilang sebagai sekuel yang ideal untuk sebuah Film. Namun sayangnya mungkin hanya anak-anak yang menikmati Film ini. Namun untuk penonton dewasa terkesan biasa saja atau mungkin malah membosankan

Box Office

Review Film The Invisible Man, Teror Kejam si Tak Terlihat

Published

on

GwiGwi.com – Semenjak kegagalan demi kegagalan hasil adaptasi monster klasik Universal Studios seperti DRACULA UNTOLD (2014) dan THE MUMMY (2017) tentu trailer pertama dari THE INVISIBLE MAN (2020) mengundang rasa skeptis yang tinggi. Terkesan kalau Universal ingin hanya sekedar menghadirkan si manusia kasat mata di modern tanpa punya sentuhan lain. Hanya menggantikan hantu dengan si “monster”nya. Saya sangat-sangat salah. Film ini berhasil memodernkan formula horror klasik, membawakan tema toxic relationship yang akan selalu relevan dengan baik, dan nominasi oscar untuk Elizabeth Moss? Bisa jadi, bisa jadi.

Cecilia (Elizabeth Moss) berhasil melarikan diri dari pacarnya yang kejam, Adrian Greene (Oliver Jackson-Cohen), miliarder dan ilmuwan di bidang optik. Namun memori hubungan traumatik tersebut tak langsung pergi. Cecilia hidup dalam ketakutan di rumah temannya, James (Aldis Hodge) dan anak James, Sydney (Storm Reid), sampai sekedar mengambil koran di luar terasa berat. Saat Cecilia mengira hari baru yang lebih baik dimulai, beragam peristiwa membuatnya yakin adanya ancaman yang tak terlihat.

Di film INVISIBLE MAN (1933), film monster klasik favorit saya, terdapat adegan saat beberapa karakter berbicara soal bahaya dari Griffin/Invisible Man (Claude Rains) dan bagaimana dia bisa saja di ruangan itu, saat itu juga mendengarkan mereka. Gimmick inilah yang dimaksimalkan sutradara Leigh Wannel di adaptasi terbaru Invisible Man ini hingga sekedar shot sudut ruangan yang kosong bahkan saat ada banyak orang terasa mengerikan.

Cara Leigh menampilkan teror tidak dengan frontal nan agresif tetapi lebih perlahan dan meminimalisir pergerakan kamera, membiarkan aksi Invisible Man sendiri yang berbicara tanpa banyak interupsi potongan editing; seperti saat adegan Cecilia memasak di dapur. Begitu Cecilia keluar frame, kamera tidak mengikutinya melainkan tetap menyorot dapur dalam long take seperti di seri film Paranormal Activity. Dari dapur yang terlihat normal ini keganjilan seperti pisau yang jatuh menghilang tanpa suara dan kompor yang memanas sendiri tampak mencolok.

Baca Juga:  Review Film Little Woman, Kisah Klasik tak Lekang Zaman

Meskipun aksi si “monster” ini begitu kreatif dan tulen menyeramkan, THE INVISIBLE MAN berpotensi sekali menjadi film horor rutin yang mudah ditebak, namun penekanannya pada efek psikologis si korban yang membuatnya tetap segar dan unik. Memfokuskan pada apa akibat perbuatannya sedari pada bagaimana wujud penebar terornya. Karena “monster”nya tidak terlihat, akting Elisabeth Moss ini berfungsi besar menjual keseraman efek dari aksinya. Diperlihatkan efek aksi si manusia kasat mata ini yang berimbas besar pada batin Cecilia. Membuatnya terlihat delusional dan pada akhirnya putus asa yang membuatnya dianggap gila oleh orang di sekitarnya.

Teror-teror yang si “monster” seolah perwujudan dari sifat mantan kekasihnya yang posesif seperti tidak ingin Cecilia mempunyai karir sendiri atau mandiri, membuatnya dibenci keluarga dan dijauhi teman. Bagai ingin Cecilia menderita karena sudah pergi dari si mantan. Bahkan kostum si manusia kasat mata yang penuh lensa ini seolah mengesankan Adrian yang ingin mengamati dan mengontrol semuanya.

THE INVISIBLE MAN mungkin adalah contoh langka suksesnya horor yang bisa jadi dianggap kuno dirubah menjadi kontemporer tapi tetap menyeramkan. Saya jadi penasaran bagaimana monster-monster klasik Universal lain bila mengikuti pola yang sama. Apa 2 bersaudara yang berburu di antah berantah lalu salah satu digigit serigala dan pelan-pelan jadi manusia serigala/Werewolf? Atau Dracula yang mencari mangsa di Hollywood? So gwiples buat kalian yang menyukai film horror maupun meyukai si Invisible Man nya sendiri Film yang satu ini wajib kamu tonton!

Continue Reading

Box Office

Review Film Sebelum Iblis Menjemput: Ayat 2, Teror Lama yang Belum Tuntas

Published

on

GwiGwi.com – Dua tahun setelah kejadian film pertama yang rilis di tahun 2018, Alfi dan Nara dimintai tolong oleh sekelompok muda-mudi bekas penghuni panti asuhan Bahtera. Di panti asuhan setelah puluhan tahun, begitu juga dengan Alfi yang masih dihantui oleh biang dari semua apa yang terjadi pada diri Alfi dan sekitarnya.

Akankah semua teror ini selesai?? Atau galah makin menjadi??

Well, kali ini sekuelnya diramaikan dengan beberapa aktor dan aktris seperti Baskara Mahendra, Lutesha, Arya Vasco, Karina Salim, Shareefa Daanish, Widika Sidmore, Hadijah Shahab, Ruth Marini, dan Tri Hariono. Kali ini, setelah menghadapi teror yang minimpa keluarga Alfi. Di sekuelnya kali ini Alfi Bertem dengan yang tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian di film pertama. Namun mereka memiliki kunci yang sama yaitu menghadapi iblis yang sama.

Dari awal film para penonton tidak diberi nafas sama sekali buat teror yang minimal di sepanjang film. Semua karakter disini kebagian teror nya masing-masing dengan berbagai teror berlapis. Namun sayangnya di sekuel kali ini walaupun teror yang berlapis membuat film ini menyenangkan, sisi drama yang disajikan untuk film ini terasa tertutup dengan berbagai ketegangan yang terjadi di film ini. Andai porsi drama ditambahkan sedikit mungkin dari segi ceritanya akan terasa lebih kuat.

Baca Juga:  Review Film Brahms: The Boy II, Berpotensi Namun Teralu Ringan

Pada sebuah sekuel, pasti ada pengembangan karakter yang terjadi Alfi sebagai karakter kunci di film ini berhasil melakukan pengembangan karakter yang luar biasa, Selain itu Baskara Mahendra juga melakukan performa yang cukup baik sebagai penjembatan dari karakter alfi dan kelompok anak-anak panti. Widika Sidmore berhasil mencuri perhatian karena ia menyimpan sesuatu di cerita film ini dan membawa plot twist yang cukup mengejutkan di konklusi film ini.

Dari segi visual efek, semua di eksekusi dengan apik menurut saya. Karena saya menonton marathon film SIM (Sebelum Iblis Menjemput) 1-2 di bioskop di hari yang sama dengan permainan kamera, dan visual efek praktikal dan CGI sama seperti film-film Mo Brothers yang sudah-sudah. Namun tetap keren. Sound nya pun gak bikin budeg, namun tetap nendang di setiap momen dan jumpscare yang tetap nendang di sepanjang film.

Secara keseluruhan, memang sekuelnya agak lemah di sisi drama pada ceritanya dibanding film sebelumnya. Tapi film ini tetap menghentak dan menyenangkan. Makin banyaknya plothole di film ini mungkin saja bisa terjawab di sekuel nya nanti kalau dibuat. so Gwiples, buat kalian yang suka film horor silahkan menonton film satu ini!

Continue Reading

Box Office

Review Film Brahms: The Boy II, Berpotensi Namun Teralu Ringan

Published

on

GwiGwi.com – Sewaktu Joseph (Ralph Ineson) memberi tahu Liza (Katie Holmes) dan Sean (Owain Yeoman) kalau anak lelaki keluarga Heelshire yang meninggal bernama Brahms, nama yang sama dengan boneka yang ditemukan anak mereka, Jude (Christopher Convery), sulit untuk merasa terkejut lantaran di judul filmnya jelas tertulis BRAHMS: THE BOY II. Sudah pasti sentral horrornya adalah boneka tersebut dan segala yang misterius dan buruk berpusat padanya.

Liza menderita trauma berkepanjangan setelah rumahnya disantroni perampok. Anaknya, Jude yang juga menjadi korban menjadi bisu karena shock oleh peristiwa tersebut. Sang kepala keluarga, Sean berusaha menghibur mereka dengan menetap di rumah yang jauh dari kota. Tempat yang mereka tinggali dulu dimiliki oleh keluarga Heelshire dan di sanalah teror Brahms dimulai.

Bagi yang mengetahui cerita film pertamanya yakni THE BOY (2016) tentu tahu tentang twist mengejutkan yang membuat Brahms menjadi sosok unik dibanding karakter horror lain. Tentu sekuel ini membuat penasaran bagaimana karakter ini akan dieksplor lebih jauh. Sayangnya para pembuat filmnya membuat perubahan yang begitu besar untuk Brahms dan menjadikannya tak jauh berbeda dengan Annabelle.

BRAHMS: THE BOY II tampaknya ingin mengikuti kesuksesan franchise CONJURING terutama ANNABELLE sampai ke akarnya. Ceritanya sangat formulaik tipikal cerita horror dari boneka sampai terasa mirip. Rasanya hanya tinggal menunggu saja para karakternya sadar bonekanya bermasalah. Mencoba sabar untuk melihat barangkali film ini punya sentuhan orisinil pun sulit karena hampir nihil adanya. Keseraman yang disajikan terlalu sering menggunakan jump scare yang membikin jenuh malah cukup menyebalkan. Diperburuk dengan aturan main Brahms yang tidak jelas seolah mempertegas kalau konsep horror filmnya sendiri kurang didalami hingga hasilnya tak maksimal.

Baca Juga:  Hands On dan Quick Review Realme C3 Indonesia, Beda Sama India, Terus Menang Banyak?

Cerita filmnya yang ingin mengeksplorasi soal trauma sebenarnya memiliki potensi yang besar. Liza yang tidak mau disentuh, Jude yang bisu berkomunikasi dengan tulisan dan Sean yang ramah. Sangat mampu sekali membuat dramanya lebih menarik. Namun sayang kurang bisa dinikahkan dengan horrornya hingga elemen ini hampir tenggelam dan berakhir seadanya saja.

BRAHMS: THE BOY II berasa hanya sebuah konsep yang masih kasar, tak banyak mempunyai identitas sendiri hingga mengikuti apa yang populer dan terlihat ingin sekali menjadi sebuah icon baru. but buat yang suka menonton film horror mungkin film ini bisa mengisi waktu luang kalian jadi silahkan disaksikan ya

 

Continue Reading
Advertisement DICARI REPORTER
Advertisement

Trending