Connect with us

Box Office

Review Film Pokémon Detective Pikachu, menguak Misteri di dunia Pokémon

Published

on

GwiGwi.com – Siapa sih Yang tidak tahu Pokémon? Franchise yang berasal dari video game hasil kerjasama perusahaan Nintendo, game freak, dan creatures ini telah menghipnotis dunia sejak 1996 dan menjadi dan menjadi salah satu franchise video game raksasa hingga saat Ini. Tentu kita masih ingat lewat video game, anime, permainan trading card, dsb.

Di tahun ini, Warner Bros dan the Pokémon company menggarap film hasil adaptasi dari salah satu gamenya yaitu Detective Pikachu. Dikisahkan Tim (Justice smith) seorang pekerja kantoran di sebuah kota kecil, mendapatkan kabar duka bahwa ayahnya tewas dalam kecelakaan.

Merasa sangat terpukul atas kepergian sang ayah, Tiba-Tiba muncul Pikachu (Ryan Reynolds) dan Tim Bisa berbicara dengan Pikachu. Usut punya usut ternyata Pikachu merupakan Pokémon buddy milik sang ayah Yang terkena amnesia pasca kecelakaan tersebut.

Pikachu kemudian meyakinkan Tim bahwa Ada sesuatu Yang janggal di kecelakaan tersebut. Maka disini lah petualangan mereka dimulai untuk mengungkap tabir kejahatan yang mengancam kehidupan manusia dan juga para Pokémon.

Akankah mereka berhasil mengungkap tabir misteri ini?

Film Ini penuh akan Misteri dan perlahan semakin terkuak Apa yang menimpa ayahnya Tim belum begitu jelas. Apalagi posisi Pikachu terlihat mencurigakan.
Dan gaya penceritaannya pun terlihat sangat terbatas, Penonton hanya mengetahui serta mengalami peristiwa yang diketahui dan dirasakan oleh sang karakter yang bersangkutan.

Di dalam film, jelas karakter-karakter tertentu ini merujuk kepada Tim dan Pikachu. Kita hanya akan mengikuti mereka dan menikmati misteri-misteri yang semakin terkuak. Sebagai permulaan, awal film ini akan menampilkan sebuah prolog.

Prolog ini jangan sampai dilewatkan karena akan menjadi kasus yang nanti tidak hanya mesti dipecahkan namun juga menjadi bagian Yang menguras emosi bagi karakter Tim.

Penggunaan teknik penceritaan Ini sangat beresiko. Meski menghasilkan kejutan demi kejutan, teknik ini jika terlalu membatasi cerita akan membuat kita frustasi dan kebingungan.

Kita jadi tidak mengerti apa yang sebetulnya mau dituju. Belum selesai, metode seperti ini juga bisa menimbulkan jarak kepada penonton. Kita hanya dibuat untuk melihat karakter utama pergi kesana-kemari mencari petunjuk.

Unsur emosi dijadikan fondasi di konflik ini sehingga penonton diharapkan bisa berinvestasi, jika belum kepada ceritanya ya kita dibuat fokus kepada permasalahan yang menimpa Tim. Hal ini terlihat pada tahap persiapan konflik Film Ini. Di sini kita bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Tim.

Mengacu kepada tuntutan naratif, film membuatkan sebuah set sederhana yang ternyata sangat bermakna. Hal Ini akan mengubah persepsi penonton terhadap perilaku ayahnya selama ini.

Baca Juga:  Review Film Anime Tenki No Ko, Menantang Alam Demi Cinta

Disini terjadi kelemahan, dengan memanfaatkan momen “masalah keluarga” membuat penonton sedikit bosan. Lalu mulai lah dibumbui dengan jokes yang ada.

Tapi sayang jokes yang dilempar pada Film Ini bertebaran dan ada yang gak pas secara momentum. Pikachu Yang diisi suara nya oleh Ryan Reynolds menunjukkan kemampuan sang pikachu mampu berbicara.

Namun untuk sebuah Film keluarga rasanya ada beberapa jokes yang gak pas bahkan ada yang terkesan jayus.

Mungkin sebaiknya jika Film Ini sedikit membuat sudut pandang yang hanya ditujukan kepada Tim dan Pikachu saja, agar kita juga bisa merasakan suspense di dalam menguak misteri yang Ada.

Kathryn Newton yang berperan sebagai Lucy tampil cukup baik. Karakternya dibuat berperan dalam memberikan sebuah petunjuk, lalu hubungan yang terjalin dengan Tim juga cukup menghibur, namun Sayang sekali karakter Ini menjadi kurang Berguna. Kemudian di Film Ini kita Juga gak tau apa sih motivasi dan tujuan dari tokoh antagonis di Film Ini? Yang terlihat sangar namun gak terselesaikan sampai tuntas. Tapi bagian Ini membuat kita ingin terus mengikuti cerita sepanjang Film.

Untuk visualnya, hadir juga beberapa Pokémon lain seperti Bulbasaur, Psyduck, Jigglypuff yang terlihat gemesin. Dan terlihat sama dengan animenya yang terlihat realistis namun tetap keren.

Serta konsep kota Ryme City dimana manusia dan Pokémon hidup berdampingan dan mengambil konsep cyberpunk ala Film-film dark future seperti blade runner.

Emang Film Ini yang menjadi jualan utamanya adalah visualnya yang memanjakan mata banget.

Adegan pertarungan Pokémon-nya pun juga terlihat sangat keren dan dieksekusi dengan pas. Teknik long shot membuat bagian Ini menjadi dramatis namun agak kurang pas di momen-momen tertentu.

Secara keseluruhan, film Detective Pikachu menjadi film adaptasi video game yang gak biasa karena memiliki cerita yang cukup berat. Mungkin akan susah dicerna untuk penonton anak-anak karena penuh dengan jebakan untuk bagian kasus yang harus dipecahkan oleh Tim dan Pikachu. Serta masih ada beberapa pertanyaan yang tidak terselesaikan sampai akhir Film.

Namun film ini mempunyai visual yang Oke banget dan jika Kalian fans dari Pocket Monsters akan sangat melepas dahaga kalian. Lumayan untuk mengenang masa kecil kalian yang ditemani dengan franchise Pokémon. Atau mungkin bisa membangun kembali hype Pokémon yang sempat booming di era 90-2000an ini.

Box Office

Review Angel has fallen, aksi gila-gilaan dengan cerita yang standard

Published

on

By

GwigwiMike Banning (Gerard Butler) tengah menghadapi dilema di jelang masa pensiun nya untuk menerima tawaran kenaikan pangkat sebagai direktur Secret Service dan bekerja di balik meja atau menerima tawaran rekannya Wade Jennings (Danny Huston) untuk tetap bekerja di lapangan di sebuah perusahaan keamanan swasta.

Situasi Ini juga diperparah dengan sindrom PTSD (Post Traumatic Syndrome Disorder) yang ia sembunyikan dari rekan kerja dan Leah (Piper Perabo) istrinya, Banning merasakan tekanan besar dalam dirinya.

Belum lagi bad luck pada tugas lapangan terakhir baginya untuk menjaga Presiden Trumbull (Morgan Freeman) berbuah masalah ketika sebuah serangan drone mengincar nyawa Presiden.

Seluruh tim pengamanan presiden tewas, kecuali Banning yang di saat genting berhasil menyelamatkan Presiden.

Usahanya menjadi bumerang saat Banning menjadi kambing hitam dan dituduh merencanakan serangan tersebut, ditambah lagi bukti-bukti mengarah kepada Banning.

Di tengah kekalutan, Banning pun mencoba segala daya upaya untuk menyelamatkan diri dan mencari siapa yang menjebaknya dengan bantuan ayahnya Clay (Nick Nolte).

Mampukah Mike Banning mencuci nama nya di tugas terakhirnya ??

Film aksi model trilogi “Fallen” ini memiliki ciri khas formula yang lazim dipakai di banyak film di genrenya.

Tidak terkecuali dengan Film Angel Has Fallen. Formula One Man Hero sebagai karakter utama yang saking jagonya tidak mudah mati dan selalu berhasil meraih tujuannya terpampang nyata dalam film ini.

Namun bagai pisau bermata dua tentunya bagi resepsinya di mata penonton. Penonton yang terbiasa dengan film action brainless atau tanpa mikir akan bersorak kegirangan dibandingkan dengan penonton kritis yang gampang bosan dan mengharapkan cerita yang rumit.

Sutradara Ric Roman Waugh (Felon, Snitch) memang tidak menghadirkan sesuatu yang baru di film ketiga trilogi Fallen ini, namun kemasannya cukup baik.

Suguhan ledakan demi ledakan yang luar biasa ekstrim. Sepertinya Michael Bay nampaknya memiliki saingan baru dalam menggarap adegan ledakan yang menggelegar.

Dari sisi naskah yang ditulis Robert Mark Kamen (Taken, The Transporter), Matt Cook (Patriots Day, Triple 9) dan Ric Roman Waugh (Felon, Snitch) sendiri memang tidak memiliki kedalaman cerita dan alur yang rumit.

Baca Juga:  Bank BRI berkolaborasi dengan Bumilangit meluncurkan kartu Brizzi edisi Gundala

Film serasa gampang ditebak sejak awal sampai akhir. Meskipun begitu kualitas produksi yang apik dibarengi kualitas akting ciamik mampu memberikan keunggulan sendiri bagi film Angel Has Fallen.

Dari segi kualitas akting dalam film ini tidak perlu diragukan lagi. Gerard Butler (Law Abiding Citizen, Machine Gun Preacher) masih tetap badass dan brutal. Morgan Freeman (Shawshank Redemption, Se7en) sebagai presiden masih mampu memberikan performa yang menawan walaupun dengan screentime yang minim.

Tim Blake Nelson (The Incredible Hulk), Piper Perabo (Coyote Ugly), Jada Pinkett-Smith (The Matrix Reloaded) dan Danny Huston (X-Men Origins: Wolverine, Wonder Woman) juga memberikan penampilan apik, walau tidak seepik Nick Nolte (48 Hrs., Warrior) tampil eksentrik dan nyaris alam batas gila.

Dari sisi efek spesial CGI juga menjadi kelemahan paling terlihat dalam film. Beberapa adegan yang memakai CGI terlihat “bohongan” dan kurang detail dalam penggarapannya.

Bagian ini mungkin akan sangat mengganggu bagi penonton yang memperhatikan detail, namun sepertinya tidak bagi penonton casual.

Selain kekurangan teknis dalam film dan naskah yang gampang ditebak, film ini juga memiliki kekurangan dari sisi musik yang kurang dapat menampilkan nada-nada patriotik dalam film ini. Rata-rata komposisi musik yang digarap oleh David Buckley(The Town, The Nice Guys) tidak mampu memberikan nilai lebih pada adegan yang ada di film.

Secara keseluruhan, Angel Has Fallen memberikan sebuah suguhan aksi yang menghibur bagi penikmat film bergenre aksi yang penuh momen ledakan, tembak-menembak dan pertunjukan drone menarik dari film yang menjadi film ketiga dalam trilogi Fallen ini.

Film Angel Has Fallen memang bukan film dengan misi menjadi film terbaik sepanjang masa, namun gue merekomendasikan jika lo semua pengen nikmatin durasi sepanjang 2 jam di dalam bioskop yang penuh momen aksi yang gokil.

Continue Reading

Box Office

Jagat Sinema Bumilangit perkenalkan para pemerannya

Published

on

GwiGwi.com – Screenplay Bumilangit secara resmi mengumumkan Jagat Sinema Bumilangit Jilid 1. Dalam beberapa tahun kedepan telah disiapkan tujuh Film yang saling berkesinambungan satu sama lain. Jagat Sinema Bumilangit akan diawali dengan Film Gundala yang akan dirilis pada 29 Agustus 2019.

Beberapa aktor dan aktris Indonesia sudah dipastikan akan meramaikan Jagat Sinema Bumilangit. Diantaranya ; Abimana Aryasatya sebagai Gundala, Chicco Jerikho sebagai Godam, Pevita Pearce sebagai Sri Asih, Chelsea Islan sebagai Tira, Tara Basro sebagai Merpati, Asmara Abigail sebagai Desti Nikita, Hannah Al Rashid sebagai Camar, Kelly Tandiono sebagai Bidadari Mata Elang, Joe Taslim sebagai Mandala, Vanessa Prescilla sebagai Cempaka, Della Darthan sebagai Nila Umaya, Ario Bayu sebagai Ghani Zulham, Bront Palarae sebagai Pengkor, Lukman Sardi sebagai Ridwan Bahri, Daniel Adnan sebagai Tanto Ginanjar, Tatjana Saphira sebagai Mustika sang kolektor, Adhisty Zara sebagai Virgo, Dian Sastrowardoyo sebagai Dewi Api, dan Nicholas Saputra sebagai Aquanus.

Joko Anwar sebagai Creative Producer dari Jagat Sinema Bumilangit menyampaikan “Akan Ada tujuh Film setelah Gundala yang akan disiapkan, yaitu dari era Jawara dan era Patriot. Ada Sri Asih, Godam dan Tira, si buta dari gua hantu, Patriot taruna, Mandala, Gundala Putra Petir(sekuel Gundala), dan Patriot. Film-Film Ini juga akan muncul karakter lain juga, dan kami juga telah mengembangkan benang merah cerita dari perkembangan tiap karakter dengan rapi dari film pertama sampai akhir. Nantinya akan dikembangkan lagi oleh tiap sutradara dan penulis naskah tiap filmnya dan jadinya semua akan terbangun dan terjaga dengan solid.”

Baca Juga:  Review Film The Angry Birds Movie 2, sekuel yang menarik sayang ada yang kurang

Menurut Wicky V. Olindo selalu produser dari Screenplay Bumilangit, “Jagat Sinema Bumilangit adalah sebuah upaya untuk memberikan something fresh Buat seluruh penonton Indonesia. Dengan cerita Yang tersambung satu sama lain, penonton dapat merasakan sajian cerita Yang seru. Mungkin kedepan nya, Film-Film Ini bukan hanya menjadi hiburan semata, namun juga menjadi inspirasi bagi masyarakat.”

Selain itu, menurut produser Screenplay Bumilangit Bismarka Kurniawan mengatakan, “Bahwa dengan adanya Jagat Sinema Bumilangit dapat menjadi semangat baru bagi industri kreatif Indonesia dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan Bisa dipasarkan secara internasional.”

Continue Reading

Box Office

Bank BRI berkolaborasi dengan Bumilangit meluncurkan kartu Brizzi edisi Gundala

Published

on

GwiGwi.com – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk meluncurkan kartu Brizzi edisi Gundala. Peluncuran Ini dilakukan sebagai upaya untuk mendukung industri kreatif Indonesia khususnya jagoan Indonesia. Ungkap Direktur Konsumer Bank BRI Handayani di acara launching Yang digelar pada 18 Agustus 2019.

Ada 3 varian desain Brizzi Gundala yang diluncurkan oleh Bank BRI dan Bisa didapatkan di offical store di Tokopedia dan Shopee, serta di unit kerja BRI dan jaringan bioskop XXI tertentu.

“Dengan adanya desain-desain yang keren ini, Brizzi edisi Gundala juga menjadi collectible items juga. Target kami 15 ribu Brizzi edisi Gundala bisa dimiliki oleh masyarakat”. Jelas Handayani.

Gundala merupakan komik ciptaan alm. Harya Suryaminata (Hasmi) yang terbit sejak tahun 1969 hingga 1982.

Baca Juga:  Review Film Asterix: Secret of Magic Potions, petualangan Asterix dalam mencari penerus Getafix

Gundala pernah diadaptasi ke layar lebar pada tahun 1981 yang diperankan oleh alm. Teddy Purba.

Gundala juga akan mendapatkan adaptasi layar lebarnya kembali di tahun 2019 ini Yang digarap dan ditulis naskahnya oleh Joko Anwar. Film Ini akan dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Tara Basro, Bront Palarae, dan masih banyak lagi aktor dan aktris ternama Yang meramaikan film Ini.

Jangan lupa untuk menyaksikan film Gundala yang dirilis tanggal 29 Agustus 2019 dan jangan lupa miliki Brizzi edisi Gundala di Toko resmi e-commerce, unit kerja BRI, dan jaringan XXI tertentu.

Continue Reading
Advertisement SGCC 2019
Advertisement DICARI REPORTER
Advertisement

GwiGwi Space

GWIDEV

Trending